Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS PULANG POKOK (BREAK EVEN ANALYSIS)

1. PENGERTIAN ANALISIS PULANG POKOK (BREAK EVEN ANALYSIS)


Analisis pulang pokok atau analisis impas (break even analysis) merupakan teknik analisis
untuk mempelajari hubungan antara biaya, laba dan volume penjualan (cost - profit - volume
sales). Biaya yang diperhitungkan adalah biaya total yang terdiri atas biaya tetap dan biaya
variabel. Tujuan perusahaan secara umum yaitu berusaha untuk memperoleh laba yang maksimal
untuk kemakmuran pemilik perusahaan dengan memanfaatkan berbagai sumber ekonomi yang
dimiliki. Untuk memperoleh laba tersebut harus mengeluarkan biaya, baik biaya operasi
perusahaan maupun biaya yang dikeluarkan untuk investasi awal. Laba didapat dari selisih antara
penghasilan (pendapatan) yang diperoleh (misalnya dari hasil penjualan produk) dikurangi dengan
total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Penghasilan total (Total Revenue, disingkat TR) dari suatu perusahaan merupakan hasil
kali antara jumlah barang yang dihasilkan / dijual (Quantity, yang disingkat Q) dengan harga per
unit barang tersebut (price, disingkat P). Total Revenue (TR) ini sering disebut sebagai Revenue
(R). Dengan demikian TR = P x Q, di mana TR adalah total pendapatan, P adalah harga per unit
dan Q adalah jumlah unit barang yang dijual. Semakin banyak barang yang dijual, maka semakin
besar pula penghasilan yang diperolehnya. Apabila digambar dalam suatu grafik TR, maka
grafiknya akan dimulai dari titik nol dan berlereng positif.
Dalam operasi perusahaan, biaya yang dikeluarkan perusahaan menurut perilakunya
dikelompokkan dalam dua kategori yaitu biaya tetap (Fixed Cost, disingkat FC) dan biaya variabel
(Variable Cost, disingkat VC). Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya selalu tetap untuk
seluruh jumlah barang yang dihasilkan. Jumlah biaya tetap ini tidak tergantung pada perubahan
volume penjualan (jumlah barang yang dihasilkan). Termasuk biaya tetap misalnya biaya sewa,
biaya penyusutan, biaya bunga, gaji pimpinan, biaya asuransi, dan sebagainya. Biaya tetap ini
akan tetap dikeluarkan walaupun tidak ada barang yang diproduksi /dihasilkan. Dalam suatu grafik,
karena sifatnya yang tetap maka gambar biaya tetap berbentuk garis lurus yang sejajar dengan
sumbu kuantitas (sumbu Q). Notasi biaya tetap dalam persamaan biasa diberi simbul FC atau
simbol k (konstanta).
Biaya variabel merupakan biaya yang besarnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan
volume (jumlah) barang yang dihasilkan atau diproduksi, Oleh karena itu, biaya variabel
merupakan fungsi dari kuantitas barang yang diproduksi atau f(Q). Biaya variabel, misalnya biaya
bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Biaya overhead
pabrik ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kelancaran proses produksi seperti biaya listrik,
biaya air, biaya pemeliharaan mesin pabrik dan sebagainya. Apabila biaya variabel ini digambar
dalam suatu grafik, maka bentuknya berupa garis lurus yang memiliki kemiringan positif. Grafiknya
rnulai dari titik nol (origin) ke kanan atas. Grafik biaya variabel dimulai dari titik nol karena apabila
perusahaan tidak berproduksi maka perusahaan tidak mengeluarkan biaya variabel (nol) dan
semakin banyak barang yang diproduksi, maka biaya variabel semakin besar.
Biaya total (TC) merupakan jumlah biaya tetap dan biaya variabel atas jumlah barang
yang diproduksi/dihasilkan. Dari uraian biaya tetap dan variabel di atas, maka biaya total
(TC) = FC + VC atau TC = k + f(Q). Apabila dalam suatu grafik, biaya total (TC) akan digambar
mulai dari titik biaya tetap kemudian naik ke kanan atas (kemiringan positif), karena biaya total
merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel. Ketika perusahaan belum
memproduksi barang maka perusahaan sudah mengeluarkan biaya total sebesar biaya tetapnya
(FC). Setelah mengetahui total penghasilan (TR) dan total biaya (TC), maka kita dapat mencari
laba atau rugi operasi yaitu selisih antara TR dan TC. Perusahaan akan memperoleh laba
apabila penghasilan total (TR) lebih besar dari biaya total (TC) yang ditanggung. Sebaliknya,
perusahaan akan mengalami rugi apabila penghasilan total (TR) yang diperoleh lebih kecil dari
biaya totalnya (TC). Apabila penghasilan total yang diperoleh besarnya sama dengan biaya total

yang dikeluarkan maka perusahaan tidak mendapat keuntungan (laba) dan tidak menderita
kerugian. Keadaan ini menunjukkan bahwa perusahaan dalam keadaan impas atau berada pada
titik pulang pokok (Break Even Point atau BEP). Dengan demikian Break Even Point (BEP)
tercapai pada saat total penghasilan (TR) = total biaya (TC).
1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.

Analisis BEP memerlukan beberapa asumsi yang harus dipenuhi, yaitu:


Biaya di dalam perusahaan dapat digolongkan ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, oleh
karena itu semua biaya yang dikeluarkan perusahaan harus dapat diklasifikasikan dan diukur
secara realistik sebagai biaya tetap dan biaya variabel
Biaya variabel secara total berubah sebanding dengan volume penjualan/produksi, tetapi
biaya variabel per unitnya tetap.
Biaya tetap secara total jumlahnya tetap (pada range produksi tertentu) meskipun terdapat
perubahan volume penjualan/produksi. Hal ini berarti biaya tetap per unitnya berubah-ubah
karena adanya perubahan volume penjualan/produksi.
Harga jual per unit tidak berubah selama periode waktu yang dianalisis. Tingkat harga pada
umumnya akan stabil dalam jangka pendek. Dengan demikian apabila harga berubah, maka
break even-pun tidak berlaku (berubah).
Perusahaan hanya menjual atau memproduksi satu jenis barang. Artinya hanya terdapat satu
jenis produk yang diproduksi atau dijual perusahaan. Apabila perusahaan memproduksi lebih
dari satu jenis produk, maka perimbangan atau komposisi penggunaan biaya dan
penghasilan atas produk yang dijual (sales mix) harus tetap konstan
Kebijakan manajemen tentang operasi perusahaan tidak berubah secara material
(perubahan besar) dalam jangka pendek.
Kebijakan persediaan barang tetap konstan atau tidak ada persediaan sama sekali, baik
persediaan awal maupun persediaan akhir.
Efisiensi dan produktivitas per karyawan tidak berubah dalam jangka pendek

