Anda di halaman 1dari 17

PERAN MANAJEMEN DALAM

MENINGKATKAN KUALITAS ORGANISASI


PADA BADAN KEBIJAKAN FISKAL

Oleh :
Rio Hafid. A.Md.
NIM 1114270034

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA YAI

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Manajemen pada prinsipnya bagaimana mengatur kegiatan agar


berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan secara optimal sesuai dengan
yang diinginkan. Tujuan yang diharapkan tersebut,akan berhasil dengan
baik bilamana kemampuan manusia yang terbatas baik pengetahuan,
teknologi, skill maupun waktu yang dimiliki itu dapat dikembangkan
dengan membagi tugas pekerjaannya, wewenang, dan tanggung jawabnya
kepada orang lain sehingga secara sinergis dan simbiosis mutualisme
membentuk kerjasama yang baik maka tidak ada manajemen. Kalaupun
ada adalah manajemen tradisional atau otoriter.

Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah


dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan
sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam
memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, dan
lingkungan), saranaparasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan
secara efisien dan efektif untuk mencapai TUJUAN. Menurut para ahli
terdapat

beberapa

pengertian

organisasi

sebagai

berikut:

Stoner

mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang


melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan
bersama. James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu
sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan
(entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan

yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus
menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Setiap Organisasi memiliki manajemen yang memegang berbagai


peranan penting yang menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan untuk diwujudkan bersama. Ada banyak peran yang
harus dimainkan / diperankan para manajer secara seimbang sehingga
diperlukan orang-orang yang tepat untuk menjalankan peran-peran
tersebut.

Unsur manajemen adalah sangat penting agar proses suatu


organisasi berjalan mantap. Manajemen melibatkan semua faktor yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan tertentu dari organisasi, seperti
manajemen diri, manajemen kepemimpinan, dsb. yang sangat terikat pada
fungsi-fungsi manajemen kehidupan organisasi yang kompleks seperti
fungsi pengambilan keputusan dalam perencanaan, penganggaran dan
pengendalian program serta penerapan model kepemimpinan dalam suatu
peranan manajemen didalam sebuah organisasi.

peranan manajemen dalam organisasi yaitu mengatur struktur


organisasi manajemen sesuai kehendak yang perusahaan inginkan,
membantu manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orangorang yang dibutuhkan dalam perusahaan tersebut, akan mendapatkan
pengambilan keputusan yang cepat dalam perusahaan, organisasi akan
tersusun dengan baik. Manajemen yang baik haruslah berperan sesuai
dengan situasi dan kondisi pada perusahaan atau organisasi. Menajemen
yang tidak bisa menjalankan peran sesuai tuntutan perusahaan dapat
membawa kegagalan.

Dalam prakteknya, kegiatan manajemen dalam organisasi tidak


lepas dari permasalahan atau kendala mendasar. Tidak terkecuali untuk
organisasi yang sudah mapan sekalipun. Mengingat pentingnya mengatasi

masalah tersebut, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang


berjudul

PERAN

MANAJEMEN

DALAM

MENINGKATKAN

KUALITAS ORGANISASI PADA BADAN KEBIJAKAN FISKAL

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka terdapat


identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Dalam sebuah organisasi harus ada keseimbangan interaksi atau timbal
balik antara atasan dan bawahan agar menumbuhkan rasa percaya,
namun saat ini kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi di lingkungan
Badan Kebijakan Fiskal.
2. Sinergisitas kinerja antara atasan dan bawahan belum sepenuhnya
trcapai. Hal ini disebabkan karena pola alur komunikasi dan
kepemimpinan yang belum sepenuhnya dapat dijalankan dan sesuai
degan ketentuan yang sudah ada.
3. Adanya harapan-harapan yang belum dapat dicapai oleh pegawai
Badan Kebijakan Fiskal seperti kepemimpinan atasan, gaji dan kondisi
lingkungan kerja yang belum sesuai dengan keingina. Hal ini
mengakibatkan kurangnya loyalitas anggota organisasi.
4. pengawasan yang belum optimal dalam hal kedisiplinan yang
berpengaruh pada produktivitas kerja pegawai Badan Kebijakan
Fiskal.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah di atas maka
rumusan masalahnnya adalah:
1. Bagaimana struktur organisasi dan hubungan kerja antara pegawai
Badan Kebijakan Fiskal baik antara atasan dan bawahan maupun
antara staf pada level yang sama?

