Anda di halaman 1dari 11

Tangguh 0706291426 Dept.

Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 1

ASEAN Regional Forum sebagai Limitasi Hegemoni Amerika Serikat


dalam Tata Keamanan Asia Tenggara
Mata Kuliah Rezim Keamanan Internasional

PENDAHULUAN
Di Asia Timur dan Tenggara,1 negara terbesar yang terlibat dalam sistem keamanan justru
adalah negara ekstraregional, yaitu Amerika Serikat (AS). AS memiliki dominasi atas seluruh negara
lainnya dan menjadi kekuatan sentral dalam menciptakan stabilitas dan tata keamanan kawasan.
Tulang punggung keberhasilan dominasi AS di kawasan ini adalah pengerahan militer jauh ke depan
dan jaringan aliansi bilateralnya sejak akhir Perang Dunia II. Kebijakan AS ini tampaknya takkan
berubah secara signifikan. Namun, ketika ASEAN Regional Forum (ARF) diciptakan pada 1993 sebagai
institusi keamanan multilateral di kawasan tersebut, AS sebagai negara adidaya yang tak tertandingi
dengan kebijakan bilateralis ikut berpartisipasi dalam multilateralisme ARF. Penulis memandang
bahwa keikutsertaan AS ini, pada perkembangannya, membatasi hegemoni AS dalam tata keamanan
regional Asia Tenggara. Oleh karena itu, paper ini meneliti pertanyaan berikut:

“Bagaimana dan sejauh mana peran dan posisi ARF sebagai forum interaksi antarnegara-negara
ASEAN dan negara-negara ekstraregional ASEAN dapat membatasi hegemoni AS dalam tata
keamanan regional Asia Tenggara?”

Paper ini memiliki signifikansi akademik sebagai berikut: Ia dapat menjelaskan signifikansi
power struktural suatu negara besar terhadap sistem keamanan suatu kawasan, bagaimana dan sejauh
apa tata keamanan regional didasarkan atas peran dan posisi negara besar, bagaimana konflik antara
bilateralisme dan multilateralisme, serta bagaimana mekanisme dan peraturan operasi suatu institusi
multilateral dapat membatasi signifikansi power negara besar. Sedangkan, signifikansi praktis paper ini
adalah ia dapat mendasari pengambilan kebijakan bagi aktor-aktor regional Asia Tenggara dalam
memaknai interaksi dengan power struktural AS dan negara-negara besar lainnya. Paper ini memiliki
outline sebagai berikut: 1) pendahuluan, di mana penulis akan memberikan pengantar singkat
terhadap isu yang diangkat, menjelaskan pertanyaan penelitian, menjelaskan signifikansi penelitian,
serta memberikan outline singkat penelitian; 2) pembahasan, di mana penulis akan memberikan
konseptualisasi tentang faktor AS di kawasan Asia Tenggara, dilihat dari power struktural AS, peran

1
Konsepsi Barat tentang “East Asia” adalah “Northeast Asia” (Asia Timur) dan “Southeast Asia” (Asia
Tenggara). Oleh karena itu, dalam menerjemahkan konsepsi geografis East Asia dalam literatur-literatur
berbahasa Inggris, penulis menggunakan istilah “Asia Timur dan Tenggara”
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 2

dan posisi AS di kawasan Asia Tenggara, kebijakan-kebijakan Amerika Serikat di kawasan Asia
Tenggara, serta bagaimana konformitas tata keamanan Asia Tenggara terhadap peran dan posisi AS;
sejarah aliansi AS terhadap negara-negara ASEAN sebagai bilateralisme, peran ARF sebagai forum
interaksi antarnegara-negara ASEAN dan negara-negara ekstraregional; serta argumen utama tentang
bagaimana dan sejauh apa peran dan posisi ARF membatasi hegemoni AS; serta 3) kesimpulan, di
mana penulis akan memberikan kesimpulan atas penelitian penulis dan mengajukan pertanyaan baru
yang belum terjawab dalam pembahasan penulis.

