Anda di halaman 1dari 29

Santoso Bengkak Pada Lutut

KELOMPOK X
0302007020 Anifah Bakhasywen
0302008239 Thresia
0302009020 Angelika
0302009120 Indira Wulandari
0302010020 Alice Melissa Simaela
0302010040 Ariyanti Putri
0302010050 Bela Amanda Putri
0302010070 Sarah Margareth Felicia
0302010080 Diana Nur Julyani
0302010090 Dwi Putra Mahardika
0302010100 Fakhrurrozy Nasron

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jakarta, 2 November 2011
Bab I
Pendahuluan

Tumor tulang merupakan kelainan pada sistem musculoskeletal yang bersifat


neoplastik. Tumor dalam arti yang sempit berarti benjolan, sedangkan setiap pertumbuhan
yang baru dan abnormaldisebut neoplasma. Tumor dapat bersifat jinak atau ganas. Tumor
ganas tulang dapat bersifat primer yang berasal dari unsur-unsur tulang sendiri atau sekunder

dari metastasis (infiltrasi) tumor-tumor ganas organ lain ke dalam tulang. Berdasarkan dari
insiden-insiden yang terjadi, tumor tulang primer 65,8 % bersifat jinak dan 34,2 % bersifat
ganas. Tumor ganas tulang menempati urutan kesebelas dari seluruh tumor ganas yang ada.
Perbandingan insiden tumor tulang pada pria dan wanita adalah sama. Tumor jinak primer
tulang yang

paling

sering

ditemukan

adalah

osteoma

(39,3%),

osteokondroma

(32,5%), kondroma (9,8%) dan sisanya oleh tumpr tulang jinak yang lain. Osteogenik
sarkoma (48,8%) merupakan tumor ganas primer tulang yang paling sering ditemukan,
diikuti giant cell tumor (1,75%), kondrosarkoma (10%) dan sisanya adalah tumor tulang
ganas yang lain.

BAB II
Laporan Kasus

Lembar I
Seorang pemuda berusia 16 tahun datang dengan keluhan bengkak pada paha kanan sejak 2
bulan yang lalu.
Lembar II

Identitas pasien:
Nama : Santoso

Pekerjaan: Pelajar kelas 1 SMA

Usia : 16 tahun

Alamat : Cirebon

Saudara : Anak pertama dari 2 bersaudara

Orang tua: PNS

Riwayat penyakit sekarang:


Sekitar 2 bulan yang lalu pasien mulau merasakan nyeri dan sedikit bengkak pada paha kanan
bagian bawah. Pasien mengira nyeri disebabkan benturan yang terjadi saat olahraga atau
aktivitas lainnya, sehingga tidak dihiraukan. Dua bulan yang lalu pasien juga sering merasa
tidak enak badan. Menurut orang tua, pasien mengalami penurunan berat badan. Pasien juga
mengeluh tidak nafsu makan. Oleh orang tua sudah dibawa ke dokter, mendapat antibiotik
dan anti demam. Keluhan demam dan nyeri sedikit berkurang setelah minum obat, dan
kembali terasa setelah obat habis.
Pasien merasa nyeri bertambah berat, badan terasa lesu dan lemah, dan bengkak pada paha
kanan juga dirasa semakin membesar, dan pasien mengalami kesulitan berjalan karena nyeri
bertambah berat saat kaki menumpu berat badan.
Riwayat penyakit dahulu:
Sebelumnnya pasien belum pernah menderita penyakit serius dan tidak pernah dirawat di RS.
tidak ada riwayat cidera.

Riwayat penyakit keluarga:


Keluarga tidak ada yang mengalami penyakit serupa dengan pasien. Tidak ada riwayat
kencing manis pada keluarga.
Lembar III
Pemeriksaan fisik :
Status Generalis

Pasien berjalan masuk ruang periksa dengan pola jalan antalgic gait, raut wajah menahan
sakit.
TD: 120/70 mmHg, BB: 59 kg, P: 14x/menit, suhu: 370C
Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik.
Jantung: BJ I dan II murni, murmur (-), gallop (-)
Paru : sonor, vesikular, ronki -/-, wheezing -/Kelenjar getah bening inguinal: tidak teraba.
Status Lokalis pada Paha kanan
Look : Tampak masa pada femur distal dextra anterior dan posterior, warna klit sama
dengan sekitarnya tidak tampak lacerasi atau lesi lain pada kulit
Feel

: Masa pada femur distal teraba keras, melekat pada dasarnya, ukuran 7x8cm, nyeri

tekan (+), teraba hangat.


Move : Gerak aktif lutut kiri nyeri, lingkup gerak sendi terbatas karena nyeri, gerak pasif
tidak diperiksa karena nyeri.
Lembar IV
Laboratorium
Hb: 10,2 g/dl

Trombosit: 186.000/uL

Ht: 35 %

LED

Leukosit: 12.800/uL

Alkali fosfatase: 300 UI

Radiologi (x-ray femur distal dextra)

: 20 mm/jam

BAB II
PEMBAHASAN KASUS
I.

