Anda di halaman 1dari 28

Skenario 4

LESINYA BERANEKA WARNA


Gilang, seorang mahasiswa kedokteran gigi yang sedang praktek di Rumah
Sakit Gigi dan Mulut menerima seorang pasien bernama Windy usia 32 tahun dengan
keluhan luka pada pipi bagian dalam sebelah kanan sejak 2 minggu yang lalu. Luka
terasa perih, panas dan kasar. Pada pemeriksaan intra oral tampak lesi ulseratif dan
daerah eritematus pada mukosa bukal kanan regia 15-17 bentuk irregular ukuran 2,5 x
1,5 cm disertai Wickham striae. Hygiene oral buruk, pada gigi 16 terdapat restorasi
amalgam yang sudah pecah.
Gilang juga melihat pasien lainnya dengan berbagai macam lesi dalam mulut
yang dapat bermanifestasi sebagai lesi putih-merah-biru dan lesi pigmentasi lainnya.
Ada lesi yang berupa plak utih yang dapat diangkat/diseka dan yang tidak dapat
diseka. Tidak semua lesi yang ia temukan merupakan kelainan patologis. Sebagai
seorang calon dokter gigi, ia harus mampu mengidentifikasi mana lesi yang
merupakan variasi dari keadaan normal dan lesi yang bersifat patologis, serta lesi
yang berpotensi menjadi keganasan dalam rongga mulut. Bagaimana saudara
menjelaskan lesi putih dan lesi bukan putih di rongga mulut?

TERMINOLOGI
Wickham striae

: Garis putih dan papula putih seperti jala, tidak dapat diseka,

terdapat pada pasien Lichen Planus

IDENTIFIKASI MASALAH
1 Apa saja contoh contoh variasi normal dari penyakit mulut ?
2 Apa saja contoh dari lesi merah-putih, lesi pigmentasi, lesi putih dan lesi merah ?
3 Apa saja contoh lesi yang berpotensi menjadi keganasan ?
4 Apa suspect dari penyakit ibu windy ?

ANALISA MASALAH
1 Apa saja contoh contoh variasi normal dari penyakit mulut ?
a Lekoudema
- Opak, putih, abu-abu
- Hilang bila mukosa diregang
- Pada mukosa pipi, palatum lunak, tidak terasa nyeri, tipis

b Linea alba
- Disebabkan tekanan, iritasi, karena menghisap mukosa pipi
c Granula fordyce
- Merupakan kelenjar sebasea ektopik yang secara embrionik terperangkap
pada saat penggabungan proc. Maksilaris dan mandibularis
- Laki-laki predominan, warna putih kekuningan, menonjol
d White sponge nevus
- Kelainan herediter
- Plak putih timbul, difus, beludru, spongy
e Diskeratosis
- Terdapat pada mukosa bukal, mukosa labial, dasar mulut, lidah
- Merupakan kelainan autosom dominan
- Berupa plak putih, sponge, berkerut, bilateral

2 Apa saja contoh dari lesi merah-putih, lesi pigmentasi, lesi putih dan lesi merah ?
Lesi putih
Candidiasis
-

Disebabkan oleh C.albican, dll

Faktor pemicu berupa OH buruk, penggunaan obat kumur, antibiotic


spectrum luas, steroid

Gejala klinis :
o Lesi primer : pada daerah oral dan perioral
o Lesi sekunder : lesi mukokutan dari tubuh lain

Cheek biting
-

Sering terjadi pada wanita yang mudah cemas

Abrasi epitelium superfisial yang meninggalkan fragmen keputihan dengan


latar belakang kemerahan

Terdapat pada mukosa labial bawah dan mukosa bukal dekat garis oklusi

Lesi merah
Eritoplakia
- Lesi dengan tempelan merah seperti beludru
- Biasanya pada palatum lunak dan dasar mulut

