Anda di halaman 1dari 6

PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN ASAM URAT

MENGGUNAKAN FOTOMETER DAN STICK


Ahmad Sirojul Umam, Ekawati Sutikno1), Nadar Arumsari2)
Pogram Studi D-III Analis Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Insntitut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri
a.umam21@yahoo.com
ABSTRAK
Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir dari purin. Kadar asam urat
diukur menggunakan fotometer dan stick, kemudian dibandingkan hasil
pemeriksaannya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan serta
menganalisa hasil pemeriksaan asam urat menggunakan fotometer dan stick pada
mahasiswa D-III Analis Kesehatan tingkat III. Desain penelitian yang digunakan
adalah studi perbandingan dengan memeriksa 30 sampel secara Purposive
Sampling. Hasil penelitian ini diperoleh kadar asam urat menggunakan fotometer
rata-rata 4,7 mg/dl dan kadar asam urat menggunakan stick rata-rata 5,1 mg/dl
dengan selisih hasil yang didapatkan yaitu 0,4 mg/dl. Dari hasil uji t berpasangan
diperoleh nilai signifikan 0,002 < 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan
antara kadar asam urat menggunakan fotometer dan stick.
Kata kunci: Kadar asam urat, Fotometer, Stick
PENDAHULUAN
Asam Urat merupakan hasil
metabolisme akhir dari purin yaitu
salah satu komponen asam nukleat
yang terdapat dalam inti sel tubuh.
Peningkatan kadar asam urat dapat
mengakibatkan gangguan pada tubuh
manusia seperti perasaan linu-linu di
daerah persendian dan disertai timbul
rasa nyeri bagi penderitanya (Andry,
2009).
Asam
urat
(2,6,8
trioxypurine) pertama kali ditemukan
oleh George Pearson pada tahun
1795. Kadarnya dalam darah
bervariasi menurut umur dan jenis
kelamin. Pada anak-anak kadarnya
lebih rendah dibanding masa dewasa.
Laki-laki masa pubertas, kadar asam
urat meningkat mendekati orang
dewasa. Pada wanita cenderung
meningkat
sesuai
umur
dan
mendekati kadar asam urat pria
dewasa. Peningkatan terutama pada

masa menopause dan cenderung


menetap (Manampiring, 2011).
Di dalam masyarakat orang
yang mengeluh ngilu sendi banyak
ditemukan baik pada orang tua
maupun anak muda, dan hal tersebut
sering dikaitkan dengan tingginya
asam urat. Untuk memastikannya
bisa
dilakukan
dengan
cara
mengikuti pemeriksaan laboratorium.
Banyak alat yang digunakan
untuk pemeriksaan asam urat,
diantaranya
adalah
dengan
menggunakan
fotometer
dan
menggunakan stick. Masing-masing
alat yang digunakan mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Dari
kelebihan dan kekurangan alat-alat
tersebut sering kali ditemukan hasil
pemeriksaan yang berbeda. Selain
dipengaruhi alat yang berbeda, faktor
lain seperti kelembapan juga dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan
(Askiki, 2011).

Dari uraian di atas perlu


dilakukan pembuktian agar dapat
dianalisa
perbedaan
hasil
pemeriksaan kadar asam urat
menggunakan fotometer dan stick.
Namun dalam penelitian ini sampel
bukan berasal dari orang usia tua
atau dewasa karena yang ditekankan
bukan hasil pemeriksaan berdasarkan
usia
melainkan
hanya
membandingkan hasil dari metode
yang
digunakan.
Diharapkan
penelitian ini berguna bagi peneliti,
institusi dan masyarakat sebagai
tambahan wawasan tentang asam
urat beserta metode pemeriksaannya.
LANDASAN TEORI
A. Asam Urat
Asam urat merupakan
hasil metabolisme akhir dari purin
yaitu salah satu komponen asam
nukleat yang terdapat dalam inti
sel tubuh. Peningkataan kadar
asam urat dapat mengakibatkan
gangguan pada tubuh manusia
seperti perasaan linu-linu di
daerah persendian dan sering
disertai timbulnya rasa nyeri yang
teramat sangat bagi penderitanya.
Hal
ini
disebabkan
oleh
penumpukan kristal di daerah
tersebut akibat tingginya kadar
asam urat dalam darah. Faktorfaktor
yang
diduga
juga
mempengaruhi penyakit ini adalah
diet, berat badan dan gaya hidup
(Andry, 2009).
Sering kali asam urat
dikatakan sebagai penyakit kaum
pria, karena 90% - 95%
penderitanya adalah kaum pria.
Wanita
jarang
ditemukan
menderita penyakit ini. Terutama
yang masih mengalami menstruasi
karena
hormon
estrogen
membantu pengeluaran asam urat
melalui ginjal. Kadar normal asam

