Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH RAPAT

STRATEGI PEMASARAN BIOSOLAR

Disusun Oleh :
Melly Agustia Fortienawati 061140411504
Moch Fariz Dimiyati 061140411505
Nova Rachmadona 061140411508
Nyayu Aisyah 061140411509
Olwan Putera Nanda 061140411510

JURUSAN TEKNIK KIMIA PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2014

BAB I
PENDAHULUAN

Rapat merupakan salah satu komponen penting dalam sebuah


organisasi atau dalam suatu kelompok tertentu. Berbagai keputusan yang
menyangkut keberlangsungan organisasi akan dibahaskan dan diputsukan
dalam rapat.Rapat merupakan bentuk kegiatan yang banyak dapat
menyelesaikan masalah-masalah organisasi. Kesalahpahaman, perbedaan
pendapat, penyamaan ide dapat diselesaikan melalui rapat. Rapat adalah
pertemuan untuk merundingkan sesuatu.
Mengingat

pentingnya

rapat

bagi

keberlangsungan

sebuah

organisasi, maka suatu organisasi harus selalu memasukkan rapat ke dalam


agenda organisasi. Berbagai jenis rapat pun harus diperhatikan. Jenis rapat
tertentut akan digunakan untuk membahas masalah tertentu pula. Jenis
rapat mencerminkan tujuan dari diadakannya rapat itu sendiri.
Untuk mencapai hasil maksimal, maka syarat-syarat untuk
terlaksananya rapat yang baik pun harus diperhatikan. Selain itu,
bagaimana tata cara pelaksanaan rapat juga harus diatur, kemudian tipe
pemimpin dalam suatu rapat juga sangat menentukan arah berjalannya
suatu rapat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Rapat
Dibawah ini ada beberapa pengertian rapat dari beberapa sumber,
namun pada dasarnya memiliki makna yang sama, antara lain :
1.

Rapat adalah pertemuan atau. Kumpulan dalam suatu organisasi,


perusahaan, instansi pemerintah baik dalam situasi formal maupun
nonformal untuk membicarakan, merundingkan dan memutuskan suatu
masalah berdasarkan hasil kesepakatan bersama

2.

Rapat(pengertian luas) rapat dapat menjadi sebuah permusyawaratan,


yang melibatkan banyak peserta dan membahas banyak permasalahan
penting.

3.

Rapat (pengertian sempit) rapat dapat berupa diskusi yang hanya


melibatkan beberapa peserta dengan pembahasan yang lebih sederhana.
Dalam Sub bab ini hal-hal yang berkaitan dengan permusyawaratan
tidak lagi diuraikan, dan lebih kepada rapat dalam pengertian
umum/sederhana secara teknis.

4.

Rapat, merupakan suatu bentuk media komunikasi kelompok resmi


yang bersifat tatap muka, yang sering diselenggarakan oleh banyak
organisasi, baik swasta maupun pemerintah.

5.

Rapat

merupakan

alat

untuk

mendapatkan

mufakat,

melalui

musyawarah kelompok.
6.

Rapat merupakan media yang dapat dipakai unttuk pengambilan


keputusan secara musyawarah untuk mufakat

B. Tujuan Rapat
Tujuan rapat adalah:
1. Untuk memecahkan atau mancari jalan keluar suatu masalah
2. Untuk menyampaikan informasi
3. Sebagai sarana koordinasi
4.

Agar peserta dapat ikut berpartisipasi kepada masalah-masalah yang

sedang dikemukakan

C. Jenis-Jenis Rapat
Dalam setiap kegiatan rapat tentu mempunyai tujuan rapat dan jenis
rapat yang berbeda. Rapat terdiri atas beberapa jenis, tergantung cara
pandangnya atau segi peninjauannya :

1. Berdasarkan Jenis
Menurut jenisnya, rapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a)

Rapat Resmi. Yaitu rapat yang diselengggarakan untuk membahas

masalah yang sangat penting. Peserta rapat sebelumnya mendapat


pemberitahuan terlebih dahulu melalui surat undangan.
b)

Rapat tidak resmi.Yaitu rapat yang diselenggarakan oleh pemimpin

dengan stafnya serta diadakan di ruang kantor pipmpinan atau ruang rapat
untuk membahas masalah yang mendesak atau terjadi tiba-tiba. Pada rapat ini
biasanya terjadi diskusi dan tukar pendapat atau informasi untuk
mengakrabkan pimpinan dengan stafnya.