Purpura
- Bentuk pewarnaan berbatas jelas, karena perdarahan dibawah kulit
- Purpura terbagi 3 : ptekie, ekimosis, hematoma
Lesi merah putih
Lichen planus
- Kelainan imunologi
- Faktor predisposisi : gelisah, stress, emosi , virus hepatitis c
- Wanita usia 40 tahun
- Lesi pada mulut : etropik, membentuk striae

Lupus eritematosus
- Kelainan autoimun
- Terdiri atas 3 :
Lupus eritematosus discoid yang kronis : hanya melibatkan kulit
Lupus eritematosus sistemik : mengenai berbagai macam organ
Lupus eritematosus kutaneus subakut : suatu bentuk intermediate
yang menghasilkan lesi kulit tanpa jaringan parut
Oral lichenoid reaction
- Mirip dengan oral lichen planus
- Etiologi karena kontak langsung material restorasi gigi
Lesi pigmentasi
- Tato amalgam
- Ephulis
- Macula kecil, berwarna coklat muda hingga coklat tua
- Pada bibir/ kulit, dipicu oleh sinar matahari
- Smokers palate

Pada palatum, warna coklat gelap, akibat terlalu lama merokok

Usia 30-40 tahun

3 Apa saja contoh lesi yang berpotensi menjadi keganasan ?


Leukoplakia
- Orang yang merokok, alcoholic
- Disebabkan oleh candida yang non albicans
- Dan juga disebabkan oleh virus ebestein bar
- Terbagi dua :
Homogen : teratur
Heterogen : tidak teratur
Eritoplakia
- merokok dan alkohol
- orang yang mempunyai penyakit nutrisi
Submukosa fibrosis
- penyakit kronik menyerang mukosa oral dan faring
- menyerang pasien dibawah 20 tahun
- berupa eritematosus, ptekie dan vesikel

Apa suspect penyakit ibu windy ?


oral lichenoid reaction : karena gambaran klinisnya sama ,dan etiologi
karena kontak dengan material kedokteran gigi
lichen planus : karena di sertai striae

SKEMA

Gilang (mahasiswa FKG)

Ibu Windy (32 thn)

Anamnesa

Pemeriksaan

-luka bagian pipi


dalam

-lesi ulseratif & daerah eritemasus


pada mukosa bukal, regio 2.5-2.7,
disertai striae

- sudah 2 minggu

-oh buruk

-perih,panas,kasar

-1.6 restorasi amalgam yan pecah

Lesi putih dan bukan


putih

Variasi
normal

Lesi putih

Lesi
merah

Lesi merah
putih :

-infeksi dan
imunologi

Lesi
pigmen
tasi

Lesi yg
berpotensi
mjd
keganasan

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi variasi normal di


rongga mulut
2. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi putih rongga
mulut
3. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi merah rongga
mulut
4. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi merah putih
rongga mulut
5. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi pigmentasi
rongga mulut
6. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami lesi yang berpotensi menjadi
keganasan di rongga mulut

MENGUMPULKAN INFORMASI
SINTESA DAN UJI INFORMASI
1.

Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi variasi normal


di rongga mulut
a. White Sponge Nevus (Penyakit Cannon)

i.

Etiologi dan Patogenesis


Genetik. Lesi ini diturunkan secara autosomal dominan

ii.

Gambaran klinis
Tampak sebagai lesi putih, disertai alur multipel, dan tekstur
menyerupai spons. Tidak bergejala. Lesi ini mungkin terlihat pada
saat bayi lahir atau yang lebih sering pada awal usia anak-anak.
Tempat predileksi lesi ini adalah mukosa pipi dan permukaan ventral
lidah, tetapi lesi juga dapat ditemui di daerah lain dari rongga mulut
ditutupi oleh epitel parakeratin atau epitel tidak berkeratin.

iii.

Diagnosa banding
Leukoedema, leukoplakia, lichen planus, diskeratosis kongenital

iv.

Rencana perawatan
Tidak diperlukan perawatan

b. Linea Alba

i.

Etiologi dan Patogenesis


Tekanan atau isapan pada permukaan gigi mengakibatkan epitel
menjadi menebal (hiperkeratotik)

ii.

