Anda di halaman 1dari 20

PVBP

KELOMPOK 4
1. DHEA APRILIA
2. FIRDHA RAMADHANI HATTA
3. NIKEN MEDHY
4. RESA MAILINA
Tingkat 2 DIV
Poltekkes Kemenkes Jakarta II

Taksonomi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas
: Insekta
Ordo
: Diptera
Family
: culicidae
Sub family : Culicinae
Genus
: Aedes
Species
: Aedes aegypti

Morfologi Aedes aegypti


Telur berbentuk
oval

Memiliki
terompet yang
langsing

Nyamuk Aedes
aegypti
berwarna hitam
kecoklatan

Mempunyai
sepasang
palpus
maxiliary

Cara Hinggap :
sejajar

Sayap : sisiknya
merata

Abdomen :
sisiknya banyak
, cerci panjang
dan runcing

Palpus Maksilaris
Betina panjangnya
1/5 probosis &
Jantan Berbulu pada
1/3 bagian ujung

Kaki Belakang :
memiliki cincin
putih

panjang telur
kurang lebih 0,5
mm

Aedes aegypti
Telur

nyamuk betina mampu meletakkan


100 400 butir telur.
Biasanya, telur telur tersebut
diletakkan di bagian yang
berdekatan dengan permukaan air

Larva

larva berukuran 0,5 1 cm


hidup pada suhu 25C sampai
dengan 35C.

Pupa

Berbentuk bengkok seperti


koma

dewasa Memiliki antena berbulu


mempunyai lingkaran putih di
pergelangan kaki dan bintik
bintik putih di tubuhnya

Fisiologi Nyamuk
Anthene dan palpi sebagai alat
pembau digunakan untuk
menemukan makanan, untuk
menemukan pasangannya, dan
untuk menempatkan telurnya.
Bulu perasa sebagai alat peraba
Perut(Abdomen). Perut dibentuk
oleh 11 sekmen. Sekmen ke-9 dan
ke-10 membentuk alat produksi.
Pada serangga betina, kedua
sekmen ini membentuk alat
pelekat telur. Bentuknya
memanjang dan runcing.
Kaki digunakan saat sedang
hinggap di makanan.
proboscis berfungsi untuk
menghisap darah atau makanan
lainnya (misal, nektar atau cairan
lainnya sebagai sumber gula)

Peranan nyamuk Aedes dalam


Kesehatan
merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa :
> virus dengue penyebab penyakit demam
berdarah.
> A. aegypti juga merupakan pembawa virus
demam kuning (yellow fever)
> chikungunya

Mekanisme Pembawa Nyamuk Aedes Aegypti


Pada penyakit demam berdarah Virus dengue yang
terhisap akan berkembangbiak dan menyebar ke
seluruh tubuh nyamuk termasuk kelenjar liurnya.
Bila nyamuk tersebut menggigit/menghisap darah
orang lain, virus itu akan dipindahkan bersama air
liur nyamuk.
Bila orang yang ditulari itu tidak memiliki kekebalan
(umumnya anak-anak), ia akan segera menderita
DBD.

Pengendalian Nyamuk
Pengendalian Non Kimiawi
1. Modifikasi lingkungan , yaitu setiap kegiatan
yang mengubah fisik lingkungan secara
permanen agar tempat perindukan nyamuk
hilang. Kegiatan yang dilakukan dalam
modifikasi lingkungan adalah 3 M : Menutup,
Menguras, Menimbun sarang nyamuk.
2. Manipulasi lingkungan, suatu bentuk kegiatan
untuk menghasilkan suatu keadaan
sementara yang tidak menguntungkan bagi
keberadaan nyamuk. Misalnya :
pengangkatan lumut dari laguna, mengubah
kadar garam, sistem pengairan secara berkala
di bidang pertanian.
3. Mengubah atau memanipulasi tempat tinggal
dan tingkah laku manusia, yaitu kegiatan yang
bertujuan untuk mencegah atau membatasi
perkembangan vektor dan mengurangi
kontak dengan manusia. Kegiatan ini berupa:
a) Penggunaan kelambu saat tidur.
b) Memasang tirai penolak serangga yang
dipasang padapintu pintu masuk ruangan
umum.

