Anda di halaman 1dari 5

MEMILIH TETANGGA SEBELUM MEMILIH RUMAH

()
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan,
empat hal termasuk kebahagiaan, di antaranya tetangga
yang baik. Beliau juga menyebutkan empat hal termasuk
kesengsaraan, di antaranya tetangga yang jahat. Karena
bahayanya tetangga yang jahat ini, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam berlindung kepada Allah daripadanya
dengan berdoa:
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari tetangga yang
jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga nomaden
akan pindah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan
umat Islam untuk berlindung pula daripadanya dengan
mengatakan:
Berlindunglah kalian kepada Allah dari tetangga yang
jahat di rumah tempat tinggal, karena tetangga yang
nomaden akan berpindah daripadamu.
Dalam buku kecil ini, tentu tak memadai untuk
menjelaskan secara rinci tentang pengaruh tetangga jahat
terhadap suami istri dan anak-anak, berbagai gangguan
menyakitkan daripadanya, serta kesusahan hidup
bersebelahan
dengannya.
Akan
tetapi
dengan
mempraktekkan hadits-hadits yang telah lalu (dalam
masalah bertetangga) sudah cukup bagi orang yang mau
mengambil pelajaran.
Mungkin di antara jalan pemecahannya yang kongkret,
yaitu seperti yang dipraktekkan oleh sebagian orang
dengan menyewakan rumah yang bersebelahan dengan
tetangga jahat tersebut kepada orang-orang yang
sekeluarga dengan mereka, meski untuk itu harus merugi
dari sisi materi, karena sesungguhnya tetangga yang baik
tak bisa dihargai dengan materi, berapa pun besarnya.
MEMULIAKAN TETANGGA
Berbuat baik kepada tetangga juga menjadi perhatian
serius dalam ajaran Islam. Perhatikan firman Allah Taala:

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak,


karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri,. (An-Nisa:36)
Nabi SAW dalam beberapa hadits mengingatkan kita agar
selalu berbuat baik kepada tetangga, di antaranya adalah:
Ibnu Umar dan Aisyah ra berkata keduanya, Jibril selalu
menasihatiku untuk berlaku dermawan terhadap para
tetangga, hingga rasanya aku ingin memasukkan tetanggatetangga tersebut ke dalam kelompok ahli waris seorang
muslim. (H.R. Bukhari-Muslim)
Abu Dzarr ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
Hai Abu Dzarr jika engkau memasak sayur, maka
perbanyaklah kuahnya, dan perhatikan (bagilah)
tetanggamu (H.R. Muslim)
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, Demi
Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah
tidak beriman. Ditanya: Siapa ya Rasulullah? Jawab Nabi,
Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari
gangguannya (H.R. Bukhari-Muslim)
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi SAW bersabda, Siapa
yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah
memuliakan tetangganya. (H.R. Bukhari-Muslim)
Hak-hak ketetanggaan tidak ditujukan bagi tetangga
kalangan muslim saja. Tentu saja tetangga yang muslim
mempunyai hak tambahan lain lagi yaitu juga sebagai
saudara (ukhuwah Islamiyah). Tetapi dalam hubungan
dengan hak-hak ketetanggaan semuanya sejajar:
Berbuat baik dan memuliakan tetangga adalah pilar
terciptanya kehidupan sosial yang harmonis. Apabila
seluruh kaum muslimin menerapkan perintah Allah Taala
dan Nabi SAW ini, sudah barang tentu tidak akan pernah
terjadi kerusuhan, tawuran ataupun konflik di kampungkampung dan di desa-desa.
Beberapa kiat praktis memuliakan tetangga adalah:
1. Sering bertegur sapa, tanyailah keadaan
kesehatan mereka.
2. Berikanlah kepada mereka sebagian makanan
3. Berikan oleh-oleh buat mereka, apabila kita
bepergian jauh.
4. Bantulah mereka apabila sedang mengalami
musibah ataupun menyelenggarakan hajatan.

