Anda di halaman 1dari 23

Erosi

Erosi dapat mengakibatkan lapisan tanah atas (humus) menjadi hilang akibat terbawa air atau zat
lainnya. Erosi rentan terjadi di daerah yang memiliki struktur tanah yang kurang kompak, daerah
curam dan daerah minim vegetasi penutup.
Pencemaran
Limbah industri/rumah tangga yang dibuang ke tanah dapat mengendap dalam tanah dan
merusak kandungan hara tanah. Selain itu limbah juga dapat merusak air tanah.
Penambangan bahan galian
Penambangan bahan galian seperti batu bara, emas, tembaga dapat merusak struktur tanah dan
meninggalkan lubang bekas galian.
Alih Fungsi Lahan
Perubahan penggunaan lahan subur menjadi lahan industri/perumahan dapat merusak kesuburan
tanah dan menyebabkan tanah menjadi tidak produktif.
.

Lahan Kritis

Lahan kriris merupakan kondisi tanah yang telah kehilangan kesuburannya sehingga terjadi
penurunan fungsi sebagai sarana pendukung kehidupan.
Kerusakan hutan
Berbagai kegiatan manusia dalam rangka memanfaatkan hutan sering tidak diikuti upaya
pelestarian. Hal tersebut mengakibatkan menurunnya kualitas fungsi hutan sampai kerusakan
hutan. Kegiatan yang menyebabkan kerusakan hutan antara lain penebangan liar (illegal
logging), kebakaran hutan, dan pertanian ladang berpindah.

Horizon Tanah

Huruf kapital O, A, E, B, C, R merupakan simbol-simbol untuk horizon utama dan


lapisan utama tanah. Huruf-huruf kapital ini merupakan simbol dasar, yang dapat diberi
tambahan karakter-karakter lain untuk melengkapi penamaan horizon dan lapisan. Horizon O
adalah lapisan yang didominasi oleh bahan organik. Sebagian jenuh air dalam periode yang
lama, atau suatu ketika pernah jenuh air, tetapi sekarang telah didrainase, sebagian yang lain
tidak pernah mengalami jenuh air. Sebagian besar horizon O tersusun dari serasah segar yang
belum terdekomposisi atau sebagian telah terdekomposisi yang telah tertimbun di permukaan.
Serasah seperti ini dapat berada di atas permukaan tanah mineral atau tanah organik.
Keterangan

A : Horizon Organik
O : Horizon pencampuran bahan organic terhumifikasi dengan bahan mineral
E : Horizon pencucian (eluviasi)
B : Horizon penumpukan (iluviasi)
C : Bahan induk
D : Batuan induk

Horizon A adalah horizon mineral yang terbentuk pada permukaan tanah atau di bawah
suatu horizon O. Horizon ini memperlihatkan kehilangan seluruh atau sebagian besar struktur
batuan asli dan menunjukkan salah satu atau kedua sifat berikut yaitu akumulasi bahan organik
terhumifikasi yang bercampur sangat intensif dengan fraksi mineral, dan tidak di dominasi oleh
sifat-sifat yang merupakan karakteristik horizon E atau B. sifat-sifat yang merupakan akibat dari
pengolahan tanah, pengembalaan ternak atau jenis-jenis gangguan lain yang serupa.
Horizon E adalah horizon mineral yang kenampakan utamanya adalah kehilangan liat
silikat, besi, alumunium atau beberapa kombinasi senyawa-senyawa tersebut, meninggalkan
suatu konsentrasi partikel-partikel pasir dan debu. Horizon ini memperlihatkan lenyapnya
seluruh atau sebagian terbesar dari struktur batuan aslinya. Horizon E dibedakan dari horizon B
di bawahnya dalam sequm tanah sama , oleh warna dengan value lebih tinggi atau chrome
lebih rendah , atau kedunya, oleh tekstur yang lebih kasar atau oleh suatu kombinasi dari sifatsifat tersebut.

Horizon B dalah horizon-horison yang terbentuk di bawah suatu horizon A, E atau O.


horizon-horison ini didominasi oleh lenyapnya seluruh atau sebagian terbesar sari struktur
batuan aslinya, dan memperlihatkan satu atau lebih sifat-sifat seperti : Konsentrasi atau
penimbunan secara aluvial dari liat silikat, senyawa besi, senyawa alumunium, humus, senya wa
karbonat, gispsum, atau silika, secara mandiri atau dalam kombinasi. Tanda-tanda atau gejala
adanya pemindahan atau penambahan senyawa karbonat. Konsentrasi oksidan-oksidan secar
residu. Penyelaputan sesquioksida yang mengakibatkan horizon terlihat jelas menpunyai value
warna lebih rendah, chrome lebih tinggi atau hue lebih merah tanpa proses iluviasi semyawa
besi yang terlihat jelas.
Horizon C adalah horison atau lapisan, tidak termasuk batuan dasar yang lebih keras dan
tersementasi kuat, yang dipengaruhi sedikit oleh proses pedogenik, serta tidak memiliki sifat
sifat horizon O, A, E, atau B. sebagian terbesar merupakan lapisan-lapisan mineral. Bahan
lapisan C mungkin dapat serupa atau tidak serupa dengan gahan dari mana solum diperkirakan
telah terbentuk. Suatu horizon C mungkin saja telah mengalami perubahan, walaupun tidak
terdapat tanda-tanda adanya proses pedogenesis.
Horizon R adalah batuan dasar tersementasi kuat sampai mengeras.granit, basaly,
kuarsit, batugamping, dan batupasir adalah contoh batuan dasra yang diberi symbol dengan
huruf R. lapisan R cukup kompak jika lembab sehingga cukup sulit di gali dengan sekop
walaupun lapisan tersebut dapat pecah berkeping-keping
Sifat morfologi tanah adalah sifatsifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di
lapang. Sebagian dari sifat morfologi tanah merupakan sifat fisik dari tanah tersebut.
warna tanah merupakan:
(1) sebagai indikator dari bahan induk untuk tanah yang beru berkembang,
(2) indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkembang lanjut, dan
(3) indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas lahan.
Secara umum dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi produktivitasnya, selain
ada berbagai pengecualian, namun secara berurutan sebagai berikut: putih, kuning, kelabu,
merah, coklat-kekelabuan, coklat-kemerahan, coklat, dan hitam. Kondisi ini merupakan integrasi
dari pengaruh:

(1) kandungan bahan organik yang berwarna gelap, makin tinggi kandungan bahan organik suatu
tanah maka tanah tersebut akan berwarna makin gelap,
UPAYA PENCEGAHAN DAN PERBAIKAN KERUSAKAN TANAH
1.UPAYA PENCEGAHAN KERUSAKAN TANAH
Sebelum terjadi kerusakan tanah ada baiknya dilaksanakan beberapa metode untuk mencegah
kerusakan tanah. Pada dasarnya tanah memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya dari
suatu kerusakan. Meskipun demikian, pada tahap lebih lanjut tanah memerlukan upaya yang
dapat membantu memperbaikinya:
1.

Menjaga Tingkat Kesuburan Tanah

Kerusakan tanah ditandai dengan berkurangnya tingkat kesuburan tanah. Upaya menjaga tingkat
kesuburan tanah dapat dilakukan dengan metode mekanik,vegetatif, dan kimia.
1)

Penterasan Lahan Miring (terracering)

Hal ini dlakukan bertujuan untuk mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan
lereng. Pembuatan terasering bertujuan untuk mengurangi tingkat erosi karena dapat
memperlambat aliran air permukaan.
2)

Pengelolaan Sejajar Garis Kontur (Contour Tillage)

Cara ini dilakukan dengan membuat rongga-rongga tanah sejajar kontur dan membentuk igirigir. Hal itu dapat memperlambat aliran permukaan dan memperbesar kemungkinan air meresap
ke dalam tanah. Umumnya vegetasi ditanam dengan sistem tumpang sari.
3)

Pembuatan Pematang/Guludan

Pematang/guludan dibuat dengan cara seperti membuat tanggul-tanggul kecil dan saluran air
sejajar garis kontur. Pematang tersebut berfungsi menahan laju air sehingga memperbesar
kemungkinan air meresap ke dalam tanah.
4)

Pembuatan Cekdam

Pembuatan cekdam atau bendungan kecil bertujuan membendung aliran air permukaan. Material
yang tererosi akan bertahan di parit-parit cekdam sehingga lapisan tanah menebal dan kesuburan
tanah tidak akan hilang terbawa air.
2.

Metode Vegetatif

Metode vegetatif adalah upaya yang dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah dengan cara
memanfaatkan vegetasi. Metode vegetatif sangat baik untuk upaya pelestarian kesuburan tanah.
Metode vegetatif umumnya menggunakan cara-cara sebagai berikut:

a)

Penghijauan

Kegiatan penghijaun dilakukan dengan cara menanami hutan kembali lahan-lahan yang
kehilangan vegetasi penutupnya. Penanaman dilakukan dengan cara menanami bibit pepohonan
besar yang dapat tumbuh dengan mudah.
b)

Rotasi Tanaman (Crop Rotation)

Kegiatan rotasi tanaman bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Metode ini
dilakukan dengan cara memvariasikan jenis tanaman pada saat pergantian masa tanam. Hal ini
efektif untuk mencegah berkurangnya jenis unsur hara tertentu.
c)

Reboisasi

Reboisasi dilakukan dengan menanami lahan gundul dengan tanaman keras. Kegiatan ini selain
efektif mencegah erosi, hasil kayunya juga dapat dimanfaatkan.
d)

Penanaman Tanaman Penutup (Buffering)

Penanaman tanaman penutup adalah menanami lahan dengan tanaman keras seperti pinus dan
jati. Hal ini bertujuan untuk menghambat penghancuran tanah lapisan atas oleh air hujan,
memperkaya bahan organik, dan menghambat laju erosi.
e)

Penanaman Tanaman Berbasis (Strip Cropping)

Kegiatan penanaman berbasis adalah menanam secara tegak lurus arah aliran atau arah angin.
Pada daerah landai jarak tanam diperlebar sedangkan pada daerah miring tanaman dirapatkan.
f)

Penanaman Sejajar Garis Kontur (Contour Strip Cropping)

Penanaman sejajar garis kontur adalah mananami lahan searah dengan garis kontur. Hal ini
dilakukan dengan tujuan memperbesar kemungkinan air meresap ke dalam tanah dan
menghambat laju erosi.
embentukan tanah di bagi menjadi empat tahap
1. Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan
atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi
fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya
pelapukan kimiawi.
2. Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air
masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di
lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.

3. Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan
tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah
pelapukan biologis.
4. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
Ada beebrapa faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Faktor apa sajakah itu?
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor
tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor
pembentuk tanah adalah iklim. Hanya kedua faktor itukah yang memengaruhi pembentukan
tanah? Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme,
bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
T = f (i, o, b, t, w)
Keterangan:
T = tanah
f = faktor
i = iklim
o = organisme
b = bahan induk
t = topografi
w = waktu
a. Iklim

Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah terutama unsur suhu dan curah
hujan.
1) Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila fluktuasi suhu tinggi,
maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah juga cepat.
2) Curah Hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan
pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).
b. Organisme (Vegetasi, Jasad Renik/Mikroorganisme)
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:
1) Membantu proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan
organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan),
sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.
2) Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daundaunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan
membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.
3) Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim
sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan
warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak
kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
4) Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat
tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K
yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi
daripada tanah di bawah pohon jati.