Gambaran klinis
Tampak sebagai garis putih yang lebih menonjol dibandingkan
sekitarnya, terletak di sepanjang garis oklusi dan asimtomatik. Jika
dilakukan palpasi, teraba konsistensinya normal. Lesi ini ditemukan
bilateral dan tidak bisa dihilangkan dengan digosok.

iii.

Rencana perawatan
Tidak diperlukan perawatan

c. Leukoedema

i.

Etiologi dan Patogenesis

Lesi terjadi akibat peningkatan ketebalan epitel dan edema


intraseluler pada stratum spinosum
ii.

Gambaran klinis
Secara klinis lesi memiliki cirri khas berupa mukosa berwarna putihkelabu dengan pola opalesen. Kondisi ini sering ditemui bilateral
pada mukosa bukal dan kadang-kadang di tepi lidah. Permukaan lesi
sedikit mengkerut dan gambaran khas tersebut menghilang jika
mukosa diregangkan. Kondisi ini asimtomatik dan tidak memiliki
potensi keganasan. Mengusap lesi tidak akan menghilangkan lesi.

iii.

Diagnosa banding
Leukoplakia, hairy leukoplakia, lichen planus

iv.

Rencana perawatan
Tidak diperlukan perawatan

d. Fordyces Granules

i.

Etiologi dan Patogenesis


Kelenjar sebasea di dalam mukosa mulut yang secara embrionik
terperangkap selama penggabungan prosesus maksila dan mandibula

ii.

Gambaran klinis
Tampak sebagai bintik putih kekuningan yang sedikit menonjol,
asimtomatik, dan multiple. Tempat predileksi lesi ini adalah tepi
vermilion bibir atas, komisura, dan mukosa bukal. Kelompok yang
membesar dapat terasa kasar jika diraba dan dirasakan dengan lidah
pasien. Kadang-kadang juga terlihat rambut intraoral.

iii.

Diagnosa banding
Leukoplakia, kandidiasis, lichen planus

iv.

Rencana perawatan

Tidak diperlukan perawatan, kecuali untuk estetik pada bibir atas


dapat dilakukan pembedahan.

e. Heredity Benign Intraephitelial Dysceratosis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Kelainan autosomal dominan

ii.

Gambaran klinis
Tampak sebagai plak-plak putih, spongy, tebal, berkerut pada mukosa
bukal, mukosa labial, dasar mulut, lateral lidah, gingival, palatum.
Asimptomatik. Plak tebal di bulbar conjunctiva, menyebabkan iritasi
ocular, photophobia, kadang hingga kebutaan

iii.

Diagnosa banding
White sponge nevus, lichen planus

iv.

Rencana perawatan
Tidak diperlukan perawatan. Untuk evaluasi dan perawatan lesi
ocular, dapat dirujuk ke ophthalmologist.

2.

Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi putih rongga


mulut
a. Cheek Chewing (Morsicatio Buccarum)

Etiologi dan Patogenesis

Lesi ini disebabkan karena kebiasaan menggigit pipi atau mengunyah


pipi. Faktor predisposisi seperti stress dan kecemasan yang
mengakibatkan berkembangnya perubahan mukosa
Gambaran klinis
Lesi ini ditandai oleh deskuamasi pada epitel yang terkena. Berwarna
keputih-putihan, kasar, lunak, dan bergaris luar secara difus.
Unilateral atau bilateral. Lesi umumnya terbatas pada mukosa labial
bawah atau mukosa bukal di dekat garis oklusi
Diagnosa banding
White sponge nevus, chemical burns, kandidiasis, oral hairy
leukoplakia
Rencana perawatan
Hilangkan kebiasaan dan dapat menggunakan plastic occlusalnight
guard