2. Berdasarkan Hasil
Menurut hasilnya, rapat dibagi menjadi dua macam:
a) Rapat Mengikat. Bentukya adalah sebagai berikut:

Kongres, musyawarah, muktamar, konferensi. Adalah suatu rapat yang


diadakan oleh orang-orang tertentu untuk memutuskan sesuatu yang
hasilnya mengikat peserta rapat.

Rapat musyawarah kerja, konferensi kerja. Adalah suatu rapat yang


diadakan oleh suatu organisasi untuk membicarakan masalah-masalah
program kerja yang sudah dilaksanakan dan menentukan langkah lanjutan.

Perundingan. Adalah suatu rapat yang membicarakan secara mendalam.

b) Rapat tidak mengikat. Bentuknya adalah sebagai berikut:

Debat, yaitu diskusi yang dilakukan secara mendetail tentang suatu


masalah.

Polemik, yaitu diskusi yang dilakukan tentang hal bertentangan dan


biasanya dilakukan secara tertulis.

Diskusi Panel, yaitu suatu diskusi yang dilakukan oleh beberapa orang dan
diikuti oleh sejumlah massa.

Simposuium, hampir sama dengan diskusi panel, hanya jangkauannya


lebih luas.

Temu Karya, yaitu forum tukar pengalaman tentang hal-hal yang bersifat
teknis.

Seminar, yaitu suatu diskusi yang membicarakan suatu masalah secara


alamiah dan didampingi ahli.

Loka Karya, yaitu suatu diskusi yang diadakan oleh sejumlah orang yang
memiliki keahlian teretntu (bergerak di bidang tertentu) dengan maksud
dan tujuan untuk menyempurnakan konsep/sistem yang ada.

Sarasehan, yaitu suatu forum terbuka untuk menyampaikan perasaan /


unek-unek.

Temu Wicara, yaitu forum tempat menyalurkan ide-ide, unek-unek, atau


usul, biasanya dilakukan dengan pejabat.

Penataran,

yaitu

kegiatan

pendidikan

dalam

rangka

menyempurnakan/meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Penataran Loka Karya (Penlok), yaitu kegiatan pendidikan dalam rangka


meningkatkan pengetahuan sambil menyempurnakan konsep pengetahuan
yang bersifat teknis.

3. Berdasarkan Tujuan
a) Rapat Penjelasan ( Teaching Conference ). Adalah rapat yang bertujuan
untuk memberikan penjelasan kepada anggota tentang kebijaksanaan yang
diambil oleh pimpinan organisasi tentang prosedur kerja baru, untuk
mendapatkan kesenangan kerja.
b) Rapat Pemecahan Masalah ( Problem Sulfing Conference ). Adalah
rapat yang bertujuan untuk mrncari pemecahan masalah tentang suatu
masalah yang sedang di hadapi.
c) Rapat Perundingan ( Negotiation Conference ). Adalah rapat yang
menghindari timbulnya suatu perselisihan. Mencari jalan tengah agar tidak
selalu merugikan kedua belah pihak.

4. Berdasarkan Sifat
a) Rapat formal. Adalah rapat yang diadakan dengan suatu perencanaan
terlebih dahulu. Menurut ketentuan yang berlaku dengan persetujuan
secara resmi mendapat undangan.
b) Rapat informal. Adalah rapat yang diadakan tidak berdasarkan suatu
perencanaan formal. Rapat terjadi setiap saat, kapan saja, di mana saja, dan
dengan siapa saja. Rapat informal dapat terjadi scr kebetulan karena para
pesertanya bertemu dan membicarakan suatu masalah yang menyangkut
kepentingan bersama.
c) Rapat terbuka. Adalah rapat yang dapat di hadiri oleh setiap anggota
menteri yang dibahas bukan masalah yang bersifat rahasia.
d) Rapat tertutup. Adalah rapat yang di hadiri oleh peserta khusus atau
tertentu, yang dibahas menyangkut masalah-masalah yang bersifat rahasia.

5.