ANAMNESIS

Status Pasien
Nama

: Santoso

Usia

: 16 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Pelajar kelas 1 SMA

Alamat

: Cirebon

Saudara

: Anak pertama dari 2 bersaudara

Orang tua

: PNS

Masalah
Masalah pada pasien ini ialah bengkak pada paha kanan sejak 2 bulan yang lalu.
Berdasarkan masalah yang dikeluhkan anak ini, maka hipotesis kami terhadap keluhan ini
ialah :
1. Congenital
2. Inflamasi
3. Neoplasma
4. Trauma
5. Aging

Namun karena melihat keadaan pasien ini yang sudah berusia 16 tahun dimana, tidak
mungkin sebuah gejala akibat penyakit congenital muncul pada usia tersebut. Dan Aging juga
bisa disingkirkan karena usia santoso masih 16 tahun.

Anamnesis tambahan yang perlu dilakukan :


1. Apakah pasien pernah mengalami trauma?

Karena pasien mengatakan bahwa ia mengira nyeri tersebut disebabkan benturan yang
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

terjadi saat olahraga.


Bagaimana sifat bengkak itu, apakah pembekakan bersifat progresif?
Hal ini ditanyakan untuk mengetahui apakah bengkak ini bersifat keganasan.
Adakah rasa nyeri pada pembengkakan ?
Apakah nyeri di rasakan progresif?
Adakah yang mencetuskan rasa nyeri tersebut?
Misalnya saat berjalan atau saat istirahat, atau saat keduanya.
Apakah ada keterbatasan gerak pada sendi ?
Apakah selama ini pasien menderita demam?
Untuk kemungkinan inflamasi.
Pengobatan apa saja yang sudah di lakukan oleh pasien selama ini untuk mengurangi

bengkak ?
9. Adakah penurunan berat badan ?
Untuk kemungkinan neoplasma.
10. Apakah dulu pernah mengalami hal yang sama ?
11. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama dengannya?

II. PEMERIKSAAN FISIK

Tanda vital

Hasil yg didapat

Nilai normal

Interpretasi

Tekanan darah

120/70 mmHg

100-120/80 mmHg

Normal

Pernapasan

14 x/menit

14-16 x/menit

Normal

Suhu

370C

360C - 37,20C

Normal

BJ I dan II murni
Jantung

Murmur (-)

Normal

Gallop (-)
Sonor
Vasikuler
Paru

Normal
Ronki -/Wheezing -/-

KGB inguinal

a.

Tidak teraba

Status Lokalis

Normal

Pemeriksaan

Hasil

Intepretasi

Look (Inspeksi)

tampak masa pada femur distal

Kemungkinan tumor

dextra

anterior

dan

posterior
warna

kulit

sama

dengan Tidak terdapat tanda-tanda

sekitarnya

dari reaksi inflamasi.

tidak tampak lacerasi atau lesi lain Tidak terjadi trauma


pada kulit.
Feel (Palpasi)

Masa pada femur distal teraba


keras,

melekat

Teraba

keras

pada karakteristik

dasrnya

merupakan
dari

tumor

ganas
Ukuran yang cukup besar,
kemungkinan tumor ganas,

ukuran + 7x8 cm, nyeri tekan


(+),teraba hangat.

Nyeri , kemungkina telah


terjadi

penekanan

pada

jaringan.
Terasa

hangat

karena

terjadinya
hipervaskularisasi.
Move (Gerak)

Gerak aktif :
lingkup

lutut kiri nyeri,


gerak

sendi pada tumor ganas, adany

terbatas karena nyeri

III.

Merupakan keluhan utama


nyeri

merupakan

tanda

expansi tumor yang cepat


dan

penekanan

pada

jaringan sekitar, pendarahan


atau degenerasi.
Gerak pasif : tidak dilakukan

Pasien

karena nyeri

kesakitan

tamapak

sangat

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :
Darah lengkap untuk mengetahui adanya reaksi infeksi atau keganasan
Alkali Fosfatase untuk memastikan adanya keganasan atau kerusakan pada

tulang
Biopsi untuk memastikan tipe keganasan yg menyerang

*Biopsi : merupakan proses pengambilan contoh jaringan tulang untuk kemudian


dianalisa. Pada gambaran histopatologi osteosarkoma akan ditemukan stroma atau dengan
high-grade sarcomatous dengan sel osteoblast yang ganas, yang akan membentuk
jaringan osteoid dan tulang. Pada bagian sentral akan terjadi mineralisasi yang banyak,
sedangkan bagian perifer mineralisasinya sedikit. Sel-sel tumor biasanya anaplastik,
dengan nukleus yang pleomorphik dan banyak mitosis. Kadang-kadang pada beberapa
tempat dari tumor akan terjadi diferensiasi kondroblastik atau fibroblastik diantara
jaringan tumor yang membentuk osteoid.
Radiologi :
Foto Rontgen : untuk melihat adanya perubahan densitas tulang adan jaringan
sekitarnya
Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan

Hb

Data Pasien

10.2 g/dL

Nilai Normal

N: 13-16 g/dL

Interpretasi Hasil

penurunan Hb
menandakan adanya
anemia dan
keganasan

Ht

35%

N: 45-55%

penurunan Ht
menandakan adanya
anemia dan
keganasan

Leukosit

12.800/L

N: 5000-10.000 /L

kenaikan

leukosit

menandakan adanya
Infeksi
Trombosit
LED

186.000 /L
20 mL/jam

N: 150.000-400.000 /L
N: <10 mL/jam

kenaikan

LED

menandakan adanya
keganasan
Alkali Fosfatase

300 uI

N: 20-140 uI

kenaikan Alkali

fosfatase
menandakan
adanya tumor atau
kerusakan pada
tulang
Pada kasus ini, penurunan hemoglobin dan hematokrit dikarenakan adanya proses
keganasan pada tulang yang memperngaruhi fungsi sumsum tulang sehingga menyebabkan
berkurangnya atau terganggunya produksi eritrosit. Selain itu, penurunan nafsu makan pasien
juga memungkinkan intake zat-zat makanan yang tidak adekuat untuk proliferasi dan
maturasi eritrosit sehingga menyebabkan anemia.1
Pemeriksaan Radiologi
Interpretasi foto
Kelengkapan foto
-

Foto dinilai kurang lengkap


Foto tidak disertai dengan identitas pasien ( nama, alamat, jenis kelamin,
umur, tanggal pengambilan )
Rule of two
Yang sudah dipenuhi : 2 posisi (AP dan Lateral)
Yang belum di penuhi :
1. foto kanan dan kiri, disini hanya terdapat gambar foto femur distal
bagian kanan, sedangkan bagian kiri dari tulang yang sehat tidak di
foto.
2. 2 joint

Kualitas foto di nilai baik


Kelengkapan foto
- Foto dinilai kurang lengkap
- Foto tidak disertai dengan identitas pasien ( nama, alamat, jenis kelamin,
umur, tanggal pengambilan )
- Rule of two
Yang sudah dipenuhi : 2 posisi (AP dan Lateral)
Yang belum di penuhi :

3.

foto kanan dan kiri, disini hanya terdapat gambar foto femur distal
bagian kanan, sedangkan bagian kiri dari tulang yang sehat tidak di
foto.
4. 2 joint
Kualitas foto di nilai baik
Ini adalah gambaran dari foto femur distal dextra
Deskripsi foto femur posisi AP
- Jaringan lunak : terlihat soft tissue swelling
- Jaringan keras (tulang ) : gambaran destruksi bagian medulla dan korteks
(osteolitik , osteosklerotik) pada bagian metafisis tulang femur distal
dextra . Terlihat gambaran sunrise (masa telah menembus korteks)

Deskripsi fotofemur posisi Lateral


- Jaringan lunak : gambaran soft tissue swelling (karna mendesak jaringan
lunak sekitarnya> membengkak)
- Jaringan keras (tulang) : gambaran destruksi medulla ,terlihat destruksi
kortikal ( lapisan kortikal terlihat lebih tipis)

Berikut merupakan gambaran dari foto femur distal dextra

Tumor ini biasanya tumbuh kedalam dan menggantikan jaringan metafissi lalu
mengorosi korteks , yang akhirnya menyerang jaringan lunak yang berdekatan. Penyebaran
ke dalam akan mengantikan kavum medulla . Invasi tumor melalui lapisan permukaan tulang

akan mengangkat ( memisahkan ) periosteum dari korteks. Pada daerah ini akan terjadi
kalsifikasi antara lapisan periosteum yang terangkat dengan korteks, yang akan menciptakan
segitiga codman dimana periosteum yang terangkat bertemu dengan kontur korteks bagian
luar.

