Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, terdiri atas berbagai suku bangsa dan
budaya. Perbedaan kebudayaan akan menyebabkan suatu konflik apabila kedua budaya
yang berbeda berinteraksi namun tetap mengedepankan identitas sosial masing-masing
budaya. Dalam dunia kesehatan, khususnya keperawatan tentu perbedaan budaya ini
akan menjadi suatu masalah yang dalam keseharian perawat menangani pasien, oleh
karena itu perawat diharuskan mengenali dan beradaptasi dengan berbagai budaya yang
ada, selain itu juga mempelajari keperawatan transkultural yang akan dilakukan sebagai
salah satu bagian dari bentuk praktik asuhan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah konsep kebudayaan memiliki pengaruh dalam pemberian asuhan
keperawatan pada pasien?
2. Bagaimanakah solusi keperawatan yang dapat diterapkan jika adanya perbedaan
budaya?
1.3 Tujuan
Menjelaskan mengenai konsep kebudayaan dan perspektif transkultural dalam
keperawatan, juga aplikasi konsep prinsip transkultural sepanjang daur kehidupan
manusia dan transkultural pada beberapa masalah kesehatan.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 4 bab, yaitu :
1. Pendahuluan, menjelaskan tentang latar belakang masalah keragaman budaya,
rumusan masalah dan tujuan penulisan makalah, serta sistematika penulisan.
2. Isi, berisi tentang pembahasan konsep kebudayaan dan perspektif transkultural
dalam keperawatan, aplikasi konsep, prinsip transkultural sepanjang daur
kehidupan manusia, juga transkultural pada beberapa masalah kesehatan.
3. Pembahasan, berisi uraian analisis dan sintesis aplikasi konsep untuk
penyelesaian masalah.
4. Penutup, berisi uraian tentang kesimpulan yang berasal dari apa yang telah
diuraikan pada bab-bab sebelumnya dan dikatikan pada analisa dan sintesa yang
telah dirumuskan.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Kebudayaan dalam Keperawatan
2.1.1 Kebudayaan dan Masyarakat
Kebudayaan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat, karena
tiap masyarakat memiliki kebudayaan. Kebudayaan dalam arti sempit, yaitu terbatas
pada pikiran, karya, dan hasil karya manusia dalam memenuhi hasrat manusia akan
keindahan, sedangkan kebudayaan dalam arti luas, yaitu keseluruhan dari pikiran dan
hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, melainkan terbentuk setelah
proses belajar. Konsep tersebut amat luas karena mencakup hampir seluruh aktivitas
manusia dalam kehidupannnya, kecuali beberapa refleks yang berdasarkan naluri.
Kebudayaan adalah sistem tindakan, gagasan, dan hasil karya manusia yang
diperoleh

melalui

proses

belajar

dalam

rangka

kehidupan

bermasyarakat

(Koentjaraningrat, 1986). Kebudayaan itu merupakan cara berlaku yang dipelajari dan
diajarkan secara turun temurun. Kebudayaan dapat dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu :
1. Dimensi ideasional, dimana budaya berbentuk gagasan, abstrak, ataupun teori
yang mempengaruhi perilaku seseorang dan materi ataupun benda yang
digunakan di kehidupan sehari-hari.
2. Dimensi perilaku, dimana budaya dianggap sebagai suatu tindakan yang berpola,
konkrit dan dapat disaksikan.
3. Dimensi materi, dimana budaya berupa hasil karya yang bersifat permanen
sehingga dapat diraba dan dinikmati oleh panca indera.
Unsur-unsur yang terdapat dalam pengelompokkan budaya disebut unsur
kebudayaan yang universal, karena unsur-unsur tersebut ditemukan dalam masyarakat
pedesaan yang terpencil hingga masyarakat perkotaan yang kompleks. Unsur-unsur
tersebut berdasarkan tingkat kesukaran perubahannya. (Koentjaraningrat, 2000).
Unsur-unsur universal tersebut adalah:
1. Sistem

religi

dan

keagamaan,
2. Sistem
dan

upacara
organisasi

4.
5.
6.
7.

Bahasa,
Kesenian,
Sistem mata pencaharian hidup,
Sistem teknologi dan peralatan.

kemasyarakatan,
3. Sistem pengetahuan,
Rumah sakit dianggap sebagai suatu masyarakat karena :

1. Memiliki premis-premis budaya, yaitu kesehatan itu sangat penting, nyawa


sangat berharga, penyakit adalah musuh utama, dan kematian adalah kekalahan.
2. Memiliki struktur, status, dan hubungan antar peranan.
3. Memiliki norma-norma atau aturan bersama.
4. Memiliki territorial
Karena masyarakat adalah kumpulan individu yang anggotanya saling
berhubungan satu sama lain, memiliki kebudayaan atau norma yang membedakannya
dengan kumpulan individu lain, memenuhi kebutuhan dari lingkungan sekitar, tumbuh
dan berkembang di wilayah yang sama, patut dikatakan bahwa rumah sakit adalah
suatu masyarakat. Dengan professional kesehatan, birokrasi rumah sakit, dan pasien
sebagai anggotanya, kebijakan rumah sakit sebagai normanya, dan lingkungan rumah
sakit sebagai daerah teritorialnya.
2.1.2 Konsep Sehat dan Sakit
Konsep sehat dan sakit tidaklah mutlak dan universal karena adanya faktor
sosial budaya yang mempengaruhinya. Masalah sehat dan sakit merupakan proses
yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan
lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosial budaya (Kliemen, 1978).
Menurut WHO (1981), sehat adalah suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani,
maupun kesejahteraan sosial seseorang. Definisi sehat dan sakit suatu kelompok
masyarakat berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Selain itu, pengetahuan,
pencegahan, pengobatan penyakit merupakan warisan budaya yang turun-temurun dari
satu generasi ke generasi lainnya (Triratnawati).
Istilah penyakit dan keadaan sakit adalah dua hal yang berbeda. Penyakit
adalah suatu konsepsi medis menyangkut suatu keadaan tubuh yang tidak normal
karena sebab-sebab tertentu yang dapat diketahui dari tanda-tanda dan gejalanya (sign
and symptoms) oleh para ahli (Field, 2007). Sedangkan, keadaan sakit adalah perasaan
pribadi seseorang dimana ia merasa kesehatannya terganggu, yang tampak sebagai
keluhan sakit yang dirasakannya.
Masyarakat memiliki dua pandangan mengenai penyebab sakit, yaitu
pandangan Naturalistik dan pandangan Personalistik. Pandangan Naturalistik ialah
ketika masyarakat mempercayai bahwa penyakit disebabkan akibat pengaruh
lingkungan, makanan, kebiasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh. Sedangkan,
pandangan personalistik mempercayai bahwa sakit disebabkan adanya agent penyebab
sakit yang dapat berupa makhluk bukan manusia (hantu, roh, leluhur atau roh jahat),
3