Berdasarkan Jangka Waktu

a)

Rapat mingguan. Adalah rapat yang diadakan sekali dalam seminggu,


yang membahas masalah-masalah rutin yang di hadapi oleh masingmasing peserta rapat.

b)

Rapat bulanan. Adalah rapat yang diadakan sebulan sekali, tiap akhir
bulan. Untuk membahas hal-hal/ peristiwa pada bulan yang lalu.

c)

Rapat semester. Adalah rapat yang diadakan tiap semester, yang


bertujuan untuk mengadakan evaluasi hasil kerja selama 6 bulan yang
lalu dan mengambil langkah selanjutnya dalam jangka waktu 6 bulan
berikutnya.

d)

Rapat tahunan. Adalah rapat yang diadakan sekali dalam setahun


(maksudnya rapat pemegang saham).

6.

Berdasarkan Frekuensi

a)

Rapat rutin. Adalah rapatyang telah ditentukan waktunya (mingguan,


bulanan, tahunan).

b)

Rapat insidental. Adalah rapat yang tidak berdasrkan jadwal, tergantung


pada masalah yang di hadapi.Biasanya rapat ini diadakan apabila ada
masalah yang sangat ungeril yang harus segera dipecahkan bersama.

7.

Berdasarkan Nama

a)

Rapat kerja. Adalah rapat yang membicarakan keseluruhan unit kerja


dan rapat ini biasnya di adakan satu tahun sekali.

b)

Rapat

dinas.

Adalah rapat

yang diadakan untuk

kepentingan

pembicaraan urusan kantor sehari-hari yang menyangkut kedinasan.


c)

Musyawarah kerja.

D.

Rapat yang Baik


Agar tujuan rapat sesuai dengan yang diharapkan, ada beberapa hal yang

perlu diperhatikan dalam rapat. Rapat dikatakan baik apabila memenuhi


persyaratan sebagai berikut :

1. Dipimpin oleh seorang pimpinan yang baik


Pimpinan yang baik adalah : seorang yang aktif, berwawasan luas,
cakap, dapat memberikan bimbingan dan pengarahan pada saat rapat
berlangsung. Dapat berbicara dengan jelas, bersikap tegas, tidak
mendominasi pembicaraan, tidak otoriter, memberikan kesempatan yang
sama pada setiap anggota untuk memberikan suaranya. Check list berikut
dapat membantu seorang pimpinan rapat/ pertemuan :

Menjelaskan sasaran dan tujuan?

Menetapkan prioritas

Mendorong proses pembuatan keputusan

Mengarahkan

orang-orang

pada

kemampuan

terbaik

mereka

=>

berkomunikasi dengan baik dg peserta, melempar pertanyaan-pertanyaan,


mendorong peserta membuat asumsi, mendengar, menjelaskan persoalan,
memotivasi pertemuan untuk mencapai tujuan utama rapat/ pertemuan,
menangkap agenda-agenda pribadi yang tersembunyi dari para peserta,
dan mengendalikannya

Merangsang hal-hal terbaik dari peserta

Mengatur waktu dengan baik

Menyimpulkan dengan dibantu oleh seorang Notulis [lihat tentang notulis]

2. Suasana rapat terbuka


Artinya tidak ada hal-hal yang disembunyikan. Tiap anggota rapat
berbicara secara terbuka, obyektif sehingga tidak menimbulkan prasangka
yang negatif terhadap peserta rapat yang lain.

3. Tiap peserta rapat berpartisipasi aktif dan hindari terjadinya


monopoli pembicaraan

4. Selalu mendapat bimbingan dan pengawasan


Pimpinan rapat berfungsi sebagai pemberi bimbingan, pengarahan,
kemudahan terhadap para peserta rapat. Pemimpin harus mampu mengadakan

pengawasan terhadap jalannya rapat, pengawasan terhadap para peserta rapat,


baik secara kelompok, maupun secara individu, agar pembicaraan tidak
menyimpang dari tujuan rapat.

5. Hindari perdebatan
Suatu rapat tidak efektif apabila terjadi debat yang berkepanjangan tanpa
arah, sehingga menghabiskan waktu dan tujuan rapat tidak tercapai.

6. Pertanyaan singkat dan jelas

E. Rapat yang Efektif


Pemimpin rapat dapat menciptakan rapat yang lebih efektif dengan
menggunakan cara-cara praktis yang telah mendapat rekomendasi dari para top
manajer, pakar bisnis, dan buku-buku yang membahas ini. Cara ini bahkan bisa
langsung diterapkan untuk mendapatkan solusi yang lebih cepat dan lebih
efektif.