b. Oral Candidiasis
Etiologi dan Patogenesis
Kandidiasis disebabkan oleh jamur Candida albicans. Berbagai factor
predisposisi memiliki kemampuan untuk mengkonversi Candida dari flora
normal menjadi organisme patogen. Kandidiasis oral dibagi menjadi infeksi
primer dan sekunder. Infeksi primer terbatas untuk daerah oral dan perioral,
sedangkan infeksi sekunder disertai dengan manifestasi mukokutan sistemik.
Untuk menyerang lapisan mukosa, mikroorganisme harus melekat pada
permukaan epitel. Oleh karena itu, strain Candida dengan potensi adhesi
lebih baik lebih patogen dibandingkan strain dengan adhesi yang lemah.
Penetrasi ragi pada sel-sel epitel difasilitasi oleh produksi lipase, dan agar
tetap bertahan dalam epitel, maka ragi harus dapat mengatasi deskuamasi sel
epitel permukaan. Factor predisposisi yang mempengaruhi kandidiasis yaitu
factor local (penggunaan gigi tiruan, merokok, steroid inhalan, steroid
topical, hyperkeratosis, ketidakseimbangan mikroflora oral, serta kualitas
dan kuantitas saliva) dan factor umum (penyakit imunosupresif, penggunaan
obat-obat imunosupresif, kemoterapi, gangguan endokrin, dan defisiensi
hematinik)
a) Acute Pseudomembranous Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Infeksi ini disebabkan oleh pertumbuhan jamur Candida yang
berlebihan. Bayi yang ibunya mengalami infeksi trush di
vaginanya pada saat melahirkan dan orang dewasa yang
mengalami perubahan mikroflora mulut normal karena
pemakaian antibiotic, steroid dan perubahan sistemik, seperti
diabetes, imunodefisiensi atau kemoterapi.

ii.

Gambaran klinis
Tampak berupa plak putih yang melekat pada mukosa bukal,
lidah, palatum lunak, dan bibir, seperti beludru, tidak nyeri
sampai plak ini dikerok sehingga meninggalkan permukaan
yang merah dan kasar.

iii.

Diagnosa banding
Food debris, cheek biting, white sponge nevus, leukoplakia

iv.

Rencana perawatan
Penggunaan antijamur topical atau sistemik selama 2 minggu

b) Acute Atrophic Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis

Penggunaan antibiotic spectrum luas, seperti tetrasiklin/ steroid


topical menyebabkan ketidak seimbangan ekosistem mulut
antara L.acidophilus dan C.albicans
ii.

Gambaran klinis
Plak merah atrofik, luas, rasa terbakar, dan gatal pada mukosa
bukal, bibir , orofaring, lidah dan palatum

iii.

Diagnosa banding
- white sponge nevus, cheek chewing dan food debris

iv.

Rencana perawatan
Menghentikan antibiotic penyebab dan menggunakan obat
antijamur

c) Chronic Atrophic Candidiasis (Denture Stomatitis)

i.

Etiologi dan Patogenesis


Penggunaan gigi tiruan yang kondisinya kurang baik pada
rahang atas, serta disebabkan oleh organisme kandida yang ada
di bawah basis gigi tiruan.

ii.

Gambaran klinis
Awalnya terbentuk petechiae pada palatum, lalu terjadi eritema
difus pada sebagian/ seluruh mukosa yang tertutup gigi tiruan,
akhirnya terjadi granulasi jaringan atau nodularity pada bagian
tengah palatum dan alveolar ridge

iii.

Rencana perawatan
Terapi antijamur

d) Chronic Hyperplastic Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Organisme kandida yang menembus permukaan mukosa dan
merangsang respon hiperplastik. Factor predisposisi berupa :
iritas kronis, OH buruk, dan Xerostomia

ii.

Gambaran klinis
Lesi mempunyai tepi yang sedikit menonjol, permukaan yang
lembek berwarna putih atau keabuan, dan zona merah yang
disebabkan kerusakan mukosa. Terdapat pada dorsum lidah,
palatum, mukosa bukal, dan komisura labial

iii.

Diagnosa banding
Leukoplakia, eritroleukoplakia

iv.

Rencana perawatan
Aplikasi agen antijamur topical

e) Chronic Multifocal Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Pasien dapat mengalami kandidiasis atrofik kronik yang
multiple, biasanya pada pasien immunocompromised, perokok
atau dengan factor predisposisi berupa ill-fitting denture

ii.