atau makhluk manusia (tukang sihir, tukang tenung). Persepsi masyarakat mengenai
terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, karena
tergantung dari kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat tersebut.
Dalam hal perwujudan rasa sakit, latar belakang kebudayaan pasien terdiri atas
Private Pain dan Public Pain. Kebudayaan Public Pain bercirikan adanya keterbukaan
dalam menyatakan keadaan sakit. Biasanya klienakan cepat menunjukkan perilaku
sakit berupa keluhan-keluhan. Lain halnya dengan Private Pain dimana klien
cenderung menyembunyikan keadaan sakitnya. Klien cenderung diam dan tabah
sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menunjukkan perilaku sakit.
Biasanya peranan sakit baru terjadi ketika penyakit sudah dalam tahap yang parah.
2.1.3 Faktor-Faktor Budaya dan Perilaku Sakit
Budaya sangat mempengaruhi perilaku seorang individu, termasuk dalam
perilaku sakit. Perilaku sakit adalah cara-cara saat gejala-gejala ditanggapi,
dievaluasi, dan diperankan oleh seorang individu yang mengalami sakit, kurang
nyaman, atau tanda-tanda lain dari fungsi tubuh yang kurang baik, (Mechanic dan
Volkhart, 1961). Perilaku sakit dapat terjadi tanpa adanya peranan sakit ataupun
peranan pasien., contohnya seperti ketika kita bangun tidur dan merasa lehernya sakit,
itu dikatakan sebagai perilaku sakit walaupun kita sedang tidak sebagai pasien.
Perbedaan budaya juga dapat mempengaruhi perilaku sakit, contohnya seperti
orang Yahudi dan Italia yang yang lebih emosional dalam merespon rasa sakit mereka
dari pada orang Eropa Utara, (Zbrowski : 1952). Hal ini dikarenakan kebudayaan dari
Yahudi dan Italia membebaskan mereka dalam mengungkapkan perasaan dan emosi
melalui kata-kata, bunyi, dan isyarat-isyarat. Berdasarkan faktor budaya tersebutlah
orang Yahudi dan Italia tidak merasa malu, bahkan sukarela mengakui bila mereka
kesakitan.
Contoh lain dari perilaku berdasarkan budaya yaitu, orang tua di Amerika lebih
memilih untuk melaporkan rasa sakitnya dengan berusaha setenang mungkin dan
mencari cara yang paling tepat untuk menentukan kadar rasa sakit, posisi, lamanya,
dan lain-lain. Mereka mungkin bereaksi keras bahkan hampir menangis bila sudah
tidak tertahankan rasa sakitnya, tetapi kebanyakan mereka melakukan itu ketika
sedang sendirian. Jadi, dapat disimpulkan faktor-faktor budaya yang mempengaruhi
perilaku sakit, yaitu:
4

1. Ras, orang yang mempunyai ras yang sama umumnya memiliki karakter yang
sama, namun orang mempunyai ras yang sama belum tentu memiliki kebudayaan
yang sama.
2. Prasangka, kecenderungan untuk menyamaratakan persepsi terhadap sesuatu
kelompok yang akan menuntut pada dakwaan. Contohnya seperti orang Jawa
berbincang-bincang dengan orang Medan yang berbicara dengan suara lantang,
orang Jawa akan merasa sangat terganggu dan menganggap bahwa orang Medan
adalah orang yang kasar. Padahal belum tentu hal tersebut sesuai.
3. Stereotype, menyamakan temuan pada penelitian. Dalam hal ini perawat harus
mengetahui bahwa setiap kelompok memiliki kepercayaan kesehatan yang
berbeda. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan nilai dan gaya hidup yang
diterapkan dalam tiap individu.
4. Diskriminasi, memperlakukan individu dengan membedakan ras, etnik, jenis
kelamin, dan kelas sosial. Contohnya seperti membedakan perlakuan antara
masyarakat biasa dengan para pejabat.
5. Culture shock, perasaan tidak nyaman adanya pergantian dari satu kebudayaan ke
kebudayaan lain. Hal ini akan terjadi bila perawat tidak dapat beradaptasi dengan
perbedaan nilai dan budaya klien.
2.1.4 Fenomena-fenomena Budaya dan Kesehatan
Di dalam dunia kesehatan, kebudayaan dapat dikatakan sebagai fenomena,
maksudnya adalah karena adanya persepsi budaya yang dapat mempengaruhi cara
pandang seseorang dalam mengekspektasi suatu respon dalam situasi-situasi yang
berbeda. Menurut Giger dan Davidhizar (1995), fenomena budaya tersebut meliputi 6
fenomena, yaitu:
1. Kontrol Lingkungan, anggota masyarakat budaya tertentu akan merencanakan
aktivitas yang mengontrol sifat dan factor dan factor keturunan langsung. Pada
budaya tertentu, terhadap keyakinan kesehatan taradisional dan dapat disembuhkan
dengani pengobatan tradisonal. Fenomena ini berperan dalam cara klien merespons
kesehatan yang diterimanya.
2. Variasi Biologi, di masyarakat, pasti memiliki variasi biologis seperti struktur dan
bentuk tubuh, warna kulit, dan kerentanan terhadap penyakit yang berbeda.
3. Organisasi Sosial, tempat individu dibesarkan akan sangat mempengaruhi
perkembangan dan identitas indiviudu tersebut.
5

