Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

KEGIATAN EKSPLORASI-EKSPLOITASI
PERTAMBANGAN
UNTUK MEMENUHI TUGAS TEKNOLOGI MANAJEMEN DAN
KEWIRAUSAHAAN

DISUSUN OLEH : SONY HARTONO


NPM : 270110130040

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
Page 1

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia
dan berkat yang telah diberikan-Nya , sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Kegiatan Eksplorasi-Eksploitasi Pertambangan ini.
Makalah Kegiatan Eksplorasi-Eksploitasi Pertambangan ini disusun untuk
mengembangkan pengetahuan terhadap tersebut dapat dipahami melalui pendahuluan ,
pembahasan masalah , serta penarikkan garis kesimpulan dalam makalah ini.
Makalah Kegiatan Eksplorasi-Eksploitasi Pertambangan ini disajikan dengan
pemahaman dari penulis dan berbagai fakta keilmuwan yang umum. Sehingga terdapat opini
atau pemikiran khas dari penulis yang mungkin berbeda persepsi dengan pembaca.Namun
dengan makalah ini , diharapkan pembaca dapat lebih memahami tentang kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi pertambangan
Penulis mendapat bimbingan dari berbagai pihak dalam pengerjaan makalah ini.
Oleh karena itu, penulis berterimakasih kepada :
1.
Ibu Dr. Nana Sulaksana dan Ir. Syafrudin sebagai dosen Teknologi Manajemen dan
Kewirausahaan yang memberikan pengetahuan sehingga makalah ini dapat selesai.
2.

Teman-teman yang telah memberikan banyak masukan terhadap perkembangan


makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan pemahaman yang baik bagi bagi pembaca.
Saran dan kritik sangat diharapkan penulis demi kemajuan dari makalah yang disajikan.

Jatinangor, 15 Oktober 2014

Sony Hartono

Page 2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB 1
1.1 PENDAHULUAN
1.1.1 LATAR BELAKANG......................................................................4
1.1.2 RUMUSAN MASALAH..................................................................5
1.1.3 TUJUAN PENULISAN...................................................................5
BAB 2
2.1 PEMBAHASAN
2.1.1 ISI...............................................................................................5
A. PENGERTIAN EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI
KEGIATAN EKSPLORASI..............................................................6
B. TAHAPAN EKSPLORASI.......................................................7
C. MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN EKSPLORASI...............8
D. METODE EKSPLORASI.........................................................9
F. KEGIATAN EKSPLOITASI...................................................12
G. PERTAMBANGAN & KARAKTERISTIK DESA
PERTAMBANGAN...............................................................18
H. KETERKAITAN EKSPLOITASI DENGAN
PENYIMPANGAN SOSIAL...................................................21
I. ISTILAH TAMBANG DALAM EKSPLOITASI.......................23

BAB 3
3.1. PENUTUP
3.1.1 KESIMPULAN...........................................................................27
3.1.2 SARAN......................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................28

Page 3

BAB I
1.1 PENDAHULUAN
1.1.1 LATAR BELAKANG
Bidang yang sekarang ini kita pelajari yaitu geologi, memiliki aplikasi-aplikasi yang
cukup luas dalam dunia pekerjaan. Dunia pekerjaan yang dimaksud adalah seperti
pertambangan dan dunia migas
Dengan kondisi geografis yang dimiliki, Indonesia sangat berpotensi untuk memiliki
sumber daya alam yang melimpah dan berkualitas apalagi dalam potensi mineralnya,
Indonesia berada diurutan keempat di dunia dengan potensi mineral terbanyak. Dan mineral
itu sendiri merupakan objek tambang yang akan kita temui di dunia pertambangan.
Dengan potensi yang dimiliki ini Indonesia harus menciptakan tenaga-tenaga ahli
dalam dunia pertambangan termasuk dalam kegiatan terpenting dalam dunia pertambangan
yaitu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.
Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi merupakan usaha untuk mendapatkan bahn
tambang yang potensial yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi sehingga
dibutuhkan pemahaman yang baik.

Page 4

1.1.2 RUMUSAN MASALAH


1.
2.
3.
4.

Apa pengertian eksplorasi dan eksploitasi ?


Bagaimana kegiatan, tahapan, metode, maksud dan tujuan eksplorasi ?
Bagaimana karakteristik desa pertambangan ?
Bagaimana keterkaitan eksploitasi dengan penyimpangan sosial ?

1.1.3 TUJUAN
1.
2.
3.
4.

Memahami pengertian eksplorasi dan eksploitasi.


Mengetahui kegiatan, tahapan, metode, maksud dan tujuan eksplorasi.
Memahami pertambangan & karakteristik desa pertambangan.
Memahami keterkaitan eksploitasi dengan penyimpangan sosial.

Page 5

BAB II
2.1 PEMBAHASAN
2.1.1 ISI

A. Pengertian Eksplorasi Dan Eksploitasi


EKSPLORASI adalah penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data /
informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber daya alam di suatu tempat.
kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan tambang
dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya tidak merata dan
sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga untuk menentukan lokasi
sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara pengambilannya diperlukan penyelidikan
yang teliti agar tidak membuang tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko
kegagalan, kerugian materi, kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.
Ada beberapa sumber yang mendefinisikan kegiatan eksplorasi :
1. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Eksplorasi adalah Penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan
lebih banyak tentang keadaan, terutama sumber- sumber alam yang terdapat di tempat itu;
penyelidikan;penjajakan.
2. Menurut situs Wikipedia berbahasa Inodenisia (id.wikipedia.org)
Eksplorasi adalah tindakan atau mencari atau melakukan perjalanan dengan tujuan
menemukan sesuatu; misalnya daerah yang tak dikenal, termasuk antariksa (penjelajahan
angkasa), minyak bumi (explorasi minyak bumi) , gas alam, batu bara, mineral, gua, air,
ataupun informasi.
3. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
Eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan geologi yang dilakukan untuk
mengidentifikasi , menetukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas dan kualitas
suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan analisis/kajian kemungkinan
dilakukanya penambangan.
Dari ke-tiga pengertian tentang eksplorasi diatas, dapat disimpulkan
bahwa Eksplorasi adalah suatu kegiatan lanjutan dari prospeksi yang meliputi pekerjaanpekerjaan untuk mengetahui ukuran,bentuk, posisi, kadar rata-rata dan esarnya cadangan
serta studi kalayakan dari endapan bahan galian atau mineral berharga yang telah
diketemukan

