Anda di halaman 1dari 10

2.

2 Zat Organik di dalam Gigi


Definisi dan fungsi dari zat organik yang terdapat di dalam gigi adalah :
a. Hidroksiapatit
Hidroksiapatit adalah mineral utama yang terdapat di dalam gigi. Hidroksiapatit
merupakan sebuah Crystaline Calcium Phosphate, yang terdiri dari kalsium (Ca) dan
fosfat (P). Hidroksiapatit dapat terikat langsung secara langsung dengan jaringan dan
dapat merangsang tumbuhnya jaringan (Leventouri, 2011).
b. Kolagen
Kandungan kolagen terdapat di sementum, sedangkan pada enamel tidak ada
kolagen. Kandungan kolagen ddi dalam gigi tersebut menjaga kekuatan struktur gigi.
Jika kekurangan kolagen baik secara patologis atau maupun fisiologis (aging), maka
kekuatan struktur gigipun akan berkurang (Leventouri, 2011).
Kandungan-kandungan zat didalam gigi tersebut berperan penting dalam struktur
dan kekuatan gigi. Jika salah satu atau keseluruhan zat tersebut menglami defisiensi
baik secara patologis maaupun fisiologis (aging), maka akan berpengaruh juga
terhadap struktur, kepadatan, dan kekuatan tulang (Leventouri, 2011).

2.2.1 Struktur dan Kandungan Gigi Dewasa Muda (Leventouri, 2011).


Struktur Gigi
Enamel. Jaringanikat yang termineralisasi, terdiri dari jutaan enamel rods/prisma
(DEJ permukaan mahkota)
Sifat fisik :
Terkeras, warna putih keabuan, transparan
Kekuatan tarik 100 kg/cm
Daya tahanan kompresi 2100-3500 kg/cm
Bersifat brittle
Komposisi kimia :

96 % bahan anorganik : hydroxyapatite enamelin (protein + polisakarida)


4% bahan organik (3-4% air)
Dentine. Berasal dari mesoderm & bagian terbesar dari gigi
Tubuli dentin :
pulpa dekat/menembus DEJ
Terdiri dari proc. Sitoplasmik odontoblas dalam pulpa
Sifat fisik :
Keras, warna putih kekuningan, opaque
Kekuatan tarik 250 kg/cm
Daya kompresi bervariasi
Elastisitas cukup tinggi
Komposisi kimia :
70% bahan anorganik
30% bahan organik (18% kolagen dan 12% air)

Cementum. Struktur sama dengan tulang dilihat dari banyak aspek, perbedaan
dengan tulang terdapat pada vaskularisasinya dan cementum mengandung sel tertutup
(CEMENTOSIT), identic dengan OSTEOSIT dari tulang. Cementum berfungsi
mengadakan perlekatan dengan ligamen periodontal. Komposisi terdiri dari, 65%
bahan anorganik, 23% bahan organik, dan12% air
Dental Pulp. Ruangan dibagian tengah gigi (dentin) yang berisi jaringan ikat halus,
saraf, pembuluh darah & limfe. Bagian tepi dibatasi odontoblas dan terdapat
satu/lebih lubang akhir ( FORAMEN APIKALIS )
periapikal

Periodontium. Membantu gigi dalam mempertahankan posisi fungsionalnya. Terdiri


dari jaringan yang mengelilingi & menyangga gigi, yaitu gingiva, cementum,
ligament periodontal, dan tulang alveolar.

Kandungan (Dewi K, 2002).


