Anda di halaman 1dari 23

Artikel / Brita Tentang Lapangan Kerja,

Tenaga Kerja, dan Pengangguran Serta


Kaitannya Dengan Program Pendidikan

Ilham Akbar Santoso / 125524021

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
2014

5 Masalah tenaga kerja dan lapangan kerja di Indonesia


Tenaga kerja dan lapangan pekerjaan masih menjadi bahasan yang menarik di
Indonesia. Terlebih jika dikaitkan dengan bonus demografi yang seharusnya
punya potensi dan peran besar dalam pembangunan ekonomi nasional.
Hampir setiap tahun, tenaga kerja atau buruh di Indonesia selalu turun ke jalan.
Masalah yang dibawa selalu sama yakni soal kesejahteraan. Mereka selalu
menuntut kesejahteraan yang lebih baik. Padahal, setiap tahun pemerintah selalu
menaikkan upah minimum provinsi (UMP) yang dijadikan rujukan menentukan
besaran upah bagi buruh. Tapi kenyataannya, buruh selalu meminta kenaikan gaji
yang lebih besar.
Persoalan terkait ketenagakerjaan tidak hanya terjadi di sumber daya manusia
(SDM). Hasil kajian Bank Dunia dan CSIS memberi gambaran nyata mengenai
persoalan dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Tingginya angka tenaga kerja
tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Akibatnya, angka
pengangguran di Indonesia masih tergolong cukup tinggi.
Dari hasil kajian Bank Dunia dan LIPI soal ketenagakerjaan di Indonesia,
merdeka.com mencoba merangkum lima permasalahan yang menjadi pekerjaan
rumah bagi pemerintah dan pelaku usaha. Berikut paparannya.

1. Outsourcing merana
Pekerja alih daya atau outsourcing di Indonesia diyakini sangat jauh dari
sejahtera. Gaji mereka saja rata rata berbeda 30 persen dibandingkan karyawan
kontrak di perusahaan yang sama.
Kepala Kajian Pekerjaan Layak LIPI Nawawi Asmat mengatakan, itu terjadi
lantaran pengawasan pemerintah yang sangat lemah. Kondisi ini berbeda dengan
Jepang,

di

mana

karyawan

outsourcing

di

sana

sangat

sejahtera.

"Indonesia semakin kompleks masalah outsourcing. Jepang ideal sekali dan sangat
dilindungi UU nya. Pemerintah Jepang konsen dengan itu. Upah mereka tidak
berbeda jauh berstatus kontrak atau tetap," ucap Nawawi di Gedung LIPI, Jakarta,
Kamis (16/1).

2. Digaji kecil
Masyarakat miskin di Indonesia tidak hanya dari kalangan pengangguran atau
pendidikan rendah. Hasil kajian LIPI menyebutkan, sekitar 43,67 persen pekerja
Indonesia saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Ini terjadi lantaran
kecilnya upah dan tingginya harga barang.
Kepala Kajian Pekerjaan Layak LIPI Nawawi Asmat mengatakan dalam
penelitiannya pada Februari 2012 silam, 57 persen pekerja informal dan 26,2
persen

pekerja

formal

masih

berada

di

bawah

garis

kemiskinan.

"Sehingga total pekerja kita hidup di bawah garis kemiskinan 43,67 persen," ucap
Nawawi di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (16/1).
Pekerja yang disurvei berasal dari pelbagai bidang. Semisal pertanian,
pertambangan, industri, bangunan, perdagangan, angkutan, keuangan, jasa dan
lainnya. Rata rata gaji pekerja formal hanya Rp 1.227.109. Sedangkan untuk
informal hanya Rp 779.812.

3. Lapangan kerja tak sesuai pendidikan


Persoalan pengangguran di Indonesia dipicu tiadanya kesesuaian antara jenjang
pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja. Kondisi ini memicu tenaga kerja
terdidik,

justru

mengambil

lahan

pekerjaan

kelompok

tidak

terampil.

Data itu disampaikan oleh Ekonom Senior Bank Dunia Vivi Alatas, dalam diskusi
bertajuk 'Masalah Ketenagakerjaan: Perbaikan Untuk Semua Pihak' yang digelar
di Center of Strategic and International Studies, Jakarta, Kamis (16/1).
Berdasarkan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), lulusan pendidikan
tinggi baru 5 persen dari total angkatan kerja. Alhasil, mayoritas pasar buruh diisi
oleh alumnus pendidikan dasar dan menengah. Masalahnya, kata Vivi, para warga
usia

muda

kesulitan

mengakses

informasi

soal

lapangan

pekerjaan.

Akhirnya, banyak lulusan SMA bersedia melakoni pekerjaan yang seharusnya


diperuntukkan untuk lulusan SD dan SMP. "Sekitar 20 persen lulusan SMA rela
bekerja di sektor tanpa keterampilan, 65 persen semi-skilled," kata Vivi.
Fenomena ini imbas dari kegagalan lulusan pendidikan tinggi, khususnya para
sarjana, yang juga menganggur dan akhirnya mengambil jatah lulusan SMA.
Jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur saat ini lima kali lipat

pengangguran dewasa. Menurut Vivi, situasi ini sudah tidak sehat, apabila
dibandingkan dengan mayoritas negara lain berpenghasilan menengah seperti
Indonesia.