Sedangkan Studi Kelayakan adalah pengkajian mengenai aspek teknik dan prospek
ekonomis dari suatu proyek penambangan dan merupakan dasar keputusan investasi. Kajian
Page 6

ini merupakan dokumen yang memenuhi syarat dan dapat diterima untuk keperluan analisa
bank/lembaga keungan lainnya dalam kaitannya dengan pelaksanaan investasi atau
pembiayaan proyek. Studi ini meliputi Pemeriksaanseluruh informasi geologi berdasarkan
lkaporan eksplorasi dan faKtor-faktor ekonomi, penambangan, pengolahan, pemasaran
hokum/perundang-undangan,
lingkungan,
social
serta
faKtor
yang terkait.
EKPLOITASI sendiri adalah upaya atau bentuk kegiatan yang sifatnya cenderung pada
penggalian potensi - potensi yang terdapat pada suatu obyek sebagai tingkat lanjut dari
kegiatan eksplorasi. Eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk
menghasilkan bahan galian dan memanfaatkannya. Kegiatan ini dapat dibedakan
berdasarkan sifat bahan galiannya yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.

Kedua bentuk kegiatan ini memiliki kaitan yang sangat erat sekali jika kita
memandangnya dari segi kepentingan tertentu atau yang biasa kita kenal dengan ungkapan
mencari uang. Tetapi tanpa kita sadari sudah banyak dari kita juga melakukan kedua hal
tersebut demi kepentingan pribadi, yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan kita atau
bagi orang lain.
Jadi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sangat penting dilakukan sebelum
pengusahaan bahan tambang dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang
penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali.
Sehingga untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara
pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak membuang tenaga dan
modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian materi, kecelakaan kerja
dan kerusakan lingkungan.
Suatu kegiatan eksplorasi eksplorasi dan eksploitasi harus direncanakan sebaikbaiknya dengan memperhitungkan untung-ruginya, efisiensi, ekonomis serta kelestarian
lingkungan daerah eksplorasi dan eksploitasi tersebut.

Page 7

B. Kegiatan Eksplorasi
Eksplorasi yang kita kenal di zaman ini, juga meliputi tindakan pencarian akan
pengetahuan yang tidak umum atau pencarian akan pengertian metafisika-spiritual;
misalnya tentang kesadaran (consciousness), cyberspace atau noosphere. Istilah ini dapat
digunakan pula untuk mengambarkan masuknya budaya suatu masyarakat untuk pertama
kalinya ke dalam lingkungan geografis atau budaya dari masyarakat lainnya. Meskipun
eksplorasi telah terjadi sejak awal keberadaan manusia, kegiatan eksplorasi dianggap
mencapai puncaknya pada saat terjadinya Abad Penjelajahan, yaitu ketika para pelaut Eropa
menjelajah ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan berbagai daerah dan budaya baru.
Kegiatan eksplorasi terdiri atas berbagai penyelidikan yang mendukungnya. Penyelidikan
tersebut adalah :
a) Penyelidikan Geologi
Merupakan upaya geologi seperti penentuan lokasi potensial dan keterjadian suatu
bahan tambang yang akan dieksplorasi
b) Penyelidikan Geokimia
Penyelidikan ini dilaksanakan untuk mengetahui perkiraan kadar logam, senyawa
kimia dan unsur-unsur penyerta dimana logam tersebut berada.
c) Penyelidikan Geofisika
Penyelidikan ini terdiri atas 4 metode yaitu :
Metode Geolistrik

Metode Seismik

Metode Magnet

Metode Gaya berat/Gravitasi

d) Pemboran Eksplorasi
Dilaksanakan untuk mengetahui kedalaman mineral, kualitas dan kalkulasi
cadangan kasar/minimum untuk dapat ditambang secara ekonomis.

Page 8

C. Maksud Dan Tujuan Kegiatan Eksplorasi


Tujuan dilakukannya eksplorasi adalah untuk mengetahui sumber daya cebakan mineral
secara rinci, yaitu untuk mengetahui, menemukan, mengidentifikasi dan menentukan
gambaran geologi dalam pemineralaran berdasarkan ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan
kualitas suatu endapan mineral untuk kemudian dapat dilakukan pengembangan secara
ekonomis.
Kegiatan untuk mengetahui keberadaan endapan bahan galian dengan menggunakan
metode tertentu.
Mengetahui jenis bahan galian dan sebaran di permukaan.
Mengetahui sebaran bahan galian kearah dalam dan bentuknya.
Mengetahui besaran dannilai ekonominya (sumber daya mineral dan cadangan)

D. Tahapan Eksplorasi
Tahapan dalam pekerjaan eksplorasi :
1. Penyelidikan Umum
a) Studi Pustaka
Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap
data dan peta-peta yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama,
laporan-laporan temuan dll, lalu dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah pemilihan lokasi
ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-faktor geologi regional dan provinsi metalografi
dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih daerah eksplorasi, karena
pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-proses geologi
yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan. Beberapa poin dari studi
pustaka yaitu

Keadaan geologi regional

Keadaan tektonik

Keadaan paleogeography setting

Batasan luas daerah kerja


b) Pengecekan Dilapangan

Mencari singkapan batuan dan batubara


Mengambil contoh batuan dan batubara

Page 9

2. Penyelidikan Pendahuluan
Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei
dan pemetaan singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta
topografi skala 1 : 50.000 atau 1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan
pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal
ini sangat menguntungkan, karena survei bisa langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda
endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta geologi dan mengambil conto dari
singkapan-singkapan yang penting.
Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran
langsung), yang perlu juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan
batuan sedimen (jurus dan kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal
penting tersebut harus diplot pada peta dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas
geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami seperti bukit, lembah, belokan
sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat dilengkapi atau dibuat
baru (peta singkapan).
Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat
penampang tegak atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi
hepatitik tersebut kemudian dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan
sumur uji (test pit), pembuatan paritan (trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran.
Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot dengan tepat di peta (dengan bantuan alat
ukur, teodolit, BTM, dll.). Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model
penyebaran endapan, gambaran mengenai cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk
menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan memberikan harapan baik (prospek)
atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik maka dapat diteruskan
dengan tahap eksplorasi selanjutnya. Berikut merupakan poin-poin dari penyelidikan
pendahuluan
a) Memetakan Daerah Kegiatan
Pemetaan Topografi
Pemetaan Foto Udara
b) Interpretasi Keadaan Geologi
Stratigrafi Kedudukan Batubara
Struktur Geologi
c) Pemboran
Korelasi
Hasil Perhitungan Cadangan
Bentuk Geometri Cadangan
Perkiraan Kualitas

