Anda di halaman 1dari 9

Semua Tentang Keramik

Secara psikologis, bila kita memasuki suatu ruangan, maka secara otomatis ada
2 hal yang akan langsung kita lihat. Pertama kali kita akan menoleh ke bawah
untuk melihat lantainya, lalu selanjutnya kita akan melihat ke atas ke arah
plafon. Melalui 2 hal itulah kita akan menilai kualitas finishing sebuah ruangan.
Maka, wajar saja bila kita memberikan perhatian khusus pada finishing lantai.
Salah satu bahan finishing lantai yang paling banyak dipergunakan adalah
keramik. Keramik memang tidak hanya diaplikasikan pada lantai, tetapi pada
artikel ini, kita akan membahas khusus mengenai keramik lantai. Jaman dahulu,
jenis dan ukuran keramik lantai belumlah terlalu banyak, namun saat ini
tidaklah demikian. Setiap memasuki suatu supermarket bahan bangunan, kita
akan dikejutkan dengan banyaknya pilihan keramik, baik jenis, warna, motif,
maupun harga yang memiliki variasi sangat banyak.
Jenis Keramik
Menurut jenisnya kita mengenal berbagai macam jenis keramik yang banyak
dipergunakan, antara lain :

Keramik Teraso. Teraso banyak dipergunakan pada jaman dahulu


sebagai bahan penutup lantai. Dewasa ini teraso dengan motif-motif lama
banyak diburu orang karena memiliki nuansa etnik yang sangat kuat,
sehingga banyak dipergunakan pada bangunan gallery atau restoran yang
menggunakan style klasik. Biasanya, teraso memiliki ukuran 20x20cm,
tetapi teraso dapat juga dipergunakan dalam bentuk yang dihancurkan dan
dicetak langsung pada area yang dikehendaki. Harga keramik teraso
adalah Rp.40rb s/d 60rb per m2.

Keramik biasa. Keramik ini adalah jenis yang paling banyak kita temui,
bahkan tersedia hingga ke toko-toko bahan bangunan kecil yang tersebar
di berbagai tempat. Keramik jenis ini membunyai base berupa keramik
yang terbuat dari tanah liat yang dipanaskan dalam suhu tinggi. Barulah di
atas base coklat tersebut ditampahkan lapisan warna dan motif sesuai

desain. Untuk keramik lantai ukuran yang tersedia mulai 3030, 4040,
5050, 6060, dan 80x80cm. Motif tersedia dalam banyak pilihan yang
bisa dibilang hampir tak terbatas. Harganya pun bervariasi, mulai dari
harga Rp. 24rb s/d 35rb per m2 untuk keramik ukuran kecil (30x30cm),
harga Rp 60rb s/d 80rb per m2 untuk keramik ukuran sedang (50x50cm),
hingga harga Rp 120rb s/d 200rb per m2 untuk keramik ukuran besar
(80x80cm).

Homogenous Tile. Keramik jenis ini biasa disebut granit tile. Yaitu tiruan
granit yang dibuat di pabrik. Berbeda dengan keramik biasa, keramik jenis
ini mempunyai lapisan yang sama pada seluruh bagian keramik. Bedanya
hanyalah, bagian bawahnya dibuat kasar untuk kekuatan menempelnya
media perekat, sementara pada bagian atas dipoles halus dan diberi
lapisan pelindung. Granit tile ini biasanya hanya tersedia pada ukuran
besar, 6060 s/d 100x100cm. Harganya lebih mahal dari keramik biasa,
yaitu berkisar antara Rp.180rb s/d 400rb per m2.

Granit Alam. Granit alam tidak dibuat di pabrik, melainkan diperoleh


dari penambangan. Setelah ditambang, granit alam dibelah setebal kirakira 2cm, dan dipotong-potong sesuai ukuran. Kita bisa saja memesan
sesuai dengan ukuran yang dikehendaki, misalnya 1m x 2m. Tetapi tentu
saja semakin besar ukuran yang kita pesan, akan semakin mahal harganya
dan ukuran ini juga terbatasi oleh transportasi ke lokasi. Harga granit alam
lokal berkisar antara Rp 195rb. s/d 450rb per m2. Bandingkan dengan
granit impor yang harganya bisa mencapai Rp.270rb s/d 1,95 juta per m2.

Berdasarkan jenis permukaannya, keramik dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

Keramik polish. Yaitu keramik yang mempunyai finishing atau lapisan


pelindung yang mengkilap. Keramik ini biasanya lebih licin, dan
dipergunakan di dalam ruangan, atau pada daerah kering.