4. Akses informasi lapangan kerja sulit


Bank Dunia menyoroti fenomena lapangan kerja di Indonesia yang tidak sesuai
antara kebutuhan pencari kerja dengan pengusaha sebagai pemberi kerja.
Fenomena ini disinyalir muncul akibat ketimpangan informasi, terutama di
kalangan anak muda yang baru lulus sekolah.
Ekonom Senior Bank Dunia Vivi Alatas mengatakan, 60 persen angkatan kerja
muda terlalu mengandalkan model getok tular alias informasi dari hasil obrolan
dengan teman atau keluarga.
"Ini menandakan adanya kesulitan angkatan kerja untuk mengakses informasi soal
pasar kerja," ujarnya di sela-sela diskusi ketenagakerjaan yang digelar Center for
Strategic and International Studies, Jakarta, Kamis (16/1).
Kondisi ini, idealnya harus dijembatani oleh pemerintah maupun pemberi kerja.
Sebab, ketidaktahuan cara mencari kerja bukan cuma dialami lulusan SD atau
SMP, melainkan juga SMA hingga sarjana.

5. Ketrampilan tenaga kerja rendah


Pemerintah wajib memediasi institusi pendidikan dan pengusaha. Dalam hal ini,
wajib ada pelatihan di luar bursa kerja untuk menambah keterampilan generasi
muda yang baru lulus sekolah.
"Indonesia harus mendorong diadakannya pelatihan keterampilan dari pemberi
kerja. Untuk kebijakan seperti ini, kita kalah dari Filipina atau China," Ekonom
Senior Bank Dunia Vivi Alatas.
Hal ini masih ditambah adanya kekurangan mendasar dari mayoritas tenaga kerja
di Indonesia. Kebanyakan mereka hebat dan tekun dalam hal teknis pekerjaan,
tapi

menurut

Vivi

lemah

dalam

keterampilan

lunak

(soft

skill).

"Dari data, kebanyakan tenaga kerja terampil kita kurang di kecerdasan sikap,
kemampuan Bahasa Inggris, serta pengoperasian komputer," ungkapnya.

Data BPS
Merdeka.com - Masalah pengangguran dan tenaga kerja di Indonesia masih
menjadi persoalan yang perlu disikapi secara serius. Terlebih, dari data yang
disampaikan Bank Dunia, kawasan Asia Timur memiliki tantangan besar terkait
meluasnya pengangguran.
"Pengangguran usia muda yang tinggi, kesenjangan yang meluas dan keterbatasan
keterampilan menjadi masalah yang mendasar," ujar Wakil Presiden Bank Dunia
Asia Timur dan Pasifik, Axel van Trotsenburg saat konferensi pers terkait
perekonomian Indonesia dan Asia Timur saat berkunjung ke Jakarta beberapa
waktu lalu.
Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data mengenai kondisi tenaga kerja
di Indonesia. Angkatan kerja Indonesia per Februari 2014 mencapai 125,32 juta
orang. Angka ini meningkat jika dibandingkan angkatan kerja Februari 2013 yang
hanya 123,64 juta orang.
Kelompok angkatan kerja adalah penduduk yang masuk dalam usia kerja yaitu 15
tahun ke atas. Kepala BPS Suryamin mengatakan, dari jumlah angkatan kerja
tersebut, sebanyak 118,17 orang bekerja dan sisanya 7,15 juta orang menganggur.
Dari data BPS angka pengangguran di Indonesia turun tipis. "Struktur dari 125,3
juta orang itu sekitar 7,15 juta diantaranya masih mencari pekerjaan. Jadi tingkat
pengangguran 7,15 juta orang. Dalam satu tahun jumlah pengangguran berkurang
50.000 orang," ucap Suryamin dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin
(5/5).
Jumlah pengangguran di Indonesia memang menurun. Tapi ironinya, jumlah
pengangguran terdidik di Indonesia semakin banyak. hal itu juga sekaligus
menggambarkan kondisi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia. "Pengangguran
memang menurun dari 7 persen dua tahun lalu, sekarang 6 persen. Tapi komposisi
pengangguran terdidik itu semakin tinggi," ujar Ketua Komite Tetap Sertifikasi
Kompetensi Tenaga Kerja Kadin Sumarna F Abdurrahman belum lama ini.

Bank Dunia sempat menyarankan agar negara di kawasan ini membuat kebijakan
untuk menjaga stabilitas makro ekonomi sekaligus mendorong terciptanya usaha
kecil dan menengah, sektor yang banyak digeluti oleh penduduk Asia Timur.
Selain itu perlu juga memperluas cakupan pekerjaan formal untuk meningkatkan
perlindungan risiko kerja dan perlindungan sosial serta mempertahankan
pertumbuhan.
Merdeka.com mencatat beberapa fakta seputar kondisi tenaga kerja dan
pengangguran di Indonesia. Berikut paparannya.

1.Banyak lulusan SMA jadi pengangguran


Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data pengangguran terbaru
di Indonesia per Februari 2014. Dari data tersebut, pengangguran di Indonesia
didominasi oleh lulusan SMA.
Lulusan SMA yang menganggur mencapai 9,10 persen dari total penganggur di
Indonesia per Februari 2014 yang mencapai 7,15 juta orang. Persentase
pengangguran lulusan SMA menurun dibanding periode yang sama tahun lalu
yang mencapai 9,39 persen.
Kepala BPS Suryamin mengatakan tingkat pengangguran tertinggi kedua di
Indonesia adalah lulusan SMP, mencapai 7,44 persen.
"Jika dibandingkan keadaan Februari 2013, tingkat pengangguran terbuka pada
semua tingkat pendidikan mengalami penurunan kecuali pada tingkat SD ke
bawah dan Diploma," ucap Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (5/5).
Dari data BPS, tingkat pengangguran paling kecil berasal dari lulusan SD. Hanya
3,69 persen dari total seluruh pengangguran. Sedangkan tingkat pengangguran
terkecil kedua adalah lulusan universitas dengan persentase hanya 4,31 persen.

