Anda di halaman 1dari 15

PERAGIAN ALKOHOLIK

1. Tujuan
Mengetahui pengaruh temperature terhadap proses fermentasi dan
mengetahui zat penghambat aktivitas enzim yang bekerja pada proses
fermentasi alkoholik
2. Prinsip
Berdasarkan reaksi glikolisis , di mana glukosa di ubah menjadi
dua molekul piruvat melalui 10 tahapan reaksi enzimatik, berdasarkan
reaksi dekarboksilasi piruvat, di mana piruvat di ubah menjadi asetaldehid
dan CO2 dengan bantuan enzim piruvat dekarboksilase, dan berdasarkan
reaksi dehidrogenasi asetaldehid, di mana asetaldehid akan di ubah
menjadi alkohol (etanol) dengan bantuan enzim alkohol dehirogenase.
3. Reaksi

4. Teori
Fermentasi mempunyai pengertian aplikasi metabolisme mikroba
untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti
asamasam

organik,

protein

sel

tunggal,

antibiotika,

dan

biopolymer. Salah satu produk yang dihasilkan dalam proses fermentasi


adalah ethanol (Puspitasari dan Sidik, 2009).
Produksi etanol dapat diperoleh dari gula (sukrosa) dengan proses
fermentasi secara anaerob (tanpa O2) oleh aktifitas khamir Saccharomyces
cerevisiae. Saccharomyces cerevisiae telah lama digunakan dalam industri
alkohol dan minuman beralkohol sebab memiliki kemampuan dalam
memfermentasi glukosa menjadi ethanol. Proses fermentasi ethanol pada
khamir tersebut berlangsung pada kondisi aerob. Setiap mikroorganisme
seperti layaknya makhluk hidup pasti membutuhkan makanan sebagai
sumber energi. Sumber energi utama bagi hampir semua makhluk hidup
adalah karbohidrat, mulai dari yang rantai panjang seperti pati sampai
yang paling sederhana (mono dan disakarida). Monosakarida paling utama
adalah glukosa, gula dengan rumus kimia C6H12O11. Hampir semua
makhluk hidup mengolah karbohidrat menjadi glukosa, menyebabkan
glukosa menjadi muara utama dari metabolisme karbon. Beberapa
organisme seperti Saccharomyces dapat hidup, baik dalam kondisi
lingkungan cukup oksigen maupun kurang oksigen. Organisme yang
demikian disebut aerob fakultatif. Dalam keadaan cukup oksigen,
Saccharomyces akan melakukan respirasi biasa. Akan tetapi, jika dalam
keadaan lingkungan kurang oksigen Saccharomyces akan melakukan
fermentasi. Fermentasi alkohol, secara sederhana, berlangsung sebagai
berikut.
C6H12O6 -----> 2C2H5OH + 2CO2 + 2ATP
Dalam keadaan anaerob, asam piruvat yang dihasilkan oleh proses
glikolisis akan diubah menjadi asam asetat dan CO2. Selanjutnya, asam
asetat diubah menjadi alkohol. Proses perubahan asam asetat menjadi
alkohol tersebut diikuti pula dengan perubahan NADH menjadi NAD+.

Dengan terbentuknya NAD+, peristiwa glikolisis dapat terjadi lagi. Dalam


fermentasi alkohol ini, dari satu mol glukosa hanya dapat dihasilkan 2
molekul ATP. Pada beberapa mikroba, peristiwa pembebasan energi
terlaksana karena asam piruvat diubah menjadi asam asetat dan
karbondioksida selanjutnya asam asetat diubah menjadi alkohol.
Dalam fermentasi alkohol, satu molekul glukosa hanya dapat
menghasilkan 2 molekul ATP, jika dibandingkan dengan respirasi aerob
satu

molekul

glukosa

mampu

menghasilkan

38

molekul

ATP.