c. Bahan Induk
Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan
metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami
pelapukan dan menjadi tanah.
Tanah yang terdapat di permukaan Bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia)
yang sama dengan bahan induknya. Bahan induk terkadang masih terlihat pada tanah baru,
misalnya tanah bertekstur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi.
Susunan kimia dan mineral bahan induk akan memengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan
vegetasi di atasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah
dengan kadar ion Ca yang banyak pula, akibatnya pencucian asam silikat dapat dihindari dan
sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya bahan induk yang
kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang warnanya lebih merah.
d. Topografi/Relief
Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi:
1) Tebal atau Tipisnya Lapisan Tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit, lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi,
sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.
2) Sistem Drainase/Pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.
e. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian
yang terus-menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua. Mineral yang banyak
mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan, sehingga tinggal mineral yang sukar

lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanah
berubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Tanah muda ditandai oleh masih tampaknya pencampuran antara bahan organik dan bahan
mineral atau masih tampaknya struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah
aluvial, regosol, dan litosol. Tanah dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah
muda dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Contoh
tanah dewasa adalah andosol, latosol, dan grumusol. Tanah tua proses pembentukan tanah
berlangsung lebih lanjut sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada
perlapisan tanah. Contoh tanah pada tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua
(laterit).
Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik
yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah
muda dan 1.00010.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa. Dengan melihat perbedaan sifat
faktor-faktor pembentuk tanah tersebut, pada suatu tempat tentunya akan menghasilkan ciri dan
jenis tanah yang berbeda-beda pula. Sifat dan jenis tanah sangat tergantung pada sifat-sifat faktor
pembentukan tanah. Kepulauan Indonesia mempunyai berbagai tipe kondisi alam yang
menyebabkan adanya perbedaan sifat dan jenis tanah di berbagai wilayah, akibatnya tingkat
kesuburan tanah di Indonesia juga berbeda-beda.
embentukan tanah di bagi menjadi empat tahap
1. Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan
atmsosfer dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi
fisik. Berinteraksinya batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya
pelapukan kimiawi.
2. Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air
masuk ke dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di
lapisan permukaan batuan telah ditumbuhi calon makhluk hidup.

3. Pada tahap ke tiga ini batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan
tersebut membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah
pelapukan biologis.
4. Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang ralatif besar.
Ada beebrapa faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Faktor apa sajakah itu?
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor
tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor
pembentuk tanah adalah iklim. Hanya kedua faktor itukah yang memengaruhi pembentukan
tanah? Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme,
bahan induk, topografi, dan waktu. Faktor-faktor tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
T = f (i, o, b, t, w)
Keterangan:
T = tanah
f = faktor
i = iklim
o = organisme
b = bahan induk
t = topografi
w = waktu
a. Iklim

Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah terutama unsur suhu dan curah
hujan.
1) Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila fluktuasi suhu tinggi,
maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah juga cepat.
2) Curah Hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan
pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).
b. Organisme (Vegetasi, Jasad Renik/Mikroorganisme)
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:
1) Membantu proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan
organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan),
sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.
2) Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daundaunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan
membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.
3) Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim
sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan
warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak
kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
4) Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat
tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K
yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi
daripada tanah di bawah pohon jati.

c. Bahan Induk
Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan
metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami
pelapukan dan menjadi tanah.
Tanah yang terdapat di permukaan Bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia)
yang sama dengan bahan induknya. Bahan induk terkadang masih terlihat pada tanah baru,
misalnya tanah bertekstur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi.
Susunan kimia dan mineral bahan induk akan memengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan
vegetasi di atasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah
dengan kadar ion Ca yang banyak pula, akibatnya pencucian asam silikat dapat dihindari dan
sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya bahan induk yang
kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang warnanya lebih merah.
d. Topografi/Relief
Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi:
1) Tebal atau Tipisnya Lapisan Tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit, lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi,
sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.
2) Sistem Drainase/Pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.
e. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian
yang terus-menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua. Mineral yang banyak
mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan, sehingga tinggal mineral yang sukar

lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanah
berubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Tanah muda ditandai oleh masih tampaknya pencampuran antara bahan organik dan bahan
mineral atau masih tampaknya struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah
aluvial, regosol, dan litosol. Tanah dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah
muda dapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Contoh
tanah dewasa adalah andosol, latosol, dan grumusol. Tanah tua proses pembentukan tanah
berlangsung lebih lanjut sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada
perlapisan tanah. Contoh tanah pada tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua
(laterit).
Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik
yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah
muda dan 1.00010.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa. Dengan melihat perbedaan sifat
faktor-faktor pembentuk tanah tersebut, pada suatu tempat tentunya akan menghasilkan ciri dan
jenis tanah yang berbeda-beda pula. Sifat dan jenis tanah sangat tergantung pada sifat-sifat faktor
pembentukan tanah. Kepulauan Indonesia mempunyai berbagai tipe kondisi alam yang
menyebabkan adanya perbedaan sifat dan jenis tanah di berbagai wilayah, akibatnya tingkat
kesuburan tanah di Indonesia juga berbeda-beda.
Kerusakan tanah akibat salah satu faktor di atas dapat menurunkan kemampuan tanah dalam
mendukung pertumbuhan tanaman. Kehilangan hara atau bahan organik terjadi karena diambil
tanaman secara berlebihan tanpa diimbangi dengan pemasukan (pemupukan) atau hilang karena
terbawa aliran air dan angin. Unsur hara yang mengalami proses oksidasi-reduksi dalam tanah
bisa berubah menjadi unsur yang dapat menguap ke udara. Unsur yang tidak berbahaya bisa
berubah menjadi senyawa yang mematikan tanaman. Mineral pirit (FeS2) yang berada di lapisan
bawah tanah gambut dapat teroksidasi bila didrainase secara berlebihan, sehingga meracuni akar
tanaman.
Air yang menggenang berpengaruh buruk terhadap perakaran tanaman karena menghambar
sirkulasi udara ke dalam tanah. Keadaan kekurangan udara kemudian akan mennyebabkan
perubahan keseimbangan hara tanah dan mikroba di sekitar perakaran, sehingga akan berdampak