2.Banyak pekerja di Indonesia lulusan SD


Merdeka.com - Data BPS per Februari 2014, jumlah orang yang bekerja di
Indonesia mencapai 118,17 orang. Sedangkan pengangguran mencapai 7,15 juta
orang menganggur.
Kepala BPS, Suryamin mengatakan, angkatan kerja Indonesia masih didominasi
lulusan SD. Dari 118,17 juta orang yang bekerja, 55,3 juta orang atau 46,80
persen berasal dari lulusan SD.
"Pekerja lulusan SMP terbanyak kedua sebesar 21,1 juta orang atau 17,82 persen,"
ucap Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (5/5).
Suryamin menyebut jumlah angkatan kerja lulusan SD turun jika dibandingkan
Februari tahun lalu. Februari 2013 jumlah pekerja lulusan SD mencapai 56,49
juta.
Sejalan dengan turunnya pekerja lulusan SD, kata Suryamin, jumlah pekerja
lulusan universitas mengalami peningkatan. Per Februari 2014, pekerja lulusan
universitas tercatat mencapai 8,85 juta orang. Angka ini naik dibanding Februari
2013 yang hanya 8,07 juta orang.
Hal serupa juga terjadi pada jumlah pekerja lulusan SMA yang naik menjadi
18,91 juta orang dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 17,95 juta
orang. Sedangkan jumlah pekerja lulusan Diploma sedikit menurun dari 3,25 juta
orang di Februari 2013 menjadi 3,13 juta orang Februari 2014.
"Dalam setahun terakhir, penduduk bekerja berpendidikan rendah menurun 76,8
juta orang. Sementara penduduk bekerja berpendidikan tinggi meningkat 11,3 juta
orang atau 9,72 persen," tutupnya.

3. Lapangan kerja pertanian ditinggalkan


Merdeka.com - Dengan predikat sebagai negara agraris, Indonesia justru belum
memaksimalkan peran sektor pertanian. Bahkan sektor ini mulai terpinggirkan.

Salah satu indikatornya terlihat dari data terbaru yang dilansir Badan Pusat
Statistik (BPS) mengenai struktur lapangan pekerjaan Indonesia hingga Februari
2014.
Dalam data tersebut, lapangan pekerjaan sektor pertanian konsisten ditinggalkan
masyarakat. Pada Februari 2012 jumlah masyarakat bekerja sektor pertanian
mencapai 42,36 juta orang. Setahun kemudian atau Februari 2013, jumlah pekerja
ini turun hingga hanya 41,11 juta orang. Per Februari 2014, pekerja sektor
pertanian tinggal 40,83 juta orang.
Sejalan dengan itu, lapangan kerja yang terus meningkat jumlah pekerjanya dalam
3 tahun terakhir adalah lapangan kerja sektor industri, konstruksi, perdagangan,
transportasi, keuangan, serta jasa kemasyarakatan.
Kepala BPS Suryamin menuturkan, jumlah penduduk yang bekerja mengalami
kenaikan pada hampir semua sektor. Terutama sektor jasa kemasyarakatan
meningkat sebanyak 640.000 dalam satu tahun terakhir.
"Sektor perdagangan bertambah 450.000, sektor industri bertambah 390.000
orang. Sedangkan mengalami penurunan hanya sektor pertanian sebanyak
280.000 orang berkurang dibanding tahun lalu," tutupnya.

4.SDM tak berkualitas


Merdeka.com - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia,
Suryo B. Sulisto menyoroti kondisi tenaga kerja di Indonesia yang semakin
memprihatinkan. Masalah paling krusial dihadapi saat ini adalah jumlah penduduk
yang terus meningkat dalam 10 tahun terakhir namun tidak dibarengi dengan
tersedianya lapangan kerja.
Menurut pria yang akrab disapa SBS ini, program Keluarga Berencana (KB) tidak
lagi berjalan. Di lain pihak jumlah penyerapan tenaga kerja dalam negeri tidak
berkembang bahkan cenderung menurun.

"Ini ada keprihatinan yang serius dalam hal tenaga kerja khususnya pada sumber
daya manusia pada umumnya," ucap SBS dalam seminar di Kementerian
Perindustrian, Jakarta, Rabu (30/4).
Kualitas

tenaga kerja di Indonesia diragukan, sehingga lahir banyak

pengangguran. Ketua Komite Tetap Sertifikasi Kompetensi Tenaga Kerja Kadin


Sumarna F Abdurrahman mengakui, saat ini ada missmatch antara kualitas
pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan pengusaha. Kualitas pendidikan tidak
menyiapkan lulusannya untuk bekerja.
Sumarna berujar, banyak pengusaha yang akhirnya terpaksa merekrut pekerja
yang tidak kompeten. Ini dilakukan karena jumlah pengangguran terdidik di
Indonesia terus meningkat.

Kaitannya dengan Program Pendidikan


I. Pendahuluan
Setelah 49 tahun merdeka, bangsa Indonesia berhasil melaksanakan
pembangunan jangka panjang (25 tahun) tahap pertama, dan menciptakan
kerangka landasan bagi pembangunan jangka panjang tahap berikutnya.
Dalam era pembangunan jangka panjang tahap kedua diperkirakan terjadi
perubahan-perubahan mendasar di berbagai bidang kehidupan, yang sebelumnya
belum pernah tergambarkan. Diantara perubahan-perubahan tersebut ada yang
secara langsung akan bepengaruh terhadap pendidikan, misalnya pergeseran
struktur ekonomi dari agraris ke industri dan jasa. Pergeseran itu secara kait
mengkait akan berpengaruh pula terhadap kebutuhan tenaga kerja, baik
menyangkut jumlah maupun mutu mereka. Perubahan kebutuhan tenaga kerja
akan berpengaruh terhadap pendidikan.
Kenyataan menunjukan bahwa selama ini banyak lulusan pendidkkan
tidak atau belum tertampung di dalam dunia kerja. Jumlah mereka dari tahun
ketahun cenderung meningkat. Hal ini anatara lain disebabkan oleh pertambahan

lapangan kerja yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan pertambahan jumlah
lulusan

SLTP/SLTA/Pendidikan

Tinggi

dari

tahun

ke

tahun.