Gambaran klinis

Tampak pada dorsum lidah, palatum, komisura bibir, serta


mukosa yang tertutup gigi tiruan. Berupa plak yang berwarna
putih dengan dasar berwarna merah
f) Chronic Mucocutaneous Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Terjadi sebagai akibat defek imun cell-mediated, atau mungkin
pula berhubungan dengan defisiensi Fe

ii.

Gambaran klinis
Lesi di mukosa dan kulit, granuloma terlokalisir, serta plak
putih pada membrane mukosa

g) Immunocompromised-Associated Candidiasis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Berhubungan dengan infeksi HIV, kanker, atau keganasan
hematologis. IgA pada saliva dapat menghalangi perlekatan
kandida ke mukosa bukal. Pada pasien dengan kompromis

imun,terjadi penurunan jumlah IgA saliva sehingga konsentrasi


kandida meningkat secara signifikan.

3.

Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi merah rongga


mulut
a Geograpic tongue

Defenisi dan etiologi


Bercak eritema berbatas jelas, multipel dikelilingi garis bewarna putihyang
lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya. Lesi ini memiliki ciri khas yaitu
bertahan dalam waktu yang singkat di satu area, menghilang dalam waktu
beberapa hari, kemuadian berkembang diarea lainnya. Tempat predileksinya
adalah permukaan dorsum lidah, tetapi terkadang lesi ini ditemuakan di bagian
mukosa lainnya

Diagnisis banding
-stomatitis sel plasma, psoriasis, sindrom reiter

Purpura trombositopenia

Etiologi
Kelainan hematologi yang memiliki ciri khas berupa penurunan platelet
pada pembuluh darah perifer. Diperkirakan akibat infeksi virus non
spesisfik atau bahan mielotoksik.

Gambaran klinis
Lesi merah dalam bentuk ptekie, ekimosis, atau hematoma, biasanya
terletak di palatum dan mukosa bukal. Temuan awal selalu dijumpai adalah
perdarahan gingiva spontan. Ruam kulit yang gatal, epistaksis dan
perdarahan traktus gstrointestinalis dan urinaria juga merupakan hal yang
umum terjadi.

Diagnosis banding
- reaksi obat, anemia aplastik, leukemia, polisitemia vera, agranulositosis

Rencana perawatan
Steroid, tranfusi platelet, menghentikan pemberian obat jika lesi terkait
denagn obat tersebut

4. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi merah


putih rongga mulut
Oral Lichen Planus

Etiologi dan Patogenesis


Walaupun penyebabnya tidak diketahui dengan baik, fenomena
autoimun yang diperantai sel T berperan dalam pathogenesis lichen
planus. Factor predisposisi berupa stress, diabetes, hepatitis C, trauma
dan hipersensitif terhadap obat, makanan, bahan kimia dan logam

Gambaran klinis
Papula putih yang biasanya menyatu, membentuk garis yang saling
menganyam (Wickham striae). Tempat predileksi lesi adalah mukosa
pipi, lidah dan gingiva. Ada 6 bentuk penyakit yang dapat dijumpai
pada mukosa mulut, yaitu reticular, seperti plak, papula, bulosa,
eritematus, dan ulseratif
Diagnosa banding
Leukoplakia, discoid lupus eritematosus, kandidiasis, eritroplakia,
pemfigus sikatrisial, pemfigus, pemfigoid bulosa
Rencana perawatan
Tidak ada perawatan yang dilakukan pada lesi yang asimtomatik.
Pemberian steroid topical dapat membantu. Penggunaan steroid
sistemik dosis rendah dapat digunakan pada lesi yang parah dan luas.

