Anda di halaman 1dari 9

Pertolongan Pertama pada Kegawatdaruratan Respirasi

1) Asma
Asma merupakan kondisi dimana jalan udara ke paru-paru menjadi sempit akibat
spasme otot, edema membran mukosa paru-paru dan peningkatan produksi mukus di paruparu. Asma terjadi akibat peradangan pada saluran napas akibat terlalu responsif terhadap
suatu rangsangan. Akibatnya, saluran napas menjadi sempit dan diperparah dengan
pengeluaran lendir. Penderita akan merasa kesulitan bernapas, terutama saat menghembuskan
napas.
Pemicu timbulnya asma, secara umum berupa :

Alergen (debu rumah, serbuk sari, obat-obatan)


yang dihirup

Iritan ( seperti asap rokok, polutan dan bau-bau


yang menyengat)

Aktifitas fisik yang berlebihan (latihan atau olah


raga)

Perubahan temperatur dan cuaca

Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan


oleh virus.

Medikasi tertentu, seperti aspirin dan beberapa obat


tekanan darah.

Zat pengawet atau zat tambahan dalam makanan.

Emosi atau stress

Menangis

Tanda dan Gejala

Nafas pendek, terutama saat berbicara

Batuk kering atau berdahak

Peningkatan denyut nadi

Sianosis

Kolaps

Sesak napas parah dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing (mengi)

Pertolongan Pertama

Tenangkan penderita

Bantu penderita untuk duduk dan istirahat, jangan meninggalkan penderita sendirian.

Jika penderita kooperatif, bantu penderita menggunakan bronkodilator 4 semprotan


tiap 4 menit.

Istirahatkan penderita.

Jika tersedia, oksigen dapat diberikan.

Jika tidak ada perbaikan atau perbaikan amat sedikit, hubungi fasilitas kesehatan.

Jangan banyak bertanya pada penderita, karena biasanya ia sulit berbicara

2) Tenggelam
Tenggelam menjadi salah satu
penyebab kematian yang terbilang
cukup

sering.

kematian
tenggelam
sumbatan
kekurangan

yang

Pada

menimpa

terjadi
jalan

hakikatnya

akibat
pernapasan

oksigen

korban
adanya
serta

(hipoksia).

Kebanyakan orang tenggelam tidak


dapat atau tidak meminta bantuan. Tenaga mereka habis untuk mempertahankan kepala
mereka di atas air.
Pertolongan pertama yang dapat diberikan yaitu :

Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan cara teraman.

Setelah keluar dari air, putar atau arahkan penderita ke satu sisi dan buka jalan
nafasnya, sehingga memungkinkan air untuk dimuntahkan dari mulut.

Cek pernafasan, jika penderita tidak bernafas, mulai lakukan resusitasi udara ekspirasi
atau nafas buatan.

Setelah lima nafas, cek nadi karotis.

Jika penderita tidak teraba nadinya, maka lakukan RJP.

Lanjutkan nafas buatan dan RJP hingga bantuan medis datang.

3) Tersedak
Tersedak terjadi akibat adanya
sumbatan pada jalan nafas. Secara
umum sumbatan jalan nafas dapat terjadi
baik pada jalan nafas bagian atas atau
jalan nafas bagian bawah. Jalan atas
bagian atas meliputi mulut dan hidung
sampai

ke

laring.

Bronkus

dan

selanjutnya tergolong jalan nafas bagian


bawah, sumbatan pada bagian ini biasanya akibat benda asing yang terhirup atau spasme
saluran nafas.Sumbatan jalan nafas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan
pada orang yang tidak ada respon adalah lidah yang jatuh ke belakang.
Secara umum sumbatan dapat terjadi akibat benda asing (makanan, mainan, darah dan
lainnya) atau dari struktur anatomis penderita (lidah, penyempitan saluran pernafasan,
kerusakan jaringan dan sebagainya). Pada bayi dan anak kecil sumbatan jalan nafas
kebanyakan terjadi akibat benda asing, sedangkan pada orang dewasa paling banyak terjadi
akibat lidah. Sumbatan yang terjadi oleh benda asing dapat bersifat total atau sebagian
(parsial).
Pada sumbatan total, mungkin penderita ditemukan masih sadar atau dalam keadaan
tidak sadar. Obstruksi total akut biasanya disebabkan oleh tertelannya benda asing yang
kemudian tersangkut dan tersumbat di pangkal laring. Bila obstruksi total timbul perlahan
(insidious), biasanya berawal dari obstruksi parsial yang kemudian menjadi total. Penderita
akan sulit bernafas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran. Dalam keadaan sehari-hari yang
sering dijumpai adalah tersedak yang memiliki ciri khas. Penderita terkesan mencekik leher
sendiri dengan dua tangannya.
Sumbatan parsial ditandai dengan upaya untuk bernafas dan mungkin disertai bunyi
nafas tambahan misalnya mengirik, mengorok, kumur dan lain-lain, tergantung dari
penyebabnya, yaitu :

Cairan (darah, sekret, aspirasi lambung)

Timbul suara seperti kumur-kumur (gurgling), suara nafas bercampur dengan suara cairan.
Dalam keadaan ini harus dilakukan penghisapan (suction).

Lidah jatuh ke belakang

Timbul suara mengorok (snoring). Keadaan ini timbul misalnya pada keadaan tidak sadar
(coma) atau patahnya tulang rahang bilateral. Kondisi ini harus diatasi dengan perbaikan
airway, manual ataupun dengan alat.

Penyempitan laring atau trakea

Timbul suara crowing atau stridor inspirasi. Dapat disebabkan edema karena berbagai hal
(luka bakar, radang, dsb) ataupun desakan neoplasma. Keadaan ini hanya dapat diatasi
dengan perbaikan airway di RS.
Pada sumbatan parsial mungkin tidak diperlukan tindakan khusus, walaupun penderita
harus secepat mungkin dibawa ke RS karena jika kesulitan ini berkepanjangan dapat
menimbulkan kegagalan pernafasan, oleh sebab itu jangan meninggalkan penderita yang
mengalami sumbatan benda asing sebagian (parsial).
Khusus untuk mengatasi sumbatan total dikenal adanya Perasat Heimlich (Heimlich
Maneuver). Perasat ini dapat dilakukan pada dewasa dan anak. Perasat ini pada dasarnya
adalah hentakan perut, namun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan beberapa variasi dari
perasat ini.
Heimlich Maneuver:
1. Hentakkan perut pada penderita dewasa dan anak, ada respon.
o Penolong berdiri di belakang penderita, posisikan tangan penolong memeluk
di atas perut penderita melalui ketiak penderita.
o Sisi genggaman tangan penolong di letakkan di atas perut penderita tepat pada
pertengahan antara pusar dan batas pertemuan iga kiri dan kanan.
o Letakkan tangan lain penolong di atas genggaman pertama, lalu hentakan
tangan penolong ke arah belakang dan atas, posisi kedua siku penolong ke
arah

luar,

lakukan

hentakan

sambil

meminta

penderita

membantu

memuntahkannya.
o Lakukan berulang-ulang sampai berhasil atau penderita menjadi tidak respon.
2. Hentakkan perut-pada penderita dewasa dan anak, tidak ada respon.
o Baringkan penderita pada posisi terlentang.

o Upayakan memberikan bantuan pernafasan, bila gagal upayakan perbaikan


posisi dan coba ulangi pemberian nafas bantuan. Bila gagal lanjutkan
kelangkah berikut:
o Berlututlah demikian rupa sehingga paha penderita diapit oleh lutut penolong
lalu tempatkan tumit tangan sedikit di atas pusat tepat pada garis tengah antara
pusat dan pertemuan rusuk kiri dan kanan.
o Lakukan 5 kali hentakan perut ke arah atas.
o Periksa mulut penderita dan lakukan sapuan jari. Bila perlu dapat dilakukan
penarikan rahang bawah. Ingat: pada anak kecil dan bayi lakukan hanya bila
benda itu terlihat.
o Bila belum berhasil ulangi langkah 2-5 berulang-ulang sampai jalan nafas
terbuka.
3. Hentakan dada pada penderita dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang ada
respon.
o Berdirilah dibelakang penderita. Lengan memeluk penderita melalui bawah
ketiak di bagian dada.
o Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat di atas
pertengahan tulang dada.
o Lakukan hentakan dada.
o Lanjutkan sampai jalan nafas terbuka atau penderita menjadi tidak sadar.
4. Hentakan dada pada penderita dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak
respon. Langkahnya sama seperti pada nomer 2, hanya posisi penolong berlutut di
samping penderita dan letakkan tumit tangan pada pertengahan tulang dada.

4) Henti napas/distress pernapasan


Kegagalan pernapasan adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga
terjadi hipoksemia, hiperkapnea (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri) dan
asidosis. Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara
pernapasan dari korban / pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan
tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi pada keadaan :
o Tenggelam
o Stroke
o Obstruksi jalan napas
o Epiglotitis

o Overdosis obat-obatan
o Tersengat listrik
o Infark miokard
o Tersambar petir
o Koma akibat berbagai macam kasus
Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk ke dalam darah untuk
beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ
vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat
agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung.
Tindakan yang terlebih dahulu dilakukan pada korban / pasien, yaitu :
a. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong.
b. Memastikan kesadaran dari korban / pasien.
Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak, penolong harus
melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban / pasien, dapat dengan
cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban / pasien dengan lembut dan
mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya
atau Pak !!! / Bu !!! / Mas !!! / Mbak !!!
c. Meminta pertolongan
Jika ternyata korban / pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera
minta bantuan dengan cara berteriak Tolong !!! untuk mengaktifkan sistem
pelayanan medis yang lebih lanjut.
d. Memperbaiki posisi korban / pasien
Untuk melakukan tindakan bantuan hidup dasar yang efektif, korban / pasien harus
dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. Jika korban
ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi
terlentang. Ingat ! penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara
kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang,
korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan
kedua tangan diletakkan di samping tubuh.
e. Mengatur posisi penolong
Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan
sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakan lutut.

Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan


melakukan tindakan :
1. Pemeriksaan jalan napas
Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh
benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan
berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi
dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnik
Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut
korban.

2. Membuka jalan napas


Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban
tidak sadar tonus otototot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup
farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan
jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara tengadah kepala topang dagu
(Head tilt chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan
napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas kesehatan adalah

tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat
melakukan manuver lainnya.

Setelah memeriksa pemeriksaan jalan napas dan membuka jalan napas,


prosedur selanjutnya yaitu bantuan napas yang terdiri dari 2 tahap :
1. Memastikan korban / pasien tidak bernapas.
Dengan cara melihat pergerakan naik
turunnya dada, mendengar bunyi napas dan
merasakan hembusan napas korban / pasien.
Untuk itu penolong harus mendekatkan
telinga di atas mulut dan hidung korban /
pasien, sambil tetap mempertahankan jalan
napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan
tidak boleh melebihi 10 detik.
2. Memberikan bantuan napas.
Jika korban / pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukan melalui
mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada
tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali
hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,52 detik
dan volume udara yang dihembuskan adalah 400 -500 ml (10 ml/kg) atau sampai
dada korban / pasien terlihat mengembang.
Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas
agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan
hanya 1617%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban / pasien
setelah diberikan bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan dari mulut ke mulut

Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara


yang cepat dan efektif untuk memberikan udara ke paruparu korban / pasien.
Pada saat dilakukan hembusan napas
dari

mulut

ke

mulut,

penolong

harus

mengambil napas dalam terlebih dahulu dan


mulut

penolong

harus

dapat

menutup

seluruhnya mulut korban dengan baik agar


tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan
napas dan juga penolong harus menutup
lubang hidung korban / pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk
mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan
pada kebanyakan orang dewasa adalah 400 - 500 ml (10 ml/kg).

Harnowo, P. A. (2013). P3K: Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat. Website


http:// Pertolongan Pertama dan Penanganan Darurat- detik com.pdf (Diakses pada 2
Oktober 2014 Pukul 14.15 WIB)
Muttaqin, A. Buku Ajar: Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Purwoko. (n.d). Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Website: http:// hemodialisa.files.wordpress.com/bantuan-hidup-dasar.doc (Diakses
pada Minggu, 12 Oktober 2014 Pukul 08.42 WIB)
Robbins & Cotran. (2008). Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Ed. 7. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Referensi Gambar :
Obat-maag.web.id/asma.jpg
Kabarpadang.com/tenggelam-ilustrasi.jpg
Assets.kompas.com/1524054.jpg