urat pada pria 3,0 7,1 mg/dl,


pada wanita 2,6 6,0 mg/dl
(Sustrani, 2005).
Di
dalam
tubuh,
perputaran purin terjadi secara
terus menerus seiring dengan
sintesis dan penguraian RNA dan
DNA. Sehingga walaupun tidak
ada asupan purin, tetap terbentuk
asam urat dalam jumlah yang
substansial (Brahm, 2004).
Berdasarkan penyebabnya,
penyakit asam urat digolongkan
menjadi dua yaitu gout primer dan
gout sekunder. Gout primer
diakibatkan dari peningkatan
produksi asam urat karena
kelainan pada fungsi enzim
kongenital.
Sedangkan
gout
sekunder diakibatkan hambatan
dari pembuangan asam urat
(Sustrani, 2005).
B. Metode Pemeriksaan
Pemeriksaan yang baik
harus
selalu
memperhatikan
beberapa hal dalam analisis bahan
laboratorium diantaranya tujuan,
prinsip dan metode pemeriksaan,
bahan pemeriksaan, alat dan
reagensia, cara pemeriksaan, serta
avaluasi hasil. Beberapa metode
yang
sering
digunakan
di
laboratorium klinik adalah metode
Tes Strip dan metode Enzymatic
Colorimetric. Masing - masing
metode mempunyai kelemahan
dan kelebihan yang harus selalu
dipertimbangkan.
Metode
Tes
strip
menggunakan katalis bersama
dengan teknologi biosensor yang
dirancang untuk pemeriksaan
asam urat. Tes strip (stick) ini
dirancang
sedemikian
rupa
sehingga ketika darah dimasukkan
ke dalam zona reaksi strip, katalis
asam urat memicu oksidasi asam
urat dalam darah. Intensitas

elektron yang terbentuk diukur


dengan sensor Uric Acid dan
setara dengan kadar asam urat
dalam sampel (Users Manual).
Untuk
menghindari
kesalahan pra analitik pada
pemeriksaan
asam
urat
menggunakan
stick,
perlu
diperhatikan dari mana asal
spesimen tersebut dan bagaimana
perlakuan yang benar terhadap
spesimen (Users Manual).
Keterbatasan dari alat tes
strip ini juga perlu diperhatikan,
antara lain hematokrit di bawah
35% karena ada penurunan Hb,
sehingga darah menjadi encer dan
di atas 50% Hb naik darah kental
dapat mengganggu hasil. Kadar
yang tinggi dari asam askorbat,
bilirubin dapat mengganggu hasil
tes. Untuk menghindari kadar
yang tinggi dari asam askorbat,
disarankan melakukan tes setelah
puasa 12 jam. Pada metode tes
strip, alat (stick) hanya mampu
mendeteksi kadar asam urat antara
3,0 mg/dl sampai 20 mg/dl.
Kelebihan pemeriksaan asam urat
dengan tes strip dalah hasil tes
dapat diketehui segera, volume
darah yang dibutuhkan sedikit dan
dapat segera dilakukan tes ulang
(Users Manual).
Pada Metode Enzymantic
colorimetric,
H2O2
dengan
katalisa
peroxidase
bereaksi
dengan
3,5-dichloro-2hydroxybenzenesulofonic
acid
(DCHBS) dan 4-aminophenazone
(PAP) memberikan warna merahviolet dengan Quinoneimine
sebagai
indikator.
Intensitas
warna yang terbentuk diukur
dengan
fotometer
(Users
Manual).

