Anda di halaman 1dari 19

BAGIAN ILMU ANESTESI

TERAPI INTENSIF DAN MANAJEMEN NYERI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

JOURNAL READING
SEPTEMBER 2014

Dampak Manajemen Nyeri dengan Menggunakan Tangga Analgesik WHO pada


Anak-Anak dengan Kanker di Institut Kanker Mesir Selatan, Universitas Assiut
S. Abdel-Hadi1, Mohammed M. Ghazaly2, Montaser A. Mohamed3, Ahmed M. Morsy4

DIBAWAKAN OLEH:
NURIL ILMI

C111 10 288

PEMBIMBING:
dr. Bambang Hendra S.
SUPERVISOR:
dr. Ratnawati, Sp. An
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU ANESTESI, TERAPI INTENSIF, DAN MANAJEMEN NYERI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

Latar Belakang

Tujuan
Untuk menggambarkan karakteristik & penyebab nyeri
di departemen onkologi pediatrik di Institusi Kanker
Mesir Selatan, untuk memastikan efektivitas tangga
analgesik WHO pada pasien kanker pediatrik & untuk
mencatat efek samping yang terjadi di bawah
pengobatan dengan terapi opiat sesuai dengan
langkah 2 & 3 dari tangga analgesik tersebut .

Abstrak

Pedoman
WHO
tahun
2012
baru-baru
ini
merekomendasikan 2 - langkah strategi dalam
mengelola nyeri kanker pediatrik. Ada sedikit bukti
eksperimental untuk mendukung praktek ini.

Metode

Abstrak

Selama 30 bulan dari (1 Jan 2011 sampai 30 Juni 2013),


sebuah studi prospektif dilakukan pada pasien kanker
pediatrik yang mengeluh sakit & memenuhi semua
kriteria inklusi untuk keikutsertaan dalam penelitian ini.
Data yang dikumpulkan adalah: demografi pasien,
karakteristik nyeri & skor intensitas nyeri. Rata-rata skor
intensitas nyeri 24 jam pertama setelah perubahan
terapi nyeri dan pengurangan > 30% dari tingkat
awalnya digunakan untuk menghitung adekuatnya
kontrol nyeri. Semua pasien yang tetap nyeri setelah
pengobatan dengan langkah - 1 (parasetamol) dibagi
menjadi 2 kelompok: "Kelompok 1" menerima langkah 2 (tramadol) & "kelompok 2" pindah langsung ke
langkah - 3 dari tangga analgesik WHO (dosis rendah
morfin).

Pengertian Nyeri
Nyeri adalah perasaan sensorik dan
emosional yang tidak menyenangkan akibat
adanya kerusakan jaringan yang nyata atau
yang berpotensi rusak atau tergambarkan
seperti kerusakan tersebut.
-HAROLD MERSKEY (psychiatrics), telah diterima oleh IASP
(International Association for Study of Pain 1979)

Mekanisme Nyeri

Kerusakan jaringan
Mediator inflamasi

Stimulasi nociceptors
Transmission SSP

Pain

Medulation
Descending
modulation
Ascending
input

Dorsal Horn
Dorsal root
ganglion

Conduction
Transduction

Spinothalami
c
tract

Peripheral
nerve
Trauma

Peripheral
nociceptors
Adapted from Gottschalk A et al. Am Fam Physician. 2001;63:1981, and Kehlet H et al. Anesth Analg. 1993;77:1049.

Modified by AHT

Anticonvulsants
Opioids
Tricyclic/SNRI Antidepressants

Nyeri

Descending
modulation
Ascending
input

Spinothalamic
tract

Dorsal Horn

Anticonvulsants
Opioids
NMDA-Receptor Antagonists
-agonists
Tricyclic/SNRI Antidepressants
Dorsal root
ganglion

Local Anesthetics

Peripheral
nerve

Peripheral
nociceptors

Adapted from Gottschalk A et al. Am Fam Physician. 2001;63:1981, and Kehlet H et al. Anesth Analg. 1993;77:1049.

COX-1
COX-2
COX-3
Kortikosteroid

Trauma

Klasifikasi Nyeri
Menurut Durasi
Nyeri Akut
Nyeri Kronik

Klasifikasi Nyeri
Nyeri
Nosisepsi

Tipe
Campuran

Nyeri
Neuropatik

Nyeri kanker
Neuralgia
pascaherpes
Nyeri
pascabedah

Radang
sendi

Nyeri punggung
Bawah (mekanik)Cedera akibat
aktivitas fisik

Nyeri punggung
bawah (neuropatik)

Neuralgia
trigeminal

Polyneuropathy
(diabetic, HIV)

Penilaian Nyeri
Self-Report Measures
Wong Baker Faces Pain Scale
Faces Pain Scale-Revised

Visual Analog Scale (VAS)


Pieces of Hurt Tool
MSPCT (multiple size poker chip tool)
Section 3. Pain Assessment
Pediatric Anesthesia 2008, 18 (Suppl. 1), 14-18.

Visual Analog Scale


No
pain

Severe
pain

No pain
Mild

Moderate

Severe

Severe
pain

VAS score

Interpretation

<4
47
>7

Mild pain
Moderate pain
Severe pain

Wong Baker Faces Pain Scale

Penilaian Nyeri
Behavioural Measures
PIPP (Premature Infant Pain Profile)
CRIES (Crying Requires Oxygen Saturation Increased Vital
Sign Expression Sleeplessness)
COMFORT Scale
Neonatal Facial Coding Scale.
FLACC (Face,Legs,Arms,Cry,Consolability)
CHEOPS (Childrens Hospital of Eastern Ontario Pain Scale)
Objective Pain Scale

FLACC

WHO analgesic step ladder

Efek Samping Penggunaan Opioid


Depresi Pernapasan
Depresi Kardiovaskular
Pruritus

Gastrointestinal effect
Urinary effects

Efek samping seperti somnolen, konstipasi, nausea, dan


atau muntah dan pruritis ditemukan lebih jarang pada
obat opiat lemah dibandingkan pada obat opiat kuat
dan perbedaan tersebut signifikan secara statistik (pvalue< 0.05).

Hasil

Setelah kegagalan untuk mencapai kontrol nyeri


adekuat dengan analgesik non-opioid, ditemukan
bahwa nilai tengah rata-rata skor intensitas nyeri pada
24 jam pertama setelah pemberian morfin dosis rendah
sebagai strategi 2 langkah (langkah-3) adalah 1.33,
dimana nilainya lebih rendah bila dibandingkan
dengan mereka yang tercapai setelah terapi tramadol
(langkah-2), yaitu 3.33, dan perbedaan tersebut
signifikan secara statistik (p-value = 0.002).

Penggunaan morfin dosis rendah sebagai opiat kuat


dalam langkah-2 Tangga WHO Strategi Dua Langkah
memiliki pengurangan nyeri paling besar dan periode
nyeri lebih singkat, serta memerlukan sedikit perubahan
dalam terapi apabila perubahan tersebut diperlukan,
namun pengelolaan tambahan terhadap efek samping
yang timbul dibandingkan dengan pasien dalam grup
Strategi tiga langkah diperlukan untuk memastikan
keberhasilan pelaksanaan dari tangga analgesik.

Kesimpulan

Nyeri terkait penyakit adalah kausa paling sering dari


siklus nyeri dan nyeri somatik merupakan tipe yang
paling sering berulang.