Anda di halaman 1dari 12

LEARNING TASK

ASPEK BIO, PSIKO, SOSIAL, SPIRITUAL DI KEPERAWATAN INTENSIF


TANGGAL 12 SEPTEMBER 2014
1. Apa yang anda ketahui tentang aspek bio, psiko, sosio dan spiritual dalam perspektif
keperawatan intensif? Berikan contohnya!
2. Hal apa saja yang membedakan perspektif keperawatan intensif dengan keperawatan bidang
lainnya seperti medikal bedah, kegawat daruratan, dll?
3. Apa sajakah peran dan fungsi perawat dalam ruang perawatan intensif?
4. Terkait dengan aspek bio, psiko, sosio, dan kultural, keahlian apa saja yang wajib dimiliki
oleh seorang perawat intensif?
5. Dalam pembuatan asuhan keperawatan jika dikaitkan dengan aspek holistik pasien intensif,
diagnosa apa saja yang bisa muncul dan apa saja NOC serta NIC saat merawat pasien di
ruang intensif? Sebutkan sebanyak-banyaknya!

unit perawatan intensif


Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk di
kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat
yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan pbservasi ketat
dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan umum memberikan
pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru
mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit
kritis (Adam & Osbone, 1997)
1. Pengertian
Adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam Rumah Sakit yang memiliki staf khusus,
peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit, trauma atau
komplikasi penyakit lain.
2. Staf Khusus
adalah dokter dan perawat yang terlatih, berpengalaman dalam Intensive Care (Perawatan dan
terapi Intensif) dan yang mampu memberikan pelayanan 24 jam.
3. Peralatan Khusus ICU
adalah alatalat pemantauan, alat untuk menopang fungsi vital, alat untuk prosedur diagnostic
dan alat Emergency lainnya
4. Tujuan Pengelolaan di ICU
Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian atau cacat
Mencegah terjadinya penyulit

Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan rujukan ke level yang lebih
tinggi

5. Macam macam ICU


Menurut fungsi ICU dibagi menjadi beberapa unsur yaitu :
a. ICU Khusus
Dimana dirawat pasien payah dan akut dari satu jenis penyakit
Contoh :
- ICCU (Intensive Coronary Care Unit)
yaitu pasien dirawat dengan gangguan pembuluh darah
Coroner.
- Respiratory Unit
Pasien dirawat yang mengalami gangguan pernafasan
- Renal Unit
dimana pasien yag dirawat dg.gg. ginjal.

b. ICU Umum
Dimana dirawat pasien yang sakit payah akut di semua bagian RS menurut umur ICU anak &
neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa
6. Klasifikasi Pelayanan ICU
a. ICU Primer
b. ICU Sekunder
c. ICU Tersier
a. ICU Primer
Mampu memberikan pengelolaan resusitasi segera, tunjangan,kardio respirasi jangka
pendek
Memantau dan mencegah penyulit pasien dan bedah yang berisiko

Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam

Ruangan dekat dengan kamar bedah

Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar dan rujukan

Kepala : dokter spesialis anestesi

Dokter jaga 24 jam, mampu RJP

Konsultan dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat

Jumlah perawat cukup dan sebagian besar terlatih

Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit

Kemudahan Rontgen dan Fisioterapi

b. ICU Sekunder
Memberikan pelayanan ICU umum yang mampu mendukung kedokteran umum, bedah,
trauma, bedah syaraf, vaskuler dsb.
Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.

Ruangan khusus dekat kamar bedah

Kebijakan dan kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan

Kepala intensivis, bila tidak ada SpAn.

Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )

Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator,RT dan 2 : 1 untuk pasien
lainnya.

50% perawat bersertifikat ICU dan pengalaman kerja minimal 3 tahun di ICU

Mampu melakukan pemantauan invasife

Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam

c. ICU Tersier

Memberikan pelayanan ICU tertinggi termasuk dukungan hidup multi sistem ( ventilasi
mekanik , kardiovaskuler, renal ) dalam jangka waktu tak terbatas
Ruangan khusus

Kebijakan/ indikasi masuk, keluar dan rujukan

Kepala : intensivis

Dokter jaga 24 jam, mampu RJP (A,B,C D,E,F )

Ratio pasien : perawat = 1:1 untuk pasien dengan ventilator, RT dan 2 : 1 untuk pasien
lainnya.

75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman kerja di ICU 3 tahun

Mampu melakukan pemantauan / terapi non invasive maupun invasive.

Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam

Mempunyai pendidikan medik dan perawat

Memiliki prosedur pelaporan resmi dan pengkajian Memiliki staf administrasi, rekam
medik dan tenaga lain

7. Syarat - syarat Ruang ICU

Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar ( Recovery
Room)
Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak banyak keluar.

Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar

Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.

Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus

Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.

Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila memasuki ruangan isolasi.

Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk mengobservasi
pasien

8. Ketenagaan
a. Tenaga medis

b. Tenaga perawat yang terlatih


c. Tenaga Laboratorium
d. Tenaga non perawat : pembantu perawat , cleaning servis
e. Teknisi
9. Sarana & Prasarana yang harus ada di ICU

Lokasi : satu komplek dengan kamar bedah & Recovery Room


RS dengan jumlah pasien lebih 100 orang sedangkan untuk R.ICU antara 1-2 % dari
jumlah pasien secara keseluruhan.

Bangunan : terisolasi dilengkapi dengan : pasienmonitor, alat komunikasi, ventilator, AC,


pipaair, exhousefan untuk mengeluarkan udara, lantai mudah dibersihkan, keras dan rata,
tempat cuci tangan yang dapat dibuka dengan siku & tangan, v pengering setelah cuci
tangan

R.Dokter & R. Perawat

R.Tempat buang kotoran

R. tempat penyimpanan barang & obat

R. tunggu keluarga pasien

R. pencucian alat Dapur

Pengering setelah cuci tangan

R.Tempat buang kotoran

R. tempat penyimpanan barang & obat

Sumber air Sumber listrik cadangan/ generator, emergency lamp Sumber O2 sentral
Suction sentral Almari alat tenun & obat, instrument dan alat kesehatanAlmari pendingin
(kulkas)Laborat kecil

Alat alat penunjang a.l.: Ventilator, Nabulaizer, Jacksion Reese, Monitor ECG,
tensimeter mobile, Resusitato, Defibrilator, Termometer electric dan manual,Infus pump,
Syring pump,O2 transport, CVP, Standart infuse, Trolly Emergency,Papan
resusitasi,Matras anti decubitus, ICU kid, Alat SPO2, Suction continous pump dll.

R.Dokter & R. Perawat

9. Indikasi Masuk ICU


a. Prioritas 1
Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi intensif dan agresif.
Gangguan atau gagal nafas akut
Gangguan atau gagal sirkulasi

Gangguan atau gagal susunan syaraf

Gangguan atau gagal ginjal

b. Prioritas 2
Pementauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat
menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital
Misal :
Observasi intensif pasca bedah operasi : post trepanasi, post open heart, post
laparatomy dengan komplikasi,dll.
Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil

Observasi pada pasca bedah dengan penyakit jantung.

c. Prioritas 3
Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil untuk
penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi intensif untuk
mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife Intubasi atau Resusitasi
Kardio Pulmoner
NB : Px. prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2 dan 3
10. Indikasi Keluar ICU
Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil.
Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.

Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.Pasien mengalami mati batang
otak.

Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir)

Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pl.paksa)

Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat penuh.

Prioritas pasien keluar dari ICU


1. Prioritas I dipindah apabila pasien tidak membutuhkan perawatan intensif lagi, terapi
mengalami kegagalan, prognosa jangka pendek buruk sedikit kemungkinan bila
perawatan intensif dilanjutkan misalnya : pasien yang mengalami tiga atau lebih gagal
sistem organ yang tidak berespon terhadap pengelolaan agresif.
2. Prioritas II pasien dipindah apabila hasil pemantuan intensif menunjukkan bahwa
perawatanintensif tidak dibuthkan dan pemantauan intensif selanjutnya tidak diperlukan
lagi
3. Prioritas III tidak ada lagi kebutuhan untuk terapi intensive jika diketahui kemungkinan
untuk pulih kembali sangat kecil dan keuntungan terapi hanya sedikit manfaatnya misal :
pasien dengan penyakit lanjut penyakit paru kronis, liver terminal, metastase carsinoma
11. Tugas Perawat ICU
1. Identifikasi masalah
2. Observasi 24 jam

Kardio vaskuler : peredaran darah, nadi, EKG, perfusi periver, CVP

Respirasi : menghitung pernafasan , setting ventilator, menginterprestasikan hasil BGA,


keluhan dan pemeriksaan fisik dan foto thorax.

Ginjal : jumlah urine tiap jam, jumlah urine selama 24 jam

Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral, muntah , diare

Tanda infeksi : peningkatan suhu tubuh/penurunan (hipotermi), pemeriksaan kultuur,


berapa lama antibiotic diberikan

Nutrisi klien : enteral, parenteral

Mencatat hasil lab yang abnormal.

