Anda di halaman 1dari 6

SISTEM PERNAFASAN PADA REPTIL

A.

Anatomi Sistem Respirasi


Sistem pernapasan pada reptil berbeda dengan organ pernapasan serangga, organ yang

digunakan pada pernapasan reptilia adalah paru-paru. Sebab, sebagian besar reptilia hidup di
daratan atau habitat yang kering. Untuk mengimbanginya, kulit reptilia bersisik dan kering, agar
cairan dalam tubuhnya tidak mudah hilang. Kulit bersisik pada reptilia merupakan suatu
adaptasi hidup dalam udara kering, dan bukan sebagai alat pertukaran gas. Walau begitu, ada
pula mekanisme pernapasan reptilia yang dibantu oleh permukaan epitelium lembab di sekitar
kloaka. Misalnya kura-kura dan penyu. Hal ini dilakukan karena tubuh kura-kura dan penyu
terdapat tempurung yang kaku. Tempurung ini menyebabkan gerak pernapasan kedua hewan
tersebut terbatas. Mekanisme

pernapasan

reptilia

terjadi

dalam

dua

fase,

yaitu

fase inspirasi dan fase ekspirasi. Saat tulang rusuk mengembang, volume rongga dada akan
meningkat. Selanjutnya udara (oksigen) akan masuk ke dalam paru-paru, sehingga terjadi fase
inspirasi.

Sedangkan, fase

ekspirasi

akan

terjadi,

jika

tulang

rusuk

merapat,

sehingga CO2 (karbondioksida) dan uap air keluar dari paru-paru (Rochmah dkk, 2009)

Pada umumnya hewan kelas Reptilia bernapas dengan paru-paru. Selain dengan paru-paru,
kura-kura dan penyu pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan kulit tipis dengan bayak kapiler
darah yang da di sekitar kloaka. Kloaka merupakan muara bersama saluran reproduksi, saluran
ginjal, dan saluran pencernaan makanan (Hikmat, 2014)
Pada reptilian pada umumnya udar luar masuk melalui lubang hidung, lalu trakea, bronkus,
dan akhirnya ke paru-paru. Lubang hidung terdapat di ujung kepala atau moncong. Keluar
masuknya udara dari dan ke dalam paru-paru terjadi karena ada kontraksi otot pada tulang rusuk.

Paru-paru tersusun atas gelembung-gelembung berisi kapiler darah. Pertukaran gas terjadi di
kapiler darah. Pertukaran gas terjadi di kapiler ini, oksigen diambil dan karbondioksida bersama
uap air di keluarkan (Muazatin, 2013).
Pada beberapa jenis reptilian yang hidup di air, lubang hidungnya dapat ditutup oleh klep,
misalnya pada buaya. Selain iu pada buaya, saat menyelam, lubang batang tenggorokannya dapat
ditutup oleh lipatan kulit, sehingga air tidak masuk ke dalam paru-paru. Paru-paru reptilia berada
dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paru-paru reptilia lebih sederhana, hanya
dengan beberapa lipatan dinding yang berfungsi memperbesar permukaan pertukaran gas. Pada
reptilia pertukaran gas tidak efektif (Muazatin, 2013).
Pada kadal, kura-kura, dan buaya paru-paru lebih kompleks, dengan beberapa belahan
yang membuat paru-parunya bertekstur seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal
misalnya bunglon Afrika mempunyai pundi-pundi hawa cadangan yang memungkinkan hewan
tersebut melayang di udara (Yuli, 2011).
Secara umum reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Tetapi pada beberapa reptilia,
pengambilan oksigen dibantu oleh lapisan kulit disekitar kloaka. Pada reptilia umumnya udara
luar masuk melalui lubang hidung, trakea, bronkus, dan akhirnya ke paru-paru. Lubang hidung
terdapat di ujung kepala atau moncong. Umumnya reptilia mempunyai trachea yang panjang
dimana dindingnya disokong oleh sejumlah cincin cartilago. Udara keluar dan masuk ke dalam
paru-paru karena gerakan tulang rusuk. Sistem pernafasan pada reptilia lebih maju dari Amphibi.
Laring terletak di ujung anterior trachea. Dinding laring dibentuk oleh tulang rawan
kriterokoidea dan tulang rawan krikodea. Trakhea dan bronkhus berbentuk panjang dan dibentuk
oleh cincin-cincin tulang rawan. Tempat percabangan trakhea menjadi bronkhus disebut
bifurkatio trakhea. Bronkhus masuk ke dalam paru-paru dan tidak bercabang-cabang lagi. Paruparu reptilia berukuran relatif besar, berjumlah sepasang. Struktur dalamnya berpetak-petak
seperti rumah lebah, biasanya bagian anterior lebih banyak berpetak daripada bagian posterior
(Sridianti, 2014).