4. Komunikasi, pebedaan bahasa antara perawat dan klien akan sangat berpengaruh
dalam asuhan keperawatan. Bila komunikasinya tidak efektif akan menimbulkan
penundaan dalam diagnosis dan intervensi kepada klien. Perawat harus dapat
mengkomunikasikan asuhan keperawatan kepada klien dan kilien dapat mengerti
apa yang perawat ucapkan.
5. Ruang, ruang personal klien atau perilaku seseorang yang ditujukan pada ruang
yang berada di lingkungannya. Teritorialitas dalah reaksi emosional saat seseorang
memasuki area pribadi orang lain. Perawat harus berusaha menghargai territorial
klien.
6. Orientasi Waktu, perbedaan dalam orientasi waktu dapat menjadi hal yang penting
dalam kesehatan, seperti perencanaan jangka panjang dan penjelasan jadwal
harian, seperti penjelasan mengenai pentingnya minum obat secara teratur.
2.2

Perspektif Transkultural dalam Keperawatan

2.2.1 Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan


Penanganan pasien dengan perbedaan latar belakang budaya disebut dengan
transkultural keperawatan atau transkultural nursing. Keperawatan transkultural
merupakan suatu pelayanan keperawatan yang berfokus kepada analisis dan
perbandingan tentang perbedaan budaya. Sedangkan, menurut Leininger dam Mc
Farland (2002), Keperawatan transkultural adalah suatu area atau wilayah keilmuan
budaya dalam proses belajar dan praktik keperawatan yang berfokus terhadap perbedaan
dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan sehat dan sakit yang
didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan. Ilmu ini digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya pada budaya. Tujuan dari
keperawatan transkultural untuk mengembangkan sains dan pohon keilmuan yang
humanis, sehingga dapat menciptakan praktik keperawatan pada kebudayaan yang
spesifik dan universal. Kultur spesifik diartikan dengan nilai-nilai norma spesifik yang
tidak dimiliki oleh kelompok lain, contohnya adalah bahasa. Sedangkan universal
merupakan keyakinan terhadap nilai atau norma yang hampir dilakukan oleh semua
kultur. Contoh kultur universal adalah kebudayaan berolahraga. Pada dasarnya semua
orang sudah mengetahui bahwa kebudayaan berolahraga dapat membuat badan sehat.
Selain itu keperawatan transkultural juga bertujuan untuk mengidentifikasi,
mengerti serta memahami landasan dari teori dan praktik keperawatan budaya dalam
pemberian asuhan keperawatan. Pada dasarnya globalisasi dalam pelayanan kesehatan
6

sangat penting dalam melakukan tindakan. Seperti yang kita ketahui seiring
perkembangan zaman, perawat juga di tuntut untuk maju dalam melaksanakan asuhan
keperawatan. Perawat diharapkan dapat mengikuti perkembangan karena pada dasarnya
seseorang pasien menginginkan asuhan keperawatan yang berkualitas. Pada zaman
globalisasi ini tidak menutup kemungkinan terjadinya pergeseran tuntutan asuhan
keperawatan. Hal tersebut terjadi karena pada zaman ini banyak orang yang melakukan
perpindahan penduduk antarnegara yang mengakibatkan peningkatan penduduk di
negara-negara tertentu. Konsep dalam keperawatan pada dasarnya didasari oleh
pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai kultural yang ada dalam masyarakat.
Memperhatikan keanekaragaman dan nilai-nilai budaya sangat penting dalam
penerapan asuhan keperawatan kepada pasien. Ketika perawat tidak memahami serta
tidak memperhatikan keanekaragaman dari setiap klien akan mengakibatkan terjadinya
cultural shock. Cultural shock merupakan suatu kondisi dimana perawat tidak mampu
atau tidak dapat beradaptasi dengan nilai kebudayaan dan kepercayaan. Dari
ketidakmampuan tersebut akan menimbulkan serta mengakibatkan ketidaknyamanan
pada pasien. Pada dasarnya sebelum memahami keperawatan transkultural, perawat
diharapkan dapat memahami kultur atau kebudayaan sendiri.
2.2.2 Konsep dan Prinsip dalam Teori keperawatan Transkultural
Konsep dalam budaya sangat berkaitan erat dengan perilaku dan sikap yang
dicerminkan. Ketika seorang perawat menerapkan keperawatn transkultural, bukan
hanya budaya saja yang harus diperhatikan, namun aplikasi dalam keperawatan harus
selalu diingat dan dipahami dalam keperawatan transkultural. Menurut Leninger (1985),
paradigma keperawatan diartikan sebagai cara pandang, keyakinan terhadap nilai-nilai
yang berlandaskan teori dan praktik keperawatan demi terlaksananya asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya. Terdapat empat konsep sentral
dalam keperawatan, meliputi manusia, komponen sehat sakit, lingkungan dan
keperawatan. Konsep sentral dalam keperawatan masuk kepada paradigma keperawatan
transkultural. Manusia menurut Laininger (1984) diartikan sebagai manusia yang
memiliki kecenderungan dalam mempertahankan kebudayaan dimanapun mereka
berada. Dapat disimpulkan bahwa manusia merupakan individu, keluarga maupun
kelompok yang cenderung memiliki nilai-nilai yang di yakini serta berguna dalam
menetapkan pilihan ataupun melakukan pilihan. Komponen sehat sakit merupakan
7