Posisi ETT dikontrol setiap saat dan pengawasan secara kontinyu seluruh proses
perawatan

Menghitung intake / output (balance cairan)

- Selain hal itu peran perawat juga :


Caring Role
Therapeutic Role
- Dalam penanganan pasien gawat diperlukan 3 kesiapan :
Siap Mental
Siap pengetahuan dan ketrampilan
Siap alat dan obat
- Urutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan pada 6B yaitu :
B-1 Breath - Sistem pernafasan
B-2 Bleed - Sistem peredaran darah

B-3 Brain

- Sistem syaraf pusat

B-4 Blader - Sistem urogenital

B-5 Bowel -Sistem pencernaan

B-6 Bone

- Sistem tulang dan persendian

12. Pasien Kritis


Fisiologis tidak stabil dan memerlukan monitoring serta terapi intensif.
- Ruang Lingkup Keperawatan Intensive :
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat
menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekalipun melakukan pelaksanaan
spesifik pemenuhan kebutuhan dasar

c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan
oleh :
Penyakit
Kondisi pasien yang memburuk karena pengobatan atau terapi

Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang tergantung pada fungsi alat / mesin dan
orang lain

13. Standar minimum pelayanan ICU :


a. Resusitasi jantung paru.
b. Pengelolaan jalan nafas
c. Terapi oksigen
d. Pemantauan EKG, pulse Oksimetri kontinyu
e. Pemberian nutrisi enteral dan parental
f. Pemeriksaan Laboratorium dengan cepat
g. Pelaksanaan terapi tertitrasi
h. Memberi tunjangan fungsi Vital selama transportasi
i. Melakukan fisioterapi.
(Ariyani , 2009 ) Analisis Pengetahuan Dan Motivasi Perawat
Yang Mempengaruhi Sikap Mendukung Penerapan
Program Patient Safety Di Instalasi Perawatan
Intensif Rsud Dr Moewardi Surakarta
Tahun 2008 . Universitas Diponegoro, Semarang
Instalasi Perawatan Intensif adalah ruang perawatan terpisah yang
berada dalam rumah sakit. Dikelola khusus untuk perawatan pasien
dengan kegawatan yang mengancam nyawa akibat penyakit,
pembedahan atau trauma dengan harapan dapat disembuhkan
(reversibel) dan menjalani kehidupan sosial melalui terapi intensif yang
menunjang (suport fungsi vital tubuh) pasien tersebut selama masa
kegawatan. Terapi suportif dengan obat dan alat meliputi fungsi
pernafasan, sirkulasi, sistem syaraf pusat, sistem pencernaan, ginjal, dll.
Yang bertujuan agar ancaman kematian dapat dikurangi dan harapan
sembuh kembali normal dapat ditingkatkan 2.
Indikasi pasien yang dirawat di Instalasi Perawatan Intensif adalah
: pasien yang memerlukan pengawasan ketat dan pengobatan dengan
titrasi, pasien yang memerlukan pemantauan cardiovasculer dalam
jangka waktu yang tidak terbatas, pasien dengan ancaman gagal nafas
yang perlu tindakan intubasi endotraceal segera dan pemasangan
ventilasi mekanik. Instalasi Perawatan Intensif dalam melayani pasien
melibatkan banyak SDM ( medis, keperawatan, non keperawatan, teknisi,
analis, dan tenaga administrasi ) juga menggunakan banyak peralatan dan
obat-obatan. Hal ini dapat memicu tingginya kemungkinan terjadi error
dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan Instalasi Perawatan Intensif guna memberikan
pelayanan kesehatan dalam menunjang program rumah sakit difasilitasi beberapa hal
antara lain : alat dan obat obat emergensi,