Beberapa hal yang perlu


diperhatikan antara lain sampel
lipemik dapat menyebabkan hasil
pemeriksaan kadar asam urat
tinggi palsu (keruh), dengan
kandungan lipid dalam darah
(kadar cholesterol 500 mg/dl dan
trigliserida 3000 mg/dl). Encerkan
3 X 100 l serum + 200 l NaCl.
Selain itu sampel hemolisis dapat
mempengaruhi hasil kadar asam
urat. Termasuk sampel ikterik
juga mempengaruhi pembacaan
pada fotometer, ikterik (kenaikan
pada faal hati). Kelebihan
Pemeriksaan Asam Urat dengan
Fotometer adalah hasil tes lebih
akurat, kadar asam urat yang
terlalu rendah dan terlalu tinggi
dapat terbaca, tidak ada faktor
ketergantungan bahan habis pakai
reagen (Users Manual).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan
desain
studi
perbandingan.
Populasinya adalah mahasiswa Prodi
D-III Analis Kesehatan tingkat III
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti
Wiyata Kediri dengan jumlah sampel
sebanyak 30. Teknik sampling yang
digunakan pada penelitian ini adalah
Non Probability Sampling yaitu
secara Purposive Sampling.
Lokasi penelitian dilakukan
di Laboratorium Kimia Klinik
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti
Wiyata Kediri. Sedangkan waktu
penelitian dilakukan pada bulan
Februari 2013. Pengumpulan data
dilakukan dengan pemeriksaan asam
urat menggunakan fotometer dan
stick
dengan
analisa
data
menggunakan uji t berpasangan yang
diolah dengan SPSS 16.0 Windows.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pemeriksaan kadar asam urat menggunakan fotometer dan stick,
ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik, serta dianalisa menggunakan uji
statistik.
1. Tabel deskriptif hasil pemeriksaan asam urat
N Minimum Maximum Mean
Std. Deviation
Fotometer
30
Stick
30
Valid N (listwise)
30
*Sumber data primer 2013

2,6
3,5

7,1
7,0

4,743
5,143

1,0448
0,8885

2. Grafik hasil pemeriksaan asam urat


8,0
7,0
6,0
5,0
4,0
3,0
2,0
1,0
0,0
1

11

13

15

Fotometer

17

19

21

23

25

27

29

Stick

2. Hasil Uji Statistik


a. Tabel uji Normalitas distribusi data
Statistic
.978
.969

Fotometer
Stick

Shapiro-Wilk
df
30
30

Sig.
.767
.505

b. Tabel uji t berpasangan pemeriksaan asam urat

Fotometer
Stick

Reratas.b.

30
30

4,7431,04
5,1430,88

*Sumber data primer 2013

Perbedaan
Reratas.b.

IK95%

0,400,63

0,16-0,63

0,002

Berdasarkan
pemeriksaan
pada 30 sampel mahasiswa D-III
Analis Kesehatan Tingkat III
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti
Wiyata Kediri yang dilakukan di
Laboratorium Kimia Klinik Institut
Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata
Kediri diperoleh hasil bahwa kadar
asam urat menggunakan fotometer
rata-rata 4,7 mg/dl dan hasil kadar
asam urat menggunakan stick ratarata 5,1 mg/dl. Dari hasil uji statistik
didapatkan kedua distribusi data
(fotometer dan stick) adalah normal,
karena nilai signifikan > 0,05. Pada
uji t berpasanga diperoleh nilai
signifikan 0,002 < 0,05. Apabila nilai
signifikan < 0,05 maka Ho ditolak,
artinya
ada
perbedaan
yang
signifikan antara kadar asam urat
menggunakan
fotometer
dan
menggunakan stick.
Perbedaan
hasil
yang
didapatkan bukan karena perbedaan
kadar asam urat yang terkandung
pada sampel serum dan darah (whole
blood). Hal ini sesuai dengan jurnal
Cattozzo yang menyebutkan bahwa
variasi volume sampel dan jenis
spesimen baik berupa whole blood
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
pemeriksaan
asam urat terhadap 30 sampel
mahasiswa D-III Analis Kesehatan
tingkat III Fakultas Kesehatan
Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan
Bhakti Wiyata Kediri yang dilakukan
di Laboratorium Kimia Klinik
Institut Ilmu Kesehatan Bhakti
Wiyata Kediri
diketahui ada
perbedaan antara kadar asam urat
menggunakan
fotometer
dan
menggunakan stick.
Agar
didapatkan
hasil
pemeriksaan yang tepat diharapkan
Bagi
mahasiswa
mampu

