Anda di halaman 1dari 8

PEMERIKSAAN SPESIFISITAS ANTISERA

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengetahui cara pembuatan eritrosit 5%
Mengetahui cara pengujian spesifisitas antisera

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Salah satu upaya tubuh untuk mempertahankan diri terhadap masuknya antigen
adalah dengan cara meniadakan antigen tersebut, secara non spesifik yaitu dengan cara
fagositosis. Dalam hal ini, tubuh memiliki sel-sel fagosit yang termasuk ke dalam 2
kelompok sel, yaitu kelompok sel agranulosit dan granulosit. Kelompok sel agranulosit
adalah monosit dan makrofag, sedangkan yang termasuk kelompok sel granulosit adalah
neutrofil, basofil, eosinofil yang tergolong ke dalam sel PMN (polymorphonuclear).
Respon imun spesifik bergantung pada adanya pemaparan benda asing dan
pengenalan selanjutnya, kemudian reaksi terhadap antigen tersebut. Sel yang memegang
peran penting dalam sistem imun spesifik adalah limfosit. Limfosit berfungsi mengatur
dan bekerja sama dengan sel-sel lain dalam sistem fagosit makrofag untuk menimbulkan
respon immunologik. Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat
mengetahui istilah dalam immunobiologi, mampu memahami proses interaksi antigenantibodi, mampu menjelaskan reaksi positif maupun negatif dari model tes aglutinasi,
mampu mengenali dan memahami jenis-jenis sel darah yang berperan dalam proses
immunologi serta mampu melakukan prosedur pembuatan sediaan apus.
Interaksi antigen-antibodi dapat diamati dengan cara melakukan pemeriksaan
golongan darah. Pemeriksaan golongan darah ini memerlukan bahan dan alat seperti
sampel darah, gelas obyek, antigen, satu set larutan antisera (Anti-A, Anti-B, Anti-AB,
dan Anti-D), lanset serta mikroskop. Cara kerjanya yaitu mempersiapkan peralatan
kemudian memberi tanda pada gelas obyek daerah A, B, AB, dan D. Kemudian
mengambil sampel darah probandus dengan cara menusuk jari tengah probandus
menggunakan lanset dan darahnya diteteskan pada gelas obyek di masing-masing daerah
yang telah diberi tanda. Setelah itu larutan antisera diteteskan pada masing-masing

sampel darah sesuai dengan kode. Satu sampai dua menit kemudian diamati dengan mata
telanjang ataupun dengan bantuan mikroskop untuk melihat terjadinya aglutinasi.
Antibodi adalah molekul protein (immunoglobulin) yang memiliki satu atau lebih
tempat perlekatan (combining sites) yang disebut paratope (Brownlee, 2007). Antigen
adalah molekul asing yang mendatangkan suatu respon spesifik dari limfosit. Salah satu
cara antigen menimbulkan respon kekebalan adalah dengan cara mengaktifkan sel B
untuk mensekresi protein yang disebut antibodi. Istilah antigen sendiri merupakan
singkatan antibody-generator (pembangkit antibodi). Masing-masing antigen mempunyai
bentuk molekuler khusus dan merangsang sel-sel B tertentu untuk mensekresi antibodi
yang berinteraksi secara spesifik dengan antigen tersebut (Campbell, 2004). Interaksi
antigen antibodi merupakan interaksi kimiawi yang dapat dianalogikan dengan interaksi
enzim dengan substratnya. Spesifitas kerja antibodi mirip dengan enzim (Sadewa, 2008).
Kompleksitas antara antigen-antibodi terjadi saat antiserum dicampur dalam
perbandingan 1:1 dengan antigen. Ikatan antara antigen-antibodi terjadi karena kekuatan
kimia dan molekuler yang dibangkitkan antara faktor antigen dan area pengikat antigen
pada Fab end molekul antibodi. Faktor antigen berasal dari permukaan molekul dan
dalam reaksinya dengan imunoglobulin akan cocok dengan salah satu reseptor
imunoglobulin. Ikatan yang terjadi antara antigen dan molekul imunoglobulin walaupun
sangat spesifik namun ikatannya lemah dan reversibel. Ikatan elektrostatik yang
didapatkan dari interaksi antara beban positif dan negatif dalam molekul antigen dan
antibodi, ikatan hidrogen, dan kekuatan intermolekul tipe Van der Waals adalah yang
terpenting.
Tes aglutinasi adalah pendiagnosa yang berguna untuk mendeteksi dan mengukur
antibodi spesifik dalam serum pasien, untuk mengidentifikasi antigen seperti bakteri dan
virus (yang dikenal dengan antisera) serta untuk menentukan golongan darah.
Hemaglutinasi adalah aglutinasi sel darah merah oleh antibodi yang spesifik untuk
antigen membran sel. Pemeriksaan golongan darah adalah contoh dari hemaglutinasi.
Molekul antibodi dengan satu reseptor pengikat dan satu reseptor bebas terikat pada
antigen membentuk jembatan (linkage) antara 2 mokelul antigen. Ikatan silang antigenantibodi ini berlanjut membentuk pola geometris komplek tiga dimensi sampai
menghasilkan satu kelompok besar. Aglutinasi ini terjadi bila ukuran antigen lebih dari 2
m (Nolte, 1977).

