Anda di halaman 1dari 4

2.x.

Diagnosis
Diagnosis BSK ditegakkan berdasarkan atas berbagai pemeriksaan awal dan
pemeriksaan tambahan.
1. Anamnesis
Dalam mendiagnosis memerlukan telaah riwayat penyakit secara menyeluruh. Nyeri
merupakan gejala yang paling sering menyertai penyakit batu saluran kemih, mulai dari nyeri
sedang sampai nyeri berat yang memerlukan pemberian analgesik. Nyeri biasanya terjadi
pada batu di saluran kemih bagian atas, dengan karakter nyeri bergantung pada lokasi batu,
ukuran batu, derajat obstruksi, berhubungan dengan mual atau muntah, ada riwayat BAK
berdarah dan kondisi anatomis setiap orang yang berbeda-beda. Pada pasien dengan riwayat
BSK sebelumnya, gejala nyeri yang ditimbulkan bervariasi, Nyeri yang terjadi dapat berupa
kolik maupun nonkolik. 1,2
Nyeri kolik pada ginjal biasanya terjadi diakibatkan meregangnya ureter atau
collecting duct, diakibatkan adanya obstruksi saluran kemih. Obstruksi juga menyebabkan
meningkatnya tekanan intraluminal, meregangnya ujung-ujung saraf, dan mekanisme lokal
pada lokasi obstruksi seperti inflamasi, edema, hiperperistaltik dan iritasi mukosa yang
berpengaruh pada nyeri yang dialami oleh pasien.1
Pada obstruksi di renal calyx, nyeri yang terjadi berupa rasa nyeri yang dalam pada
daerah flank atau punggung dengan intensitas bervariasi. Nyeri dapat muncul pada konsumsi
cairan yang berlebihan. Pada obstruksi renal pelvic dengan diameter batu diatas 1 cm, nyeri
akan muncul pada sudut costovertebra. Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri yang redup
sampai nyeri yang tajam yang konstan dan tidak tertahankan, dan dapat merambat ke flank
dan daerah kuadran abdomen ipsilateral.1
Obstruksi di proximal ureter menimbulkan nyeri pada sudut kostovertebra yang intens
dan dapat merambat sepanjang dermatom dari saraf spinal yang terpengaruh. Pada obstruksi
ureter bagian atas, nyeri merambat ke daerah lumbal, sementara pada obstruksi midureter
nyeri merambat ke daerah lower abdomen. Obstruksi di ureter bagian distal cenderung
menyebabkan nyeri yang merambat ke daerah lipat paha dan testis pada pria atau labia
mayora pada wanita. Rambatan nyeri tersebut dihantarkan melalui nervus ilioinguinal atau
cabang genital dari nervus genitofemoral.1
Hal yang perlu digali dalam anamnesis adakah riwayat batu saluran kemih
sebelumnya seperti kronologis kejadian batu, pada usia berapa, ukuran batu, jumlah batu,
ginjal yang dipengaruhi oleh batu, batu keluar spontan atau dilakukan intervensi, infeksi
terkait, gejala yang terjadi. Adakah riwayat penyakit lain seperti penyakit penyerta Chrohns

disease, kolektomi, sarkoidosis, hyperparathyroidism, osteoporosis, kelainan tulang skeletal,


gangguan fungsi ginjal, riwayat penyakit usus, hipertiroid dan gout (asam urat). Ditanyakan
juga riwayat keluarga yang mengalami batu saluran kemih, riwayat pemakaian obat seperti
acetazolamide, asam askorbat, kortikosteroid, antasida yang mengandung kalsium,
triamterene, acyclovir, indinavir, pekerjaan dan gaya hidup seperti pola makan, konsumsi
makanan (tingginya konsumsi garam, lemak yang tak larut, kurangnya konsumsi sayuran,
serat dan komsumsi air yang kurang).1,2
2. Pemeriksaan Fisik
Setelah menggali riwayat pasien, evaluasi yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik yang detail merupakan komponen penting dalam evaluasi pasien dengan
batu saluran kemih. Dalam BSK, keluhan nyeri kolik dapat dibedakan dengan nyeri kolik
pada peritononitis. Hal-hal yang dapat dilihat pada gejala sistemik seperti takikardia,
berkeringat, mual, demam, nyeri tekan pada sudut kostovertebra, pada palpasi teraba massa
sepanjang saluran kemih yang obstruksi dan pada hidronefrosis berat dan menyingkirkan
kemungkinan kemungkinan kelainan pada abdomen dan lumbal.1,3
Pada pemeriksaan abdomen perlu ditelaah nyeri kolik abdomen yang dikeluhkan
untuk menyingkirkan tumor abdomen, ileus obstruksi, aneurisma aorta abdomen, herniasi
lumbal dan kehamilan. Untuk menyingkirkan hal tersebut perlu dilakukan palpasi pada
daerah ginjal dan kandung kemih. Pemeriksaan colok dubur membantu menyingkirkan
kelainan lainnya.
3. Pemeriksaan Penujang
Pemeriksaan urinalisis lengkap diperlukan untuk memastikan diagnosa batu saluran
kemih berdasarkan hematuria dan kristaluria dan pH urin. Pasien biasanya mengeluhkan
warna urin yang seperti teh pekat. Pada 10-15 % kasus, mikrohematuria tidak terjadi akibat
obstruksi komplit dari ureter. Demam yang berhubungan dengan adanya batu saluran kemih
menunjukkan suatu kondisi gawat darurat. Demam merupakan salah satu dari gejala sepsis
selain takikardi, hipotensi dan vasodilatasi. Sementara itu, mual dan muntah terjadi akibat
kolik yang dirasakan oleh pasien.1
Pemeriksaan anjuran selanjutnya adalah pemeriksaan radiologi. Bila tersedia,
pemeriksaan ultrasonografi merupakan instrumen diagnostik radiologi yang utama pada
pasien. Ultrasonografi dapat mengidentifikasi lokasi batu pada calyx, pelvis, ureter, dan lain-