Page 10

3. Penyelidikan Detail
Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai
prospek yang baik, maka diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan
utama dalam tahap ini adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan
memperbanyak sumur uji atau lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti
mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan (volume cadangan), penyebaran
kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang rapat tersebut dihasilkan
cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil (<20%),
sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko
dapat dihindarkan.
Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan,
kemiringan, dan penyebaran cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data
mengenai kekuatan batuan sampling, kondisi air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada)
akan sangat memudahkan perencanaan kemajuan tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau
kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk merencanakan produksi bulanan/tahunan
dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu lainnya. Poin penting dari
penyelidikan detail adalah
a) Pemboran

Bentuk geometri endapan batubara lebih teliti dan perhitungan cadangan


Anomaly geologi (sesar)
Kualitas batubara (Analisa laboratorium dan sifat batubara)

b) Geofisika

Stratigrafi kedudukan batubara lebih teliti


Struktur geologi
Bentuk endapan batubara

c) Penentuan Metode Penambangan

4. Commercial Exploration Programme


a) Jenis Bahan Galian
Bahan galian logam: bahan galian yang dalam proses penambangan dan pengolahan
diambil logamnya. Bentuk tubuh bijih dan sebaran bahan berharga di
dalamnyabermacam-macam, mulai dari sederhana sampai sangat bervariasi.
Bahan galian industri: bahan galian yang dalam proses penambangan dan
pengolahan dalam bentuk mineral atau batuan. Bentuk tubuh bahan galian biasanya
teratur.
Bahan galian energi: bahan galian yang digunakan sebagai sumber energi. Bentuk
tubuh bahan galiannya biasanya teratur.

Bentuk dan sebaran bahan galian.


Page 11

b) Pengelompokan Endapan Bahan Galian


Endapan bahan galian dapat dikelompokkan berdasarkan keadaan geologinya
seperti bentuk endapan dan sebaran bahan berharga di dalamnya. Kreiter (1961)
mengelompokkan menjadi 5yaitu kelompok a, b, c, d, dan e (Lampiran 2).
Pengelompokan ini berkaitan dengan koefisien variasi bentuk.
Isometrik : ukuran panjang, lebar, dan ketebalannya relatif sama atau berbentuk
seperti bola.
Lapisan : ukuran panjang dan lebarnya relatif sama, ketebalan relatif kecil.
Tabung : ukuran lebar dan ketebalannya relatif sama dan lebih pendek dari ukuran
panjangnya.
c) Sebaran Bahan Berharga
Merata : pejal (massif), terserak merata. Koefisien variasi kecil.
Tidak merata: terserak tidak merata. Koefisien variasi sebaran besar.
Sangat tidak merata. Koefisien variasi sangat besar.

E. Metode Eksplorasi
Metoda dalam eksplorasi dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu :
1) Metoda langsung, terdiri dari :
a) Metoda langsung di permukaan
b) Metoda langsung di bawah permukaan
2) Metoda tidak langsung, terdiri dari :
a) Metoda tidak langsung cara geokimia yang mencakup antara lain mengenai bed rock,
soil, air, vegetasi dan stream deposit.
b) Metoda tidak langsung cara geofisika yang mencakup beberapa cara yaitu cara
magnetik (sudah jarang digunakan), gravitasi (sudah jarang digunakan), cara seismik
yang terdiri dari cara reflaksi dan refleksi, cara listrik (resistifity), dua cara yang
terakhir yaitu cara radiokatif yang masih jarang digunakan, hal ini disebabkan karena
cara ini relatif lebih mahal dan lebih rumit dari cara - cara sebelumnya.

Page 12

1. Metoda Langsung
A). Metode Langsung Permukaan
Metoda ini dapat dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu :
a) Penyelidikan Singkapan (Out Crop)
Singkapan segar umumnya dijumpai pada :
1)

Lembah-lembah sungai, hal ini dapat terjadi karena pada lembah sungai terjadi
pengikisan oleh air sungai sehingga lapisan yang menutupi tubuh batuan
tertransportasi yang menyebabkan tubuh batuan nampak sebagai singkapan segar

2)

Bentuk-bentuk menonjol pada permukaan bumi, hal ini terjadi secara alami
yang umumnya disebabkan oleh pengaruh gaya yang berasal dari dalam bumi yang
disebut gaya endogen misalnya adanya letusan gunung berapi yang memuntahkan
material ke permukaan bumi dan dapat juga dilihat dari adanya gempa bumi akibat
adanya gesekan antara kerak bumi yang dapat mengakibatkan terjadinya patahan atau
timbulnya singkapan ke permukaan bumi yang dapat dijadikan petunjuk letak tubuh
batuan.

b) Tracing Float (Penjejakan)


Float adalah fragmen-fragmen atau potongan-potongan biji yang berasal dari
penghancuran singkapan yang umumnya disebabkan oleh erosi, kemudian
tertransportasi yang biasanya dilakukan oleh air, dan dalam melakukan tracing kita
harus berjalan berlawanan arah dengan arah aliran sungai sampai float dari bijih yang
kita cari tidak ditemukan lagi, kemudian kita mulai melakukan pengecekan pada
daerah antara float yang terakhir dengan float yang sebelumnya dengan cara membuat
parit yang arahnya tegak lurus dengan arah aliran sungai, tetapi jika pada pembuatan
parit ini dirasa kurang dapat memberikan data yang diinginkan maka kita dapat
membuat sumur uji sepanjang parit untuk mendata tubuh batuan yang terletak jauh
dibawah over burden.
c) Tracing dengan Panning (Mendulang)
Caranya sama seperti tracing float, tetapi bedanya terdapat pada ukuran butiran
mineral yang dicara biasanya cara ini digunakan untuk mencari jejak mineral yang
ukurannya halus dan memiliki masa jenis yang relatif besar. Persamaan dari cara
tracing yaitu pada kegiatan lanjutan yaitu trencing atau test pitting.
Cara-cara tracing, baik tracing float maupun tracing dengan panning akan
dilanjutkan dengan cara trenching atau test pitting.