Kecilnya

pertambahan lapangan kerja berkaitan erat dengan laju pertumbuhan ekonomi,


yang saat ini berkisar antara 5%--7%.
Pada sisi lain terdapat pula sejumlah lapangan kerja yang sulit dipenuhi
oleh angkatan kerja yang ada. Hal ini berkaitan erat dengan adanya kesenjangan
antara jenis pengetahuan akademik maupun keahlian atau ketrampilan yang
dimiliki lulusan pendidikan dan kemampuan kerja yang dibutuhkan oleh dunia
kerja.

Kenyataan-kenyataan tersebut menunjukan bahwa ada kaitannya erat

antara pendidikan dan dunia kerja.


Sehubungan kaitan antara dan dunia kerja, ada beberapa masalah yang
perlu dikaji, misalnya pengertian siapPakai dan Siap Latih serta dampaknya,
pembinaan pendidikan pra kejuruan pendidikan dan pelatihan, dan program
pendidikan ketrampilan pra kejuruan (vocationalization of general education) di
SLTP/SLTA. Di samping itu, perlu dikaji pula permasalahan pengguruan dikaitkan
dengan pendidikan nasional.
Dalam masalah-masalah tersebut akan diperhatikan pula segi keterpaduan
langkah-langkah dari sektor-sektor yang terkait dengan pembinaan dan
pengembangan tenaga kerja lewat pendidikan atau pelatihan, seperti diamanatkan
di dalam GBHN 1989.
Lewat kajian masalah-masalah tersebut diharapkan dapat dihasilkan
rekomendasi tentang kebijakan penanganan latihan dan pendidikan, sesuai dengan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan amanat GBHN, yang mampu menjawab kebutuhan
tenaga kerja bermutu dari dunia kerja.

II. PERMASALAHAN
A. Siap Pakai atau Siap Latih
Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/1989 tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN), bab III,B,7 menyatakan bahwa pemberantasan
pengangguran dengan jalan memperluas kesempatan keja merupakan sasaran
penting bagi Pembangunan Jangka Panjang. Perluasan kesempatan kerja dan
pembinaan system pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga kerja yang
diperlukan untuk pembangunan harus dilaksanakan secara bersama dan serasi.
Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasonal menyatakan Pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau
latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Undang-Undang RI Nomor 1989 maupun GBHN 1989 menekankan tugas
pendidikan adalah menyiapkan peserta didik, entah untuk keperluan pembangunan
entah untuk peranan peserta didik yang seharusnya dicapai melalui pendidikan,
terdapat perbedaan pendapat dikalangan masyarakat, khususnya para pakar.
Pendapat yang satu mengatakan bahwa setelah melewati pendidikan peserta didik
harus siap pakai memasuki dunia kerja. Pendapat lainnya menyatakan bahwa
pendidikan tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja,
melainkan juga dan bahkan pertama-tama untuk mengembangkan pribadi peserta
didik. Karena itu cukup kalau lulusan pendidikan siap latih kembali (retrainable).
Pebedaan pendapat tersebut pada hakekatnya bersumber pada perbedaan
pemahaman mengenai peran dan fungsi pendidikan.
B. Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan
Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989, telah
terbit Peraturan Pemerintah (PP)) Nomor 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar
Sekolah. Di samping itu telah terbit pula PP Nomor 71 Tahun 1991 tentang

Latihan Kerja, yang merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang RI Nomor 14


Tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja.
Sebagai PP-PP tersebut terdapat ketentuan-ketentuan yang kurang tegas
dan tumpang tindih, sehingga dapat menimbulkan perbenturan dalam pelaksanaan
pembinaan pendidikan dan pelatihan, misalnya Pasal 22 ayat (2) PP Nomor 73
Tahun 1991 dan Pasal 3 serta Pasal 4 ayat (2) PP Nomor 71 Tahun 1991.
Sebelum Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 terbit, telah ada Keputusan
Presiden Nomor 34 Tahun 1972 tentang Tanggung jawab Fungsional Pendidikan
dan Latihan . Selain itu ada pula Instruksi Presiden nomor 15 Tahun 1974 tentang
Pokok-pokok Pelaksanaan Pembinaan Pendidikan dan Latihan. Kedua Peraturan
tersebut pada intinya menegaskan lingkup tugas dan tanggung jawab pembinaan
secara fungsional pendidikan dan pelatihan, yang diselenggarakan oleh
pemerintah maupun swasta. Menurut peraturan tersebut, Menteri Pendidikan dan
kebudayaan bertugas dan bertanggung jawab atas pendidikan umum dan kejuruan;
Menteri Tenaga Karja bertugas dan bertanggung jawab atas negeri, dan ketua
lembaga Administrasi Negara bertugas dan bertanggung jawab atas pembinaan
pendidikan dan latihan khusus untuk pegawai negeri (Pasal 1 Keppres Nomor 34
Tahun 1972)
Walaupun telah ada Keputusan Presiden, Instruksi Presiden dan
penjabaran, berupa Peraturan-peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
maupun surat edaran menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Tenaga
Kerja, serta dua Peraturan Pemerintah, namun pelaksanaan pembinaan pendidikan
dan pelatihan di lapangan oleh aparatur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
dan oleh Departemen Tenaga Kerja selama ini masih tumpang tindih dan simpang
siur, sebagai contoh kursus kecantikan, bahasa, MBA, dibina Departemen
Pendidikan dan kebudayaan maupun oleh Departeman Tenaga Kerja.
C. Kaitan antara pengangguran dan Sistem Pendidikan Nasional
Kenyataan selama ini menunjukan bahwa di satu sisi tersedia berbagai
jenis pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja tetapi kebutuhan tersebut tidak