keseluruhan aktivitas meliputi pola kegiatan yang dimiliki oleh klien dalam konteks
budaya yang digunakan untuk menjaga serta mempertahankan keadaansehat dalam
rentang atau komponen sehat sakit. Lingkungan merupakan suatu komponen yang dapat
mempengaruhi perkembangan, kepercayaan serta perilaku klien. Keperawatan
merupakan suatu proses atau tindakan yang diberikan kepada pasien sesuai dengan latar
belakang dari budaya pasien. Pada dasarnya proses keperawatan transkultural dilakukan
untuk mengurangi terjadinya konflik perbedaan budaya antara perawat dengan pasien.
Menurut Leininger (1985), konsep dan prinsip dalam asuhan keperawatan
terbagi menjadi budaya, nilai budaya, culture care diversity, cultural care universality,
etnosentris, etnis, ras, etnografi, care, caring, cultural care dan cultural imposition.
Budaya merupakan nilai, norma, atau tindakan yang dapat memberikan petunjuk dalam
berfikir serta bertindak dalam mengambil keputusan. nilai budaya merupakan tindakan
yang lebih di inginkan atau suatu tindakan yang di pertahankan untuk melandasi
tindakan dan keputusan. culture care disversity disebut juga dengan perbedaan budaya
dalam asuhan keperawatan. Merupakan suatu bentuk dari pemberian asuhan
keperawatan yang mengacu kepada berbagai variasi pendekatan keperawatan yang
bertujuan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai asuhan budaya individu.
cultural care universality merupakan kesatuan keperawatan kultural yang mengacu
kepada suatu pengertian yang memiliki kesamaan yang dominan meliputi, pola, nilai
maupun gaya hidup yang dimanifestasikan dari berbagai kebudayaan.
Etnosentris merupakan suatu sikap dan presepsi seseorang terhadap buadaynya
sendiri, serta menganggap budayanya lebih baik dari budaya-budaya yang dimiliki oleh
orang lain. Etnis sering diartikan sebagai pengelompokan budaya yang digolongkan dari
ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim atau sudah biasa dan terkadang dilakukan oleh ras-ras
tertentu. Ras merupakan perbedaan yang digolongkan dari sistem pengklasifikasian
manusia berdasarkan karakteristik fisik. Etnografi merupakan suatu ilmu yang
mempelajari budaya serta bertujuan untuk mengembangkan kesadaran tinggi yang
dimiliki perawat terhadap perbedaan budaya. Care merupakan suatu hubungan dalam
bentuk bantuan prilaku kepada individu untuk memenuhi kebutuhan serta dapat
meningkatkan kualitas kehidupan. Sedangkan caring adalah suatu tindakan yang
dilakukan secara langsung untuk membimbing atau mengarahkan seseorang kepada
keadaan yang nyata. Cultural care berkaitan dengan kepercayaan atau suatu pola
8

ekspresi yang bertujuan untuk membimbing serta memberikan kesempatan individu


untuk mempertahankan kesehatan. Cultural imposition merupakan suatu tindakan yang
dilakukan perawat untuk memberikan kepercayaan atau keyakinan berdasarkan
landasan praktik bahwa pendapat atau ide yang dimiliki lebih tinggi dibandingkan
dengan kelompok lain, atau dapat diartikan juga sebagai kecenderungan

tenaga

kesehatan dalam memaksakan kepercayaan bahwa praktik dan nilai diatas budaya
individu lain.
2.3 Aplikasi konsep dan prinsip transkultural sepanjang daur kehidupan manusia
2.3.1 Perawatan Kehamilan dan Kelahiran
Kehamilan dan kelahiran bayi pun dipengaruhi oleh aspek sosial dan budaya
dalam suatu masyarakat. Dalam ukuran-ukuran tertentu, fidiologi kelahiran secara
universal sama, namun proses kelahiran sering dianggap dengan cara-cara yang berbeda
oleh aneka kelompok masyarakat (Jordan, 1993). Berbagai kelompok yang memiliki
penilaian terhadap aspek kultural tentang kehamilan dan kelahiran menganggap
peristiwa itu merupakan tahapan yang harus dijalani di dunia. Salah satu kebudayaan
masyarakat Kerinci di Provinsi Jambi misalnya, wanita hamil dilarang makan rebung,
karena menurut masyarakatnya jika wanita hamil makan rebung maka bayinya akan
berbulu seperti rebung. Makan jantung pisang juga diyakini membuat jantung anaknya
menjadi kecil.
Pantangan dan simbol yang terbentuk dari kebudayaan hingga kini masih
dipertahankan dalam komunitas dan masyarakat. Dalam menghadapi situasi ini,
pelayanan kompeten secara budaya diperlukan bagi seorang perawat untuk
menghilangkan perbedaan dalam pelayanan yang optimal bagi klien dan keluarga.
Menurut Meutia Farida Swasono salah satu contoh dari masyarakat yang sering
menitikberatkan perhatian pada aspek krisis kehidupan dari peristiwa kehamilan dan
kelahiran adalah orang Jawa, yang di dalam adat istiadat mereka terdapat berbagai
upacara adat yang rinci untuk menyambut kelahiran bayi seperti upacara mitoni,
procotan, dan brokohan. Perbedaan yang paling mencolok antara penanganan kehamilan
dan kelahiran oleh dunia medis dengan adat adalah orang yang menanganinya,
kesehatan modern penanganan dengan adat dibantu oleh dukun bayi.
Dari segi budaya, melahirkan tidak hanya merupakan suatu proses semata-mata
berkenaan dengan lahirnya sang bayi saja, namun tempat melahirkan pun harus
9

