Anda di halaman 1dari 5

Nama : Suseno

Nim

: 1103015007

Prodi

: Agroekoteknologi

No.HP : 085346848450
Ujian

: Reklamasi Lahan Sesuai Peraturan no 18 Tahun 2008

Lahan bekas tambang karakteristik topografi dan hidrologi yang berbeda-beda


tergantung kepada jenis bahan tambang dan cara penambangannya. Kondisi lahan bekas
tambang batubara berbeda dibandingkan dengan lahan bekas tambang mineral,
sepertiemas dan tembaga serta bauksit, timah dan nikel. Demikian pula dengan
cara penambangan, yaitu tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Perbedaan tersebut
membawa konsekuensi kepada berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melakukan
reklamasi lahan-lahan bekas tambang.
Penambangan batu bara terbuka menyebabkan pembukaan lahan yang luas dan
pemindahan lapisan batuan penutup (overburden) dalam jumlah yang besar. Oleh
karenanya, reklamasi wajib dilaksanakan untuk:
1.

Mengembalikan daerah bekas tambang ke kondisi yang aman, stabil, dan produktif.

2.

Menyediakan tanah yang secara ekologi memiliki kegunaan produktif untuk masa
depan.
Untuk memastikan bahwa tahapan reklamasi dilaksanakan secara konsisten dan

berkelanjutan, ditetapkanlah spesifikasi rehabilitasi yang didukung oleh audit rehabilitasi


yang ketat.
Tahapan Reklamasi Di perusahaan batu bara PT Kaltim Prima Coal (KPC), kegiatan
reklamasi terdiri atas tahapan sebagai berikut.
1. Perencanaan Reklamasi
Reklamasi merupakan bagian tak terpisahkan dari setiap sekuen/tahapan
penambangan. Oleh karenanya, perencanaan reklamasi menjadi terintegrasi dengan
perencanaan tambang, baik jangka panjang maupun pendek. Perencanaan reklamasi
jangka panjang merupakan perencanaan sampai berakhirnya masa tambang (life of

mine). Masa tambang ini kemudian dijabarkan lebih terperinci ke dalam perencanaan
lima dan satu tahunan. Perencanaan lebih terperinci per area rehabilitasi dan akses
jalan ini dijabarkan dalam dump drainage rehabilitation (DDR).
2. Survei Keanekaragaman Hayati
Prosedur pengelolaan keanekaragaman hayati telah disusun untuk menjamin
terlaksananya kegiatan ini. Tahapan ini mengharuskan dilaksanakannya survei flora
dan fauna pada daerah rencana penambangan lima tahun ke depan sebagai dasar
pengembangan jenis bibit di kebun pembibitan nursery dan pengembangan
arboretum. Arboretum ini telah dikembangkan sejak 2006 di suatu daerah reklamasi
bekas tambang di D2 Surya dengan luas 22 hektare. Sementara itu, nursery memiliki
koleksi bibit tanaman sebanyak 67 spesies. Di antara jumlah itu, ada 33 jenis yang
merupakan spesies lokal yang banyak diperoleh dari hutan sekitar. Dari 33 jenis lokal
tersebut, ada 9 spesies tanaman Dipterocarpaceae dan 15 spesies yang merupakan
tanaman buah-buahan.
3. Pengelolaan

Tanah

a. Pengelolaan tanah sebelum penambangan.


Ini dilakukan dengan menggunakan alat dan kendaraan khusus untuk pemadatan
agar benih-benih tanaman yang terdapat pada tanah tersebut

bisa tumbuh lagi di

daerah penyebaran. Lalu, tanah dipindahkan dan disebarkan kembali di daerah yang
akan direhabilitasi atau disimpan untuk sementara.
b. Penimbunan sementara tanah.
Penimbunan sementara ini dilakukan jika daerah yang akan direhabilitasbelu
siap. Untuk menjaga kualitas tanah di tempat penimbunan, dilakuka penyebaran bijibiji tanaman.
4. Penyiapan Daerah Reklamasi
a. Pembangunan tempat penimbunan.
Ini dilakukan di daerah bekas tambang atau daerah-daerah lain untuk
penimbunan dengan memperhatikan aspek geoteknik dan lingkungan.

b. Penempatan batuan penutup di daerah bekas pit dan daerah penimbunan.


Klasifikasi dan pemisahan batuan penutup dilakukan berdasarkan pada potensi
penimbunan asam batuan, yaitu dengan analisis geokimia net acid generation (NAG)
yang dilakukan di Laboratorium Lingkungan KPC. Berdasarkan tes NAG, batuan
yang berpotensi menghasilkan asam (potential acid forming atau PAF) dilapisi oleh
batuan yang tidak berpotensi menghasilkan asam (non-acid forming atau NAF). Hal
ini sangat penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya reaksi pembentukan air
asam batuan.
Tipe penutup timbunan

DC01 (1 meter tanah liat dipadatkan 2 meter NAF tidak dipadatkan)

DC02

DC03 (10-20 meter NAF tidak dipadatkan)

(2

meter

NAF

dipadatkan

meter

NAF

tidak

dipadatkan)

5. Pembentukan Lereng Bagian Luar


Pembentukan lereng bagian luar dengan menggunakan dozer. Penimbunan
dilakukan dengan tinggi tiap tingkatan mencapai 10 meter dengan sudut kemiringan
lereng maksimum 4 :1 dan panjang lereng 40 meter.
6. Penimbunan dan Penyebaran Topsoil
Topsoil sangat penting sebagai media tumbuh tanaman. Penyebaran topsoil pada
timbunan final dilakukan dengan ketebalan 1 meter atau ditentukan sesuai
persetujuan manager environment.
7. Penggaruan dan Pembuatan Saluran Air
- Penggaruan dilakukan tegak lurus arah kemiringan lereng untuk mencegah
timbulnya erosi permukaan yang dapat melarutkan zat organik yang ada di dalam
tanah
- Tata kelola air di areal rehabilitasi diperlukan untuk mengarahkan aliran ke tempat
yang

aman

sesuai

rencana,

sehingga

erosi

lahan

dapat

dicegah

- Untuk mencegah terjadinya erosi lahan, bangunan pengendalian erosi sangat


diperlukan, antara lain dengan contour drain dan drop structures
8. Penanaman dan Perawatan Tanaman
Kegiatan penanaman dan perawatan tanaman dilakukan oleh beberapa
kontraktor lokal di bawah pengawasan supervisor reklamasi.
a. Penanaman. Penanaman di areal reklamasi dilaksanakan dalam tiga tahapan.
Tahap pertama

: Penanaman tanaman penutup tanah menggunakan Rumput (cover

crop).
Tujuan

: Pengendalian erosi unsur hara tanah, peningkatan kandungan

organik

tanah.

Tahap kedua

Penanaman

tanaman

pelindung

dan

buah-buahan.

Tujuan

: Menciptakan iklim mikro yang stabil dan ketersediaan tanaman

buah-buahan.
Tahap ketiga

Penanaman

tanaman

Dipterocarpaceae.

Tujuan

: Menciptakan kembali ekosistem yang menyerupai hutan semula.

Komposisi jenis tumbuhan yang ditanam adalah 20-50 jenis dalam satu area yang
meliputi

: pionir 40%, primer 40%, dan wild life 20%.

b. Perawatan. Perawatan tanaman dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu tahun,
yaitu pada bulan ke-3, 6, dan 12 setelah penanaman. Kegiatan ini meliputi
pemangkasan dahan, pembersihan gulma, penggemburan tanah, dan pemberian
pupuk.
#Dalam Tahapan Ini kita bisa menggunakan masyarakat untuk memanfaatkan lahan
yang di tanami rumput sebagai tempat penggembalaan sapi, agar kotoran sapi
membantu pertumbuhan mikro organisme dan juga sebagai pupuk alami untuk
pemulihan tanah yang di reklamasi.

9. Pemantauan Rehabilitasi dalam Keanekaragaman Hayati


Program pemantauan daerah rehabilitasi KPC dibentuk untuk:
- Mengevaluasi perkembangan daerah rehabilitasi.
- Memastikan perkembangan daerah rehabilitasi mengarah pada terbentuknya
kembali ekosistem yang secara fungsi dan struktur dapat memenuhi kriteria
keberhasilan daerah rehabilitasi.
Kegiatan pemantauan tanaman meliputi:
- Pemantauan awal (initial monitoring): Dilakukan pada tanaman berumur 3, 6, 9,
dan 12 bulan setelah penanaman.
- Pemantauan jangka panjang (long-term monitoring): Dilakukan pada tanaman
berumur 3, 6, dan 12 tahun setelah penanaman.
Apabila ditemukan hasil yang tidak sesuai dengan kriteria keberhasilan, maka
dilakukan tindakan-tindakan perbaikan seperti penumpukan dan tambal sulam.
Beberapa kegiatan monitoring lainnya meliputi:
- Monitoring fauna (insects, aves, mammals, reptiles)
- Studi perkembangan sifat fisik dan kimia tanah
- Produksi biomassa tegakan