PEMBAHASAN

Faktor Amerika Serikat di Kawasan Asia Tenggara


Power Struktural Amerika Serikat pada Level Keamanan
Sejauh ini, negara terbesar yang terlibat dalam sistem di Asia adalah AS, yang memiliki
pengaruh yang tidak sepadan dengan negara-negara lain, bahkan dalam institusi-institusi multilateral
manapun yang merupakan bagian dari sistem, dengan turnover perdagangan dan belanja militer jauh
melebihi negara terbesar kedua, China (berdasarkan jumlah dalam purchasing power parity).2

Tabel 1 GDP, populasi, perdagangan,


dan belanja militer negara-negara
besar yang terlibat secara militer di
Asia
Pada level keamanan, AS memiliki dominasi atas seluruh negara lainnya. 3 AS tidak hanya
melakukan pembelanjaan pertahanan yang jauh melebihi negara lainnya dengan persentase GDP
keseluruhan yang sangat kecil,4 namun posisi AS juga telah diperkuat oleh „revolution in military
affairs‟,5 di mana keunggulan teknologi telah menjadi komponen yang semakin penting dalam
superioritas militer.6 Namun, bukan hanya efektivitas teknis teknologi militer Amerika yang
menjadikannya berada pada jantung arsitektur keamanan dunia. Kehadiran AS di kawasan Asia
Timur dan Tenggara dipandang penting untuk memelihara balance of power yang stabil, sehingga

2
Wayne Bert, The United States, China and Southeast Asian Security: A Changing of the Guard? (New York:
Palgrave Macmillan, 2003), h.20
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 3

kehadiran tentara Amerika terus berlanjut di kawasan tersebut. 7


Peran dan Posisi Amerika Serikat di Kawasan Asia Tenggara
Menurut Evelyn Goh (2008), AS bukanlah aktor ekstraregional di kawasan Asia Timur dan
Tenggara, namun adalah kekuatan sentral dalam menciptakan stabilitas dan tata keamanan kawasan.
Menurutnya, terdapat hierarki regional berlapis di Asia Timur yang dipimpin oleh AS, dengan China,
Jepang, dan India membentuk lapisan-lapisan di bawah dominasi AS. Pola-pola utama keseimbangan
dan pergolakan di kawasan ini sejak 1945 dapat dijelaskan dengan melihat stabilitas relatif posisi AS di
puncak hierarki regional, dengan periode ketakamanan terbesar terkait dengan ketakpastian terbesar
tentang komitmen Amerika untuk mengatur tata regional. 8 Apalagi, ASEAN menganggap kehadiran
AS di kawasan sangat penting, karena akses mereka terhadap pasar AS sangat penting bagi
keberlanjutan pertumbuhan ekonomi mereka, sementara negara-negara ASEAN menginginkan
investasi dan transfer teknologi AS. Hubungan militer antara AS dan kebanyakan negara-negara
ASEAN terus meningkat selama dekade terakhir. Amerika juga dipandang sebagai penyeimbang
kunci balance of power di kawasan Asia Tenggara antara AS, China, Jepang, dan India.9 Hal ini terkait
dengan power struktural AS, khususnya pada level keamanan, seperti yang telah dibahas sebelumnya.
Digabungkan dengan power struktural Amerika lainnya yang relatif tak tertandingi di bidang kendali
produksi, kredit, serta pengetahuan, power struktural Amerika telah menopang posisi „hegemonik‟-nya
dalam system internasional umumnya dan di Asia Pasifik khususnya. 10 Posisi unik AS pada pusat tata
dunia pascaperang berarti AS memiliki kapasitas untuk memengaruhi tidak hanya posisi negara-
negara Asia Tenggara, namun juga negara-negara besar di kawasan tersebut. Hubungan saling
memengaruhi, baik secara bilateral antara AS dan negara-negara ASEAN, serta antara AS, Jepang, dan
China, telah menjadi penentu signifikan perkembangan di Asia Tenggara. 11
Kebijakan-kebijakan Amerika Serikat di Kawasan Asia Tenggara
Skema prinsip aliran utama tujuan AS di Asia adalah bahwa AS takkan membiarkan dominasi
Asia oleh satu negara tunggal, sebagaimana diungkapkan Bernard Gordon, “Opposition to any single-