Keramik unpolish. Keramik jenis ini juga mempunyai finishing atau


lapisan pelindung pada bagian keramik yang paling atas. Bedanya adalah,
pada keramik unpolish ini lapisan pelingdungnya berwarna doff. Keramik
jenis ini lebih tidak licin, dan biasanya dipergunakan di bagian eksterior
atau bagian yang basah. Tetapi karena perkembangan trend desain, saat
ini banyak pula keramik jenis unpolish ini yang dipergunakan di dalam
bangunan.

Berdasarkan jenis tepinya, keramik dibedakan menjadi :

Keramik non cutting. Seperti kita tahu, bahwa keramik diperoleh dari
pemanasan dengan suhu tinggi yang dilakukan di pabrik. Pada keramik non
cutting ini, keramik yang telah jadi tidak memperoleh perlakuan tambahan
dalam hal ukuran, dan langsung dipacking untuk dipasarkan. Bila kita
perhatikan keramik jenis ini, seakan-akan mempunyai batas pinggir tipis
yang berwarna putih.

Keramik cutting. Proses pembuatan keramik cutting sama persis dengan


keramik jenis non cutting. Bedanya adalah, sebelum dipacking dan
dipasarkan, keramik jenis cutting melalui proses pemotongan dengan
tujuan menghilangkan bagian pinggirnya. Dengan proses tersebut
diperoleh keramik yang seakan-akan tidak memiliki pinggir, sehingga
memiliki tampilan yang mirip dengan granit tile dan granit alam.

Perbedaan aplikasi kedua jenis keramik ini adalah pada nat antar keramik.
Karena merupakan hasil pembakaran murni, keramik non cutting mempunyai
penyimpangan ukuran yang lebih besar daripada keramik cutting yang memiliki
kepresisian ukuran yang lebih baik karena merupakan hasil pemotongan.
Penyimpangan ukuran tersebut diwadahi oleh nat antar keramik. Sehingga
keramik non cutting akan memiliki nat yang lebih besar (lebar nat di atas 3mm)
dibandingkan dengan keramik cutting dan granit tile (lebar nat 1mm)
Keramik yang bermotif pun memiliki aturan tersendiri dalam pemasangannya.
Biasanya motif keramik sudah diatur sedemikian rupa oleh produsen, supaya
bisa sambungan motif antar keramik bisa bertemu bila dipasang dengan posisi
yang tepat. Ada keramik-keramik dengan pola khusus yang disebut dengan pola
mozaik. Keramik mozaik ini ada dua macam, yaitu mozaik yang terbentuk dari
potongan keramik berbagai warna dan motif (bentuk potongan mengikuti pola
mozaik), dan ada pula mozaik yang terbentuk dari motif cetakan/printing di atas
keramik persegi (mozaik terndiri dari beberapa keramik persegi). Yang kedua
tentu berharga yang lebih murah dari yang pertama, karena proses
pembuatannya lebih mudah. Keramik mozaik ini dipasang pada bagian-bagian
lantai yang memerlukan aksen, misalnya pada teras depan atau pada bagian
tengah ruangan-ruangan yang penting.

Kualitas Keramik
Hasil produksi keramik dalam suatu pabrik tentu tidak akan selalu sama. Karena
itu, produsen keramik mengelompokkan keramik hasil produksinya dalam
beberapa kualitas. Kualitas itu dinyatakan dalam kode KW (KW I s/d KW III). Hatihati ketika membeli keramik, karena kode KW ini selalu tercantum dalam dos
keramik. KW I adalah yang paling baik, KW III adalah kualitas yang paling buruk.

Pemasangan Keramik
Sebaik apapun kualitas keramik yang Anda pilih, hasil akhir pemasangan
keramik sangat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

Kualitas keramik itu sendiri. Keramik dengan KW II dan KW III akan


memiliki beberapa cacat, diantaranya ukuran yang tidak seragam, tidak
siku, menggembung/tidak datar, beberapa gempil pada bagian pinggirnya,
serta cacat pada penyemprotan motif atau lapisan pelapis akhir keramik.

Ketrampilan tenaga. Kualitas tukang sangat mempengaruhi hasil akhir


pemasangan keramik. Bisa jadi keramik KW II yang dipasang oleh tukang
berpengalaman, akan memberikan hasil akhir yang lebih baik daripada
keramik KW I yang dipasang oleh tukang yang kurang berpengalaman.

Bahan. Pemilihan semen yang baik sebagai bahan perekat keramik juga
akan sangat mempengaruhi hasil akhir.

Demikian, dengan tulisan ini saya harap sudah cukup untuk bekal Anda dalam
memilih keramik yang akan Anda pasang untuk mempercantik rumah Anda.

Sumber : http://hadidalaydrus.wordpress.com/2013/02/13/semua-tentang-keramik/