lain. Di Amerika Serikat, pada pasien batu saluran kemih, pemeriksaan ultrasonografi
memiliki sensitivitas 78% dan spesifisitas 31%.4
Selain ultrasonografi, pemeriksaan radiologi lain yang dapat dilakukan adalah
pemeriksaan foto polos. Foto polos (KUB) dapat digunakan untuk melihat posisi batu di
ginjal, ureter, dan kandung kemih. KUB memiliki sensitivitas 90% dalam mendeteksi batu
saluran kemih, dan 92% batu dapat ditentukan melalui tindakan ini. 4 KUB dapat dijadikan
pilhan untuk pemeriksaan yang cepat, ekonomis dan akurat. Akan tetapi, foto polos tidak
dapat digunakan untuk mendeteksi batu yang bersifat non-opaque dan batu berukuran
dibawah 2 mm. Gambaran pada foto polos jika dijumpai gambaran batu berupa radiopak
dapat berupa batu jenis kalsium oksalat, kalsium fosfat, magnesium anomium fosfat (struvite)
dan sistine, sedangkan gambaran radiolsen berupa asam urat, xantin, dan triamterin.2,3
IVP (Intravenous Pyelogram) adalah prosedur diagnostik untuk menentukan batu
intrarenal dan kondisi anatomi ureter. IVP memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
untuk menentukan lokasi batu dan derajat obstruksi. IVP dapat mendeteksi batu radiolucent
dan kelainan anatomi yang berhubungan dengan pembentukan batu.3
Non Contrast Computed Tomography (NCCT) telah menjadi standar dalam
mendiagnosa nyeri akut menggantikan Intravenous Urography (IVU) yang telah menjadi
baku emas selama bertahun-tahun. NCCT juga dpat digunakan untuk diagnosa kelainan
peritoneal dan retroperitoneal dan membantu bila diagnosa belum pasti. NCCT dapat
mendeteksi batu asam urat dan batu xanthine yang bersifat radiolucent pada foto polos.
NCCT memiliki sensitivitas 97% dan spesivisitas 96%.4
2.x. Diagnosis Banding
Batu saluran kemih menyerupai gejala pada daerah retroperitoneal dan peritoneal.
Diagnosis banding dari diagnosis tersebut merupakan diagnosis banding akut abdomen yaitu
akut apendisitis, penyakit divertikular, obstruksi usus, batu empedu dengan atau tanpa
obstruksi, penyakit tukak usus, akut emboli arteri ginjal dan aneurisma aorta abdomen.
Sedangkan gejala pada daerha peritoneal berdasar pada pemeriksaan fisik.1
DAFTAR PUSTAKA
1. Stoller, M.L., 2008. Smiths General Urology 18th Edition: Urinary Stone
Disease.
Amerika Serikat: McGraw Hill
2. Pearle, M.S., Lotan, Y. 2012. Campbell Walsh Urology 10th Edition:
Urinary Lithiasis. Amerika Serikat: Saunders Elsevier Pishchalnikov
Y.A., McAteer J.A., William
J.C., 2006. Why Stones Break Better at

Slow Shockwave Rates


than at Fast Rates. Amerika Serikat: Journal
of Endourology
3. Pahira, J.J., Pevzner, M., 2007. Penn Clinical Manual of Urology
Nephrolithiasis. Amerika Serikat: Saunders Elsevier
4. Trk, C., Knoll, T., Petrik, A., Sarica, K., Skolarikos, A., Straub, M., Seitz,
C.,
2013. Guidelines on Urolithiasis. European Association of
Urology.