terhindar dari berbagai kotoran tapi kotor dalan arti keduniawian, sehingga budaya
menetapkan bahwa proses mengeluarkan unsur-unsur yang kotor atau keduniawian
harus dilangsungkan di tempat yang sesuai keperluan itu. Jika dokter memiliki obat-obat
medis maka dukun bayi punya banyak ramuan untuk menangani ibu dan janin,
umumnya ramuan itu diracik dari berbagai jenis tumbuhan, atau bahan-bahan lainnya
yang diyakini berkhasiat sebagai penguat tubuh atau pelancar proses persalinan.
Menurut pendekatan biososiokultural dalam kajian antropologi, kehamilan dan
kelahiran dilihat bukan hanya aspek biologis dan fisiologis saja, melainkan sebagai
proses yang mencakup pemahaman dan pengaturan hal-hal seperti: pandangan budaya
mengenai kehamilan dan kelahiran, persiapan kelahiran, para pelaku dalam dalam
pertolongan persalinan, wilayah tempat kelahiran berlangsung, cara pencegahan bahaya,
penggunaan ramuan obat-obatan tradisional, cara menolong kelahiran, pusat kekuatan
dan pengambilan keputusan mengenai pertolongan serta perawatan bayi dan ibunya.
Berdasarkan uraian diatas, perawat harus mampu memahami kondisi kliennya
yang memiliki budaya berbeda. Perawat juga dituntut untuk memilki keterampilan
dalam pengkajian budaya yang akurat dan komperhensif sepanjang waktu berdasarkan
warisan dan riwayat etnik, riwayat biokultural, organisasi sosial, agama dan
kepercayaan serta pola komunikasi. Semua budaya mempunyai dimensi lampau,
sekarang dan mendatang. Untuk itu penting bagi perawat memahami orientasi waktu
wanita yang mengalami transisi kehidupan dan sensitif terhadap warisan budaya
keluarganya.
2.3.1 Perawatan dan Pengasuhan Anak
Setiap anak diharapkan dapat berkembang secara sempurna dan simultan, baik
perkembangan fisik, kejiwaan dan juga sosialnya sesuai dengan standar kesehatan, yaitu
sehat jasmani, rohani, dan sosial. Untuk itu perlu ditetapkan berbagai unsur yang terlibat
dalam proses perkembangan anak sehingga dapat dioptimalkan secara sinergis. Menurut
Urie Bronfenbenner (1990) setidaknya ada lima sistem yang berpengaruh terhadap
tumbuh kembang anak,yaitu: pertama, sistem mikro yang terkait dengan pengaturan
individual dimana anak tumbuh dan berkembang yang meliputi keluarga, teman sebaya,
sekolah, dan lingkungan sekitar tetangga. Kedua, sistem meso yang merupakan
hubungan di antara mikro sistem, misalnya hubungan pengalaman yang didapatkan di
dalam keluarga dengan pengalaman yang didapatkan di dalam keluarga dengan
10

pengalaman di sekolah atau pengalaman dengan teman sebaya. Ketiga, sistem makro
yang merupakan budaya dimana individu hidup seperti ideologi, budaya, sub-budaya,
atau strata sosial masyarakat. Kelima sistem chrano yang merupakan gambaran kondisi
kritis tradisional. Keempat sistem pertama harus mampu dioptimalkan secara sinergis
dalam pengembangan berbagai potensial anak hingga dibutuhkan pola pengasuhan, pola
pembelajaran, pola pergaulan termasuk penggunaan media massa, dan pola kebiasaan
(budaya) yang koheren dan saling mendukung. Proses sosialisasi secara umum melalui
4 fase, yaitu:
1. Fase Laten (Laten Pattern), pada fase ini anak bukan merupakan kesatuan
individu yang dapat berdiri sendiri dan belum dapat melakukan kontak dengan
lingkungannya. Anak dianggap sebagai bagian dari ibu disebut dengan two
persons system
2. Fase Adaptasi (Adaptation), pada fase ini anak mulai mengenal lingkungan dan
memberikan reaksi atas rangsangan-rangsangan dari lingkungannya. Orangtua
berperan besar pada fase adaptasi, karena anak hanya dapat belajar dengan baik
atas bantuan dan bimbingan orangtuanya.
3. Fase Pencapaian Tujuan (Goal Attainment), pada fase ini dalam sosialisasinya
anak tidak hanya sekedar memberikan umpan balik atas rangsangan yang
diberikan oleh lingkungannya, tetapi sudah memiliki maksud dan tujuan.
4. Fase Integrasi (Integration), pada fase ini tingkah laku anak tidak lagi hanya
sekedar penyesuaian ataupun untuk mendapatkan penghargaan, tetapi sudah
menjadi bagian yang menyatu dengan karakter dirinya sendiri.
Interaksi anak dengan lingkungannya secara tidak langsung telah
mengenalkan dirinya dengan kebudayaan yang ada di sekelilingnya. Lingkungan
dan keluarga turut berperan dalam perkembangan anak. Hal ini pun tidak terlepas
dari pengaruh budaya yang ada di sekitarnya. Sebagai perawat, dalam memberikan
pengasuhan dan perawatan perlu mengarahkan anak pada perilaku perkembangan
yang normal, membantu memaksimalkan kemampuannya dan menggunakan
kemampuannya dengan membantu mencapai keseimbangan perkembangan yang
penting. Perawat juga harus melibatkan anak dalam merencanakan proses
perkembangan. Dalam lingkungan, anak diharuskan bekerja dan bermain secara
kooperatif dalam kelompok besar anak-anak dalam berbagai latar belakang budaya.
11

