Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

ANALISIS DAN PENENTUAN KONSTANTA DISOSIASI ASAM DENGAN


TITRASI pH YANG DIKONTROL DENGAN KOMPUTER

Nama Praktikan

: Anni Fiqrotus Zakkiyah

NIM

: 121810301013

Kelompok

:5

Nama Asisten

: Agita Raka P.

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konstanta disosiasi asam (Ka) adalah suatu tetapan kesetimbangan dari suatu asam.
Nilai Ka suatu asam kuat lebih besar dari pada Ka asam lemah. Derajat disosiasi untuk
suatu asam kuat mendekati 100%, sehingga nilai Ka-nya akan besar karena asam akan
cenderung menjadi ion H+ dan basa konjugatnya. Sedangkan untuk asam lemah, nilai
derajat ionisasinya cukup kecil, nilai Ka dipengaruhi oleh derajat ionisasi sehingga untuk
asam lemah Ka-nya relatif kecil dibandingkan dengan asam kuat. Klasifikasi asam kuat
dan lemah bisa diidentifikasi dari nilai Ka atau pKa. Semakin besar nilai Ka atau semakin
kecil nilai pKa maka tingkat keasaman akan bertambah.
Titrasi potensiometri merupakan suatu metode analisa volumetrik yang didasarkan
pada prinsip timbulnya potensial dari suatu larutan. Potensial yang terjadi diperoleh
dengan tanpa menambahkan arus listrik atau arus listriknya dibuat sekecil mungkin
sehingga tidak berpengaruh terhadap potensialnya. Potensial dapat diukur sesudah
penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-berturut.
1.2 Tujuan Percobaan
Mengukur konstanta ionisasi dua asam dengan menggunakan teknik titrasi
potentiometrik.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

MSDS Bahan

2.1.1 Air (H2O)


Air berwujud cairan tak berwana pada suhu kamar. Berat molekul sebesar 18,02
g/mol dengan spesifik pH 7 (netral) dan titik didih 100C. Tekanan uap sebesar 2,3 kPa
pada 20C dengan massa jenis uap 0,62. Air tidak korosif dan tidak menyebabkan iritasi
pada kulit. Tidak menyebabkan iritasi dan korosif pada mata. Tidak berbahaya jika
dikonsumsi. Tidak berbahaya jika terhirup dan tidak korosif dan iritasi pada paru-paru
(Anonim, 2014).
2.1.2 Asam Fosfat (H3PO4)
Asam fosfat memiliki rumus molekul H3PO4 dengan berat molekul 97,97 g mol-1,
titik leleh 42,4C dan titik didih 407C. Berbentuk cair atau kristal tergantung pada suhu dan
konsentrasinya, tidak bewarna dan merupakan asam kuat. H3PO4 merupakan suatu oksidator

yang mudah sekali untuk mengoksidasi senyawa lain. Kontak kulit bisa menyebabkan luka
bakar dan radang kulit yang ditandai dengan gatal, kemerahan. Uap dari senyawa ini bisa
menghasilkan kerusakan jaringan terutama pada selaput lendir mata, mulut dan saluran
pernapasan. Penghirupan uap dapat menghasilkan iritasi parah dari saluran pernapasan,
yang ditandai dengan batuk. Tindakan pertolongan pertama jika terjadi kontak: 1) kontak
mata: periksa dan lepaskan jika ada lensa kontak. Segera siram mata dengan air dalam
jumlah banyak sekurang-kurangnya 15 menit. Segera hubungi dokter. 2) Kontak Kulit:
Cuci dengan sabun dan air. Tutup kulit yang teriritasi dengan bahan yang lembut.
Dapatkan bantuan medis jika iritasi berkembang. 3) Penghirupan: Jika terhirup, segera
hirup udara segar. Jika tidak bernapas, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas,
berikan oksigen. Dapatkan bantuan medis segera. 4) Tertelan: jangan diusahakan untuk
muntah kecuali bila diarahkan berbuat demikian oleh tenaga medis. Jangan pernah
memberikan apapun melalui mulut seseorang yang tidak sadar. Longgarkan pakaian yang
ketat seperti kerah, dasi, ikat pinggang (Anonim, 2014).
2.1.3 Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan massa molar yang dimilikinya
yaitu sebesar 39,9971 g/mol , titik leleh dan titik didihnya berturut-turut sebesar 3180C
(591 K) dan 13900C (1663 K). Selain itu kelarutannya dalam air sebesar 111 g/100ml
dalam suhu 200C. Bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari
udara bebas. Sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Natrium