2. Bagaimana hirarki organisasi yang diterapkan dalam proses kerja di


Badan Kebijakan Fiskal?
3. Bagaimana pengawasan yang diterpkan di Badan Kebijakan FIskla
terhadap jalannya kegiatan kerja?

BAB II
TEORI PENDUKUNG

1. Pentingnya Manajemen dalam Organisasi

Pentingnya pengorganisasian menyebabkan timbulnya sebuah struktur


organisasi, yang dianggap sebagai sebuah kerangka yang masih dapat
menggabungkan usaha-usaha merekadengan baik. Dengan kata lain, salah satu
bagian tugas pengorganisasian adalah mengharmoniskan kelompok orang yang
berbeda, mempertemukan macam-macam kepentingan dan memanfaatkan
kemampuan-kemampuan kesemuanya kesuatu arah tertentu. Pendapat ini
dikemukakan oleh (George K. Terry).

Manajemen pada prinsipnya bagaimana mengatur kegiatan agar


berjalan dengan baik dalam mencapai tujuan secara optimal sesuai dengan
yang diinginkan. Tujuan yang diharapkan tersebut,akan berhasil dengan baik
bilamana kemampuan manusia yang terbatas baik pengetahuan, teknologi, skill
maupun waktu yang dimiliki itu dapat dikembangkan dengan membagi tugas
pekerjaannya, wewenang, dan tanggung jawabnya kepada orang lain sehingga
secara sinergis dan simbiosis mutualisme membentuk kerjasama yang baik
maka tidak ada manajemen. Kalaupun ada adalah manajemen tradisional
atau otoriter.

2. Definisi Manajemen

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno mnagement, yang


memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki
definisi yang mapan dan diterima secara universal. Kata manajemen mungkin
berasal dari bahasa Italia (1561) maneggiare yang berarti mengendalikan,
terutamanya mengendalikan kuda yang berasal dari bahasa latin manus
yang berati tangan. Kata ini mendapat pengaruh dari bahasa Perancis
mange yang berarti kepemilikan kuda (yang berasal dari Bahasa Inggris

yang berarti seni mengendalikan kuda), dimana istilah Inggris ini juga berasal
dari bahasa Italia.Bahasa Prancis lalu mengadopsi kata ini dari bahasa Inggris
menjadi mnagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa
seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk
mencapai tujuan organisasi. Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen
sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan
pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan
efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan
perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan
secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.Istilah manajemen,
terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada
keseragaman.
Definisi manajemen yg dikemukakan oleh Daft (2003:4) sebagai
berikut: Management is the attainment of organizational goals in an
effective and efficient manner through planning organizing leading and
controlling organizational resources.Pendapat tersebut kurang lebih
mempunyai arti bahwa manajemen merupakan pencapaian tujuan organisasi
dgn cara yg efektif dan efisien lewat perencanaan pengorganisasian
pengarahan dan pengawasan sumberdaya organisasi.
Plunket dkk.(2005:5) mendefinisikan manajemen sebagai One or
more managers individually and collectively setting and achieving goals by
exercising related functions(planning organizing staffing leading and
controlling) and coordinating various resources (information materials
money and people). Pendapat tersebut kurang lbh mempunyai arti bahwa
manajemen merupakan satu atau lbh manajer yg secara individu maupun
bersama-sama menyusun dan mencapai tujuan organisasi dgn melakukan
fungsi-fungsi

terkait

(perencanaan

pengorgnisasian

penyusunan

staf

pengarahan dan pengawasan) dan mengkoordinasi berbagai sumber daya


(informasi material uang dan orang).