IV. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING


Diagnosis pada kasus ini adalah Osteosarkoma pada Femur Distal Dextra (Tipe IIB)
Osteosarkoma atau Sarkoma osteogenik merupakan neoplasma tulang primer yang sangat
ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang
tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Kasus osteosarkoma paling
banyak menyerang anak remaja dan mereka yang baru menginjak masa dewasa.
Penampakan kasar dari osteosarkoma bervariasi. Neoplasma dapat berupa:
1. Osteolitik, dengan tulang yang telah mengalami kerusakan dari jaringan lunak
diinvasi oleh tumor.
2. Osteoblastik sebagai akibat pembentukan tulang sklerotik yang baru.
3. Gabungan keduanya
Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi, selain itu pada hasil
radiografi menunjukan bangunan berbentuk segitiga (segitiga codman). Walaupun deposit
tulang ini terlihat pada banyak keganansan tulang, tetapi bersifat khas untuk osteosarkoma,
tumor ini dapat menghasilkan suatu pertumbuhan tulang yang bersifat abortif. Gangguan
seperti ini pada radiogram akan terlihat sebagai suatu sunburst (pancaran sinar matahari)
Pada osteosarkoma tipe IIB tampak gambaran osteosarkoma telah menyebar keluar dari
periosteum.
Diagnosis osteosarkoma pada kasus ini didapat berdasarkan :
1. Dari segi epidemiologi, osteosarkoma banyak pada usia remaja menginjak dewasa
(pasien berusia 16 tahun).
2. Dari anamnesis, didapatkan paha pasien bengkak dan nyeri yang progresif pada paha
kanannya, .
3. Dari pemeriksaan fisik didapatkan gejala sistemik dan ciri-ciri lesi benjolan pada

keganasan.
4. Anemia, Alkali fosfatase dan LED yang meningkat mengarah pada proses keganasan,
serta gambaran Radiologi Segitiga Codman dan Sunburst Appearance yang menjadi
ciri khas osteosarkoma
Diagnosis Banding:2
1. Ewing Sarcoma
Ewing sarcoma paling sering terlihat pada anak-anak dalam usia belasan dan tempat yang
paling sering adalah korpus tulang-tulang panjang. Penampilan kasarnya adalah berupa tumor
abu-abu lunak yang tumbuh ke retikulum sumsum tulang dan merusak korteks tulang dari
sebelah dalam. Dibawah periosteum terbentuk lapisan-lapisan tulang yang baru diendapkan
paralel dengan batang tulang sehingga membentuk gambaran serupa kulit bawang.
Tanda dan gejala yang khas adalah: nyeri tekan, demam (38-40oC) dan leukositosis (20.000
sampai 40.000 leukosit/mm3)
Perbandingan pada kasus :

Pada kasus ini, usia pasien ini tidak sesuai dengan prevalensi usia Ewing

Sarcoma.
Predileksi korpus tulang panjang pada Ewing Sarcoma yang tidak sesuai

dengan predileksi lesi pasien.


Tidak ada leukositosis pada pasien
Gambaran radiologi bukan seperti kulit bawang

V. PATOFISIOLOGI

Osteosarkoma belum diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, beberapa penelitian


mengatakan osteosarkoma dapat dicetuskan melalui beberapa faktor predisposisi, seperti
radiasi ataupun mutasi gen yang dapat mempengaruhi kinerja gen penekan tumor
(TP53/MDM2). Hal ini menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel yang terus menerus dan
tumbuh sampai menggantikan metafisis tulang, serta menginvasi jaringan lunak. Hal ini
menyebabkan timbulnya respon osteolitik yang menyebabkan destruksi tulang local, serta
respon osteoblastik dimana akan terjadi penimbunan periosteum yang baru.

Pada dasarnya sel kanker bersifat abortif sehingga perkembangan sel yang terus menerus
terjadi ini akan menyebabkan penekanan pada jaringan sekitar serta menyebabkan distrofi
dan atrofi otot. Selain itu gangguan psikologis yang didapatkan seperti anoreksia dan
penurunan BB disebabkan oleh adanya tumor yang menginvasi jaringan lunak dan
mempengaruhi sistem saraf simpatis dan menyebabkan terjadinya distensi lambung.

VI. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat timbul antara lain gangguan produksi antibodi, infeksi yang
biasanya disebabkan karena kerusakan sumsum tulang yang luasmerupakan efek
kemoterapi, radioterapi, dan steroid yang dapat menyokong terjadinya leukopeniafraktur
patologis, gangguan pada ginjal dan sistem hematologic, serta hilangnya anggota ekstremitas.
Komplikasi lebih lanjut adalah adanya tanda-tanda apatis dan kelemahan.

VII. PENATALAKSANAAN3,4
Osteosarkoma
Umumnya penatalaksanaan pada kasus ini dapat berupa :
Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada osteosarkoma, terbukti
dalam 30 tahun belakangan ini dengan kemoterapi dapat mempermudah melakuan prosedur
operasi penyelamatan ekstremitas (limb salvage procedure) dan meningkatkan survival rate
dari penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase ke paru-paru dan sekalipun ada,
mempermudah melakukan eksisi pada metastase tersebut.
Regimen standar kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan osteosarkoma adalah
kemoterapi preoperatif (preoperative chemotherapy) yang disebut juga dengan induction
chemotherapy atau neoadjuvant chemotherapy dan kemoterapi postoperatif (postoperative
chemotherapy) yang disebut juga dengan adjuvant chemotherapy.

Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor primernya, sehingga


tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan pengobatan secara dini terhadap terjadinya
mikro-metastase. Keadaan ini akan membantu mempermudah melakukan operasi reseksi
secara luas dari tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstremitasnya.
Pemberian kemoterapi postoperatif paling baik dilakukan secepat mungkin sebelum 3 minggu
setelah operasi.
Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk osteosarkoma adalah:
doxorubicin (Adriamycin), cisplatin (Platinol), ifosfamide (Ifex), mesna (Mesnex), dan
methotrexate dosis tinggi (Rheumatrex). Protokol standar yang digunakan adalah
doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai terapi
induksi (neoadjuvant) atau terapi adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah dengan
ifosfamide. Dengan menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif,
terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate sampai 60 - 80%.
Pembedahan
Tujuan utama dari reseksi adalah keselamatan pasien. Reseksi harus sampai batas
bebas tumor. Semua pasien dengan osteosarkoma harus menjalani pembedahan jika
memungkinkan reseksi tumor primer. Tipe dari pembedahan yang diperlukan tergantung dari
beberapa faktor yang harus dievaluasi dari pasien secara individual. Batas radikal,
didefinisikan sebagai pengangkatan seluruh kompartemen yang terlibat ( tulang, sendi, otot)
biasanya tidak diperlukan. Hasil dari kombinasi kemoterapi dengan reseksi terlihat lebih baik
jika dibandingkan dengan amputasi radikal tanpa adjuvant, dengan tingkat 5-year survival
rate sebesar 50-70% dan sebesar 20% pada penanganan dengan hanya radikal amputasi.
Simptomatis
Untuk menghilangkan nyeri dapat diberikan analgetik.
Untuk penanganan anemia dapat diberikan sulfa ferosus dengan dosis 3x10mg/kgBB/hari.

Namun, pada kasus ini penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh Dokter umum
adalah merujuk ke bagian spesialis bedah ortopedi dan kita juga harus memastikan bahwa
pasien benar-benar mau menjalankan saran dari kita untuk merujuk ke dokter ortopedi,

dengan cara memberikan informasi yang adekuat mengenai dampak osteosarkoma apabila
tidak ditangani dengan segera akan dapat bermetastasis sistemik terutama di paru-paru dan
dampak terburuknya adalah kematian. Namun, apabila dapat segera ditangani dan mendapat
perawatan yang adekuat maka prognosisnya akan lebih baik.
Anemia
Pada pasien ini terjadi anemia, walaupun masih termasuk anemia ringan tetapi harus tetap
diberikan edukasi agar pasien harus tetap menjaga asupan makanannya terutama makanan
yang mengandung zat besi bahkan mungkin bisa diberikan pilihan untuk pemberian suplemen
tambahan.

VIII. PROGNOSIS

Ad Vitam

: Dubia Ad Malam

Ad Fungsionam

: Dubia Ad Malam

Ad Sanationam

: Dubia Ad Malam

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

Tumor tulang merupakan kelainan pada sistem musculoskeletal bersifat neoplastik.


Dalam arti yang sempit berarti benjolan, sedangkan setiap pertumbuhan yang baru dan
abnormal disebut neoplasma. Jadi, tumor dapat didefinisikan sebagai kumpulan sel-sel
abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh secara terus-menerus secara tidak terbatas,
tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Tumor dapat
bersifat jinak atau ganas. Tumor ganas tulang dapat bersifat primer yang berasal dari unsurunsur tulang sendiri atau sekunder dari metastasis (infiltrasi) tumor-tumor ganas organ lain ke
dalam tulang.

Berikut merupakan tabel perbedaan dari tumor jinak dan tumor ganas.

Perbedaan tumor jinak dan ganas


Tumor jinak
Cortex menipis
Batas tegas (intak)
Reaksi periosteal (-)
Uninterrupted

Tumor ganas
Destruksi
Tidak tegas
Reaksi periosteal (+)
Interrupted

Klasifikasi tumor tulang

Klasifikasi tumor tulang menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas kriteria histologis, jenis
diferensiasi sel-sel tumor yang diperlihatkan dan jenis interseluler matriks yang diproduksi.
Dalam hal ini dipertimbangkan sifat-sifat tumor, asal-usul, serta pemeriksaan histologis
menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas.
Sel-sel dari musculoskeletal berasal dari mesoderm, tapi kemudian berdiferensiasi menjadi
beberapa sel osteoklast, kondroblas, fibroblast, dan mieloblast. Oleh karena itu, sebaiknya

klasifikasi

tumor

tulang

berdasarkan

atas

asal

sel,

yaitu

bersifat

osteogenik,

kondrogenik/mielogenik. Meskipun demikian terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam


kelompok tumor yaitu kelainan reaktif yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas.
Beberapa hal yang penting sehubungan dengan penetapan klasifikasi, yaitu:
1. Jaringan yang mudah menyebar tidak selalu harus merupakan jaringan asal
2. Tidak ada hubungan patologis atau klinis dalam kategori khusus
3. Sering tidak ada hubungan antara kelainan jinak dan ganas dengan unsur-unsur
jaringannya, misalnya osteoma dan osteosarkoma