Lichenoid Contact Reaction

Etiologi dan Patogenesis


Penyebab lesi ini pada umumnya adalah reaksi hipersensitivitas
terhadap bahan restorasi gigi, amalgam, resin komposit, dan
akumulasi plak pada gigi. Kadang terjadi akibat reaksi terhadap obat
tertentu, walaupun kondisi tersebut jarang ditemukan.
Gambaran klinis
Secara klinis, lesi tampak berwarna putih dan/atau eritematosa,
biasanya disertai striae putih halus di perifer. Erosi juga dapat terjadi.
Cirri khas lesi ini adalah letaknya pada mukosa yang berkontak
langsung dengan bahan restorasi, dan tidak bergerak ke lokasi yang

lain. Lesi akan menghilang setelah bahan restorasi penyebabnya


diangkat.
Diagnosa banding
Lichen planus, discoid lupus eritematosus, pemfigoid sikatrisial
Rencana perawatan
Mengganti bahan restorasi yang menjadi penyebab, memoles dan
menghaluskannya, meningkatkan hygiene mulut. Pemberian steroid
topical dalam waktu singkat juga dapat membantu

c. Hairy Leukoplakia

Etiologi dan Patogenesis


Virus Epstein-Barr berperan penting pada pathogenesis penyakit ini
Gambaran klinis
Tampak sebagai bercak asimtomatik, lebih menonjol dibandingkan
jaringan sekitarnya, dan didapat diseka. Lesi ini hampir selalu
ditemukan bilateral pada tepi lateral lidah, dan dapat melebar ke
dorsum dan ventral lidah. Lesi ini memiliki cirri khas berupa
permukaan yang berombak dalam arah vertical.
Diagnosa banding
Lichen planus, keratosis friksional, kandidiasis
Rencana perawatan
Tidak diperlukan, tetapi pada beberapa kasus pernah diberikan
acyclovir atau valasiclovir dan memberikan hasil yang baik

5. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami tentang lesi pigmentasi


rongga mulut
a. Melanoma Malignan

Etiologi dan Patogenesis


Tidak diketahui. Radiasi sinar ultraviolet merupakan factor penyebab
melanoma kulit yang cukup penting untuk dipertimbangkan
Gambaran klinis
Secara klinis, lesi berbentuk macula, plak, atau nodula yang
mengalami ulserasi. Lesi ini memiliki cirri khas berupa tepi yang
tidak teratur dan memiliki kecenderungan untuk melebar. Mukosa
yang sering terkena adalah palatum, gingival rahang atas, dan mukosa
alveolar
Diagnosa banding
Ephelis, tato amalgam, sarcoma kaposi
Rencana perawatan
Bedah eksisi, radioterapi, kemoterapi

b. Melanoplakia (Pigmentasi Fisiologis)

Etiologi dan Patogenesis


Lesi berasal dari meningkatnya jumlah melanin (pigmen endogen)
yang dideposit pada lapisan basal mukosa dan lamina propria.
Gambaran klinis

Paling sering ditemukan pada gingival cekat. Lesi sering tampak


berupa pita gelap yang lebar, dengan tepi berbatas jelas dan
melengkung, yang memisahkannya dari mukosa alveolar. Lesi
bersifat simetris dan tidak bergejala. Kadang-kadang, dapat berupa
bercak atau asimetris. Derajat pigmentasi bervariasi dari coklat muda
sampai coklat tua dan kadang kadang sampai biru tua. Daerah lain
yang terkena adalah mukosa bukal, palatum keras, bibir, dan lidah.
Diagnosa banding
Penyakit Addison, sindroma Peuts-Jeghers, pigmentasi logam berat
Rencana perawatan
Tidak memerlukan perawatan

c. Melanotic Nevus

Etiologi dan Patogenesis


Timbul sebagai akibat dari pertumbuhan dan proliferasi melanosit.
Gambaran klinis
Jarang terjadi, berupa lesi tunggal,dan banyak terjadi pada wanita.
Lesi biasanya asimtomatik, kecil (<1 cm), berwarna coklat atau biru,
dibatasi nodula atau macula. Paling sering pada palatum keras,
mukosa bukal, mukosa labial, dan gingival.
Diagnosa banding
Melanoma malignan
Rencana perawatan
Bedah eksisi, terapi laser
d. Smokers Melanosis

