Anda di halaman 1dari 17

Amorrita Puspita Ratu 1102013023

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Sendi


1.1 Makroskopik sendi ekstremitas atas dan bawah
Persendian adalah tempat bertemunya dua atau tiga unsur rangka, baik tulang ataupun tulang
rawan, dikatakan sebagai sendi atau artikulasi. Terkadang juga merupakan hubungan antara
tulang dengan ligamentum.

EKSTREMITAS ATAS
a. Articulatio Glenohumeralis

Tulang : Caput humeri dengan gleinoidalis sertalabrum gleinoidale


Jenis Sendi : Art. Sphreoidea , bersumbu tiga
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, RotasiMedialis,Rotasi
Lateralis

b. Articulatio Cubiti (Articulatio humero ulnaris & art. Humeroradialis)


Tulang: Incissura throclearis ulna, trochlea humeri danantara fovea caput
articularis radii dan capitulum humeri .
Gerak Sendi : Fleksi dan ekstensi.
-Otot- otot Shunt : Otot yang mempunyai origo dekat dengan sendi daninsertio
jauh dari sendi (contoh : M. Brachioradialis).
-Otot- otot Spurt : Otot yang mempunyai origo jauh dari sendi dan insertiodekat
dengan sendi (contoh : M. Biceps brachii)Otot- otot shunt lebih berfungsi sebagai
stabilitator daripada rotator, sedangkanotot- otot spurt lebih berfungsi sebagai
rotator daripada stabilisator.
c. Articulatio Radio ulnaris Proximalis

Tulang : Incissura radialisulna dan caput radii


Gerak sendi: throchoidea atau pivot

d. Articulatio Radio Ulnaris distalis


Tulang : Incissura ulnaris radii dan capitulum ulnae
Jenis sendi: trochoidea
Gerak sendi : pronasi dan supinasi
e. Articulatio Radiocarpalis
Tulang : Bagian distal Os. Radius dan ossacarpalesproximalis kecuali os
piriforme
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi,Abduksi ulnaris
f. Articulatio carpometacarpales
Articulatio carpometacarpales I
Tulang: Antara Metacarpales 1 dan trapezium
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, oposisi dan reposisi
Articulatio carpometacarpales II
Tulang: Antara Metacarpale II V dengan Os. Carpideretan distalis
Gerak sendi: Geser
g. Articulatio Metacarpophalangealis
Art. Metacarpophalangealis I

Tulang : Antara Os metacarpal I dan phalanx I


Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, sedikit abduksi dan adduksi

Art. Metacarpophalangealis II sampai V


Tulang: Antara OS metacarpal II dan V dengan PhalanxII dan V
Gerak sendi: Fleksi, ekstesi, abduksi, adduksi dan sirkumdiksi
h. Articulationes interphalangealis
Tulang: Antar phalanges
Gerak sendi: Fleksi dan ekstensi
EKSTREMITAS BAWAH
a. Articulatio inferioris liberi (articulatio coxae)
Tulang : Acetabulum dan caput femuri
Gerak sendi: Fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, endorotasi,eksorotasi
b. Articulatio genus
Tulang : Condylus medialis femoris dan condylusmedialis tibiae
Gerak sendi : Fleksi, ekstensi , rotasi medialis, fleksi lateralis.
c. Articulatio tibio fibularis
Tulang: Facies articularis fibularis dengan faciesarticularis capitis fibulae
Gerak sendi: Gesekan ke atas dan ke bawah
d. Articulatio talocrulalis
Tulang: Antara trochleatali dan lengkung yang dibentuk oleh maleoli ossa
cruris
Gerak sendi: Plantar Flexi, Dorsi Flexi, Inversio and Eversio
e. Articulatio Pedis
Articulatio talocalcanea
Tulang: Os talus dan Os calcaneus
Gerak sendi: gliding
Articulatio talocalcaneonavicularis
Tulang: Os talus, Os calcaneus dan Os cuboideum
Gerak sendi: Geser dan rotasi
Articulatio calcaneocuboidea
Tulang: Os calcaneus dan Os cuboideum
Gerak sendi: Geser dan sedikit rotasi
Articulatio tarsometatarsales
Tulang: Os tarsi dan Os metatarsi

Geraksendi: Plana

Articulatio Metatarsophalangeales
Tulang: Os metatarsi dan Os phalangeales
Gerak sendi: fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi
Articulationes Interphalangeales Pedis
Tulang: Inter phalangeales
Gerak sendi : fleksi dan ekstensi
Klasifikasi Persendian