3
Mark Beeson, “Southeast Asia and the Major Powers: The United States, Japan and China”
4
S. G. Brooks dan W. C. Wohlforth (2002) “American primacy in perspective”, Foreign Affairs, 81 (4), h.20-33
5
P. Dibb (1997-98) “The revolution in military affairs and Asian security”, Survival, 39 (4), h.93-116
6
J. S. Nye dan W.A. Owens (1996) “America’s information edge”, Foreign Affairs, 75 (2), h.20-36
7
Tow, W.T. (2001) Asia-Pacific Strategic Relations: Seeking Convergent Security, (Cambridge: Cambridge
University Press), h.168
8
Evelyn Goh, “Hierarchy and the role of the United States in the East Asian security order”, International
Relations of the Asia-Pacific Volume 8 (2008), h.353-377
9
Ian Storey, “The United States and ASEAN-China Relations: All Quiet on the Southeast Asian front”, Strategic
Studies Institute, Oktober 2007
10
Agnew, J. and Corbridge, S. (1995) Mastering Space: Hegemony, Territory and International Political
Economy, (London: Routledge)
11
M. Beeson dan M.T. Berger, (2003) “The paradoxes of paramountcy: Regional rivalries and the dynamics of
American hegemony in East Asia”, Global Change, Peace and Security, 15 (1), h.27-42
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 4

nation dominance had been the guiding principle for American policy in East Asia since Teddy Roosevelt’s
time.”12 Di Asia Timur dan Tenggara, secara historis tujuan realis ini tetap menjadi tujuan kunci
kebijakan AS. Hasil-hasil spesifik yang diciptakan kebijakan tersebut adalah apa yang Wayne Bert
(2003) sebut „realisme yang membesar‟ (augmented realism), atau „realisme plus‟, yang pada awalnya
memperhatikan negara-negara besar dalam sistem dan masalah-masalah yang langsung berhubungan
dengan keamanan AS, namun memperluas pengaruh AS melebihi isu-isu tersebut dengan membantu
perkembangan kerjasama ekonomi, membangun institusi multilateral, dan isu-isu humaniter,
termasuk hak asasi manusia.13 Kebijakan-kebijakan yang berhasil harus meliputi seluruh aspek ini.
Dan walaupun kini Asia Timur dan Tenggara dapat dipandang sebagai kawasan yang secara relatif
bebas dari masalah, dukungan terhadap keterlibatan AS di Asia kemungkinan besar akan tetap kuat
dalam Kongres AS, hanya ada perbedaan substansial tentang bagaimana keterlibatan tersebut
seharusnya (force atau diplomasi).14
Tindakan-tindakan AS di Asia Tenggara dapat diringkas dalam tiga kategori, yaitu 1) intervensi
militer langsung, 2) bantuan tak langsung untuk tujuan-tujuan peacekeeping atau humaniter, dan 3)
keterlibatan ekonomi dan diplomatik. Peran AS di Asia Tenggara krusial dalam menenangkan ASEAN
bahwa pengaruh China dapat dilawan dan diperkecil serta bahwa Jepang terus beroperasi dalam
kerangka keamanan bersama bukan independen dari pengaruh AS; untuk mengingatkan seluruh
pihak bahwa tujuan AS adalah memelihara alur laut yang terbuka dan kebebasan melintas melalui
berbagai chokepoint seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok serta melalui Laut China
Selatan; untuk memajukan tujuan-tujuan ekonomi perdagangan bebas dan pembangunan institusi-
institusi regional dan subregional; serta mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia. 15

Konformitas Tata Keamanan Asia Tenggara terhadap Peran dan Posisi Amerika Serikat
Keterlibatan AS memberikan pengaruh besar terhadap sejarah perkembangan Asia Timur dan
Tenggara. Di seluruh Asia pasca-perang, AS telah menjadi negara sentral yang dominan tanpa ambisi
teritorial lokal. AS berhasil memimpin hierarki di Asia Timur dan Tenggara sejak 1945, tanpa ada
protes dari negara-negara subordinat, kecuali China.16 Hierarki yang dipimpin AS paling kental di
Asia Timur, namun di Asia Tenggara pun AS memiliki pengaruh yang sangat besar. Pada masa
konsolidasi pengaruhnya, 1945-1970, AS menandatangani pakta keamanan dengan Filipina serta