1. Agenda Rapat
Tidak mungkin terjadi suatu rapat yang efektif, jika rapat dilakukan
tanpa agenda yang jelas. Buat suatu agenda yang jelas dan mampu
menghasilkan solusi yang tepat. Bukan hanya sketsa, tetapi juga deskripsi dari
apa yang akan dibicarakan. Sehingga mereka tahu hasil apa yang ingin didapat.
Peserta yang melakukan presentasi harus menyiapkan semua bahan
dengan lengkap agar dapat menyelesaikan presentasinya sesuai waktu yang
telah ditentukan. Agar lebih jelas, berikan lembaran agenda pada setiap peserta
rapat. Tentu saja agenda yang ditulis secara detail, bukan hanya berisi tema,
karena hal ini sangat rentan melenceng.
Agenda rapat sebaikanya hanya berisi permasalahan yang memang
tengah dialami saja. Sebab kebanyakan rapat, bukan hanya membahas hal yang
bermasalah, bahkan yang tidak bermasalah juga dibicarakan. Sehingga, orang
yang tidak bermasalah pun terpaksa harus bebicara di dalam rapat.

2.

Komunikasi
Komunikasikan agenda rapat dengan cara membaginya terlebih dahulu.

Sehingga peserta rapat dapat mempersiapkan materi tentang topik yang akan
dibahas di dalam rapat.

3.

Jadwal Rapat
Jadwal yang baku akan membantu para manajer mendapat laporan secara

tepat waktu dan mendisplinkan para karyawan untuk menghadiri rapat.

4.

Perhatikan Situasi
Beberapa manajer mampu membuat rapat menjadi efektif dan efisien,

tetapi juga ada manajer yang memaksakan keputusannya pada peserta rapat
agar rapat bisa cepat selesai. Rapat yang efektif bukan dilihat dari waktu
pelaksanaan yang singkat, tetapi bagaimana kita mempu mempertemukan
pendapat yang berbeda dengan situasi yang nyaman dan kondusif.

5.

Pengambilan Suara
Pengambilan suara merupakan cara tersingkat untuk mendapatkan

keputusan. Pengambilan suara dapat diambil bila diskusi yang terjadi tidak
memperlihatkan gambaran keputusan yang terang dan tidak ada mayoritas
mutlak. Sebelum melakukan proses pengambilan keputusan, voting akan lebih
mempercepat pengambilan keputusan, sehingga mereka harus siap menerima
apapun keputusannya.

6.

Batasi Masalah Diskusi


Para pakar menyarankan untuk membahas permasalahan

berbeda di

rapat yang berbeda pula. Saat membuka rapat, jelaskan bahwa mereka hanya
akan membahas permasalahan tertentu. Topik yang memerlukan diskusi,
dilakukan pada rapat yang khusus mendiskusikan masalah tersebut.
Untuk mendapat keputusan, maka diperlukan rapat khusus pengambilan
suara. Pembatasan ini memberikan anggotanya untuk lebih siap dalam mencari

solusi dan menetapkan pilihan di luar rapat, sehingga hasil yang didapat pun
memuaskan. Dan rapat pun telah berjalan secara efektif dan efisien.

F. Perencanaan Rapat
Perencanaan rapat memegang peranan yang sangat penting dalam
menentukan produktifitas rapat. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam
merencanakan rapat (yang sifatnya resmi) adalah sebagai berikut:
1. Persiapan ruangan dan tata ruang rapat
Persiapkan tata ruang rapat berdasarkan pertimbangan:

Jumlah partisipan

Hubungan masing-masing partisipan

Level keintiman

Jenis rapat (diskusi, pesentasi, kuliah)

Apakah kita ingin meningkatkan atau memperkecil interaksi

2. Persiapan administrasi
a) Membuat surat undangan rapat
b) Menyusun acara/agenda rapat
c) Menyusun daftar hadir
d) Mempersiapkan bahan rapat
e) Persiapan peralatan rapat
f) Membuat catatan hasil rapat / notulis
g) Pengiriman hasil rapat
h) Tindak lanjut rapat

G. Tata Cara Pelaksanaan Rapat


1.

Pembukaan
Pembukaan yang dilakukan oleh pimpinan tertinggi perusahaan [dewan
komisaris] atau pejabat, yang menyatakan bahwa rapat resmi dibuka.
Pimpinan tertinggi/ pejabat hanya memberikan pengarahan seperlunya,
dan hal-hal yang dianggap penting sebagai pedoman lebih lanjut bagi

peserta rapat. Pimpinan tertinggi/ pejabat tidak terlibat dalam rapat yang
akan berlangsung.
Pembukaan yang dilakukan oleh pimpinan rapat, yang menyatakan parat
siap dimulai, umumnya diawali dengan berdoa. Pimpinan mengikuti
rapat sampai dengan selesai.
2.