1. Synarthrosis
Sendi yang tidak bergerak sama sekali. Sendi ini dipersatukan oeh jaringan
ikat padat fibrosa. Salah satu contohnya sutura, yang tidak bersifat permanen
karena dapat digantikan nantinya oleh tulang dikemudian hari, disebut
sinostosis. Jika sendi pada tulang dipersatukan dengan dengan lebih banyak
jaringan fibrosa, disebut syndesmosis. Contohnya sydesmosis radio-ulnaris
dan tibio-ulnaris.
Macam yang ketiga yaitu gamphosis, sendi yang terbatas hanya pada gigi
dalam maksila dan mandibula. Ada yang bernama synchondrosis, diantara
tulang terdapat tulang rawan. Contoh: symphysis pubis dan symphysis
manubriosternalis.n Schindelysis, satu tulang yang masuk ke dalam celah
tulang seperti pada reostrum sphenoidale masuk ke dalam Os vomer.
2. Ampiarthosis
Sendi yang bergeraknya sedikit. Contohnya adalah sendi di antara badan-badan
vertebra yang berdekatan, seperti Art. Sacroiliaca. Contoh lain adalah tulang
rusuk.
3. Diarthrosis
Sendi yang dapat bergerak bebas. Merupakan sendi yang terdapat rongga
diantara kedua tulang. Pada articulation synovialis terdapat: Cartilago
articularis, Cavitas articularis, Discus articularis, Meniscus articularis,

Labrum articulare, Capsula articularis, Membrana fibrosa, Membaran


synovialis, Plica synovialis, Villi synovialis, Synovia, Ligamenta terdiri dari:
Ligamentum extracapsularis, Ligamentum capsularis, dan Ligamentum
intracapsularis. Dapat dikelempokkan menjadi:
Sendi peluru: persendian yang memungkinkan pergerakan ke segala arah.
Contoh: hubungan tulang lengan atas dengan tulang belikat.
Sendi pelana: persendian yang memungkinkan beberapa gerakan rotasi,
namun tidak ke segala arah. Contoh: hubungan tulang telapak tangan dan jari
tangan.
Sendi putar: persendian yang memungkinkan gerakan berputar (rotasi).
Contoh: hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang I (atlas).
Sendi luncur: persendian yang memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang
datar. Contoh: hubungan tulang pergerlangan kaki.
Sendi engsel: persendian yang memungkinkan gerakan satu arah. Contoh:
sendi siku antara tulang lengan atas dan tulang hasta.

a.
b.

c.
d.
e.

Articulatio diarthrosis dapat dibagi atas:


Berdasarkan jumlah tulang yang bersendi:
a. art. Simplex: terdiri dari satu sendi
b. art. Compsita: terdiri lebih dari satu sendi

a.

Berdasarkan bentuk permukaan sendi:


Arthroidea (gliding) disebut juga sendi luncur: persendian yang
memungkinkan gerak rotasi pada satu bidang datar. Kepala sendi dan lekuk
sendi rata. Contoh: art. Intercapales, art. Intertarsales, art. Sternoclavicularis,
hubungan tulang pergerlangan kaki.

b.

Ginglymus (hing) disebut juga sendi engsel: persendian yang memungkinkan


gerakan satu arah. Antara permukaan konveks dan konkaf. Contoh: art. Cubiti,
art. Talocrurales, art. Interphalanges, sendi siku antara tulang lengan atas dan
tulang hasta .

c.

Pivot (trochoidea) permukaan sendi vertical. Contoh: art. Atlanto axialis, art.
Trochoidea (radioulnaris proksimalis)

d.

Ellipsoidea (condyloidea) disebut juga sendi putar: persendian yang


memungkinkan gerakan berputar (rotasi). Permukaan sendi berbentuk elip.
Contoh: art. Radiocarpal, hubungan tulang tengkorak dengan tulang belakang
I (atlas).

e.

Spheroidea (a ball and socket) Disebut juga sendi peluru: persendian yang
memungkinkan pergerakan ke segala arah. Kepala sendi seperti bentuk bola
masuk kedalam lekuk sendi yang dalam. Contoh: art. Coxae, hubungan tulang
lengan atas dengan tulang belikat.

f.

Sellaris (saddle) disebut juga sendi pelana: persendian yang memungkinkan


beberapa gerakan rotasi, namun tidak ke segala arah. Kepala sendi dan lekuk
sendi seperti orang duduk diatas plana kuda. Contoh: antara trapezium dan
metacarpal, hubungan tulang telapak tangan dan jari tangan.

Berdasarkan jumlah sumbu gerak:


a. Bersumbu satu: art. Interphalanx, art. Talocruralis.
b. Bersumbu dua: art. Radiocarpalis
c. Bersumbu tiga: art. Glenohumerale, art. Coxae.