12
Bernard Gordon, (1969) Toward Disengagement in Asia: A Strategy for American Foreign Policy
(Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall) dan Bernard Gordon, (1990) New Directions for American Policy in Asia
(New York: Routledge).
13
Richard N. Haas (1995) “Paradigm Lost”, Foreign Affairs, 74, No. 1, h.43–58 dan Joseph S. Nye, (1992)
“What New World Order?” Foreign Affairs, 71, No. 2, h.83–96
14
Wayne Bert, op. cit., h.25-28
15
Wayne Bert, ibid., h.44-47
16
Evelyn Goh, op. cit., h.9
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 5

menciptakan Southeast Asia Treaty Organization (SEATO) pada akhir 1954, yang terdiri dari negara-
negara nonkomunis baik di dalam maupun di luar wilayah Asia. Pada 1950-an, strategi AS adalah
mengangkat tata regional pada saat negara-negara Asia Timur dan Tenggara yang baru berdiri dan
terdekolonisasi masih lemah. Sumber-sumber daya, tindakan, dan hubungan AS membantu
menyusun suatu hierarki dengan AS pada puncaknya. Perang Korea membuka front Asia Timur dan
Tenggara, serta berada di pihak mana negara-negara pemain besar di kawasan itu pada kontes
ideologi global yang akan datang, di mana negara-negara Indo-China muncul sebagai penantang di
Asia Tenggara. Kekalahan dalam Perang Vietnam menurunkan skala aspirasi global AS, tanpa niat
untuk terlibat secara langsung dalam konflik regional apapun di Asia, dan peran AS di Asia Tenggara
sebagai negara sentral dalam tata regional surut. Namun, pada periode akhir 1970-an hingga 1980-an,
kawasan Asia secara keseluruhan berada dalam keseimbangan pro-Barat yang relatif stabil: selain
Vietnam, Laos, dan Kamboja, hampir seluruh negara di kawasan tersebut, termasuk China, tergabung
dalam sistem aliansi Barat.17 Pada periode pasca-Perang Dingin pun, AS memainkan kepentingan
strategis di Asia Tenggara, dengan beberapa negara khawatir terhadap naiknya China, dan berusaha
secara selektif memanfaatkan kekuatan superior AS di kawasan tersebut untuk menghalangi potensi
agresi China. Filipina dan Thailand sebagai sekutu resmi AS, bersama sejumlah negara nonsekutu
(termasuk Singapura, Malaysia, dan Indonesia) menyediakan fasilitas militer dan akses kepada
angkatan laut dan angkatan udara AS. Strategi Asia Tenggara ini merupakan bentuk bandwagoning
dengan AS sebagai negara dominan.18

Aliansi sebagai Bilateralisme Amerika Serikat terhadap Negara-negara ASEAN


AS memiliki tendensi untuk bergantung pada aliansi bilateral, yang berakar pada skeptisisme
Amerika tentang efisiensi institusi regional atau global untuk menjawab tantangan-tantangan nasional
kritis.19 AS berusaha mengimplementasikan “enriched bilateralism”, yang terutama melibatkan
konsultasi yang lebih besar dan koordinasi kebijakan dengan negara-negara di kawasan terkait
jangkauan sepenuhnya kebijakan AS yang memengaruhi kepentingan keamanan mereka, melebih hal-
hal yang hanya memengaruhi pengaturan bilateral. 20 Prioritas dan aliansi AS sekarang bergantung
pada aliansi dengan Jepang, „linchpin strategi keamanan AS di Asia‟, namun juga terdapat empat
partner aliansi lainnya di kawasan Asia Timur dan Tenggara, yaitu Australia, Korea Selatan, Thailand,

17
D.S. Zagoria, “The strategic environment in East Asia”, dalam D.S. Zagoria (ed.), Soviet Policy in East Asia,
(New Haven: Yale University Press, 1982) h.3
18
Evelyn Goh, op. cit., h.15
19
Frank Jannuzi, “US Perspectives on East Asia Community Building”, East Asia at a Crossroads; (eds. Jusuf
Wanandi dan Tadashi Yamamoto), Tokyo: Japan Center for International Exchange, 2008, h.125
20
Dennis C. Blair dan John T. Hanley Jr., “From Wheels to Webs: Reconstructing Asia-Pacific Security
Arrangements”, The Washington Quarterly • 24:1, Winter 2001, h.10
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 6

dan Filipina, seluruhnya dibina selama Perang Dingin. Aliansi-aliansi ini ditambah dengan hubungan
dengan negara-negara lain di kawasan, seperti Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Brunei sebagai
penyedia logistik, pengisian bahan bakar, dan fasilitas servis, serta bersama Thailand sering
berpartisipasi dalam latihan gabungan; dan negara-negara bekas Indochina memulai kerjasama
militer.21