Etiologi dan Patogenesis


Menghisap rokok yang menstimulasi pigmentasi.
Gambaran klinis
Secara klinis, lesi terlihat sebagai daerah berpigmen berwarna cokelat,
multiple, biasanya terletak pada gingival labial bagian anterior pada
mandibula. Pigmentasi yang terjadi pada mukosa pipi dan palatum
terkait dengan kebiasaan merokok yang menggunakan pipa/Jarang
terjadi, berupa lesi tunggal,dan banyak terjadi pada wanita. Lesi
Diagnosa banding
Melanoma, penyakit Addison
Rencana perawatan
Tidak ada perwatan yang dianjurkan. Dengan menghentikan
kebiasaan merokok dapat membuat kondisi pigmentasi mukosa
menjadi normal kembali.

e. Purpura

Etiologi dan Patogenesis


Diperkirakan akibat infeksi virus nonspesifik, trauma, penyakit
sistemik, atau keabnormalan yang mendasarinya, seperti kelainan
platelet atau pembekuan darah, kerapuhan kapiler, atau infeksi.

Gambaran klinis
Manifestasi oralnya berupa lesi merah dalam bentuk petechiae,
ekimosis, atau hematoma, biasanya terletak di palatum dan mukosa
pipi. Cenderung berubah warna dengan berjalannya waktu, menjadi
biru keunguan dan nantinya kuning-coklat. Lesi ini terdiri atas darah
ekstravasasi, sehingga lesi tidak menjadi pucat pada diaskopi (tekanan
dengan satu sisi kaca)
Diagnosa banding
Anemia aplastik, leukemia
Rencana perawatan
Purpura

menghilang

dengan

berjalannya

waktu

dan

tidak

membutuhkan perawatan khusus

f. Ephelis/ Freckle

Etiologi dan Patogenesis


Tidak diketahui. Lesi terjadi akibat peningkatan produksi melanin
Gambaran klinis
Secara klinis lesi tampak sebagai macula bulat berwarna cokeat,
soliter, berbatas tegas, asimtomatik, dan diameternya kurang dari 5
mm. Lesi sering terdapat pada tepi vermilion bibir bawah. Umumnya
terdapat pada daerah tubuh yang terpapar sinar matahari, jarang
ditemukan di rongga mulut. Cenderung menjadi lebih gelap bila
terkena paparan sinar matahari yang berkepanjangan (musim semi,
musim panas), dan berkurang selama musim gugur dan musim dingin.
Diagnosa banding
Melanoma, sindrom Peutz-Jeghers
Rencana perawatan

Tidak ada perawatan yang diperlukan, kecuali untuk pertimbangan


estetik dan diagnostic.

g. Oral Melanotic Macule

Etiologi dan Patogenesis


Berasal dari deposisi melanin yang bersifat local, di sepanjang lapisan
basal epithelium dan lapisan permukaan jaringan ikat.
Gambaran klinis
Banyak terjadi pada wanita, sering pada bibir bawah dan gingiva.
Seluruh permukaan mukosa bisa terkena. Cenderung terjadi pada usia
dewasa. Melanotic makula cenderung kecil (<1 cm), berbatas tegas,
oval atau tidak teratur. Setelah lesi mencapai ukuran tertentu,
cenderung untuk tidak mengalami perbesaran lebih lanjut. Makula
melanotic tidak menjadi lebih gelap bila terkena paparan sinar
matahari. Secara keseluruhan, melanotic makula oral relatif tidak
berbahaya, dan umumnya tidak kambuh setelah dilakukan operasi
pengangkatan.
Diagnosa banding
Melanoma malignan, melanocytic nevus, amalgam tattoo
Rencana perawatan
Tindakan pembedahan

6. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami lesi yang berpotensi


menjadi keganasan di rongga mulut
a. Leukoplakia

i.