Macam-macam Gerak Sendi


1. Ekstensi : gerak meluruskan
2. Fleksi : gerak menekuk, membengkok
3. Abduksi : gerak menjauhi badan
4. Adduksi : gerak mendekati badan
5. Depresi : gerak menurunkan
6. Elevasi : gerakmengangkat
7. Supinasi : gerak menengadahkan tangan
8. Pronasi : menelungkupkan tangan
9. Inversi : gerak memiringkan telapak kaki ke arah dalam tubuh
10. Eversi : gerak memiringkan telapak kaki ke arah luar
Gerak berputar dibidang transversal, dapat berupa :
1. Endorotasi : gerak berputar dari lateral ke medial
2. Eksorotasi : gerak berputar medial ke lateral.
3. Laterofleksi : gerak flexi ke arah samping
4. Sirkumdiksi : gabungan dari gerakan rotasi fleksi, laterofleksi,
dan ekstensi
Dasar-dasar gerak sendi
a. Sistem pengungkit (lever system) semakin pendek lengan bawah semakin
kuat untuk mendorong, berarti lengan bawah yang pendek baik untuk
mendorong.
b. Sistem pengungkit II kaki yang pendek akan lebih menguntungkan
terutama tuber calcanei yang panjang.
c. Sistem pengungkit III ukuran lengan gaya tidak dapat dirubah,
sebaliknya lengan beban dapat dirubah.
1.2 Mikroskopik sendi ekstremitas atas dan bawah
Persendian adalah tempat bertemunya dua atau tiga unsur tulang, baik tulang atau tulang
rawan, dikatakan sebagai sendi atau artikulasi.
Sendi temporer terdapat selama masa penumbuhan : misalnya epifisis tulang panjang menyatu
dengan bagian batang tulang melalui tulang rawan hialin dari diskus epifisis. Sendi demikian
menghilang bila penumbuhan berhenti dan epifisis menyatu dengan bagian batang. Tetapi
kebanyakan sendi bersifat permanen, dan dapat digolongkan berdasarkan ciri susunannya
menjadi 3 golongan utama : fibrosa, kartilaginosa, dan synovial.
Klasifikasi Persendian
a. Sendi Fibrosa
Sendi ini dipersatukan oleh jaringan ikat padat fibrosa. Bila penyatuan ini sangat
kuat sendi ini disebut sutura. Sutura hanya terdapat pada tengkorak dan tidak
bersifat permanen karena jaringan fibrosa pengikat itu dapat diganti oleh tulang
dikemudian hari. Penyatuan tulang yang dihasilkan itu dikenal sebagai sinostosis.

Sendi pada tulang yang dipersatukan oleh jaringan ikat fibrosa yang jauh lebih
banyak daripada yang terdapat pada sutura disebut sindesmosis.
b. Sendi Tulang Rawan
Sendi ini sering dikatakan sebagai sendi kartilaginosa sekunder untuk
membedakannya dari sendi primer, paling jelas ditunjukan sebagai contoh oleh
sendi diantara badan-badan vertebra yang berdekatan. Permukaan tulang yang
berhadapan dilapisi lembar-lembar tulang rawan hialin, yang secara erat
dipersatukan oleh lempeng fibrokartilago. Simifisis , seperti sendi pubis dan
manubriosternal, merupakan contoh sendi kartilaginosa sekunder.
c. Sendi Sinovial
Sebagian besar sendi kita adalah sendi sinovial. Permukaan tulang yang bersendi
diselubungi oleh tulang rawan yang lunak dan licin.
Pada sendi ini, tulang-tulang ditahan menjadi satu simpai sendi. Simpai sendi
menyatukan tulang.
lapisan luar simpai jaringan ikat padat kolagen yang menyatu dengan
periosteum
lapisan dalam simpai membran sinovial (membatasi rongga sendi)
Membran sinovial: membran vaskular tipis mengandung kapiler-kepiler lebar.
1. Membran sinovial yang menjulur kedalam rongga sendi lipatan kasar
(vili sinovial)
2. Menonojol/evaginasi keluar menembus simpai luarbursa
Permukaan tulang yang berhadapan dilapisi tulang rawan, dipisahkan oleh celah
sempit cairan sinovial (dihasilkan membran sinovial)
Terbentuk sebagai dialisat plasma darah dan limf.
Unsur cairan sinovial terdiri dari : asam hialuronat yang terikat dengan
protein
Berfungsi untuk pelumas dan nutritif sel tulang rawan sendi

Keseluruhan daerah sendi dikelilingi kantong, terbentuk dari jaringan


berserat yang disebut kapsul.