tempat tidur khusus. yaitu tempat tidur pasien yang dapat diatur
ketinggian atau posisi kepala, kaki, dan kemiringan secara mekanis
atau elektris. Diatas tempat tidur dilengkapi beberapa peralatan yang
dipasang didinding yaitu : suction, exmination lamp,
sphygnomanometer, kotak kontak, out let gas dan bed side monitor.
2. Tujuan perawatan di Instalasi Perawatan Intensif
Sebagai tempat untuk mengelola pasien sakit berat dan kritis
yang mengancam jiwa dengan melibatkan tenaga terlatih serta
didukung dengan kelengkapan peralatan khusus. Instalasi Perawatan
Intensif mempunyai tujuan yaitu :
a. Menyelamatkan kehidupan
b. Mencegah terjadinya kondisi memburuk dan komplikasi melalui
observasi dan monitoring yang ketat disertai kemampuan untuk
menginterpretasikan setiap data yang didapat dan meleksanakan
tindak lanjut.
c. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mempertahankan
kehidupan.
d. Mengoptimalkan kemampuan fungsi organ pasien.
e. Mengurangi angka kematian pasien kritis dan mempercepat
penyembuhan pasien.
Perawat di Instalasi Perawatan Intensif dituntut dapat
memberikan pelayanan kegawatan pasien dengan status kesehatan
yang cepat sekali berubah, hal ini menuntut perawat mampu
memutuskan untuk melakukan tindakan cepat dan tepat dalam
mengatasi kegawatan dengan pemakaian alat-alat dan obat
emergency. Mutu pelayanan rumah sakit tidak lepas dari kualitas pelayanan
keperawatan. Perawat sebagai tenaga profesi dituntut
untuk secara terus menerus mengembangkan kemampuan dirinya
baik secara ilmu maupun ketrampilan 21
3. Indikasi pasien masuk dan keluar perawatan intensif
Indikasi pasien yang dirawat diruang untensif dibagi dalam
beberapa prioritas yaitu :
a. Pasien prioritas 1 (satu)
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, haemodinamik tidak
stabil yang memerlukan terapi intensif seperti dukungan/bantuan
ventilasi, infus, obat-obatan vasoaktif kontinyu, dll.
Contoh pasien kelompok ini antara lain : pasien pasca bedah
cardiotoraksik, atau pasien shock septik.
b. Pasien prioritas 2 (dua)
Kelompok ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih. Jenis
ini beresiko sehingga memerlukan terapi intensif segera, karena
pemantauan intensif menggunakan metode seperti pulmonary
chateter sangat menolong.
Contoh kelompok pasien adalah : pasien yang menderita penyakit
dasar jantung paru, atau ginjal akut dan berat atau yang telah
mengalami pembedahan mayor, pasien kelompok 2 umumnya
tidak terbatas macam terapi yang diterimanya, mengingat kondisi
mediknya senantiasa berubah.
c. Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien jenis ini sakit kritis, dan tidak stabil dimana status
kesehatannya baik penyakit yang mendasari maupun penyakit

akutnya sangat mengurangi kemungkinan kesembuhan dan atau


mendapat manfaat dari terapi yang diberikan.
Contoh pasien ini antara lain : pasien dengan keganasan
metastasik disertai penyulit infeksi, pericardial tamponade atau
sumbatan jalan nafas, atau pasien menderita penyakit jantung atau
paru terminal disertai komplikasi akut berat. Pasien-pasien prioritas
3 (tiga) mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit
akut, tapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi
atau resusitasi cardiopulmonal.
Indikasi pasien keluar dari ruang intensif juga dibagi dalam
beberapa kriteria :
a. Pasien prioritas 1 (satu)
Pasien prioritas 1 (satu) dikeluarkan dari ICU bila kebutuhan untuk
terapi intensif sudah tidak ada lagi atau bila terapi telah gagal dan
prognosis jangka pendek jelek dengan kemungkinan kesembuhan
atau manfaat dari terapi intensif kontinyu kecil. Contoh hal terakhir
adalah pasien dengan tiga atau lebih gagal sistem organ yang
tidak berespon terhadap pengelolaan agresif.
b. Pasien prioritas 2 (dua)
Pasien prioritas 2 (dua) dikeluarkan bila kemungkinan untuk
mendadak memerlukan terapi intensif telah berkurang.
c. Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien prioritas 3 (tiga) dikeluarkan bila kebutuhan untuk terapi
intensif sudah tidak ada lagi, tetapi mereka mungkin dikeluarkan
lebih dini bila kemungkinan kesembuhannya atau manfaat dari
terapi intensif kontinyu kecil. Contohnya adalah pasien dengan
penyakit lanjut (penyakit paru kronis, penyakit jantung atau liver
terminal, karsinoma yang telah menyebar luas, dan lain-lain yang
telah tidak berespon terhadap terapi intensif untuk penyakit yang prognosis jangka
pendek secara statistik rendah,
dan yang tidak ada terapi yang potensial untuk memperbaiki
prognosisnya.
4. Persyaratan ruang perawatan intensif
Sebagai tempat untuk memberikan pelayan secara intensif
harus didukung dengan peralatan yang memiliki persyaratan sebagai
berikut : kinerja akurat dan terkendali, keselamatan kerja terjamin,
aksesori lengkap dan baik, dan laik pakai. Untuk dapat memenuhi
persyaratan tersebut peralatan harus dikelola dengan baik secara
berkesinambungan dan ditunjuk petugas yang bertanggung jawab
penuh untuk mengelola peralatan.
Selain peralatan, ruang perawatan di instalasi perawatan
intensif juga harus memenuhi persyaratan yang ditentukan yaitu :
a. Ruang terbuka 12-16M2/ per unit.
b. Jarak antara dua tempat tidur 2 meter.
c. Tempat tidur medis mudah dirubah posisinya.
d. Peralatan medis mudah dicapai.
e. Cukup tersedia obat-obatan.
f. Ruang perawat ditempatkan sedemikian rupa sehingga
memudahkan perawat mengawasi dan menolong pasien.
g. Ruang ber-AC
h. Berdekatan dengan ruang operasi, ruang pulih sadar.