Dalam proses ini, anak mungkin menghadapi masalah kesehatan psikososial dan
fisik. Perawat harus merancang intervensi peningkatan kesehatan anak dengan turut
mengkaji kultur yang berkembang pada anak. Agar tidak terjadi konflik budaya
terhadap anak yang akan mengakibatkan tidak optimalnya pengasuhan dan
perawatan anak.
2.3.3 Perawatan Pada Lanjut Usia dan Menjelang atau Saat Kematian
Lansia pada umumnya pensiun. Karena pensiunan ini biasanya telah
diantisipasi, seorang dapat berencana ke depan untuk berpartisipasi dalam konsultasi
atau aktivitas sukarela, mencari minat dan hobi baru, melanjutkan pendidikannya.
Dalam perwujudan perencanaan tersebut, lansia bertemu dengan perubahanperubahan dalam dirinya.
1. Perubahan Fisiologis : kerutan wajah, rambut uban, hilangnya ekstrimitas, dan
peningkatan jaringan lemak pada tubuh, kulit kehilangan kelenturannya dan
kelembapannya. Noda dan lesi mungkin juga muncul pada kulit, raut wajah tampak
asimetris karena hilangnya atau pemasangan gigi palsu yang tidak benar. Ketajaman
penglihatan menurun. Lansia tidak mampu merasakan manis, asam, asin, pahit
dengan cepat, terdapat peningkatan diameter ateroposterior. Kifosis sering terjadi
disertai osteoporosis, penurunan kekuatan kontraktil miokardium menyebabkan
penurunan darah jantung. Penurunan ini signifikan jika lansia mengalami stress
karena ansietas, kegembiraan, penyakit, atau aktivitas yang berat, penurunan massa,
tenus, dan elastisitas otot yang menyebabkan payudara menjadi kecil, peningkatan
jumlah jaringan lemak pada tubuh dam abdomen, menopause pada wanita berkaitan
dengan penurunan respon ovarium. Penurunan kadar estrogen dan progesteron,
hipertrofi pada kelenjar prostat dapat terjadi pada pria lansia. Wanita lansia dapat
mengalami pelepasan urin infaunter saat batuk, bersin dll.
2. Perubahan Kognitif : kerusakan umum fungsi intelektual yang mengganggu
fungsi sosial dan okupasi, sindrom otak menyerupai demensia oreversibel, tetapi
secara klinis dibedakan oleh adanya tingkat kesadaran tidak jelas, atau perubahan
kesadaran, penyalahgunaan alkohol dan obat lain terjadi pada populasi lansia. Hal
ini dikarenakan stress, kesepian, dll.

12

3. Perubahan Psikososial : tahap kehidupan yang dicirikan oleh adanya transisi dan
perubahan peran yang dapat menyebabkan stres psikososial, perubahan pada peran
sosial, tanggung jawab keluarga, dan status kesehatan memengaruhi rencana lansia.
Proses keperawatan menjelang kematian merupakan proses penting dalam
perawatan terhadap klien. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk menghilangkan
rasa kesendirian, takut, dan depresi, juga mempertahankan rasa aman, harkat, dan
rasa berguna, selain itu untuk membantu kenyamaan fisik klien. Pada saat kondisi
terminal

membutuhkan

dukungan

utaman

dari

keluarga,

seakan

proses

penyembuhan bukan lagi merupakan hal yang penting dilakukan. Tahapan respons
klien terhadap proses kematian, menurut Kubler-Ross (1969) dalam buku on death
and dying tahapan respons klien terhadap proses kematian adalah:
a. Penolakan, respons dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa
yang dihadapi atau sering terjadi.
b. Marah, fase marah terjadi saat fase penolakan tidak lagi bisa dipertahankan.
c. Tawar-menawar, fase ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.
d. Kesedihan mendalam, ekspresi kesedihan ini merupakan persiapan terhadap
kehilangan atau perpisahan abadi dengan siapapun.
e. Menerima, pada tahap ini klien memahami dan menerima keadaanya klien
mulai menemukan kedamaian dalam kondisinya, beristirahat untuk
menyiapkan dan memulai perjalanan panjang.
Dalam tahapan repons klien tersebut perawat dapat mermberikan asuhan
psikologis, seperti :
a. Memberi dukungan pada fase awal. Tetapi budaya indonesia pada fase awal
diperlukan asupan pelangi, maka keluarga klien akan membacakan doa-doa.
b. Memberikan arahan pada klien bahwa marah adalah respon normal. Perawat
memberikan arahan pada keluarga agar keluarga tidak merasa panik.
c. Membantu klien mengespresikan apa yang dirasakannya.
d. Perawat harus hadir sebagai pendamping dan pendengar, perawat
memotivasi keluarga klien.
Asuhan psikologis dapat berubah sesuai dengan budaya dari keluarga klien
tersebut. Biasanya apabila keluarga tersebut mempunyai keyakinan yang besar
terhadap Tuhan, mereka akan memilih untuk berdoa di sekeliling klien agar arwah
13