Pengendalian Kimiawi

1. Menggunakan baju /
kelambu yang
direndam
menggunakan
insektisida.
2. Melakukan fogging
(pengabutan) pada
pagi hari
3. Memasukan bubuk
abate pada bak
mandi untuk
mencegah
perkembangbiakan
nyamuk.

Pengendalian nyamuk
Program yang sering dikampanyekan di Indonesia adalah 3M,
yaitu menguras, menutup, dan mengubur.

Menguras

Menutup

Mengubur

Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya


larva nyamuk yang berkembang di dalam air dan tidak
ada telur yang melekat pada dinding bak mandi
Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada
nyamuk yang memiliki akses ke tempat itu untuk
bertelur.

Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat


menampung air hujan dan dijadikan tempat nyamuk
bertelur

TIKUS
Tikus adalah hewan yang termasuk
ke dalam suku Muridae. Spesies
tikus yang paling dikenal adalah
mencit (Mus sp) serta tikus got
(Rattus norvegicus) yang ditemukan
hampir di semua negara.

TAKSONOMI TIKUS
Mencit

Tikus rumah

Tikus got

Tikus sawah

Kerajaan

Animalia

Animalia

Animalia

Animalia

Filum

Chordata

Chordata

Chordata

Chordata

Kelas

Mamalia

Mamalia

Mamalia

Mamalia

ordo

Rodentia

Rodentia

Rodentia

Rodentia

Family

Muridae

Muridae

Muridae

Muridae

Genus

Mus

Rattus

Rattus

Rattus

Spesies

Mus musculus

Rattus rattus

Rattus norvegicus

Rattus
argentiventer

Jenis-jenis Tikus
9 spesies paling berperan pada sebagai hama tanaman,
permukiman,dan vector pathogen pada manusia :
a. Bandicota indica(wirok besar)
b. Bandicota bengalensis(wirok kecil)
c. Rattus novergicus(tikus riul)
d. Rattus rattus diardi(tikus rumah)
e. Rattus tiomanicus(tikus pohon)
f. Rattus argentiventer (tikus sawah)
g. Rattus exulans(tikus ladang)
h.Mus musculus(mencit rumah)
i.Mus caroli(mencit ladang)

MORFOLOGI TIKUS

Berat

R. norvegicus

R. rattus diardii

M. musculus

150-600 gram

800-300 gram

10-21 gram

Kepala & Hidung tumpul, badan


Badan besar, pendek, berukuran
18-25cm

Ekor

Berwarna gelap, Lebih


pendek dari kepala &
badan, bagian atas lebih tua
& warna muda pada bagian
bawahnya dengan rambut
pendek kaku 16-21 cm

Telinga

Relatif kecil, separuh


tertutup bulu, jarang lebih
dari 20-23mm
Bagian punggungnya abuabu
kecoklatan,
pada
bagian perut keabu-abuan.

Bulu

Hidung runcing,badannya kecil Hidung


berbentuk
(16-21cm)
runcing dan badan
berukuran kecil
(610cm)
Coklat gelap, Lebih panjang dari Coklat
gelap
kepala dan badan ( 19-25 cm),
Panjangnya sama atau
dengan warna tua merata dan lebih panjang sedikit
tidak berambut.
dari kepala dan badan
(7-11cm) dan
tidak
ada rambut.
Besar, tegak , tipis dan tidak
memiliki rambut, panjang
telinga 19-25mm
abu-abu kecoklatan sampai
kehitam-hitaman pada bagian
punggungnya,
dan
pada
perutnya bulu kemungkinan
berwarna putih atau abu-abu
dan hitam keabu-abuan.

Berbentuk tegak dan


besar dengan panjang
sekisar 15 mm
Berwarna putih keabuabuan pada bagian
perutnya dan pada
bagian
punggung
keabu-abuan

Siklus Hidup Tikus

Secara umum, tikus betina sudah


memasuki umur dewasa seksual
pada usia 3 bulan dan dapat
beranak 4 kali dalam satu tahun,
masa kehamilannya hanya
sekitar 21 hari dengan
rata-rata kelahiran anak
sebanyak 6 ekor (2-18 ekor).
maka pada bulan ke 13 akan
menghasilkan sejumlah 2046
tikus. Itu untuk sepasang tikus,
jika banyak tikus akan
memungkinkan populasinya akan
semakin tinggi dan relatif sulit
untuk dikendalikan. Tikus
merupakan hewan yang
mempunyai kemampuan
reproduksi yang sangat tinggi

KEBIASAAN DAN HABITAT

R. norvegicus

Menggali
lubang
,
berenang
dan
menyelam
, menggigit benda - benda keras seperti kayu bangunan,
aluminium dan sebagainya.
Hidup dalam rumah, toko makanan dan gudang, diluar
rumah, gudang bawah tanah,dok dan saluran dalam
tanah/roil atau got

R. ratus diardii

Sangat pandai memanjat, biasanya disebut sebagai pemanja


t yang ulung, menggigit benda-benda yang keras.
Hidup di lubang pohon,tanaman yang menjalar. Hidup
dalam rumah tergantung pada cuaca

Rattus
argentiventer

Habitat tikus ini umumnya di permukaan tanah,


persawahan, padang rumput, perkebunan dan semak
belukar.
Hidup di Pemukiman,gudang maupun
areal sekitar persawahan yang cukup pakannya merupak
an tempathidupnya

PERAN TIKUS DALAM KESEHATAN


Pes (plague).

Pes merupakan salah satu penyakit zoonosis pada rodensia


yang ditularkan kepada manusia, dan merupakan penyakit
menular yang dapat menyebabkan terjadinya wabah.

Salmonellosis

Bakteri salmonella dengan ratusan serotype dapat


menginfeksi hewan peliharaan, hewan ternak dan hewan
liar (termasuk rodent)

Leptospira
Rodent-borne
haemorrhagic Fevers

Penyakit ini terutama disebarkan oleh tikus Mastomys


natalensis sebagai vektor utama dari virus.

MEKANISME PENULARAN
1. Pes
- Tikus liar menigigit langsung manusia (pekerja di hutan).
- Tikus rumah yang darahnya infektif digigit oleh pinjal yang
kemudianmengigit manusia ( metode ini adalah penularan yang paling
sering).
- Tikus liar yang infektif digigit oleh pinjal.pinjal kemudian mengigit tikus
rumah yang selanjutnya oelh pinjal ditularkan kepada manusia
2. Salmonellosis : penyakit ini dari tikus ke manusia terutama akibat
kontaminasi dari feses danurine tikus pada makanan atau minuman yang
dikonsumsi oleh manusia.
3. Leptospira : Manusia yang beresiko tertular ialah Kontak dengan organ,
darah, dan urin hewan terinfeksi
4. Rodent-borne haemorrhagic Fevers : Cara penularan melalui sekresi
hidung, feses dan urine tikus

PENGENDALIAN

Dalam
ruangan
(Indoor)

Didalam ruangan menggunakan peralatan


yang tidak membahayakan bagi manusia
dan ramah lingkungan yaitu menggunakan
lem perekat dan mousestop. Pemasangan
papan lem dilakukan pada sore atau malam
hari. Pengecekan dan pengambilan tikus
(perangkap) dilakukan pada keesokan hari.

Outdoor /
Luar
ruangan

Diluar ruangan menggunakan racun


rodentisida (Brodifacoum, Bromadiolone,
Flocoumafen). Penyimpanan racun tikus
dilakukan pada sore atau malam hari (jauh
dari jangkauan) . Pengecekan dan
pengambilan tikus (perangkap) dilakukan
pada keesokan hari.

DAFTAR PUSTAKA
http://siswa.univpancasila.ac.id/suedevi/2010
/11/10/aedes-aegypti/
digilib.unimus.ac.id/download.php?id=5953
http://www.scribd.com/doc/73087921/5/Klas
ifikasi-dan-Morfologi-Tikus