S.P.Hasibuan mengungkapkan manajemen adalah ilmu dan seni


mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya
lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu .

4. Fungsi manajemen
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di
dalamnya. Pada umumnya ada empat fungsi manajemen yang banyak dikenal
masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian
(organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi pengendalian
(controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing
(pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis
diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk
mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.

Di bawah ini akan dijelaskan arti definisi atau pengertian masing-masing


fungsi manajemen :
1. Fungsi Perencanaan / Planning
Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan
diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan tersebut.
2. Fungsi Pengorganisasian / Organizing
Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya
manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk
menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan
perusahaan.
3. Fungsi Pengarahan / Directing / Leading
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk
meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta
menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
4. Fungsi Pengendalian / Controling

Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan


standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan
jika diperlukan.

4. Definisi Organisasi

Organisasi adalah suatu sistem, mempunyai struktur dan perencanaan


yang dilakukan dengan penuh kesadaran, di dalamnya orang-orang bekerja
dan berhubungan satu sama lain dengan suatu cara yang terkoordinasi,
kooperatif, dan dorongan-dorongan guna mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan (Beach, 1980; Champoux, 2003).Apabila kita membicarakan
organisasi sebagai suatu sistem, berarti memandangnya terdiri dari unsurunsur yang saling bergantungan dan di dalamnya terdapat sub-sub sistem.
Sedangkan struktur di sini mengisyaratkan bahwa di dalam organisasi
terdapat suatu kadar formalitas dan adanya pembagian tugas atau peranan
yang harus dimainkan oleh anggota-anggota kelompoknya.

Istilah organisasi dapat pula diartikan sebagai suatu perkumpulan atau


perhimpunan yang terdiri dari dua orang atau lebih punya komitmen bersama
dan ikatan formal mencapai tujuan organisasi, dan di dalam perhimpunannya
terdapat hubungan antar anggota dan kelompok dan antara pemimpin dan
angota yang dipimpin atau bawahan (Beach and Reinhartz, 2004; Bush and
Middlewood, 2005).

Dari kedua definisi di atas, dapat dinyatakan betapa pentingnya


organisasi sebagai alat administrasi dan manajemen dalam melaksanakan
segala kebijakan/keputusan yang dibuat pada tingkatan administratif
maupun manajerial. Dalam hubungan ini, hakiki organisasi dapat ditinjau dari
dua sudut pandangan. Pertama, organisasi dipandang sebagai wadah, tempat
di mana kegiatan administrasi dan manajemen dilaksanakan. Kedua, sebagai
proses yang berusaha menyoroti interaksi (hubungan) antara orang-orang
yang terlibat di dalam organisasi itu.

BAB III
ANALISIS MASALAH

1. Struktu Organisasi

Badan Kebiajakn Fiskal (BKF) adalah salah satu jajaran unit


eleson I di lingkungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang
dikepalai oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal. BKF terdiri dari 7 unit
eselon II, yaitu; Pusat Kebijakan Pendapatan Negara (PKPN), Pusat
Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (PKAPBN), Pusat
Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM), Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal
(PPRF), Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral
(PKPPIM), Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dan
Sekretariat Badan Kebijakan Fiskal.

Di bawah unit eleson II tersebut di atas, terdapat bidang-bidang


atau bagian-bagian yang merupaka unit eselon III yang bertanggung jawab
kepada unit eselon II di atasnya langsung. Kemudian bidang-bidang atau
bagian-bagian tersebut membawahi subbidang-subbidang atau subbagiansubbagian yang merupakan unit eselon IV. Barulah di bawah unit eselon
IV tersebut terdapat pelaksana yang merupakan level staf atau level
terendah dalam struktur organisasi di Badan Kebijakan Fiskal. Selain
jabatan struktural yang disebutkan di atas terdapat pula jabatan fungsional
peneliti.