Pembagian Tugas
Peserta rapat dibagi dalam beberapa kelompok, sesuai dengan topik yang
dibahas. Masalah yang dibawa dalam rapat bisa dibagi dalam beberapa
topik

3.

Diskusi/ rapat kelompok

4.

Rapat pleno
Dalam

rapat

pleno,

setiap

kelompok

menyampaikan

hasil

pembahasannya menurut topik yang dibahas. Kelompok lain mungkin


memberikan ulasan, pandangan, masukan, dll.
5.

Perumusan
Biasanya diserahkan kepada suatu tim tersendiri, yang dinamakan tim
perumus.

6.

Reproduksi dan pendistribusian naskah


Hasil perumusan diserahkan kepada ketua atau pemimpin rapat untuk
disahkan. Naskah yang telah disetujui/ disahkan kemudian diperbanyak
untuk selanjutnya dibagikan kepada para peserta rapat, dan unit-unit
kerja dalam organisasi yang ada hubungannya dengan hasil rapat.

H. Tipe-Tipe Pemimpin Rapat


1.

Tipe Otoriter

Sifat kepemimpinan yang demikian mengakibatkan rapat/ pertemuan tidak


hidup, statis, hanya menunggu perintah dari atas.

Pimpinan menganggap dirinya sebagai orang yang paling berkuasa,


paling mengetahui

Pimpinan menentukan segala kegiatan kelompok secara otoriter

Pimpinan yang menentukan, apakah yang akan dilakukan oleh kelompok

Para peserta rapat tidak diberi kesempatan untuk memberikan pandangan


atau pendapat atau saran-saran

Pemimpin tidak terlibat dalam interaksi kelompok peserta

Pemimpin hanya memberikan instruksi-instruksi mengenai apa yang


harus dikerjakan.

2. Tipe Laissez-faire

Disebut juga tipe liberal

Pemimpin memberikan cukup kebebasan kepada para peserta untuk


mengambil langkah-langkah sendiri dalam menghadapi sesuatu.

Pemimpin menyerahkan segala sesuatunya kepada para peserta


[penentuan tujuan, langkah-langkah, kegiatan-kegiatan yang akan
diambil, serta sarana atau alat yang akan dipergunakan]

Pemimpin bersifat pasif, tidak ikut terlibat langsung dalam kegiatan


kelompok, tidak mengambil inisiatif apapun

Pemimpin seolah-olah hanya bertindak sebagai penonton saja, meskipun


ia berada di tengah-tengah para peserta.

3. Tipe Demokratis
Tipe kepemimpinan demokratis sering dibedakan dengan dengan tipe
open management. Perbedaannya terletak pada pengambilan keputusan.

Sifatnya terbuka ; memberikan kesempatan kepada para anggota untuk


ikut berperan aktif, ikut menentukan tujuan kelompok, berperan sebagai
pembimbing.

Memberi pengarahan, memberi petunjuk, memberi bantuan kepada para


peserta, terlibat langsung dalam interaksi rapat, ikut serta dalam kegiatan
kelompok

Keputusan yang diambil berdasarkan hasil musyawarah

BAB III
STUDI KASUS RAPAT

3.1 Profil Perusahaan

Dengan pengalaman lebih dari 55 tahun, Pertamina semakin percaya


diri untuk berkomitmen menjalankan kegiatan bisnisnya secara profesional dan
penguasaan

teknis

yang

tinggi

mulai

dari

kegiatan

hulu

sampai

hilir.Berorientasi pada kepentingan pelanggan juga merupakan suatu hal yang


menjadi komitmen Pertamina,agar dapat berperan dalam memberikan nilai
tambah bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Upaya perbaikan dan inovasi sesuai tuntutan kondisi global merupakan
salah satu komitmen Pertamina dalam setiap kiprahnya menjalankan peran
strategis

dalam

perekonomian

nasional.

