Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Demensia ( demensia senil, sindroma otak kronis ) lebih merupakan gejala dan
bukanlah suatu kondisi penyakit yang jelas. Biasanya bersifat progesif dan ireversibel
dan bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Ditandai dengan penurunan
umum fungsi intelektual yang bisa meliputi kehilangan ingatan, kemampuan
penalaran abstrak, pertimbangan dan bahasa, terjadi perubahan keperibadian dan
kemampuan menjalankan aktifitas hidup sehari-hari semakin memburuk. Gejala
biasanya tidak jelas pada saat awitan dan kemudian berkembang secara perlahan
sampai akhirnya menjadi sangat jelas dan mengganggu. Tiga jenis demensia
nonreversibel yang paling sering adalah penyakit Alzheimer, demensia multi infark,
dan campuran penyakit Alzheimer dan demensia multi infark.
Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit progesif yang ditandai oleh
kematian luas neuron-neuron otak terutama didaerah otak yang disebut nukleus
basalis. Saraf-saraf dari daerah ini biasanya berproyeksi melalui kemusfer serebrum
ke daerah-daerah otak yang bertanggung jawab untuk ingatan dan pengenalan. Sarafsaraf ini mengeluarkan asetikolin, yang penting peranannya dalam membentuk
ingatan jangka pendek di tingkat biokimiawi. Penyakit Alzheimer kadang disebut
sebagai demensia degeneratif primer atau demensia senil jenis Alzheimer,
dibandingkanmerekan yang meninggal akibat sebab-sebab lain, pada otak pasien yang
meninggal akibat penyakit Alzheimer terjadi penurunan sampai 90% kadar enzim
yang berperan dalam pembentukan asetikolin, kolin asetiltransferase. Dengan
demikian, dengan tidak adanya asetilkolin paling tidak ikut berperan menyebabkan
penyakit Alzheimer seperti : mudah lupa dan mengalami penurunan fungsi kognitif.
Pada para pengiap penyakit ini, neurotransmitter lain juga tampaknya berkurang.
Penyakit Alzheimer biasanya timbul pada usia setelah 65 tahun dan
menimbulkan demensia senilis. Namun penyakit ini dapat muncul lebih dini dan
menyebabkan demensia prasenilis. Tampaknya terdapat predisposisi genetik untuk
penyakit ini, terutama pada penyakit awitan dini. Pada 1% sampai 10% kasus,
biasanya diderita 0 % bayi, angka prevalensi berhubungan erat dengan usia. Bagi
individu diatas 65 tahun penderita dapat mencapai 10%, sedang usia 85 tahun angka
ini meningkat mencapai 47,2%. Dengan meningkatnya populasi lansia, maka penyakit
Alzheimer menjadi penyakit yang bertambah banyak. Sampai sekarang belum
diketahui secara pasti penyebab terjadinya penyakit ini, tetapi ada 3 teori utama
mengenai penyebabnya : virus lambat, proses otoimun, dan keracunan aluminium.
Akhir-akhir ini teori yang paling populer (meskipun belum terbukti) adalah yang
berkaitan dengan virus lambat. Virus-virus ini mempunya masa intubasi 2 30 tahun;
sehingga transmisinya sulit dibuktikan. Teori otoimun berdasarkan pada adanya
peningkatan kadar antibodi-antibodi reaksi terhadap otak pada penderita penyakit
Alzheimer. Teori keracunan aluminium menyatakan bahwa karena aluminium bersifat
neuro toksik, maka dapat menyebabkan perubahan neurofibrilar pada otak.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah hal-hal apa saja yang berkaitan
dengan Asuhan Keperawatan pada penyakit Alzheimer.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas Sistem Respirasi yang berupa makalah Asuhan
Keperawatan pada Klien dengan Alzheimer.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui definisi, etiologi, manifestasi klinis penyakit Alzheimer
b. Untuk mengetahui patofisiologi/pathway, penatalaksanaan, pemeriksaan
diagnostik dan komplikasi penyakit Alzheimer
c. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Alzheimer