5. Berikanlah anak-anak mereka sesuatu yang


menyenangkan, berupa makanan ataupun
mainan.
6. Sesekali undanglah mereka makan bersama di
rumah.
7. Berikanlah hadiah kaset, buku bacaan yang
mendorong mereka untuk lebih memahami Islam.
8. Ajaklah mereka sesekali ke dalam suatu acara
pengajian atau majelis talim, atau pergilah
bersama memenuhi suatu undangan walimah
(apabila mereka juga diundang)

hendaklah ia mengucapkan, Yahdikumullah wa


yushlihu balakum.
4. Menziarahi karena Allah
Ibnu Majah dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari
Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw.
bersabda, Barang siapa menjenguk orang sakit
atau berziarah kepada seorang saudara di jalan
Allah, maka ia akan diseru oleh seorang penyeru
Hendaklah engkau berbuat baik, dan baiklah
perjalananmu,
(karenanya)
engkau
akan
menempati suatu tempat di surga.

MEMULIAKAN TEMAN
Memuliakan teman berarti menjaga dan menunaikan hakhak mereka. Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul
aulad fil Islam menyebutkan bahwa hak-hak tersebut
adalah:
1. Mengucapkan salam ketika bertemu.
Rasulullah saw. yaitu, Kalian tidak akan masuk
surga sebelum kalian beriman, dan kalian tidak
akan beriman sebelum kalian saling mencintai.
Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu
yang apabila kalian kerjakan, niscaya kalian akan
saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara
kalian. (H.R. Bukhari-Muslim)
2. Menjenguk Teman Ketika Sakit
Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asyari
bahwa Rasulullah saw bersabda, Jenguklah orang
yang sakit; beri makanlah orang yang lapar dan
lepaskanlah orang yang dipenjara.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, Hak
seseorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima;
Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi
jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang
bersin.
3. Mendoakan Ketika Bersin
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Apabila
salah seorang di antara kamu bersin, hendaklah ia
mengucapkan, Alhamdulillah (segala puji bagi
Allah), dan saudaranya atau temannya hendaknya
mengucapkan untuknya, Yarhamukallah (semoga
Allah mengasihimu) Apabila teman atau
saudaranya tersebut mengatakan, Yarhamukallah
(semoga Allah mengasihimu), kepadanya, maka

5. Menolong ketika kesempitan


Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan
dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw.
bersabda, Seorang muslim itu adalah saudara
bagi muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat zhalim
kepadanya dan tidak boleh menyia-nyiakannya
(membiarkan, tidak menolongnya). Barang siapa
menolong kebutuhan saudaranya maka Allah akan
menolong
kebutuhannya,
barang
siapa
menyingkirkan suatu kesusahan dari seorang
muslim, niscaya Allah akan menyingkirkan darinya
suatu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan
hari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib)
seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi
(aib)nya pada hari kiamat
6. Memenuhi undangannya apabila ia mengundang
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan
dari Abu Hurairah ra , bahwa Rasulullah saw.
bersabda; Hak seseorang Muslim terhadap
Muslim lainnya ada lima; Menjawab salam,
menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah,
memenuhi undangan dan mendoakan orang yang
bersin
7. Memberikan ucapan selamat
Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra,
Barang siapa bertemu saudaranya ketika bubar
dari shalat Jumat, maka hendaklah ia
mengucapkan Semoga (Allah) menerima (amal
dan doa) kami dan kamu.
8. Saling memberi hadiah
At-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dari
Nabi saw, bahwa beliau bersabda, Saling
memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan
saling mencintai

Ad-Dailami meriwayatkan dari Anas secara marfu,


Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena
hal itu dapat mewariskan kecintaan dan
menghilangkan kedengkian-kedengkian
Imam Malik di dalam Al-Muwaththa meriwayatkan,
Saling bermaaf-maafkanlah, niscaya kedengkian akan
hilang. Dan saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian
akan saling mencintai dan hilanglah permusuhan.
WASIAT TENTANG TETANGGA

:
.

Dari Aisyah ra, dari Nabi Muhammad saw bersabda,
Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku
tentang tetangga sehingga aku menduga bahwa ia akan
memberikan warisan kepadanya. (H.R. Bukhari, Muslim,
Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)
Penjelasan:
Wawu dibaca fathah, bersama dengan shad tanpa
titik dan dibaca panjang, lalu hamzah sesudahnya, adalah
bentuk kata lain dari wasiat, demikian juga dengan
mengganti ya pada posisi hamzah
Berwasiat kepadaku tentang tetangga, tanpa
dibedakan kafir atau muslim, ahli ibadah atau ahli maksiat,
setia atau memusuhi, kenal baik atau masing asing,
menguntungkan atau merugikan, keluarga dekat atau
orang lain, dekat rumah atau jauh.