Berikut merupakan tabel klasifikasi tumor tulang berdasarkan kriteria histologik tumor tulang
(WHO tahun 1972)
ASAL SEL
Osteogenik
Osteoblastoma
Kondrogenik

Fibroma kondromiksoid

JINAK
Osteoma
Osteoblastoma
Parosteal osteosarkoma
Kondroma

GANAS
Osteoid osteoma
Osteosarkoma

Osteokondroma
Kondroblastoma
Fibroma

kortikal
Kondrosarkoma mesenkim

Kondrosarkoma
Kondrosarkoma juksta

kondromiksoid
Giant cell tumor
Mielogenik

Vaskuler
Intermediate:
Hemangio-endotelioma
Hemangio-perisitoma
Jaringan lunak

Tumor lain

Hemangioma
Limfangioma
Tumor glomus

Fibroma desmoplastik
Lipoma

Neurinoma

Osteoklastoma
Sarkoma Ewing
Sarkoma retikulum
Limfosarkoma
Mieloma
Angiosarkoma

Fibrosarkoma
Liposarkoma
Mesenkimoma ganas
Sarkoma tak berdiferensiasi
Kordoma

Tumor tanpa klasifikasi

Neurofibroma
Kista soliter
Kista aneurisma
Kista juksta-artikuler
Defek metafisis
Granuloma Eosinofil
Dll

Adamantinoma

OSTEOSARKOMA
Osteosarcoma adalah keganasan primer kedua yang paling umum dari tulang
belakang multiple myeloma. Osteosarcoma menyumbang 20% dari keganasan tulang primer.
Ada preferensi untuk wilayah metaphyseal tulang panjang tabung. 50% kasus terjadi di
sekitar lutut. Ini adalah ikat (lunak) ganas jaringan tumor yang neoplastik sel hadir
diferensiasi osteoblastik dan bentuk tulang tumoral.
Sarkoma osteogenic adalah kanker terkemuka 6 pada anak di bawah usia 15. Sarkoma
osteogenic mempengaruhi 400 anak di bawah usia 20 tahun dan 500 orang dewasa
(kebanyakan antara usia 15-30) setiap tahun di Amerika Serikat. Sekitar 1 / 3 dari 900 akan
mati setiap tahun, atau sekitar 300 tahun. Sebuah puncak kedua dalam insiden terjadi pada
orang tua, biasanya berhubungan dengan patologi tulang yang mendasarinya seperti penyakit
Paget, meduler infark, atau iradiasi sebelumnya. Meskipun sekitar 90% dari pasien dapat
memiliki operasi ekstremitas-penyelamatan, komplikasi, seperti infeksi, melonggarkan
prostetik dan non-serikat, atau kekambuhan tumor lokal dapat menyebabkan kebutuhan untuk
operasi lebih lanjut atau amputasi.
Osteogenik sarcoma, nama ini dipergunakan bukan oleh karena tumor membentuk tulang.
Tetapi tumor ini npembentukannya berasal dari seri osteoblastik dari sel-sel mesenkim
primitive.

Gambaran klinis
Tumor ini merupakan tumor ganas yang menyebar sangat cepat pada periosteum dan jaringan
ikat diluarnya. Osteogenik sarcoma terutama ditemukan pada umur 10-20 tahun dan lebih
sering pada pria daripada wanita. Nyeri merupakan gejala utama yang pertama muncul yang
bersifat konstan dan bertambah hebat pada malam hari. Penderita biasanya datang dengan
tumor yang besar atau oleh karena terdapat gejala fraktur patologis. Gejala-gejala umum lain
yang dapat ditemukan adalah anemia, penurunan berat badan, serta nafsu makan yang
berkurang.

Lokasi
Tumor ini sering ditemukan di daerah metafisis tulang panjang terutama distal femur dan
tibia proksimal dimana pada daerah tersebut terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan
yang terbesar yang memungkinkan terjadinya pembelahan osteoprogenitor (osteogenik
sebagai precursor osteoblast) sel yang tidak sempurna. Tetapi tumor ini pun dapat menyerang
tulang lain seperti pada radius distal dan humerus proksimal.
Etiologi
Penyebab pasti dari osteosarkoma tidak diketahui, namun terdapat berbagai faktor resiko
untuk terjadinya osteosarkoma yaitu:
1.