Hidroksida juga larut dalam etanol dan metanol. Tidak larut dalam dietil eter dan pelarut
non-polar lainnya. Menyebabkan iritasi saluran pernapasan dengan kemungkinan luka
bakar. Terkena mata dapat menyebabkan mata terbakar. Terkena kulit menyebabkan kulit
terbakar. Tertelan dapat menyebabkan kerusakan parah dan permanen pada saluran
pencernaan berupa perforasi dari saluran pencernaan yaitru sakit parah, mual, muntah,
diare. Terhirup dapat menyebabkan pneumonitis kimia dan edema paru berupa iritasi
saluran pernapasan bagian atas dengan batuk, luka bakar, kesulitan bernapas, dan koma.
Tindakan pertolongan pertama apabila terjadi kontak dengan mata yaitu siram mata segera
dengan banyak air selama minimal 15 menit. Apabila terjadi kontak dengan kulit segera
basuh kulit dengan banyak air sekurang-kurangnya 15 menit saat mengeluarkan pakaian
dan sepatu yang terkontaminasi. Apabila tertelan, jangan dimuntahkan, segera berikan
bantuan medis. Apabila terhirup, segera hirup udara segar. Jika tidak bernapas, berikan
pernapasan buatan (Anonim, 2014).
2.2

Konstanta Ionisasi atau Konstanta Disosiasi asam


Konstanta disosiasi asam (Ka) adalah tetapan kesetimbangan untuk reaksi

pemindahan proton dari suatu asam ke air sehingga menghasilkan H3O+. Asam monoprotik
merupakan asam yang hanya dapat menghasilkan satu proton per molekul asam. Tetapi
pada kenyataannya terdapat asam yang dapat melepaskan lebih dari satu proton. Asam
yang dapat melepaskan dua proton dinamakan sebagai asam diprotik sedangkan yang dapat
melepasakan lebih dari dua proton dinamakan asam poliprotik. Karena dapat menghasilkan
lebih dari satu proton, pendekatan yang dilakukan untuk asam poliprotik jauh lebih rumit
daripada asam monoprotik (Bird, 1993).
Titrasi larutan asam fosfat memiliki tiga titik netralisasi sesuai denga proses
netralisasi ketiga proton pada titik netralisasi pertama dapat dideteksi dengan
menggunakan indikator metil merah dan titik netralisasi kedua dapat dideteksi dengan
menggunakan indikator fenolftalein sedangkan titik netralisai keetiga tidak dapat terdeteksi
karena ionisasi ion hidrogen ketiga sangat lemah. Konstanta disosiasi berkolerasi dengan
derajat disosiasi. Derajat disosiasi bergantung dengan konsentrasi sehingga derajat ionisasi
ini tidak bisa dijadikan untuk menyatakan kekuatan asam atau basa itu tanpa menyatakan
kondisi-kondisi saat pengukuran (Svehla, 1990).
Nilai pH pada setengah titik ekivalen dihubungkan dengan pK pada titrasi suatu
asam monoprotik. Untuk beberapa asam-basa Bronsted, HA dan A- (muatan diabaikan):

][
[

]
]

jadi pada titik setengah ekivalen, bila molaritas [A-] sama dengan [HA], [H+] sama dengan
K. Persamaan ini disebut Persamaan Henderson-Hasselbach. Dengan mengambil negatif
log (-log) dari persamaan di atas dan penyusunan kembali menghasilkan:
[
[

]
]

jadi, bila [A-] sama dengan [HA], pH larutan sepadan dengan pK dari spesi HA. Untuk
asam dengan suatu hidrogen yang dapat terionisasi tunggal, spesi HA dan A mempunyai
konsentrasi sama pada separuh volume ekivalen dan pH pada posisi ini seharusnya
merupakan perkiraan yang baik dari pK (Tim Penyusun, 2014).
Nilai pK asam poliprotik berturut-turut berbeda tajam (5 satuan atau lebih),
Berbagai kelas proton yang dititrasi secara terpisah dan ide di atas berlaku hampir
sama. yaitu, pH pada setengah volume ekivalen merupakan perkiraan baik untuk pK 1,
pH pada tiga perdua dari ekivalen pertama merupakan perkiraan baik untuk pK 2 dan
seterusnya. Nilai pK untuk asam poliprotik tidak cukup baik dipisahkan untuk alasan di
atas, karena lebih dari satu reaksi kesetimbangan harus dianggap pada setiap titik
selama titrasi; yaitu akan ada beberapa pasang asam-basa bronsted pada konsentrasi
yang sesuai secara kentara serempak. Akan tetapi, ide di atas masih mempertahankan
keabsahan beberapa titik dalam titrasi dimana satu pasangan konjugat mendominasi
(Tim Penyusun, 2014).
2.3