Gula yang berfungsi sebagai substrat awal diubah menjadi asam piruvat
melalui proses glikolis. Kemudian terjadi proses dekarboksilasi asam
piruvat menjadi asetaldehid dan karbondioksida dengan bantuan enzim
piruvat dekarboksilase. Asetaldehid hasil dari dekarboksilasi asam piruvat
tersebut kemudian diubah menjadi alkohol (ethanol) dengan adanya
alkohol dehidrogenase.
Fermentasi cair juga memanfaatkan substrat bahan-bahan pertanian
seperti tepung serealia, biji-bijian, pati, malosa dan sebagainya, hanya
pada konsentrasinya yang lebih kecil dibandingakan dengan fermentasi
padat. Mikroba yang akan ditumbuhkan dimasukkan dalam bentuk
inokulum. Biasanya jumlah 10% sudah dianggap cukup baik untuk
pertubuhan. Umumnya fermentasi padat dalam menghasilkan suatu produk
membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan fermentasi cair.
Pada fermentasi cair, pengukuran pertumbuhan sel atau pemantauan fase
hidup bakteri dapat menjadi petunjuk akan waktu panen.pada proses
fermentasi, sejumlah sel dengan karakteristik yang sama dibiakan pada
kondisi tertentu dan terkontrol. Proses fermentasi dapat dilakukan hanya
dengan mencampur mikroorganisme dengan satu nutrisi dan membiarkan
komponennya bereaksi

(Danial, 2006 : 17-21)

Fermentasi adalah proses produksi energi dala sel dalam keadaan


anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu
bentuk anaerobik, akan tetapi terdapat defenisi yang lebih jelas yang
mendefenisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik

dengan tanpa akseptor elektron eksternal. Gula adalah bahan yang umum
dalam fermentasi. Beberapa contoh hasilfermentasi adalah etanol, asam
laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga
dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal
sebagai

bahan

yang

umum

digunakan

dalam

fermentasi

untuk

menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya.


Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang
tidak memiliki akseptor elektron eksternal) dapat dikategorikan sebagai
bentuk fermentasi (Anonim, 2007)
Beberapa organisme seperti saccharomyices dapat hidup baik
dalam kondisi lingkungan cukup oksigen maupun kurang oksigen.
Organisme yang demikian disebutaerob fakultatif. Dalam keadaan cukup
oksigen, saccharomyces akan melakukan respirasi biasa. Akan tetapi jika
dalam keadaan lingkungan kurang oksigen, saccharomyces akan
melakukan fermentasi. Dalam keadaan anaerob, asam piruvat yang
dihasilkan oleh proses glikolisis akan diubah menjadi asam asetat dan
CO2. Selanjutnya asam asetat akan diubah menjadi alkohol. Proses
perubahan asam asetat menjadi alkohol tersebut diikuti pula dengan
perubahan NADH menjadi NAD+ (Anonim, 2010)
Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh
hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen.Akan tetapi
beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam
butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan
dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan
minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia
selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal),
dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi yang mengasilkan asam
laktat sebagai produk sampingannya. Akumulasi asam laktat inilah yang
berperan dalam menyebabkan rasa kelelahan pada otot.

Dikenal bebrapa jaenis fermentasi diantaranya sebagai berikut:


a. Fermentasi Asam Asetat
Bakteri Acetobacter aceti merupakan baktei yang mula
pertama diketahui sebagai penghasil asam asetat dan merupakan jasad
kontaminan pada pembuatan wine. Saat ini bakeri Acetobacter aceti
digunakan

pada

produksi

asam

asetat

karena

kemampuanya

mengoksidasi alkohol menjadi asam asetat.

b. Fermentasi Asam Laktat


Fermentasi asam laktat banyak terjadi pada susu. Jasa yang
palingberperan dalam fermentasi ini adalah Lacobacillus sp. Laktosa
diubah menjadi asam laktat. Kini asam laktat juga digunakan untuk
produksi plastik dalam bentuk PLA.
c. Fermentasi Asam Sitrat
Asam sitrat dihasilkan melalui fermentasi menggunakan jamur
Aspergillus niger. Meskipun beberapa bakteri mampu melakukan,
namun yang paling umum digunakan adalah jamur ini. Pada kondisi
aerob jamur ini mengubah gula atau pati menjadi asam sitrat melalui
pengubahan pada TCA.
d. Fermentasi Asam Glutamat
Asam glutamat digunakan untuk penyedap makanan sebagai
penegas rasa. Mula pertama dikembangkan di Jepang. Organisme yang
kini banyak digunakan adalah mutan dari Corynebacterium glutamicu.