1. Kandungan Anorganik
Fluorine. Komposisi bervariasi pada tulang/gigi. Pada dentin dengan konsentras
tertinggi ( dentin sekunder > dentin primer ). Sebagai analisis spesimen
arkeolog,ditemukan pada fosil tulang & gigi (>1%), oleh karena absorpsi flourine
dari air tanah sekitar yang menembus specimen.
Stronsium. Terdapat pada abu tulang (150 - 250 ppm), enamel (100 - 200 ppm),
dentin (100 - 600 ppm). Konsentrasi bervariasi secara geografi &jenis makanan,
konsentrasi stronsium pada ikan & kerang lebih banyak daripada susu. Penelitian
Elias (1980) di Calcutta : antara vegetarian & omnivora tidak ada perbedaan yang
signifikan kadar stronsium dalam enamel
Zink. Berfungsi menjaga kestabilan mineral jaringan. Ditemukan pada hampir semua
makanan, konsentrasi tertinggi pada daging & sea food
2. Kandungan Organik
Komponen organik terbesar dari dentine, cementum, tulang adalah protein. Protein
dalam tulang (fresh bone), cementum, dentin adalah kolagen. Tiap molekul kolagen
p.280 - 300 nm, dibentuk rantai alfa, masing - masing terdiri dari 1000 residu asam
amino dengan BM 100 kD
Protein dalam dentine, cementum & tulang
Proteoglycan ; molekul non kolagen berhubungan dengan rantai karbohidrat
Phosphoprotein ; protein pada dentin mengandung y carboxy glutamic acid (
dalam tulang osteocalcin ; sebagai spesimen alkeolog)
Protein dalam serum albumin terdapat juga di dentin ; ditemukan pada
tulang Mastodon ( 10 000 BP ) ( Lownstein 1992 ) dan pada tulang manusia purba (
Cattaneo et al 1992 )

Non Collagenous Protein ( NCP ) mampu bertahan lebih lama daripada KOLAGEN

2.2.2 Struktur dan Kandungan Gigi Orang Dewasa Tua


Perubahan yang nyata pada gigi sehubungan dengan meningkatnya usia adalah
kehilangan substansi gigi yang disebabkan oleh atrisi. Atrisi disebabkan karena
pemakaian gigi yang

terus-menerus dimulai sejak gigi erupsi. Derajat atrisi

tergantung dari konsistensi dan bahan makanan, kebiasaan seperti bruxism dan
clencing, dan kekerasan gigi (Dewi K, 2002).
Terjadinya abrasi dapat juga disebabkan karena pemakaian gigi terus-menerus.
Sehingga pada manula gigi menjadi rapuh (brittle) dan warna gigi kelihatan lebih tua
dan gelap karena adanya proses korosi, pigmentasi dan kebersihan mulut yang jelek
(Dewi K, 2002).
Pada manula terjadi penyempitan ruang pulpa sampai 50%. Dalam pulpa terjadi
pertambahan jaringan kolagen, sel odontoblast berkurang.Terbentuk dentikel pada
ruang pulpa serta pseudocyst. Disamping itu terbentuk sekunder dentin dan
pengapuran pada saluran akar yang mempersempit ruang saluran akar. Berkurangnya
ukuran kamar pulpa dan saluran akar akan menyebabkan kesukaran pada waktu
,melakukan perawatan saluran akar (Dewi K, 2002).

2.2.3 Perbedaan Gigi Kandungan, Struktur, dan Bentuk Gigi pada Dewasa
Muda dan Orang Tua
Perubahan kandungan, struktur, dan bentuk gigi karena proses penuaan (aging).
No
1.

Aspek perubahan

Dewasa muda

Orang tua

Struktur

Menurunnya

daya

larut

- Enamel

terhadap asam, volume pori


enamel, kandungan air, dan
permeabilitas enamel

- Dentin

Pada jaringan pulpa gigi Peningkatan dentin sekunder


yang

lebih

muda dan

pembentukan

sklerotik

memiliki sel dan struktur dentin.


interseluler yang lebih Melebarnya peritubular dentin
banyak.

dan

deposit

intratubular,

mineral

tubuli

dentin

mengalami penyempitan.
Berakibat

pada

penurunan

vaskularisasi dan fungsi sensasi


- Sementum

rasa nyeri.

Bertambahnya

ketebalan

sementum

progresif

yang

sepanjang hidup

2.

Kandungan

Terdiri

dari

bahan Terjadi defisiensi konsentrasi

anorganik

seperti; kandungan

gigi.

Defisiensi

Kalsium, fosfor, ferum, berbagai

kandungan

magnesium,

pada

klorin, berakibat

kalium

fluor,

mangan,

dan

dan mineralisasi,

gigi

gangguan
pembentukan

bahan jaringan,vaskularisasi,

organik seperti; air dan penurunan


kolagen.

kekuatan

kepadatan

serta

tulang,

dan

permeabilitas tulang berkurang.