Titrasi Potensiometri
Metode potensiometri didasarkan atas pengukuran selisih atau beda potensial antara

dua buah elektroda yang tercelup dalam larutan. Proses titrasi potensiometri dapat
dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai.
Selisih potensial antara kedua elektroda diamati selama titrasi (Khopkar, 2003).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur setelah penambahan sejumlah
kecil volume titran secara berturut-turut atau secara terus-menerus dengan perangkat
automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang
digunakan dalam titrasi potensiometri bergantung pada macam reaksi yang sedang
diselidiki, untuk titrasi suatu asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda
hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen (Day dan Underwood,
1986).

Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume
saat perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Titrasi secara manual
dilakukan dengan mengukur potensial setelah penambahan titran secara berurutan, dan
hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volume titran untuk
diperoleh suatu kurva titrasi. Potensiometer sederhana dapat digunakan dalam banyak hal,
namun jika tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus. pH meter
ini dapat dipergunakan untuk semua jenis titrasi (Basset, 1994).
Nilai pH didapatkan dari pengukuran potensial elektrokimia yang terjadi antara
larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui dengan larutan yang
terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari
gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan
aktif. Elektroda gelas tersebut akan mengukur potensial elektrokimia dari ion hidrogen.
Untuk melengkapi sirkuit elektrik dibutuhkan suatu elektroda pembanding. Potensial
antara sampel yang tidak diketahui dengan elektroda gelas dapat berubah tergantung
sampelnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan kalibrasi dengan menggunakan larutan yang
ekuivalen yang lainnya untuk menetapkan nilai pH (Basset, 1994).
2.4

Software LabVIEW
LabVIEW adalah sebuah software pemograman yang diproduksi oleh National

istruments dengan konsep yang berbeda. Seperti bahasa pemograman lainnya yaitu C++,
matlab, atau Visual basic, labVIEW juga mempenyai fungsi dan peranan yang sama,
perbedaannya bahwa labVIEW menggunakan bahasa pemrograman berbasis grafis atau
blok diagram sementara bahasa pemrograman lainnya menggunakan basis text. Program
labVIEW dikenal dengan sebutan Vi atau Virtual instrumen karena penampilan dan
operasinya dan meniru sebuah instrument. Pada labVIEW, user pertama-tama membuat
user interface atau front panel dengan menggunakan control dan indikator, yang dimaksud
dengan kontrol adalah knobs, push buttons, dials dan peralatan input lainnya sedangkan
yang dimaksud dengan indikator adalah graphs, LEDs dan peralatan display lainnya.
Setelah menyusun user interface, lalu user menyusun blok diagram yang berisi kode-kode
VIs untuk mengontrol front panel (Anonim, 2014).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1

Alat dan Bahan

3.1. 1 Alat
-

Labu ukur 100 mL

Neraca analitik

pH meter

Pipet volume

Elektroda

Gelas ukur

3.1. 2 Bahan

3.2

Asam asetat

Aquades

Asam fosfat

NaOH

Skema Kerja

3.2.1 pK suatu asam X


20 mL Asam asatet
-

dilarutkan dalam 100 mL air dalam labu ukur 100 mL

diambil 25 mL dan diletakkan dalam beaker gelas

dicelupkan pH meter

dititrasi dengan NaOH saat software labVIEW telah


disiapkan

dialurkan data sebagai pH lawan volume NaOH dan


ditetapkan volume kesetaraan

ditentukan titik ekivalen titrasi

ditentukan pH saat volume NaOH adalah setengah dari


volume titik ekivalen

Hasil

ditentukan nilai pKa dimana pH = pKa

3.2.2 Titrasi Asam Fosfat


Asam Fosfat
-

dipipet sebanyak 25 mL ke dalam gelas ukur

diencerkan hingga 100 mL

dicelupkan pH meter

dititrasi dengan larutan NaOH saat software labVIEW


telah disiapkan

ditentukan titik ekivalen pertama (sekitar pH 4-5) dan


titik ekivalen kedua (sekitar pH 9-10)