Jaringan ini dilapisi membran sinovial yang menghasilkan cairan


sinovialuntuk meminyaki sendi.
Bagian luar kapsul diperkuat oleh ligamen berserat yang melekat
padatulang, menahannya kuat-kuat di tempatnya dan membatasi gerakan
yang dapat dilakukan
Rawan sendi melapisi ujung-ujung tulang dengan fungsi:
1.Melindungi ujung tulang agar tidak aus.
2.Memungkinkan pergerakan sendi menjadi mulus/licin, serta sebagai
penahan beban dan peredam benturan.
Matriks terdiri dari 2 tipe makromolekul, yaitu:
-Proteoglikan : yang meliputi 10% berat kering rawan sendi,
mengandung70-80% air, hal inilah yang menyebabkan tahan terhadap
tekanan dan memungkinkan rawan sendi elastis
-Kolagen : komponen ini meliputi 50% berat kering rawan sendi,
sangattahan terhadap tarikan. Makin kearah ujung rawan sendi makin
tebal,sehingga rawan sendi yang tebal kolagennya akan tahan terhadap
tarikan.Disamping itu matriks juga mengandung mineral, air, dan zat
organik
lain
sepertienzim
(Leeson, C. Roland. Anthony A. Paparo. 1996)

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Metabolisme Purin


Nukleotida mempunya peran yang penting dalam menjadi penyandi asam nukleat
yang bersifat essensial dalam pemeliharaan dan pemindahan informasi genetik. Adapun asam
amino merupakan unit pembangunin protein yang dibutuhkan untuk ekspresi informasi
genetik.
Nukleotida yang paling dikenal karena peranannya adalah nukleotida purin dan
pirimidin. Basa-basa purin yang terpenting adalah adenin, guanin, hipoxantin, dan xantin.
Di dalam bahan pangan, purin terdapat dalam asam nukleat berupa nukleoprotein. Di
usus, asam nukleat dibebaskan dari nukleoprotein oleh enzim pencernaan. Selanjutnya, asam
nukleat ini akan dipecah lagi menjadi mononukleotida. Mononukleotida dihidrolisis menjadi
nukleosida yang dapat secara langsung diserap oleh tubuh dan sebagian dipecah lebih lanjut
menjadi purin dan pirimidin. Purin teroksidasi menjadi asam urat. Asam urat terbentuk dari
hasil metabolisme ikatan kimia yang mengandung nitrogen yang terdapat dalam asam nukleat
yang disebut purin.
Asam urat dapat diabsorbsi melalui mukosa usus dan diekskresikan melalui urin. Pada
manusia, sebagian besar purin dalam asam nukleat yang dimakan langsung diubah menjadi

asam urat, tanpa terlebih dahulu digabung dengan asam nukleat tubuh. Dengan demikian,
dalam kondisi prazat, pembentuk purin tersedia dalam jumlah yang mencukupi di dalam
tubuh dan purin bebas dari bahan pangan tidak berfungsi sebagai pembentuk asam nukleat
jaringan tubuh.
Asam urat merupakan produk akhir yang diekskresikan dari pemecahan purin pada
manusia dan hewan primata. Pada banyak hewan lainnya, asam urat mengalami degradasi
lanjutan menjadi alantonin. Pada manusia normal 18-20% dari asam urat yang hilang dipecah
oleh bakteri menjadi CO2 dan amonia di usus dan diekskresikan melalui feses.
Tidak semua bahan pangan yang mengandung purin meningkatan asam urat. Sebagai
contoh kopi, teh, dan cokelat mengandung komponen purin berupa kafein, theophyline, dan
theobromin yang kemudian dimetabolisme menjadi metil urat yang tidak membentuk topi
atau tidah meningkatkan kadar asam urat dalam darah.
Sintesa purin pada manusia dan mamalia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
terhadap pembentukan asam nukleat. Zat gizi yang digunakan dalam pembentukan purin di
dalam tubuh ini yaitu glutamin, glisin, format, aspartat, dan CO2. Hati adalah tempat
terpenting dalam sintesa purin.
Dalam serum, urat terutama berada dalam bentuk natrium urat, sedangkan dalam
saluran urin, urat dalam bentuk asam urat. Kandungan normal natrium urat di dalam serum
kurang dari 7 mg/dl. Berdasarkan penelitian laboratorium klinis, kadar asam urat normal
untuk wanita berkisar 2,4-5,7 mg/dl dan untuk pria berkisar 3,4-7 mg/dl. Jika kadar asam urat
serum melebihi standar di atas maka disebut dengan hiperurisemia.
Enzim penting yang berperan dalam sintesis asam urat ini adalah xantin oksidase yang
sangat aktif bekerja dalam hati, usus halus, dan ginjal. Tanpa bantuan enzim ini, asam urat
tidak dapat dibentuk.
(Krisnatuti, Diah. Perencanaan Menu untuk Penderita Gangguan Asam Urat.)
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Gout Artritis
3.1 Definisi
Gout Artritis adalah suatu proses inflamasi yang terjadi deposisi kristal asam urat
pada jaringan sekitar sendi (tofi). Gout juga merupakan istilah yang dipakai untuk
sekelompok gangguan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi asam
urat (hiperurisemia).
(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.2 Etiologi
Seperti halnya diabetes melitus, penyebab gout adalah multifaktor. Ada komponen
genetik, tetap bekerjanya faktor lain penyebab gout ini dimasukkan ke dalam kelainan
yang didapat. Faktor etiologi ialah:
- Jenis kelamin (pria > wanita)
- Riwayat keluarga