Enamel:
anorganik

bahan
96

hydroxyapatite
Ca10(PO4)6.(OH)
bahan

organik

% Namun

sejalan

- didapatkan
4% kandungan
(3-4% fluoride

usia,

juga

peningkatan
nitrogen
yang

dan

bermanfaat

air).

sejumlah sebagai proteksi individu usia

karbonat(4%),

lanjut terhadap karies.

sodium(0,6%),
magnesium

(1,2%),

klorida (0,2%), fluorida


(0,01%).
Dentin:

kadar

garam

kalsiumnya lebih besar


(70%)

dalam

bentuk

hidroksi apatit. Zat antar


sel

organic

terutama

(30%)

terdiri

atas

serat-serat kolagen dan


glikosaminoglikans.
Sementum: 65% bahan
anorganik, 23% bahan
organik, dan12% air.
3.

Bentuk

Kalsifikasi semakin sempurna

(morfologi)

namun demineralisasi di dalam.


Terjadi

perubahan

warna

kuning menjadi lebih coklat.


Enamel
atrisi

menghilang

karena

(pengurangan

sekitar

29m/tahun)
Penipisan enamel pada leher
gigi
Berkurangnya

dengan

cepat

volume lumen seluler pada


ruang pulpa

Dentin sekunder terutama pada


atap dan dasar kamar pulpa,
sklerosis

hampir

ditemukan

pada

selalu

akar

gigi

dengan bentuk seperti gelas.


Pulpa semakin menyempit
Sementum menebal

Beberapa perubahan yang terjadi pada rongga mulut lansia berdampak pada
perubahan struktur, kandungan, dan bentuk jaringan keras gigi.
1. Enamel
Enamel mengalami sejumah perubahan yang nyata karena pertambahan usia,
termasuk kenaikan konsentrasi nitrogen dan fluoride sejalan dengan usia.
Peningkatan kandungan fluoride pada permukaan email sangat penting karena hal
ini memodifikasi kerentanan terhadap karies dan mempengaruhi sifat adhesive dari
email pada individu usia lanjut dalam proses etsa dengan asam fosfor. Perubahan
warna enamel dari kuning menjadi lebih cokelat, dan enamel menghilang karena
atrisi. Penipisan enamel dibagian leher gigi yang sering disebabkan oleh kekerasan
dari sikat gigi. (Guila, 2010).
Bertambahnya usia mengakibatkan menurunnya daya larut terhadap asam,
volume pori enamel, kandungan air, dan permeabilitas enamel. Penggunaan gigi
selama kita hidup akan mengakibatkan fisiologi, berbagai cairan, ion, substansi
dengan berat molekul rendah, berbagai gangguan lainnya, dan obat-obatan yang
dapat mempengaruhi permeabilitas enamel. Akibatnya permeabilitas enamel
menurun. Secara fisiologi pemakaian gigi dalam proses mastikasi dapat
mengakibatkan gigi menjadi atrisi. Normalnya gigi akan mengalami pengurangan
sekitar 29m/tahun (Roberson, 2002).

2. Dentin

Perubahan pada dentin seperti melebarnya peritubular dentine dan deposit


mineral intratubular, tubuli dentin mengalami penyempitan. Selain itu perubahan
pada fraksi organic dari dentin seperti peningkatan asam mucopolysaccarides.
Pembentukan dentin yang berlanjut sejalan dengan usia menyebabkan reduksi
secara bertahap pada ukuran kamar pulpa. Pembentukan dentin sekunder terutama
terjadi pada atap dan dasar dari kamar pulpa, pembentukan pada dinding agak
berkurang. Perubahan lain yang terjadi pada dentin adalah skeloris melalui
pembentukan yang berlanjut dari dentin tubular pada orang tua yang mengalami
atrisi. Perubahan ini akan mengarah pada reduksi kerentanan dentinal pada lansia.
(Giannini, 2003). Reparatif dentin biasanya terbentuk pada daerah gigi yang
mengalami tekanan mekanikal. seiring bertambahnya usia sklerotik dentin juga
terbentuk. Sklerotik dentin merupakan suatu bentuk dari akibat penuaan dan iritasi
ringan serta beberapa perubahan pada komposisi dentin primer. (Nicholson, 2001)

3. Sementum
Sementum juga mengalami perubahan yaitu dengan bertambahnya ketebalan
sementum yang progresif sepanjang hidup. Sementum adalah jaringan yang
menyerupai tulang yang menutupi akar dan menyediakan perlekatan bagi serabut
periodontium utama. (Leong, 2009)