Page 13

1) Trenching (Pembuatan Parit)


Pembuatan parit memiliki keterbatasan yaitu hanya bisa dilakukan pada
overburden yang tipis, karena pada pembuatan parit kedalaman yang efektif dan
ekonomis yang dapat dibuat hanya sedalam 2 - 2,5 meter, selebih dari itu pembuatan
parit dinilai tidak efektif dan ekonomis. Pembuatan parit ini dilakukan dengan arah
tegak lurus ore body dan jika pembuatan parit ini dilakukan di tepi sungai maka
pembuatan parit harus tegak lurus dengan arah arus sungai.
Paritan dibangun dengan tujuan untuk mengetahui tebal lapisan permukaan,
kemiringan perlapisan, struktur tanah dan lain-lain.
2) Test Pitting (Pembuatan Sumur Uji)
Jika dengan trenching tidak dapat memberikan data yang akurat maka sebaiknya
dilakukan test pitting untuk menyelidiki tubuh batuan yang letaknya relatif dalam.
Kita harus ingat bahwa pada test pitting kita harus memilih daerah yang terbebas dari
bongkahan-bongkahan maka hal ini akan menyulitkan kita pada waktu pembuatan
sumur uji dan juga daerah yang hendak kita buat sumur uji harus bebas dari air, karena
dengan adanya air dapat menyulitkan kita pada waktu melakukan penyelidikan
struktur batuan yang terdapat pada sumur uji yang kita buat. Pada pembuatan sumur
uji ini kita juga harus mempertimbangkan faktor keamanan, kita harus dapat membuat
sumur dengan penyangga sesedikit mungkin tetapi tidak mudah runtuh. Hal ini juga
akan mempengaruhi kenyamanan pada waktu melakukan penelitian. Kedalaman
sumur uji yang kita buat bisa mencapai kedalaman sampai 30 meter.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari penggalian sumur adalah gejala longsoran,
keluarnya gas beracun, bahaya akan banjir dan lain-lain.

B). Metode Langsung Bawah Permukaan


Eksplorasi langsung bawah permukaan dilakukan bila tidak ada singkapan di
permukaan atau pada eksplorasi permukaan tidak dapat memberikan informasi yang baik,
karena pada eksplorasi langsung permukaan, kedalaman maksimum yang dapat dicapai + 30
meter. Eksplorasi langsung bawah permukaan juga dapat dilakukan apabila keadaan
permukaan memungkinkan untuk diadakan eksplorasi bawah permukaan, sebab apabila
permukaan tidak memungkinkan, misalnya permukaan itu tergenang air atau tertutup
bongkah batu yang tidak stabil, maka hal ini akan memberikan resiko yang besar jika
dilakukan eksplorasi permukaan.
Dalam eksplorasi bawah permukaan ada hal-hal yang harus diperhatikan misalnya,
pekerjaan harus berlangsung tetap didalam badan bijih, hal ini untuk memudahkan diadakan
pengamatan dan proses sampling pekerjaan juga diusahakan dimulai dari daerah-daerah
yang memiliki singkapan yang baik, karena dengan singkapan yang baik dapat memudahkan
kita untuk menentukan strike atau dipnya, yang tidak kalah pentingnya yang harus
diperhatikan adalah masalah biaya, dimana dalam pekerjaan eksplorasi ini biaya tidak boleh
Page 14

terlalu besar, hal ini bertujuan untuk menghindari adanya dana yang terbuang percuma jika
nantinya eksplorasi yang dilakukan hasilnya mengecewakan.
Eksplorasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan membuat Tunel, Shaft, Drift,
Winse dan lain-lain.
Tunnel = Suatu lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang menembus kedua
kaki bukit.
Shaft = Suatu lubang bukaan yang menghubungkan tambang bawah tanah dengan
permukaan bumi dan berfungsi sebagai jalan pengangkutan karyawan serta alat-alat
kebutuhan tambang, ventilasi dan penirisan.
Drift = Suatu bukaan mendatar yang dibuat dekat atau pada endapan bijih yang arahnya
sejajar dengan jurus atau dimensi terpanjang dari endapan bijihnya (dalam
pengeboran).
Winze = Lubang bukaan vertikal atau arah miring yang dari level ke arah level yang
dibawahnya.
Eksplorasi bawah tanah juga dapat dilakukan dengan pengeboran inti. Pengeboran
sumur minyak yang pertama dilakukan oleh Kol. Drake pada tahun 1959 dengan
menggunakan bor (RIG) permanen (tidak dapat dipindah-pindah) dan pada pengeborannya
menggunakan sistem perkusif (tumbuk), pada pengeboran ini kedalaman maximum yang
dapat dicapai adalah 60 ft (+ 20 m) dengan bor lurus (vertical drilling).
Saat ini pengeboran dilakukan dengan teknik bor putar (rotary drilling) dengan menara
bor yang dapat dipindah-pindah (portablering) dan dilakukan dengan beberapa cara
pengeboran yaitu dengan cara perkusif, rotasi atau dengan perkusif-rotasi. Pemboran dapat
dilakukan di darat maupun di laut (on shore atau off shore). Pemboran tidak terbatas pada
pemboran decara vertikal saja tetapi dapat dilakukan secara miring (kemiringan dapat
mencapai 90o), apabila saat pengeboran kita menemukan batuan yang keras dan susah
ditembus oleh mata bor, maka dengan teknologi sekarang, pipa yang berada jauh di dalam
tanah dapat dirubah arahnya (dibelokkan) untuk menghidari batuan yang keras tersebut.
Pengeboran yang dilakukan pada eksplorasi bertujuan untuk mengambil contoh
(sampling) untuk diamati, pengeboran juga bisa bertujuan untuk produksi atau konstruksi
(misalnya air tanah, minyak bumi) dan pemboran dapat juga untuk memudahkan proses
peledakan (pada kegiatan penambangan material keras). Dari data pengeboran dan sampling
kita dapat membuat peta stratigrafi daerah pengeboran. Dari peta ini kita dapat mengetahui
susunan batuan dan ketebalan cadangan dan akhirnya kita dapat memperkirakan besar
cadangan secara keseluruhan.

