Anda di halaman 1dari 5

Jaras Nervus Trigeminus

Gambar 1. Jaras Nervus Trigeminus (Netter, 2013)


Nervus trigeminus memiliki tiga nucleus sensorik dengan fungsinya masing-masing, yaitu
nucleus sensorik prinsipalis nervi trigemini untuk sensasi raba dan diskriminasi, nucleus spinalis
nervi trigemini untuk sensasi nyeri dan suhu, dan nucleus mesenfali nervi trigemini sebagai relay
sensorik menyerupai ganglion radix dorsalis. Peran sensorik diperankan oleh keseluruh cabang
nervus trigeminus, yaitu nervus ophtalmicus, nervus maxillaris, dan nervus mandibularis. Nervus
trigeminus mulai bercabang dari ganglion nervi trigemini (ganglion gasseri). Sedangkan, fungsi
motoric untuk otot masticator diperankan oleh nervus mandibularis dan nucleus motoric nervi
trigemini (Baehr and Frotscher, 2010).

Jaras Nervus Opticus

Gambar 2. Jaras Nervus Opticus (Netter, 2013)


Tiap bola mata memiliki dua serabut nervus opticus, yaitu serabut medial untuk melihat ke
arah lateral temporal dan serabut lateral untuk melihat ke arah medial nasal. Kedua serabut
tersebut keluar dari masing-masing bulbus occuli melalui discus nervi optici dan menyatu
menjadi nervus opticus. Di chiasma opticum, kedua serabut medial akan menyilang dan berlanjut
ke sisi kontralateral, sedangkan kedua serabut lateral berjalan tetap di lateral chiasma opticum
dan berlanjut ke sisi ipsilateral. Setelah itu, serabut medial kontralateral dan serabut lateral
ipsilateral akan berlanjut menjadi tractus opticus dan bersinaps di corpus geniculatum lateral.
Selanjutnya akan terbentuk radiatio optica dan berakhir di cortex striata sulcus calcarinus untuk
diproyeksikan dan diinterpretasikan otak (Baehr and Frotscher, 2010)

Jaras Nervus Glossopharyngeus

Gambar 3. Jaras Nervus Glossopharyngeus (Netter, 2013)


Nervus glossopharyngeus bersama nervus vagus, nervus intermedius, dan nervus assesorius pars
cranialis membentuk system vagal sebagai saraf campuran sensorik dan motoric. Terdapat tiga
nucleus yaitu nucleus ambiguuus untuk fungsi motoric, nucleus solitarius untuk fungsi sensorik,
dan nucleus salivatorius inferior untuk fungsi parasimpatik khususnya sekresi glandula parotis.
Terdapat lima rami nervi gloosopharyngei, yaitu ramus tympanicus, ramus stylopharyngeus,
ramus pharyngeus, ramus sinus caroticus, dan ramus lingualis (Baehr and Frotscher, 2010).

Interpretasi Ugo Fish Scale


Ugo Fish Scale bertujuan untuk membantu melakukan pemeriksaan fungsi motoric dan
mengevaluasi perkembangan kemampuan motoric pasien Bells Palsy. Posisi yang dilakukan dan
konstanta yang diperlukan untuk menghitung Ugo Fish Scale adalah sebagai berikut:
1. Istirahat

: 20 poin

2. Mengerutkan dahi : 10 poin


3. Menutup mata

: 30 poin

4. Tersenyum

: 30 poin

5. Bersiul

: 10 poin

Kemudian saat melakukan pemeriksaan pada pasien, pemeriksa dapat menginspeksi dan
menilai kesimetrisan wajah antara sisi yang sakit dengan sisi yang sehat dengan persentase
sebagai berikut (Lumbantobing, 2006):
1. Zero (0%)

: Asimetris komplit, tidak ada gerakan sama sekali pada sisi sakit

2. Poor (30%)

: Simetris ringan, cenderung ke asimetris, ada gerakan volunteer

3. Fair (70%)

: Simetris sedang, kesembuhan cenderung normal

4. Normal (100%)

: Simetris komplit

Setelah dilakukan pemeriksaan dan penilaian, dari masing-masing posisi dilakukan operasi
multiplikasi antara konstanta dan persentase, sehingga didapatkan hasil kali pada masing-masing
posisi. Kemudian, seluruh hasil kali tersebut dijumlahkan dan diinterpretasikan berdasalkan
kategori sebagai berikut (Lumbantobing, 2006):
1. Derajat I

: Normal (100 poin)

2. Derajat II

: Kelumpuhan ringan (75-99 poin)

3. Derajat III

: Kelumpuhan sedang (50-74 poin)

4. Derajat IV

: Kelumpuhan sedang-berat (25-49 poin)

5. Derajat V

: Kelumpuhan berat (1-24 poin)

6. Derajat VI

: Kelumpuhan total (0 poin)

Penatalaksanaan Nonmedikamentosa
Penatalaksanaan operatif nonmedikamentosa yang dapat dilakukan kepada pasien antara lain
(Grogan and Gronseth, 2001):
1. Dekompresi nervus facialis, yaitu operasi craniotomy pada fossa cranii media, dimana
prosedur ini bertujuan mengurangi tekanan pada N. facialis maupun ganglion geniculatum.
2. Subocularis oculi fat lift, berupa prosedur operasi untuk membantu meningkatkan
kesimetrisan wajah
3. Implants in eyelid, yaitu penanaman implant platinum/emas di dalam palpebrae agar dapat
palpebrae dapat menutup walaupun tidak ada kontraksi M. orbicularis oculi

REFERENSI

Baehr M., M. Frotscher. 2010. Diagnosis Topik Neurologi Duus: Anatomi, Fisiologi, Tanda,
Gejala Edisi 4 (Alih Bahasa: dr. Alifa Dimanti). Jakarta : EGC.
Netter F.H. 2013. Atlas of Human Anatomy. 5th Edition. Philadelphia: Elsevier.
Lumbantobing S.M. 2001. Neurologi Klinik: Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta: FKUI.
Grogan P.M., G.S. Gronseth. 2001. Practice parameter: Steroids, acyclovir, and surgery for
Bells palsy (an evidence based review): report of the Quality Standards Subcommittee of
the American Academy of Neurology. Neurology. 56(7): 830-836.