ASEAN Regional Forum sebagai Kerjasama Keamanan: peran ARF sebagai forum
interaksi antarnegara-negara ASEAN dan negara-negara ekstraregional
ASEAN Regional Forum (ARF), yang didirikan pada 1994, memiliki tujuan-tujuan sebagaimana
yang digariskan dalam Pernyataan Ketua ARF Pertama (1994), yaitu a) untuk meningkatkan dialog
konstruktif dan konsultasi atas isu-isu politik dan keamanan pada kepentingan dan perhatian
bersama; serta b) untuk membuat kontribusi signifikan terhadap usaha-usaha confidence-building dan
preventive diplomacy di kawasan Asia-Pasifik. Pertemuan Menteri-mentri ASEAN ke-27 (1994)
menyatakan bahwa “ARF dapat menjadi suatu forum konsultasi Asia-Pasifik yang efektif untuk
meningkatkan dialog terbuka kerjasama politik dan keamanan di kawasan tersebut. Dalam konteks
ini, ASEAN harus bekerja bersama partner-partnernya di ARF untuk membawa suatu pola hubungan-
hubungan konstruktif yang lebih dapat diprediksi jalan di Asia Pasifik.”22 ARF bekerja dengan prinsip
nonintervensi, dialog informal, dan confidence building measures yang tak bersifat mengikat. 23
Konseptualisasi ARF adalah untuk menciptakan pola hubungan yang lebih stabil dan dapat
diramalkan antara negara-negara besar dan Asia Tenggara, dengan pengakuan implisit terhadap
pemikiran bahwa isu-isu regional membutuhkan keterlibatan negara-negara besar.
ARF menjadi forum interaksi antarnegara-negara ASEAN dan negara-negara ekstraregional, di
mana kesepuluh anggota ASEAN menjadi anggota ARF ditambah negara-negara non-ASEAN (AS,
Australia, Bangladesh, China, India, Jepang, Kanada, Korea Utara, Korea Selatan, Mongolia, New
Zealand, Pakistan, Papua Nugini, Rusia, Sri Lanka, Timor Timur, dan Uni Eropa). Dalam keanggotaan
ini, ARF memasukkan negara-negara yang memiliki pengaruh yang relevan terhadap perdamaian dan
keamanan “footprint geografis” aktivitas ARF (Asia Timur, Asia Tenggara, dan Oseania), sebagaimana
kriteria partisipasi yang diadopsi pada Juli 1996. 24 Hal ini mengimplikasikan faktor akomodasi negara-
negara di kawasan politik Asia, sebagaimana diungkapkan oleh Carlyle A. Thayer (2000) sebagai salah

21
Wayne Bert, op. cit., h.33
22
About Us, http://www.aseanregionalforum.org/AboutUs/tabid/57/Default.aspx
23
Center on Global Counterterrorism Cooperation, http://www.globalct.org/resources_factSheets_arf.php
24
About Us, ibid.
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 7

satu faktor yang membawa kepada pembentukan ARF. 25 Dalam rangka menjadi forum interaksi ini,
ARF dapat dinilai sukses, dengan langkahnya memasukkan AS dan China bersama dapat mereduksi
mispersepsi dari kedua belah pihak dalam memahami tujuan pihak lainnya.26