terpenuhi, dan sisi lain banyak tenaga kerja berpendidikan yang mencari pekerjaan
tetapi tidak dapat memperolehnya, antara lain ketrampilan/ keahlian yang dituntut
oleh jenis pekerjaan yang tersedia.
Sebagai ilustrasi berikut ini gambaran mengenai rasio tarhadap lapangan
kerja di Bali 10 : 3:2, artinya untuk 10 orang pencari keraj tersedia lowongan
jabatan, dan hanya 2 jabatan yang dapat diisi oleh tenaga yang memenuhi
persyaratan (Kanwil Depnaker Bali).
Dari gambaran fakta tersebut dapat di simpulkan bahwa ada permasalahan
berikut:
(1) pertumbuhan lapangan kerja dari waktu ke waktu tidak sebanding dengan
pertambahan jumlah lulusan pendidikan yang mencari atau membutuhkan
pekerjaan;
(2) lulusan pendidikan kejuruan tidak memperoleh bekal ketrampilan kejuruan;
(3) lulusan pendidikan umum sama sekali tidak dibekali ketrampilan pra kejuruan.

III. ANALISIS PERMASALAHAN


A. Siap pakai atau Siap latih
Di dalam Undang-undang RI Nomor 2 Tahun 1989, pasal 11, dinyatakan
bahwa pendidikan terdiri dari beberapa jenis, antara lain pendidikan umum dan
pendidikan kejuruan .
Pendidikan

kejuruan

merupakan

pendidikan

yang

mengutamakan

perluasan pengetahuan dan peningkatan ketrampilan peserta didik dengan


kekhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan (ayat2)
Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta
didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu (ayat 3). Dalam penjelasan ayat

tersebut dinyatakan bahwa pendidikan kejuruan hanya diselenggarakan pada


jenjang pendidikan menengah.
Pada Pasal 15 ayat (1) dinyatakan bahwa Pendidikan menengah
diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan mengadakan hubungan timbal-balik dengan lingkungan sosial,
budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Selanjuutnya pada pasal 16 dinyatakan
bahwa pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang
diselanggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat
menerapkan, tekhnolohi dan/ atau kesenian.
Dari pernyataan pasal-pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa memang
ada jenis pendidikan, yakni pendidikan kejuruan (vocational and technical
education), yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil/ahli di
bidang tertentu pada dunia kerja.
Meskipun demikian, peserta didik pada pendidikan kejuruan tidak
diarahkan menjadi tenaga siapPakai, dalam arti langsung dimanfaatkan untuk
jenis pekerjaan tertentu, melainkan diarahkan menjadi tenaga yang siap dilatih dan
dilatih kembali (trainable and retrainable), dalam arti selalu siap dan mampu
menyesuaikan penerapan atau pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi,
seni dan keterampilan yang diperolehnya dengan kebutuhan dan tuntutan
pekerjaan yang dilakukannya, yang dapat berubah atau berkembang dari waktu
kewaktu. Penyesuaian ini dilaksanakn lewat latihan.
Pendidikan baik umum maupun kejuruan yang diarahkan untuk
membentuk tenaga Siap Pakai seperti diartikan dimuka, tidak sesuai dengan
harkat dan martabat peserta didik sebagai pribadi, yang dalam setiap interaksinya
dengan pihak lain selalu berkedudukan sebagai subyek bukan obyek.

Konsep pendidikan yang menghasilkan tenaga Siap Pakai mempunyai


implikasi bahwa pendidikan harus menyediakan macam-macam program sesuai
dengan jenis pekerjaan yang ada atau akan dibutuhkan.

Sebaliknya konsep

pendidikan yang menghasilkan tenaga Siap Latih mempunyai implikasi bahwa


lulusan pendidikan cukup dibekali dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan
yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh lulusan yang bersangkutan sesuai
dengan kebutuhan melalui latihan kerja.

Kehadiran latihan kerja mutlak

diperlukan di samping pendidikan.


B. Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan
PP Nomor 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah membagi
pendidikan luar sekolah menjadi 5 jenis : umum, keagamaan, jabatan kerja,
kedinasan dan kejuruan. Pasal 22 (2) PP tersebut menyatakan, Pembinaan satuan
pendidikan luar sekolah yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan merupakan
tanggung jawab Menteri atau Menteri lain atau Pimpinan Lembaga Pemerintah
Non Departeman.
Pembinaan yang dimaksud dalam ayat ini meliputi pemberian bimbingan,
dorongan, pengayoman dan/atau bantuan yang pelaksanannya tidak boleh
menghambat perkembangan, prakarsa dan kemandirian satuan pendidikan yang
bersangkutan (ayat 6 dan penjelasannya), serta harus terkoordinasi (ayat 7).
Pasal tersebut membuka peluang untuk terjadinya pelaksanan pembinaan
yang tumpang tindih, khususnya pembinaan satuan pendidikan kejuruan yang
diselenggarakan oleh masyarakat.

