Anda di halaman 1dari 67

LEMBARAN DAERAH

KABUPATEN LAMPUNG TENGAH


NOMOR 06

TAHUN 2008

SERI E

NOMOR 1

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH


NOMOR

04

TAHUN

2008

T E N TAN G

SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG

DITERBITKAN OLEH :
BAGIAN HUKUM SETDA KABUPATEN
LAMPUNG TENGAH

LEMBARAN DAERAH
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
NOMOR 06
TAHUN 2008
SERI E
NOMOR 1
=====================================================
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
NOMOR 04 TAHUN 2008
TENTANG
SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI LAMPUNG TENGAH,
Menimbang : a. bahwa untuk
menjamin terselenggaranya
urusan
pemerintahan kampung dalam rangka otonomi daerah
harus ada dukungan sumber pendanaan, sarana dan
prasarana serta personil yang memiliki kompetensi
keahlian menurut kebutuhan sesuai dengan corak urusan
yang didesentralisasikan;
b. bahwa untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan,
pembangunan dan kemasyarakatan dan untuk menjamin
distribusi sumber pendapatan kampung secara merata
dan adil seluruh kampung di Kabupaten Lampung
Tengah, perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang
Sumber Pendapatan Kampung.

Mengingat : 1. Undang Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang


Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun
1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom KabupatenKabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Sumatra Selatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1956
Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 1091) sebagai Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959
Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 1821);
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4048);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 46 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);

6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4400);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah dua kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang
Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4138);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4139);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang
Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4587);

12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006


tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah;
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006
tentang Prosedur Penyusunan Poduk Hukum Daerah;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2006
tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah;
15. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Tengah Nomor 11
Tahun 2007 tentang Kewenangan Pemerintah Daerah
Kabupaten Lampung Tengah (Lembaran Daerah
Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2007 Nomor 11);
16. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Tengah Nomor
12 Tahun 2007 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata
Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Lampung Tengah
(Lembaran Daerah Kabupaten Lampung Tengah Tahun
2008 Nomor 01);
Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

dan
BUPATI LAMPUNG TENGAH
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN DAERAH
PENDAPATAN KAMPUNG

TENTANG

SUMBER

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Lampung Tengah.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten Lampung Tengah.
3. Bupati adalah Bupati Lampung Tengah.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten Lampung Tengah.
5. Kampung adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batasbatas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
6. Pemerintahan Kampung adalah penyelenggara urusan pemerintahan
oleh pemerintah kampung dan Badan Permusyawaratan Kampung
dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan negara kesatuan Republik
Indonesia.
7. Pemerintah Kampung adalah kepala kampung dan perangkat kampung
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan kampung.
8. Badan Permusyawaratan Kampung yang selanjutnya disingkat BPK
adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan kampung sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan kampung di Kabupaten Lampung Tengah
9. Peraturan Kampung adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat
oleh Badan Permusyawaratan Kampung bersama Kepala Kampung;

10. Lembaga Kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh


masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah
kampung dalam memberdayakan masyarakat kampung di lingkungan
Kabupaten Lampung Tengah;
11. Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang selanjutnya
disebut Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari APBN
yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan desentralisasi yang meliputi kampungkampung di seluruh wilayah Kabupaten Lampung Tengah
12. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat
APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Lampung Tengah
13. Musyawarah Perencanaan Pembangunan disingkat Musrenbang adalah
musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kampung atau
Kelurahan di Kabupaten Lampung Tengah
14. Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung yang selanjutnya disingkat
APB Kampung adalah rencana keuangan tahunan Kampung di
Kabupaten Lampung Tengah
15. Alokasi Dana Kampung yang selanjutnya disingkat ADK adalah
perolehan bagian keuangan Kampung dari Kabupaten Lampung Tengah
16. Alokasi Dana Kampung Minimal yang selanjutnya disingkat ADKM
adalah dana minimal yang diterima oleh masing-masing kampung
dibagikan dalam jumlah yang sama menurut asas pemerataan di seluruh
kampung di Kabupaten Lampung Tengah;
17. Alokasi Dana Kampung Proporsional yang selanjutnya disingkat ADKP
adalah dana yang diterima setiap kampung yang besarannya ditentukan
berdasarkan perkalian total dana proporsional dengan variable yang
ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah dengan porsi
perkampung bersangkutan menurut asas keadilan di Kabupaten
Lampung Tengah

18. Dana Alokasi Khusus Kampung disingkat DAK Kampung adalah dana
yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja daerah yang
dialokasikan kepada Kampung tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan prioritas Daerah Kabupaten
Lampung Tengah
19. Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau
badan kepada daerah Kabupaten Lampung Tengah tanpa imbalan
langsung yang dapat dipaksakan dengan kekuatan peraturan perundangundangan dan dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Lampung Tengah
20. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa
pelayanan khusus yang disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah
Kabupaten Lampung Tengah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan di lingkungan Kabupaten Lampung Tengah
21. Rencana Kegiatan Pembangunan Kampung atau disingkat RKP
Kampung adalah dokumen perencanaan Kampung untuk periode satu
tahunan di Kabupaten Lampung Tengah.
BAB II
SUMBER DAN JENIS PENDAPATAN KAMPUNG
Pasal 2
Pendapatan Kampung bersumber dari:
a. pendapatan asli kampung;
b. bagi hasil;
c. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah;
d. bantuan keuangan; dan
e. hibah dan sumbangan.

Pasal 3
(1) Pendapatan asli kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a,
terdiri dari:
a. hasil usaha kampung;
b. hasil kekayaan kampung;
c. hasil swadaya masyarakat;
d. hasil gotong royong; dan
e. lain-lain pendapatan kampung yang sah.
(2) Bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, terdiri dari:
a. bagi hasil pajak daerah; dan
b. bagi hasil retribusi daerah.
(3) Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah disebut
Alokasi Dana Kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c
diterimakan sebagai bantuan untuk kampung secara keseluruhan sebesar
paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari total penerimaan dana
perimbangan keuangan Kabupaten.
(4) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d
bersumber dari:
a. pemerintah;
b. pemerintah provinsi; dan
c. pemerintah kabupaten.
(5) Hibah dan sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e
diperoleh dari pihak ketiga yang tidak mengikat.

BAB III
PENDAPATAN ASLI KAMPUNG
Bagian Kesatu
Hasil Usaha Kampung
Pasal 4
(1) Dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan Kampung,
Pemerintah Kampung dapat mendirikan Badan Usaha Milik Kampung
sesuai dengan kebutuhan dan potensi kampung.
(2) Pembentukan Badan Usaha Milik Kampung sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Hasil Kekayaan Kampung
Pasal 5
Jenis Kekayaan Kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
huruf b meliputi:
a. tanah kas kampung
b. pasar kampung
c. tambatan perahu
d. bangunan kampung
e. pelelangan ikan yang dikelola oleh kampung
f. pasar hewan yang dikelola oleh kampung
g. lain-lain kekayaan milik kampung.
Pasal 6
(1) Kekayaan Kampung yang berupa tanah kampung tidak diperbolehkan
dilakukan pelepasan hak kepemilikan kepada pihak lain, kecuali
diperlukan untuk kepentingan umum;

10

(2) Pelepasan hak kepemilikan tanah kampung sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) dilakukan setelah mendapat ganti rugi sesuai harga yang
menguntungkan kampung dengan memperhatikan harga pasar dan nilai
jual objek pajak (NJOP);
(3) Penggantian ganti rugi berupa uang harus digunakan untuk membeli
tanah lain yang lebih baik dan berlokasi di kampung setempat;
(4) Pelepasan hak kepemilikan tanah kampung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Kampung;
(5) Keputusan Kepala Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
diterbitkan setelah mendapat persetujuan BPK dan mendapat izin
tertulis dari Bupati dan Gubernur.
Pasal 7
Tata cara pengelolaan kekayaan kampung diatur dengan Peraturan Bupati
Bagian Ketiga
Hasil Swadaya, Partisipasi dan Gotong royong
Pasal 8
(1) Penetapan bentuk, jenis dan hasil swadaya, partisipasi dan gotong
royong disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan budaya masyarakat
kampung;
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Peraturan Kepala Kampung, setelah dilakukan musyawarah
dengan pihak-pihak yang berkepentingan secara langsung.
Bagian Keempat
Lain-lain Pendapatan Asli Kampung Yang Sah
Pasal 9
(1) Sumber pendapatan kampung dari lain-lain pendapatan asli kampung
yang sah dapat berupa pungutan kampung;
(2) Pungutan Kampung ditetapkan dengan Peraturan Kampung;