ataupun serum tidak mempengaruhi


konsentrasi dari asam urat. Alasan
didapatkannya
perbedaan
hasil
disebabkan oleh penggunaan alat
yang berbeda karena setiap alat
pemeriksaan memiliki metode dan
prinsip kerja yang berbeda. Selain
itu, keterbatasan masing-masing alat
juga menyebabkan perbedaan hasil
yang berpengaruh pada ketepatan
hasil pemeriksaan.
Pada penggunaan stick, botol
harus segera ditutup setelah dibuka
saat mengambil stick. Karena akses
udara terlalu banyak di dalam botol
dapat menyebabkan stick menjadi
lembab dan rusak. Sehingga botol
stick harus segera ditutup agar stick
tahan lama dan tetap terjaga kualitas
keakuratan
hasil.
Tempat
penyimpanannya
juga
harus
terhindar dari matahari dan pada
tempat yang kering dalam suhu
ruang 4-300C (Users Manual).
Pada pemeriksaan dengan
menggunakan fotometer, beberapa
faktor yang dapat menyebabkan
kesalahan hasil adalah suhu, waktu
inkubasi, kalibrasi, dan kontrol alat.

melaksanakan
praktikum
pemeriksaan asam urat secara tepat
dan menguasai metode pemeriksaan
yang umumnya banyak digunakan.
Bagi
petugas
laboratorium
diharapkan melakukan pemeriksaan
sesuai dengan Standar Operasional
Prosedur, melakukan kalibrasi dan
kontrol alat secara rutin, bertanya
kepeda pasien tentang hal-hal yang
berkaitan
dengan
pemeriksaan
(makanan dan obat-obatan yang
dikonsumsi sebelum pemeriksaan,
puasa dan lain-lain), melakukan
perawatan serta menempatkan alat di
tempat yang aman, dan pemeriksaan
laboratorium
lebih
disarankan

menggunakan fotometer (stick untuk


monitoring). Sedangkan bagi peneliti
selanjutnya
disarankan
untuk
menginkubasi sampel pada fotometer
jika tersedia tempat inkubasi, karena
suhu ruang yang tidak stabil dapat
mempengaruhi hasil, memperhatikan
waktu inkubasi serta meminimalisir
selisih waktu pembacaan hasil, dan
memestikan responden menjalakan
persyaratan
sebelum
dilakukan
pemeriksaan.
DAFTAR PUSTAKA
Andry, ddk. 2009. Analisis FaktorFaktor
yang Mempengaruhi
Kadar Asam Urat pada Pekerja
Kantor.
Dalam
Jurnal
Keperawatan Soedirman. Vol.4
No.1. Manado. Halaman 26-31.
Diakses pada 12 Desember
2012. Pukul 12.43 WIB.
Askiki,
Arissu.
2011
2011.http://www.admin.ums.ac.i
d. Diakses pada 19 November
2012. Pukul 21.01 WIB.
Brahm, dkk. 2004. Tinjauan Klinis
Hasil
Pemeriksaan
Laboratorium. Jakarta: EGC.
Cattozzo, G. 1988. Evaluation of
Uric Acid in Serum and Whole

Blood with the Reflotron. Dalam


Jurnal Clinic Chemistry. Vol.34
No.2.
Halaman
414-416.
Diakses pada 17 Mei 2013.
Pukul 18.32 WIB.
Manampiring, A. E. 2011. Prevalensi
Hiperurisemia pada Remaja
Obese di Kota Tomohon. Dalam
Laporan Penelitian Itek dan
Seni. Manado. Diakses pada 13
Desember 2012. Pukul 20.21
WIB.
Notoatmodjo,
Soekidjo.
2010.
Metodologi
Penelitian
Kesehatan. Jakarta: PT Rineka
Cipta
Sugiyono. 2011. Statistika untuk
Penelitian.
Bandung:
ALFABETA
Sujarweni, V. Wiratna. 2012. SPSS
untuk Paramedis. Yogyakarta:
Gava Media
Sustrani, Lanny dkk. 2005. Asam
Urat. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Users Manual. Fotometer
Users Manual. Tes Strip