Pertumbuhan tulang yang cepat : pertumbuhan tulang yang cepat terlihat sebagai
predisposisi osteosarkoma, seperti yang terlihat bahwa insidennya meningkat pada
saat pertumbuhan remaja. Lokasi osteosarkoma paling sering pada metafisis, dimana
area ini merupakan area pertumbuhan dari tulang panjang. 6

2.

Faktor lingkungan: satu satunya faktor lingkungan yang diketahui adalah paparan
terhadap radiasi.6

3.

Predisposisi genetik: displasia tulang, termasuk penyakit paget, fibrous dysplasia,


enchondromatosis, dan hereditary multiple exostoses dan retinoblastoma (germ-line
form). Kombinasi dari mutasi RB gene (germline retinoblastoma) dan terapi radiasi
berhubungan dengan resiko tinggi untuk osteosarkoma, Li-Fraumeni syndrome
(germline p53 mutation), dan Rothmund-Thomson syndrome (autosomal resesif yang
berhubungan dengan defek tulang kongenital, displasia rambut dan tulang,
hypogonadism, dan katarak). 6

Stadium
Stadium konvensional yang biasa digunakan untuk tumor keras lainnya tidak tepat
untuk digunakan pada tumor skeletal, karena tumor ini sangat jarang untuk bermetastase ke
kelenjar limfa. Pada tahun 1980 Enneking memperkenalkan sistem stadium berdasarkan
derajat, penyebaran ekstrakompartemen, dan ada tidaknya metastase. Sistem ini dapat
digunakan pada semua tumor muskuloskeletal (tumor tulang dan jaringan lunak). Komponen
utama dari sistem stadium berdasarkan derajat histologi (derajat tinggi atau rendah), lokasi
anatomi dari tumor (intrakompartemen dan ekstrakompartemen), dan adanya metastase.6,7

Untuk menjadi intra kompartemen, osteosarkoma harus berada diantara periosteum. Jika
osteosarkoma telah menyebar keluar dari periosteum maka derajatnya menjadi IIB. Untuk
kepentingan secara praktis maka pasien digolongkan menjadi dua yaitu pasien tanpa
metastase (localized osteosarkoma) dan pasien dengan metastase (metastatic osteosarkoma).7

Pemeriksaan radiologis
Gambaran radiologik yang dapat ditemukan tergantung dari kelainan yang terjadi seperti:
1. Pada tipe osteolitik proses destruksi yang lebih menonjol
2. Pada tipe osteoblastik pembentukan tulang yang lebih menonjol
3. Pada tipe campuran terdapat proses osteolitik dan osteoblastik yang seimbang
Pertumbuhan tumor yang cepat mengakibatkan destruksi tulang dan reaksi periosteum. Dari
reaksi periosteal tersebut hanya sisanya yaitu pada bagian tepi yang masih terlihat yang
memberikan gambaran radiologik yang khas sebagai suatu sudut segitiga, yaitu segitiga
codman. Juga ditemukan adanya bagian korteks yang terputus dan tumor menembus ke

jaringan sekitarnya dan membentuk garis-garis pembentukan tulang yang radier ke arah luar
yang berasal dari korteks dan dikenal sebagai sunburst appearance. Sering kali diperlukan
pemeriksaan radiologis lainnya seperti CT-scan atau MRI. Pemeriksaan foto thorax juga
dilakukan sebagai prosedur rutin untuk follow-up adanya metastasis pada paru-paru.
Patologi
Osteogenik sarcoma secara histologist mempunyai gambaran dari jaringan tulang atau osteoid
serta gambaran pleomorf jaringannya. Dan juga mungkin ada daerah jaringan tumor dengan
sel-sel spindle. Pembentukan jaringan tulang harus dibedakan dari pembentukan reaksi
tulang. Pada pemeriksaan histokimia menunjukkan adanya aktifitas alkali fosfatase. Hal ini
disebabkan karena mengingat asal sel tumor ini adalah osteogenik (precursor osteoblast).
Pada keadaan alkali fosfatase yang meningkat, hal ini menandakan adanya aktifitas osteoblas
sehingga pada orang dengan osteogenik sarcoma yang asal sel tumornya adalah osteoblas
akan menunjukkan kadar alkali fosfatase yang meningkat. Fosfatase alkali (alkaline
phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama oleh epitel hati dan osteoblast
(sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal,
plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Tes ALP terutama digunakan untuk
mengetahui apakah terdapat penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang. Pada kelainan tulang,
kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik (pembentukan sel tulang)
yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget.
Selain pada pada osteosarkoma peningkatan kadar alkali fosfatase dapat terjadi pada;
obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis sel hati, hepatitis, hiperparatiroidisme, kanker
(tulang, payudara, prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis deforman, penyembuhan
fraktur, myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester akhir, arthritis rheumatoid
(aktif), ulkus. Pengaruh obat-obatan yang di konsumsi pun dapat menyebabkan peningkatan
kadar alkali fosfatase seperto : albumin IV, antibiotic (eritromisin, linkomisin, oksasilin,

penisilin), kolkisin, metildopa (Aldomet), alopurinol, fenotiazin, obat penenang, indometasin