4. Pulpa
Perubahan morfologik paling nyata dalam proses penuaan kronologik adalah
berkurangnya secara cepat volume lumen seluler dalam ruang pulpa. Hal ini
terjadi akibat deposisi dentin (dentin sekunder dan tersier) secara berkelanjutan
dan adanya pembentukan batu pulpa. (Guila, 2010).
Seiring bertambahnya usia, ruangan pulpa semakin kecil karena pertumbuhan
dari dentin sekunder, diikuti dengan pembentukan reparatif dentin. Akibatnya
vaskularisasi menurun dan mengakibat penurunan fungsi defensif pulpa serta
penurunan sensasi rasa nyeri akibat dari dentin sklerotik dalam tubulus
dentinalis. (Nicholson, 2001)

5. Perubahan Ukuran Lengkung Rahang.


Proses penuaan disertai dengan perubahan-perubahan osteoporosis pada
tulangnya.

Pada Rahang Atas arahnya ke bawah dan keluar, pengurangan

tulangnya pada umumnya juga terjadi kearah atas dan dalam.Karena lempeng
kortikalis tulang bagian luar lebih tipis daripada bagian dalam. Resorbsi bagian
luar lempeng kortikalis tulang berjalan lebih banyak dan lebih cepat. Dengan
demikian lengkung maksila akan berkurang menjadi lebih kecil sehingga
permukaan landasan gigi menjadi berkurang. Pada Rahang Bawah. Inklinasi gigi
anterior umumnya keatas dan ke depan dari bidang oklusal, sedangkan gigi-gigi
posterior lebih vertikal atau sedikit miring ke arah lingual. Permukaan luar
lempeng kortikalis tulang lebih tebal .Resorbsi pada tulang alveolar mandibula
terjadi kearah bawah dan belakang kemudian kedepan. Terjadi perubahanperubahan pada otot sekitar mulut, hubungan jarak antara mandibula dan maksila
sehingga terjadi perubahan posisi mandibula dan maksila (Suhariani, 2008).

6. Resorbsi linggir alveolar.


Tulang akan mengalami resorbsi dimana resorbsi berlebihan pada puncak
tulang alveolar mengakibatkan bentuk linggir yang datar dan merupakan masalah
karena gigi tiruan lengkap kurang baik dan terjadi ketidak seimbangan oklusi.
Resorbsi paling besar terjadi 6 bulan pertama sesudah pencabutan gigi anterior
atas dan bawah. Pada rahang atas sesudah 3 tahun dan resorbsi sangat kecil
dibandingkan rahang bawah (Suhariani, 2008).

7. Kehilangan Struktur Gigi karena Pemakaian


Perubahan yang nyata pada gigi sehubungan dengan meningkatnya usia
adalah kehilangan substansi gigi yang disebabkan oleh atrisi. Atrisi disebabkan
karena pemakaian gigi yang terus-menerus dimulai sejak gigi erupsi. Derajat atrisi
tergantung dari konsistensi dan bahan makanan, kebiasaan seperti bruxism dan
clencing, dan kekerasan gigi (Dewi K, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Dewi K. 2002. Kelainan Jaringan Rongga Mulut Pada Manula. Medan : Fakultas
Kedokteran Gigi USU. Hal 9
Giannini M, Chaves P, Oliverira MT. Effect of Tooth Age on Bond Strength to
Dentin. J Appl Oral Sci 2003; 11(4): 342-7
Guila R et al. Aging and Oral Health: Effects in Hard and Soft Tissues. Current
Pharmaceutical Design, 2010, 16, 619-630
Leong NL et al. Age-Related Adaptation of Bone-PDL-Tooth Complex: RattusNorvegicus as a Model System.
Leventouri et. all. Crystal Structure of Human Dental Apatiite as a Function of
Age. 2011. Department of Physics and Center for Biological and Materials
Physics, Florida Atlantic University, Boca Raton, FL 33431, USA.
Nicholson W.J. Biologic considerations. 2001. In: Summitt B.J., Robbins W.J.,
Schwartz S.R., Santos dos J., ed. Fundamentals of operative dentistry a
contemporary approach 2th. Singapura: Quintessence Books.
Roberson M. T. 2002. Clinical significant of dental anatomi, histology, physiology,
and occlusion. In: Sturdevants art and science of operative dentistry 4th. St.
Louis: Mosby.
Suhariani S. Kusnandi. 2008. Permasalahan Gigi pada Lansia. Bandung: RSUP. Dr.
Hasan Sadikin