i. Cukup ruangan untuk peralatan dan sterilisasi.


j. Ada cadangan sumber tenaga listrik darurat.
k. Ada sistem alarm.
l. Ada ruangan konsultasi keluarga pasien.
5. SDM di Instalasi Perawatan Intensif
Ketenagaan yang ada di Instalasi Perawatan Intensif terdiri dari
: Tim dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu, tenaga keperawatan
dan tenaga lain (pekerja kesehatan, tata usaha, tenaga medis non
perawatan, teknisi, analis).
a. Perawat di Instalasi Perawatan Intensif.
Perawat adalah seorang yang telah menyelesaikan pendidikan
perawat tingkat dasar yakni perawat dengan pendidikan SPK, Perawat
tingkat I yakni perawat dengan pendidikan D III Keperawatan, dan
perawat tingkat II yakni perawat dengan pendidikan sarjana
keperawatan S1 18.
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan
berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan biopsikososio-spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu,
keluarga, masyarakat, baik sakit maupun sehat , yang mencakup
seluruh proses kehidupan manusia 19.
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada
pasien, pada berbagai tingkat pelayanan kesehatan dalam upaya
pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan
metodologi proses keperawatan, berpedoman pada keperawatan,
dilandasi etik dan etika keperawatan dalam dalam lingkup wewenang
serta tanggungjawab keperawatan 20.
b. Kualifikasi tenaga keperawatan di Instalasi Perawatan Intensif
Semua tenaga perawatan yang ditugaskan bekerja
dipelayanan intensif harus memenuhi persyaratan. Antara lain mampu
:
1) Mengenal dan mencatat tanda dan gejala penyakit/kegawatan
yang mengancam nyawa.
2) Melakukan perawatan gawat darurat pendahuluan termasuk RJP
dasar.
3) Memasang infus intra vena.
4) Melakukan pelayanan perawatan intensif sesuai kebutuhan
pasien.
5) Mencegah kontaminasi dan infeksi silang.
6) Pelatihan pencegahan kecelakaan akibat pemakaian alat-alat
listrik/kecelakaan kerja yang lain.
7) Menggunakan peralatan secara benar, efektif dan aman.
8) Bersikap tanggap dan perhatian terhadap keluhan dan
kabutuhan pasien serta keluarga termasuk segi psikologi dan
sosial.
Selain itu perawat di Instalasi Perawatan Intensif juga harus
melaksanakan uraian tugas lain sebagaimana perawat pada
umumnya. Yaitu :
1) Memelihara kebersihan ruangan dan lingkungan.

2) Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang


berlaku.
3) Memelihara peralatan keperawatan dan alat-alat medis.
4) Melakukan observasi pasien (mengukur tanda-tanda vital) dan
alat yang digunakan.
5) Melakukan pengkajian keperawatan dan menentukan diagnosa
keperawatan sesuai batas kewenangan dan kemampuan.
6) Melakukan tindakan keperawatan pada pasien sesuai kebutuhan
dan batas kemampuannya
7) Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai program.
8) Memberi penyuluhan kesehatan pada pasien dan keluarga.
9) Membantu pasien untuk latihan gerak (mobilisasi).
10) Melaksanakan tugas pagi, sore, malam dan hari libur secara
bergilir sesuai daftar dinas.
11) Melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan asuhan
keperawatan.
12) Memindahkan pasien ke ruangan bila pasien sudah stabil.
13) Mendokumentasikan identitas klien, tindakan keperawatan,
tindakan pemeliharaan medis.
14) Melaksanakan serah terima tugas saat pergantian dinas secara
tertulis maupun lisan.
15) Mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh kepala ruang.