Semangat

terbarukan

yang

dicanangkan saat ini merupakan salah satu bukti komitmen Pertamina dalam
menciptakan alternatif baru dalam penyediaan sumber energi yang lebih efisien
dan berkelanjutan serta berwawasan lingkungan. Dengan inisatif dalam
memanfaatkan sumber daya dan potensi yang dimiliki untuk mendapatkan
sumber energi baru dan terbarukan di samping bisnis utama yang saat ini
dijalankannya, Pertamina bergerak maju dengan mantap untuk mewujudkan
visi perusahaan, Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia.
Mendukung visi tersebut, Pertamina menetapkan strategi jangka
panjang

perusahaan,

yaitu

Aggressive

in

Upstream,

Profitable

in

Downstream, dimana Perusahaan berupaya untuk melakukan ekspansi bisnis


hulu dan menjadikan bisnis sektor hilir migas menjadi lebih efisien dan
menguntungkan.
Pertamina menggunakan landasan yang kokoh dalam melaksanakan
kiprahnya untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan dengan menerapkan
Tata Kelola Perusahaan yang sesuai dengan standar global best practice, serta
dengan mengusung tata nilai korporat yang telah dimiliki dan dipahami oleh
seluruh unsur perusahaan, yaitu Clean, Competitive, Confident, Customer-

focused, Commercial dan Capable. Seiring dengan itu Pertamina juga


senantiasa menjalankan program sosial dan lingkungannya secara terprogram
dan terstruktur, sebagai perwujudan dari kepedulian serta tanggung jawab
perusahaan terhadap seluruh stakeholder-nya.
Sejak didirikan pada 10 Desember 1957, Pertamina menyelenggarakan
usaha minyak dan gas bumi di sektor hulu hingga hilir. Bisnis sektor hulu
Pertamina yang dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia dan luar negeri
meliputi kegiatan di bidang-bidang eksplorasi, produksi, serta transmisi minyak
dan gas.

3.2 Profil Peserta Rapat

Adapun profil dari peserta rapat internal Pertamina Wilayah Sumatera


Bagian Selatan adalah :
1. General Manajer
Lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri)
(1974), Sekolah Staf dan Komando TNI AD (Seskoad) (1989), dan
Lemhamnas (2001). Selain pendidikan militer, beliau juga menjalani
pendidikan formal, lulus Strata-1 dari Manajemen Universitas Terbuka (1996)
dan Master degree of Human Resources Universitas Jayakarta (2001). Jabatan
yang pernah dipegang beliau antara lain Wakil Asisten Pengamanan Kasad
(2001-2002), Kasdam 17 Trikora (2002-2003), Pandam 17 Trikora (20032005), Asisten Intelijen TNI (2005), Kepala Badan Intelijen Strategis TNI
(2006), Staf Khusus Menko Polhukkam dan menjabat sebagai General Manajer
PT. Pertamina (Persero) sejak 6 Mei 2010.

2. Sekretaris Manajer
Memperoleh gelar Sarjana Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi
Negara pada tahun 1989 dan gelar Master di bidang Akuntansi dan Sistem
Informasi Keuangan (MAFIS) dari Cleveland State University pada tahun
1993. Karir yang bersangkutan : Anggota Deputi Sumber Daya Minyak dan

Gas Pengawasan Team Pertamina, BPKP (1983-1986), Kepala BPPN Pajak


Restitusi Tim Inspeksi (1989-1990), Kepala Joint Venture Seksi Pengawasan I
Pertamina BPKP (1995-1999), BPPN (1999-2002), Staf Khusus Badan Usaha
Milik Negara (2002-2004), Sekretaris Staf Milik Negara Enterprize (20042006), Asisten Deputi sektor strategis dan bisnis dari industri manufaktur di
Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Asisten Deputi Informasi dan
Treasury dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (2006 2007), Staf
Menteri Badan Usaha Milik Negara (2006-2007), Komisaris PT Pupuk
Indonesia Holding Company, Komisaris di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
Ia menjabat sebagai Komisaris di PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Komisaris PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk (2004-2007), Deputi Bidang Usaha Jasa
Kementerian BUMN dan menjabat sebagai Sekretaris Manajer PT. Pertamina
(Persero) sejak 1 April 2014.