Page 15

2 Metode Tidak Langsung


A). Metode Tidak Langsung Cara Geofisika
Geofisika merupakan disiplin ilmu atau metoda untuk memperkirakan lokasi
akumulasi bahan/tambang dengan cara pengukuran besaran-besaran fisik batuan bawah
permukaan bumi. Metoda yang dapat dilakukan eksplorasi geofisika diantaranya :
a) Metoda Gravitasi
Metoda ini berdasarkan hukum gaya tarik antara dua benda di alam. Bumi sebagai
salah satu benda di alam juga menarik benda-benda lain di sekitarnya. Kalau sebuah
bandul digantung dengan sebuah pegas, maka pegas tersebut akan merengganng akibat
bandulnya mengalami gravitasi, di tempat yang gravitasinya rendah maka regangan tadi
kecil dan di tempat yang gravitasinya besar maka regangan tadi juga lebih besar. Dengan
demikian dapat diperkirakan bentuk struktur bawah tanah dari melihat besarnya nilai
gravitasi dari bermacam-macam lokasi dari suatu daerah penyelidikan.
Di lapangan besarnya gravitasi ini diukur dengan alat yang disebut gravimeter, yaitu
suatu alat yang sangat sensitif dan presisi. Gravimeter bekerja atas dasar torsion
balance, maupun bantuk atau pendulum, dan dapat mengukur perbedaan yang kecil
dalam gravitasi bumi di berbagai lokasi pada suatu daerah penyelidikan. Gaya gravitasi
bumi dipengaruhi oleh besarnya ukuran batuan, distribusi atau penyebaran batuan, dan
kerapatan (density) dari batuan. Jadi kalau ada anomali gravitasi pada suatu tempat,
mungkin di situ terdapat struktur tertentu, seperti lipatan, tubuh intrusi dangkal, dan
sebagainya. Juga jalur suatu patahan besar, meskipun tertutup oleh endapan aluvial,
sering dapat diketahui karena adanya anomali gravitasi.

b) Metoda Magnetik
Bumi adalah suatu planet yang bersifat magnetik, dimana seolah-olah ada suatu
barang magnet raksasa yang membujur sejajar dengan poros bumi. Teori modern saat ini
mengatakan bahwa medan magnet tadi disebabkan oleh arus listrik yang mengalir pada
inti bumi. Setiap batang magnet yang digantung secara bebas di muka bumi. Di setiap
titik permukaan bumi medan magnet ini memiliki dua sifat utama yang penting di dalam
eksplorasi, yaitu arah dan intensitas.
Arah dari medan magnet dinyatakan dalam cara-cara yang sudah lazim, sedang
intensitas dinyatakan dalam apa yang disebut gamma. Medan magnet bumi secara normal
memiliki intensitas 35.000 sampai 70.000 gamma jika diukur pada permukaan bumi.
Bijih yang mengandung mineral magnetik akan menimbulkan efek langsung pada
peralatan, sehingga dengan segera dapat diketahui.

Page 16

Metoda eksplorasi dengan magneti sangat berguna dalam pencarian sasaran


eksplorasi sebagai berikut :

Mencari endapan placer magnetik pada endapan sungai

Mencari deposit bijih besi magnetik di bawah permukaan

Mencari bijih sulfida yang kebetulan mengandung mineral magnetit sebagai


mineral ikutan

Intrusi batuan basa dapat diketahui kalau kebetulan mengandung magnetit dalam
jumlah cukup

Untuk dapat mengetahui ketebalan lapisan penutup pada suatu batuan beku yang
mengandung mineral magnetik.

c) Metoda Seismik
Metoda ini jarang dipergunakan dalam penyelidikan pertambangan bijih tetapi
banyak dipergunakan dalam penyelidikan minyak bumi. Suatu gempa atau getaran
buatan dibuat dengan cara meledakan dinamit pada kedalaman sekitar 3 meter dari
permukaan bumi dan kecepatan merambatnya getaran yang terjadi diukur. Untuk
mengetahui kecepatan rambatan getaran tersebut pada perlapisan-perlapisan batuan,
disekitar titik ledakan dipasang alat penerima getaran yang disebut geofon (seismometer).
Geofon-geofon yang dipasang secara teratur di sekitar lobang ledakan tadi akan terbias
atau refraksi. Dengan mengetahui waktu ledakan dan waktu kedatangan gelombanggelombang tadi, maka dapat diketahui kecepatan rambatan waktu getaran melalui
perlapisan-perlapisan batuan. Dengan demikian konfigurasi struktur bahwa permukaan
dapat diketahui. Gelombang akan merambat dengan kecepatan yang berbeda pada batuan
yang berbeda-beda. Geophone merupakan alat penerima gelombang yang dipantulkan
kepermukaan, hidrophone untuk gelombang di dasar laut.
Cepat rambat gelombang seismik pada batuan tergantung pada :
Jenis batuan
Derajat pelapukan
Derajat pergerakan
Tekanan
Porositas (kadar air)
Umur (diagenesa, konsolidasi, dll)

Page 17

d) Metode Geolistrik
Dalam metoda ini yang diukur adalah tahanan jenis (resistivity) dari batuan. Yang
dimaksud dengan tahanan jenis batuan adalah tahanan yang diberikan oleh masa batuan
sepanjang satu meter dengan luas penampang satu meter persegi kalau dialiri listrik dari
ujung ke ujung, satuannya adalah Ohm-m2/m atau disingkat Ohm-meter.
Dalam cara pengukuran tahanan jenis batuan di dalam bumi biasanya dipakai sistem
empat elektrode yang dikontakan dengan baik pada bumi. dua elektrode dipakai untuk
memasukan arus listrik ke dalam bumi, disebut elektrode arus (current electrode)
disingkat C, dan dua elektrode lainnya dipakai untuk mengukur voltage yang timbul
karena arus tadi, elektrode ini disebut elektrode potensial atau potential electode
disingkat P. ada beberapa cara dalam penyusun ke empat elektode tersebut, dua
diantaranya banyak yang dipakai adalah cara Wenner dan cara Shlumberger.