Dari asumsi-asumsi yang ada pada analisis BEP tersebut di atas, maka Break Even Point
akan berubah bila asumsi-asumsi tersebut di atas mengalami perubahan.
1. Adanya perubahan harga jual
Perubahan harga jual produk dapat berubah naik atau turun. Menurut hukum permintaan,
apabila harga jual naik maka jumlah barang yang diminta oleh konsumen akan menurun. Hal ini
dapat berakibat perubahan jumlah penghasilan totalnya (TR). Demikian pula jika harga jual turun,
maka jumlah barang yang diminta oleh konsumen akan naik sehingga total penghasilannya akan
naik. Jika harga jual naik, dengan asumsi jumlah barang yang diminta tetap, maka titik pulang
pokok (BEP) akan turun, hal ini karena titik pulang pokok akan diperoleh dengan penjualan barang
yang lebih sedikit. Sebaliknya, jika harga jual turun, maka titik pulang pokok (BEP) akan naik,
karena untuk mencapai BEP diperlukan penjualan barang yang lebih banyak.
2. Adanya perubahan biaya tetap dan atau biaya variabel
Naik-turunnya biaya (biaya tetap dan variabel) juga akan mempengaruhi besarnya BEP,
Apabila biaya naik, berarti kita memerlukan barang yang lebih banyak untuk mencapai titik break
even (BEP). Sebaliknya apabila biaya turun, maka kita memerlukan jumlah barang yang lebih
sedikit untuk mencapai titik break even. Batas penurunan jumlah produk yang direncanakan untuk
dijual yang dianggap aman disebut margin of safety. Besarnya penurunan yang dimaksud adalah
penurunan dari penjualan yang direncanakan sampai penjualan pada BEP.
3. Adanya perubahan komposisi penjualan (sales mix)
Analisis BEP merupakan analisis keuangan yang cukup lemah karena asumsinya. Asumsi
BEP bahwa perusahaan hanya menjual satu macam produk hampir tidak mungkin terpenuhi, hal
ini karena sangat jarang perusahaan yang hanya menjual satu jenis produk saja. Oleh karena itu,
apabila analisis BEP diberlakukan bagi perusahaan yang menjual barang lebih dari satu macam
produk, maka komposisi atau perimbangan biaya dan produk yang dijual harus tetap. Misalnya
perusahaan menjual 2 macam produk A dan B dengan perimbangan 2 banding 3 apabila
perusahaan menambah penjualan produk A sebanyak 2 bagian, maka produk B juga harus
ditambah sebanyak 3 bagian. Dengan demikian, maka komposisi penjualan produk A dan B akan
tetap sama.

2. MENENTUKAN TITIK PULANG POKOK (BREAK EVEN POINT)


Untuk menentukan titik pulang pokok (BEP) dapat digunakan secara grafik dan secara
matematis.
1. Menentukan BEP secara grafik
Untuk menentukan posisi BEP dalam grafik, maka perlu digambar variabel-variabel yang
ikut menentukan BEP seperti biaya total (biaya tetap dan biaya variabel) dan pendapatan total.
Pertama, menggambar grafik fungsi pendapatan (TR). Seperti dijelaskan di muka bahwa grafik TR
akan dimulai dari titik origin (titik nol). Kenapa dimulai dari titik nol?. Hal ini karena perusahaan
pada saat itu belum memperoleh pendapatan ketika produksi atau penjualannya sama dengan nol.
Grafik ini akan naik dari titik nol tersebut ke kanan atas. Kedua, menggambar grafik biaya tetap
(FC). Grafik biaya tetap ini sejajar dengan sumbu kuantitas dari kiri ke kanan. Mengapa sejajar
dengan biaya tetap? Hal ini karena grafik biaya tetap ini menunjukkan biaya yang tidak berubah
walaupun produk yang dihasilkan berubah. Ketiga, menggambar biaya total (TC). Grafik biaya
total ini dimulai dari titik potong antara grafik FC dengan sumbu vertikal (dimulai dari grafik FC) ke
kanan atas memotong grafik TR. Mengapa grafik TC dimulai dari grafik FC?. Hal ini karena TC
merupakan penjumlahan antara biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC). Ketika perusahaan
belum berpoduksi maka biaya totalnya adalah sebesar biaya tetapnya. Sedangkan VC merupakan
biaya yang jumlahnya tergantung pada volume produksi yang dihasilkan sehingga VC ini memiliki
karakteristik grafik seperti grafik TR di mana grafik ini dimulai dari nol. Untuk lebih jelasnya lihat
gambar grafik BEP berikut ini

TR

R,C

TC

VC
BEP
R,Co

FC

Qo

(jumlah unit)

Gambar .1. Grafik Break Even Point


dimana:
R
= Revevue (penghasilan)
C
= Cost (biaya)
TR = Total Revenue (total penghasilan)
TC = Total Cost (total biaya)
VC = Variable Cost (biaya vaiabel)
FC = Fixed Cost (biaya tetap)
BEP = Break Even Point (titik pulang pokok)
Qo = Kuantitas produk pada keadaan BEP (dalam unit)
R,Co = Penghasilan dan biaya pada keadaan BEP (dalam rupiah)

2. Menentukan BEP secara matematis


Untuk menentukan posisi BEP secara matematis dapat dicari formula (rumus) untuk
mencari atau menentukan BEP dalam unit dan BEP dalam rupiah. Kedua rumus BEP dalam unit
dan rupiah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
BEP terjadi pada saat total pendapatan sama dengan total biaya yaitu: TR = TC
TR = harga per unit dikalikan kuantitas = P x Q
TC = biaya tetap ditambah biaya variabel = FC + VC
VC = biaya variabel per unit dikalikan kuantitas (Q)
Karena TR = TC
Maka: P/u . Q = FC + VC/u.Q
P/u.Q - VC/u.Q = FC
Q (P/u - VC/u) = FC

Sehingga:

Q BE =

FC
P/u VC/u

Dimana Q BE adalah kuantitas pada keadaan BEP, atau BEP dalam unit tercapai pada:
BEP (unit) =

FC
P/u VC/u

Keadaan BEP dalam rupiah dapat dicari dengan mengalikan kuantitas pada posisi BEP
dengan harga jualnya (P). Keadaan BEP dalam rupiah juga dapat dicari dengan rumus sebagai
berikut:
FC
Pada keadaan QBE =
kedua ruas dikalikan dengan harga per unit atau P
P VC
FC
Sehingga:
P QBE =
xP
P VC
FC
P QBE =
xP
P/P VC/P
FC
FC
P QBE =
atau
1 VC/P
1 VC/S
Dimana: P QBE adalah pendapatan pada keadaan BEP dan VC/P (sering juga ditulis dengan VC/S)
adalah rasio biaya variabel terhadap harga penjualan, sehingga BEP dalam rupiah tercapai pada:
BEP (rupiah) =

FC
FC
atau
1 VC/P
1 VC/S

Untuk dapat lebih dipahami tentang perhitungan analisis BEP baik secara matematis maupun
grafik, berikut ini diberikan contoh sehingga memberikan gambaran yang jelas:
Contoh .1.
Sebuah perusahaan sepeda angin, menjual produknya dengan harga Rp. 400.000,-.
Perusahaan tersebut memiliki biaya tetap tahunan sebesar Rp. 800.000.000,- dan biaya variabel
sebesar Rp. 200.000,- per unit berapapun volume dijual. Untuk mencari titik impas (break even
point) lihat analisis berikut: Dari data di atas maka , BEP dalam unit yaitu:
BEP (unit) = FC / (P - V)
= 800.000.000 / (400.000 - 200.000) unit = 4.000 unit

sedangkan BEP dalam rupiah yaitu:


BEP (Rp) = Q BE x P
= Rp. (4.000 x 400.000) = Rp. 1.600.000.000,atau :BEP (Rp) = FC : (1 VC / P) = 800.000.000 : (1 - 200.000 : 400.000)
BEP (Rp) - 800.000.000 : 0,5 = Rp. 1.600.000.000
Apabila keadaan BEP tersebut di atas digambar akan terlihat sebagai berikut:

R,C (000.000)
Total Pendapatan (TR)
2.400
2.000
1.600

Biaya Total
BEP

Biaya Variabel

800
Biaya Tetap
Jumlah Produksi
0

4.000

(Q unit)

Gambar 2. Grafik Break Even Point


Contoh 2.
Suatu perusahaan bekerja dengan biaya tetap (Fixed Cost) sebesar Rp. 400.000,- per
tahun. Biaya variabel per unit sebesar Rp. 60,-. harga jual per unitnya adalah Rp. 100,-. Kapasitas
normal perusahaan sebesar 15.000 unit per tahun. Ditanyakan:
a. Berapakah BEP dalam unit dan rupiah?
b. Apabila harga naik menjadi Rp. 160 per unit, berapakah BEP-nya?
c. Apabila biaya tetap naik sebesar Rp. 200.000,- dan biaya variabel per unit turun menjadi Rp.
50,-, berapakah BEP-nya (dari keadaan a)?
d. Apabila unit yang diproduksi sebanyak 5.000 unit, berapakah laba atau rugi perusahaan?
e. Gambarlah grafiknya untuk keadaan (a), (b), dan (c) dalam satu grafik!
Untuk menyelesaikan contoh di atas, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:
a. Biaya variabel (VC) = 60 Q
Total biaya (TC) = FC + VC = 400.000 + 60 Q
Total penghasilan (TR) = P x Q = 100 Q
BEP tercapai pada saat TR = TC
yaitu 100 Q = 400.000 + 60 Q
40 Q = 400.000 Q = 10.000 unit
atau = 10.000 x Rp 100 = Rp. 1.000.000
Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 10.000 unit atau pada saat penghasilan dan
biaya mencapai sebesar Rp. 1.000.000.
Jika menggunakan rumus BEP, maka akan diperoleh:
FC
400.000
BEP (unit)
=
=
= 10.000 unit
P/u VC/u
100 - 60
FC
400.000
BEP (rupiah) =
=
= Rp. 1.000.000,1 VC/P
1 - 60/100
b. Apabila harga naik menjadi Rp 160 per unit BEP akan turun
Total penghasilan (TR) menjadi TR' = 160 Q1
Total biaya (TC) tetap yaitu menjadi TC' = 400.000 + 60 Q1

BEP terjadi saat TR' = TC' 160 Q1 = 400.000 + 60 Q1


100 Q1 = 400.000 Q1 = 4.000 unit atau 4.000 x Rp. 160 = Rp. 640.000,Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 4.000 unit, yang berarti turun dari semula
sebesar 10.000 unit, atau pada saat penghasilan / biaya mencapai sebesar Rp. 640.000.
Jika menggunakan rumus BEP, diperoleh:
FC
400.000
BEP (unit)
=
=
= 4.000 unit
P/u VC/u
160 - 60
FC
400.000
BEP (rupiah) =
=
= Rp. 640.000,1 VC/P
1 - 60/160
c. Apabila biaya tetap naik sebesar Rp. 200.000 dan biaya variabel turun menjadi Rp. 50 per
unit
Biaya tetap menjadi = Rp. 400.000 .+ Rp. 200.000 = Rp. 600.000.
Biaya variabel turun menjadi Rp. 50 per unit, maka VC = 50 Q1
Total biaya (TC) menjadi TC' = 600.000 + 50 Q1
Total penghasilan TR = 100 Q1
BEP tercapai pada saat TR' = TC'
100 Q1 = 600.000 + 50 Q1 50 Q1 = 600.000 Q1 = 12.000 unit
atau 12.000 x Rp. 100 = Rp. 1.200.000
Jika kita menggunakan rumus BEP, diperoleh:
FC
600.000
BEP (unit)
=
=
= 12.000 unit
P/u VC/u
100 - 50
FC
600.000
BEP (rupiah) =
=
= Rp. 1.200.000,1 VC/P
1 - 50/100
Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 12.000 unit, yang berarti naik 2.000 unit dari
semula sebesar 10.000 unit, atau pada saat penghasilan dan biaya mencapai sebesar Rp.
1.200.000.
d. Apabila perusahaan memproduksi 5.000 unit, maka yang terjadi:
Q = 5.000 unit
TR = 5.000 x Rp. 100,= Rp. 500.000,TC = 400.000 + (5.000 x 60) = Rp. 700.000.Rugi
= Rp. 200.000,Jadi apabila perusahaan hanya menjual 5.000 unit, maka akan menderita kerugian sebesar Rp.
200.000,- (lihat lagi bahwa BEP-nya sebesar 10.000 unit).
e. Gambar grafik untuk keadaan (a), (b), dan (c) adalah sebagai berikut:

TR,TC

TR (b)

TR (a,c)
12

BEP (c)

TC (c)
TC (a,b)

(00.000)
10

BEP (a)

FC (c)

BEP (b)

FC (a,b)

10
000 (unit)

12

3. Menentukan BEP untuk dua macam produk


Sesuai asumsi yang ada, analisis BEP digunakan bagi perusahaan yang menjual satu
macam produk saja. Apabila perusahaan menjual 2 macam produk atau lebih, maka komposisi
atau perimbangan penjualannya (sales mix) rasio kontribusi marjinnya harus tetap. Rasio
kontribusi marjin merupakan perimbangan antara kontribusi marjin dengan penjualan. Sedangkan
kontribusi marjin merupakan selisih antara penjualan dengan biaya variabel. Dalam rumus BEP
diperoleh:
FC
BEP (dalam rupiah) =
1 VC/P
1 - VC/S merupakan rasio kontribasi marjin. Apabila dua produk memiliki rasio kontribusi marjin
yang berbeda, maka perubahan sales mix kedua produk tersebut akan merubah BEP. Tetapi
apabila dua produk memiliki rasio kontribusi marjin yang sama, maka perubahan sales mix tidak
merubah BEP total kedua produk tersebut. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh 3.
Perusahaan ABC menghasilkan dua macam produk A dan B. Perusahaan memproduksi
produk A sebanyak 10.000 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit dan produk B sebanyak 5.000
unit dengan harga Rp. 30.000,- per unit. Biaya variabel produk A dan B masing-masing sebesar
60% dari penjualan. Biaya tetap produk A sebesar Rp. 20.000.000,- dan produk B sebesar Rp.
30.000.000. Data laporan laba-rugi untuk produk A dan B tersebut sebagai berikut:
Tabel 1. Perhitungan Laba Rugi Produk A dan B
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk A
Rp. 100.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 20.000.000

Produk B
Rp. 150.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 30.000.000

Total
Rp. 250.000.000
Rp. 150.000.000
Rp. 100.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000

Tabel di atas menunjukkan bahwa perimbangan penjualan (sales mix) produk A dan B adalah
1
: 1,5 yaitu perbandingan antara Rp. 100.000.000 : 150.000.000. Sedangkan perimbangan
produknya (product mix) adalah A : B = 2 : 1, yaitu 10.000 unit : 5.000 unit. BEP total, yaitu BEP
produk A dan B dapat dihitung sebagai berikut:
Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P
BEP total =

Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000
=
1 0,60
1 - (150.000.000 : 250.000.000)

BEP total = Rp. 125.000.000,BEP total tercapai pada total penjualan produk A dan B sama dengan total biayanya yakni
sebesar Rp. 125.000.000. Pada keadaan BEP total ini tiap-tiap produk tidak harus dalam keadaan
BEP. Mungkin saja pada saat tercapai BEP total, suatu produk mengalami kerugian sedangkan
produk lain mengalami keuntungan. Untuk contoh di atas, jumlah unit tiap-tiap produk dalam
keadaan BEP total dapat dihitung sebagai berikut: Perimbangan penjualan (sales mix) produk
A : B = 1 : 1,5 atau 2 : 3
Maka penjualan produk A = 2 / 5 x Rp. 125.000.000 = Rp. 50.000.000
atau dalam unit = Rp. 50.000.000 : Rp. 10.000 = 5.000 unit
Penjualan produk B = 3 / 5 x Rp. 125.000.000 = Rp. 75.000.000
atau dalam unit = Rp. 75.000.000 : Rp. 30.000 = 2.500 unit.

Apakah pada perimbangan produk A sebesar 5.000 unit dan produk B sebesar 2.500 unit tercapai
keadaan BEP secara total, kita buktikan dengan perhitungan dalam tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2. Perhitungan BEP Total dari Produk A dan B
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk A (5.000 unit)


Rp. 50.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 0

Produk B (2.500 unit)


Rp. 75.000.000
Rp. 45.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 0

Total
Rp. 125.000.000
Rp. 75.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 0

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada saat tercapai BEP total, maka BEP tiap-tiap
produk juga tercapai, namun keadaan ini tidak pasti terjadi. Mungkin saja ketika tercapai BEP total,
tetapi produk A dan B tidak dalam keadaan BEP. BEP tiap produk tercapai pada saat tercapainya
BEP total apabila rasio kontribusi marjin kedua produk tersebut sama besarnya. Apakah BEP total
produk A dan B akan berubah apabila komposisi (perimbangan) penjualan atau sales mix kedua
produk tersebut berubah. Misalnya jumlah produk A bertambah 50% sehingga menjadi 150% x
10.000 unit = 15.000 unit, sedangkan jumlah produk B tetap. Dengan perubahan sales mix
tersebut, maka perhitungan BEP total yang baru adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Perhitungan Laba Rugi Produk A dan B Setelah Perubahan Sales Mix
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk A (15.000 unit) Produk B (5.000 unit)


Rp. 150.000.000
Rp. 150.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 30.000.000

Total
Rp. 300.000.000
Rp. 180.000.000
Rp. 120.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 70.000.000

Sales mix yang baru produk A dan B = 1 : 1 atau 150.000.000 : 150.000.000


Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P
BEP total yang baru =

Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000
=
1 0,60
1 - (180.000.000 : 300.000.000)

BEP total = Rp. 125.000.000,Bagaimana jika jumlah produk B yang naik sebesar 50% sehingga menjadi 7.500 unit, sedangkan
produk A tetap? Bagaimana BEP total yang baru?. Seperti perhitungan di atas. maka kenaikan
jumlah produk B mengakibatkan BEP totalnya berubah yaitu:
Tabel 4. Perhitungan Laba Rugi Produk A dan B Setelah Perubahan Sales Mix
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk A (10.000 unit)


Rp. 100.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 20.000.000

Produk B (7.500 unit)


Rp. 225.000.000
Rp. 135.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 30.000.000
Rp. 60.000.000

Total
Rp. 325.000.000
Rp. 195.000.000
Rp. 130.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 80.000.000

Sales mix yang baru Produk A dan B = 1 : 2,25 atau 100.000.000 : 225.000.000
Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P

Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000
=
1 0,60
1 - (195.000.000 : 325.000.000)
BEP total = Rp. 125.000.000,Dari perubahan sales mix yang pertama (jumlah produk A bertambah 50%, produk B tetap)
dan perubahan sales mix yang kedua (jumlah produk B naik 50%, produk A tetap) ternyata BEP
total setelah perubahan tersebut tetap sama dengan sebelum perubahan yaitu sebesar Rp.
125.000.000. Perubahan sales mix tersebut di atas tidak merubah BEP total karena rasio
kontribusi marjin kedua produk tersebut sama yaitu sebesar 40 % atau 0,4.
Untuk membandingkan apakah penambahan produk A lebih baik dibanding penambahan produk B atau sebaliknya, kita lihat perhitungannya sebagai berikut:
Tabel 5.
Perbandingan Keadaan Produk A dan B Sebelum dan Setelah Adanya Perubahan Sales Mix

BEP total yang baru =

1 : 1,5
Rp. 50.000.000

Produk A
Bertambah 50%
1:1
Rp. 70.000.000

Produk B
Bertambah 50%
1 : 2,25
Rp. 80.000.000

40%

60%

Rp. 125.000.000

Rp. 125.000.000

Rp. 125.000.000

Keterangan

Sebelum Perubahan

Sales Mix A : B
Laba operasi
Persentase perubahan
laba operasi
Besarnya BEP

Dari hasil analisis perbandingan di atas terlihat bahwa kenaikan jumlah produk B sebesar
50% memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap laba yang diperoleh daripada kenaikan 50%
jumlah produk A. Oleh karena itu perusahaan lebih baik menambah produk B meskipun BEP dari
perubahan tersebut sama besarnya. Karena dengan menambah produk B akan menghasilkan
laba yang lebih besar daripada penambahan produk A. Sekali lagi bahwa BEP total produk A dan
B selalu sama pada berbagai perubahan komposisi penjualan karena rasio kontribusi marjin kedua
produk tersebut sama besarnya. Bagaimana efek perubahan sales mix apabila rasio kontribusi
marjin kedua produk tidak sama? Untuk menjelaskannya kita lihat contoh sebagai berikut:
Contoh 4.
Perusahaan JAYA menghasilkan dua macam produk P dan Q. Perusahaan memproduksi
produk P sebanyak 10.000 unit dengan harga Rp. 10.000 per unit dan produk Q sebanyak 5.000
unit dengan harga Rp. 20.000 per unit. Biaya variabel produk P sebesar 50% dan produk Q
sebesar 40% dari penjualan. Sedangkan biaya tetap produk P sebesar Rp. 40.000.000 dan
produk Q sebesar Rp. 20.000.000. Data laporan laba-rugi untuk produk P dan Q tersebut adalah
sebagai berikut:
Tabel 6. Perhitungan Laba Rugi Produk P dan Q
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk P
Rp. 100.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 10.000.000

Produk Q
Rp. 100.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 40.000.000

Total
Rp. 200.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 110.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 50.000.000

Tabel di atas menunjukkan bahwa perimbangan penjualan (sales mix) produk P dan Q adalah 1 : 1
yaitu perbandingan antara Rp. 100.000.000 : 100.000.000. Sedangkan perimbangan produknya
(product mix) adalah P : Q = 2 : I, yaitu 10.000 unit : 5.000 unit. Adapun BEP total, yaitu BEP
produk P dan Q dapat dihitung sebagai berikut:
Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P
Rp. 60.000.000
Rp. 60.000.000
BEP total yang baru =
=
1 0,45
1 - (90.000.000 : 200.000.000)

BEP total = Rp. 109.090.909,BEP total tercapai pada total penjualan produk P dan Q sama dengan total biayanya yakni
sebesar Rp. 109.090.909. Pada keadaan BEP total ini tiap-tiap produk tidak harus dalam keadaan
BEP. Mungkin saja pada saat tercapai BEP total, suatu produk mengalami kerugian sedangkan
produk lain mengalami keuntungan. Untuk contoh di atas, jumlah unit tiap-tiap produk dalam
keadaan BEP total dapat dihitung sebagai berikut:
Perimbangan penjualan (sales mix) produk P : Q = 1 : 1
Maka penjualan produk P = 1 / 2 x Rp. 109.090.909 = Rp. 54.545.454,55
atau dalam unit = Rp. 54.545.454,55 : Rp. 10.000 = 5.454,55 unit
Penjualan produk Q = 1 / 2 x Rp. 109.090.909 = Rp. 54.545.454,55
atau dalam unit = Rp. 54.545.454,55 : Rp. 20.000 = 2.727,27 unit.
Apakah pada perimbangan produk P sebesar 5.454,55 unit dan produk Q sebesar 2.727,27
unit tercapai keadaan BEP secara total, kita buktikan dengan perhitungan berikut:
Tabel 7. Perhitungan BEP Total dari Produk P dan Q
Produk P
(5.454,55 unit)
Penjualan:
Rp. 54.545.454,55
Biaya variabel
Rp. 27.272.727,28
Kontribusi marjin
Rp. 27.272.727,27
Biaya tetap
Rp. 40.000.000
Laba (rugi) operasi (Rp. 12.727.272,73)
Keterangan

Produk Q
(2.727,27 unit)
Rp. 54.545.454,55
Rp. 21.818.181,82
Rp. 32.727.272,73
Rp. 20.000.000
Rp. 12.727.272,73

Total
Rp. 109.090.909
Rp. 49.090.909
Rp. 60.000.000
Rp. 60.000.000
Rp.
0

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa pada saat tercapai BEP total, maka tiap-tiap
produk tidak mencapai BEP. Produk P mengalami kerugian sebesar Rp. 12.727.272,73 sedangkan
produk Q memperoleh laba sebesar Rp. 12.727.272,73. BEP tiap produk tercapai pada saat
tercapainya BEP total apabila rasio kontribusi marjin kedua produk tersebut sama besarnya.
Sedangkan dalam contoh di atas rasio kontribusi marjin produk P sebesar (1 - 0,5 = 0,5) tidak
sama dengan produk Q yaitu 1 - 0,4 = 0,6.
Apakah BEP total produk A dan B akan berubah apabila komposisi (perimbangan)
penjualan atau sales mix kedua produk tersebut berubah. Misalnya jumlah produk P bertambah
50% sehingga menjadi 150% x 10.000 unit = 15.000 unit, sedangkan jumlah produk Q tetap.
Dengan perubahan sales mix tersebut, maka perhitungan BEP total yang baru sebagai berikut:
Tabel 8. Perhitungan Laba Rugi Produk P dan Q Setelah Perubahan Sales Mix
Keterangan
Penjualan:
Biaya variabel
Kontribusi marjin
Biaya tetap
Laba operasi

Produk P
(15.000 unit)
Rp. 150.000.000
Rp. 75.000.000
Rp. 75.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 35.000.000

Produk Q
(5.000 unit)
Rp. 100.000.000
Rp. 40.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 40.000.000

Total
Rp. 250.000.000
Rp. 115.000.000
Rp. 135.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 75.000.000

Sales mix yang baru P dan Q = 1,5 : 1 atau 3 : 2 dari 150.000.000 : 100.000.000
Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P
Rp. 60.000.000
Rp. 60.000.000
BEP total yang baru =
=
1 0,44
1 - (115.000.0 00 : 250.000.000)
BEP total = Rp. 107.142.857,-

Bagaimana jika jumlah produk Q yang naik sebesar 50% sehingga menjadi 7.500 unit,
sedangkan produk P tetap? Bagaimana BEP total yang baru?.
Seperti perhitungan di atas, maka kenaikan jumlah produk B mengakibatkan BEP
totalnya berubah yaitu:
Tabel 9. Perhitungan Laba Rugi Produk P dan Q Setelah Perubahan Sales Mix
Produk P
(10.000 unit)
Penjualan:
Rp. 100.000.000
Biaya variabel
Rp. 50.000.000
Kontribusi marjin Rp. 50.000.000
Biaya tetap
Rp. 40.000.000
Laba operasi
Rp. 10.000.000
Keterangan

Produk Q
(7.500 unit)
Rp. 150.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 90.000.000
Rp. 20.000.000
Rp. 70.000.000

Total
Rp. 250.000.000
Rp. 110.000.000
Rp. 140.000.000
Rp. 60.000.000
Rp. 80.000.000

Sales mix yang baru P dan Q = 1 : 1,5 atau 2 : 3 dari 100.000.000 : 150.000.000
Biaya tetap total
FC total
BEP total dalam rupiah =
=
1 (VC total : Penjualan total)
1 VC/P
Rp. 60.000.000
Rp. 60.000.000
BEP total yang baru =
=
1 0,44
1 - (110.000.0 00 : 250.000.000)
BEP total = Rp. 107.142.857,Dari perubahan sales mix yang pertama (jumlah produk P bertambah 50%, produk Q tetap) dan
perubahan sales mix yang kedua (jumlah produk Q naik 50%, produk P tetap) ternyata BEP total
setelah perubahan tersebut berbeda. Hal ini berbeda dengan hasil pada Contoh 17.3 di atas.
Perubahan sales mix tersebut di atas merubah BEP total karena rasio kontribusi marjin kedua
produk tersebut tidak sama yaitu produk P sebesar 50% dan produk Q sebesar 60%. Untuk
melihat apakah penambahan produk P lebih baik dibanding penambahan produk Q atau
sebaliknya, kita lihat perhitungannya sebagai berikut:
Tabel 10. Perbandingan Keadaan Produk P dan Q Sebelum dan Setelah Adanya Perubahan
Sales Mix
Sebelum
Produk P
Produk Q
Keterangan
Perubahan
Bertambah 50%
Bertambah 50%
Sales mix P : Q
1:1
1,5 : 1
1 : 1,5
Laba operasi total
Rp. 50.000.000
Rp. 75.000.000
Rp. 80.000.000
Persentase perubahan
50%
60%
laba operasi
Besarnya BEP
Rp. 125.000.000
Rp. 111.111.111
Rp. 107.142.857
Dari hasil analisis perbandingan di atas terlihat bahwa kenaikan jumlah produk Q sebesar
50% memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap laba yang diperoleh daripada kenaikan 50%
jumlah produk P. Oleh karena itu perusahaan lebih baik menambah produk Q daripada menambah
produk P hal ini karena perubahan Q tersebut menghasilkan laba yang lebih besar dan tingkat
BEP-nya lebih rendah.

17.3.

BEP NON LINIER

Analisis BEP yang telah kita bahas di atas terutama digunakan untuk keadaan yang
berubah secara linier. Misalnya harga per unit produk yang kita analisis berubah secara linier.
Demikian juga biaya variabel yang berubah secara linier. Situasi tersebut dalam kenyataannya
sering sulit ditemukan. Harga produk misalnya mengalami penurunan apabila jumlah produk yang
dibeli banyak. Misalnya, ketika kita membeli 1 buah produk harganya Rp. 1.000. Tetapi bila kita
membeli 2 buah produk maka harganya hanya Rp. 1.900. Ini berarti ada diskon sebesar Rp. 100
atau harga per produk menjadi hanya Rp. 950,- Keadaan seperti itu juga terjadi pada biaya.
Analisis BEP yang akan dibahas sekarang apabila fungsi pendapatan dan biayanya tidak
linier (non linier), misalnya berbentuk parabola. Pada keadaan non linier ini, maka dalam grafik
akan kita dapatkan keadaan BEP lebih dari satu titik. Pada dasarnya analisis biaya, volume dan
laba (analisis BEP) baik menggunakan fungsi linier maupun non linier tidak berbeda. Perbedaan
terjadi pada perilaku biaya dan pendapatan itu sendiri sehingga mengakibatkan penggambaran
graflknya berbeda.
Sudah kita ketahui bahwa biaya produksi terdiri dari biaya tetap (fixed cost - FC) dan biaya
variabel (variable cost = VC). Biaya total (total cost = TC) merupakan penjumlahan biaya tetap
dengan biaya variabel. Selain pengertian biaya tetap, biaya variabel dan biaya total tersebut, kita
kenal pula konsep biaya yang lain yaitu biaya rata-rata (average cost = AC) dan biaya marjinal
atau biaya tambahan (marginal cost = MC). Biaya rata-rata merupakan hasil bagi antara biaya total
dengan jumlah unit barang yang diproduksi, sehingga biaya rata-rata (AC) = TC/Q, dimana Q
adalah jumlah unit yang diproduksi. Sedangkan biaya marjinal merupakan tambahan biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan tambahan 1 (satu) unit produk atau barang yang
dihasilkan.
Apabila volume produksi dihubungkan dengan biaya produksi, maka volume produksi ini
akan menentukan besarnya jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat barang tersebut.
Di samping biaya total dapat juga ditentukan besarnya biaya variabel, biaya tetap, biaya rata-rata,
dan biaya marjinalnya (marginal cost, A/Q. Volume produksi biasanya diberi notasi Q (quantity).
Secara matematis, hubungan antara biaya tersebut di atas dan volume produksi dijelaskan
sebagai berikut:
Biaya total (Total Cost) = TC = VC + FC
Variable Cost (VC) = f(Q)
Fixed Cost (FC) = k (konstanta),
Sehingga TC = f(Q) + k
Average Cost (AC) = TC / Q
Average Variable Cost (AVC) = VC / Q
Average Fixed Cost (AFC) = FC / Q
Karena TC = VC + FC, maka AC = AVC + AFC
TC
Tambahan Total Biaya
Marginal Cost (MC) =
=
Q
Tambahan Unit Produksi
Di samping berhubungan dengan biaya yang dikeluarkan, volume produksi juga akan
menentukan besarnya pendapatan total (Total Revenue, TR) yang akan diterima oleh perusahaan.
Pendapatan total ini merupakan hasil kali antara jumlah barang yang dijual (Q) dengan harga
barang per unitnya (Price, P). Hal ini berarti bahwa pendapatan total ini juga merupakan fungsi dari
jumlah barang yang dijual. Dalam konsep pendapatan juga dikenal pendapatan rata-rata (average
revenue, AR) yaitu merupakan hasil bagi antara pendapatan total dengan jumlah barang yang
dijual. Disamping itu ada juga konsep pendapatan marjinal (marginal revenue, MR), yaitu
merupakan tambahan pendapatan yang diperoleh karena adanya tambahan satu unit barang yang
dijual. Secara matematis, konsep pendapatan tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pendapatan total (Total Revenue) = TR = f(Q) =
P x Q Pendapatan rata-rata ( Average
Revenue) AR = TR / Q
Pendapatan Marjinal (Marginal Revenue)

MR =

Tambahan Pendapatan Total


TR
=
Tambahan Unit Penjualan
Q

Telah dijelaskan di muka bahwa pendapatan rata-rata (AR) merupakan pendapatan total
(TR) dibagi dengan jumlah unit barang yang dijual (Q). Padahal kita tahu bahwa pendapatan total
(TR) juga sama dengan harga (P) kali jumlah unit barang yang dijual (Q). Hal ini berarti
pendapatan rata-rata sama dengan harga jual per unit.
Jadi: AR = TR / Q TR = AR x Q
TR = P x Q
Maka AR = P
Apabila digambarkan dalam grafik ternyata grafik fungsi pendapatan rata-rata akan sama
dengan fungsi pendapatan barang yang dijual. Hal ini terutama akan terjadi pada pasar
persaingan sempurna di mana di pasar tersebut banyak penjual yang menawarkan barang yang
sama sehingga penjual tidak dapat menentukan harga seenaknya. Harga akan sangat dipengaruhi
oleh permintaan dan penawaran yang terjadi.
Pada analisis BEP yang non linier, pendapatan maksimal dari barang yang dijual akan
tercapai pada titik puncak fungsi pendapatan yang dimaksud. Sedangkan laba maksimal akan
tercapai pada titik puncak fungsi labanya. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut
ini diberikan contoh perhitungannya.
Contoh 17.5.
Perusahaan BAHANA menghadapi fungsi permintaan atas produk yang dijualnya sebagai
berikut: P = -4Q + 520, dan fungsi biayanya adalah TC = Q2 + 20Q + 3.500.
Dari informasi tersebut ditanyakan:
a. Titik pulang pokok (Break Even Point, BEP)
b. Pendapatan (Total Revenue, TR) maksimal
c. Keuntungan (laba) maksimal
d. Gambar grafiknya
Dari contoh soal di atas, kita tidak menggunakan formula BEP sebagaimana telah dijelaskan di
muka tetapi menggunakan perhitungan matematis biasa sebagai berikut:
a. Titik pulang pokok (Break Even Point, BEP) tercapai pada saat TR = TC
TR = P x Q = (- 4Q + 520) Q
TR = -4Q2 + 520 Q
TC = Q2 + 20Q + 3.500
BEP tercapai pada TR = TC -4 Q2 + 520Q = Q2 + 20Q + 3.500
-5 Q2 + 500Q - 3.500 = 0
-Q2 + 100Q - 700 = 0
Q1,2 =
Q1,2 =

4ac

2a
100

100 2

4.(1).(700)
2.(-1)

Q1,2 =

100 10.000 2.800


-2

Q1,2 =

100 7.200
-2

100 84,85
-2
100 84,85
Q1 =
= 7,85
-2
Q1,2 =

100 84,85
= 92,43
-2
Untuk Q1 = 7,58
TR = -4Q2 + 520Q = -4 (7,58)2 + 520 (7,58)
TR =-229,83+ 3.941,6
TR = 3.711,77 = Rp 3.712,- (dibulatkan)
P = -4Q + 520
P = -4 (7,58) + 520 P = 489,68 sebagai p1 = 490 (dibulatkan)
Untuk Q2 = 92,43
TR = -4Q2 + 520Q = -4 (92,43) 2 + 520 (92,43)
TR = -34.173,22 + 48.063,6
TR = 13.890,38 = Rp. 13.890,- (dibulatkan)
P = -4Q + 520
P = -4 (92,43) + 520 P = -369,72 + 520
P = 150,28 sebagai P2 = 150 (dibulatkan)
Jadi BEP tercapai pada saat:
BEP1 Q1 = 7,28 dan P1 = 489,68
BEP2 Q2 = 92,43 dan P2 = 150,28
Q1 =

b. Pendapatan maksimal
Pendapatan maksimal tercapai pada titik puncak fungsi pendapatan yaitu Q = -b / 2a
TR = 520Q - 4Q2
Q = -b / 2a = -520 / 2 (-4) = -520 / (-8) = 65 unit
P = 520 - 4Q = 520 4 (65) = 520 - 260 = Rp. 260
TR = 520Q - 4Q2
TR = 520(65) 4 (65)2
TR = 33.800 - 16.900 = Rp. 16.900,Jadi pendapatan maksimalnya adalah sebesar Rp. 16.900,- yang tercapai pada saat Q = 65
unit dan harganya P = Rp. 260.
c. Keuntungan (laba) maksimal
Keuntungan maksimal tercapai pada titik puncak fungsi keuntungan (fungsi laba).
Laba () = TR - TC
= 520Q - 4Q2 - (Q2 + 20Q + 3500)
= -5Q2 + 500Q - 3500
Laba () maksimal tercapai pada Q = -b/2a
= -500 / 2.(-5) = -500 / (-10) = 50 unit
Pada Q = 50 unit
Maka laba () = -5 (50)2 + 500 (50) - 3.500
= -12.500 + 25.000 - 3.500
= Rp. 9.000
Jadi laba maksimal tercapai pada saat jumlah barang yang dijual sebanyak 50 unit dengan laba
yang diperoleh sebesar Rp. 9.000,-.

d. Gambar grafiknya adalah sebagai berikut:

TR, TC (000)
A

16
B

TR = Q2 + 20Q + 3.500

14

BEP2 (92,43; 13.890)

C
4

TR = -4Q2 + 520Q

BEP1 (7,58; 3.712)

unit
0

10
Q1

50 65
Q3 Q4

92
Q2

Keterangan:
Q1 dan Q2 = jumlah produksi pada keadaan BEP
BC
= laba maksimal
BEP1
= BEP pertama pada titik (7,58; 3.712)
BEP2
= BEP kedua pada titik (92,43; 13.890)
A = titik puncak fungsi pendapatan (pendapatan maksimal)
Q3 = jumlah produksi pada laba maksimal (50 unit)
Q4 = jumlah produksi pada pendapatan maksimal (65 unit)
4. BEP UNTUK PERENCANAAN LABA
Analisis Break Even Point (BEP) sangat bermanfaat untuk merencanakan laba
perusahaan. Dengan mengetahui besarnya BEP maka kita dapat menentukan berapa jumlah
minimal produk yang harus dijual (budget sales) dan harga jualnya (sales price) apabila kita
menginginkan laba tertentu. Dengan mengetahui budget sales tersebut kita juga dapat mengetahui
besarnya margin of safety yang harus dipertahankan oleh perusahaan. Margin of safety (MOS)
merupakan persentase batas penurunan penjualan sampai dengan keadaan BEP. Margin of safety
ini juga merupakan batas risiko penurunan penjualan hingga perusahan tidak memperoleh
keuntungan dan tidak menderita kerugian. Untuk lebih jelasnya diberikan contoh sebagai berikut:
Contoh 6.
Pada tahun 2001 perusahaan ANDIKA dalam operasinya mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp.
10.000.000 per tahun. Biaya variabel per unit sebesar Rp. 2.000,-. Sedangkan harga jual per
unitnya adalah Rp. 6.000,- Dari informasi tersebut ditanyakan:
a. Berapakah BEP dalam unit dan rupiah?
b. Berapa penjualan yang harus dicapai bila perusahaan ANDIKA menginginkan laba
Rp.
2.000.000 pada Tahun 2002?
c. Berapa penjualan yang harus dicapai bila perusahaan ANDIKA menginginkan laba sebesar
20% dari penjualan pada Tahun 2003?

d. Berapa batas penurunan penjualan (margin of safety) perusahaan Tahun 2002 dan Tahun
2003?
e. Berapa penjualan yang dicapai perusahaan apabila perusahaan terpaksa harus menutup
pabriknya?
f. Gambarlah grafik untuk keadaan poin a dan e di atas!
Untuk menyelesaikan soal di atas, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:
a. Break Even Point
Biaya Tetap
10.000.000
BEP (unit) =
=
Harga Biaya Variabel
6.000 2.000
BEP (unit) = 2.500 unit
BEP (Rp) = 2.500 x Rp. 6.000 = Rp. 15.000.000,b. Penjualan yang direncanakan (budget sales) bila ingin laba Rp. 2.000.000
Biaya Tetap Laba
10.000.000 2.000.000
Penjualan =
=
Harga Biaya Variabel
6.000 2.000
Penjualan (dalam unit) = 3.000 unit
Penjualan (dalam rupiah) = 3.000 x Rp. 6.000 = Rp. 18.000.000,c. Penjualan yang direncanakan (budget sales) Tahun 2003 bila ingin laba 20%
Misalkan penjualan yang direncanakan = Rp. X
Biaya Tetap 0,2X
10.000.000 0,2X
X=
=
1 - (Biaya Variabel/P enjualan)
1 (2.000/6.000)
10.000.000 0,2X
X=
1 1/3
0,6667 X = 10.000.000 + 0,2 X 0,4667 X = 10.000.000
X = Rp. 2 1.427.041 atau = Rp. 21.427.041 / 6.000 = 3.571,17 unit.
Jadi, agar perusahaan dapat mernperoleh laba sebesar 20%, maka harus memperoleh
penjualan sebesar Rp. 21.427.041 atau 3.571 unit (dibulatkan).
Buktinya:
Penjualan
= Rp. 21.427.041
Biaya variabel : 3.57 1 , 1 7 x Rp 2.000 = Rp. 7.142.340 (-)
Kontribusi marjin
= Rp. 14.284.701
Biaya tetap
= Rp. 10.000.000 (-)
Laba
= Rp. 4.284.701
Laba (%) = (4.284.70 1 : 21.427.041) x 100% = 20%.
d. Batas penurunan penjualan (margin of safety) Tahun 2002 dan 2003?
Margin of safety =

Penjualan yang direncanakan Penjualan BEP


x 100%
Penjualan yang direncanakan

18.000.000 15.000.000
x 100%
18.000.000
21.427.041 15.000.000
Margin of safety Tahun 2003 =
x 100%
21.427.041
Margin of safety Tahun 2002 sebesar 16,67% artinya batas penurunan penjualan Tahun 2002
maksimal sebesar 16,67%. Apabila penurunan penjualan melebihi 16,67%, maka perusahaan
akan menderita kerugian. Sebaliknya, apabila penurunan penjualan kurang dari 16,67%
perusahaan masih mendapat keuntungan.
Demikian pula margin of safety Tahun 2003 sebesar 30% artinya batas penurunan penjualan
Tahun 2003 maksimal sebesar 30%. Apabila penurunan penjualan melebihi 30%. maka
perusahaan akan menderita kerugian. Sebaliknya, apabila penurunan penjualan kurang dari
30%, maka perusahaan masih mendapat keuntungan.
Margin of safety Tahun 2002 =

e. Penjualan yang dicapai perusahaan sampai perusahaan terpaksa harus menutup


pabriknya?
Apabila hasil penjualan perusahaan hanya dapat menutup biaya tetap tunai saja, maka
perusahaan sebaiknya ditutup saja. Keadaan ini disebut titik tutup pabrik (shut down point).
Pada keadaan tutup pabrik ini besarnya kontribusi marjin yang diperoleh hanya dapat untuk
menutup biaya variabel dan biaya tetap tunai yang ditanggung. Biaya tetap tunai misalnya biaya
asuransi, biaya gaji, biaya sewa dan biaya promosi. Sedangkan biaya tetap yang tidak tunai
misalnya biaya depresiasi. Padahal biaya tetap (baik biaya tetap tunai maupun tidak tunai)
merupakan biaya yang besarnya tidak terpengaruh oleh besarnya jumlah produk yang dijual.
Hal ini berarti berapa pun penambahan jumlah produk yang dijual tidak menambah keuntungan
atau penambahan jumlah penjualan akan sama dengan tambahan biaya variabelnya, sehingga
penambahan penjualan tidak menambah keuntungan. Jika perusahaan mengalami hal
demikian, maka perusahaan ditutup saja. Untuk contoh di atas diasumsikan biaya tetap tunai
sebesar 60% dari total biaya tetapnya yaitu sebesar 60% x Rp. 10.000.000 = Rp. 6.000.000,
maka titik tutup pabriknya diformulasikan sebagai berikut:
6.000.000
Biaya Tetap Tunai
Titik tutup pabrik =
=
Rasio Kontribusi Marjin 1 - (2.000 : 6.000)
Titik tutup pabrik = 6.000.000 : 0,6667 = Rp. 8.999.550
Atau pada produksi sebanyak Rp. 8.999.550 : Rp. 6.000 / unit = 1.500 unit.

f. Gambar grafik untuk keadaan (a) dan (e) adalah sebagai berikut:
TR

TR,TC (Rp. 000)

TC
15.000
BEP
10.000

Biaya tetap total

8.999

Titik tutup pabrik

6.000

Biaya tetap tunai

Q (unit)
0

1.500

2.500

3.000

5. SOAL DAN PENYELESAIANNYA


Soal 1.
Suatu perusahaan memiliki biaya total rata-rata (average total cost) sebesar Rp. 1.000. Jumlah
produk yang diproduksi sebanyak 7.500 unit. Laba yang diperoleh dari penjualan produk tersebut
sebesar Rp 3.000.000. Apabila total biaya variabelnya sebesar Rp. 3.000.000, maka:
a. Hitunglah nilai Break Even Point (BEP) dalam unit dan rupiah.
b. Apabila biaya tetap total berubah menjadi Rp 5.000.000, berapa BEP yang baru?
c. Berapa unit produk yang harus dijual (sebelum perubahan soal b) apabila perusahaan
menginginkan laba sebesar Rp. 1.000.000
Penyelesaiannya:
a. Menghitung besarnya Break Even Point (BEP)
Total biaya = Jumlah unit x biaya rata-rata = 7.500 x Rp. 1.000 = Rp. 7.500.000
Laba
= Rp. 3.000.000
Total pendapatan (Total Revenue, TR) = jumlah unit x harga
= Rp. 10.500.000
Harga per unit Rp. 10.500.000 : 7.500 unit = Rp. 1.400,-.
Biaya tetap = Biaya total - biaya variabel = Rp. 7.500.000 Rp. 3.000.000
Biaya tetap = Rp. 4.500.000
Biaya variabel per unit - Rp 3.000.000 : 7.500 = Rp. 400,Biaya Tetap
FC
BEP (unit) =
=
Harga - Biaya Variabel
P/u - VC/u
BEP (unit) =

Rp. 4.500.000
= 4.500 unit
Rp. 1.400 - Rp. 400

BEP (Rp.) =

FC
Rp. 4.500.000
=
P/u - VC/u
1 - 400/1.400

BEP (Rp.) =

Rp. 4.500.000
= Rp. 6.300.000,0,7143

b. Menghitung besarnya BEP bila biaya tetap naik menjadi Rp. 5.000.000
FC
Rp. 5.000.000
BEP (Rp.) =
=
= 5.000 unit
P/u - VC/u
1 - 400/1.400

BEP (Rp.) =

Rp. 5.000.000
= Rp. 7.000.000,1 - 400/1.400

c. Menghitung produk yang dijual jika ingin laba Rp. 1.000.000


4.500.000 1.000.000
FC laba
Produk (unit) =
=
= 5.500 unit
1.400 - Rp. 400
P/u - VC/u
Soal 2.
Perusahaan MAINAN ANAK bekerja dengan biaya tetap sebesar Rp. 4.000.000 per tahun. Biaya
variabel per unit sebesar Rp. 800,-. Sedangkan harga jual per unitnya adalah
Rp.
1.800,-. Dari informasi tersebut ditanyakan:
a. Berapakah total produksinya pada saat perusahaan mencapai BEP?
b. Apabila harga naik menjadi Rp. 2.050 per unit, berapakah BEP-nya?
c. Apabila biaya tetap naik sebesar Rp. l.000.000 dan biaya variabel per unit turun menjadi Rp.
550,-, berakah BEP-nya (dari keadaan (a))?
d. Apabila unit yang diproduksi sebanyak 12.000 unit, berapakah laba atau rugi perusahaan?
e. Gambarlah grafiknya untuk keadaan (a), (b), dan (c) dalam satu grafik!
Untuk menyelesaikan soal di atas, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:
a. Biaya variabel (VC) = 800 Q
Total biaya (TC) - FC + VC = 4.000.000 + 800Q
Total penghasilan (TR) = P x Q - 1.800Q
BEP tercapai pada saat TR = TC
1.800Q = 4.000.000+ 800Q
1.000Q = 4.000.000 Q -4.000 unit
atau - 4.000 x Rp. 1.800 Rp. 7.200.000
Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 4.000 unit atau pada saat penghasilan/biaya
mencapai sebesar Rp. 7.200.000.
b. Apabila harga naik menjadi Rp. 2.050 per unit BEP akan turun
Total penghasilan (TR) menjadi TR' = 2.050 Q1
Total biaya (TC) tetap yaitu menjadi TC' = 4.000.000 + 800Q1
BEP : TR' = TC'
2.050Q1 = 4.000.000 + 800Q1
1.250Q1 = 4.000.000 Q1 = 3.200 unit
atau 3.200 x Rp. 2.050 = Rp. 6.560.000,Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 3.200 unit, yang berarti turun dari semula
sebesar 4.000 unit, atau pada saat penghasilan/biaya mencapai sebesar Rp. 6.560.000 turun
dari Rp. 7.200.000
c. Biaya tetap naik sebesar Rp. 3.000.000 dan biaya variabel turun menjadi Rp. 550
Biaya tetap menjadi = Rp. 4.000.000 + Rp. 3.000.000 = Rp. 7.000.000.
Biaya variabel turun menjadi Rp. 550 per unit, maka VC = 550Q1
Total biaya (TC') menjadi TC' = 7.000.000 + 550Q1
Total penghasilan TR' = l.800 Q1
BEP tercapai pada saat TR' = TC1
1.800 Q1 = 7.000.000 + 550Q1
1.250Q1 = 7.000.000 Q1 = 5.600 unit
atau 5.600 x Rp. 1.800 = Rp. 10.080.000
Jadi BEP tercapai pada jumlah produk sebesar 5.600 unit berarti BEP-nya naik dari keadaan
sebelumnya dengan pendapatan sebesar Rp 10.080.000.

d. Apabila perusahaan memproduksi 12.000 unit, maka yang terjadi:


Q = 12.000 unit
TR = 12.000 x Rp. 1.800,= Rp. 21.600.000,TC = 4.000.000 + (12.000 x 800) = Rp. 13.600.000,Laba
= Rp. 8.000.000,Jadi apabila perusahaan menjual 12.000 unit, maka akan memperoleh laba sebesar
Rp. 8.000.000,- (lihat lagi bahwa BEP-nya sebesar 4.000 unit).
e. Gambar grafik untuk keadaan (a), (b), dan (c) adalah sebagai berikut:

TR,TC (000)

TR (b)
TR (a,c)

10.080

BEP (c)

7.200

BEP (a)

6.560

TC (c)
TC (a,b)

FC (c)

BEP (b)

4.000

FC (a,b)

3.200

4.000

5.600

Q (unit)