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Penyakit Alzheimer adalah penyakit degenerasi neuron kolinergik yang
merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65
tahun ke atas. (Arif Muttaqin,2012)
Penyakit Alzheimer merupakan gangguan degeneratif korteks serebri,
khususnya lobus frontalis, yang bertanggung jawab untuk lebih separuh jumlah
keseluruhan kasus demensia. (Kowalak, 2011)
Penyakit Alzheimer (AD) adalah penyakit yang bersifat degeneraif dan
progresif pada otak yang menyebabkan cacat spesifik pada neuron, serta
mengakibatkan gangguan memori, berfikir, dan tingkah laku (Price dan Wilson, 2006)
Alzheimer merupakan penyakit kronik, progresif, dan merupakan gangguan
degeneratif otak dan diketahui mempengaruhi memori, kognitif dan kemampuan
untuk merawat diri. (Brunner &,Suddart, 2002 ).
Sehingga dengan demikian Alzheimer adalah penyakit kronik, degeneratif
yang ditandai dengan penurunan daya ingat, intelektual, kepribadian yang dapat
mengakibatkan berkurangnya kemampuan merawat diri. Penyakit ini menyerang
orang berusia 65 tahun keatas.
B. Etiologi
Penyebab degenerasi neuron kolinergik pada penyakit Alzheimer tidak
diketahui. Sampai sekarang belum satupun penyebab penyakit ini diketahui, tetapi ada
tiga teori utama mengenai penyebabnya, yaitu:
1. Virus lambat
Merupakan teori yang paling popular (meskipun belum terbukti) adalah yang
berkaitan dengan virus lambat. Virus-virus ini mempunyai masa inkubasi 2-30
tahun sehingga transmisinya sulit dibuktikan. Beberapa jenis tertentu dari
ensefalopati viral ditandai oleh perubahan patologis yang menyerupai plak senilis
pada penyakit Alzheimer.
2. Proses autoimun
Teori autoimun berdasarkan pada adanya peningkatan kadar antibody-antibodi
reaktif terhadap otak pada penderita penyakit Alzheimer. Ada dua tipe amigaloid
(suatu kompleks protein dengan cirri seperti pati yang diproduksi dan dideposit
pada keadaan-keadaan patologis tertentu), yang satu komposisinya terdiri atas
rantai-rantai IgG dan yang lainnya tidak diketahui. Teori ini menyatakan bahwa
kompleks antigen-antibodi dikatabolisir oleh fagosit dan fragmen-fragmen
immunoglobulin dihancurkan di dalam lisosom, sehingga terbentuk deposit
amigaloid ekstraselular.
3. Keracunan aluminium
Teori keracunan aluminium manyatakan bahwa karena aluminium bersifat
neurotoksik, maka dapat menyebabkan perubahan neurofibrilar pada otak. Deposit
aluminium telah diidentifikasi pada beberapa klien dengan penyakit Alzheimer,
3

tetapi beberapa perubahan petologis yang menyertai penyakit ini berbeda dengan
yang terlihat pada keracunan aluminium. Kebanyakan penyelidik meyakini
dengan alas an utama aluminium merupakan logam yang terbanyak dalam kerak
bumi dan sistem pencernaan manusia tidak dapat mencernanya.
Selain penyebab di atas, terdapat faktor-faktor yang berkaitan dengan
penyakit Alzheimer yaitu:
a. Faktor genetik
b. Usia
c. Lingkungan
d. Trauma
C. Patofisiologi
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai
pada penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron
yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid, bagian
dari suatu protein besar, protein prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut
terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan
berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan amiloid dalam pembuluh
darah intracranial. Secara mikroskopik, terdapat perubahan morfologik (structural)
dan biokimia pada neuron neuron. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi
yang pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau
dendrit. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur
intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein tau.
Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural
yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari
sitokleton sel neuron. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau,
secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada
mikrotubulus secara bersama sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament
heliks ganda yang sekelilingnya masing masing terluka. Dengan kolapsnya system
transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan
akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya
neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta)
yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal.
A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal
melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan
neuron. APP terbagi menjadi fragmen fragmen oleh protease, salah satunya A-beta,
fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan
tersebut akhirnya bercampur dengan sel sel glia yang akhirnya membentuk fibril
fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini beracun bagi
neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas
sehingga mengganggu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah
4

sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. Selain karena


lesi, perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara neurokimia
kelainan pada otak
Pathway
Faktor predisposisi;
Faktor genetik, Infeksi virus,
lingkungan, Imunologi,
trauma, Usia

hilangnya serat2x
kolinergik di korteks

Kekusutan neuro fibrilar


yang difus dan plak senilis
Atrofi otak

penurunan sel neuron


kolinergik

Degenerasi neuron
irreversible

kelainan neurotransmiter
Asetilkolin

Alzheimer

Daya ingat

Kemmpuan
mlakukn
aktivitas

Mudah
lupa

1. Defisit perawatan
diri (makan, minum,
berpakaian, dan
hygiene)

Ggn. Kognitif
Muncul gjl
neuropsikiatrik
prbhn nafsu
mkan

2. Risti perubahan
nutrisi kurang
dari kebutuhan

Perubahan
Intelektual
1. Kehilangan kmmpuan
menyelesaikan masalah
2. prbhn mngawasi keadaan
kompleks & brpikir
abstrak
3. emosi labil, pelupa,apatis

Perubahan
perilaku
Tingkah laku tidak bsa
diam & tidak mmpu
mengidentifikasi bahaya

5. Risti trauma

3. Perubahan proses
fikir
4. Hambatan
komunikasi verbal

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang khas mencerminkan kelainan neurologi yang menyertai
penyakit Alzheimer yaitu:
a. Kehilangan daya ingat/memori
b. Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa
c. Kesulitan berbahasa.
d. Kesulitan tidur
e. Disorientasi waktu dan tempat
f. Penurunan kemampuan dalam memutuskan sesuatu
g. Emosi labil
h. Apatis
i. Tonus otot / kekakuan otot
j. Ketidakmampuan mendeteksi bahaya
E. Komplikasi
1. Cidera yang terjadi sekunder karena perilaku yang agitatif atau karena pasien
berjalan mondar-mandir tanpa tujuan sehingga mudah mengalami kecelakaan
2. Malnutrisi
3. Kematian
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Positron emission tomography (PET-CT scan) memperlihatkan perubahan dalam
metabolism korteks serebri.
2. Pemeriksaan CT(computed tomography) scan memperlihatkan bukti ada atrofi
otak yang dini dan melebihi atrofi, yang terjadi dalam proses penuaan normal.
3. Pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) tidak menunjukkan lesi sebagai
penyebab dimensia.
4. EEG memperlihatkan pelambatan gelombang otak pada stadium lanjut penyakit
tersebut.
5. Pemeriksaan aliran darah serebral menunjukkan kelainan pada aliran darah.
G. Penatalaksanaan
1. Pemberian obat-obat vasodilator, seperti ergoloid mesilat, isoksuprin, dan
siklandelat untuk meningkatkan peredaran darah otak
2. Terapi oksigen hiperbarik untuk meningkatkan oksigenasi otak
3. Pemberian obat-obat psikostimulan, seperti metilfenidat untuk memperbaiki emosi
pasien
4. Pemberian obat-obat antidepresan jika terdapat depresi yang menimbulkan
eksaserbasi demensia
5. Pemberian takrin, yaitu obat antikolinergik atau pemberian obat yang masih dalam
eksperimen, seperti deanol

6. Pemberian garam-garam kolin, lesitin, fisostigmin, atau obat eksperimen seperti


deanol, enkefalin, atau nalokson yang kemungkinan dapat memperlambat proses
perjalanan penyakit ini