klien nanti dapat diterima. Ada pula adat kebiasaan tersebut mengharuskan klien
meninggal di rumah klien, klien langsung dibawa pulang ketika dalam kondisi
terminal. Perawat dan pihak keluarga pasien berkolaborasi dalam mencapai
kesejahteraan klien menuju perjalanan yang sangat panjang. Proses-proses
perawatan pun akan menjadi fleksibel dan lebih menurut kepada aturan adat dan
kebudayaan yang dipercaya oleh pihak keluarga klien.
3.1 Aplikasi transkultural pada beberapa masalah kesehatan
2.4.1 Aplikasi Transkultural Pada Masalah Penyakit Kronik dan Gangguan Nyeri
Penyakit kronik adalah penyakit yang timbul jangka panjang dan berlangsung
lama yaitu lebih dari tiga bulan. Sebagai contoh hipertensi, hipertensi merupakan
masalah kesehatan yang serius, hipertensi akan menyebabkan kematian. Untuk
mengatasi hipertensi di daerah Tegal biasanya mengonsumsi air rebusan daun salam
dan timun.
Sebagai seorang perawat kita harus melakukan asuhan keperawatan yang tepat
tetapi juga harus disesuaikan agar dapat diterima oleh budaya pasien. Untuk mengatasi
masalah tersebut perawat harus mampu memberi penjelasan dan edukasi mengenai
masalah hipertensi dan bagaimana penanganan yang tepat. Apabila orang tersebut
tetap bersikukuh untuk meminum air rebusan daun salam, perawat harus tetap
mengawasi agar asuhan keperawatan tetap berjalan. Perawat harus dapat merubah
kebiasaan atau pola budaya pasien agar pasien meninggalkan kebiasaannya dan beralih
ke pengobatan yang sesuai dengan kehendak medis. Cara mengubahnya tidak
langsung dengan menghentikan kebiasaan pasien, tapi perawat harus dapat mengubah
dengan perlahan-lahan sehingga pasien tidak merasa pola kebiasaannya diubah.
Contoh lain adalah tumor, tumor merupakan penyakit berupa benjolan yang
terletak dalam suatu bagian tubuh. Masyarakat di daerah salah satu penulis
memercayai bahwa tumor dapat disembuhkan dengan cara meminum rebusan daun
sirsak. Mereka memercayai bahwa ketika mereka meminum daun sirsak maka tumor
mereka akan semakin mengecil dan akhirnya menghilang. Seperti yang kita tahu
tumor merupakan sel yang mengalami perubahan fungsi yang menyebabkan sel
tersebut berubah bentuk menjadi bentuk lain berupa tumor. Karena tumor tidak
berguna dan menghambat aktivitas dalam tubuh, maka dalam dunia medis tumor
14

seharusnya dihilangkan dengan dilakukan tindakan medis berupa operasi Dalam


kondisi seperti ini, perawat harus mampu menjelaskan dan membujuk pasien agar mau
diambil tindakan berupa pembedahan. Kita harus menjelaskan secara rinci dan sesuai
fakta agar pasien percaya dan akhirnya mau untuk dioperasi tanpa meninggalkan
kebiasaannya meminum air daun sirsak kalau dirasa memang baik.
Nyeri merupakan pengalaman yang sangat pribadi dan dipengaruhi oleh warisan
budaya. (Ludwig-Beymer, hlm.283). Norma budaya terkait nyeri diturunkan kepada
anak-anak oleh keluarganya. Zborowski (1952) melaporkan variasi interpretasi dan
respon nyeri sebagai berikut, orang Amerika generasi ketiga merespon nyeri tanpa
ekspresi, berfokus pada dampak nyeri, respon pengontrolan emosi. Orang irlandia
melihat nyeri sebagai suatu yang pribadi, tidak ekspretif, tidak menunjukan emosi.
Wanita Cina memercayai bahwa mereka akan mempermalukan diri dan keluarganya
apabila mereka berteriak karena nyeri selama persalinan berlangsung. Dengan kondisi
budaya yang beragam ini, perawat harus bisa beradaptasi dan menangani pasiennya
dengan cara yang berbeda pula agar menyesuaikan budaya pasien tetapi juga harus
sesuai tindakan asuhan keperawatan yang tepat.
Di Afrika nyeri merupakan suatu kondisi yang harus diekspresikan dan harus
segera ditangani. Orang Afrika mengobati rasa nyeri dengan cara ritual keagamaan,
terapi akupuntur, minum obat herbal, dan dengan sentuhan terapeotik. Sedangkan ayah
salah satu penulis jika sedang mengalami nyeri di kaki, dia lebih percaya diatasi
dengan cara urut atau pijat. Dengan pijat atau urut sebenarnya kurang tepat dilakukan
karena tukang pijat tersebut biasanya tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk
mengetahui letak saraf atau tulang yang mengalami nyeri. Ilmu yang sedikit tersebut,
akan mengakibatkan terjadi kesalah dalam menangani nyeri. Pada masalah ini, sebagai
perawat kita harus mampu menjelaskan efek apa saja yang akan terjadi ketika
seseorang melakukan pijat atau urut, bukannya nyeri hilang tetapi akan menambah
nyeri dibagian lain. Perawat harus mampu merubah kebiasaan pasien dengan pelanpelan. Pasien diberi arahan yang membuat pasien percaya dan akhirnya mau
meninggalkan kebiasaannya yang akan membahayakan kesehatannya.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

15

Seorang pasien laki-laki berusia 70 tahun mendapat serangan stroke non hemorajik
dan dirawat di ruang perawatan semi intensif (high care unit) sebuah rumah sakit.
Kesadaran pasien baik namun pasien mengalami hemiparese dextra dan kesulitan
berbicara. Pasien seringkali menolak bantuan perawat untuk pemenuhan kebutuhan
perawatan hariannya. Pasien meminta istrinya yang merawat dan menemaninya.
Kebijakan rumah sakit melarang anggota keluarga menunggu di dalam ruang
perawatan. Isteri pasien hanya boleh menemui pasien pada saat watu berkunjung.
Isteri pasien selalu menunggu di luar ruang perawatan dan sangat berharap dapat
membantu merawat suaminya.
3.1 Pengkajian
Pertama