3. Manajer Pemasaran dan Niaga


Lahir pada tanggal 3 Oktober 1966. Saat ini masih menjabat sebagai
Manajer Pemasaran dan Niaga. Lulus Sarjana di FEUI lulusan 1990, dengan
konsentrasi pada bidang ekonomi pembangunan dan ekonomi regional. Gelar
Master diraih pada tahun 1995, dari University of Illinois at UrbanaChampaign, USA, dengan spesialiasasi Transportation Planning and Economic
Development. Sementara gelar PhD diperoleh dari University of Illinois at
Urbana-Champaign, USA diselesaikan pada tahun 2007.
Pengalaman mengajar cukup banyak baik di dalam dan luar negeri. Saat
ini masih aktif mengajar di FEUI untuk mata kuliah Ekonomi Regional,
Ekonomi Perkotaan, dan Seminar Ekonomi Regional baik untuk untuk jenjang
S1, S2 dan S3. Sementara di luar negeri, pernah menjadi guest professorial
Lecture dalam The Asian Public Policy Program, Hitotsubashi University,
Tokyo, Jepang, pada Januari 2002, dan juga sebagai Guest Lecture, The
Department of Urban and Regional Planning, University of Illinois at UrbanaChampaign, USA, pada November 2002.

4. Senior Reservoir
Lulusan sarjana Mechanical Engineering-Solar Refrigration Institut
Teknologi Bandung angkatan 1970. Karir yang bersangkutan : 33 tahun
berkarir di ExxonMobil, Penasihat Ahli di Mobil Cepu Limited (November
2007 Maret 2010), Penasihat Ahli Wakili Kepala BP Migas (sekarang SKK
Migas) (2006), Kepala Pengawasan dan Pengendalian Proyek Pengembangan
Lapangan Abadi, Blok Masela (2011) dan Wakil Menteri Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral Indonesia (2013 - sekarang). Diangkat menjadi
Senior Reservoir PT. Pertamina (Persero) sejak 1 April 2014.

3.3 Paparan Masalah dalam Rapat

Kelangkaan bahan

bakar

minyak

yang terjadi belakangan ini

telah memberikan dampak yang sangat luas di berbagai sektor kehidupan.


Sektor yang paling cepat terkena dampaknya adalah sektor transportasi.
Fluktuasi suplai dan harga minyak bumi seharusnya membuat kita sadar
bahwa jumlah cadangan minyak yang ada di bumi semakin menipis. Karena
minyak bumi adalah bahan bakar yang tidak bisa diperbarui maka kita
harus mulai memikirkan bahan penggantinya.
Indonesia merupakan negara dengan konsumsi energi yang cukup
tinggi di dunia.
Terbarukan

Berdasarkan

data

Direktorat

Jenderal

Energi

Baru

dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, dalam beberapa

tahun terakhir pertumbuhan konsumsi energi Indonesia mencapai 7% per


tahun. Angka tersebut berada di atas pertumbuhan konsumsi energi dunia
yaitu 2,6% per tahun. Konsumsi
untuk

sektor

energi

Indonesia

tersebut

terbagi

industri (50%), transportasi (34%), rumah tangga (12%)

dan komersial (4%) (ESDM, 2012). Konsumsi energi Indonesia yang cukup
tinggi tersebut hampir 95% dipenuhi dari bahan bakar fosil. Dari total
tersebut, hampir 50%-nya merupakan Bahan Bakar Minyak

(BBM).

Konsumsi BBM yang cukup tinggi ini menjadi masalah bagi Indonesia.
(Sumber : Direktorat Jenderal Migas, 2012, Statistik Minyak Bumi. Jakarta).

Sebagai lokomotif perekonomian bangsa Pertamina merupakan


perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi meliputi minyak, gas
serta energi baru dan terbarukan.Pertamina menjalankan kegiatan bisnisnya
berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik sehingga dapat
berdaya saing yang tinggi di dalam era globalisasi.
Akan tetapi akibat permasalahan kelangkaan dan kenaikan harga Bahan
Bakar Minyak (BBM) kini pertamina menghadapi masa yang cukup sulit.
Tidak sedikit masyarakat yang menyalahkan pertamina atas apa yang terjadi.
Dan juga pertamina tidak dapat berbuat banyak karena tiap permasalahan
tersebut menyangkut dengan kebijakan dari pemerintah Indonesia. Oleh karena
itu, pertamina akan terus menerus mencari solusi terbaik untuk kesejahteraan
masyarakat Indonesia.