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ALZHEIMER


A. Pengkajian
1. Anamnesis
a. Identitas Klien
Meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, 50% populasi
berusia lebih dari 85 tahun), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan,
agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor registrasi, dan diagnosa
medis.
b. Keluhan Utama
Sering menjadi alasan klien dan keluarga untuk meminta bantuan kesehatan
adalah penurunan daya ingat, perubahan kognitif, dan kelumpuhan gerak
ekstremitas.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada anamnesis klien mengeluhkan sering lupa dan hilangnya ingatan yang
baru. Pada beberapa kasus, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien sering
mengalami bertingkah laku aneh dan kacau serta sering keluar rumah sendiri
tanpa mengatakan pada anggota keluarga yang lain sehingga sangat
meresahkan anak-anaknya yang menjaga klien.
Pada tahap lanjut dari penyakit, keluarga sering mengeluhkan bahwa klien
menjadi tidak dapat mengatur buang air, tidak dapat mengurus keperluan dasar
sehari-hari, atau mengenali anggota keluarga.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat hipertensi, diabetes
mellitus,
penyakit
jantung,
penggunaan
obat-obat
antiansietas
(benzodiazepin), penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu
yang lama dan mengalami sindrom Down yang pada suatu saat kemudian
menderita penyakit Alzheimer saat usia 40-an.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit Alzheimer ditemukan hubungan sebab genetik
yang jelas.
Diperkirakan 10%-30% dari klien Alzheimer menunjukkan tipe yang
diwariskan, dan dinyatakan sebagai penyakit Alzheimer familia (FAD).
Pengkajian adanya anggota generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan
diabetes mellitus diperlukan untuk melihat adanya komplikasi penyakit lain
yang dapat mempercepat progresifnya penyakit.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya mengalami penurunan kesadaran
sesuai dengan degenerasi neuron kolinergik dan proses senilisme. Adanya
perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardia, hipotensi, dan
penurunan frekuensi pernapasan.
b. B1 (Breathing)

Gangguan fungsi pernapasan: berkaitan dengan hipoventilasi, inaktivitas,


aspirasi makanan atau saliva, dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran
napas.
1) Inspeksi. Didapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk batuk
efektif, peningkatan produksi sputum, sesak napas, dan penggunaan otot
bantu napas.
2) Palpasi. Taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
3) Perkusi. Adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
4) Auskultasi. Bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi stridor, ronkhi
pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk
yang menurun yang sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas.
c. B2 (Blood)
Hipotensi postural: berkaitan dengan efek samping pemberian obat dan juga
gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem persarafan otonom.
d. B3 (Brain)
Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap
dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya.
Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan
tingkah laku.
1) Pengkajian Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada
perubahan status kognitif klien.
2) Pengkajian Fungsi Serebral
Status mental: biasanya status mental klien mengalami perubahan yang
berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan
penurunan memori, baik jangka pendek maupun memori jangka panjang.
3) Pengkajian Saraf Kranial
Pengkajian saraf ini meliputi pengkajian saraf cranial I-XII.
a) Saraf I: Biasanya pada klien penyakit Alzheimer tidak ada kelainan
dan fungsi penciuman.
b) Saraf II: Tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan, yaitu sesuai
dengan keadaan usia lanjut biasanya klien dengan penyakit Alzheimar
mengalami penurunan ketajaman penglihatan.
c) Saraf III, IV, dan VI: Pada beberapa kasus penyakit Alzheimer
biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada saraf ini.
d) Saraf V: Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.
e) Saraf VII: Persepsi pengecapan dalam batas normal.
f) Saraf VIII: Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan proses
senilis serta penurunan aliran darah regional.
g) Saraf IX dan X: Didapatkan kesulitan dalam menelan makanan yang
berhubungan dengan perubahan status kognitif.
h) Saraf XI: Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
i) Saraf XII: Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi. Indra pengecapan normal.
9