perawat

melakukan

pendekatan

dengan

pasien

dengan

cara

berkomunikasi atau bertanya mengenai latar belakang budaya pasien sehingga terjadi
interaksi antara perawat dengan pasien. Dengan pendekatan yang dilakukan seperti itu
dapat meningkatkan rasa kepercayaan pasien terhadap perawat. Ketika berkomunikasi
perawat diharapkan dapat terbuka oleh pasien. sehingga pada saat itu pasien mau
menceritakan tentang asuhan keperawatan yang di butuhkannya. Perawat dapat
menanyakan kepada pasien mengenai masalah keperawatannya misalnya seperti, pernah
atau tidak pasien mengalami penyakit tersebut sebelumnya. Dari pertanyaan tersebut
perawat dapat menganalisis data sebagai dasar untuk menegakan diagnosis
keperawatannya. Namun dari kasus tersebut perawat mengalami kesulitan dalam
menanyakan kepada pasiennya secara langsung, karena pasien mengalami kesulitan
dalam berbicara. Oleh karena itu, perawat memutuskan untuk mengutamakan sumber
utama pengkajian yaitu dari keluarga (isteri) untuk mempermudah dalam mendapatkan
informasi dan memberikan kenyamanan secara tidak langsung.
Dari kasus di atas dapat disimpulkan bahwa sebelum memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien, perawat diharapkan dapat memahami kultur atau budaya
yang di miliki oleh pasien. Pada saat itu isteri pasien memiliki nilai budaya untuk selalu
ingin merawat pasien. Ketika itu kebudayaan yang dianut oleh isteri adalah kebudayaan
berbakti kepada suami. Dari hal tersebut perawat diharapkan dapat memahami
kebudayaan yang dimiliki oleh pasien sehingga tidak memungkinkan terjadinya cultural
shock. Namun dari kasus diatas, perawat memberikan pengertian kepada pasien
mengenai kebijakan rumah sakit melarang anggota keluarga untuk menunggu pasien di
16

dalam ruang perawatannya. Menurut kebijakan dari rumah sakit isteri pasien hanya
boleh menemui pasien pada saat waktu berkunjung. Ketika klien menolak dirawat oleh
seorang perawat, maka pada saat itu perawat diharapkan dapat berkomunikasi dengan
baik serta memberikan informasi kepada klien mengenai pemenuhan kebutuhan
keperawatannya demi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan klien. Setelah
memberikan penjelasan kepada klien mengenai kebutuhan keperawatannya, pasien
masih tetap menolak untuk dirawat oleh perawat maka pada saat itu perawat diharapkan
dapat memaparkan atau mejelaskan mengenai kondisi klien kepada keluarganya (isteri).
3.2 Diagnosa Keperawatan
Pasien mengalami gangguan peredaran darah di otak, sehingga mengakibatkan
kelumpuhan pada sisi kanan tubuh pasien yang disebabka oleh stroke non hemoragik.
Stroke non hemoragik merupakan gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh
ganggun aliran darah dalam otak yang dapat timbul atau muncul secara mendadak atau
secara cepat dengan gejala atau tanda yang sesuai pada daerah yang terganggu. Ketika
itu pasien juga telah menunjukan ciri-ciri delirium yaitu kesulitan dalam berbicara atau
berbicara terkadang inkoheren (tidak berhubungan).
3.3 Perencanaan Keperawatan
Sebelum menjalankan asuhan keperawatan yang akan diberikan oleh pasien,
perawat diharapkan dapat mendiskusikan kembali dengan pasien atau keluarga (isteri)
mengenai asuhan keperawatan yang sesuai. Dari penjelasan yang sudah diberikan
perawat kepada keluarga (isteri) menegani kondisi kesehatan klien. Karena pada saat itu
klien membutuhkan perawatan intensif selama berlangsungnya asuhan keperawatannya.
Dari penjelasan yang diberikan perawat kepada isteri pasien, diharapkan isteri pasien
dapat berkomunikasi kembali dengan klien agar klien mau mengikuti tindakan asuhan
keperawatan yang sesuai dengan kebijakan rumah sakit yang bertujuan untuk
meningkatkan kemajuan kesehatan klien.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
17

Keperawatan transkultural merupakan suatu tindakan pelayanan kesehatan


yang berfokus kepada analisis dan pebandingan tentang perbedaan budaya. Di era
globalisasi ini seiring dengan perubahan zaman tenaga kerja kesehatan khususnya
perawat diharapkan dapat memahami kultur atau kebudayaan yang ada pada
masyarakat. Kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
mengakibatkan perawat di tuntut untuk dapat maju dalam menjalankan proses
keperawatannya. Pada dasarnya proses keperawatan transkultural dilakukan untuk
mengurangi konflik perbedaan budaya yang terjadi antara perawat dan pasien. Selain itu
memperhatikan keanekaragaman dan nilai-nilai budaya sangat penting dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada pasien.
Perawat juga diharapkan dapat memiliki kemampuan dalam memahami pasien
lebih mendalam sehingga dalam memberikan kesimpulan interpretasi selama penilaian
dapat berjalan dengan tepat dan sesuai dengan landasan teori dan praktik keperawatan.
Ketika membangun hubungan komunikasi dengan pasien diperlukan pemahaman yang
mendalam mengenai latar belakang budaya pasien, sehingga dapat menimbulkan kontak
antara perawat dengan pasien. Dalam mengkaji kesehatan pasien, masing-masing
perawat memiliki presepsi yang berbeda dalam menanggani pasien. Contohnya ketika
mengkaji masalah kesehatan lansia, perawat diharapkan dapat memperhitungkan
hubungan timbal balik fisik dan psikososial penuaan, efek dari penyakit serta
ketidakmampuan kerja fungsional.
Pada dasarnya terdapat perubahan yang memungkinkan muncul pada lansia
meliputi, perubahan psikososial yang berhubungan dengan permasalahan sosial,
peruabahan fisiologis yang berkaitan dengan sistem tubuh serta perubahan kognitif yang
berhubungan atau berkaitan erat dengan penyakit. perawat diharapkan dapat
menyelesaikan masalah pasien. Perawat juga diharapkan dapat menyesuaikan diri
dengan kebudayaan yang ada pada pada pasien. Sehingga dapat terjadi pendekatan
antara perawat dan pasien yang bertujuan untuk membimbing dan mengarahkan pasien.

18