Diet (daging, alkohol)


Keadaan sosio-ekonomi (tinggi > rendah)
Ukuran tubuh (besar > kecil)

Beberapa faktor ini, tentunya, saling mempengaruhi. Gout dapat dibagi dalam gout
primer, karena beberapa kelainan genetik pada metabolisme purin, atau gout sekunder,
karena meningkatnya pembebasan asam nukleik dari jaringan nekrotik atau ekskresi asam
urat dalam urin yang berkurang.
(Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik Vol 1 E/2. Jakarta: EGC.)
3.3 Epidemiologi
Gout jarang terjadi pada wanita. Sekitar 95% penderita gout adalah pria. Gout dapat
ditemukan di seluruh dunia pada semua ras manusia. Ada prevalensi familial dalam
penyakit gout mengesankan suatu dasar genetik dari penyakit ini.
(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.4 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, kadar asam urat di dalam darah pada pria dewasa kurang dari
7 mg/dL dan pada wanita kurang dari 6 mg/dL. Dan apabila konsentrasi asam urat dalam
serum lebih besar dari 7,0 mg/dl dapat menyebabkan penumpukan kristal monosodium
urat. Serangan gout tampaknya berhubungan dengan peningkatan atau penurunan secara
mendadak kadar asam urat dalam serum. Jika kristal asam urat mengendap dalam sendi,
akan terjadi respon inflamasi dan diteruskan dengan terjadinya serangan gout. Dengan
adanya serangan berulang-ulang, penumpukan kristal monosodium urat yang dinamakan
thopi akan mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan telinga.
Akibat penumpukan Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan disertai penyakit ginjal kronis.
Gambaran kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang asimtomatik menunjukkan
bahwa faktor-faktor non-kristal mungkin berhubungan dengan reaksi inflamasi. Kristal
monosodium urat yang ditemukan tersalut dengan immunoglobulin yang terutama berupa
IgG. Dimana IgG akan meningkatkan fagositosis kristal dan dengan demikian dapat
memperlihatkan aktifitas imunologik.
(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keperawatanpdf/207312121/bab2.pdf)
3.5 Patogenesis
Gout dapat bersifat primer maupun sekunder. Gout primer merupakan akibat langsung
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau ekskresi asam urat yang berkurang
akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat tertentu.
Masalah akan timbul bila terbentuk kristal-kristal dari monosodium urat monohidrat
pada sendi-sendi dan jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk jarum ini
mengakibatkan reaksi peradangan yang bila berlanjut akan mengakibatkan nyeri hebat
yang sering menyertai serangan gout. Jika tidak diobati endapan kristal akan
menyebabkan kerusakan hebat pada sendi dan jaringan lunak.
Pada keadaan normal, kadar urat serum pada pria mulai meningkat setelah pubertas.
Pada wanita kadar urat tidak meningkat sampai setelah menopause karena estrogen

meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal. Setelah menopause kadar urat serum
meningkat seperti pada pria.
(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.6 Manifestasi Klinis
Terdapat empat tahap dari perjalanan klinis penyakit gout yang tidak diobati:
Tahap pertama adalah hiperurisemia asimptomatik.
- Penderita tidak menunjukkan gejala-gejala selain dari peningkatan asam urat serum.
- Hanya 20% dari penderita hiperurisemia asimptomatik yang menjadi serangan gout
akut.
Tahap kedua adalah artritis gout akut.
-

Terjadi pembengkakan mendadak dan nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu
jari kaki dan metatarsofalangeal.
Artritis bersifat monoartikular dan menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal.
Mungkin terdapat demam dan peningkatan jumlah sel darah putih. Serangan dapat
dipicu oleh pembedahan, trauma, obat-obatan, alkohol, atau stres emosional. Tahap
ini biasanya mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera.
Sendi-sendi lain dapat terserang, termasuk sendi jari-jari tangan, lutut, mata kaki,
pergelangan tangan, dan siku.
Serangan gout akut biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10
sampai 14 hari.