B.

Gas exchange
Paru-paru dikelilingi oleh rongga dada yang bertulang rusuk. Tulang-tulang rusuk ini dapat

secara bergantian merenggang, dan kemudian merapat oleh karena adanya perangkap otot-otot
tulang rusuk yang berlawanan. Bila tulang-tulang rusuk merenggang, volume rongga dada akan

meningkat. Perluasan ini menimbulkan sebagian paru-paru hampa dan segera terisi oleh udara
segar. Udara yang segar tentu membawa persediaan oksigen yang baru bagi jaringan paru-paru
yang basah itu. Kontraksi rongga dada kemudian mendesak udara keluar dari paru-paru. Udara
yang dihembuskan miskin akan oksigen, tetapi kaya akan karbondioksida yang diterima ketika di
dalam paru-paru (Kimball, 1999).
Pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida terjadi di dalam paru-paru. Keluar
masuknya udara dari dan keluar paru-paru karena adanya gerakan-gerakan dari tulang rusuk.
Paru-paru reptilia lebih sederhana, hanya dengan beberapa lipatan dinding yang berfungsi
memperbesar permukaan pertukaran gas. Pada reptilia pertukaran gas tidak efektif. Pada kadal,
kura-kura, dan buaya paru-paru lebih kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang
membuat paru-parunya bertekstur seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal misalnya
bunglon Afrika mempunyai pundi-pundi hawa cadangan yang memungkinkan hewan tersebut
melayang di udara (Muazatin, 2013).
Paru-paru Kadal Kebun berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk. Paruparu kadal kebun lebih sederhana, hanya dengan beberapa lipatan dinding yang berfungsi
memperbesar permukaan pertukaran gas. Pada kadal kebun pertukaran gas tidak efektif. Udara
masuk melalui nares externa terus menembus plat yang keras menuju ke nares interna (di
belakang lubang) dan kemudian melalui glottis sebagai celah lingua menuju ke larynx. Larynx
tersusun atas tulang rawan tiga buah dan berisi beberapa pasang pita sura (bagi yang bersuara).
Selanjutnya berhubungan dengan trachea yang tersusun atas gelang-gaelang tulang rawan.
Trachea bercabang menjadi dua bronchi, yang selanjutnya masing-masing menuju ke paru-paru.
Paru-paru terbagi atas bagian-bagian interior yang lebih komplek daripada amfibia yang
mengandung kapilar pulmonalis. Paru-paru kadal kebun dilingkapi oleh tulang iga dan paru-paru
di potong longitudinal sehingga deretan faveolus tampak (Daniel, 2013)
Struktur paru-paru amfibi dan reptil pada dasarnya serupa dengan paru-paru hewan
menyusui. Ventilasi paru paru reptil lebih efisien daripada paru-paru amfibi oleh karena
memiliki kelebihan sarana seperti adanya bronkus sejati yang diperkuat dengan cincin-cincin
tulan rawan, area permukaan difusi yang lebih luas, memiliki tulang rusuk, memiliki trakea. Halhal seperti itu belum ada pada amfibi sehingga amfibi masih memerlukan tambahan area
permukaan difusi yaitu kulit.

Untuk fungsi pertukaran gas, reptilia tergantung pada paru-parunya. Tidak hanya paruparunya yang mempunyai permukaan relatif lebih besar dari pada amphibi, tetapi juga
pertukaran gas dalam paru-paru benar-benar efisien.

C.