Kendala yang terjadi di Badan Kebijakan Fiskal terkait struktur


organisasi adalah masih banyaknya posisi-posisi atau jabatan-jabatan yang
kosong karena kekurangan sumber daya yang mumpuni menempati posisi
tersebut. Akhirnya dengan segala keterbatasan pejabat yang ada
diberdayakan untuk merangkap jabatan guna mengisi posisi yang kosong
tersebut. Kendala ini dirasa cukup menyulitkan karena dengan rangkap

jabatan tentunya menyebabkan fokus terpecah dalam menyelesaikan


pekerjaan.

Adapun bagan organisasi Badan Kebijakan Fiskal sebagai berikut :

2. Hierarki Organisasi

Pimpinan tertinggi di Badan Kebijakan Fiskal adalah Kepala


Badan yang merupakan pejabat eselon I dan bertanggung jawab langsung
kepada Menteri Keuangan. Dalam pandangan hierarkis, Kepala Badan
merupakan Top Manager. Tugasnya mengepalai semua yang bekerja
untuk Badan Kebijakan Fiskal termasuk middle manager, dan lower
manager. Peran Seorang Top manager mempengaruhi semua kinerja
perusahaan jadi bisa kita nilai bahwa sebuah perusahaan yang sukses
10

berkat orang-orang yang berada di tingkatan Top Manager ini begitu


sebaliknya dan tanggung jawabnya pun begitu besar terhadap organisasi.

Di level middle manager ada Kepala Pusat dan Sekretaris yang


merupakan pejabat eselon II. Tugas dari middle manager ini antara lain
sebagai penghubung antara top manager dengan lower manager. Disinilah
peran komunikasi sangat penting bagi berjalanannya kelancaran proses
kerja di Badan Kebijakan Fiskal. kelancaran delivery tugas dari top
manager kepada lower manager dan hasil kerja dari lower manager kepada
top manager menjadi tanggung jawab middle manager.

Kepala Badan atau Kepala Bagian di Badan Kebijakan Fiskal yang


merupakan pejabat eselon III menempati kepemimpinan level lowe
manager. Tugas lower manager di sini adalah mengatur dan mengkoodinir
bawahannya, dalam hal ini adalah para kepala subbidang atau kepala
subbagian dan para pelaksana, untuk melaksanakan tugas yang diminta
oleh manager level yang lebih tinggi. Peran lower manager di sini juga
sebagai pembimbing dan pengawas pagi bawahannya agar melaksanakan
tugasnya dengan baik dan benar. Untuk kepala subbidang atau kepala
subbagian (eselon IV) di sini lebih bertanggung jawab sebagai koordinator
bagi pelaksana-pelaksana di bawahnya dan bertanggung jawab kepada
kepala bidang atau kepala subbagian.

Dalam hal hirarki ini komunikasi menjadi penting untuk


kelancaran pelaksanaan tugas karena komunikasi merupakan sarana untuk
mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam organisasi.
Menurut Kohler ada dua model komunikasi dalam rangka meningkatkan
kinerja dan mencapai tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi
koordinatif, yaitu proses komunikasi yang berfungsi untuk menyatukan
bagian-bagian (subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif,
ialah proses pertukaran informasi yang berjalan secara berkesinambungan,
pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di

11

antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran


dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan
juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.
Di Badan Kebijakan Fiskal sendiri, hubungan komunikasi antar
unit dapat dikatan cukup baik. Kendala mungkin ada di sistem yang masih
manual sehingga tidak praktis dan memakan waktu lama. Hal ini
menyebabkan pekerjaan menjadi tidak efesien dikarenakan banyaknya
waktu yang terbuang. Padahal pegawai Badan Kebijakan Fiskal dituntut
untuk melaksanakan pekerjaan dengan cepat dan deadline waktu yang
sempit.