(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.7 Diagnosis dan Diagnosis Banding
Diagnosis
Diagnosis artritis gout didasarkan pada kriteria American Rheumatism Association
(ARA), yaitu:
- Terdapat kristal urat dalam cairan sendi atau topus dan atau
- Bila ditemukan 6 dari 12 kriteria tersebut di bawah ini:
1. Inflamasi maksimum pada hari pertama
2. Serangan artritis akut lebih dari satu kali
3. Artritis nonartikuler
4. Sendi yang terkena berwarna kemerahan
5. Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsofalangeal
6. Sernagan pada sendi metatarsofalangeal unilateral
7. Adanya fokus
8. Hiperurisemia
9. Pada foto sinar-x tampak pembengkakan sendi asimetris
10. Pada foto sinar-x tampak kista subkortikal tanpa erosi
11. Kultur bakteri cairan sendi negatif

Diagnosis Banding
Diagnosis banding terutama dengan penyakit artritis monoartikular dan artitis yang
timbulnya akut yaitu pseudogout, artritis piogenik, demam reumatik, artritis reumatoid,
artritis virus, dll. Dalam praktik sehari-hari, terdapat dua jenis penyakit sendi yang harus
dibedakan dengan penyakit pirai sendi yaitu pseudogout dan artritis piogenik.
(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.8 Pemeriksaan Fisik dan Penunjang
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Seseorang dikatakan menderita asam urat apabila pemeriksaan laboratorium
menunjukkan kadar asam urat dalam darah diatas 7 mg/dL untuk pria dan lebih dari 6
mg/dL untuk wanita. Selain itu, kadar asam urat dalam urin lebih dari 760-1000
mg/24 jam dengan diet biasa. Disamping hal tersebut, sering juga dilakukan
pemeriksaan gula darah, ureum, dan kreatinin, disertai pemeriksaan profil lemak
darah untuk menguatkan diagnosis.
Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mendeteksi ada dan tidaknya
penyakit diabetes mellitus. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk mengetahui normal
dan tidaknya fungsi ginjal. Sementara itu pemeriksaan profil lemak darah dijadikan
penanda ada dan tidaknya gejala aterosklerosis.
2. Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis digunakan untuk melihat proses yang terjadi dalam
sendi dan tulang serta untuk melihat proses pengapuran di dalam tofus.
3. Pemeriksaan cairan sendi
Pemeriksaan cairan sendi dilakukan di bawah mikroskop. Tujuannya ialah
untuk melihat kristal urat atau monosodium urate (kristal MSU) dalam cairan sendi.
Untuk melihat perbedaan jenis arhtritis yang terjadi perlu dilakukan kultur cairan
sendi.
Merespon diagnosa ini, dr Nyoman Ketria (2009) mengatakan bahwa jika ada
peradangan sendi, maka cairan sendi yang dikeluarkan bisa dipakai sebagai bahan
pemeriksaan penyakit sendi tersebut. Dengan mengeluarkan cairan sendi yang
meradang maka pasien akan merasakan nyeri sendi yang berkurang. Dengan
memasukkan obat ke dalam sendi, selain menyedot cairan sendi tentunya, maka
pasien akan merasakan nyeri sendi yang berkurang. Dengan memasukkan obat ke
dalam sendi, selain menyedot cairan sendi tentunya, maka pasien akan lebih cepat
sembuh.
Mengenai metode penyedotan cairan sendi ini, Ketria mengatakan bahwa titik
dimana jarum akan ditusukkan harus dipastikan terlebih dahulu oleh seorang dokter.
Tempat penyedoktan harus disterilkan terlebih dahulu, lalu jarum tersebut disuntikkan
dan cairan disedot dengan spuite. Pada umumnya, sehabis penyedotan dilakukan,
dimasukkan obat anti-radang ke dalam sendi. Jika penyedotan ini dilakukan dengan
cara yang tepat maka pasien tidak akan merasa sakit. Jarum yang dipilih juga harus

sesuai kebutuhan injeksi saat itu dan lebih baik dilakukan pembiusan pada pasien
terlebih dahulu.
Jika lokasi penyuntikan tidak steril maka akan mengakibatkan infeksi sendi.
Perdarahan bisa juga terjadi jika tempat suntikan tidak tepat dan nyeri hebat pun bisa
terjadi jika teknik penyuntikan tidak tepat.
Selain memeriksa keadaan sendi yang mengalami peradangan, dokter biasanya
akan memeriksa kadar asam urat dalam darah. Kadar asam urat yang tinggi adalah
sangat sugestif untuk diagnosis gout arthritis. Namun, tidak jarang kadar asam urat
ditemukan dalam kondisi normal. Keadaan ini biasanya ditemukan pada pasien
dengan pengobatan asam urat tinggi sebelumnya. Karena, kadar asam urat sangat
bervariasi dan dipengaruhi oleh pengobatan maka kadar standar atau kadar normal di
dalam darah adalah berkisar 3,5-7 mg/dL.
Pemeriksaan cairan sendi ini merupakan pemeriksaan yang terbaik. Cairan
hasil aspirasi jarum yang dilakukan pada sendi yang mengalami peradangan akan
tampak keruh karena mengandung kristal dan sel-sel radang. Seringkali cairan
memiliki konsistensi seperti pasta dan berkapur. Agar mendapatkan gambaran yang
jelas jenis kristal yang terkandung maka harus diperiksa di bawah mikroskop khusus
yang berpolarisasi. Kristal-kristal asam urat berbentuk jarum atau batangan ini bisa
ditemukan di dalam atau di luar sel. Kadang bisa juga ditemukan bakteri bila terjadi
septic-arhritis.
4. Pemeriksaan dengan Roentgen
Pemeriksaan ini baiknya dilakukan pada awal setiap kali pemeriksaan sendi.
Dan, jauh lebih efektif jika pemeriksaan roentgen ini dilakukan pada penyakit sendi
yang sudah berlangsung kronis. Pemeriksaan roentgen perlu dilakukan untuk melihat
kelainan baik pada sendi maupun pada tulang dan jaringan di sekitar sendi.
Seberapa sering penderita asam urat untuk melakukan pemeriksaan roentgen
tergantung perkembangan penyakitnya. Jika sering kumat, sebaiknya dilakukan
pemeriksaan roentgen ulang. Bahkan kalau memang tidak kunjung membaik, kita pun
dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI).
Tetapi demikian, dalam melakukan pemeriksaan roentgen, kita jangan terlalu
sering. Sebab, pemeriksaan roentgen yant terlalu sering mempunyai risiko terkena
radiasi semakin meningkat. Pengaruh radiasi yang berlebihan bisa mengakibatkan
kanker, kemandulan, atau kelainan janin dalam kandungan pada perempuan. Oleh
karena itu, kita harus ekstra hati-hati dan harus bisa meminimalisasi dalam melakukan
pemeriksaan roentgen ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya berbagai risiko
tersebut.
(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/3keperawatanpdf/207312121/bab2.pdf)
3.9 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan terapi artritis gout sebaiknya mengikuti pedoman terapi sebagai
berikut:
- Hentikan serangan nyeri yang hebat pada serangan artritis gout akut.
- Berikat kolkisin sebagai pencegahan terhadap serangan berulang dari artritis gout.

Evaluasi kadar asam urat dalam urin selama 24 jam setelah terapi nonfarmakologi
diberikan yaiut diet rendah purin dijalankan.
Penanggulangan untuk artritis gout kronis.
Adapun pengobatan artritis gout dibagi atas:

1. Serangan akut
Cara yang efektif dan sederhana mengatasi serangan artritis gout yang akut
adalah penggunaan obat-obat antiinflamasi nonsteroid. Kesembuhan akan terlihat
dalam waktu 24 jam dan gejalanya menghilang setelah 3 hari. Preparat colchicine IV
dengan takaran 1-2 mg yang diencerkan dengan larutan NaCl 0,9% dan disuntikkan
selama waktu 20 menit merupakan preparat yang sangat efektif untuk meredakan
gejala yang akut. Preparat colchicine oral dengan takaran 0,5 mg 2 kalo sehari hingga
4 kali sehari selama 2 sampai 3 hari mungkin diperlukan untuk kesembuhan total.
Namun karena efek sampingnya yaitu timbulnya gejala toksisitas gastrointestinal,
pengobatan ini sudah mulai ditinggalkan.
Tindakan efektif lainnya yaitu dengan cara pungsi cairan sinovia dan
penyuntikkan deposteroid dengan dosis 40 mg (triamsinolon). Tindakan ini efektif
terutama pada pasien yang tidak mendapat pengobatan per oral atau tidak dapat
mentolerir pemakaian NSAID ataupun colchinie.
Preparat urikosurik dan alopurinol harus dihindari selama serangan akut.
Insidensi terjadinya artritis gout akut yang rekuren dapat diturunkan dengan
pemberian colchicine 2 x 0,5 mg/hari dalam jangkan waktu lama.
2. Tindakan untuk menurunkan kadar asam urat serum
Tindakan untuk menurunkan kadar asam urat serum dapat diberikan preparat
urikosurik yang salah satunya adalah probenesid dengan dosis 500 mg tiap 12 jam dan
dapat ditingkatkan hingga mencapai 3 gram/hari untuk kadar asam urat serum sampai
6 mg/dl. Alternatif lain dapat diberikan sulfinpirazon yang relatif bekerja singkat dan
harus diberikan tiap 6 jam dengan dosis terbagi yang berkisar dari 300-1000 mg/hari.
Allopurinol merupakan preparat urikosurik yang sangat efektif bekerja dengan
menyekat lintasan metabolik yang meproduksi asam urat, khususnya dengan
menghambat kerja enzim xantin oksidasi. Dosis sebesar 2 x 100 mg/hari dapat
ditingkatkan hingga mencapai dosis 600 mg/hari untuk mendapatkan efek yang
diinginkan. Pada penyakit gout dengan tofus yang berat, preparat alopurinol dapat
digunakan bersama-sama preparat urikosurik lainnya.
(Misnadiarly. 2007. Rematik, Asam Urat, Hiperurisemia, Arthritis Gout. Jakarta: Pustaka
Obor Populer.)
3.10

Prognosis

LI 4. Memahami dan Menjelaskan NSAID dan Uricosuric


4.1 Farmakodinamik NSAID dan Uricosuric
NSAID

Efek Analgesik
Sebagai analgesik, NSAID hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah
sampai sedang, misalnyasakit kepala, mialgia, artralgia, dismenorea dan juga efektif
terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan. Efek
analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opiat, tetapi NSAID tidak
menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang
merugikan. Untuk menimbulkan efek analgesik, NSAID bekerja pada hipotalamus,
menghambat pembentukan prostaglandin ditempat terjadinya radang, dan mencegah
sentisisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi.
- Efek Antipiretik
Sebagai antipiretik, NSAID akan menurunkan suhu badan hanya dalam keadaan
demam. Penurunan suhu badan berhubungan dengan penignkatan pengeluaran anas
karena pelebaran pembuluh darah superfisial. Antipiresis mungkin disertai dengan
pembentukan banyak keringat. Demam yang menyertai infeksi dianggap timbul akibat
dua mekanisme kerja, yaitu pembentukan prostaglandin di dalam susunan syarag
pusat sebagai respon terhadap bakteri pirogen dan adanya efek interleukin-1 pada
hipotalamus.
- Efek Antiinflamasi
Adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak.
Rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin, serotonin,
bradikinin, prostaglandin dan lainnya yang menimbulkan reaksi radangan berupa
panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kebanyakan NSAID
lebih dimanfaatkan pada pengobatan muskuloskeletal seperti artritis reumatoid,
osteoartritis, dan spondilitis ankilosa. Namun, NSAID hanya meringankan gejala
nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak
menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan
muskuloskeletal.
4.2 Farmakokinetik NSAID dan Uricosuric
NSAID
Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan
NSAID (Non Steroidal Anti-Inflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki
khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang).
Istilah non-steroid digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid,
yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika.
Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu
pembentukan prostaglanding dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin merupakan
molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang).
Urikosurik
Obat golongan urikosurik merupakan obat yang menghambat reabsorpsi asam urat di
tubulus ginjal sehingga eksresi asam urat meningkat melalui ginjal. Agar obat ini bekerja

dengan efektif, dibutuhkan fungsi ginjal normal dengan bersihan kreatinin 115-120 ml/menit.
Sebaiknya terapi dengan obat golongan urikosurik dimulai dengan dosis rendah untuk
menghindari efek urikosuria dan terbentuknya batu urat.
4.3 Efek Samping NSAID dan Uricosuric
Urikosurik
1. Kolkisin
Muntah, mual, dan diare yang paling sering dapat mengganggu pada dosis maksimal.
Bisa juga terjadi depresi sumsum tulang belakang, purpura, neuritis perifer, miopati,
anuria, gangguan hati dan reaksi alergi.
2. Alopurinol
Reaksi yang sering erjadi di kulit seperti kemerahan. Reaksi alergi berupa demam
menggigil, leukopenia atau leukositosis, eosenofilia dan pruritus. Gangguan cerna
kadang-kadang terjadi.
3. Probenesid
Yang paling sering gangguan cerna, nyeri kepala dan reaksi alergi.
4. Sulfinpirazon
Gangguan saluran cerna, anemia, leukopenia, agranulositosis dapat terjadi.