Transport Gas
Reptil bernapas dengan paru-paru. Pengambilan oksigen
dan pengeluaran karbondioksida terjadi di dalam paru-paru.
Keluar masuknya udara dari dan keluar paru-paru karena adanya
gerakan-gerakan dari tulang rusuk. Saluran pernapasan terdiri dari
lubang hidung, trakea, bronkus dan paru-paru (Yuli, 2011).
Paru-paru kadal sudah berkembang baik dan ukurannya
cukup besar. Bagian sirkulasi

kadal berupa jantung yang

dibungkus membran transparan (pericardium) dan dibatasi oleh


endokardium. Sistem respiratoria terdiri dari struktur yang
terletak diantara nostril dan paru-paru yaitu glottis dan laring
(Parker dan Hanswell, 1962).
Respirasi dimulai dengan masuknya udara ke nares externa kemudian masuk ke nares
interna melalui glottis sebagai celah lingua menuju ke laring. Laring tersusun atas tiga buah
tulang rawan dan berisi beberapa pasang pita suara. Menuju trakhea yang bercabang menjadi dua
bronchi yang kemudian masing-masing menuju paru-paru (Jasin, 1989).
Menurut Hikmat (2014), mekanisme Pernafasan pada reptil adalah sebagai berikut :

Fase Inspirasi: otot tulang rusuk berkontraksi sehingga rongga dada membesar yang

diikuti paru-paru mengembang, akibatnya udara dari luar masuk melalui lubang hidung, trakea,
bronkus, dan paru-paru.
Gas O2 dalam udara masuk melalui hidung rongga mulut anak tekak trakea yang
panjang bronkiolus dalam paru-paru dari paru-paru O2 diangkut darah menuju ke
seluruh jaringan tubuh.

Fase ekspirasi: otot tulang rusuk relaksasi sehingga rongga dada dan paruparu mengecil,

akibatnya udara dari paru-paru keluar melalui paru-paru, bronkus, trakea, dan lubang hidung.

Dari jaringan tubuh gas CO2 di angkut darah menuju jantung kemudian menuju ke
paru-paru untuk dikeluarkan bronkiolus trakea yang panjang anak tekak
rongga mulut dan terakhir melalui lubang hidung.
Reptilia bernapas menggunakan paru-paru. Gas O2 dalam udara masuk melalui lubang
hidung rongga mulut anak tekak trakea yang panjang bronkiolus paruparu. Dari paru-paru, O2 diangkut darah menuju seluruh jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh,
gas CO2 diangkut darah menuju jantung untuk dikeluarkan melalui paru-paru bronkiolus
trakea yang panjang anak tekak rongga mulut lubang hidung. Pada Reptilia yang
hidup di air, lubang hidung dapat ditutup ketika menyelam (Yuli, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Yuli, Eka Dini. 2011. Sistem Pernafasan pada Reptil. Diakses dari http://eka-dini-yuliw.blogspot.com/2011/11/sistem-pernapasan-pada-reptil.html pada tanggal 24 Oktober
2014.
Kimball, John W. 1999. Biologi Jilid 2 dan 3. Jakarta: Erlangga.
Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan. Surabaya: Sinar Wijaya.
Parker and Haswel. 1978. Text Book of Zoology 2 Vertebrates. New York: The Mac Millan
Press.
Daniel, david. 2013. Makalah tentang Vertebrata (Kadal) Biologi. Diakses dari http://ibanezpowell.blogspot.com/2013/10/makalah-tentang-vertebrata-kadal-biologi.html

pada

23

Oktober 2014.
Rochmah, S. N., Sri Widayati, M. Miah. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Hikmat. 2014. Sistem Pernafasan pada Reptil. Diakses dari http://hikmat.web.id/biologi-klasxi/sistem-pernapasan-pada-reptil/ pada 23 Oktober 2014.
Muazatin, Lutfi. 2013. Sistem respirasi dan transportasi pada hewan. Diakses dari
http://lutfimuazatin.blogspot.com/2013/04/sistem-respirasi-dan-transportasi-pada.html
pada 23 Oktober 2014.
Sridianti. 2014. Sistem Pernafasan pada Reptil. Diakses dari http://www.sridianti.com/sistempernapasan-pada-reptil.html pada 23 Oktober 2014.