3. Pengendalian Kinerja

Kegiatan pengendalian atau controling di Badan Kebijakan Fiskal


dilakukan oleh unit Sekretariat Badan Kebijakan Fiskal yang merupakan
unit eselon II di lingkungan Badan Kebijakan Fiskal. Pengendalian itu
sendiri terdiri dari pengandalian keuangan dan pengendalian non
keuangan. Pengendalian keuangan dilakukan oleh Bagian Perencanaan dan
Keuangan sedangkan pengendalian non keuangan dilakukan oleh Bagian
Organisasi dan Kepegawaian, Bagian Umum, dan Bagian Data dan
Informasi.

Walapun pengendalian kinerja merupakan tanggung jawab Badan


Kebijakan Fiskal, masing-masing unit eselon II juga melakukan
pengendalian internal yang menjadi tugas Subbidang Tata Kelola Pusat
untuk berkoordinasi dengan Sekretariat Badan Kebijakan Fiskal.

Terkait dengan pengendalian tersebut, masing-masing unit akan


diminta untuk melaporkan evaluasi kinerjanya masing-masing kepada
Sekretariat Badan Kebijakan Fiskal setiap kuartal untuk kemudian
disampaikan kepada Kepala Badan Kebijakan Fiskal.

12

Masalah yang sering dihadapi dalam kegiatan pengendalian ini


adalah ketidaksediaan data dukung evaluasi. Dalam melaksanakan tugas
sehari-hari, pegawai sering kali tidak melakukan dokumentasi. Sehingga
pada saat akan dilakuan evaluasi, pegawai yang bersangkutan akan
kesulitan untuk melaporkan hasil pekerjaannya yang telah dikerjakan
sebelumnya. Butuh waktu lama untuk mendata kembali hasil-hasil
pekerjaan yang akan dievaluasi.

13

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Unsur manajemen adalah sangat penting agar proses suatu
organisasi berjalan mantap. Manajemen melibatkan semua faktor yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan tertentu dari organisasi, seperti
manajemen diri, manajemen kepemimpinan, dsb.
peranan manajemen dalam organisasi yaitu mengatur struktur
organisasi manajemen sesuai kehendak yang organisasi inginkan,
membantu manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orangorang yang dibutuhkan dalam organisasi tersebut,
Masalah atau kendala yang dialami dalam organisasi antara lain :
1. Banyaknya posisi-posisi atau jabatan-jabatan yang kosong
karena kekurangan sumber daya yang mumpuni.
2. Sistem komunikasi internal yang masih manual sehingga tidak
praktis dan memakan waktu lama.
3. Ketidaksediaan data dukung evaluasi.

2. Saran
Untuk meningkatkan kualitas organisasi Badan Kebijakan Fiskal maka
langkah-langkah yang sebiaknya dilakukan adalah :
1. Mengevaluasi kembaili kebutuhan sumber daya guna melengkapi
posisi-posisi kosong yang ada di Badan Kebijakan Fiskal dengan tidak
lupa memperhatikan kompetensi sumber daya tersebut apakah
mumpuni untuk ditempatkan pada posisi-posisi tersebut.

14

2. Melakukan perubahan atau perbaikan pada sistem informasi internal


untuk mendapatkan suatu sistem yang lebih baik, efektif, dan efesien.
3. Melakukan

kewajiban

pekerjaan-pekerjaan

mengarsipkan

yang

telah

dan

dilakukan

mendokumentasikan
dengan

baik

agar

memudahkan dalam evaluasi kinerja.

15

DAFTAR PUSTAKA

Siswanto . 2005 . Pengantar Manajemen . Jakarta : Bumi Aksara.


http://nurulkhusufiyah.blogspot.com/2012/04/peranan-manajemen-dalamorganisasi.html
http://pbardipurnomo.blogspot.com/2012/11/manajemen-kepemimpinandanpemberdayaan.html
http://fachruramadhan.blogspot.com/2012/04/pengertian-manajemen-danfungsinya.html
http://3sobatman.blogspot.com/2013/04/pentingnya-manajemen-dalamorganisasi_9287.html

16