Anda di halaman 1dari 24

Rangkuman MIKROBIOLOGI

UDARA & DAMPAK


PENCEMARAN UDARA THP
KESEHATAN
Resa Mailina
Tingkat 2 DIV
KEEP SPIRIT !! ^.^

MIKROBIOLOGI UDARA
Udara tidak mempunyai flora alami, organisme tidak dapat
hidup dan tumbuh terapung begitu saja di udara.
Flora mikroorganisme udara terdiri atas organismeorganisme yang terdapat sementara mengapung di udara
atau terbawa serta pada partikel debu.
Setiap kegiatan manusia menimbulkan bakteri di udara,
Batuk, dan bersin menimbulkan aerosol biologi (yaitu
kumpulan partikel di udara).
Jumlah dan macam mikroorganisme dalam suatu volume
udara akan bervariasi sesuai dengan lokasi, kondisi cuaca
dan jumlah orang yang ada.
Daerah yang berdebu hampir selalu mempunyai populasi
mikroorganisme atmosfer yang tinggi.

JENIS MIKROBA DI UDARA


Di udara terdapat sel vegetatif dan spora bakteri, jamur dan
ganggang, virus dan kista protozoa.
Selama udara terkena sinar matahari, udara tersebut akan
bersuhu tinggi dan berkurang kelembabannya.
Selain mikroba yang mempunyai mekanisme untuk dapat
toleran pada kondisi ini, kebanyakan mikroba akan mati.
Udara terutama merupakan media penyebaran bagi
mikroorganisme.
Mereka terdapat dalam jumlah yang relatif kecil bila
dibandingkan dengan di air atau di tanah.
Mikroba udara dapat dipelajari dalam dua bagian, yaitu
mikroba di luar ruangan dan di dalam ruangan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi


keberadaan Mikroorganisme di Udara
1. Faktor intrinsik:
a. Sifat mikroorganisme
- Spora relatif lebih banyak daripada sel vegetatif, sifat
spora memungkinkan mereka untuk mentolerir kondisi
yang tidak menguntungkan seperti pengeringan,
kurangnya nutrisi yang cukup dan radiasi ultraviolet.
- Spora fungi berlimpah di udara karena spora
merupakan alat penyebaran fungi.

b. Ukuran mikro organisme


- Ukuran mikroorganisme menentukan jangka waktu
mereka untuk tetap melayang di udara.

c. Keadaan suspensi
- Semakin kecil suspensi, semakin besar
kemungkinan mereka untuk tetap berada di
udara.
- Biasanya mereka melekat pada partikel debu dan
air liur.
- Mikroorganisme yang ada dalam partikel debu di
udara hanya hidup untuk waktu yang singkat.
- Tetesan yang dibuang ke udara melalui batuk atau
bersin juga hanya dapat bertahan di udara untuk
waktu singkat.
- Namun jika ukuran suspensi menurun, mereka
dapat bertahan lama di udara

2. Faktor lingkungan:
a. Suhu dan kelembaban
Temperatur dan kelembaban relatif adalah dua
faktor penting yang menentukan viabilitas dari
mikroorganisme dalam aerosol.
Studi dengan Serratia marcesens dan E. coli
menunjukkan bahwa kelangsungan hidup udara
terkait erat dengan suhu.
Ada peningkatan yang progresif di tingkat
kematian dengan peningkatan suhu dari -18 C
sampai 49o C.
Virus dalam aerosol menunjukkan perilaku serupa.
Partikel influenza, polio dan virus vaccinia lebih
mampu bertahan hidup pada temperatur rendah,
7-24 C.

Tingkat kelembaban relatif (RH) optimum untuk


kelangsungan hidup mikroorganisme adalah antara 40
sampai 80%.
Kelembaban relatif yang lebih tinggi maupun lebih
rendah menyebabkan kematian mikroorganisme.
Hampir semua virus mampu bertahan hidup lebih baik
pada RH 17 sampai 25%.
Virus poliomyelitis bertahan lebih baik pada RH 80
81%.
Kemampuan mikroba bertahan hidup lebih ditentukan
oleh RH dan suhu. Pada semua temperatur,
kemampuan mereka untuk bertahan hidup adalah pada
RH ekstrem.
Terlepas dari RH, peningkatan suhu menyebabkan
penurunan waktu bertahan.

b. Angin
Pada udara yang tenang, partikel cenderung
turun oleh gravitasi.
Tapi sedikit aliran udara dapat menjaga
mereka dalam suspensi untuk waktu yang
relatif lama.
Angin penting dalam penyebaran
mikroorganisme karena membawa mereka
lebih jauh.
Arus juga memproduksi turbulensi udara yang
menyebabkan distribusi vertikal mikroba
udara.
Pola cuaca global juga mempengaruhi
penyebaran vertikal.

