Anda di halaman 1dari 2

Anemia pada penyakit kronis merupaka anemia normokromik, normositik yang masuk ke

karakterisktik anemia ringan sampai sedang. Pasien pada kondisi tersebut memiliki jumlah retikulosit
rendah yang menunjukkan produksi sel darah merah yang menurun. Diagnosis definitif dapat
disebabkan oleh kehilangan darah, efek dari pengobatan atau dapat karena gangguan sintesis
hemoglobin seperti pada talasemia. Penilaian anemia pada penyakit kronis juga harus disertakan
dengan penentuan status besi dalam tubuh ( berkaitan dengan anemia defisiensi besi. Perbedaan antara
anemia penyakit kronis dengan anemia defisiensi besi adalah anemia defisensi besi disebabkan oleh
berkurangnya zat besi dalam tubuh sedangkan patofisiologi anemia pada penyakit kronis multifaktorial.
Anemia pada penyakit kronis dan anemia defisiensi besi keduanya sama-sama memiliki
konsentrasi besi dan transferrin menurun. Selain itu ditemukan defisiensi besi dan hipoferremia untuk
anemia pada penyakit kronik. Dalam kasus anemia pada penyakit kronik ini, penurunan saturasi
transferrin terutama mencerminkan penurunan kadar besi serum. Pada anemia defisiensi saturasi
transferrin bisa saja menurun dikarenakan konsentrasi transferin serum meningkat. Sebaliknya pada
anemia pada penyakit kronis kadar transferin dapat normar atau menurun.
Pada penelitian untuk menemukan sebab yang mendasari defisiensi besi harus melalui
anamnesis asumsi makan. Seringkali defisiensi besi mengindikasikan kehilangan darah yang patologik
seperti pada menstruasi, kanker gastrointestinal dan infeksi parasit.
Ferritin digunakan sebagai penanda dari penyimpanan besi dan kadar ferritin 15 nanogram/ml
secara umum mengindikasikan kehilangan simpanan besi. Kadar ferritin 20 nanogram/ml memberikan
nilai predikisi yang lebih baik untuk anemia defisiensi besi (92-98 % pada study kasus dalam beberapa
penelitian sebelumnya). Untuk pasien dengan anemia pada penyakit kronis, kadar ferritin normal atau
dapat meningkat, hal tersebut mencerminkan peningkatan penyimpanan dan retensi besi dalam system
retikuloendotelial, disertai dengan peningkatan kadar ferritin yang mengarah ke aktivasi imun.
Reseptor transferrin larut adalah potongan fragmen dari membran reseptor yang meningkat
pada defisiensi besi, ketika ketersediaan zat besi untuk eritropoeisis menurun. Sebaliknya, kadar dari
reseptor transferrin larut dalam anemia pada penyakit kronik tidak jauh berbeda dari keadaaan normal
karena adanya pengaruh negatif dari sitokin. Penentuan kadar dari reseptor transferin larut dengan cara
tes yang tersedia yang dapat membantu untuk pembagian pasien dengan penyakit kronis saja ( dengan
tingakat ferritin normal atau tinggi dan rendahnya tingkat reseptor larut) dan pasien dengan anemia
penyakit kronis dengan defisiensi zat besi yang menyertainya (dengan tingkat ferritin rendah dan tingkat
tinggi reseptor transferin larut)
Dibandingkan dengan pasien yang mengidap anemia pada penyakit kronis saja, pasien dengan
anemia pada penyakit kronis dan anemia defisiensi besi lebih banyak memiliki mikrosit dan anemianya
cenderung lebih parah. Perbandingan dari konsentrasi reseptor transferrin larut dengan kadar log
ferritin akan dapat membantu dalam pemeriksaan. Perbandingan yang kurang dari 1 menunjukkan
adanya anemia pada penyakit kronis sedangkan perbandingan yang lebih dari 2 menunjukkan adanya
anemia defisiensi besi dengan disertai dengan anemia pada penyakit kronis. Penentuan presentasi sel

hipokromik atau retikulosit juga dapat berguna dalam mendeteksi jumlah besi pada pasien dengan
anemia pada penyakit kronis.
ERITROPOIETIN
Pengukuran kadar eritropietin hanya berguna untuk pasien anemia dengan kadar hemoglobin dibawah
10 g/dl karena kadar eritrpoietin masih normal pada konsentrasi hemoglobin yang tinggi.Interpretasi
dari kadar eritropietin pada pasien anemia pada penyakit kronik dengan kadar hb yg kurang dari 10 g/dl
harus ditegakkan untuk dapat mengetahui derajat dari anemia yang diderita. Kadar eritropoietin yang
telah di analisis nantinya akan digunakan untuk menilai pengaruh dari terapi pemberian agen
eritropoietik pada pasien anemia pada penyakit kronik. Setelah terapi dengan mengggunakan
epoetin selama 2 minggu, kadar serum yang lebih dari 100 u/l atau kadar ferritin yang lebih dari 400
ng/ml memprediksikan respon atau pengaruh yang sangat kurang pada 88 % pasien dengan kanker yang
tidak menerima kemoterapi pada waktu yang bersamaan. Beberapa prediktor juga tidak berfungsi pada
pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Jarang sekali perubahan kadar hemoglobin atau jumlah
retikulosit mengindikasikan suatu pengaruh dari terapi dengan epoetin.