Hal ini dapat disimpulkan dari banyaknya

penanggung jawab yang disebut (PP 73 Tahun 1991, pasal 22) untuk pembinaan
satuan pendidikan luar sekolah yang berbentuk pendidikan kejuruan. Pengalaman
selama ini menunjukan bahwa koordinasi antar Departemen selama ini
menunjukan bahwa koordinasi antar Departemen maupun anatara Departemen
dan lembaga Pemerintah non Departeman tidak mudah dilaksanakan.
Pada PP Nomor 71 1991 tentang Latihan Kerja, Pasal 4 ayat 2 latihan kerja
dibagi menjadi 3(tiga) bidang : teknik, manajerial dan kewirausahaan. Setiap

bidang dibagi lagi dalam kejuruan-kejuruan dan sub kejuruan (ayat 3). Latihan
kerja yang bidangnya cukup luas, mencakup kejuruan, dinyatakan diatur oleh
menteri Tenaga Kerja (ayat 5).
Mengingat pengertian dan tujuan Latihan kerja dalam PP Nomor 71 Tahun
1991 mirip dengan pengertian dan tujuan Pendidikan Luar Sekolah dalam PP
Nomor 73 Tahun 1991, maka tidak mustahil bahwa pelaksanaan pembinaan
pendidikan dan pelatihan di lapangan dapat berbenturan.
Untuk mengatasi dan mencegah terjadinya benturan dan kesimpngsiiuran
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, ketidakjelasan dan peluang-peluang
kesalahpahaman di dalam PP-PP tersebut perlu diselesaikan. Salah satu langkah
menuju penyelelasaian tersebut dapat ditempuh melalui forum pertemuan antar
departemen

yang

terkait

dengan

koordinasi

dari

instansi/pejabat

yang

kedudukannya di atas departemen-departemen tersebut.


Pengelolaan system pelatihan kerja nasional, yang merupakan jabatan
antara dunia pendidikan dan dunia kerja, hendaknya menjadi tanggung jawab dan
wewenang Menteri tenaga kerja, seperti halnya pengelolaan system pendidikan
nasional menjadi tanggung jawab dan wewenang tanggung jawab Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan.
Pengelolaan system pelatihan kerja nasional tersebut meliputi : penentuan
kriteria tentang penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian pelatihan, serta
pemantauan penerapan kriteria pelatihan.

Penentuan kriteria hendaknya

melibatkan semua pihak yang terklait, baik dari pemerintah maupun dari
masyarakat.
Sejauh ini, Menteri Tenaga Kerja telah mengeluarkan ketantuan-ketentuan
tentang pola umum Pembinaan Sistem Latihan Kerja Nasional, Pola Standar
Kualifikasi Ketrampilan dan Standar pembarian sertifikat, dapat dilaksanakan oleh
Departemen departemen lain, lembaga Non-departemen atau masyarakat, dengan
mengaju kepada kriteria nasional tentang penyelenggaraan, pengawasan dan
penilaian latihan kerja.

Hendaknya diadakan pemisahan antara memberikan/ mengeluarkan


sertifikat dan hak memberikan/ mengeluarkan izin usaha/ kerja bagi lulusan
pelatihan kerja. Pemberian izin usaha /kerja bukan wewenang departemen atau
Lembaga Non-departemen yang menyelenggarakan satuan pelatihan, melainkan
Departemen atau Lembaga pemerintah yang terkait dengan jenis usaha/kerja yang
bersngkutan, kecuali jika satuan penyelenggaraan pelatihan termasuk dalam
kategori terakhir ini.
Dalam menghadapi perkembangan kuantitatif maupun kualitatif yang
begini cepat dari dunia usaha dan industri, hendaknya sektor swasta yang
mengelola

usaha

dan

industri.

Didorong

menyelenggarakan

atau

mengembangkan

dan

diberi

pelatihan.

peluang

Dengan

untuk

demikian

keterbatasan dana pemerintah, yang merupakan salah satu kendala peningkatan


dan perluasan penyelenggaraan palatihan, diharapkan dapat teratsi.
C. Kaitan antara Pengangguran dan Sistem Pendidikan Nasional
Indonesia berhasil dalam pembangunan pendidikan, khususnya dalam hal
perluasan kesempatan memperoleh pendidikan yang tinggi. Namun di sisi lain
banyak para lulusan pendidikan yang menganggur, baik karena tidak dapat
menciptakan pekerjaan sendiri maupun Karena tidak terserap oleh lapangankerja
yang tersedia. Ada beberapa kemungkinan penyebab lulusan pendidikan tidak
terserap, antara lain: Pertumbuhan kesempatan atau lapangan kerja lebih kecil
dari pada pertumbuhan lulusan pendidikan.
nasional.

Pertumbuhan kesempatan ekonomi

Pengangguran bukan semata-mata merupakan masalah pendidikan,

melainkan juga masalah ekonomi. Karena itu, pemecahannyapun tidak dapat


hanya diupayakan oleh sektor pendidikan.
Tahun 1980 terdapat pengangguran sekitar 1 juta di Indonesia. Selama
masa ressi dunia, 19811984 tambahan pengangguran sekitar 1,5 juta orang.
Selama PELITA V angkatan kerja diperkirakan bertambah sekitar 11,9 jita.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% per tahun, maka akan dapat
diciptakan lapangan kerja sekitar 11,5 juta orang.

Dengan demikian selama

PELITA V akan ada tambahan pengangguran sekitar 0,4 juta orang. Pada akhi

PELITA V diperkirakan ada 2 jut penganggur. (Drs. Cosmas Batubara, Manpower


Problems and in Indonesia, Departement of Manpower RI, Jakarta 1991)
Dalam situasi ekonomi seperti itu, pendidikan diharapkan dapat membantu
menemukan pemecahan pengangguran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
oleh pendidikan ialah memberikan kepada setiap peserta didik selama roses
pendidikan berjalan suatu latihan berpikir dan bertindak eksploratif (mencari
sampai menemukan).