4) Pengkajian Sistem Motorik


Inspeksi umum, pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan dan
penurunan pada fungsi motorik secara umum.
a) Tonus Otot : didapatkan meningkat.
b) Keseimbangan dan Koordinasi: didapatkan mengalami gangguan
karena adanya perubahan status kognitif dan ketidakkooperatifan klien
dengan metode pemeriksaan.
5) Pengkajian Refleks
Pada tahap lanjut, penyakit Alzheimer sering mengalami kehilangan
refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri dengan kepala
cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong.
Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya ke
depan atau ke belakang) dapat menyebabkan klien sering jatuh.
6) Pengkajian Sistem Sensorik
Sesuai berlanjutnya usia, klien dengan penyakit Alzheimer mengalami
penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan sensori
yang ada merupakan hasil dari neuropati perifer yang dihubungkan dengan
disfungsi kognitif dan persepsi klien secara umum.
e. B4 (Bladder)
Pada tahap lanjut, beberapa kien sering mengalami inkontinensia urin,
biasanya berhubungan dengan penurunan status kognitif dari klien Alzheimer.
Penurunan refleks kandung kemih yang bersifat progresif dank klien mungkin
mengalami inkontinensia urin, ketikmampuan mengomunikasikan kebutuhan,
dan ketidakmampuan untuk menggunakan urinal karena kerusakan control
motorik dan postural. Selama periode ini, dilakukan katerisasi intermiten
dengan teknik steril.
f. B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang
karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Penurunan
aktivitas umum klien sering mengalami konstipasi.
g. B6 (Bone)
Pada tahap lanjut, biasanya didapatkan adanya kesulitan untuk beraktivitas
karena kelemahan umum dan penurunan satatus kognitif menyebabkan
masalah pola dan pemenuhan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan
keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan pergerakan karena perubahan
pada gaya berjalan dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada
trauma fisik jika melakukan aktivitas.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Defisit perawatan diri (makan, minum, berpakaian, Hygine) yang berhubungan
dalam perubahan proses berfikir
2. Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
asupan nutrisi tidak adekuat, perubahan proses piker
3. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan perubahan proses fikir
10

4. Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron iriversibel.


5. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan fungsi memori
C. Intervensi
1. Diagnosa 1
Defisit perawatan diri (makan, minum, berpakaian, Hygine) berhubungan
dalam perubahan proses berfikir
a. Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam melakukan ADL
Rasional:
Membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan kebutuhan
individual
b. Ajarkan dan dukung klien selama aktivitas
Rasional:
Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan sehari-haridapat
meningkatkan perawatan diri
c. Rencanakan tindakan untuk defisit motorik seperti tempatkan makanan da
peralatan di dekat klien agar mampu sendiri mengambilnya
Rasional:
Klien akan mampu melakukan aktivitas sendiri untuk memenuhi perawatan
dirinya
d. Modifikasi lingkungan
Rasional:
Memodifikasi lingkungan diperlukan untuk mengompensasi ketidakmampuan
fungsi
e. Kaji kemampuan komnikasi untuk BAK. Kemampuan menggunakan urinal
pispot. Antarkan ke kamar mandi bila kondisi memungkinkan
Rasional:
Meningkatkan latihan dan menolong mencegah konstipasi
2. Diagnosa 2
Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan nutrisi tidak adekuat, perubahan proses pikir
a. Evaluasi kemampuan makan klien
Rasional:
Klien mengalami kesulitan dalam mempertahankan BB mereka. Mulut mereka
kering akibat obat-obatan dan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
Klien berresiko terjadi aspirasi akibat penurunan refleks batuk
b. Observasi BB jika memungkinkan
Rasional:
Tanda kehilangan BB (7-10%) dan kekurangan intake nutrisi menunjang
terjadinnya masalah katabolisme, kandungan glikogen dalam otot dan
kepekaan terhadap pemasangan ventilator
c. Kaji pengetahuan klien/keluarga mengenai kebutuhan makan
Rasional:
11