Etiologi dan Patogenesis


Leukoplakia adalah reaksi perlindungan terhadap iritan kronis.
Etiologi yang pasti belum diketahui. Namun, tembakau, alcohol, friksi
local yang bersifat kronis, dan Candida albicans merupakan factor
predisposisi yang penting. Virus papiloma kemungkinan juga ikut
terlibat dalam pathogenesis leukoplakia oral.

ii.

Gambaran klinis
Daerah yang paling sering terkena adalah bagian lateral dan ventral
lidah, dasar mulut, mukosa alveolar, bibir, trigonum retromolar,
palatum lunak, dan gingiva cekat rahang bawah. Permukaannya
tampak halus dan homogeny, tipis dan rapuh, berfisura, kasar,
verukoid, nodular atau bercak-bercak. Lesi bervariasi warnanya, dari
putih pucat translusen, abu-abu, atau putih-coklat.

iii.

Diagnosa banding
Lichen planus, kandidiasis, hairy leukoplakia, leukoedema, chemical
burn, discoid lupus eritematosus

iv.

Rencana perawatan
Eliminasi atau menghentikan factor predisposisi. Eksisi bedah
merupakan pilihan perawatan.

b. Eritroplakia

i.

Etiologi dan Patogenesis


Sering berhubungan dengan tembakau atau penggunaan alkohol

ii.

Gambaran klinis
Eritroplakia paling prevalen pada lipatan mukobukal rahang bawah,
orofaring, lidah, dan dasar mulut. Biasanya tidak bergejala. Ada tiga
varian klinis, (1) bentuk homogenous, yang merah seluruhnya; (2)
bentuk eritroleukoplakia, yang terutama mempunyai bercak merah
diselingi dengan daerah-daerah putih; dan (3) bebercak eritroplakia,
yang mengandung bintik-bintik putih atau granula yang tersebar di
seluruh lesi merah.

c. Oral Submucous Fibrosis

i.

Etiologi dan Patogenesis


Berhubungan dengan kebiasaan menyirih yang dilakukan secara
terus-menerus akan menghasilkan peningkatan pembentukan kolagen,
serta mengalami hialinisasi dan fibrosis.

ii.

Gambaran klinis

OSF dapat didiagnosa apabila secara klinis ditemukan adanya bekas


yang jelas pada mukosa oral dan akan membatasi pergerakan mulut
ataupun lidah. Mukosa bukal akan terlihat atropi dengan adanya stain
akibat menyirih. Bagian palatum akan terlihat pucat dan uvula
mengalami pengerutan. OSF didefenisikan bila terdapat satu atau
lebih karakteristik, yaitu : 1.) dapat diraba dengan bentuk seperti pita,
2.) tekstur dari lesi terasa kasar dan keras; dan 3.) mukosa oral
memucat. Lokasi yang sering terlibat biasanya mukosa bukal, palatum
lunak, bibir, retromolar, dan orofaring

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Greenberg, M.S., Glick, Michael., dan Ship, J.A. 2008. Burkets Oral Medicine
Eleventh Edition. Hamilton : BC Decker Inc
Langlais, R.P., Miller, C.S., dan Nield-Gehrig, J.S. 2009. Atlas Berwarna Lesi Mulut
Yang sering Ditemukan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Laskaris, G. 2012. Atlas Saku Penyakit Mulut. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Pinborg, J.J. 2009. Atlas Penyakit Mukosa Mulut. Tangerang : Binarupa Aksara
Publisher
Scully, C. dan Cawson, R.A. 1991. Atlas Bantu Kedokteran Gigi Penyakit Mulut.
Jakarta : Hipokrates

LAPORAN TUTORIAL
MODUL 4 BLOK 13 LESI PUTIH DAN LESI BUKAN PUTIH

KELOMPOK 4
TUTOR: drg. Deli Mona, SpKg

NAMA ANGGOTA:
Risa Widia
Chindy Septia
Nike Pratami Aprila
Afriza Rabiansyah P
Ainul Mardiah
Dini Chairani Prima
Silmi Gusdayuni
Andriani Putri
Hifdzi Zikra Lubis
Felix Calvin Emanuel

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2014

Anda mungkin juga menyukai