c. Ketinggian
Ketinggian membatasi distribusi mikroba
di udara.
Semakin tinggi dari permukaan bumi,
udara semakin kering, radiasi ultraviolet
semakin tinggi, dan suhu semakin
rendah sampai bagian puncak troposfer.
Hanya spora yang dapat bertahan dalam
kondisi ini

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


1. Mikroba di luar ruangan
Mikroba yang ada di udara berasal dari habitat
perairan maupun terestrial.
Mikroba di udara pada ketinggian 300-1,000 kaki
atau lebih dari permukaan bumi adalah organisme
tanah yang melekat pada fragmen daun kering,
jerami, atau partikel debu yang tertiup angin.
Mikroba tanah masih dapat ditemukan di udara
permukaan laut sampai sejauh 400 mil dari pantai
pada ketinggian sampai 10.000 kaki.

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


1. Mikroba di luar ruangan
Mereka dapat ditemukan baik di daerah kutub
maupun tropis.
Mikroba yang ditemukan di udara di atas
pemukiman penduduk di bawah ketinggian
500 kaki yaitu spora Bacillus dan Clostridium,
yeast, fragmen dari miselium, spora fungi,
serbuk sari, kista protozoa, alga, Micrococcus,
dan Corynebacterium, dan lain-lain.

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


1. Mikroba di dalam ruangan
Dalam debu dan udara di sekolah dan bangsal
rumah sakit atau kamar orang menderita penyakit
menular, telah ditemukan mikroba seperti bakteri
tuberkulum, streptokokus, pneumokokus, dan
staphylokokus.
Bakteri ini tersebar di udara melalui batuk, bersin,
berbicara, dan tertawa.
Pada proses tersebut ikut keluar cairan saliva dan
mukus yang mengandung mikroba.
Virus dari saluran pernapasan dan beberapa saluran
usus juga ditularkan melalui debu dan udara.

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


2. Mikroba di dalam ruangan
Patogen dalam debu terutama berasal dari objek yang
terkontaminasi cairan yang mengandung patogen.
Tetesan cairan (aerosol) biasanya dibentuk oleh bersin,
batuk dan berbicara.
Setiap tetesan terdiri dari air liur dan lendir yang dapat
berisi ribuan mikroba.
Diperkirakan bahwa jumlah bakteri dalam satu kali
bersin berkisar antara 10.000 sampai 100.000.
Banyak patogen tanaman juga diangkut dari satu tempat
ke tempat lain melalui udara dan penyebaran penyakit
jamur pada tanaman dapat diprediksi dengan mengukur
konsentrasi spora jamur di udara.

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


2. Mikroba di rumah sakit
Udara di dalam rumah sakit dapat bertindak sebagai
reservoir mikroorganisme patogen yang ditularkan oleh
pasien.
Infeksi yang diperoleh selama perawatan di rumah sakit
tersebut disebut infeksi nosokomial dan patogen yang
terlibat disebut sebagai patogen nosokomial.
Infeksi, diwujudkan oleh gejala terkait, setelah tiga hari
dirawat di rumah sakit bisa dianggap sebagai infeksi
nosokomial (Gleckman & Hibert, 1982 dan Bonten &
Stobberingh, 1995). T
Terdapat dua cara utama penyebaran patogen nosokomial,
yaitu dengan kontak (baik langsung atau tidak langsung),
dan penyebaran melalui udara.

DISTRIBUSI MIKROBA DI UDARA


3. Mikroba di rumah sakit
Infeksi nosokomial di rumah sakit mungkin
dibawa oleh staf atau pasien yang masuk ke
rumah sakit.
Infeksi nosokomial yang banyak ditemukan yaitu
berasal dari Haemophilus. influenzae,
Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus
aureus, Pseudomonas aeruginosa, anggota
Enterobacteriaceae dan virus pernafasan.

DAMPAK PENCEMARAN UDARA TERHADAP


KESEHATAN
Dampak secara umum
Pencemaran udara pada
dasarnya
berbentuk partikel (debu,
gas, timah hitam) dan gas
(Karbon Monoksida
(CO), Nitrogen Oksida
(NOx) , Sulfur Oksida (SOx),
Hydrogen Sulfida
(H2S), hidrokarbon)

Udara yang tercemar


dengan partikel dan gas
ini dapat menyebabkan
gangguan kesehatan
yang berbeda tingkatan
dan jenisnya tergantung
dari macam, ukuran dan
komposisi kimiawinya

Dampak pada sistem pernafasan


Iritasi pada saluran pernafasan. Hal ini

dapat menyebabkan pergerakan silia


menjadi lambat, bahkan dapat terhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran
pernafasan.
Peningkatan produksi lendir akibat iritasi
oleh bahan pencemar.
Produksi lendir dapat menyebabkan
penyempitan saluran pernafasan.
Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran
pernafasan.
Pembengkakan saluran pernafasan dan
merangsang pertumbuhan sel, sehingga
saluran pernafasan menjadi menyempit.
Lepasnya silia dan lapisan sel selaput
lendir.

Akibat dari hal tersebut di atas, akan


menyebabkan terjadinya kesulitan bernafas
sehingga benda asing termasuk
bakteri/mikroorganisme lain tidak dapat
dikeluarkan dari saluran pernafasan dan hal ini
akan memudahkan terjadinya infeksi saluran
pernafasan

Partikulat
Pengertian
Secara sederhana partikulat dapat diartikan sebagai salah
satu substansi yang selalu ada dalam udara dan berpotensi
mencemari udara
Partikulat adalah zat padat/cair yang halus dan tersuspensi
di udara, misalnya embunm debu, asap, fumes, dan fog
Debu adalah zat padat berukuran 0,1-25 mikron
Fumes adalah zat padat hasil kondensasi gas yang
biasanya terjadi setelah proses penguapan logam cair,
berukuran sangat kecil yakni kurang dari 1,0 mikron
Asap adalah karbon (C) yang berdiameter kurang dari 0,1
mikron, akibat dari pembakaran hidrat karbon yang
kurang sempurna, demikian pula halnya dengan jelaga

Partikulat
Sumber:
Partikulat ini dapat terdiri dari zat organik dan anorganik.
Sumber alamiah partikulat atmosfer adalah debu yang
memasuki atmosfer karena terbawa angin.
Sumber artifisial debu terutama adalah pembakaran
(batubara, minyak bumi, dan lain-lain) yang dapat
menghasilkan jelaga (partikulat yang terdiri dari karbon
dan zat lain yang melekat padanya).
Sumber lain adalah segala proses yang menimbulkan debu
seperti pabrik semen, industri metalurgi, industri
konstruksi, industri bahan makanan dan juga kendaraan
bermotor.

Partikulat
Dampak:
Partikel debu yang dapat masuk
kedalam saluran pernafasan
manusia adalah yang berukuran
0,1 m sampai 10 m dan berada
sebagai suspended particulate
matter (partikulat melayang
dengan ukuran 10 m dan
dikenal dengan nama PM10).
Dampak yang ditimbulkan
PM10 biasanya bersifat akut pada
saluran pernafasan bagian bawah
seperti pneumonia dan bronchitis
baik pada anak-anak maupun pada
orang dewasa
Salah satu partikulat yang penting
dapat menyebabkan ISPA adalah
mist asam sulfat (H2SO4)

Karbon Monoksida
Di daerah perkotaan dengan
lalu lintas yang padat
konsentrasi gas CO berkisar
antara 10-15 ppm.
Sudah sejak lama diketahui
bahwa gas CO dalam jumlah
bDi udara, Karbon
Monoksida (CO) terdapat
dalam jumlah yang sangat
sedikit, hanya sekitar 0,1
ppm.
anyak (konsentrasi tinggi)
dapat menyebabkan gangguan
kesehatan bahkan juga dapat
menimbulkan kematian.

CO
Karbon monoksida (CO)
apabila terhirup ke dalam
paru-paru akan ikut
peredaran darah dan akan
menghalangi masuknya
oksigen yang dibutuhkan
oleh tubuh.
Gas CO bersifat racun, ikut
bereaksi secara metabolis
dengan darah (hemoglobin)
:
Hemoglobin + CO >
COHb
(Karboksihemoglobin)

Ikatan karbon monoksida dengan


darah (karboksihemoglobin) lebih
stabil daripada ikatan oksigen
dengan darah (oksihemoglobin).

Keadaan ini menyebabkan darah


menjadi lebih mudah menangkap gas
CO dan menyebabkan fungsi vital
darah sebagai pengangkut oksigen
terganggu.

CO

Dalam keadaan normal


konsentrasi CO di dalam

darah berkisar antara


0,2% sampai 1,0%, dan
rata-rata sekitar 0,5%.
Kadar CO dalam darah
dapat seimbang selama
kadar CO di atmosfer
tidak meningkat dan
kecepatan pernafasan
tetap konstan.

Keracunan gas karbon monoksida dapat


ditandai dari keadaan ringan, berupa
pusing, rasa tidak enak pada mata, sakit
kepala, dan mual.
Keadaan yang lebih berat dapat berupa
detak jantung meningkat, rasa tertekan
di dada, kesukaran bernafas, kelemahan
otot-otot, gangguan pada sisten
kardiovaskuler, serangan jantung sampai
pada kematian.