Hasil

dialurkan data sebagai pH lawan volume NaOH

ditentukan molaritas, nilai pKa1 dan pKa2

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Asam Fosfat
Percobaan

Volume (mL)

pH

Ka1

Ka2

31,8570

11,0

1,86 x 10-3

3,18 x 10-7

56,1335

12,2

3,81 x 10-3

9,14 x 10-8

4.1.2 Asam Asetat


Percobaan

Volume (mL)

pH

Ka

17,9481

12,1

1,31 x 10-5

14,8439

12,0

1,29 x 10-5

18,7335

11,6

1,19 x 10-5

4.2 Pembahasan
Percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan konstanta ionisasi dua asam dengan
menggunakan teknik titrasi potensiometrik yang dikontrol dengan komputer. Titrasi
dilakukan dengan basa kuat, yaitu natrium hidroksida (NaOH). Percobaan ini dapat
menentukan titik akhir titrasi dan titik ekivalen dengan dipantau melalui komputer. Jadi,
titik ekivalen dapat ditentukan berdasarkan grafik yang tampak dari hasil pengukuran,
dengan menggunakan data tersebut praktikan dapat mengetahui nilai pKa yang nantinya
dapat digunakan untuk mengetahui nilai Ka. Konstanta ionisasi merupakan suatu angka
yang menunjukkan seberapa banyak zat yang terurai menjadi ion-ionnya. Konstanta
ionisasi hanya dimiliki oleh senyawa-senyawa yang dapat terurai menjadi ion-ionnya baik
itu lemah maupun kuat. Konstanta ionisasi ini lebih sering dikenal dalam pembahasan
asam dan basa. Namun dalam percobaan kali ini hanya dilakukan penentuan konstanta
ionisasi untuk asam. Ada tiga teori yang menjelaskan tentang asam basa. Teori-teori
tersebut antara lain yaitu Arhenius, Lewis dan Brownsted-Lowry. Menurut Arhenius, asam
dapat didefinisikan sebagai senyawa hidrogen yang bila dilarutkan dalam air mengalami
disosiasi elektrolit dan menghasilkan ion H+ sedangkan basa adalah senyawa yang larut dan
mengion dalam air menghasilkan ion hidroksida (OH-). Menurut Lewis, asam merupakan
zat yang dapat menerima pasangan elektron sedangkan basa adalah zat yang dapat
mendonorkan pasangan elektron. Menurut Brownsted-Lowry, asam adalah zat yang
menghasilkan dan mendonorkan proton pada zat lain sedangkan basa adalah zat yang dapat
menerima proton dari zat lain.

Titrasi merupakan cara yang mudah dan sederhana untuk mengetahui konsentrasi
dari analit. Informasi yang dapat diperoleh dari metode titrasi ini adalah titik ekivalen dan
titik akhir titrasi. Titik ekivalen merupakan titik dimana volume (jumlah mol) larutan
standart yang ditambahkan tepat sama dengan yang diperlukan untuk bereaksi sempurna
dengan larutan analit. Sedangkan titik akhir titrasi adalah volume larutan standart yang
teramati yang diperlukan dalam suatu titrasi. Titik akhir diambil pada titik dengan slope
(kemiringan maksimum). Kenaikan slope akan sampai pada titik akhir dan akan menurun
setelah titik akhir tercapai.
Berdasarkan jumlah proton yang dihasilkan, asam terbagi menjadi dua jenis yaitu
asam monoprotik dan asam poliprotik. Asam monoprotik merupakan asam yang
menghasilkan satu proton saja yaitu asam asetat (CH3COOH). Sedangkan asam poliprotik
merupakan asam yang dapat menghasilkan lebih dari satu proton yaitu asam fosfat
(H3PO4).
Reaksi disosiasi yakni reaksi ketika elektrolit larut dalam air dan terdisosiasi atau
terurai menjadi ion-ionnya disebut dengan konstanta disosiasi elektrolit. Reaksi ini
merupakan reaksi reversibel. Reaksi disosiasi untuk asam asetat adalah sebagai berikut:
CH3COOH (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + CH3COO- (aq)
Berdasarkan reaksi di atas, konstanta disosiasi elektrolit asam asetat dapat dituliskan di
bawah ini:
[

][
[

]
]