negatif terhadap kesuburan tanah dan dapat mengubah sifat-sifat fisik tanah yang berperan dalam
menjaga stabilitas agregat tanah. Kekurangan udara akan menurunkan kemampuan tanaman
dalam menyerap unsur hara. Paling tidak ada 3 pengaruh merusak dari kelebihan air, yaitu: (1)
terbentuknya zat-zat beracun, (2) kekurangan oksigen untuk proses respirasi tanaman, dan (3)
tidak terbentuknya ion nitrat karena proses-proses denitrifikasi. Nitrat merupakan salah satu
bentuk unsur N yang bisa diserap akar.
Pada dasarnya, fungsi tanah untuk pertanian ada 2. Pertama, tanah berperan sebagai sumber
unsur hara atau makanan bagi tumbuhan. Kedua, tanah merupakan media atau matriks tempat
akar tumbuhan berjangkar, tempat air tersimpan, dan tempat unsur-unsur hara pupuk dan air
ditambahkan. Kedua fungsi tanah di atas bisa hilang atau berkurang, Berkurang atau hilangnya
fungsi tanah disebut kerusakan tanah. Penurunan fungsi yang pertama dapat diperbaharui dengan
cara pemupukan dan pemberian bahan organik. Akan tetapi, berkurangnya atau hilangnya fungsi
yang kedua sangat sulit diperbaiki karena membutuhkan waktu yang sangat panjang, puluhan
sampai ratusan tahun.
LAPISAN TANAH
Dalam garis besarnya lapisan tanah itu dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
1. Lapisan Tanah Atas.
Lapisan ini tebalnya antara 10 cm 30 cm, warnanya cokelat sampai kehitam-hitaman, lebih
gembur, yang disebut tanah olah atau tanah pertanian. Di sini hidup dan berkembang biak semua
jasad hidup tanah dan merupakan lapisan tanah yang tersubur sebagai tempat hidupnya tanaman.
Warna hitam/cokelat dan suburnya tanah disebabkan oleh bunga tanah.
2. Lapisan Tanah Bawah.
Lapisan tanah kedua ini tebalnya antara 50 cm 60 cm, lebih tebal daripada lapisan atas,
warnanya kemerah-merahan. Lebih terang atau lebih muda, dan lebih padat. Lapisan tanah ini
sering disebut dengan tanah cadas atau tanah keras. Di sini kegiatan jasad hidup berkurang.
Tanaman berumur panjang, yang mempunyai akar tunggang yang dalam dapat mencapai lapisan
tanah ini.

3. Lapisan Bahan Induk Tanah.


Lapisan tanah ketiga ini warnanya kemerah-merahan atau kelabu, keputih-putihan. Lapisan ini
dapat pecah dan diubah dengan mudah, tetapi sukar ditembus oleh akar. Di lereng2 gunung
lapisan ini sering kelihatan dengan jelas, dimana lapisan di atasnya telah hanyut oleh hujan.
4. Lapisan Batuan Induk.
Lapisan yang keempat ini disebut batuan induk. Masih merupakan batuan pejal, belum
mengalami proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan
beberapa proses dan memakan waktu yang lama. Di pegunungan2 sering kelihatan, tetapi
tumbuh2an tak dapat
Unsur Hara Dalam Tanah (Makro dan Mikro)
Beberapa Unsur Hara Yang Dibutuhkan Tanaman : Karbon (C), Hidrogen (H),
Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang
(S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl). Unsur
hara tersebut tergolong unsur hara Essensial. Berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi
tanaman, dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
Unsur Hara Makro: Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar, Unsur Hara
Mikro Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil. Unsur Hara Makro
meliputi: N, P, K, Ca, Mg, S.
Unsur Hara Mikro, Unsur hara mikro meliputi : Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, Cl.
Fungsi Unsur Hara Makro (n-p-k) Banyak para hobiis dan pencinta tanaman hias, bertanya
tentang komposisi kandungan pupuk dan prosentase kandungan N, P dan K yang tepat
untuk tanaman yang bibit, remaja atau dewasa/indukan. Berikut ini adalah fungsi-fungsi
masing-masing unsur tersebut :
Nitrogen ( N )
Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
Merupakan bagian dari sel ( organ ) tanaman itu sendiri
Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
Merangsang pertumbuhan vegetatif ( warna hijau ) seperti daun
Tanaman yang kekurangan unsur N gejalanya : pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau
kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati.
Phospat ( P )
Berfungsi untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
Merangsang pembungaan dan pembuahan
Merangsang pertumbuhan akar

Merangsang pembentukan biji


Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang,
kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )
Kalium ( K )
Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral
termasuk air.
Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Tanaman yang kekurangan unsur K gejalanya : batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun
berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan
kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.
UNSUR HARA MIKRO YANG DIBUTUHKAN TANAMAN
Unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah kecil antara lain Besi(Fe),
Mangaan(Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor(Cl). Berikut
tuilsan dari Setio Budi Wiharto (09417/PN) dari UGM Jogjakarta.
A. Besi (Fe)
Besi (Fe) merupakan unsure mikro yang diserap dalam bentuk ion feri (Fe3+)
ataupun fero (Fe2+). Fe dapat diserap dalam bentuk khelat (ikatan logam dengan bahan
organik). Mineral Fe antara lain olivin (Mg, Fe)2SiO, pirit, siderit (FeCO3), gutit (FeOOH),
magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3) dan ilmenit (FeTiO3) Besi dapat juga diserap dalam
bentuk khelat, sehingga pupuk Fe dibuat dalam bentuk khelat. Khelat Fe yang biasa
digunakan adalah Fe-EDTA, Fe-DTPA dan khelat yang lain. Fe dalam tanaman sekitar 80%
yang terdapat dalam kloroplas atau sitoplasma. Penyerapan Fe lewat daundianggap lebih
cepat dibandingkan dengan penyerapan lewat akar, terutama pada tanaman yang
mengalami defisiensi Fe. Dengan demikian pemupukan lewat daun sering diduga lebih
ekonomis dan efisien. Fungsi Fe antara lain sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan
berperanan dalam perkembangan kloroplas. Sitokrom merupakan enzim yang
mengandung Fe porfirin.
Kerja katalase dan peroksidase digambarkan secara ringkas sebagai berikut:
a. Catalase : H2O + H2O O2 + 2H2O
b. Peroksidase : AH2 + H2O A + H2O
Fungsi lain Fe ialah sebagai pelaksana pemindahan electron dalam proses
metabolisme. Proses tersebut misalnya reduksi N2, reduktase solfat, reduktase
nitrat. Kekurangan Fe menyebabakan terhambatnya pembentukan klorofil dan akhirnya
juga penyusunan protein menjadi tidak sempurna Defisiensi Fe menyebabkan kenaikan
kaadar asam amino pada daun dan penurunan jumlah ribosom secara drastic. Penurunan
kadar pigmen dan protein dapat disebabkan oleh kekurangan Fe. Juga akan mengakibatkan
pengurangan aktivitas semua enzim.