(Indocin), prokainamid, beberapa kontrasepsi oral, tolbutamid, isoniazid, asam paraaminosalisilat.
SARCOMA EWING
Sarcoma ewing adalah tumor ganas yang berasal dari sumsum tulang dengan
frekuensi sebanyak 5% dari seluruh tumor ganas tulang, terutama ditemukan pada umur 1020 tahun dan lebih sering pada laki-laki daripada wanita. Gejala terutama berupa nyeri dan
pembengkakan pada daerah tumor dan terdapat gejala umum lainnya seperti kaheksia, nyeri
tekan pada tumor, dan peninggian laju endap darah. Tumor biasanya sangat ganas,
berkembang secara cepat, dan penderita meninggal dalam 3-18 bulan pertama(95%
meninggal pada tahun pertama)
Lokasi
Tumor ini terdapat pada daerah diafisis dan metafisis tulang panjang, seperti femur, tibia,
humerus, dan fibula atau pada tulang pipih seperti pada pelvis dan scapula.
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis terdapat destruksi tulang pada daerah lesi terutama pada diafisis
disertai dengan pembentukan tulang baru sepanjang diafisis tulang panjang berbentuk
fusiform diluar lesi yang merupakan suatu tanda khas yang disebut union skin appearance.
Tumor dapat meluas samapi ke jaringan lunak dengan garis-garis osifikasi yang berjalan
radier disertai dengan reaksi periosteal tulang yang memberikan gambaran yang disebut
sunrae appearance serta terdapat segitiga codman sehingga tumor dapat disalah
interpretasikan sebagai osteogenik sarcoma.

Patologi
Tumor terdiri atas jaringan dengan gambaran histologist uniform dengan sel kecil dan
nucleus yang bulat yang sulit ditentukan batasnya dengan batas sitoplasma. Sel-sel ini
berbentuk polihidral tanpa aturan dan tidak ditemukan substansi dasar.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari pembahasan kasus di atas, kelompok kami menyimpulkan bahwa pasien yang
bernama Santoso ini menderita penyakit tumor ganas osteosarkoma. Hal ini didukung oleh
hasil pemeriksaan fisik, laboratorium serta pemeriksaan penunjang. Namun, osteosarkoma
belumlah menjadi diagnosis defenitif karena untuk membuktikannya masih perlu dilakukan

uji biopsi mengingat banyaknya kesamaan gambaran klinis maupun radiologis dengan tumor
tulang jenis lain. Maka kelompok kami pun membuat diferensial diagnosis yaitu Ewing
Sarkoma.
Dalam penatalaksanaan kasus osteosarkoma ini dapat dilakukan kemoterapi dan atau
tindakan operatif seperti reseksi tumor atau radikal amputasi. Namun hal terbaik yang dapat
dilakukan ialah amputasi dengan kombinasi kemoterapi. Hal ini dikarenakan perkembangan
tumor osteosarkoma yang bersifat hematogen dan mampu bermetastasis secara cepat ke
jaringan paru dan lain-lain. Prognosis tumor ini juga dinilai sangat jelek dimana 90%
penderita meninggal sebelum 3 tahun dengan cara pengobatan apapun yang dilakukan.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

1. Price S, Wilson L. Gangguan Sel Darah Merah. In: Hartanto H, Susi N, Wulansari P,
Mahanani D, Editors. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. 6th ed.
Jakarta: EGC; 2006. p. 256-8.

2. Price S, Wilson L. Gangguan Sistem Muskuloskeletal dan Jaringan Ikat: Tumor


sistem muskuloskeletal. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Edisi
6.Jakarta: EGC; 2005. Vol. 2. p. 1376-77
3. 10. Kawiyana S. Osteosarkoma diagnosis dan penanganannya (updated 2009).
Available at: http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/dr%20siki_9.pdf. Accessed 1
November 2011.
4. 11. Arifah N. Osteosarcoma (updated 2008). Available at:
http://ifaria.files.wordpress.com/2010/01/patofis-osteosarcoma.doc. Accessed 1
November 2011.
5. Alkali Fosfatase. http://labkesehatan.blogspot.com/2009/12/fosfatase-alkali.html.
Accessed 3 May 2011
6. Mehlman CT. 2007. Osteosarkoma. (online), (http://www.emedicine.com, accessed
on 31 October 2011)
7. National Cancer Institute. 2008. Osteosarkoma/Malignant Fibrous Histiocytoma of
Bone Treatment. (online), (http://www.cancer.gov, accessed on 31 October 2011)