B). Metode Tidak Langsung Cara Geokimia


Pengukuran sistimatika terhadap satu atau lebih unsur jejak (trace elements) pada
batuan, tanah, stream, air atau gas.
Tujuannya untuk mencari anomali geokimia berupa konsentrasi unsur-unsur yang
kontras terhadap lingkungannya atau background geokimia.
Anomali dihasilkan dari mobilitas dan dispresi unsur-unsur yang terkonsentrasi pada
zona mineralisasi. Anomali merupakan perbedaan-perbedaan yang mencolok antara satu
titik atau batuan dengan titik lainnya.
Pada dasarnya eksplorasi jenis ini lebih cenderung untuk menentukan perbedaan
mendasar (anomali) unsur-unsur yang terdapat pada tanah atau sampel yang kita cari. Proses
untuk membedakan unsur ini dilakukan dengan beberapa reaksi kimia.
Setelah mengetahui metodanya kita memasuki pemilihan alat dan pemilihan anggota
serta apa-apa yang mesti dipersiapkan, misalkan sbb :
a) Pemilihan Anggota Tim atau Tenaga Ahli
Geologist.
Geophysist.
Exploration Geologist.
Geochemist.
Operator Alat, dll.
b) Rencana Biaya
c) Pemilahan waktu yang tepat
d) Penyiapan Peralatan atau Perbekalan
Page 18

Peta Dasar.
Alat Surveying, Alat Ukur atau GPS.
Alat kerja (Palu, Alat Geofisika, Kompas, Alat Sampling, Meteran, Altimeter, Kantong
sampel, Alat bor)
Alat Tulis.
Alat Komunikasi.
Keperluan sehari - hari.
Obat - obatan atau P3K.
e) Sesampai di Lapangan :
Membuat base camp (perkemahan).
Mencek peralatan atau perbekalan.
Melakukan quick survey di daerah penelitian untuk menentukan langkah-langkah
lebih lanjut.
Menentukan evaluasi rencana dan perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan
sebenarnya (bila perlu).

F. Kegiatan Eksploitasi

Eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan


galian dan memanfaatkannya. Kegiatan ini dapat dibedakan berdasarkan sifat bahan
galiannya yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.
Eksploitasi berasal dari bahasa Inggris, eksploitasi adalah politik pemanfaatan,
eksploitasi adalah untuk kepentingan ekonomi atau kesejahteraan. Ekspolitasi sumberdaya
alam berarti mengambil dan menggunakan sumber daya alam itu untuk tujuan pemenuhan
kebutuhan hidup manusia.
Eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan lingkungan akan mengancam
keberlajutan dan ketersedian sumber daya alam itu. pasal 33 ayat (3) Undang - undang
Dasar 1945 menggariskan bahwa Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Salah satu asas penting dalam pemanfaatan kekayaan alam dalam pembangunan
Indonesia adalah pengutamaan pengelolaan sumber daya alam yang dapat diperbarui. Oleh
karena itu, agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi
sumber daya alam harus disertai dengan tindakan perlindungan.

Page 19

Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang
rasional antara lain sebagai berikut:
a) Memanfaatkan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui denganhati-hati dan efisien,
misalnya: air, tanah, dan udara.
b) Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran)
c) Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien,serta pendaurulangan (recycling)
d) Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara damai dengan alam

Eksploitasi alam terjadi karena kebutuhan manusia yang tidak terbatas.dimasa modern
seperti saat ini kebutuhan manusia akan sumber daya alam sangatlah tinggi. Padahal tanpa
mereka sadari eksploitasi yang mereka lakukan itu telah merusak lingkungan tempat mereka
hidup sendiri. Salah satu faktor yang mendorong eksploitasi ini terjadi adalah kebutuhan
manusia yang tidak terbatas. Selain itu faktor ekonomi sangatlah berpengaruh penting dalam
usaha eksploitasi alam ini. Eksploitasi alam seperti pertambangan batu kapur di daerah
padalarang adalah salah satunya, kebutuhan akan bahan mentah odol, semen dll.
Menjadikan gunung kapur itu sebagai lahan pengeruk rupiah yang cukup menjanjikan,
selain karena faktor masyarakat sekitar yang menggantungkan kehidupan mereka dari hasil
pengolahan tambang batu kapur tersebut.

I. Pertambangan & Karakteristik Desa Pertambangan


Pada umumnya jika kita berbicara masalah desa, maka secara tidak langsung kita akan
membahas masyarakat pertanian. Hal ini karena mayoritas masyarakat desa bekerja dalam
sektor pertanian. Sebagaimana diungkapkan oleh Wibberly dalam Tjondronegoro (1999 :
59) yang mendefinisikan desa sebagai suatu negeri yang memperlihatkan penggunaan tanah
yang luas sebagai ciri penentu, baik pada waktu sekarang maupun beberapa waktu yang
lampau. Jadi pedesaan merupakan kesatuan wilayah yang diorganisir dengan wewenang
otonomi untuk mengatur masyarakat dan wilayah yang dibatasi serta menggambarkan
penggunaan tanahnya untuk kehidupan pertanian, peternakan dan perikanan.
Selain identik dengan pertanian kita juga bisa melihat desa dari segi masyarakat yang
tinggal di daerah pedesaan dan dikategorikan sebagai masyarakat yang masih hidup dalam
suasana dan arah pemikiran pedesaan. Biasanya mereka pekerja, berbicara, berpikir dan
melakukan kegiatan apapun selalu mendasarkan diri pada apa-apa yang biasanya berlaku di
daerah pedesaan (Siswopangripto dan Sastrosupono, 1984:20).

Page 20

Pada umumnya desa-desa di Indonesia dikelompokkan menjadi beberapa jenis.


Berdasarkan pengertian administratif, kita dapat menjumpai berbagai jenis desa, misalnya
bila dilihat dari jenis tofografi ada desa pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi dan
pantai. Berdasarkan usahanya, ada desa petani sawah menetap, kampung peladang
berpindah-pindah, desa perkebunan rakyat dan desa nelayan. Namun ada juga desa yang
mengadakan usaha spesifik misalnya desa penghasil buah-buahan, desa industri kapur,
genting, desa kerajinan tangan dan sebagainya. Tetapi satu ciri yang mereka memiliki
banyak biasanya masih ada (Tjondronegoro, 1999:19).
Desa-desa yang memiliki usaha spesifik sebagaimana disebutkan diatas jumlahnya
sangat sedikit, karena pada umumnya desa-desa di Indonesia berada dalam sektor pertanian.
Salah satu desa yang tergolong dalam desa pemilik usaha spesifik adalah desa
pertambangan. Jumlah desa yang bergerak dalam bidang pertambangan di Indonesia
memang sangat sedikit, hal ini karena potensi sumber daya alam berupa bahan galian
tambang hanya tersebar pada daerah-daerah tertentu saja. Sehingga tidak semua daerah
sumber daya alamnya dapat dijadikan sebagai bahan galian tambang.
Pertambangan pada hakikatnya merupakan upaya pengembangan sumber daya alam
mineral dan energi yang potensisal untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi
kepentingan dan kemakmuran rakyat, melalui serangkaian kegiatan eksplorasi,
pengusahaan, dan pemanfaatan hasil tambang. Upaya tersebut bertumpu pada
pendayagunaan berbagai sumber daya, tertutama sumber daya alam mineral dan energi,
didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta kemampuan manajemen (Ruchiyat, 1980: 162).
Pengolahan dalam bidang pertambangan berbeda halnya dengan pertanian yang
ditentukan oleh musim. Selama sumber bahan galian masih tersedia di alam maka
eksploitasi terhadap sumber daya alam tersebut terus dilakukan. Oleh karena itu etika
lingkungan sangat diperlukan sebagai pengendali dalam pelaksanaan kegiatan
pertambangan. Etika lingkungan merupakan petunjuk atau perilaku praktis manusia dalam
mengusahakan terwujudnya moral lingkungan. Melalui etika lingkungan, kita tidak saja
mengimbngi hak dengan kewajiban terhadap lingkungan tetapi etika lingkungan juga
membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap
berada dalam bata kepentingan hidup kita (Soerjani, 1987 : 15).