B. Mangaan (Mn)
Mangaan diserap dalam bentuk ion Mn++. Seperti hara mikro lainnya, Mn dianggap
dapat diserap dalam bentuk kompleks khelat dan pemupukan Mn sering disemprotkan
lewat daun. Mn dalam tanaman tidak dapat bergerak atau beralih tempat dari logam yang
satu ke organ lain yang membutuhkan. Mangaan terdapat dalam tanah berbentuk senyawa
oksida, karbonat dan silikat dengan nama pyrolusit (MnO2), manganit (MnO(OH)),
rhodochrosit (MnCO3) dan rhodoinit (MnSiO3). Mn umumnya terdapat dalam batuan
primer, terutama dalam bahan ferro magnesium. Mn dilepaskan dari batuan karena proses
pelapukan batuan. Hasil pelapukan batuan adalah mineral sekunder terutama pyrolusit
(MnO2) dan manganit (MnO(OH)). Kadar Mn dalam tanah berkisar antara 300 smpai 2000
ppm. Bentuk Mn dapat berupa kation Mn++ atau mangan oksida, baik bervalensi dua
maupun valensi empat. Penggenangan dan pengeringan yang berarti reduksi dan oksidasi
pada tanah berpengaruh terhadap valensi Mn.
Mn merupakan penyusun ribosom dan juga mengaktifkan polimerase, sintesis protein,
karbohidrat. Berperan sebagai activator bagi sejumlah enzim utama dalam siklus krebs,
dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang normal dalam kloroplas,ada indikasi
dibutuhkan dalam sintesis klorofil. Defisiensi unsure Mn antara lain : pada tanaman
berdaun lebar, interveinal chlorosis pada daun muda mirip kekahatan Fe tapi lebih banyak
menyebar sampai ke daun yang lebih tua, pada serealia bercak-bercak warna keabu-abuan
sampai kecoklatan dan garis-garis pada bagian tengah dan pangkal daun muda, split seed
pada tanaman lupin.
C. Seng (Zn)
Zn diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn++ dan dalam tanah alkalis mungkin
diserap dalam bentuk monovalen Zn(OH)+. Di samping itu, Zn diserap dalm bentuk
kompleks khelat, misalnya Zn-EDTA. Seperti unsure mikro lain, Zn dapat diserap lewat
daun. Kadr Zn dalam tanah berkisar antara 16-300 ppm, sedangkan kadar Zn dalam
tanaman berkisar antara 20-70 ppm. Mineral Zn yang ada dalam tanah antara lain sulfida
(ZnS), spalerit [(ZnFe)S], smithzonte (ZnCO3), zinkit (ZnO), wellemit (ZnSiO3 dan ZnSiO4).
Fungsi Zn antara lain : pengaktif enim anolase, aldolase, asam oksalat dekarboksilase,
lesitimase,sistein desulfihidrase, histidin deaminase, super okside demutase (SOD),
dehidrogenase, karbon anhidrase, proteinase dan peptidase. Juga berperan dalam
biosintesis auxin, pemanjangan sel dan ruas batang.
Ketersediaan Zn menurun dengan naiknya pH, pengapuran yang berlebihan sering
menyebabkan ketersediaaan Zn menurun.
Tanah yang mempunyai pH tinggi sering menunjukkan adanya gejala defisiensi Zn,
terytama pada tanah berkapur. Adapun gejala defisiensi Zn antara lain : tanaman kerdil,
ruas-ruas batang memendek, daun mengecil dan mengumpul (resetting) dan klorosis pada
daun-daun muda dan intermedier serta adanya nekrosis.
D. Tembaga (Cu)

Tembaga (Cu) diserap dalam bentuk ion Cu++ dan mungkin dapat diserap dalam
bentuk senyaewa kompleks organik, misalnya Cu-EDTA (Cu-ethilen diamine tetra acetate
acid) dan Cu-DTPA (Cu diethilen triamine penta acetate acid). Dalam getah tanaman bik
dalam xylem maupun floem hampir semua Cu membentuk kompleks senyawa dengan
asam amino. Cu dalam akar tanaman dan dalam xylem > 99% dalam bentuk kompleks.
Dalam tanah, Cu berbentuk senyawa dengan S, O, CO3 dan SiO4 misalnya kalkosit (Cu2S),
kovelit (CuS), kalkopirit (CuFeS2), borinit (Cu5FeS4), luvigit (Cu3AsS4), tetrahidrit
[(Cu,Fe)12SO4S3)], kufirit (Cu2O), sinorit (CuO), malasit [Cu2(OH)2CO3], adirit
[(Cu3(OH)2(CO3)], brosanit [Cu4(OH)6SO4]. Kebanyakan Cu terdapat dalam kloroplas
(>50%) dan diikat oleh plastosianin. Senyawa ini mempunyai berat molekul sekitar 10.000
dan masing-masing molekul mengandung satu atom Cu. Hara mikro Cu berpengaruh pafda
klorofil, karotenoid, plastokuinon dan plastosianin.
Fungsi dan peranan Cu antara lain : mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbitoksidase, asam butirat-fenolase dan laktase. Berperan dalam metabolisme protein dan
karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generatif, berperan terhadap
fiksasi N secara simbiotis dan penyusunan lignin.Adapun gejala defisiensi / kekurangan Cu
antara lain : pembungaan dan pembuahan terganggu, warna daun muda kuning dan kerdil,
daun-daun lemah, layu dan pucuk mongering serta batang dan tangkai daun lemah.
E. Molibden (Mo)
Molibden diserap dalam bentuk ion MoO4-. Variasi antara titik kritik dengan toksis
relatif besar. Bila tanaman terlalu tinggi, selain toksis bagi tanaman juga berbahaya bagi
hewan yang memakannya. Hal ini agak berbeda dengan sifat hara mikro yang lain. Pada
daun kapas, kadar Mo sering sekitar 1500 ppm. Umumnya tanah mineral cukup
mengandung Mo. Mineral lempung yang terdapat di dalam tanah antara lain molibderit
(MoS), powellit (CaMo)3.8H2O. Molibdenum (Mo) dalam larutan sebagai kation ataupun
anion. Pada tanah gambut atau tanah organik sering terlihat adanya gejala defisiensi Mo.
Walaupun demikian dengan senyawa organik Mo membentuk senyawa khelat yang
melindungi Mo dari pencucian air. Tanah yang disawahkan menyebabkan kenaikan
ketersediaan Mo dalam tanah. Hal ini disebabkan karena dilepaskannya Mo dari ikatan Fe
(III) oksida menjadi Fe (II) oksida hidrat.
Fungsi Mo dalam tanaman adalah mengaktifkan enzim nitrogenase, nitrat reduktase dan
xantine oksidase. Gejala yang timbul karena kekurangan Mo hampir menyerupai
kekurangan N. Kekurangan Mo dapat menghambat pertumbuhan tanaman, daun menjadi
pucat dan mati dan pembentukan bunga terlambat. Gejala defisiensi Mo dimulai dari daun
tengah dan daun bawah. Daun menjadi kering kelayuan, tepi daun menggulung dan daun
umumnya sempit. Bila defisiensi berat, maka lamina hanya terbentuk sedikit sehingga
kelihatan tulang-tulang daun lebih dominan.
F. Boron (B)
Boron dalam tanah terutama sebagai asam borat (H2BO3) dan kadarnya berkisar
antara 7-80 ppm. Boron dalam tanah umumnya berupa ion borat hidrat B(OH)4-. Boron

yang tersedia untuk tanaman hanya sekitar 5%dari kadar total boron dalam tanah. Boron
ditransportasikan dari larutan tanah ke akar tanaman melalui proses aliran masa dan
difusi. Selain itu, boron sering terdapat dalam bentuk senyawa organik. Boron juga banyak
terjerap dalam kisi mineral lempung melalui proses substitusi isomorfik dengan Al3+ dan
atau Si4+. Mineral dalam tanah yang mengandung boron antara lain turmalin
(H2MgNaAl3(BO)2Si4O2)O20 yang mengandung 3%-4% boron. Mineral tersebut
terbentuk dari batuan asam dan sedimen yang telah mengalami metomorfosis.
Mineral lain yang mengandung boron adalah kernit (Na2B4O7.4H2O), kolamit
(Ca2B6O11.5H2O), uleksit (NaCaB5O9.8H2O) dan aksinat. Boron diikat kuat oleh mineral
tanah, terutama seskuioksida (Al2O3 + Fe2O3).
Fungsi boron dalam tanaman antara lain berperanan dalam metabolisme asam nukleat,
karbohidrat, protein, fenol dan auksin. Di samping itu boron juga berperan dalam
pembelahan, pemanjangan dan diferensiasi sel, permeabilitas membran, dan
perkecambahan serbuk sari. Gejal defisiensi hara mikro ini antara lain : pertumbuhan
terhambat pada jaringan meristematik (pucuk akar), mati pucuk (die back), mobilitas
rendah, buah yang sedang berkembang sngat rentan, mudah terserang penyakit.
G.Klor(Cl)
Klor merupakan unsure yang diserap dalam bentuk ion Cl- oleh akar tanaman dan
dapat diserap pula berupa gas atau larutan oleh bagian atas tanaman, misalnya daun. Kadar
Cl dalam tanaman sekitar 2000-20.000 ppm berat tanaman kering. Kadar Cl yang terbaik
pada tanaman adalah antara 340-1200 ppm dan dianggap masih dalam kisaran hara mikro.
Klor dalam tanah tidak diikat oleh mineral, sehingga sangat mobil dan mudah tercuci oleh
air draiinase. Sumber Cl sering berasal dari air hujan, oleh karena itu, hara Cl kebanyakan
bukan menimbulkan defisiensi, tetapi justru menimbulkan masalah keracunan tanaman.
Klor berfungsi sebagai pemindah hara tanaman, meningkatkan osmose sel, mencegah
kehilangan air yang tidak seimbang, memperbaiki penyerapan ion lain,untuk tanaman
kelapa dan kelapa sawit dianggap hara makro yang penting. Juga berperan dalam
fotosistem II dari proses fotosintesis, khususnya dalam evolusi oksigen. Adapun defisiensi
klor adalh antara lain :
pola percabangan akar abnormal, gejala wilting (daun lemah dan layu), warna keemasan
(bronzing) pada daun, pada tanaman kol daun berbentuk mangkuk.
UNSUR MAKRO DAN MIKRO YANG DI BUTUHKAN TANAMAN
a. Zat Lemas (N)
Zat lemas diserap oleh akar tanaman dalam bentuk NO3- dan NH4+ , protoplasma yang
hidup terdiri dari kira-kira 25% bahan kering dengan komposisi 50-50% zat-zat putih telur
dan 5-10% lipoiden dan persenyawaan lainnya yang mengandung N. kadar zat lemas dari
protoplasma kira-kira antara 2-2,5%. Dengan adanya pemungutan hasil tanaman secara
besar-besaran maka banyak sekali zat lemas yang hilang.
Pada perusahan tebu sering kali didapat penghasilan sebanyak 1000-1500 qt tebu. Bila
kadar airnya dihitung 70% maka bahan keringnya berjumlah 300-450 qt/ha pada tiap
panennya. Untuk padi hasilnya lebih rendah yakni 22 qt/ha gabah atau 20 qt/ha bahan

kering dari gabah dan 45 qt/ha bahan kering dari jeraminya jadi sejumlah 64 qt/ha. Oleh
karena itu pemupukan N pada tanaman tebu harus lebih besar dari pada tanaman padi.
Biarpun ada hubungan yang erat antara pemberian N dengan sejumlah bahan kering
yang dihasilkan, tidak berarti bahwa pemberian zat N itu harus sebanyak-banyaknya,
sebab pemberian zat N yang berlebih akan dapat membahayakan. Memang benar
pemberian N akan menghasilkan banyak bahan hijau berupa daun dan batang, akan tetapi
pada tanaman padi yang banyak dipupuk dengan pupuk N akan banyak menghasikan daun
dan batang, tetapi karena tumbuhnya sangat subur, maka batangnya lembek sehingga
mudah rebah dan kurang sekai menghasikan buah; selain itu pemupukan N yang banyak
dapat memperlambat masaknya biji.
Pemberian N yang banyak mempengaruhi juga perkembangan susunan akar, tetapi
tidak sebagai Phosphorus dimana akar menjadi lebih panjang dan lebih dalam masuk
kedalam tanah. Oleh karena dalamnya masuknya susunan akar kedalam tanah yang tidak
sepadan dengan kesuburannya pada bagian atas tanah, maka tanaman dalam keadaan
demikian akan lebih lekas kekeringan.
b. Phosphor (P)
Fosfor diambil oleh akar dalam bentuk H2PO4- dan HPO4= sebagian besar fosfor didalam
tanaman adalah sebagai zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organik dan
hanya sebagian kecil terdapat dalam bentuk anorganik sebagai ion-ion phosphat.
Beberapa bagian tanaman sangat banyak mengandung zat ini, yaitu bagian-bagain yang
bersangkutan dengan pembiakan generatif, seperti daun-daun bunga, tangkai sari, kepala
sari, butir tepung sari, daun buah dan bakal biji. Jadi untuk pembentukan bunga dan buah
sangat banyak diperlukan unsur fosfor. Selain itu fosfor berperan juga pada sintesa hijau
daun. Fosfor mendorong pertumbuhan akar-akar muda yang berguna bagi resistensi
terhadap kekeringan.
c. Kalium (K)
Kalium diserap dalam bentuk K+. kalium banyak terkandung pada abu. Abu daun teh
yang muda mengandung sampai 50% K2O, pucuk tebu yang muda mengadung 60-70% K2O
dan pada tanaman jagung adalah sbb:
Didalam batang dan daun : 52% dan 61%
Didalam tongkol : 21%-45%
Didalam akar : 3%-20%
Kalium terdapat didalam sel-sel yaitu sebagai ion-ion didalam cairan sel dan sebagai
persenyawaan adsorptif didalam zat putih telur dari sitoplasma. Inti sel tidak mengandung
kalium. Sebagai ion didalam cairan sel, Kalium berperan dalam melaksanakan turgor
yang disebabkan oleh tekanan osmotis.
Ion Kalium mempunyai fungsi psikologis pada asimilasi zat arang. Bila tanaman sama
sekali tidak diberi Kalium, maka asimilasi akan terhenti. Oleh sebab itu pada tanaman yang
banyak menghasilkan hasil asimilasi seperti kentang, ubi kayu, tebu, nanas, akan banyak
memerlukan Kalium (K2O) didalam tanah.
Kalium berfungsi pula pada pembelahan sel dan pada sintesa putih telur. Pada saat
terjadi pembentukan bunga atau buah maka Kalium akan cepat ditarik oleh sebab itu
Kalium mudah bergerak (mobil).
Fungsi lain dari Kalium adalah pada pembentukan jaringan penguat. Perkembangan
jaringan penguat pada tangkai daun dan buah yang kurang baik sering menyebabkan lekas

jatuhnya daun dan buah itu. Daun-daun pada teh dan tangkai buah kelapa bila kekurangan
Kalium akan terkulai dan buahnya lekas jatuh.
Tanaman yang kekurangan Kalium akan cepat mengayu atau menggabus, hal ini
disebabkan kadar lengasnya yang lebih rendah. Menurut penyelidikan mikro, Kalium
berpengaruh baik pada pembentukan serat-serat seperti pada rosela, kapas dan rami.;
dinding-dinding sel lebih baik keadaannya dan lebih baik kandungan airnya, sel-sel ini
tumbuh lebih baik, lebih kuat dan lebih panjang.
d. Calsium (Ca)
Unsur ini diserap dalam Ca++, Kalsium terdapat sebagai kalsium pectinaat pada lamelalamela tengah dari dinding-dinding sel, endapan-endapan dari kalsium oksalat dan kalsium
karbonat dan sebagai ion didalam air-sel. Kebanyakan dari zat kapur ini (CaO) terdapat
didalam daun dan batang. Pada biji-biji relatif kurang mengandung kapur, demikian juga
pada akar-akaran. Pada akar-akaran banyak terdapat pada ujung-ujungnya dan bulu-bulu
akar.
Fungsi ion Kalsium yang penting adalah mengatur permeabilitas dari dinding sel. Telah
diketahui bahwa ion-ion Kalium itu mempertinggi permeabilitas dinding sel dan ion-ion
Kalsium adalah sebaliknya. Hal ini penting bagi organisme, sebab bertambahnya
permeabilitas yang disebabkan ion-ion Kalium dapat lebih dicegah.
Peranan yang penting dari kapur terdapat pada pertumbuhan ujung-ujung akar dan
pembentukan bulu-bulu akar. Bila kapur ditiadakan maka pertumbuhan keduanya akan
terhenti dan bagian-bagian yang telah terbentuk akan mati dan berwarna coklat kemerahmerahan.
e. Magnesium (Mg)
Magnesium diserap dalam bentuk Mg++ dan merupakan bagian dari hijau daun yang
tidak dapat digantikan oleh unsur lain, kecuali didalam hijau daun Mg terdapat pula
sebagai ion didalam air-sel.
Walaupun za mineral ini diserap tanaman dalam jumlah yang sedikit jika
dibandingkandengan zat mineral makro lain (diantaranya N,P dan Ca), Mg dalam bentuk
Mg2+ mempunyai peranan penting dalam penyusunan klorofil. Menurut G. H. Collings
(1955) kadar magnesium dari klorofil tanaman adalah 2,7 persen.
f. Belerang (S)
Belerang diserap dalam bentuk SO4= , unsur ini terdapat pada zat putih telur.
Selanjutnya belerang terdapat pada glukosida dan sebagai ion sulfat didalam air-sel.
1.2 Unsur-unsur makro yang dikehendaki
a. Natrium (Na)
Natrium terdapat pada semua abu tanaman, terlebih pada tanaman yang timbuh
pada tanah yang banyak mengandung garam dapur seperti pada tanah asin atau payau, air
laut dsb. Oleh karena itu biasanya pada tanaman demikian (halophyta) terdapat pula ionion klor.
Natrium yang terbentuk sebagai ion mempunyai arti biologis karena turut serta
memelihara keadaan turgor. Unsur ini dapat pula menggantikan Kalium dalam hal tersebut
dan memang sering terjadi, bahwa kadar Natriumnya naik bila keadaan unsur Kalium
sangat kurang.
b. Klor (Cl)

Klor terdapat sebagai ion didalam air-sel disemua bagian tanaman. Kadarnya
sangat berbeda-beda, tergantung pada kandungan klorida dari lingkungannya. Terutama
tanaman-tanaman halophyta banyak mengandung klor.
Meskipun ion-ion klor tidak melakukan fungsi psikologis pada proses-proses
pertukaran zat, akan tetapi ia mempunyai pengaruh dalam hal itu, dan pengaruhnya tidak
selalu menguntungkan bahkan kadang merugikan.
Pengaruh ion klor yang baik terhadap pertukaran zat sudah tentu hanya selama
konsentrasinya itu terletak dibawah atau pada kondisi optimum, yang dapat mendorong
pembentukan klorofil, dan pengaruhnya pada kandungan didalam tanaman. Klor dapat
mengurangi transpiratie direm sehingga daun-daun akan menjadi lebih berair.
c.

Silicium (Si)
Penting bagi beberapa tanamanyang sel-selnya dibuat dengan asam kersik sebagai
pencegahan terhadap gangguan-gangguan yang memakan daun dan masuknya bibit
penyakit kedalamnya, (batang dan daun-daun rumput, macam-macam kayu)
d. Alumunium (Al)
Unsur ini selalu terdapat didalam abu tanaman walaupun hanya sedikit. Apakah Al
sangat dibutuhkan atau tidak belum ada persetujuan dari para ahli. Yang penting dalam hal
ini adalah bahwa beberapa tanaman budidaya menunjukan kepekaan terhadap unsur ini
walaupun sedikit sekali. Penyelidikan pada tebu bahwa penggunaan 17-170 mg/1 Al2O3
bisa membahayakan, pada tembakau 90-180 mg/1 Al2O3 telah berbahaya.
Tanaman padi sangat peka terhadap Al2O3 kira-kira 14 mg/1 Al2O3 merupakan racun
pada padi. pada keadaan tanah yang ekstrem (PH tinggi), tanaman yang ditanam pada
tanah demikian akan mati.
Tanaman teh kurang peka terhadap unsur ini.
2. UNSUR-UNSUR MIKRO
Unsur-unsur mikro yang sangat dibutuhkan adalah Besi, Mangan, Borium, Koper,
Zink, dan Molibdin.
a. Besi (F)
Besi diserap dalam bentuk Fe++ dan mempunyai fungsi yang tidak dapat digantikan
pada pembentukan hijau daun. Besi juga merupakan salah satu unsur yang diperlukan
pada pembentukan enzym-enzym pernapasan yang mengoksidasikan hidrat arang
menjadi gas asam arang dan air.
Besi didalam tanaman kurang bergerak, oleh karena itu bila kekurangan besi maka
akan segera tampak gejala-gejala pada bagian tanaman yang masih muda.
b. Mangan (Mn)
Mn diserap oleh tanaman dalam bentuk Mn++, dengan tidak adanya unsur Mn maka
tanaman tidak bisa hidup, bila kekurangan Mn tanaman akan menjadi klorotis, hijau daun
tidak terbentuk.
Mn berpengaruh pula terhadap proses dessimilasi yaitu pernafasan. Enzym-enzym
yang mengatur proses ini mengandung Mn.
Konsentrasi yang dapat membahayakan terletak pada 10 sampai beberapa puluh
miligram perliternya. Bila terlalu banyak Mn terjadi klorose seperti kekurangan Fe, juga
susunan akar akan mati dan berwarna merah coklat. Kelebihan Mn dapat diberikan sedikit
garam-garam besi yang larut, maka klorose hilang karena kedua unsur tersebut merupakan
antagonis satu sama lainnya.

c. Borium
Borium diserap oleh tanaman dalam bentuk BO8=. Kekurangan unsur ini dapat
menyebabkan kuncup-kuncup dan pucuk daun jadi mati. Pertumbuhan didalam meristema
akan terganggu, yang menyebabkan terjadinya kelainan-kelainan dalam pembentukan
bekas pembuluh, Sehingga pengangkutan makanan akan terganggu.
d. Tembaga (Cu)
Unsur tembaga diserap oleh tanaman dalam bentuk Cu++. Cu diperlukan pada
pembentukan beberapa macam enzym, oleh karena itu sangat diperlukan walaupun dalam
jumlah yang kecil.
e. Zink (Zn)
Zink diserap dalam bentuk Zn++. Zink dalam kadar rendah memberikan dorongan
terhadap pertumbuhan. Sedangkan bila kadar berlebih walau sedikit akan menjadi racun
bagi tanaman.
Persenyawaan-persenyawaan Zn mempunyai fungsi pada pembentukan hormon tumbuh
(auxin) dan penting bagi keseimbangan psikologis. Gejalagejala kekurangan Zn ialah daun
antara tulang-tulang daun berwarna merah coklat.
f. Molibdin (Mo)
Diserap akar dalam bentuk ion Molibdat (MoO4). Peranannya penting dalam pengikatan
Nitrogen yang bermanfaat pada tanaman Leguminose. Mo juga penting bagi tanaman jeruk
dan sayur-sayuran.