Identifikasi kebutuhan untuk membantu perencanaan pendidikan


d. Usahakan/ berikan bantuan dalam memilih menu
Rasional:
Klien tidak mampu menentukan pilihan kebutuhan nutrisi
e. Berikan makanan kecil setiap jam sesuai kebutuhan
Rasional:
Makan makanan kecil meningkatkan masukan yang sesuai
f. Hindari makanan yang terlalu panas
Rasional:
Makan panas mengakibatkan mulut terbakar atau menolak untuk makan
3. Diagnosa 3
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses
berfikir
a. Kaji kemampuan klien untuk berkomunikasi
Rasional:
Untuk menentukan tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi.
b. Menentukan cara-cara komunikasi seperti mempertahankan kontak mata,
menjawab pertanyaan dengan jawaban ya atau tidak, menggunakan kertas,
bolpoint/pensil, gambar/ papan tulis, bahasa isyarat ], memperjelas arti dari
komunikasi yang diberikan
Rasional:
Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien, dan agar tidak terjadi
miskomunikasi.
c. Buat rekaman pembicaraan kilen
Rasional:
Rekamlah pembicaraan klien dalam pita kaset selama periodik, hal ini
dibutuhkan dalam memantau perkembangan klien. Amplifier kecil membantu
apabila klien mengalami kesulitan mendengar
d. Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa
Rasional:
Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu dalam membentuk peningkatan
latihan percakapan dan memabantu petugas kesehatan untuk mengembangkan
metode komuniakasi untuk memenuhi kebutuhan klien
4. Diagnosa 4
Perubahan proses pikir berhubungan dengan degeneration neuron
iriversibel.
a. Kaji derajat gangguan kognitif, seperti perubahan orientasi terhadap orang,
tempat waktu, rentang perhatian dan kemampuan berpikir
Rasional:
Memberikan dasar untuk evaluasi/perbandingan yang akan datang dan
mempengaruhi pilihan terhadap intervensi.
b. Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang.
Rasional:
12

Keramaian biasanya merupakan sensori yang berlebihan yang meningkatkan


gangguan neuron
c. Lakukan pendekatan dengan cara perlahan dan tenang.
Rasional:
Pendekatan yang terburu-buru dapat mengancam pasien bingung yang
mengalami kesalahan persepsi.
d. Tatap wajah ketika bercakap-cakap dengan pasien
Rasional:
Menimbulkan perhatian, terutama pada orang-orang dengan gangguan
perceptual
e. Ajarkan dan libatkan keluarga dalam perawatan klien
Rasional:
Keluarga memiliki pera penting komunikasi serta pemulihan
5. Diagnosa 5
Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan fungsi memori
a. Awasi klien secara ketat selama beberapa malam pertama.
Rasional:
Untuk mengkaji keamanan klien.
b. Anjurkan individu untuk meminta bantuan selama malam hari.
Rasional:
Untuk menghindarkan risiko tinggi trauma akibat suasana gelap
c. Singkirkan benda-benda berbahaya dari klien.
Rasional:
Untuk menghindari risiko trauma/terpapar benda-benda berbahaya
d. Pasang pegangan tangan di kamar mandi.
Rasional:
Untuk menghindari terpleset di kamar mandi.
e. Pertimbangkan penggunaan sistem alarm.
Rasional:
Untuk memudahkan klien menginstruksikan keadaan bahaya pada dirinya.

13

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang merusak dan menimbulkan
kelumpuhan terjadi terutama menyerang orang yang berusia diatas 65 tahun tapi tidak
menutup kemungkinan dapat juga menyerang anak-anak, bahkan bayi. Penyebab pasti
penyakit ini belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor predisposisi seperti
proses infeksi virus lambat, autoimun, genetik dan trauma. Asuhan keperawatan pada
pasien dengan penyakit Alzheimer dilakukan dengan tujuan membantu
mengembalikan fungsi kognitif, motorik dan fungsi-fungsi bagian tubuh lain yang
mengalami gangguan akibat kelainan neurotransmiternya. Selain itu perhatian
terhadap kebutuhan nutrisi juga tetap dibutuhkan untuk mencegah berkembangnya
penyakit lain akibat intake nutrisi yang tidak adekuat.
B. Saran
Bagi perawat dan keluarga, diharapkan memperhatikan setiap perubahan yang
terjadi pada penderita Alzheimer ini, karena setiap perubahan baik itu dari segi
kognitif dan motorik mempengaruhi aktivitas sehari-hari pasien. Karenanya
dibutuhkan perhatian lebih bagi penderita Alzheimer ini.

14

DAFTAR PUSTAKA
Ariani, Tutu April. 2012. Sistem Neurobehavior. Jakarta: Salemba Medika
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Kowalak, Jenifer P. et. All. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC
Lewis, et. All. Medical Surgical Nursing Assessment and Management of Clinical
Problems. Mosby Elsevier
Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Klien dengan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika
Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Klien dengan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika
Price, Sylvia A, dan Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses penyakit. Jakarta: EGC

15