Peran dan Posisi ASEAN Regional Forum dalam Membatasi Hegemoni Amerika Serikat
AS sebagai suatu negara adidaya kemudian ikut berpartisipasi dalam ARF sebagai suatu
institusi keamanan multilateral. Evelyn Goh (2004) menganalisis pendekatan AS terhadap ARF,
mengapa AS berpartisipasi dalam ARF, serta meneliti motivasi sikap dan tingkat partisipasi AS
terhadap ARF. Menurut Goh, partisipasi AS dalam ARF krusial dalam menaikkan legitimasi
kepentingan-kepentingan keamanan Amerika di kawasan Asia Timur dan Tenggara, hingga
membantu melindungi dominasi AS.27 Namun, pada perkembangannya, rezim ARF malah menjadi
suatu bentuk limitasi terhadap dominasi hierarkis dan hegemoni AS dalam tata keamanan Asia
Tenggara. Hal ini dapat dijelaskan dalam beberapa poin sebagai berikut.
Pertama, ARF sebagai bentuk multilateralisme mengurangi signifikansi sistem aliansi AS. Secara
teoritis, pendekatan bilateral dan multilateral adalah dua hal yang bertentangan, dan belum terbukti
kedua pendekatan ini dapat berjalan bersama dengan sukses. Hal ini karena “target perhatian suatu
aliansi adalah suatu negara atau koalisi negara-negara luar, yang dimaksudkan untuk dihalangi,
dikoersi, maupun dikalahkan dalam perang”. 28 Maka, suatu aliansi berorientasi eksternal, terhadap
suatu ancaman, sementara suatu institusi seperti ARF berorientasi internal, berusaha menempa
kerjasama keamanan di antara para anggotanya, sebagaimana diungkapkan oleh G.V.C. Naidu (2000).
Padahal, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, AS memiliki tendensi untuk bergantung pada aliansi
bilateral, serta berusaha mengimplementasikan enriched bilateralism. AS menghendaki agar
multilateralisme ARF hanya akan menjadi tambahan bagi kebijakan dasar AS dan tidak
menggantikannya.29 Hal ini juga tercermin dalam pidato Menteri Luar Negeri China Tang Jiaxuan‟s
kepada ARF pada 26 Juli 1999, “To strengthen military alliances and engage in armament expansion will only
aggravate distrust among nations, bring about new instabilities, and even generate confrontation.”30
Kedua, peraturan operasi ARF yang berupa “pengambilan keputusan secara konsensus” dan
memelihara “alur yang dapat diikuti seluruh peserta” menjadikan berbagai proposal tindakan-

25
Carlyle A. Thayer, Multilateral Institutions in Asia: The ASEAN Regional Forum (Honolulu: Asia-Pacific
Center for Security Studies, 2000), h.8. Paper seminar hasil pertemuan ahli keamanan regional di Hawaii
26
Carlyle A. Thayer, ibid., h.26
27
Evelyn Goh, “The ASEAN Regional Forum in United States East Asian strategy”, The Pacific Review,
Volume 17, Issue 1 Maret 2004, h.47-69
28
John J. Mearsheimer, “A Realist Reply”, International Security, Summer 1995, h.83
29
Lihat dokumen-dokumen strategi AS, seperti The United States Security Strategy for the East Asia and
Pacific Region, 1998, dan testimoni-testimoni resmi kepada Kongres
30
G.V.C. Naidu, “Multilateralism and Regional Security: Can the ASEAN Regional Forum Really Make a
Difference?” (Analysis from the East-West Center, No. 45, Agustus 2000, AsiaPacific Issues), h.3
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 8

tindakan cooperative security yang diajukan oleh negara-negara aktivis sangat mudah diveto. Terkait
hal ini, Takeshi Yuzawa mengklasifikasikan negara-negara peserta ARF ke dalam dua kelompok, yaitu
1) negara-negara aktivis (AS, Jepang, Kanada, dan Australia), yang mengharapkan ARF
mengimplementasikan confidence building measures (CBM) yang konkrit demi transparansi militer yang
lebih besar serta memainkan peran-peran preventive diplomacy aktif dalam sengketa-sengketa regional,
termasuk isu-isu dalam negeri; serta 2) negara-negara segan (China dan beberapa negara ASEAN),
yang mendukung CBM hanya melalui dialog informal dan tindakan-tindakan deklaratoris karena
skeptisisme terhadap transparansi militer, serta menolak peran preventive diplomacy yang berpotensi
melanggar prinsip nonintervensi urusan dalam negeri (seperti mediasi pihak ketiga). Menurut
Yuzawa, banyak proposal tindakan-tindakan cooperative security yang diajukan negara-negara aktivis
sama sekali ditolak atau dikurangi secara signifikan, walaupun proposal-proposal tersebut berada
pada pertengahan antara kedua kelompok tersebut. 31 Hal ini dapat dilihat sebagai mekanisme rezim
ARF yang membatasi langkah AS (sebagai negara aktivis) dalam berbagai isu keamanan Asia
Tenggara.
Ketiga, norma regional “pengambilan keputusan secara konsensus”, seperti yang sudah dibahas
di atas, akan semakin membatasi ruang manuver strategis AS di Asia Tenggara, dengan kehadiran
China dalam forum interaksi ARF. Naiknya China adalah suatu tantangan besar terhadap peran AS
sebagai hegemon, khususnya apabila China dapat memelihara pertumbuhan ekonomi 8-10% per
tahun. Barry Desker (2001) menyebutkan bahwa manajemen hubungan AS-China, sebagaimana
hubungan China dengan negara-negara tetangganya, akan menjadi isu krusial. 32 Sementara, dalam
kenyataannya, sekarang hubungan AS-China tak sebaik itu. Kini, China telah melaksanakan
modernisasi militer, yang bagi AS memunculkan pertanyaan tentang apakah maksud China adalah
untuk menantang supremasi militer AS di Asia maritim, di mana tren yang terjadi berpotensi bahaya,
dengan program China mencakup peningkatan kekuatan nuklir strategis, eksploitasi ruang angkasa
untuk operasi militer, perang informasi, modernisasi kekuatan laut dan udara, serta pertahanan
domestik terhadap serangan udara dan rudal seluruhnya dirancang sebagai kontrakapabilitas AS. 33
Kenaikan militer China hingga memperoleh status great power juga akan berpengaruh terhadap aliansi
AS dan hubungan keamanan lainnya di Asia Tenggara, yang selalu diinginkan China, serta

31
Takeshi Yuzawa, “The Evolution of the ASEAN Regional Forum: Problems and Prospects” (The Japan
Institute of International Affairs),
http://www.isis.org.my/files/apr/22nd%20APR/14%20Takeshi%20Yuzawa.pdf
32
Desker (October 2001), “The Future of the ASEAN Regional Forum,” IDSS Commentaries (2/2001)
dipresentasikan pada Asia-Pacific Security Forum 2001 Roundtable, 29-30 Agustus 2001, Taipei
33
Paul H.B. Godwin, “China as a major Asian power: The implication of its military modernization (a view
from the United States)” dalam Evelyn Goh dan Sheldon W. Simon (eds.), China, the United States, and
Southeast Asia: Contending perspectives on politics, security and economics (Oxon: Routledge, 2008), h.145-
163
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 9

menghadirkan tantangan terhadap pengerahan aset-aset militer AS di kawasan Asia-Pasifik. 34


Sebagaimana diungkapkan G.V.C. Naidu, dukungan China terhadap ARF didasarkan pada asumsi
bahwa multilateralisme akan mengurangi sistem aliansi yang dipimpin AS dan meningkatkan
kepentingan China sendiri.35 Apalagi, sejak awal pendirian China di ARF berseberangan dengan AS
(atau China memang sengaja selalu berseberangan dengan AS): China “tak ingin ARF menjadi
mekanisme resolusi konflik”36 dan mengajukan keberatan tentang ARF bergerak menuju tingkat
preventive diplomacy. Kehadiran China dalam ARF akan semakin membatasi hegemoni AS.

KESIMPULAN
AS adalah negara yang memiliki power struktural terbesar yang terlibat dalam sistem di Asia.
Pada level keamanan, AS memiliki dominasi atas seluruh negara lainnya, dan bukan lagi aktor
ekstraregional di kawasan Asia Timur dan Tenggara, melainkan adalah kekuatan sentral dalam
menciptakan stabilitas dan tata keamanan kawasan. Skema prinsip aliran utama tujuan AS di Asia
adalah bahwa AS takkan membiarkan dominasi Asia oleh satu negara tunggal. Keterlibatan AS
memberikan pengaruh besar terhadap sejarah perkembangan Asia Timur dan Tenggara. AS memiliki
tendensi untuk bergantung pada aliansi bilateral, dan berusaha mengimplementasikan “enriched
bilateralism”.
ARF menjadi forum interaksi antarnegara-negara ASEAN dan negara-negara ekstraregional. AS
sebagai suatu negara adidaya kemudian ikut berpartisipasi dalam ARF sebagai suatu institusi
keamanan multilateral. Namun, pada perkembangannya, rezim ARF malah menjadi suatu bentuk
limitasi terhadap dominasi hierarkis dan hegemoni AS dalam tata keamanan Asia Tenggara, karena 1)
ARF sebagai bentuk multilateralisme mengurangi signifikansi sistem aliansi AS; 2) peraturan operasi
ARF yang berupa “pengambilan keputusan secara konsensus” dan memelihara “alur yang dapat
diikuti seluruh peserta” menjadikan berbagai proposal tindakan-tindakan cooperative security yang
diajukan oleh AS sangat mudah diveto; serta 3) kehadiran China dalam ARF akan semakin membatasi
hegemoni AS.
Hal ini menyisakan satu pertanyaan baru yang belum terjawab: bagaimanakah AS akan
berusaha mengatasi limitasi-limitasi terhadap hegemoninya di Asia Tenggara yang disebabkan forum
ARF? Hal ini perlu analisis dan pembahasan lebih lanjut yang terpisah.

34
Michael Chambers, “China’s military rise to great power status: Its implications for the United States in
Southeast Asia” dalam Evelyn Goh dan Sheldon W. Simon (eds.), ibid., h.167-182
35
G.V.C. Naidu, op. cit., h.3
36
Stephen Wrage, “Asia, Help Thyself,” Asian Wall Street Journal, 4 Mei 1995
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 10

DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku
Agnew, J. dan Corbridge, S. Mastering Space: Hegemony, Territory and International Political Economy.
London: Routledge, 1995
Bert, Wayne. The United States, China and Southeast Asian Security: A Changing of the Guard? New York:
Palgrave Macmillan, 2003
Goh, Evelyn dan Sheldon W. Simon (eds.). China, the United States, and Southeast Asia: Contending
perspectives on politics, security and economics. Oxon: Routledge, 2008
Gordon, Bernard. Toward Disengagement in Asia: A Strategy for American Foreign Policy. Englewood
Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1969
____. New Directions for American Policy in Asia. New York: Routledge, 1990
Thayer, Carlyle A. Multilateral Institutions in Asia: The ASEAN Regional Forum. Honolulu: Asia-Pacific
Center for Security Studies, 2000
Tow, W.T. Asia-Pacific Strategic Relations: Seeking Convergent Security. Cambridge: Cambridge
University Press, 2001
Wanandi, Jusuf dan Tadashi Yamamoto (eds.). East Asia at a Crossroads. Tokyo: Japan Center for
International Exchange, 2008
Zagoria, S. (ed.), Soviet Policy in East Asia. New Haven: Yale University Press, 1982

Sumber internet
About Us, http://www.aseanregionalforum.org/AboutUs/tabid/57/Default.aspx
Beeson, Mark. “Southeast Asia and the Major Powers: The United States, Japan and China”
Center on Global Counterterrorism Cooperation, http://www.globalct.org/resources_factSheets_arf.php
Yuzawa, Takeshi. “The Evolution of the ASEAN Regional Forum: Problems and Prospects” (The Japan
Institute of International Affairs),
http://www.isis.org.my/files/apr/22nd%20APR/14%20Takeshi%20Yuzawa.pdf

Sumber jurnal
Beeson, M. dan M.T. Berger. “The paradoxes of paramountcy: Regional rivalries and the dynamics of
American hegemony in East Asia”, Global Change, Peace and Security, 15 (1), 2003
Blair, Dennis C. dan John T. Hanley Jr. “From Wheels to Webs: Reconstructing Asia-Pacific Security
Arrangements”, The Washington Quarterly • 24:1, Winter 2001
Brooks, S. G. dan W. C. Wohlforth. “American primacy in perspective”, Foreign Affairs, 81 (4), 2002
Desker, Barry. “The Future of the ASEAN Regional Forum,” IDSS Commentaries (2/2001) Asia-Pacific
Tangguh 0706291426 Dept. Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia 11

Security Forum 2001 Roundtable, 29-30 Agustus 2001, Taipei


Dibb, P. “The revolution in military affairs and Asian security”, Survival, 39 (4), 1997-98
Goh, Evelyn. “The ASEAN Regional Forum in United States East Asian strategy”, The Pacific Review,
Volume 17, Issue 1 Maret 2004
Goh, Evelyn. “Hierarchy and the role of the United States in the East Asian security order”, International
Relations of the Asia-Pacific Volume 8 (2008)
Haas, Richard N. “Paradigm Lost”, Foreign Affairs, 74, No. 1, 1995
Mearsheimer, John J. “A Realist Reply”, International Security, Summer 1995
Naidu, G.V.C. “Multilateralism and Regional Security: Can the ASEAN Regional Forum Really Make a
Difference?” (Analysis from the East-West Center, No. 45, Agustus 2000, AsiaPacific Issues)
Nye, Joseph S. “What New World Order?” Foreign Affairs, 71, No. 2, 1992
Nye, J. S. dan W.A. Owens. “America’s information edge”, Foreign Affairs, 75 (2), 1996
Storey, Ian. “The United States and ASEAN-China Relations: All Quiet on the Southeast Asian front”,
Strategic Studies Institute, Oktober 2007
Wrage, Stephen. “Asia, Help Thyself,” Asian Wall Street Journal, 4 Mei 1995