Page 21

J. Keterkaitan Eksploitasi Dengan Penyimpangan Sosial


Dari penjelasan diatas bahwa eksploitasi ada keterkaitanya dengan penyimpangan sosial.
Kegiatan penambangan ini disatu sisi menjadi penghasilan utama masyarakat/para
penambang batu kapur tetapi di lain sisi aktifitas penambangan yang berlebihan ini tanpa
disadari telah mengakibatkan kerusakan alam yang berakibat pada kelangkaan sumber daya
alam seperti: berdasarkan penuturan masyarakat sekitar daerah penambangan batu kapur di
sana sering terjadi kesulitas mendapatkan air tanah ketika musim kemarau, polusi udara
akibar dari aktifitas pembakaran dan pengolahan batu kapur, hilangnya daerah resanpan air,
dan menyebabkan dearah tersebut menjadi rawan bencana alam.
Akhirnya dari kerusakan alam ini akan berdampak kembali kepada masyarakat itu
sendiri. Dan tanpa disadari masyarakat penambang tersebut telah melakukan penyimpangan
sosial karena merugikan masyarakat banyak akibat dari rusaknya lingkungan, padahal
pemerintah daerah telah mengatur sebagaimana dalam perda no 10 tahun 2010 Tentang
Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara Poin a: Bahwa mineral dan batu
bara merupakan potensi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, sehingga
pengelolaannya perlu dilakukan secara beryada guna, bertanggung jawab, berwawasan
lingkungan, berkelanjutan, berdaya saing, efesien, guna menjamin pembangunan daerah
yang berkelanjutan, serta pemanfaatanya ditunjukan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan
rakyat. Namun dalam implemantasinya, penambangan yang dilakukan di daerah
padalarang tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Para penambang lebih
mengutamakan hasil tambang yang optimal dan terkesan berlebih karena tidak ada regulasi
pembatasan penambangan batu kapur yang jelas.

Page 22

K. Istilah Tambang Dalam Eksploitasi


Penyiapan Tambang ( Mine Development )
Tahap kegiatan untuk menyiapkan prasarana dan sarana yang akan diperlukan pada
tahap kegiatan penambangan.
Eksploitasi ( Exploitation )
Penggatian endapan bahan galian dari kulit bumi secara ekonomis dengan
menggunakan sistem penambangan tertentu.
Batuan Samping ( Country Rock )
(1) Batuan yang mengelilingi massa intrusi batuan beku atau urat bijih;(2) batuan yang
tidak mengandung mineral berharga (berkadar rendah) yang mengelilingi tubuh bijih.
Mineral Ikutan ( Accessory Mineral; Gangue Mineral )
Mineral pembentuk batuan hasil kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah relatif
sedikit (kurang dari 5%), ada tidaknya mineral tersebut dalam batuan tidak berpengaruh
dalam penentuan nama batuan, msl. apatit, zirkon, magnetit, rutil, dan sebagainya.
Limbah ( Waste )
Zat padat, cair, atau gas yang dibuang, diemisi, atau diendapkan pada lingkungan hidup
dalam jumlah tertentu yang dapat menyebabkan perubahan kualitas lingkungan hidup.
Mineral Urat ( Vein Mineral )
Mineral-mineral yang mengisi atau membentuk urat.
Urat Bernas ( Oreshoot )
Bagian dari urat bijih yang memiliki konsentrasi bijih lebih kaya dari sekelilingnya.
Endapan Berlapis ( Bedded Deposit )
Endapan bijih yang letaknya relatif datar dan sejajar dengan perlapisan batuan
induknya.
Singkapan ( Out Crops )
Bagian dari satuan batuan atau bahan galian berharga yang tersingkap di permukaan
bumi.
Apungan ( Float )
Potongan-potongan lepas dari batuan atau bijih yang terdapat pada atau dekat
permukaan tanah, atau dasar sungai; dapat digunakan sebagai petunjuk adanya
mineralisasi; sin. Serpihan.

Page 23

Lapisan Penutup ( Overburden )


Lapisan tanah atau batuan yang berada di atas dan langsung menutupi lapisan bahan
galian berharga sehingga perlu disingkirkan terlebih dahulu sebelum dapat menggali
bahan galian berharga itu.
Batuan Berlapis ( Bedded Rock )
Batuan sedimen yang terdiri dari beberapa lapisan batuan.
Batuan Dasar ( Bedrock; Base Rock )
Batuan yang berada langsung di bawah lapisan batuan yang ekonomis untuk ditambang;
sin. batuan landas.
Dinding Atas ( Hanging Wall )
Batuan yang terletak di atas endapan bijih atau urat bijih yang miring.
Dinding Bawah ( Foot Wall )
Batuan yang terletak di bawah endapan bijih atau urat bijih yang miring.
Miring,Kemiringan ( Dip; Grade; Slope )
(1) sudut yang dibentuk antara bidang perlapisan batuan dengan bidang horizontal; (2)
besarnya kenaikan atau penurunan jalan/lereng untuk setiap jarak horizontal 100 m (ft),
dinyatakan dalam %; (3) sudut yang dibuat antara bidang horizontal dengan bidang
aliran material pada suatu alat pengolahan bahan galian, dinyatakan dalam derajat.
Jurus ( Strike )
Garis perpotongan antara bidang perlapisan dan bidang horizontal yang dinyatakan
dalam arah azimut dan tegak lurus terhadap arah kemiringan (dip).
Terowongan ( Tunnel )
(1) lubang bukaan mendatar atau hampir mendatar yang menembus kedua lereng bukit;
(2) lubang bukaan yang berada di bawah tanah atau air, kedua ujungnya berhubungan
langsung dengan udara luar.
Terowongan Buntu ( Adit, )
Jalan masuk utama ke tambang bawah tanah, berupa terowongan buntu yang dibuat
mendatar dan menghubungkan tempat bawah tanah dengan udara luar atau permukaan
bumi; sin. terowongan buntu.
Terowongan Silang ( Cross Cut )
Terowongan atau jalan dalam tambang bawah tanah yang menyilang jurus cebakan atau
urat.