11

(3) Pungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah pungutanpungutan yang belum dipungut oleh Pemerintah, Pemerintah Propinsi
dan pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku;
(4) Jenis Pungutan Kampung dapat berupa:
a. Pungutan yang berasal dari iuran atau sumbangan masyarakat sesuai
dengan mata pencaharian masyarakat kampung berdasarkan
kemampuan ekonomi;
b. Pungutan yang berasal dari ongkos cetak surat-surat keterangan dan
administrasi;
c. Pungutan yang berasal dari transaksi peralihan hak atas tanah dan
bangunan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Pungutan-pungutan lain yang ditetapkan lebih lanjut oleh
Pemerintah Kampung.
(5) Selain jenis pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
Pemerintah Kampung dapat melakukan pungutan kampung secara
sukarela untuk bantuan bencana tertentu yang bersifat mendesak tanpa
persetujuan BPK terlebih dahulu;
(6) Pelaksanaan Pungutan Kampung dilakukan oleh Pemerintah Kampung
yang tata cara dan petugasnya ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Kampung.
BAB IV
ALOKASI DANA KAMPUNG
Bagian Pertama
Tujuan Alokasi Dana Kampung
Pasal 10
Tujuan dari pemberian Alokasi Dana Kampung yaitu:
a. menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;
b. meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat
kampung dan pemberdayaan masyarakat;
c. meningkatkan pembangunan infrastruktur Kampung;

12

d. meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam


rangka mewujudkan peningkatan sosial;
e. meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;
f. meningkatkan pelayanan pada masyarakat kampung dalam rangka
pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi kemasyarakatan;
g. mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat
h. meningkatkan pendapatan kampung dan masyarakat kampung melalui
Badan Usaha Milik Kampung (BUMK);
Bagian Kedua
Sumber Alokasi Dana Kampung
Pasal 11
(1) Alokasi Dana Kampung bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan;
(2) Besar Alokasi Dana Kampung paling sedikit 10% (sepuluh perseratus)
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berjalan
setelah dikurangi belanja pegawai.
Pasal 12
(1) Kenaikan prosentase Alokasi Dana Kampung disesuaikan setiap tahun
menurut kemampuan daerah
(2) Alokasi Dana Kampung dikelola dalam sistem administrasi keuangan
yang baik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Bagian Ketiga
Pembagian Alokasi Dana Kampung
Pasal 13
(1) Besaran Alokasi Dana Kampung untuk masing-masing Kampung
ditentukan berdasarkan penjumlahan ADKM dan ADKP.

13

(2) Untuk mendapatkan Alokasi Dana Kampung, Kampung harus


melaksanakan kegiatan:
a. Musrenbang Kampung dalam rangka penyusunan RKP Kampung
yang menghasilkan kesepakatan tentang alokasi biaya untuk
kegiatan dan kesepakatan tentang delegasi masyarakat Kampung
yang akan terlibat dalam musrenbang kecamatan;
b. menyusun rancangan akhir RKP Kampung berdasarkan hasil
musrenbang Kampung dan menetapkannya dengan peraturan
kampung yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala Kampung;
c. mengajukan usulan kegiatan di luar kewenangan Kampung dalam
RKP Kampung yang diajukan kepada pemerintah kabupaten melalui
musrenbang kecamatan;
d. menyusun laporan dan melakukan pertanggungjawaban kegiatan
selama setahun pada akhir tahun anggaran.
Pasal 14
(1) ADK Minimal merupakan dana minimal yang diterima oleh masingmasing Kampung, dibagikan dengan jumlah yang sama menurut asas
pemerataan;
(2) Besaran ADK Minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebesar
50% (lima puluh perseratus) dari besaran total Alokasi Dana Kampung;
(3) ADK Proporsional merupakan dana yang diterima oleh masing-masing
Kampung yang dibagikan dengan jumlah yang berbeda menurut asas
keadilan;
(4) Besaran ADK Proporsional 50% (lima puluh perseratus) dari besaran
total Alokasi Dana Kampung;
(5) ADK Proporsional yang diterima suatu Kampung ditentukan
berdasarkan perkalian total dari variable yang ditetapkan sesuai porsi
Kampung yang bersangkutan menurut asas keadilan;

14

(6) Porsi Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (5) merupakan


proporsi bobot Kampung bersangkutan terhadap jumlah bobot semua
Kampung di lingkungan Kabupaten.
(7) Bobot Kampung ditentukan dan dihitung dengan mempertimbangkan
asas keadilan dan pemerataan berdasarkan:
a. kelompok variabel jumlah penduduk
b. kelompok variabel luas wilayah
c. kelompok variabel partisipasi masyarakat
Pasal 15
(1) Alokasi Dana Kampung untuk masing-masing Kampung dihitung
dengan menggunakan rumus:
ADKi = ADKM + ADKPi
ADKPi = {(X1 x VJPi) + (X2 x VLWi) + (X3 x VPMi)} x TADKP
X1 + X2 + X3 = 1
ADKi

: Alokasi Dana Kampung untuk kampung i

ADKM

: Alokasi Dana Kampung Minimal yang diterima kampung

ADKPi

: Alokasi Dana Kampung Proporsional untuk kampung i

X1

: Bobot untuk variabel jumlah penduduk

X2

: Bobot untuk variabel luas wilayah

X3

: Bobot untuk variabel partisipasi masyarakat

VJPi

: Skor variabel jumlah penduduk kampung i

VLWi

: Skor variabel luas wilayah kampung i

VPMi

: Skor variabel partisipasi masyarakat kampung i

TADKP

: Total Alokasi Dana Kampung Proporsional

15

(2) Besaran skor dan bobot variabel jumlah penduduk, variabel luas wilayah
dan variabel partisipasi masyarakat masing-masing ditetapkan 40%,
40% dan 20%
(3) Hasil akhir perhitungan Alokasi Dana Kampung untuk setiap Kampung
diinformasikan kepada seluruh kampung sebelum masa penyusunan
rencana tahunan kampung dimulai, paling lama 2 (dua) bulan setelah
APBD tahun berjalan disahkan.
Pasal 16
Mekanisme penyaluran Alokasi Dana Kampung secara teknis akan diatur
dengan Peraturan Bupati.
Pasal 17
(1) Besaran penggunaan Alokasi Dana Kampung yaitu:
a. Paling sedikit 70% (tujuh puluh perseratus) dari Alokasi Dana
Kampung digunakan untuk pembiayaan pelayanan publik berupa
pembangunan fisik dan non-fisik Kampung terutama dalam rangka
peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kebodohan
dan kemiskinan, serta pengembangan ekonomi kampung.
b. Sisa Alokasi Dana Kampung sebesar maksimal 30% (tiga puluh
perseratus) digunakan untuk pembiayaan Kelembagaan Kampung,
Badan Permusyawaratan Kampung, lembaga kemasyarakatan dan
organisasi lainnya di Kampung.
(2) Bentuk penyediaan pelayanan publik sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB V
BANTUAN KEUANGAN DARI PEMERINTAH PROVINSI
DAN PEMERINTAH KABUPATEN
Pasal 18
(1) Bantuan dari Pemerintah dapat digunakan untuk tunjangan penghasilan
Kepala Kampung dan Perangkat Kampung;

16

(2) Bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten digunakan


untuk percepatan atau akselerasi pembangunan Kampung.
BAB VI
HIBAH DAN SUMBANGAN
Pasal 19
(1) Pemberian hibah dan sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
huruf e tidak mengurangi kewajiban-kewajiban pihak penyumbang
kepada Kampung
(2) Sumbangan yang berbentuk barang, baik barang bergerak maupun
barang tidak bergerak dicatat sebagai barang inventaris kekayaan milik
Kampung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(3) Sumbangan yang berbentuk uang dicantumkan di dalam APB Kampung.
BAB VII
DANA ALOKASI KHUSUS KAMPUNG
Pasal 20
(1) DAK Kampung dapat dialokasikan dari APBD kepada Kampung
tertentu untuk membantu membiayai kebutuhan khusus, insentif dan
disinsentif dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBD.
(2) DAK Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dialokasikan
untuk membiayai pelaksanaan tugas pembantuan
(3) Ketentuan mengenai DAK Kampung diatur dengan Peraturan Bupati.

17

BAB VIII
PENGELOLAAN SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG
Pasal 21
(1) Sumber pendapatan daerah yang berada di dalam wilayah Kampung
baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Provinsi atau
Kabupaten tidak boleh lagi dilakukan pungutan tambahan di atasnya
oleh Pemerintah Kampung
(2) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Kampung
tidak dibenarkan diambil alih oleh pemerintah, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten.
Pasal 22
(1) Dana Pendapatan
Kampung digunakan untuk meningkatkan
kemampuan pemerintah kampung dalam menyediakan pelayanan
publik yang menjadi skala prioritas kebutuhan masyarakat kampung
termasuk operasional kelembagaan kampung.
(2) Semua penerimaan dan pengeluaran Dana Pendapatan Kampung dicatat
dan dikelola dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung.
(3) APB Kampung, Perubahan APB Kampung dan perhitungan APB
Kampung ditetapkan dengan Peraturan Kampung.
(4) Pemerintah Kampung wajib mensosialisasikan Peraturan Kampung
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada masyarakat
Pasal 23
(1) Pelaksanaan kegiatan pelayanan publik di Kampung dilaksanakan oleh
pemerintah kampung.

18

(2) Mitra kerja pemerintah kampung dalam perencanaan dan pelaksanaan


kegiatan yaitu lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Kampung
(3) Pemerintah Kampung bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan
pelayanan publik di kampung
BAB IX
PERTANGGUNGJAWABAN
Pasal 24
(1) Kepala Kampung bertanggungjawab atas pengelolaan Dana Pendapatan
Kampung kepada Bupati.
(2) Kepala Kampung melaporkan penggunaan Dana Pendapatan Kampung
kepada Bupati paling lambat pada akhir tahun anggaran.
(3) Kepala Kampung memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban
kepada Badan Permusyawaratan Kampung.
BAB X
PENGAWASAN
Pasal 25
(1) Badan Permusyawaratan Kampung melaksanakan pengawasan terhadap
pelaksanaan peraturan kampung dan peraturan kepala kampung.
(2) Pengawasan fungsional dilakukan oleh lembaga pengawas kabupaten
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

19

BAB XI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 26
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 22 ayat (4) diancam sanksi
kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)
Pasal 27
Penerapan sanksi sebagaimana dimaksud Pasal 26 tidak menghalangi
penerapan sanksi yang diatur di dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.
Pasal 28
(1) Dalam hal pelanggaran ketentuan peraturan daerah ini diputus bersalah
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki ketentuan hukum
tetap dan denda dinyatakan sebagai milik daerah, maka denda tersebut
disetorkan ke Kas Daerah Kabupaten sebagai pendapatan asli daerah
(2) Tindak pidana sebagai akibat pelanggaran terhadap ketentuanketentuan di dalam peraturan daerah ini merupakan tindak pidana
pelanggaran.
BAB XII
PENYIDIKAN
Pasal 29
(1) Selain penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia, juga pejabat
pegawai negeri sipil tertentu berwenang melakukan penyidikan terhadap
setiap orang atau badan hukum yang melakukan tindak pidana
berdasarkan peraturan daerah ini.

20

(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1 )


berwenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian serta
melakukan pemeriksaan
c. Menyuruh berhenti seseorang yang diduga melakukan tindak pidana
dan memeriksa tanda pengenal diri orang yang bersangkutan;
d. Melakukan penyitaan benda dan atau surat yang terkait dengan
dugaan tindak pidana
e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan
pemeriksaan perkara pidana
i. Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik
umum bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut
bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik
umum memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum,
tersangka atau keluarganya; dan
j. Melakukan tindakan lain yang dipandang perlu dan dapat
dipertanggungjawabkan menurut hukum.
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 30
Ketentuan dalam peraturan daerah ini dilaksanakan paling lama 1 (satu)
tahun setelah disahkan.

21

BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 31
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang
mengenai teknis pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Bupati
Pasal 32
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Lampung Tengah.
Ditetapkan di Gunung Sugih
pada tanggal 07 Juli 2008
BUPATI LAMPUNG TENGAH

MUDIYANTO THOYIB
Diundangkan di Gunung Sugih
pada tanggal 07 Juli 2008
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

MUSAWIR SUBING
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
TAHUN 2008 NOMOR 06

22

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
NOMOR

04 TAHUN 2008

TENTANG
SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG

1. UMUM
Kebijakan Otonomi Daerah (OTDA) yang telah digulirkan pemerintah
sejak tahun 2001 telah membawa perubahan dalam pelaksanaan
pemerintahan di daerah. Salah satu perubahan itu adalah adanya
pemberian wewenang yang lebih luas dalam penyelenggaraan beberapa
bidang pemerintahan dan menempatkan Desa/Kampung sebagai basis
desentralisasi dan partisipasi.
Desa/Kampung berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
adalah suatu kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan desa dan untuk peningkatkan pelayanan serta
pemberdayaan masyarakat, desa/kampung mempunyai sumber
pendapatan yang terdiri atas pendapatan asli desa/kampung, bagi hasil
pajak dan retribusi daerah Kabupaten, bagian dari dana perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten, bantuan dari
Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten, serta
hibah dan sumbangan dari pihak ketiga.

23

Pengaturan mengenai sumber pendapatan desa/kampung dimaksudkan


untuk mengarahkan agar pemerintahannya lebih berdayaguna dalam
membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
desa/kampung, serta upaya pelestarian sumber pendapatan desa dan
pengembangannya. Hal ini penting dan untuk diperhatikan karena
pembiayaan merupakan bagian tak terpisahkan dari jalannya
pemerintahan
dan
pembangunan
Desa/Kelurahan.
Untuk
menindaklanjuti pengaturan sumber pendapatan desa/kampung tersebut,
maka salah satu hal yang harus dilaksanakan oleh daerah adalah
menetapkan Peraturan Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung di
Kabupaten Lampung Tengah.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Cukup jelas
Pasal 3
Ayat (1)
huruf e

: Lain-lain pendapatan asli kampung yang sah


adalah sumber pendapatan lain yang dapat
dipungut oleh kampung yang berasal dari
Pengelolaan Kawasan Wisata skala Kampung,
Pengelolaan
Galian
C
yang
tidak
menggunakan alat berat dan sumber
pendapatan lainnya.

Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
huruf g

: Lain-lain Kekayaan Milik Kampung antara


lain:
1. Barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBKampung/ Daerah;

24

2. Barang yang berasal dari perolehan


lainnya dan/atau sumbangan dari pihak
ketiga;
3. Barang
yang
diperoleh
dari
hibah/sumbangan atau yang sejenis;
4. Barang
yang
diperoleh
sebagai
pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan
lain-lain sesuai peratutan perundangundangan yang berlaku;
5. Hak kampung dari dana perimbangan,
pajak daerah dan retribusi daerah;
6. Hibah dari pemerintah, pemerintah
propinsi dan pemerintah kabupaten;
7. Hibah dari pihak ketiga yang sah dan
tidak mengikat;
8. Hasil kerjasama kampung.
Pasal 6
Ayat (1)

: Yang dimaksud dengan kepentingan umum


adalah hal-hal yang menyangkut kebutuhan
masyarakat desa yang bersangkutan

Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup Jelas
Pasal 9
Cukup Jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas

25

Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas

26

Ayat (3)
Sosialisasi Peraturan Kampung paling lama 1 (satu) bulan
setelah dimasukkan ke dalam lembar Kampung
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Cukup jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG
TENGAH NOMOR 06

27

28

NASKAH AKADEMIK
RANCANGAN PERATURAN DAERAH
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
TENTANG
SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG

29

Oleh
Tim PPS-MH Unila

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MAGISTER HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2007

I. PENDAHULUAN
Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah (OTDA) yang telah
digulirkan oleh pemerintah sejak tahun 2001 membawa perubahan dalam
pelaksanaan pemerintahan di daerah. Salah satu perubahan itu adalah

30

adanya pemberian wewenang yang lebih luas dalam penyelenggaraan


beberapa bidang pemerintahan dan menempatkan Desa sebagai basis
desentralisasi dan partisipasi. Meskipun Desa seharusnya menjadi basis
desentralisasi dan mampu menjalankan peran sebagai self governing
community, kebanyakan Desa menghadapi masalah yang akut. Pertama,
Desa memiliki APBDes yang kecil dan sumber pendapatannya sangat
tergantung pada bantuan yang sangat kecil pula. Kedua, kesejahteraan
masyarakat desa rendah sehingga susah bagi desa mempunyai Pendapatan
Asli Desa (Pades) yang tinggi. Ketiga, rendahnya dana operasional desa
untuk menjalankan pelayanan. Keempat, banyak program pembangunan
masuk desa tetapi hanya dikelola oleh Dinas. Program semacam ini
mendulang kritikan yaitu program tersebut tidak memberikan akses
pembelajaran bagi Desa dan program itu bersifat top down sehingga tidak
sejalan dengan kebutuhan Desa dan masyarakatnya. Sehubungan dengan
kondisi di atas maka dalam rangka menunjang kewenangan desa dan
untuk peningkatan pelayanan serta pemberdayaan masyarakat, desa
mempunyai sumber pendapatan yang terdiri atas pendapatan asli Desa,
bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota, bagian dari
dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh

31

kabupaten/kota, bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta


hibah dan sumbangan dari pihak ketiga.
Berdasarkan Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa dinyatakan bahwa sumber
pendapatan desa yang berasal dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah
diberikan kepada desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) di luar
upah pungut, dan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan
daerah yang diterima oleh kabupaten/kota diberikan kepada desa paling
sedikit 10% (sepuluh per seratus), sedangkan bantuan Pemerintah
Provinsi kepada desa diberikan sesuai dengan kemampuan dan
perkembangan keuangan provinsi bersangkutan. Sumber pendapatan lain
yang dapat diusahakan oleh desa berasal dari Badan Usaha Milik Desa,
pengelolaan pasar desa, pengelolaan kawasan wisata skala desa,
pengelolaan galian c dengan tidak menggunakan alat berat dan sumber
lainnya. Ketentuan lebih rinci mengenai sumber pendapatan desa diatur
dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

II.

SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG DALAM


MENJADIKAN
KAMPUNG
SEBAGAI
DESENTRALISASI DAN PARTISIPASI

RANGKA
BASIS

32

Sebagai wujud keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan


selama ini yaitu telah berkembangnya tata kehidupan masyarakat di
daerah

pedesaan.

Namun

demikian

perkembangan

kehidupan

masyarakat di pedesaan tersebut dirasakan sangat lambat, hal ini


disebabkan oleh banyak faktor. Untuk mengatasi keterlambatan
pembangunan di daerah pedesaan/kampung tersebut maka pemerintah
telah menetapkan sumber pendapatan desa berdasarkan Pasal 68 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, terdiri atas:
1. pendapatan asli desa meliputi hasil usaha desa, hasil kekayaan desa,
hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain
pendapatan asli desa yang sah;
2. bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh
per seratus) untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian
diperuntukkan bagi desa;
3. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan dearah yang
diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10 (sepuluh
per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa secara
proporsional yang merupakan alokasi dana desa;

33

4. bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan


Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan
pemerintahan;
5. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
Untuk

menjamin

keberlangsungan

sumber

pendapatan

desa

sebagaimana tersebut di atas, maka semua sumber pendapatan desa yang


telah dimiliki dan dikelola oleh desa tidak dibenarkan diambil alih oleh
pemerintah atau pemerintah daerah. Selain itu pengaturan lebih rinci
tentang sumber pendapatan desa diatur dengan Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota yang sekurang-kurangnya memuat:
a. sumber pendapatan;
b. jenis pendapatan;
c. rincian bagi hasil pajak dan retribusi daerah;
d. bagian dana perimbangan;
e. persentase dana alokasi desa;
f. hibah;
g. sumbangan;
h. kekayaan.

34

Selain itu untuk mempercepat pembangunan dan pelayanan


publik di pedesaan maka pemerintah mendorong adanya kebijakan
Alokasi Dana Desa (ADD) di setiap Kabupaten. Apabila dikaji secara
mendalam bahwa Kebijakan Alokasi Dana Desa banyak manfaatnya
yaitu (1) Meringankan pekerjaan yang diemban pihak Kabupaten; (2)
Efisiensi Pembiayaan Pembangunan; (3) Pemerataan Pembangunan dan
Peningkatan Pelayanan kepada Masyarakat; (4) Meningkatkan peran
Desa; (5) Meningkatkan Partisifasi dan Demokratisasi di Pedesaan.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa besar manfaat adanya
kebijakan ADD pada efektivitas dan efisiensi penyelesaian masalah
yang berskala desa secara langsung maupun yang berskala daerah secara
tidak langsung. Hal ini mengingat permasalahan desa bersama
masyarakat warganya, masing-masing sangatlah spesifik dan tidak
mungkin disamaratakan. Dengan adanya fiscal transfer ke desa maka
Kabupaten tidak perlu lagi terlalu repot terlibat dalam penyelesaian
permasalahan-permasalahan berskala desa karena masing-masing desa
dengan warganya sudah mampu menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Kabupaten bisa lebih berkonsentrasi meneruskan pembangunan
pelayanan publik untuk skala daerah yang jauh lebih strategis dan lebih

35

bermanfaat bagi pembangunan jangka panjang Kabupaten yang


bersangkutan.
Adanya kebijakan ADD juga dipandang dapat mewujudkan efisiensi
pembiayaan pembangunan. Pembangunan dengan melibatkan langsung
masyarakat desa menunjukkan hasil yang jauh lebih baik dan efisien
daripada pembangunan desa yang selama ini dijalankan dengan
mekanisme proyek. Budaya gotong royong, gugur gunung, sambatan,
dan semacamnya adalah potensi social yang masih hidup di masyarakat
desa dan harus dilestarikan. Kebijakan ADD memberikan kesempatan
luas kepada desa mengatur rumah tangganya sendiri dengan
memberikan kewenangan disertai dengan biaya perimbangan akan
mempercepat pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
di desa yang bersangkutan. Meskipun manfaat ADD dirasakan luas bagi
kemandirian desa, namun demikian berdasarkan hasil penelitian masih
ada hambatan dan tantangan yang harus diantisifasi agar keberhasilan
tersebut tidak terganggu yaitu belum maksimalnya kesiapan aparatur
pemerintahan desa. Kelemahan perangkat dan aparatur pemerintah desa
menjadi sumber kelemahan administrasi desa, sehingga menjadi titik

36

lemah bagi kelancaran pencairan dana maupun pertanggungjawaban


kepala desa/kampung.
Mengingat kondisi masing-masing desa/kampung berbeda-beda
maka

penentuan besarnya Alokasi Dana Desa untuk masing-masing

Kampung juga harus berbeda-beda. Agar ADD dapat dibagikan secara


adil dan merata sesuai kebijakan dan kondisi daerah maka pembagian
ADD

meliputi

Alokasi

Dana

Desa

Minimal

(ADDM)

yang

pembagiannya merata untuk setiap desa, dan Alokasi Dana Desa


Proposional (ADDP) yang pembagiannya berbeda-beda antar desa
dengan memperhatikan faktor kemiskinan, pendidikan dasar, kesehatan,
keterjangkauan, dan lain-lain sesuai dengan kebijakan daerah. Untuk itu
agar pembagian alokasi dana desa dapat dilakukan secara adil dan
merata maka pembagiannya dihitung dengan menggunakan rumus:
ADDi = ADDM + ADDPi
ADDPi = {(X1 x VJPi) + (X2 x VLWi) + (X3 x VPMi)} x TADDP
X1 + X2 + X3 = 1
ADDi
ADDM
ADDPi
X1
X2
VJPi

: Alokasi Dana Desa untuk kampung i


: Alokasi Dana Desa Minimal yang diterima kampung
: Alokasi Dana Desa Proporsional untuk kampung i
: Bobot untuk variabel jumlah penduduk
: Bobot untuk variabel luas wilayah
: Skor variabel jumlah penduduk kampung i

37

VLWi
VPMi
TADDP

: Skor variabel luas wilayah kampung i


: Skor variabel partisifasi masyarakat i
: Total Alokasi Dana Desa Proporsional

Besaran skor dan bobot variabel jumlah penduduk, variabel luas


wilayah dan variabel partisifasi masyarakat masing-masing ditetapkan
40%, 40% dan 20%. Untuk terwujudnya kebijakan ADD secara
maksimal maka hasil akhir perhitungan dan Alokasi Dana Desa untuk
setiap Kampung harus diinformasikan kepada seluruh kampung
sebelum masa penyusunan rencana tahunan kampung dimulai.
III. METODE PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIK RAPERDA
SUMBER
PENDAPATAN KAMPUNG
DI KABUPATEN
LAMPUNG TENGAH
Metode yang digunakan dalam menyusunan naskah akademik
Rancangan Peraturan Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung di
Kabupaten Lampung Tengah ini adalah metode socio-legal approach.
Melalui metode ini maka kaidah-kaidah hukum yang hidup dan tumbuh
dalam masyarakat dicari dan digali untuk kemudian dirumuskan
menjadi rumusan pasal-pasal yang dituangkan ke dalam rancangan
peraturan daerah. Metode ini dilandasi oleh sebuah teori yang
menyatakan bahwa hukum yang baik adalah hukum yang hidup dan

38

tumbuh dalam masyarakat yang didasarkan pada falsafah Sociological


Jurisprudence. Dalam praktiknya Tim Penyusun naskah akademik
Rancangan Peraturan Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung
Kabupaten Lampung Tengah mengimplementasikan metode ini dengan
cara

membandingkan

antara

ketentuan-ketentuan

hukum

yang

dirumuskan oleh Tim Penyusun Raperda dengan budaya hukum dan


aspirasi masyarakat terhadap ketentuan-ketentuan yang mengatur
sumber pendapatan kampung.
Secara garis besar proses penyusunan peraturan daerah ini meliputi tiga
tahapan yaitu: 1) tahap konseptualisasi, 2) tahap sosialisasi dan
konsultasi publik, dan 3) tahap proses politik.
1. Tahap Konseptualisasi
Tahap ini merupakan awal dari kegiatan technical assistence yang
dilakukan oleh tim penyusun. Pada tahap ini tim penyusun
melakukan konseptualisasi naskah akademik dan perumusan
Rancangan Peraturan Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung
yang dilakukan melalui diskusi intern Tim Perumus Raperda dengan
Mitra Kerja (Akademisi). Target output dari tahap ini adalah Naskah

39

Akademik dan Rancangan Peraturan Daerah tentang Sumber


Pendapatan Kampung.
2. Tahap Sosialisasi dan Konsultasi Publik
Pada tahap ini, tim penyusun melakukan Sosialisasi dan Konsultasi
Publik tentang Sumber Pendapatan Kampung berupa:
a. Seminar dan Lokakarya
b. Talk Show Radio atau Talk Show Televisi
c. Penulisan Artikel atau Iklam Layanan Masyarakat di Surat
Kabar dan Radio.
Target output dari kegiatan sosialisasi ini adalah:
a. Tersosialisasikannya rencana pembentukan Peraturan Daerah
tentang Sumber Pendapatan Kampung;
b. Diperolehnya feedback dari masyarakat mengenai Rancangan
Peraturan Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung.
3. Tahap Proses Politik
Tahap proses politik merupakan tahap akhir dari kegiatan technical
assitance. Proses politik adalah proses pembahasan usulan Raperda
tentang Sumber Pendapatan Kampung

di Kabupaten Lampung

Tengah. Pada tahap proses politik, tim penyusun tidak terlibat

40

langsung melainkan hanya memberikan jasa konsultasi jika


diperlukan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses tersebut.

IV. DRAFT RAPERDA SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG KAB.


LAMPUNG TENGAH
Raperda Sumber Pendapatan Kampung di Kabupaten Lampung Tengah
berisikan hal-hal sbb:
Bab

Ketentuan Umum

Bab

II

Sumber dan Jenis Pendapatan Kampung

Bab

III

Pendapatan Asli Kampung

Bab

IV

Bagi Hasil Pajak dan Retribusi

Bab

Alokasi Dana Kampung

Bab

VI

Bantuan Keuangan Dari Pemerintah Provinsi dan

Pemerintah
Kabupaten
Bab

VII

Hibah dan Sumbangan

Bab

VIII

Dana Alokasi Khusus Kampung

Bab

IX

Pengelolaan Sumber Pendapatan Kampung

41

Bab

Pertanggungjawaban

Bab

XI

Pengawasan

Bab

XII

Ketentuan Pidana

Bab

XIII

Penyidikan

Bab

XIV

Ketentuan Penutup

Draft

Raperda

Sumber

Pendapatan

Kampung

selengkapnya

sebagaimana terlampir.

Lampiran: 1
RANCANGAN
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
NOMOR
TAHUN 2008
TENTANG
SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI LAMPUNG TENGAH,

42

Menimbang:

a. bahwa untuk menjamin terselenggaranya urusan


pemerintahan kampung dalam rangka otonomi daerah
harus ada dukungan sumber pendanaan, sarana dan
prasarana serta personil yang memiliki kompetensi
keahlian menurut kebutuhan sesuai dengan corak urusan
yang didesentralisasikan;
b.

bahwa
untuk
mendanai
penyelenggaraan
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan seluruh
Kampung di Kabupaten Lampung Tengah perlu
menetapkan sumber pendapatan kampung;

c.bahwa untuk menjamin distribusi sumber pendapatan


kampung secara merata dan adil seluruh kampung di
Kabupaten Lampung Tengah sebagaimana dimaksud
huruf b di atas, perlu ditetapkan ketentuan Sumber
Pendapatan Kampung dalam Peraturan Daerah;
Mengingat:1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Penetapan
Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1956 tentang
Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten
Dalam Lingkungan Propinsi Sumatra Selatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1956 Nomor 55,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
1091) sebagai Undang-Undang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821);
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Way Kanan,
Kabupaten Daerah Tingkat II Lampung Timur, dan
Kotamadya Daerah Tingkat II Metro (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 46, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3825);
3. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor

43

246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia


Nomor 4048);
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 46 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4286);
5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);
7. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4400);
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Penetapan Perpu Nomor 3 Tahun 2005 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4548);
9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dengan
Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

44

10. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak


Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4138);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4139);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4587);
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2006
tanggal 19 Mei 2006 tentang Jenis dan Bentuk Produk
Hukum Daerah;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006
tanggal 19 Mei 2006 tentang Prosedur Penyusunan Poduk
Hukum Daerah;
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2006
tanggal 19 Mei 2006 tentang Lembaran Daerah dan Berita
Daerah.
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LAMPUNG
TENGAH

DAN
BUPATI LAMPUNG TENGAH
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN DAERAH TENTANG SUMBER


PENDAPATAN KAMPUNG
BAB I
KETENTUAN UMUM

45

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Lampung
Tengah.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten Lampung Tengah.
3. Bupati adalah Bupati Lampung Tengah.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD
adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten Lampung Tengah.
5. Kampung adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batasbatas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Pemerintahan Kampung adalah penyelenggara urusan pemerintahan
oleh pemerintah kampung dan Badan Permusyawaratan Kampung
dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan negara kesatuan Republik
Indonesia.
6. Pemerintah Kampung adalah kepala kampung dan perangkat kampung
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan kampung.
7. Badan Permusyawaratan Kampung yang selanjutnya disingkat BPK
adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan kampung sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan kampung di Kabupaten Lampung Tengah
8. Peraturan Kampung adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat
oleh Badan Permusyawaratan Kampung bersama Kepala Kampung;
9. Lembaga Kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh
masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah
kampung dalam memberdayakan masyarakat kampung di lingkungan
Kabupaten Lampung Tengah;
10. Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah disebut Dana
Perimbangan adalah dana yang bersumber dari APBN yang

46

dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam


rangka pelaksanaan desentralisasi yang meliputi kampung-kampung di
seluruh wilayah Kabupaten Lampung Tengah
11. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah disingkat APBD adalah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Lampung Tengah
12. Musyawarah Perencanaan Pembangunan disingkat Musrenbang adalah
musyawarah perencanaan pembangunan tingkat kampung atau
Kelurahan di Kabupaten Lampung Tengah
13. Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung disingkat APBD Kampung
adalah rencana keuangan tahunan Kampung di Kabupaten Lampung
Tengah
14. Alokasi Dana Kampung disingkat ADK adalah perolehan bagian
keuangan Kampung dari Kabupaten Lampung Tengah
15. Alokasi Dana Kampung Minimal disingkat ADKM adalah dana
minimal yang diterima oleh masing-masing kampung dibagikan dalam
jumlah yang sama menurut asas pemerataan di seluruh kampung dan
kelurahan di Kabupaten Lampung Tengah;
17.Alokasi Dana Kampung Proporsional disingkat ADKP adalah dana yang
diterima setiap kampung yang besarannya ditentukan berdasarkan
perkalian total dana proporsional dengan variable yang ditetapkan dalam
anggaran pendapatan dan belanja dengan porsi perkampung
bersangkutan menurut asas keadilan di Kabupaten Lampung Tengah
18. Dana Alokasi Khusus Kampung disingkat DAK Kampung adalah dana
yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja daerah yang
dialokasikan kepada Kampung tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan prioritas Daerah Kabupaten
Lampung Tengah
19. Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau
badan kepada daerah Kabupaten Lampung Tengah tanpa imbalan
langsung yang dapat dipaksakan dengan kekuatan peraturan perundangundangan dan dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Lampung Tengah
20. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa
pelayanan khusus yang disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah
Kabupaten Lampung Tengah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan di lingkungan Kabupaten Lampung Tengah

47

21.Rencana Kegiatan Pembangunan


Kampung atau disingkat RKP
Kampung adalah dokumen perencanaan Kampung untuk periode satu
tahunan di Kabupaten Lampung Tengah.
BAB II
SUMBER DAN JENIS PENDAPATAN KAMPUNG
Pasal 2
Pendapatan Kampung bersumber dari:
f. pendapatan asli kampung;
g. bagi hasil;
h. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah;
i. bantuan keuangan; serta
j. hibah dan sumbangan.
Pasal 3
(2) Pendapatan asli kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a,
terdiri dari:
a. hasil usaha kampung;
b. hasil kekayaan kampung;
c. hasil swadaya masyarakat;
d. hasil gotong royong; dan
e. lain-lain pendapatan kampung yang sah.
(2) Bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, terdiri dari:
a. bagi hasil pajak daerah; dan
b. bagi hasil retribusi daerah.
(3) Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah disebut
Alokasi Dana Kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c
diterimakan sebagai bantuan untuk kampung secara keseluruhan sebesar
paling kurang 10% (sepuluh perseratus) dari total penerimaan dana
perimbangan keuangan Kabupaten.

48

(4) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d


bersumber dari:
a. pemerintah;
b. pemerintah provinsi; dan
c. pemerintah kabupaten.
(5) Hibah dan sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e
diperoleh dari pihak ketiga yang tidak mengikat.
BAB III
PENDAPATAN ASLI KAMPUNG
Bagian Kesatu
Hasil Usaha Kampung
Pasal 4
(1) Dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan Kampung, Pemerintah
Kampung dapat mendirikan Badan Usaha Milik Kampung sesuai
dengan kebutuhan dan potensi kampung.
(2) Pembentukan Badan Usaha Milik Kampung sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Hasil Kekayaan Kampung
Pasal 5
Jenis Kekayaan Kampung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
huruf b meliputi:
a. tanah kas kampung
b. pasar kampung
c. tambatan perahu
d. bangunan kampung
e. pelelangan ikan yang dikelola oleh kampung

49

f. pasar hewan yang dikelola oleh kampung


g. lain-lain kekayaan milik kampung.

Pasal 6
Tata cara pengelolaan kekayaan kampung diatur dengan Peraturan Bupati
Bagian Ketiga
Perubahan Status Hukum
Pasal 7
(1) Kekayaan Kampung yang berupa tanah kampung tidak diperbolehkan
dilakukan pelepasan hak kepemilikan kepada pihak lain, kecuali
diperlukan untuk kepentingan umum;
(2) Pelepasan hak kepemilikan tanah kampung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan setelah mendapat ganti rugi sesuai harga yang
menguntungkan kampung dengan memperhatikan harga pasar dan nilai
jual objek pajak (NJOP);
(3) Penggantian ganti rugi berupa uang harus digunakan untuk membeli
tanah lain yang lebih baik dan berlokasi di kampung setempat;
(4) Pelepasan hak kepemilikan tanah kampung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Kampung;
(5) Keputusan Kepala Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
diterbitkan setelah mendapat persetujuan BPK dan mendapat izin
tertulis dari Bupati dan Gubernur.
Bagian Keempat
Hasil Swadaya, Partisipasi dan Gotong royong
Pasal 8

50

(1) Penetapan bentuk, jenis dan hasil swadaya, partisipasi dan gotong
royong disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi dan budaya masyarakat
kampung;
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Peraturan Kepala Kampung, setelah dilakukan musyawarah
dengan pihak-pihak yang berkepentingan secara langsung.
Bagian Kelima
Lain-lain Pendapatan Asli Kampung Yang Sah
Pasal 9
(1) Sumber pendapatan kampung dari lain-lain pendapatan asli kampung
yang sah dapat berupa pungutan kampung;
(2) Pungutan Kampung ditetapkan dengan Peraturan Kampung;
(3) Pungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah pengutanpungutan yang belum dipungut oleh Pemerintah, Pemerintah Propinsi
dan pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku;
(4) Jenis Pungutan Kampung dapat berupa:
a. Pungutan yang berasal dari iuran atau sumbangan masyarakat sesuai
dengan mata pencaharian masyarakat kampung berdasarkan
kemampuan ekonomi;
b. Pungutan yang berasal dari ongkos cetak surat-surat keterangan dan
administrasi;
c. Pungutan yang berasal dari transaksi peralihan hak atas tanah dan
bangunan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Pungutan-pungutan lain yang ditetapkan lebih lanjut oleh Pemerintah
Kampung.
(5) Selain jenis pungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Pemerintah
Kampung dapat melakukan pungutan kampung secara sukarela untuk
bantuan bencana tertentu yang bersifat mendesak tanpa persetujuan
BPK terlebih dahulu;
(6) Pelaksanaan Pungutan Kampung dilakukan oleh Pemerintah Kampung
yang tata cara dan petugasnya ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Kampung.

51

BAB IV
BAGI HASIL PAJAK DAN RETRIBUSI
Pasal 10
(1) Bagi hasil pajak dan retribusi ditetapkan sebagai berikut:
a. Bagi Hasil Pajak Daerah sebesar paling sedikit 10% (sepuluh
perseratus) dari realisasi penerimaan APBD tahun berjalan;
b. Bagi Hasil Retribusi Daerah tertentu sebesar 2,5% (dua setengah
perseratus) dari realisasi penerimaan APBD tahun berjalan;
(2) Bagi Hasil Pajak dan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan secara merata dan tertimbang;
(3) Pelaksanaan lebih lanjut ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditetapkan oleh Bupati.
BAB V
ALOKASI DANA KAMPUNG
Bagian Pertama
Tujuan Alokasi Dana Kampung
Pasal 11
Tujuan dari pemberian Alokasi Dana Kampung yaitu:
k. menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;
l. meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di
tingket kampung dan pemberdayaan masyarakat;
m. meningkatkan pembangunan infrastruktur pedesaan;
n. meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya
dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial;
o. meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;
p. meningkatkan pelayanan pada masyarakat kampung dalam rangka
pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakatan;
q. mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong
masyarakat

52

r. meningkatkan pendapatan kampung dan masyarakat kampung


melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMD);

Bagian Kedua
Sumber Alokasi Dana Kampung
Pasal 12
(3) Alokasi Dana Kampung bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) tahun berlaku;
(4) Besar Alokasi Dana Kampung adalah 10% (sepuluh perseratus) dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun berlaku
setelah dikurangi belanja pegawai.
Pasal 13
(1) Besaran kenaikan prosentase Alokasi Dana Kampung dapat disesuaikan
setiap tahun menurut kemampuan daerah
(2) Alokasi Dana Kampung dikelola dalam sistem administrasi keuangan
yang baik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Bagian Ketiga
Pembagian Alokasi Dana Kampung
Pasal 14
(1) Besaran Alokasi Dana Kampung untuk masing-masing Kampung
ditentukan berdasarkan penjumlahan ADKM dan ADKP.
(2) Untuk mendapatkan Alokasi Dana Kampung, Kampung harus
melaksanakan kegiatan:
a. Musrenbang Kampung dalam rangka penyusunan RKP Kampung
yang menghasilkan kesepakatan tentang alokasi biaya untuk kegiatan
dan kesepakatan tentang delegasi masyarakat Kampung yang akan
terlibat dalam musrenbang kecamatan;

53

b. menyusun rancangan akhir RKP Kampung berdasarkan hasil


musrenbang Kampung dan menetapkannya dengan peraturan
kampung yang ditindaklanjuti dengan Keputusan Kepala Kampung;
c. mengajukan usulan kegiatan di luar kewenangan Kampung dalam
RKP Kampung yang diajukan kepada pemerintah kabupaten melalui
musrenbang kecamatan;
d. menyusun laporan dan melakukan pertanggungjawaban kegiatan
selama setahun pada akhir tahun anggaran.
Pasal 15
(1) ADK Minimal merupakan dana minimal yang diterima oleh masingmasing Kampung, dibagikan dengan jumlah yang sama menurut asas
pemerataan;
(2) Besaran ADK Minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebesar
50% (lima puluh perseratus) dari besaran total Alokasi Dana Kampung;
(3) ADK Proporsional merupakan dana yang diterima oleh masing-masing
Kampung yang dibagikan dengan jumlah yang berbeda menurut asas
keadilan;
(4) Besaran ADK Proporsional 50% (lima puluh perseratus) dari besaran
total Alokasi Dana Kampung;
(5) ADK Proporsional yang diterima suatu Kampung ditentukan
berdasarkan perkalian total dari variable yang ditetapkan sesuai porsi
Kampung yang bersangkutan menurut asas keadilan;
(6) Porsi Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (5) merupakan
proporsi bobot Kampung bersangkutan terhadap jumlah bobot semua
Kampung di lingkungan Kabupaten.
(7) Bobot Kampung ditentukan dan dihitung dengan mempertimbangkan
asas keadilan dan pemerataan berdasarkan:
a. kelompok variabel jumlah penduduk
b. kelompok variabel luas wilayah
c. kelompok variabel partisipasi masyarakat
Pasal 16

54

(1) Alokasi Dana Kampung untuk masing-masing Kampung dihitung


dengan menggunakan rumus:
ADKi = ADKM + ADKPi
ADKPi = {(X1 x VJPi) + (X2 x VLWi) + (X3 x VPMi)} x TADKP
X1 + X2 + X3 = 1
ADKi
: Alokasi Dana Kampung untuk kampung i
ADKM : Alokasi Dana Kampung Minimal yang diterima kampung
ADKPi : Alokasi Dana Kampung Proporsional untuk kampung i
X1
: Bobot untuk variabel jumlah penduduk
X2
: Bobot untuk variabel luas wilayah
X3
: Bobot untuk variabel partisipasi masyarakat
VJPi
: Skor variabel jumlah penduduk kampung i
VLWi
: Skor variabel luas wilayah kampung i
VPMi
: Skor variabel partisipasi masyarakat kampung i
TADKP : Total Alokasi Dana Kampung Proporsional
(2) Besaran skor dan bobot variabel jumlah penduduk, variabel luas wilayah
dan variabel partisipasi masyarakat masing-masing ditetapkan 40%,
40% dan 20%
(3) Hasil akhir perhitungan Alokasi Dana Kampung untuk setiap Kampung
diinformasikan kepada seluruh kampung sebelum masa penyusunan
rencana tahunan kampung dimulai, paling lama 2 (dua) bulan setelah
APBD tahun berjalan disahkan.
Pasal 17
Mekanisme penyaluran Alokasi Dana Kampung secara teknis akan diatur
dengan Peraturan Bupati.
Pasal 18
(1) Besaran penggunaan Alokasi Dana Kampung yaitu:
a. Paling sedikit 70% (tujuh puluh perseratus) dari Alokasi Dana
Kampung digunakan untuk pembiayaan pelayanan publik berupa

55

pembangunan fisik dan non-fisik Kampung terutama dalam rangka


peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengentasan kebodohan
dan kemiskinan, serta pengembangan ekonomi kampung.
b. Sisa Alokasi Dana Kampung sebesar maksimal 30% (tiga puluh
perseratus) digunakan untuk pembiayaan Kelembagaan Kampung,
Badan Permusyawaratan Kampung, lembaga kemasyarakatan dan
organisasi lainnya di Kampung.
(2) Bentuk penyediaan pelayanan publik sebagaimana dimaksud ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VI
BANTUAN KEUANGAN DARI PEMERINTAH PROVINSI DAN
PEMERINTAH KABUPATEN
Pasal 19
(1) Bantuan dari Pemerintah dapat digunakan untuk tunjangan penghasilan
Kepala Kampung dan Perangkat Kampung;
(2) Bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten digunakan
untuk percepatan atau akselerasi pembangunan Kampung.
BAB VII
HIBAH DAN SUMBANGAN
Pasal 20
(1) Pemberian hibah dan sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
huruf e tidak mengurangi kewajiban-kewajiban pihak penyumbang
kepada Kampung
(2) Sumbangan yang berbentuk barang, baik barang bergerak maupun
barang tidak bergerak dicatat sebagai barang inventaris kekayaan milik
Kampung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
(3) Sumbangan yang berbentuk uang dicantumkan di dalam APB Kampung.

56

BAB VIII
DANA ALOKASI KHUSUS KAMPUNG
Pasal 21
(1) DAK Kampung dapat dialokasikan dari APBD kepada Kampung
tertentu untuk membantu membiayai kebutuhan khusus, insentif dan
disinsentif dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBD.
(2) DAK Kampung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dialokasikan
untuk membiayai pelaksanaan tugas pembantuan
(3) Ketentuan mengenai DAK Kampung diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB IX
PENGELOLAAN SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG
Pasal 22
(1) Sumber pendapatan daerah yang berada di dalam wilayah Kampung
baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Provinsi atau
Kabupaten tidak boleh lagi dilakukan pungutan tambahan di atasnya
oleh Pemerintah Kampung
(2) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Kampung
tidak dibenarkan diambil alih oleh pemerintah, pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten.

57

Pasal 23
(1) Dana Pendapatan
Kampung digunakan untuk meningkatkan
kemampuan pemerintah kampung dalam menyediakan pelayanan
publik yang menjadi skala prioritas kebutuhan masyarakat kampung
termasuk operasional kelembagaan kampung.
(2) Semua penerimaan dan pengeluaran Dana Pendapatan Kampung dicatat
dan dikelola dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung.
(3) APBKampung, Perubahan APBKampung dan perhitungan
APBKampung ditetapkan dengan Peraturan Kampung.
Pasal 24
(1) Pelaksanaan kegiatan pelayanan publik di Kampung dilaksanakan oleh
pemerintah kampung.
(2) Mitra kerja pemerintah kampung dalam perencanaan dan pelaksanaan
kegiatan yaitu lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan dengan
Keputusan Kepala Kampung
(3) Pemerintah Kampung bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan
pelayanan publik di kampung

BAB X
PERTANGGUNGJAWABAN
Pasal 25
(1) Kepala Kampung bertanggungjawab atas pengelolaan Dana Pendapatan
Kampung kepada Bupati.
(2) Kepala Kampung melaporkan penggunaan Dana Pendapatan Kampung
kepada Bupati paling lambat pada akhir tahun anggaran.
(3) Kepala Kampung memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban
kepada Badan Permusyawaratan Kampung.

58

BAB XI
PENGAWASAN
Pasal 26
(1) Badan Permusyawaratan Kampung melaksanakan pengawasan terhadap
pelaksanaan peraturan kampung dan peraturan kepala kampung.
(2) Pengawasan fungsional dilakukan oleh lembaga pengawas kabupaten
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 27
Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 23 diancam sanksi pidana
kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau paling singkat 2 (dua) bulan dan
denda paling banyak
Rp 50.000.000 (lima puluh juta
rupiah) atau paling sedikit Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
Pasal 28
Penerapan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 tidak menghalangi
penerapan sanksi yang diatur di dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.
Pasal 29
(1) Dalam hal pelanggaran ketentuan peraturan daerah ini diputus bersalah
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki ketentuan hukum
tetap dan denda dinyatakan sebagai milik daerah, maka denda tersebut
disetorkan ke Kas Daerah Kabupaten sebagai pendapatan asli daerah
(2) Tindak pidana sebagai akibat pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan
di dalam peraturan daerah ini merupakan tindak pidana pelanggaran.

59

BAB XIII
PENYIDIKAN
Pasal 30
(3) Selain penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia, juga pejabat
pegawai negeri sipil tertentu berwenang melakukan penyidikan terhadap
setiap orang atau badan hukum yang melakukan tindak pidana
berdasarkan peraturan daerah ini.
(4) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1 )
berwenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian serta
melakukan pemeriksaan
c. Menyuruh berhenti seseorang yang diduga melakukan tindak pidana
dan memeriksa tanda pengenal diri orang yang bersangkutan;
d. Melakukan penyitaan benda dan atau surat yang terkait dengan
dugaan tindak pidana
e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka
atau saksi;
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungan dengan
pemeriksaan perkara pidana
h. Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari penyidik
umum bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut
bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui penyidik
umum memberitahukan hal tersebut kepada penuntut umum,
trsangka atau keluarganya; dan
i. Melakukan tindakan lain yang dipandang perlu dan dapat
dipertanggungjawabkan menurut hukum.
BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN

60

Pasal 31
Ketentuan dalam peraturan daerah ini dilaksanakan paling lama 1 (satu)
tahun setelah disahkan.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 32
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang
mengenai teknis pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Bupati

Pasal 33
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Lampung Tengah.
Ditetapkan di :
Gunung Sugih
Pada tanggal :
2007
BUPATI LAMPUNG
TENGAH
ttd.
ANDY ACHMAD
SAMPURNAJAYA

61

Diundangkan di
Pada tanggal

: Gunung Sugih
:
2007

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
ttd
(

LEMBARAN DARAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH NOMOR


.. TAHUN 2007

PENJELASAN

62

ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
NOMOR

TAHUN 2007

TENTANG
SUMBER PENDAPATAN KAMPUNG
1.PENJELASAN UMUM
Kebijakan Otonomi Daerah (OTDA) yang telah digulirkan
pemerintah sejak tahun 2001 telah membawa perubahan dalam
pelaksanaan pemerintahan di daerah. Salah satu perubahan itu adalah
adanya pemberian wewenang yang lebih luas dalam penyelenggaraan
beberapa bidang pemerintahan dan menempatkan Desa/Kampung sebagai
basis desentralisasi dan partisipasi.
Desa/Kampung berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 adalah suatu kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas
wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan desa dan untuk peningkatkan pelayanan serta pemberdayaan
masyarakat, desa/kampung mempunyai sumber pendapatan yang terdiri
atas pendapatan asli desa/kampung, bagi hasil pajak dan retribusi daerah
Kabupaten, bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah
yang diterima oleh Kabupaten, bantuan dari Pemerintah, Pemerintah
Propinsi dan Pemerintah Kabupaten, serta hibah dan sumbangan dari
pihak ketiga.
Pengaturan mengenai sumber pendapatan desa/kampung
dimaksudkan untuk mengarahkan agar pemerintahannya lebih
berdayaguna dalam membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan desa/kampung, serta upaya pelestarian sumber pendapatan
desa dan pengembangannya. Hal ini penting dan untuk diperhatikan
karena pembiayaan merupakan bagian tak terpisahkan dari jalannya
pemerintahan dan pembangunan Desa/Kelurahan. Untuk menindaklanjuti

63

pengaturan sumber pendapatan desa/kampung tersebut, maka salah satu


hal yang harus dilaksanakan oleh daerah adalah menetapkan Peraturan
Daerah tentang Sumber Pendapatan Kampung di Kabupaten Lampung
Tengah.
II. PENJELALSAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1

: Cukup jelas

Pasal 2

: Cukup jelas

Pasal 3 ayat (1) huruf e : Lain-lain pendapatan asli kampung yang sah
adalah sumber pendapatan lain yang dapat
dipungut oleh kampung yang berasal dari
Pengelolaan Kawasan Wisata skala Kampung,
Pengelolaan
Galian
C
yang
tidak
menggunakan alat berat dan sumber
pendapatan lainnya.
Pasal 4
: Cukup jelas.
Pasal 5 huruf g

Lain-lain Kekayaan Milik Kampung antara


lain:
1. Barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBKampung/ Daerah;
2. Barang yang berasal dari perolehan
lainnya dan/atau sumbangan dari pihak
ketiga;
3. Barang yang diperoleh dari
hibah/sumbangan atau yang sejenis;
4. Barang yang diperoleh sebagai
pelaksanaan dari perjanjian/kontrak dan
lain-lain sesuai peratutan perundangundangan yang berlaku;
5. Hak kampung dari dana perimbangan,
pajak daerah dan retribusi daerah;
6. Hibah dari pemerintah, pemerintah
propinsi dan pemerintah kabupaten;

64

7. Hibah dari pihak ketiga yang sah dan tidak


mengikat;
8. Hasil kerjasama kampung.
Pasal 6

: Cukup jelas.

Pasal 7 ayat (1)


Pasal 8

: Yang dimaksud dengan kepentingan umum


adalah hal-hal yang menyangkut kebutuhan
masyarakat desa yang bersangkutan.
: Cukup Jelas

Pasal 9

: Cukup Jelas

Pasal 10

: Cukup jelas

Pasal 11

: Cukup jelas

Pasal 12

: Cukup jelas

Pasal 13

: Cukup jelas

Pasal 14

: Cukup jelas

Pasal 15

: Cukup jelas

Pasal 16

: Cukup jelas

Pasal 17

: Cukup jelas

Pasal 18

: Cukup jelas

Pasal 19

: Cukup jelas

Pasal 20

: Cukup jelas

Pasal 21

: Cukup jelas

Pasal 22

: Cukup jelas

Pasal 23

: Cukup jelas

Pasal 24

: Cukup jelas

Pasal 25

: Cukup jelas

Pasal 26

: Cukup jelas

65

Pasal 27

: Cukup jelas

Pasal 28

: Cukup jelas

Pasal 29

: Cukup jelas

Pasal 30

: Cukup jelas

Pasal 31

: Cukup jelas

Pasal 32

: Cukup jelas

Pasal 33

: Cukup jelas

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG


TENGAH
NOMOR .... TAHUN 2007.
----------------------------------------------------------

66

67