At-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra dari Nabi


Muhammad saw bersabda:

: :
: :

Tetangga itu ada tiga macam: Tetangga yang hanya
memiliki satu hak, yaitu orang musyrik, ia hanya memiliki
hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yaitu
seorang muslim: ia memiliki hak tetangga dan hak Islam.
Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yaitu tetangga,
muslim memiliki hubungan kerabat; ia memiliki hak
tetangga, hak Islam dan hak silaturahim.
Hadits ini dengan tegas menunjukkan tentang besarnya
hak tetangga. Dan bahwa mengganggu tetangga termasuk
di antara dosa besar.
DOSA ORANG YANG TETANGGANYA TIDAK AMAN DARI
GANGGUANNYA

:




: .


:
.
Dari Abu Syuraih ra, bahwa Nabi Muhammad saw
bersabda, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi
Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak
beriman. Ada yang bertanya, Siapa itu Ya Rasulullah?
Jawab Nabi, Yaitu orang yang tetangganya tidak aman
dari gangguannya. (H.R. Bukhari)
Penjelasan:

Sehingga aku menyangka bahwa ia akan


mewarisi, ia menyuruhku -berdasarkan perintah Allah-,
bahwa tetangga itu mewarisi tetangga lainnya, dengan
menjadikannya bersama-sama dalam harta, sesuai dengan
bagian yang ditentukan dalam pembagian waris.
Imam Bukhari meriwayatkan juga hadits ini dari Jabir ra,
dari Rasulullah saw dengan kalimat:

Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku
tentang tetangga sehingga aku menyangka ia menjadikan
warisan harta tertentu baginya.

Bentuk jama dari kata ba dan qaf- berarti:


bencana,
pencurian,
kejahatan,
hal-hal
yang
membahayakan, hal-hal yang menjadi pelampiasan
kebenciannya.
Syin dibaca dhammah, ra dibaca fathah,
diakhiri dengan ha tanpa titik. Khuwailid Al-Khuzaiy asShahabiy.
Diulang tiga kali, artinya tidak sempurna
imannya, atau hilang iman sama sekali bagi yang
menganggapnya halal, atau ia tidak mendapatkan balasan
seorang mukmin sehingga dapat masuk surga sejak awal,

atau pengulangan ini


memberatkan larangan.

untuk

menegaskan

dan

: Dalam Fathul Bari, Ahmad meriwayatkan


dari Ibnu Masud, bahwa dialah yang bertanya. Rasulullah
saw menjawab:

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran tentang
pentingnya hak tetangga. Sehingga Rasulullah saw harus
bersumpah tiga kali, menafikan iman orang yang
mengganggu tetangganya, baik dengan ucapan maupun
perbuatan.
LARANGAN MEREMEHKAN HADIAH DARI TETANGGA


:

:

.
Dari Abu Haurairah ra berkata: Nabi Muhammad saw
pernah bersabda: Wahai para wanita muslimah, janganlah
ada seorang tetangga yag meremehkan hadiah
tetangganya meskipun kikil (kaki) kambing. (H.R. BukhariMuslim)
Penjelasan:
Meremehkan, seperti kata:
Wahai wanita-wanita muslimah, bentuk
/idhafah (penyandaran) maushuf
(yang diterangkan) kepada sifat.
Atau bermakna lain: Wahai para pemuka
muslimah, seperti ungkapan Arab :
wahai para pemimpin kaum, artinya para pemuka mereka.
Qaf dibaca kasrah, artinya jangan meremehkan,
menganggap kecil.
tetangga memberikan hadiah pada
tetangga lainnya. Atau meremehkan hadiah dari
tetangganya
Lambermakna
minsehingga
kemungkinan makna larangan itu pada pemberi atau
penerima,
meskipun hadiah itu berupa kaki kambing
fa dibaca kasrah, ra dibaca sukun/mati,
adalah bagian kaki di atas telapak/tumit. Larangan bagi
tetangga meremehkan hadiah tetangganya, meskipun
hadiah itu pada umumnya kurang berguna, atau tidak
berkenan dan tidak bernilai di hati. Dari itulah tetangga