Latihan ini harus juga dapat mendorong daya cipta,

kemampuan inovasi, dan menumbuhkan kebiasaan kerja secara disiplin, efisien


dan produktif. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu bekerja mandiri
atau menciptakan lapangan kerja sendiri.
Upaya ini dapat membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang mentap dan serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
Bahwa lulusan pendidikan tidak terserap dalam dunia kerja dapat pula
terjadi karena peserta didik belajar pada pendidikan kejuruan, merek tidak
mendapatkan ketrampilan kejuruan yang telah ditargetkan.

Hal ini terjadi di

satuan-satuan pendidikan kejuruan yang tenaga kependidikan, sarana dan


prasarananya tidak memadai.
Menurut data Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah jumlah
sekolah menengah kejuruan yang bermutu masih sangat terbatas. Para lulusan
sekolah menengah kejuruan bermutu tidak mengalami kesulitan dan mendapatkan
pekerjaan yang sesuai, bahkan mampu bekerja sendiri.
Dewasa ini jumlah satuan pendidikan menengah dan kejuruan dan
politaknik terus meningkat., dan jumlah peminat betambah.
Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah,

Menurut data

perbandingan sekolah

menengah kejuruan dengan sekolah menengah umum dewasa ini adalah 1 : 1,5,
lima tahun lalu perbandingan tersebut adalah 1:3.

Perkembangan atau

meningkatnya mutu jenis pendidikan tersebut layak mendapatkan prioritas.


Pendidikan menengah kejuruan maupun politeknik mudah tertinggal dari
laju perkembangan teknologi, dunia usaha dan dunia industri. Karena itu dalam
kurun waktu tertentu perlu diadakan analisis atas program-progam yang berjalan,
untuk mendapatkan perkiraan (prediksi) program-program yang lebih sesuai
dengan tuntutan perkembangan, dan menyesuaikan dengan perkembangan
tersebut.
Pendidikan umum (SLTA dan SLTP) etujuan terutama menyiapkan peserta
didik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karen itu, lulusan atau putus
sekolah dari pendidikan umum (SLTP maupun SLTA) seringkali sulit memperoleh
pekerjaan, apabila selama belajar mereka tidak mendapatkan setidaktidaknya
ketrampilan pra kejuruan atau katrampilan awal.
Dengan ketrampilanawal itu, mereka akanlebih siap untuk mengikuti
program pealtihan jabatan kerja tertentu di Balai Latihan kerja atau di perusahaan
tempay mereka bekerja.
Pendidikan pra kejuruan yang diintegrasikan pada pendidikan umum
(vocationalization of general education) dapat merupakan alternatif umtuk
mengatasi kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja.
Program pendidikan pra kejuruan pada pendidikan umum tersebut
hendaknya realistis, disesuaikan dengan pasaran kerja, yang terdapat di daerah
tempat pendidikan umum berlangsung.
Program tersebut bukannya merubah kurikulum nasional, melainkan
memanfaatkan kurikulum muatan lokal, yang dimungkinakn oleh UndangUndang RI Nomor 2 Tahun 1989, Pasal 38. Untuk kota-kota besar, di mana
banyak suami istri bekerja dari pagi sampai sore / malam, pendidikan umum yang
mengintegrasikan pra kejuruan, (dual system) dapat menjadi alternatif untuk

menyiapkan peserta didik siap terjun ke dunia kerja. Namun pendidikan semacam
itu membutuhkan industri-industri sebagi institut pasangan di mana peserta didik
dapat melakukan praktek kerja.

IV. KESIMPULAN: STRATEGI PEMECAHANMASALAH


1.

Pendidikan yang diselenggarakan oleh

pemerintah maupun masyarakt

mempunyai tugas untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, seperti


dinyatakan dalam pasal 4 Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang
Sisitem Peendidikan Nasional, yang berbunyi:
Pendidikan

Nasional

bertujuan

mencerdaskan

kehidupan

bangsa

dan

mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa


terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan
mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan demikian tugas tersebut pendidikan tidak menyiapkan peserta
didik menjadi tenaga Siap Pakai, dalam arti dapat langsung dimanfaatkan untuk
jenis pekerjaan tertentu.

Dalam hal ini perlu diperhatikan wawasan

pengembangan potensi sumber daya manusia secara keseluruhannya.

Secara

teknis-operasional hal itu juga sangat sulit dilaksanakan, karena dengan demikian
pendidikan harus menyediakan aneka macam program sesuai dengan jenis-jenis
pekerjaan yang tersedia atau yang akan dibutuhkan.
Mengingat hal tersebut perlu ada latihan-latihan, yang menjembatani dunia
pendidikan dan dunia kerja. Latihan berfungsi membantu keluaran/lulusan satuan
pendidikan untuk menyesuaikan penerapan atau pengembangan bekal-bekal yang
diperolehnya dengan kebutuhan atau tuntutan enis pekerjaan yang dilakukan.
Bekal-bekal itu tidak hanya terdiri atas ilmu dan tekhnologi, seni serta
ketrampilan, melainkan juga kemampuan berpikir dan bertindak logis, kritis dan
secara disiplin, efisien dan produktif.
Selama ini, pelaksanaan pembinaan pelatihan oleh aparat pemerintah di
lapangan masih sering rancu, akibat kerancuan yang terdapat dalam beberapa

ketentuan perundang-undangan, antara lain PP Nomor 71 dan PP Nomor 73 Tahun


1991.

Kerancuan peraturan tersebut perlu segera dicarikan penyekesaian.