Faktor-faktor yang

mempengaruhi proses

fermentasi

untuk

menghasilkan etanol adalah: sumber karbon, gas karbondioksida, pH


substrat, nutrien, temperatur, dan oksigen.Untuk pertumbuhannya, yeast
memerlukan energi yang berasal dari karbon. Gula adalah substrat yang
lebih disukai. Oleh karenanya konsentrasi gula sangat mempengaruhi
kuantitas alkohol yang dihasilkan. Kandungan gas karbondioksida sebesar
15 gram per liter (kira-kira 7,2atm) akan menyebabkan terhentinya

pertumbuhan yeast, tetapi tidak menghentikan fermentasi alkohol. Pada


tekanan lebih besar dari 30 atm, fermentasi alcohol baru terhenti sama
sekali.
PH

dari

media

sangat

mempengaruhi

pertumbuhan

mikroorganisme. Setiap mikroorganisme mempunyai pH minimal,


maksimal, dan optimal untuk pertumbuhannya. Untuk yeast, pH optimal
untuk pertumbuhannya ialah berkisar antara 4,0sampai 4,5. Pada pH 3,0
atau lebih rendah lagi fermentasi alcohol akan berjalan dengan lambat.
Mikroorganisme mempunyai temperature maksimal, optimal, dan
minimal untuk pertumbuhannya. Temperatur optimal untuk yeast
berkisarantara 25-30C dan temperature maksimal antara 35-47C.
Beberapa jenis yeast dapat hidup pada suhu 0C. Temperatur selama
fermentasi perlu mendapatkan perhatian, karena di samping temperature
mempunyai efek yang langsung terhadap pertumbuhan yeast juga
mempengaruhi komposisi produk akhir. Pada temperature yang terlalu
tinggi akan menonaktifkan yeast. Pada temperature yang terlalu rendah
yeast akan menjadi tidak aktif.

5. Alat dan bahan


5.1.Alat
a. Tabung reaksi
b. Tabung durham
c. Pipa L
d. Kaki tiga
e. Kasa asbes
f. Api Bunsen
g. Beaker glass
h. Gelas ukur
i. Pipet tetes
5.2.Bahan
a. Larutan ragi
b. Larutan makanan (sukrosa)
c. Larutan NaOH
d. Larutan KI / I2
e. Larutan KF

6. Prosedur
Disiapkan 5 tabng reaksi dengan perlakuan yang diberi perlakuan
sebagai berikut:
Tabung pertama diisi dengan 4 mL larutan makanan dan 1 mL
suspensi ragi lalu di masukan tabung durham, kemudian disimpan dalam
lemari es selama 45 menit, kemudian dimasukan ke dalam incubator 370C
selama 2,5 jam.
Tabung ke-2 diisi dengan 8 ml larutan makanan dan 1 ml larutan
ragi, masukan tabung durham, dan simpan didalam incubator 370 C selama
2,5 jam, lalu diatambahkan larutan NaOH sebanyak 2ml dan diamati gas
yang terjadi sebelum dan sesudah penambahan NaOH.
Tabung ke-3 di isi dengan 8 ml larutan makanan dan larutan ragi,
dimasukan tabung durham dan disimpan dalam incubator selama 2,5 jam
pada suhu 370C. diuji adanya alcohol dengan cara menghubungkan pipa L
kedalam tabung reaksi yang berisi larutan larutan NaOH + larutan KI I2
diperhatikan bau yang tercium dari larutan berisi Iodoform yang terbentuk.
Tabung ke-4 di isi dengan larutan 8 ml larutan makanan dan 1 ml
larutan ragi yang sebeblumnya telah di panaskan, lalu dimasukan tabung
durham kemudian disimpan dalam incubator 370 C selama 2,5 jam lalu
diamati hasilnya.
Tabung ke-5 di isi dengan larutan 8 ml makanan, 1 ml suspensi
ragi dan 1 ml larutan KF, dimasukan tabung durham simpan dalam
incubator 370C selama 2,5 jam dan diamati hasilnya.

7. Data pengamatan
No
Percobaan
1
4 ml larutan makanan +
suspensi ragi + di dinginkan
2
8 ml larutan makanan +
suspensi ragi,di inkubasi 2,5
jam + NaOH
3
8 ml larutan makanan +
suspensi ragi, di inkubasi 2,5
jam + uji Iodoform

4
5

8 ml larutan makanan +
suspensi ragi yang di panaskan
8 ml larutan makanan +
suspensi ragi + larutan KF

Hasil
terdapat gelembung
terdapat gelembung gas hilang
setelah penambahan NaOH
tabung yang berisi NaOH +
iodoform berwarna coklat pekat,
setelah ada aliran gas dari tabung
(3) berubah jadi coklat muda
berbau seperti antiseptik
terdapat gelembung gas
tidak terdapat gelembung gas

8. Pembahasan
Praktikum kali ini telah dilakukan pengamatan terhadap proses
fermantasi alkohol. Fermentasi merupakan aktivitas mikroorganisme
untuk memperoleh energi melalui pemecahan substrat atau katabolisme
yang diperlukan untuk proses metabolisme dan pertumbuhannya. Adapun
pengertian dari peragian alkoholik itu sendiri yaitu suatu proses
pengubahan glukosa menjadi alkohol dan gas karbondioksida melalui
suatu rangkaian reaksi enzimatik yang terdapat pada ragi, ragi yang
digunakan dalam percobaan ini yaitu Saccharomyces cerevisiae.
Percobaan peragian alkoholik ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh suhu dan pengaruh zat penghambat atau inhibitor terhadap
proses peragian alkoholik, untuk mengetahui adanya alkohol (etanol)
melalui uji iodoform pada proses peragian alkoholik, untuk mengetahui
cara kerja enzim akibat adanya denaturasi serta untuk mengetahui
pengaruh penambahan natrium hidroksida terhadap gas karbondioksida
yang dihasilkan dari proses peragian alkoholik.
Prinsip yang mendasari percobaan ini yaitu berdasarkan reaksi
glikolisis , di mana glukosa di ubah menjadi dua molekul piruvat melalui
10 tahapan reaksi enzimatik. Pada tahapan reaksi enzimatik ini terbagi
menjadi dua tahap, pada tahap pertama glukosa akan di ubah menjadi
gliseraldehid 3-fosfat dan pada tahap kedua griseraldehid 3-fosfat yang
terbentuk pada tahap pertama akan di ubah menjadi dua molekul piruvat.
Selain itu, prinsip yang mendasari percobaan ini yaitu berdasarkan reaksi
dekarboksilasi piruvat, di mana piruvat di ubah menjadi asetaldehid dan
karbondioksida dengan bantuan enzim piruvat dekarboksilase dan
berdasarkan reaksi dehidrogenasi asetaldehid, di mana asetaldehid akan di
ubah

menjadi

alkohol

(etanol)

dengan

bantuan

enzim

alkohol

dehirogenase.
Proses peragian alkoholik sangat dipengaruhi oleh kerja enzim
untuk mengubah glukosa menjadi alkohol. Enzim adalah substansi yang
dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi
kimia yang berlangsung dalam organisme.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim yaitu


konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, suhu, pH dan inhibitor atau zat
penghambat. Fungsi enzim adalah sebagai katalisator, oleh karena itu
enzim memerlukan kondisi yang optimum dalam melakukan aktivitasnya.
Inhibitor terbagi menjadi dua, yaitu inhibitor reversible dan inhibitor
irreversible. Inhibitor reversible yaitu suatu zat penghambat yang dapat
dihilangkan dengan meggeseser kesteimbangan, inhibitor reversible di
bagi lagi menjadi dua yaitu inhibitor kompetitif dan inhibitor
nonkompetitif. Inhibitor kompetitif dimana zat penghambat memiliki
stuktur yang sama dengan substrat dan zat penghambat tersebut akan
masuk pada sisi aktif enzim, dan merusak bagian sisi aktif enzim, sehingga
substrat tidak dapat bereaksi dengan enzim. contoh dari inhibitor
kompetitif yaitu anion malonat yang menghambat enzim dehidrogenase
suksinat. Inhibitor nonkometitif dimana zat penghambat tidak memiliki
struktur yang sama dengan substrat, akan tetapi zat penghambat ini akan
menempel pada bagian enzim yang dapat merusak bagian aktif enzim,
sehingga mengakibatkan substrat tidak dapat bereaksi dengan enzim.
contoh dari inhibitor nonkompetitif yaitu dehidratase treonin di hambat
oleh isoleusin, antibiotik penisilin menghambat kerja enzim penyusun
dinding sel bakteri. Ilustrasi inhibitor kompetitif dan nonkompetitif dapat
di lihat pada dibawah ini:

Inhibitor irreversible disebabkan karena terjadinya proses destruksi


atau modifikasi gugus fungsi yang terdapat pada enzim. contoh inhibitor
irreversible yaitu senyawa diisoprofilfluorofosfat (DFP) menghambat
enzim asetilkolinesterase yang penting dalam transmisi implus syaraf.
Iodoasetamida yang dapat bereaksi dengan enzim yang memiliki gugus
SH.
Sifat-sifat enzim yaitu kecepatan reaksi yang dikatalis oleh enzim
sangat tinggi, enzim bersifat spesifik untuk reaksi tertentu, tidak ada
produk samping yang terbentuk pada reaksi enzim, reaksi enzim bersifat
reversible, enzim yang digunakan untuk suatu reaksi dapat digunakan
sedikit mungkin.
Dalam

percobaan

ini

digunakan

larutan

makanan

yang

mengandung gula yang dicampur dengan susupensi ragi. Fungsi dari gula
yaitu sebagai substrat dan sebagai sumber energi dan sebagai sumber
makanan bagi mikroorganisme yang ada dalam ragi. Selain itu digunakan
air yang berfungsi sebagai sumber mineral, pelarut dan menghomogenkan
substrat. Suspensi ragi merupakan penghasil mikroba sacharomyces
cerevisiae, merupakan mikroba yang terdapat pada roti. mikroba ini
memiliki 10 enzim yang berperan dalam proses glikolisis.
Dalam percobaan ini digunakan lima tabung reaksi dan tiap tabung
mengalami perlakuan yang berbeda.
Tabung (1)
Pada tabung ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu.
Dimasukkan larutan makanan, air dan suspensi ragi ke dalam tabung,
kemudian dimasukkan tabung durham dengan posisi terbalik. fungsi dari
tabung durham yaitu untuk mempermudah pengamatan adanya gas
karbondioksida yang dihasilkan. tidak boleh ada rongga ketika tabung
durham dimasukkan ke dalam tabung reaksi. setelah itu tabung reaksi A di
tutup dengan plastik wrap, kemudian didinginkan pada penangas es selama
45 menit. setelah itu diamati dan tabung durham tetap berada di bawah, hal
ini menandakan tidak ada aktivitas enzim pada suhu rendah atau dengan
kata lain enzim nonaktif. Kemudian setelah itu tabung reaksi A di simpan

pada inkubator dengan suhu 37oC selama 2,5 jam. Kemudian diamati dan
tabung durham naik, hal ini menandakan adanya aktivitas enzim, sehingga
terbentuk gas karbondioksida.
Tabung (1)
Percobaan pada tabung ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
penambahan natrium hidroksida pada hasil peragian alkoholik. Pada
tabung ini ditambahkan larutan natrium hidroksida 2N, kemudian tabung
durham turun dan gelembung gas menghilang karena gas karbondioksida
bereaksi dengan natrium hidroksida yang membentuk endapan natrium
karbonat. seperti reaksi dibawah ini:
NaOH + CO2 ----> Na2CO3 + H2O
Tabung (3)
Pada tabung ini bertujuan untuk mengetahui adanya etanol melalui
uji iodoform. dihubungkan dengan tabung F melalui pipa L, kemudian
tabung (3) dipanaskan dengan spirtus, lalu uap etanol mengalir ke tabung
F yang berisi NaOH 1 N dan larutan KI-I2. sehingga terjadi reaksi:
C2H5OH + NaOH + KI-I2 ----> I3CH + NaOCOH
Pada tabung F tercium bau iodoform atau bau antiseptik dan
terjadi perubahan warna dari coklat tua menjadi coklat. Penambahan KI-I2
akan menghambat kerja enzimgliseraldehid dihidrogenase. Enzim ini
bekerja sebagai katalis pada reaksi gliseraldehida-3-fosfat menjadi 1,3
difosfogliserat. Dalam reaksi ini digunakan koenzim NAD+. Sedangkan
gugus fosfat diperoleh dari asam fosfat. Reaksi oksidasi ini mengubah
aldehida menjadi asam karboksilat. Gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase
telah dapat diperoleh dalam bentuk Kristal dari ragi dan mempunyai berat
molekul 145.000. Enzim ini adalah suatu tetramer yang terdiri atas empat
subunit yang masing-masing mengikat suatu molekul NAD+, jadi pada tiap
molekul enzim terikat empat molekul NAD+.

Tabung (4)
Percobaan pada tabung ini bertujuan untuk mengetahui cara kerja
enzim akibat adanya denaturasi. Suspensi ragi dipanaskan terlebih dahulu
bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu tinggi terhadap proses
peragian alkoholik. dan terlihat tabung durham tidak naik, hal ini
menandakan bahwa tidak ada kativitas enzim, karena enzim telah
terdenaturasi. Denaturasi sendiri merupakan proses penguraiian enzim
oleh adanya pemanansan yang menyebabkan perubahan pada struktur
enzim itu sendiri, sehingga enzim tersebut berkurang aktivitasnya,
bahakan bias jadi samasekali menjadi inaktif

Tabung (5)
Bertujuan

untuk

mengamati

pengaruh

zat

penghambat.

ditambahkan larutan KF, ion flouride dapat menghambat kerja enzim


enolase yang berperan dalam proses glikolisis. Enzim enolase berperan
dalam pembentukan asam fosfofenol piruvat dari asaam 2-fosfogliserar
dengan katalis enzim enolase dan ion Mg2+ sebagai kofaktor. Reaksi
pembentukkan asam fosfofenol piruvat ini ialah pembentukan asam
fosfofenol piruvat dari asaam 2-fosfogliserar dengan katalis enzim enolase
dan ion Mg2+ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukkan asam fosfofenol
piruvat ini ialah reaksi dehidrasi. Adanya ion F- dapat menghambat kerja
enzim enolase, sebab ion F- dengan ion Mg2+dan fosfat dapat membentuk
kompleks magnesium fluoro fosfat. Dengan terbentuknya kompleks ini
akan mengurangi jumlah ion Mg2+ dalam campuran reaksi dan akibat
berkurangnya ion Mg2+maka efektivitas reaksi berkurang.(Anna Poedjiadi,
1994).

9. Kesimpulan
Suhu sangat berpengaruh dalam proses fermentasi, diperlukan suhu
yang stabil agar proses fermentasi dapat belangsung dengan baik, suhu
terlalu tinggi menyebabkan enzim menjadi inaktif, sedangkan jika suhu
terlalu tinggi dapat mengakibatkan denaturasi ezim atau mikroorganisme
ragi dalam fermentasi.
Selain suhu, zat penghambat atau inhibitor juga dapat mengganggu
proses fotosintesis, dalam percobaan ini inhibitor yang berperan yaitu
larutan KI-I2 yang menghambat kerja enzim gliseraldehid fosfat
dehydrogenase, serta senyawa flourisa yang dapat menghambat aktivitas
enolase.
10. Daftar pustaka
Armstrong, Frank.B. 1995. Buku ajar biokimia ( Biochemistry ) edisi
ketiga. diterjemahkan oleh dr. RF. Maulany Msc. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC.

Kimball, John. 1983. Biologi Edisi Kelima Jilid 1 diterjemahkan oleh Hj.
Siti Soetarni Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta : Penerbit erlangga.

Martin Muliawan. 1979. Biokimia ( Review Physiological Chemistry ).


Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.