dapat memberikan dan menerima hadiah yang ada


meskipun kecil nilainya. Hal ini lebih baik daripada tidak
ada sama sekali. Dengan ini pula kebiasaan memberikan
hadiah dapat terus berlangsung antara tetangga, karena
dengan sesuatu yang murah dan mudah, dapat dilakukan
dalam keadaan miskin maupun kaya, dapat membuahkan
rasa cinta dan kasih sayang. Dengan ini pula tidak
diperbolehkan bagi laki-laki meremehkan hadiah antara
mereka. Penyebutan larangan secara khusus pada wanita
karena merekalah yang lebih cepat bereaksi dalam cinta
dan benci, sehingga mereka lebih berhak mendapatkan
perhatian, agar dapat menghindarkan diri dari larangan
itu, menghilangkan kebenciaan antara mereka dan
mempertahankan rasa cinta antar mereka.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak
diperbolehkan
meremehkan
hadiah
untuk
mempertahankan rasa cinta antara mereka.
Barang Siapa Beriman Kepada Allah Dan Hari Akhir Maka
Jangan Menyakiti Tetangga
: :

.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw
bersabda, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya. Dan
barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
maka hendaklah menghormati tamunya. Dan barang siapa
beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata
baik atau diam. (H.R. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)
Penjelasan:
Barang siapa
beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya: iman yang
sempurna.
Penyebutan hanya pada iman kepada Allah dan hari akhir,
tidak dengan kewajiban lainnya, karena keduanya
merupakan permualaan dan penghabisan. Maksudnya:
Beriman dengan Penciptanya dan hari mendapatkan
balasan amal baik dan buruknya.
Maka jangan menyakiti tetangganya.
Tidak menyakiti tetangga itu bisa diaktualkan dengan
mengulurkan kebaikan kepadanya, mencegah hal-hal yang
membahayakannya.

Hendaklah memuliakan tamunya, dengan


menampakkan rasa senang, menyuguhkan hidangan yang
tersedia dan terjangkau.
Hendaklah berkata baik atau diam dari
ucapan buruk. Sebab perkataan itu hanya dapat
digolongkan menjadi dua golongan, baik atau buruk.
Hadits ini berisi tiga hal penting yang menjadi kemuliaan
akhlak dalam perbuatan atau perkataan. Dua pertama
yang perbuatan itu adalah yang pertama berisi takhalliy
(pengosongan diri) dari sifat tercela, dan yang kedua
tahalliy (berhias diri) dengan akhlak mulia. Sedangkan
yang ketiga berisi akhlaq qauliyah (ucapan).
Kesimpulannya bahwa kesempurnaan iman seseorang
diukur dari kebaikannya kepada sesama makhluk Allah,
baik dalam tutur kata kebaikan maupun diam dari kalimat
buruk, dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan dan
meninggalkan apa yang membahayakan; antara lain
adalah dengan tidak menyakiti tetangga.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa tidak
menyakiti tetangga adalah bukti kesempurnaan iman
seseorang kepada Allah dan hari akhir.
HAK TETANGGA YANG LEBIH DEKAT PINTUNYA

:
. :
Dari Aisyah r.a. ia berkata, Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, kepada
tetangga yang manakah aku berikan hadiah? Jawab Nabi,
Kepada tetangga yang pintu rumahnya lebih dekat
denganmu. (H.R. Bukhari)
Penjelasan:
Bab: hak tetangga yang lebih
dekat pintunya, artinya barangsiapa yang pintunya lebih
dekat maka ia yang lebih berhak. Karena ia yang melihat
apa yang keluar masuk dari rumah tetangganya; berupa
hadiah dan lain sebagainya, sehingga kemungkinan ada
harapan dan keinginan, berbeda dengan yang jauh
pintunya.
Hamzah dibaca dhammah dari kata al-ihda
Rasulullah saw menjawab: Kepada yang
lebih dekat pintunya. Karena ia melihat keadaan tetangga
dan keperluannya. Tetangga yang lebih dekat yang lebih

cepat menyahut jika dipanggil, ketika tetangga sebelah


memerlukan, terutama ketika terlena.
Dari hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa hak
tetangga mengikuti kedekatan pintunya, yang lebih dekat
pintunya yang lebih diprioritaskan dari sebelahnya,
demikian seterusnya.