Penyelesaian dapat ditempuh lewat koordinasi pihak-pihak yang bersangkutan


berdasarkan aspirasi yang sama. Apabila cara itu sulit dilaksanakan mutlak
ditempuh cara lain yang dapat mengatasi masalah ini. Penyelesaian hendaknya
meliputi baik rumusan peraturan maupun penerbitan di lapangan.
Sebagaimana tanggung jawab dan wewenang pengelolaan system pendidikan
nasional diserahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, demikian pula
hendaknya tanggung jawab dan wewenag pengelolaan system pelatihan, Menteri
Tenaga Kerja menetapkan criteria penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian
satuan-satuan pelatihan dalam koordiansi dengan instansi-instansi terkait.
Dalam rangka menyongsong laju perkembangan ekonomi dan industtri, sektor
swasta hendaknya terus didorong untuk meningkatkan peranan dan tanggung
jaawab dalam menyelenggarakan dan mengembangkan pelatihan bagi para putus
sekolah maupun lulusan sekolah menengah. Dalam hal ini sekolah Ahli Kejuruan
Tekhnologi Industri (SAKTI) di Surabaya, Jawa Timur yang diselenggarakan atas
kerja sama sejumlah perusahaan kecil dan menengah sejenis dapat dijadikan
model.
2. Dalam rangka menyiapkan peserta didik untuk memasuki dunia kerja,
pendidikan menengah kejuruan dan politeknik yang semakin bertambah
jumlah eminat maupun satuan pendidikannya, hendaknya terus ditingkatkan
mutu tenaga kependidikan dan sarana prakteknya.

Program-program

pendidikan menengah kejuruan dan politeknik hendaknya diupayakan


senantiasa akomodatif terhadap perkembangan dunia usaha dan industri, agar
lulusan mampu mengisi jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan.

Untuk

mendukung upaya itu Departemen Tenaga Kerja diharapkan membantu


menyediakan data dan informasi tentang kebutuhan actual maupun yang akan
dating akan jenis-jenis pekerjaan di sektor jasa, industri, perbankan, dan lainlainnya.

Untuk membantu peserta didik pendidikan umum (SLTP dan SLTA) yang
tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan studi mereka dan bermaksud
bekerja, kepada mereka itu selama proses pendidikan dapat diberikan bekal
pengetahuan dan ketrampilan pra kejuruan. Bekal pengetahuan dan ketrampilan
ini disesuaikan dengan peluang nyata, yang terdapat di lingkungan belajar dan
tempat tinggal peserta didik.

Program pembekalan ini dapat menggunakan

kurikulum muatan local.

Tanggapan Pribadi
Pada Intinya Permasalahan-permasalahan ketenagakerjaan dan kaitannya
dengan program pendidikan sudah tersampaikan dalam uraian diatas. Hal hal
diatas tersebut dapat pula sebagai bahan referensi dan pembelajaran kita akan
keadaan di lapangan dan lebih mempersiapkan diri sebagai calon tenaga kerja
yang profesional. Adapun opsi lain yang ditawarkan adalah mempersiapkan diri
kita sebagai pelaku wirausaha sehingga harapan besar agar dapat membantu
sesama yang masih mencari pekerjaan bisa terwujud sehingga dapat mengurangi
pengangguran yang ada.
Dalam hal ini peran pemerintah sebagai pengambil/penentu kebijakan juga
sangat berpengaruh dalam kasus ini. Oleh karena itu kita patut dan harus
senantiasa kritis terhadap kebijakan-kebijakan. Dan tak lupa menjadi pemilih yang
cerdas dalam pemilihan-pemilihan umum para penentu kebijakan tersebut. Jangan
mau diajak berpolitik uang yang hanya menguntungkan anda sesaat saja namun
akan menyengsarakan 5 tahun kedepannya. Cerdaslah dalam memilih, bercitacitalah dalam memilih, maka wakil adapun akan secerdas anda dan memiliki citacita yang tinggi pula seperti anda. Oleh karena itu kesadaran berdemokrasi juga
sangat penting dalam hal ini.
Selain itu, Faktor Bakat dan Minatpun sering dilupakan dalam kasus ini,
seolah kita berjalan dalam tekanan bukan berdasarkan hati nurani. Tanpa terasa
hal ini berpengaruh kepada potensi dan semangat bekerja kita, oleh karena itu
kajian akan materi ini sangat perlu dilakukan guna mengenal siapa sebenarnya

pribadi kita, kita harus mengenalnya, mempelajarinya, mengembangkannya, dan


membahagiakan pribadi kita sendiri karena hakikat kehidupan bukan hanya untuk
bekerja seadanya, namun ada hal-hal lain pula yang perlu menjadi prioritas.
Hal lain yang sering menjadi polemik adalah minimnya ketrampilan para
tenaga berpendidikan dikarenakan pendidikan di Negeri ini cenderung hanya
sebagai legalitas bukan sebagai prioritas. Banyak faktor yang mempengaruhi hal
ini. Namun salah satu yang terbesar adalah karena sistem dan budaya masyarakat
pada umumnya yang menjadikan pendidkan sebagai sarana adu gengsi dan
kognitif adalah segalanya. Sehingga hal-hal yang digunakan untuk mecapai
kepentingan pragmatis tersebut banyak sekali macamnya dan tak sedikit pula yang
merusak.
Pemerataan investasi dan lapangan kerja di Desa juga harus menjadi salah
satu Prioritas utama, selain mengurangi lonjakan penduduk di kota hal ini sangat
bermanfaat

bagi

daerah-daerah

tertinggal

untuk

maju

perlahan-lahan

meningkatakan dan menggali potensi yang terkandung didalamnya.

Sumber

http://perjuangan-boeroeh.blogspot.com/2014/01/5-masalah-tenaga-kerjadan-lapangan.html

http://www.merdeka.com/uang/4-fakta-seputar-tenaga-kerja-danpengangguran-di-indonesia/banyak-lulusan-sma-jadi-pengangguran.html

http://bppndik.tripod.com/dikdunker.htm