3.4 Pemecahan Masalah dalam Rapat

Masalah yang dipaparkan dalam rapat yang kemudian akan dicarikan


solusinya adalah sebagai berikut :
1. Biosolar sebagai alternatif Bahan Bakar Minyak
Dengan kandungan minyak nabati, BBM menjadi lebih ramah
lingkungan. Kepala Divisi BBM Pertamina, Djaelani Sutomo mengatakan
Biosolar memiliki angka cetane 51 hingga 55 atau lebih tinggi daripada solar
standar yang sekitar 48. Padahal, makin tinggi angka cetane, makin sempurna
pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi pervolume yang
diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur
sehingga tidak lebih dari 500 ppm.
Biodiesel

atau

Biosolar

ini

memiliki

keunggulan

komparatif

dibandingkan dengan bentuk energi lain. Lebih mudah ditransportasikan;


memiliki kerapatan energi per volume yang lebih tinggi; memiliki karakter
pembakaran yang relatif bersih; dan ramah lingkungan.

2. Strategi Pemasaran Biosolar


Banyak permasalahan yang dihadapi pertamina dalam pemasaran
biosolar. Seperti masalah harga dan sasaran biosolar. Faktanya, masyarakat
Indonesia belum bisa menerima kehadiran energi alternatif ini. Hal ini
dikarenakan kurangnya ilmu pengetahuan mengenai apa itu biosolar,
bagaimana dampaknya terhadapa mesin kendaraan mereka dan apakah
perbedaan biosolar dengan solar yang selama ini mereka gunakan. Masih
banyak kekhawatiran yang masyarakat rasakan, untuk itulah sudah menjadi
tugas pertamina sebagai perusahaan energi nasional untuk mengenalkan
segudang manfaat dari biosolar tersebut dengan strategi jitu yang dapat
menembus pasar nasional.

BAB IV
PENUTUP

Rapat mencerminkan esensi dari organisasi. Rapat menyingkap


kondisi dari orang-orang yang terlibat dalam organisasi tersebut. Rapat
yang dikelola dan dipimpin dengan baik akan mencerminkan efektifitas
dari suatu organisasi.
Rapat merupakan media komunikasi kelompok, yang pada
prinsipnya untuk mendapatkan salingpengertian. Dari pihak pemimpin,
rapat

bertujuan

memberikan

kesempatan

kepada

bawahan

untuk

menyampaikan pendapat, saran, ide-ide langsung kepada pemimpin. Dari


pihak bawahan, rapat merupakan kesempatan baik untuk bertatap muka
dengan

pimpinan

sekaligus

dengan

para

staf

lainnya.

Demi

keberlangsungan suatu organisasi, rapat harus selalu daiagendakan dalam


memmbahas setiap kebijakan dan atau permasalahan.

REFERENSI

https://www.scribd.com/doc/207421862/makalah-rapat, diakses tanggal 31-102014

LAMPIRAN TANGGAPAN PESERTA RAPAT

Dari Kelompok I
1. Kesiapan rapat sudah cukup baik saat tampil di depan kelas
2. Pengaturan rapat sudah dilakukan dengan cukup baik
3. Tujuan dari rapat yang dilakukan tujuan yang masih kami anggap
belum sesuai dengan maalah yang dibahas
4. Etika rapat, ada sedikit kesalahan dalam penggunaan bahasa
5. Usaha : usaha dalam rapat sudah sangat baik

Ttd Perwakilan :

Dari Kelompok II
1. Pimpinan rapat banyak diam dan sekretaris banyak mengambil alih
rapat jadi bagian tidak sesuai dengan fungsinya
2. Untuk bagian manager pemasaran dan senior engineering sudah pas
3. Untuk kesiapan rapat sudah lumayan baik
4. Etika rapat sudah lumayan baik

Ttd Perwakilan :

Dari Kelompok IV
1. Tujuan belum tercapai karena belum ada kesimpulan yang diperoleh,
dalam rapat masih banyak berupa pendapat-pendapat saja.
2. Kurang persiapan dari peserta rapat seperti peran direktur yang kurang
berpartisipasi dan tidak banyak pendapat di dalam rapat. Peran direktur
juga kurang dalam menjawab pertanyaan dari peserta. Untuk kesiapan
bahan sudah cukup baik
3. Menurut kami etika yang baik dalam berbicara dalam rapat itu misalnya
kata kalian yang ditujukan kepada peserta rapat diganti dengan kata
anda agar terkesan lebih sopan
4. Peran dalam rapat ini kurang jelas antara sekretaris dan direktur
perusahaan. Sekretaris peran dan usaha partisipasinya dalam rapat lebih
menonjol dna dominan sehingga menutupi peran staf-staf lain terutama
direktur. Menurut kami sekretaris terlalu banyak mengambil alih isi
rapat.

Ttd perwakilan :