Golongan darah ditentukan oleh kehadiran atau ketidakhadiran antigen. Struktur


kimia antigen golongan darah disusun oleh rantai gula panjang berulang-ulang yang
disebut fukosa, yang dengan sendirinya membentuk antigen O bagi golongan darah O.
Fukosa juga berperan sebagai dasar dari golongan darah lainnya. Golongan darah A
adalah antigen O (fukosa) ditambah gula yang disebut N-asetil galactosamin yang
ditambahkan pada ujungnya. Golongan darah B adalah fukosa ditambah gula berbeda, Dgalactosamin, pada ujungnya. Golongan darah AB adalah fukosa ditambah N-asetil
galactosamin dan D-galactosamin. Rantai gula panjang berulang-ulang ini seperti antena,
yang memproyeksi keluar dari permukaan sel-sel kita, mengawasi antigen asing.
Masing-masing golongan darah memproduksi antibodi terhadap golongan darah
lainnya. Inilah mengapa kita bisa menerima transfusi dari sebagian golongan darah tetapi
tidak dari yang lainnya. Antibodi golongan darah ini tidak berada di sana untuk
memperumit transfusi, tetapi lebih untuk melindungi tubuh dari zat-zat asing, seperti
bakteri, virus, parasit dan beberapa makanan nabati yang mirip antigen golongan darah
asing. Ketika sistem kekebalan tubuh berusaha mengidentifikasi karakter yang
mencurigakan, salah satu hal pertama yang dicarinya adalah antigen golongan darah. Jika
sistem kekebalan tubuh bertemu salah satu zat yang mirip golongan darah yang berbeda,
ia akan menciptakan antibodi untuk melawannya. Reaksi antibodi ini dikarakteristikkan
oleh proses yang disebut aglutinasi (penggumpalan sel). Ini berarti antibodi melekat pada
antigen dan menjadikannya sangat lengket. Ketika sel, virus, parasit dan bakteri
digumpalkan, mereka melekat satu sama lain dan menggumpal, yang menjadikan tugas
pembuangan mereka lebih mudah. Ini lebih seperti memborgol kriminal menjadi satu.
Mereka menjadi tidak berbahaya daripada ketika dibiarkan bergerak dengan bebas.
Aglutinasi merupakan konsep penting dalam analisis golongan darah. Antibodi
golongan darah ini, yang seringkali disebut isohemaglutinin, merupakan antibodi paling
kuat dalam sistem kekebalan tubuh, dan kemampuan mereka untuk menggumpalkan selsel golongan darah yang berbeda sangat kuat sehingga bisa diamati dengan cepat di slide
kaca dengan mata biasa (Anonim, 2009).

III.

BAHAN DAN ALAT


a. Bahan yang dipakai
-

Eritrosit murni golongan A, B, AB dan O, Larutan NaCl fisiologis

Untuk Kelompok 5 menggunakan eritrosit golongan B

b. Alat yang digunakan

IV.