Karena asam asetat merupakan asam monoprotik maka ionisasi asam asetat hanya
menghasilkan satu proton saja dalam hal ini yaitu ion H+ yang di dalam air akan
membentuk ion H3O+. Akibatnya asam asetat hanya memiliki satu nilai Ka. Menurut
literatur nilai Ka asam asetat adalah 1,8 10-5, namun pada data yang diperoleh nilai Ka
sebesar 1,31 10-5. Reaksi yang berlangsung pada titrasi yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(aq) + H2O(aq)
Asam fosfat merupakan asam poliprotik dimana asam fosfat ini dapat menghasilkan
tiga proton. Akibatnya asam fosfat akan memiliki tiga nilai Ka. Reaksi penguraian asam
fosfat dan rumus tetapan kesetimbangannya adalah sebagai berikut:
Penguraian asam fosfat pertama:
H3PO4 (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + H2PO4- (aq)

][
[

]
]

Penguraian asam fosfat kedua:


H2PO4- (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + HPO42- (aq)
[

][
[

]
]

Penguraian asam fosfat yang ketiga:


HPO42- (aq) + H2O (l) H3O+ (aq) + PO43- (aq)
[

][
[

]
]

Tiga nilai Ka asam fosfat memiliki korelasi dimana nilai Ka3 selalu lebih kecil dari Ka2
dan Ka2 selalu lebih kecil dari Ka1. Secara singkat dapat dituliskan bahwa
Hal ini terjadi karena muatan negatif yang tertinggal akibat hilangnya ion hidrogen
dalam ionisasi pertama menyebabkan ion hidrogen kedua terikat lebih kuat dan seterusnya.
Reaksi yang berlangsung pada titrasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
H3PO4 (aq) + 3NaOH(aq) Na3PO4 (aq) + 3H2O(aq)
Perhitungan nilai pKa didapatkan dengan mengalikan pH ekuivalen yang didapat dari
grafik dengan . Selanjutnya, angka yang didapatkan di log kan untuk mendapatkan nilai
Ka. Kekuatan asam didefinisikan oleh konstanta disosiasi asamnya. Semakin besar
konstanta disosiasi asamnya atau semakin kecil pKa-nya semakin kuat asam tersebut.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
a. Penentuan konstanta disosiasi asam baik yang monoprotik maupun asam poliprotik
dapat dilakukan dengan menggunakan metode titrasi potensiometri.
b. Nilai Ka yang diperoleh dari asam asetat dan asam fosfat hampir mendekati literatur,
yang mana hasilnya yaitu asam asetat sebesar 1,31 10-5, 1,29 10-5, 1,19 10-5 dan
untuk asam fosfat Ka1 sebesar 1,86 10-3 dan 3,81 10-3.
5.2 Saran
a. Sebaiknya diperiksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan agar mendapatkan hasil
yang maksimal.
b. Sebaiknya ditingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang
optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Asam Fosfat. http://www.sciencelab.com [diakses pada tanggal 20


september 2014].
Anonim. 2014. Akuades. http://www.sciencelab.com [diakses pada tanggal 20 september
2014].
Anonim. 2014. NaOH. http://www.sciencelab.com [diakses pada tanggal 20 september
2014].
Anonim. 2014. LabVIEW. http://rakhman.net/2012/08/labview-software.html [diakses
pada tanggal 20 september 2014].
Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi
Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: Gramedia.
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Svehla, G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Edisi II.
Jakarta: Kalman Media Pustaka.
Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Jember: FMIPA UNEJ.
Underwood. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

LAMPIRAN
1.

Asam asetat

volume ekivalen= 10 = 5
pH= 4.882
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 4.882
Ka = 1.31 x 10-5

volume ekivalen= 10 = 5
pH= 4.887
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]

pH= - log Ka-log 1


pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 4.887
Ka = 1.29 x 10-5

volume ekivalen= 10 = 5
pH= 4.921
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 4.921
Ka = 1.19 x 10-5

1. volume ekivalen= 6 = 3
pH= 2.729
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 2.729
Ka1 = 1.86 x 10-3
2.

volume ekivalen= 20 = 10
pH= 6.497
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 6.497
Ka2 = 3.18 x 10-7

1. volume ekivalen= 16 = 8
pH= 2.419
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 2.419
Ka1 = 3.81 x 10-3
3.

volume ekivalen= 45 = 22.5


pH= 7.039
pH= - log [Ka(mol asam/mol garam)]
pH= - log Ka-log 1
pH= -log Ka
pH=Pka
PKa = 7.039
Ka1 = 9.14 x 10-8