Page 24

Lorong Angkut ( Haulage Drift )


Lubang bukaan yang relatif mendatar pada tambang bawah tanah yang dipergunakan
untuk pengangkutan bijih berai.
Lorong Angkut Utama ( Main Haulage Way )
Jalan utama pada tambang bawah tanah yang berfungsi untuk pengangkutan bijih berai.
Lorong Naik ( Raise )
Lubang bukaan miring atau tegak di tambang bawah tanah yang digali dari paras (level)
bawah menuju ke paras diatasnya (lihat juga lorong turun).
Lorong Turun ( Winze )
Lubang bukaan tegak atau miring di tambang bawah tanah yang digali dari paras (level)
atas menuju ke paras dibawahnya.
Sumuran Buntu ( Blind Shaft )
Sumuran pada tambang bawah tanah yang tidak berhubungan langsung dengan udara
luar lihat juga sumuran tegak; sin. sumuran buta.
Lombong ( Stope )
Lubang bukaan dalam tambang bawah tanah tempat penambangan berlangsung.
Lopak ( Sump )
Sumuran dangkal tempat penampungan air atau lumpur yang bersifat sementara di
dalam tambang sebelum dipompa ke luar; sin. pelimbahan; ceruk.
Pelombongan Terbuka ( Open Stope )
Cara pelombongan pada cebakan bijih dan batuan samping yang kuat sehingga tidak
memerlukan penyangga buatan; hanya bila diperlukan dapat ditinggalkan sebagian kecil
bijih sebagai pilar-pilar.
Kribing ( Cribbing )
Penyangga kayu yang terdiri atas susunan balok kayu persegi panjang yang yang
dipasang secara beraturan menutupi dinding sumuran.
Muka,Permuka Kerja ( Face; Front, )
Permukaan batuan atau bahan galian yang sedang digali (ditambang); sin. medan kerja.
Sumuran Kombinasi ( Combination Shaft )
Lenis sumuran yang merupakan kombinasi sumuran tegak dan sumuran miring,
berfungsi sebagai jalan keluar masuk utama ke tambang bawah tanah.

Page 25

Batuan Tudung ( Cap Rock )


Batuan kurang telap berstruktur cembung yang menutupi batuan waduk atau akuifer
Pasca Tambang ( Post Mining )
Pasca tambang adalah masa setelah berhentinya kegiatan tambang pada seluruh atau
sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi, baik karena
berakhirnya izin usaha pertambangan dan atau karena dikembalikannya seluruh atau
sebagian wilayah usaha pertambangan eksploitasi/operasi produksi.
Tiang ( Posts )
Bagian dari sistem penyanggaan yang dipasang tegak atau agak miring pada tambang
bawah tanah.
Penyanggaan Tunggal ( One Piece Set )
Sebutan untuk sebatang balok kayu yang digunakan untuk penyanggaan tambang
bawah tanah ditempat yang rawan ambruk; sin. Prop.

Page 26

BAB III
3.1 PENUTUP

3.1.1 KESIMPULAN
Dengan potensi bahan galian yang luar biasa Indonesia harus memiliki tenaga ahli
yang menguasai dalam bidang kegiatan utama pertambangan yaitu eksplorasi dan
eksploitasi agar dapat memanfaatkan potensi ini dengan semaksimal mungkin . Akan tetapi
dimanfaatkan di sini bukan berarti menguras habis sumberdaya alam yang tersedia namun
kita juga harus bisa memberdayakanya untuk anak cucu kita kelak dimasa yang akan datang.
Eksplorasi dan eksploitasi yang berlebihan dapat menimbulkan bencana alam yang
sangat dasyat, contohnya seperti tanah longsor,subsidence, gempa bumi (lokal) dan bencana
- bencana lainya yang tentunya bisa membahayakan kehidupan manusia dimuka bumi ini.
Telah banyak contoh yang kita dapatkan dimuka bumi Indonesia ini. Penambangan
liar yang mengabaikan keselamatan dan kelestarian lingkungan benar-benar merugikan bagi
semua pihak, pihak yang berkecimpung langsung dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi
maupun pihak pasif yaitu masyarakat yang berdada di sekitar lokasi penambangan.
Dengan menguasai teori eksplorasi dan eksploitasi serta memahaminya dengan baik,
diharapkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi akan dilakukan secara lebih bijak sehingga
ketakutan-ketakutan tadi sudah tak akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Hingga pada
saatnya datang dimana Indonesia bisa berjaya di dunia pertambangan, namun kelestarian
lingkungan negeri ini tetap terjaga.

3.1.2 SARAN
Dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi diharapkan tiap perusahaan
menaati standar operasional yang dibuat dan lebih mengutamakan keselamatan bekerja.
Untuk para tenaga ahli lapangan dan perusahaan agar lebih berhati - hati dan tidak
mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Dan tetap memerhatikan analisis
dampak lingkungan demi kebaikan bumi di masa depan.

Page 27

DAFTAR PUSTAKA
http://www.kabarsaham.com/2011/pengeboran-migas-sulbar-mulai-temukangelembung.html
diakses tanggal 15 Oktober 2014
Sukandarrumidi. (1999). Bahan Galian Industri. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
http://rachmatrisejet.blogspot.com/2013/07/tahapan-kegiatan-eksplorasi-tambang.html
diakses tanggal 15 Oktober 2014
http://muhammadrabbil.wordpress.com/2013/01/01/tahapan-kegiatan-eksplorasi-teknikpertambangan/
diakses tanggal 15 Oktober 2014
https://www.scribd.com/doc/71211760/Aplikasi-Geostatistik-Dalam-Bidang-Geologi
diakses tanggal 15 Oktober 2014

Page 28