Pipet tetes

Objek glass

Tabung reaksi

Tusuk gigi

Kaca pembesar

CARA KERJA
A. Pembuatan eritrosit 5%
1. Masukkan kedalam tabung reaksi larutan NaCl Fisiologis sebanyak 19
tetes
2. Dengan menggunakan pipet tetes yang sama, masukkan kedalam tabung
reaksi diatas eritrosit golongan B
3. Aduk hingga homogen dengan cara memutar-mutar menggunakan kedua
telapak tangan sehingga diperoleh larutan 5 %

B. Uji Spesifisitas antisera


1. Teteskan diatas 4 buah objek glass bersih larutan antisera, plasma
golongan darah B yang telah dimurnikan masing-masing sebnyak 1 tetes.
2. Pada objek glass pertama ditambahkan 1 tetes larutan eritrosit 5%
golongan A, objek glass kedua erotrosit 5% golongan B, objek glass ketiga
erotrosit 5% golonagn AB dan objek glass keempat eritrosit 5% golongan
O, amati reaksi yang terjadi
3. Tabelkan hasil yang terjadi, bila terjadi aglutinasi dinyatakan dengan tanda
positif (+) dan bila reaksi negatif dtandai tanda negatif (-)

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil pengamatan

Eritrosit B 5 %

Reaksi aglutinasi

Plasma A

Plasma B

Plasma AB

Plasma O

Plasma B2

Eritrosit 5% A

Eritrosit 5% B

Eritrosit

5%

AB
Eritrosit 5% O

b. Pembahasan

Pada praktikum ini dibuat eritrosit 5 % dari masing-masing eritrosit


murni golongan darah. Eritrosit murni ini dibuat untuk digunakan sebagai
antigen dari masing-masing golongan darah.
Kompleksitas antara antigen-antibodi terjadi saat antiserum dicampur
dalam perbandingan 1:1 dengan antigen. Ikatan antara antigen-antibodi terjadi
karena kekuatan kimia dan molekuler yang dibangkitkan antara faktor antigen
dan area pengikat antigen pada Fab end molekul antibodi. Faktor antigen
berasal dari permukaan molekul dan dalam reaksinya dengan imunoglobulin
akan cocok dengan salah satu reseptor imunoglobulin. Ikatan yang terjadi

antara antigen dan molekul imunoglobulin walaupun sangat spesifik namun


ikatannya lemah dan reversibel. Ikatan elektrostatik yang didapatkan dari
interaksi antara beban positif dan negatif dalam molekul antigen dan antibodi,
ikatan hidrogen, dan kekuatan intermolekul tipe Van der Waals adalah yang
terpenting.
Tes aglutinasi adalah pendiagnosa yang berguna untuk mendeteksi dan
mengukur antibodi spesifik dalam serum pasien, untuk mengidentifikasi
antigen seperti bakteri dan virus (yang dikenal dengan antisera) serta untuk
menentukan golongan darah. Hemaglutinasi adalah aglutinasi sel darah merah
oleh antibodi yang spesifik untuk antigen membran sel. Pemeriksaan golongan
darah adalah contoh dari hemaglutinasi. Molekul antibodi dengan satu reseptor
pengikat dan satu reseptor bebas terikat pada antigen membentuk jembatan
(linkage) antara 2 mokelul antigen. Ikatan silang antigen-antibodi ini berlanjut
membentuk pola geometris komplek tiga dimensi sampai menghasilkan satu
kelompok besar. Aglutinasi ini terjadi bila ukuran antigen lebih dari 2 m
(Nolte, 1977).
Golongan darah ditentukan oleh kehadiran atau ketidakhadiran antigen.
Struktur kimia antigen golongan darah disusun oleh rantai gula panjang
berulang-ulang yang disebut fukosa, yang dengan sendirinya membentuk
antigen O bagi golongan darah O. Fukosa juga berperan sebagai dasar dari
golongan darah lainnya. Golongan darah A adalah antigen O (fukosa)
ditambah gula yang disebut N-asetil galactosamin yang ditambahkan pada
ujungnya. Golongan darah B adalah fukosa ditambah gula berbeda, Dgalactosamin, pada ujungnya. Golongan darah AB adalah fukosa ditambah Nasetil galactosamin dan D-galactosamin. Rantai gula panjang berulang-ulang
ini seperti antena, yang memproyeksi keluar dari permukaan sel-sel kita,
mengawasi antigen asing.
Masing-masing golongan darah memproduksi antibodi terhadap
golongan darah lainnya. Inilah mengapa kita bisa menerima transfusi dari
sebagian golongan darah tetapi tidak dari yang lainnya. Antibodi golongan
darah ini tidak berada di sana untuk memperumit transfusi, tetapi lebih untuk
melindungi tubuh dari zat-zat asing, seperti bakteri, virus, parasit dan beberapa

makanan nabati yang mirip antigen golongan darah asing. Ketika sistem
kekebalan tubuh berusaha mengidentifikasi karakter yang mencurigakan, salah
satu hal pertama yang dicarinya adalah antigen golongan darah. Jika sistem
kekebalan tubuh bertemu salah satu zat yang mirip golongan darah yang
berbeda, ia akan menciptakan antibodi untuk melawannya.
Reaksi antibodi ini dikarakteristikkan oleh proses yang disebut
aglutinasi (penggumpalan sel). Ini berarti antibodi melekat pada antigen dan
menjadikannya sangat lengket. Ketika sel, virus, parasit dan bakteri
digumpalkan, mereka melekat satu sama lain dan menggumpal, yang
menjadikan tugas pembuangan mereka lebih mudah. Ini lebih seperti
memborgol kriminal menjadi satu. Mereka menjadi tidak berbahaya daripada
ketika dibiarkan bergerak dengan bebas. Aglutinasi merupakan konsep penting
dalam analisis golongan darah. Antibodi golongan darah ini, yang seringkali
disebut isohemaglutinin, merupakan antibodi paling kuat dalam sistem
kekebalan tubuh, dan kemampuan mereka untuk menggumpalkan sel-sel
golongan darah yang berbeda sangat kuat sehingga bisa diamati dengan cepat
di slide kaca dengan mata biasa (Anonim, 2009).
Dari percobaan diatas didapatkan bahwa plasma murni golongan darah
B menggumpal dengan eritrosit AB dan A. Ini menunjukkan bahwa golongan
darah B tidak bisa menerima darah dari golongan A, dan untuk dari golongan
AB juga tidak bisa, tapi ada yang mengatakan bisa karena kecil kemungkinan
untuk terjadi aglutinasi.

VI.

KESIMPULAN
Dari praktikum yang didapat dapat diambil kesimpulan yaitu:

1. Tes aglutinasi adalah pendiagnosa yang berguna untuk mendeteksi dan mengukur
antibodi spesifik dalam serum pasien, untuk mengidentifikasi antigen seperti bakteri
dan virus (yang dikenal dengan antisera) serta untuk menentukan golongan darah
2. Reaksi antibodi ini dikarakteristikkan oleh proses yang disebut aglutinasi
(penggumpalan sel). Ini berarti antibodi melekat pada antigen dan menjadikannya
sangat lengket.
3. Pada reaksi aglutinasi, golongan darah A akan mengalami aglutinasi dengan golongan
darah B
4. Golongan darah B akan menggumpal dengan darah A
5. Golongan darah AB akan menggumpal dengan semua golongan darah kecuali AB
sendiri
6. Golongan darah O tidak mengalami penggumpalan dengan golongan darah manapun

DAFTAR PUSTAKA
Nanny, K H. et all.,1990, Isolasi imunogamaglobulin anti-T4 dari antisera, Seminar
Pendayagunaan Reaktor Nuklir untuk Kesejahteraan Masyarakat, PPTN- BATAN, Bandung.
Sinnott, E.W., 1958, Principles Of Genetics, 5th edition, McGraw-Hill Book Company Inc.,
New York.
Suryo, 1996, Genetika, Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Jakarta.
Yovita Lisawati, 1993, Pembuatan dan Evaluasi Antisera Penentuan Golongan Darah
ABO, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang.