Anda di halaman 1dari 38

MODUL

DASAR-DASAR EKOLOGI

OLEH
ABD. HAMID NOER

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2011

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
I
PENDAHULUAN
1. Pengertian
2. Hubungan dengan ilmu lain
3. Ekologi dalam kacamata antropologi
II

EKOSISTEM
1 Pengertian ekosistem
2 Struktur ekosistem
3 Studi tentang ekosistem
4 Pengendalian Biologis Ling. Geokimia
5 Produksi danDekomposisi
6 Sibernetik & stabilitas ekosistem

..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................

III ENERGI DALAM SISTEM EKOLOGI


1.
Pengertian Dasar prihal energi
2.
Lingkungan Energi
3.
Konsep Produktifitas
4. Rantai Makanan, jaring makanan/tkt
Trofik
5. Metabolisme & ukuran individu
6. Struktur Trofik dan Piramid Ekologi
7. Teori kompleksitas
8. Klassifikasi Ekosistem Berdasarkan
Energi

..................................
..................................
..................................
..................................
..................................

IV

SIKLUS BIOGIOKIMIA
1. Pola dan Type Dasar dari Siklus
Biodeokimia
2. Pengkajian Kuantitatif Siklus
Biogeokimia
3. Biogeokimia Dalam Daerah Al;iran
Sungai
4. Siklus Karbon dan Air
5. Siklus Sedimen
6. Siklus Unsur-unsur Non Esensial
7. Siklus hara di daerah Tropis

..................................
..................................

FAKTOR PEMBATAS LINGKUNGAN


FISIK
1. Konsep faktor Pembatas
2. Hukum Minimum Leibig
3. Faktor Kompetensi dan Ekotipe
4. Eksistensi Kondisi sebagai pengatur

..................................

..................................
..................................
..................................
..................................

..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................

..................................
..................................
..................................
..................................

i
ii
1

5. Faktor-faktor fisik yang penting sebagai


fator Pembatas
6. Stress Antropogenik dan Limbah Bercun
sebagai fator Pembatas
VI DINAMIKA POPULASI
1. Sifat-sifat Populasi
2. Bentuk-bentuk pertumbuhan Populasi
3. Pengaruh Densitas dalam pengendalian
Populasi
4. Struktur Populasi/pola penyebaran Alami
5. Pembagian dan optimasi Energi
6. Integrasi : Siasat dan sifat sejarah hidup
VII POPULASI DALAM KOMUNITAS
1. Tipe-tipe interaksi antara dua jenis
2. Kompetisi Intraspesifik dan Koeksistensi
3. Predasi, Herbivory, Parasitisme dan
Alelopati
4. Interaksi=interaksi positif, Konensalisme,
koperasi dan mutualisme
5. Konsep Habitat, Niche, dan Gulid
6. Keanekaragaman Spesies
VIII PERKEMBANGAN DAN EVOLUSI
EKOSISTEM
1. Strategi Perkembangan ekosistem
2. Konsep Klimaks
3. Evolusi Biosfer
4. Seleksi Alamiah
5. Koevolusi
6. Relevansi Perkembangan ekosistem dan

..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................
..................................

I, PENDAHULUAN
1 Pengertian
Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Erns Haeckel pada tahun 1869. Pada
waktu itu ekologi merupakan cabang biologi yang masih relative baru (1900).
Kata ekologi berasal dari bahasa Yunani , oikos yang berarti tempat tinggal dan logos yang
berarti ilmu pengetahuan.Ekologi adalah suatu kajian studi terhadap hubungan timbal balik
(interaksi) antar organism (antar makhluk hidup) dan antara organism (makhlukhidup)
dengan lingkungannya.Sebagai cabang biologi yang masih relative baru, ekologi menjadi
amat penting sebagai bahan kajian setelah manusia mempunyai kesadaran terhadap
lingkungan dan merasa menjadi bagian atau merupakan salah satu komponen dari
lingkungannya.
Sumber:http://id.shvoong.com/exact-sciences/2003965-pengertian ekologi/#ixzz1OalSs0pZ
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (habitat) dan logos
(ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk
hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama
kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup
dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai
komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air,
kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang
terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem
yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap cabang biologinya.
Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya
dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam
tempat hidupnya atau lingkungannya. Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling
melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba
memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan
manusia dan tingkat tropik.
Para ahli ekologi mempelajari hal berikut[2]:
1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup yang satu ke makhluk hidup yang
lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang
menyebabkannya.
3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Kini para ekolog (orang yang mempelajari ekologi) berfokus kepada Ekowilayah bumi dan
riset perubahan iklim.

2 Hubungan dengan ilmu lain


logos yang berarti ilmu. Jadi ekologi mempelajari rumah tangga lingkungan, tempat hidup
semua organisme (machluk hidup) serta seluruh proses-proses fungsional yang
menyebabkan tempat hidup itu cocok untuk didiami. Secara harafiah ekolgi adalah ilmu
yang mempelajari organisme ditempat hidupnya dengan mengutamakan pola hubunan
timbalbalik antara makhluk hidup dan Kata ekologi bersal dari bahasa Yunani oikos yang
berari rumah atau rumah tangga. Dan lingkungannya
Ekologi menimbulkan banyak filsafat yang amat kuat dan pergerakan politik termasuk
gerakan konservasi, kesehatan, lingkungan,dan ekologi yang kita kenal sekarang. Saat
semuanya digabungkan dengan gerakan perdamaian dan Enam Asas, disebut gerakan hijau.
Umumnya, mengambil kesehatan ekosistem yang pertama pada daftar moral manusia dan
prioritas politik, seperti jalan buat mencapai kesehatan manusia dan keharmonisan sosial,
dan ekonomi yang lebih baik.
Orang yang memiliki kepercayaan-kepercayaan itu disebut ekolog politik. Beberapa telah
mengatur ke dalam Kelompok Hijau, namun ada benar-benar ekolog politik dalam
kebanyakan partai politik. Sangat sering mereka memakai argumen dari ekologi buat
melanjutkan kebijakan, khususnya kebijakan hutan dan energi. Seringkali argumen-argumen
itu bertentangan satu sama lain, seperti banyak yang dilakukan akademisi juga.
Banyak ekolog menghubungkan ekologi dengan ekonomi manusia:

Lynn Margulis mengatakan bahwa studi ekonomi bagaimana manusia membuat


kehidupan. Studi ekologi bagaimana tiap binatang lainnya membuat kehidupan.
Mike Nickerson mengatakan bahwa ekonomi tiga perlima ekologi sejak ekosistem
menciptakan sumber dan membuang sampah, yang mana ekonomi menganggap
dilakukan untuk bebas.

Ekonomi ekologi dan teori perkembangan manusia mencoba memisahkan pertanyaan


ekonomi dengan lainnya, namun susah. Banyak orang berpikir ekonomi baru saja menjadi
bagian ekologi, dan ekonomi mengabaikannya salah. Modal alam ialah 1 contoh 1 teori
yang menggabungkan 2 hal itu.
Ekologi dalam kacamata antropologi
Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan banyak
metode buat mempelajari satu hal yang yang kita tak bisa tinggal tanpa itu. Antropologi
ialah tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita dipengaruhi lingkungan kita, ekologi ialah
tentang bagaimana lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran kita.
Beberapa orang berpikir mereka hanya seorang ilmuwan, namun paradigma mekanistik
bersikeras meletakkan subyek manusia dalam kontrol objek ekologi masalah subyekobyek. Namun dalam psikologi evolusioner atau psikoneuroimunologi misalnya jelas jika
kemampuan manusia dan tantangan ekonomi berkembang bersama. Dengan baik ditetapkan
Antoine de Saint-Exupery: Bumi mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita daripada
seluruh buku. Karena itu menolak kita. Manusia menemukan dirinya sendiri saat ia
membandingkan dirinya terhadap hambatan.

II .EKOSISTEM
7 Pengertian ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak
terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga
suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup
yang saling memengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi
timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada
suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan
anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan
lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik,
sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.
Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya
mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol
yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan". Hal ini mengarah pada kenyataan
bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan
planet lain dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh
tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada
dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan
hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun
memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian,
panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut
terdapat bambu sebagai sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain,
manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir,
mengembangkan teknologi dan memanipulasi ala
REFERENSI

Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm. 13-15


Campbell NA, Reece JB. 2009. Biology. USA: Pearson Benjamin Cummings. Page. 415419.
ITB. 2004. Ekosistem sebagai lingkungan hidup manusia. Diakses pada 11 April 2010.
Anonim. 2000. Susunan dan Macam EkosistemDiakses pada 11 Apr 2010.
Aryulina D, et al. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis.Hlm. 211-215.
Anonim. 2010. EkosistemDiakses pada 11 Apr 2010.

I, PENDAHULUAN

1. Pengertian
Kata ekologi berasal dari Yunani oikos yang berarti rumah atau rumah tangga ,
dan logos yang berarti ilmu. Jadi ekologi mempelajari rumah tangga lingkungan,
tempat hidup semua organisme (makhluk hidup) serta seluruh proses-proses
fungsional yang menyebabkan tempat hidup itu cocok untuk didiami. Secara harfiah
ekologi adalah ilmu yang mempelajari organisme ditempat hidupnya, dengn
mengutamakan

pola

hubungan

timbal

balik

antara

makhluk

hidupdan

lingkungannya.
Kata ekonomi berasal pula dari Yunani, oikos dan nemein yang berarti
mengelola. Jadi ekonomi adalah pengelolaan rumah tangga atau tempat hidup.
Ekologi dan ekonomi merupakan disiplin ilmu yang sangat erat hubungannya. Dalam
ekologi tempat hidup adalah biosfer, sedangkan ekonomi terbatas pada tempat
hidup manusia. Ekologi menerangkan jering-jaring makanan. Toleransi terhadap
faktor lingkungan, siklus hara mineral dan meanisme penyebaran. Sedangkan
ekonomi menerangkan keadaan tenaga kerja, pasar, pendapatan dan lain-lain>
akan tetapi pada dasarnya kedua ilmu tersebut mempelajari tempat hidup yang
sama yaitu planet bumi. Sehingga ekologi dapat diartikan sebagai ekonomi alam.
Namun demikian, dewasa ini orang masih beranggapan bahwa para ekologiwan dan
ekonomiwan

selalu

bertentangan

karena

pandangan-pandangannya

yang

berlawanan.
Uraian-uraian dalam buku ini diharapkan memberikan dasar-dasar pemikiran
tentang planet bumi sebagai satuekoster untuk menjembatani pertentengan dan
kesalahpahaman akibat masing-masing disiplin memandang subjeknya terlalu
sempit.
Ekologi secara praktis telah mendapat perhatian sejak perkembangan sejarah umat
manusia. Aar supaya dapat bertahan untuk hidup, setiap individu dituntut untuk
mengenal lingkungannya, yaitu yang menyangkut tenaga-tenaga alam, dan
tumbuhan serta hewan disekitarnya. Peradaban disekitarnya peradaban sebenarnya
dimulai sejak manusia belajar menggunakan api dan alat-alat lain untuk mengubah
lingkungannya kini sebagai akibat kemajuan-kemajuan yang telah dihasilkan
dibidang tekhnologi, tampak seolah-olah manusia kurang bergantung kepada
lingkungan alamnya.
Manusia telah lupa akan ketergantungannya kepada lingkungan alam. Juga sistem
ekonomi yang dikembangkan untuk keuntungan individual telah meremehkan
barang dan jasa lingkungan alamkepada umat manusia sebagai masyarakat dunia.
Sebelum terjadi krisis, manusia cenderung menganggap bahwa barang dan jasa
lingkungan alam adalah haknya, manusia menganggap bahwa barang dan jasa

lingkungan alam itu tidak terbatas ketersediaannya atau dengan satu dan yang lain
cara dapat diganti dengan penemuan teknologi, padahal hal ini sudah ternyata tidak
mungkin
Tingkat-tingkat Hirarki Organisasi
Cara yang paling baik untuk mengerti ruang lingkup ekologi mutakhir adalah dengan
memahami pengertian adalah dengan memahami pengertian tingkat-tingkat
organisasi yang digambarkan dengan spektrum biologis seperti tampak pada
gambar 1.1. komunitas, populasi, organisme, organ sel, dan gen, merupakan istilahistilah yang telah umum digunakan untuk menggambarkan tingkat biotik utama yang
di tata mulai dari kelompok yang terbesar ke yang terkecil.
Hirarki berarti suatu penataan menurut suatu skala dari yang terbesar ke yang
terkecil atau sebaliknya. Interaksi dengan lingkungan fisik (energi dan materi) pada
setiap tingkat menghasilkan sistem-sistem dengan peran fungsi yang khas. Suatu
sistem teriri dari komponen-komponen yang secara teratur berinteraksi dan
berkegantungan yang keseluruhannya membentuk suatu kesatuan. Atau dari sudut
pandang yang lain, merupakan suatu himpunan hubungan timbal balik yang
menyusun suatu kesatuan yang dapat diidentifikasi dengan nyata atau secara
postulat. Sistem-sistem yang mengandung komponen-komponen hidup (sistem
biologis atau biosistem) dapat dipandang dari atau dikaji pada tingkat mana saja
dalam hirarki yang terdapat dalam gambar 1.1. atau pada kedudukan antar mana
saja yang mudah dan praktis dianalisis. Misalnya suatu sistem inang-parasit atau
sistem

dua

spesies

yang

terdiri

dari

organisme-organisme

yang

saling

berkegantungan secara timbal balik merupakan tingkat-tingkat yang ada diantara


populasi dan komunitas

Teori hirarki memberikan suatu kerangka yang mudah untuk melakukan pembagian
dan penelaahan terhadap keadaan yang kompleks. Seperti yang dikemukakan oleh
Novjkoff, bahwa di dalam evolusi alam semesta terdapat kesinambungan dan
ketidaksambungan.

Perkembangan

dapat

dipandang

sebagai

suatu

kesunambungan karena merupakan suatu perubahan yang tanpa akhir. Tetapi


sekaligus pula merupakan suatu ketidaksambungan karena bergerak melalui
serentetan tahapan organisasi yang berbeda. Seperti apa yang nanti dibahas dalam
bab III, bahwa keadaan kehidupan yang sudah terorganisasi dengan baik, dapat

dipertahankan dengan adanya aliran energi yang masuk secara betehap namun
bersinambung. Oleh karena setiap tingkat di dalam spektrum biosistem itu terpadu
dan berkegantungan dengan tingkat lainnya, tidak ada batas yang jelas dalam
fungsinya antara tingkat yang satu dengan yang lain, bahkan antara tingkat
organisme tidak dapat bertahan hidup lama tanpa populasinya, seperti halnya suatu
organ tak dapat bertahan lama tanpa organismenya. Demikian pula komunitas tidak
akan ada tanpa adanya siklus materi dan arus energi dalam ekosistem. Pandangan
ini dapat memperbaiki anggapan yang keliru bahwa peradaban manusia, dapat
bertahan terpisah dari lingkungan alam
Asas sifat Emergen
Suatu konsekuensi penting dari organisasi secara hirarki adalah bahwa komponenkomponen, atau bagian-bagian yang bergabung menghasilkan keseluruhan
fungsional yang lebih besar yaitu sifat-sifat baru akan timbul yang sebelumnya tidak
tampak pada tingkat hirarki dibawahnya sebelum penggabungan berlangsung. Maka
suatu sifat emergen dari suatu sifat emergen dari suatu tingkat ekologi atau unit
tertentu tidak dapat diramaikan dengan mempelajari sifat komponen dari unit yang
bersangkutan. Hal ini disebabkan karena sifat keseluruhan memiliki sifat tidak dapat
dikurangi, yaitu sifat dari keseluruhan sistem yang tidak dapat disamakan dengan
jumlah sifat-sifat unik atau kopmen yang bergabung tadi.
Walaupun pengetahuan tentang satu tingkat akan menolong dalam mengkaji tingkat
berikutnya, namun pengetahuan ini belum dapat memberikan keterangan yang
cukup lengkap tentang peristiwa yang terjadi pada tingkat berikutnya, sehingga
pengkajian terhadap tingkat ini sendiri perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran
yang lengkap
Feibleman mengemukakan pendapat bahwa sekurang-kurangnya akan dihasilkan
satu sifat emergen dalam setiap penggabungan beberapa bagian himpunan menjadi
satu himpunan. Salt (1954) menyarankan agar dibedakan antara sifat emergen
dengan sifat kolektif, yang merupakan penjumlahan sifat-sifat dari masing masing
komponen. Keduanya merupakan sifat-sifat dari satu kesatuan yang menyeluruh,
akan tetapi sifat sifat kolektif bukan merupakan ciri baru atau unik yang dihasilkan
karena berfungsinya keseluruhan unit. Angka kelahiran merupakan satu contoh sifat
kolektif. Ia hanya menggambarkan jumlah individu yang lahir pada jangka waktu
tertentu, yang dinyatakan dalam persen terhadap total individu dalam populasi. Sifatsifat baru muncul oleh karena komponen-komponen berinteraksi satu sama yang
lain. Bukan karena sifat dasar masing-masing komponen tersebut berubah.
Simon (1973) telah memberikan gambaran secara matematis bahwa dengan
komponen komponen yang sama banyaknya, komponen-komponen yang tertata
dalam organisasi hirarki lebih cepat melakukan penggabungan dibandingkan dengan
komponen-komponen yang tidak tertata secara hirarki. Lagipula sistem yang tertata
secara hirarki memiliki daya lenting yang tinggi terhadap kerusakan. Secara teoritis

apabila suatu sistem hirarki mengalami perombakan menjadi berbagai tingkat-tingkat


subsistem, subsistem-subsistem ini masih mungkin kembali untuk melakukan
interaksi dan menyusun kembali suatu tingkat kekompleksan yang lebih tinggi.
Setiap tingkat biosistem memiliki sifat emergen dengan ragam yang berkuang dan
jumlah sifat dari masing masing komponen subsistem. Satu falsafah kuno yang
menyatakan bahwa hutan mempunyai arti yang lebih luas daripada sekedar suatu
kupulan pohon-pohon adalah asas dasar pertama dalam ekologi. Sementara falsafat
ilmu pengetahuan senantiasa berpandangan holistik dalam usaha memahami
kejadian kejadian secara keseluruhan, dalam tahun-tahun belakangan ini kegiatan
ilmu pengetahuan menjadi semakin kecil ruang lingkupnya dalam usaha memahami
kejadian-kejadian melalui pengkajian yang terperinci terhadap komponen-komponen
yang kecil. Laszlo dan Margenau (1972) melihat bahwa dalam perkembangan ilmu
pengetahuan telah trjadi ganti-berganti antara pemikiran holistis dan reduksionis
(reduksionisme-konstruksionisme, atomisme-holisme adalah padanan kata yang
digunakan unutk memperbedakan pendekatan filosofi tersebut).
Tentang Model-model
Ekologi dapat dikaji dan dipahami dengan pengertian ekosistem. Suatu ekosistem
terdiri dari organisme (komponen biotik) dan lingkungan abiotik yang mempunyai ciri
struktur dan fungsi yang khas, seperti kerapatan biomas, siklus unsur-unsur hara,
energi,dan faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sistem
tersebut. Ekologi mencoba mencari pengertian tenang hubungan fungsi antara
organisme dengan lingkungannya. Sekarang bagaimana caranya mempelajari dan
memahami sistem yang rumit dan menakjubkan itu?. Untuk memahami hal ini telah
dikembangkan suatu rumusan yang memberikan gambaran tenteng hubungan
anatar unsur-unsur penting dalam suatu sistem serta fungsinya. Gamabaran ini
disebut model.
Suatu model merupakann suatu rumusan yang menggambarkan kejadian alam yang
sebenarnya dan dengan model tersebut dapat dibuat ramalan-ramalan. Di dalam
bentuk yang paling sederhana, model dapat berbentuk lisan atau gambar. Pada
akhirnya, model-model tersebu harus diterjemahkan menjadi model-model statistis
dan matematis agar dapat digunakan untuk peramalan kuantitatif yang dapat
dipertanggungjawabkan
Sebagai

teladan

menggambarkan

apabila

telah

diketahui

perubahan-perubahan

suatu

jumlah

rumusan

serangga

matematis

pada

yang

waktu-waktu

tertentu, merupakan suatu model biologis yang sangat berguna. Apabila populasi
serangga tersebut merupakan serangga hama, model itu dari segi ekonomi akan
merupakan alat yang penting.
Model simulasi komputer memungkinan untuk meramalkan dengan teliti hasil-hasil
yang mungkin terjadi, apabila parameter-parameter di dalam model diubah, dengan
penambahan parameter yang baru, atau dengan meniadakan parameter yang lama.

Dengan demikian maka perumusan matematis suatu model dapat dikerjakan


dengan komputer untuk menghasilkan gambaran yang yang lebih mendekati
kejadian alam sebenarnya. Jadi model tersebut memberikan ringkasan dari apa
yang dipelajari dan dipahami tentang keadaan alam, sehingga mengurangi
keperluan akan data baru atau asas asas baru. Apabila suatu model tidak mampu
memberikan gambaran keadaan alam yang sebenarnya, pekerjaan komputer
seringkali dapat memberikan petunjuk untuk perbaikan atau perubahan-perubahan
yang diperlukan . sekali sesuatu model terbukti memberikan gambaran yang tepat
dan berguna, terbuka kesempatan untuk melakukan percobaan percobaan dengan
memasukkan

faktor-faktor

baru

atau

memberikan

gangguan-gangguan

(perturbation) untuk pelajari bagaimana pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap


ekosistem.

Penyusunan suatu model didahului dengan merancang suatu diagram atau model
gambar, yang seringkali berbentuk diagram kotak atau diagram kompartemen
seperti terlukis pada gambar 1-2. Di dalam gambar itu terdapat dua sifat, masing
masing P1 dan P2, yang berinteraksi satu sama lain sebagai I untuk menghasilkan
sifat ke 3., P3, apabila sistem tersebut digerakkan oleh suatu sumber energi, E.
Secara keseluruhan terdapat enam jalur aliran F, dimana F1 mengambarkan
masukan dan F6 keluaran dari sistem
Jadi sekurang-kurangnya terdapat empat komponen utama pada suatu model
ekologis, yaitu :

Sumber energi, atau fungsi penentu (focing function) lain yang datang dari
luar

Sifat-sifat yang disebut perubah keadaan (state variables)

Jalan aliran (flow pathways) yang menggambarkan bagaimana aliran energi


atau aliran (transfer) materi menghubungkan komponen-koponen sistem

Interaksi atau fungsi interaksi dimana tenaga dan sifat berinteraksi untuk
mengubah, memerbesar, atau mengendalikan aliran atau membentuk sifat
emergen baru.

Gambar 1-2 dapat dipakai sebagai model untuk menggambarkan produksi asbut
(smog) foto kimia di udara Jakarta sebagai akibat pembakaran pada kendaraan
bermotor.
Daftar Pustaka
Egerton, F. N.1968, Leuwenhoek as a founder of animal demography. J. Hist. Biol,
1-1-22
, 1969, Richard Bradleys understanding of biological productivity: a
study of eighteenth-century ecological ideals. J. Hist. Biol 2(2) : 391 410
Fiebleman, J. K. 1954, theory of integrative levels. Brit. J. Philos. Sci. 5 : 59 66
Laszlo,E., and Margenau,H. 1972. The emergence of integrating concepts in
contemporary science. Philos. Sci. 39 252-259
Laszlo, Ervin. 1972, the systems view of the world. New York, George braziller,
131pp.
Mesarovic. M. D., and Y. Takahara. 1975. General systems Theory; mathematical
Foundations. New York, Academic Press.
Odum, E. P., and E. H. Franz. 1977. Whither the life-support system In : Growth
Without Ecodisasters, N. Polunin, ed. London, MacMilan Press, pp. 264 274
Patten, 1978. Systems approach to the concept of the environment. Ohio J. Sci. 78 ;
206 222
Salt, George W. 1979. A. Comment on the use of the term emergent properties. Am.
Nat. 113 : 145 148
Simon, 1973. The Organization of the complex systems. In : Hierarchy Theory : The
Challenge of Complex Systems, H. H. Pattee, ed. New York. George Braziller,pp.3 27
Watt, Kenneth E. F. 1963. How closely does the model mimic reality? Can. Entomol.
Mem.31 : 109 -111

2. Hubungan dengan ilmu lain


II .EKOSISTEM

1. Pengertian ekosistem
Organisme atau makhluk hidup dan lingkungannya yang tak hidup (abiotik) selalu
saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lai. Setiap unit di dalam alam (suatu
biosistem) yang terdiri dari semua organisme yang berfungsi bersama-sama
(komunitas biotik) di suatu tempat yang berinteraksi di lingkungan fisik yang
memungkinkan terjadinya aliran energi yang membentuksuatu struktur biotik yang

jelas dan siklus materi di antara komponen-komponen hidup dan tak hidup disebut
sistem ekologi atau ekosistem.
Ekosistem merupakan unit fungsi dasar dalam ekologi karena terdiri dari organisme
dan lingkungan abiotik, yang saling mempengaruhi sifat masing-masing. Kedua
komponen ini diperlukan untuk memelihara kelangsungan hidup di bumi kita ini.
Istilah ekosistem pertama kali diusulkan pada ahun 1935 oleh A. G. Tansley,
seorang ahli ekologi bangsa Inggris, tetapi konsep ini bukanlah merupakan hal yang
baru. Pemikiran-pemikiran tentang kesatuan organisme dan lingkungannya
demikian juga tentang kesatuan manusia dan alam sudah sejak lama adanya
apabila kita mau menelusuri sejarah. Pada akhir abad ke 19 di dalam penerbitanpenerbitan ekologi baik di Amerika, Rusia, dan Eropa telah mulai bermunculan
pernyataan-perndan alam sudah sejak lama adanya apabila kita mau menelusuri
sejarah. Pada akhir abad ke 19 di dalam penerbitan-penerbitan ekologi baik di
Amerika, Rusia, dan Eropa telah mulai bermunculan pernyataan-pernyataan
tentang konsep ekosistem. Misalnya pada tahun 1877 Karl Moblus di Jerman
menulis tentang komunitas organisme di dalam terumbu karang (oyster reef)
sebagai suatu biocoenosis dan pada tahun 1887 S.A. Forbes. Orang Amerika,
menulis esel klasiknya tentang danau sebagai suatu mikrokosmos. Perintis dalam
ekologi dari Rusia Dokuchaev (1846-1903) dan murid utamanya yang menjadi ahli
ekologi hutan. F. G. Morozov menekankan pada pengertian biocoenosis suatu
istilah yang kemudian dikembangkan oleh ahli Ekologi bangsa Rusia menjadi
geobiocoenosis (sukachev,1944)
Tanpa memandang lingkungan apa yang mereka pelajari apakah lingkungan darat,
air tawar atau laut, para ahli biologi disekitar peralihan abad ini mulai
memperhatikan dengan sungguh-sungguh pemikiran bahwa alam berfungsi sebagai
suatu sistem. Setengah abad kemudian setelah teori sistem umum mulai
dikembangkan oleh Bertalanffly (1950, 1968) dan lain-lain, para ahli ekologi
terutama Hutchinson (1948), Margalef (1968), Watt (1968), Patten (1966, 1971) dan
Dyne (1966) dan H.T. Odum (1971) mulai mengembangkan ekologi ekosistem yang
bersifat kuantitatif.
Beberapa istilah lain yang telah digunakan untuk menyatakan pandangan holistik
(menyeluruh). Tetapi belum tentu sinonim dengan ekosistem, misalnya istilah
holocen (Friedrichs, 1930); biosystem (Thienemann, 1939), bionenert body
(Vernadsky, 1944). Dan holon (Koestler, 1969)
Energi dapat disimpan lalu dikembalikan atau diekspor tetapi tidak dapat digunakan
scara berulang seperti diperlihatkan pada diagram. Sebaliknya, materi (unsur-unsur
hara yang penting bagi kehidupan seperti misalnya : karbon, nitrogen, fosfor dan
sebagainya yang dpapat dipakai secara berulang. Efiiensi dari siklus ulang (daur
ulang) serta jumlah pemasukan dan pengeluaran unsur-unsur hara dari suatu
sistem sangat bervariasi tergantung dari tipe ekosistem.

2. Struktur ekosistem
Ditinjau dari struktur topik suatu ekosistem tersusun atas dua lapisan yaitu :

Stratum atas atau stratum autrofik atau lapisan hijau terdiri dari tumbuhan
atau bagian tumbuhan yang berhijau daun yang dapat mengikat energi
matahari, menggunakan bahan-bahan anorganik yang sederhana dan
membentuk zat-zat atau senyawa organik yang lebih kompleks

Stratum bawah atau stratum hetetrofik atau lapisan cokelat terdiri dari
tanah, atau sedimen, bahan organik yang dirombak, perakaran, dsb.nya di
mana terjadi proses-proses pemakaian, penyusunan, dan perombakan zatzat atau yang kompleks.

Dilihat dari segi biologis suatu ekosistem dapat kita bagi atas beberapa komponen,

Senyawa-senyawa atau bahan-bahan anorganik yang terlibat dalam siklus


materi, misalnya C,N,H2O,CO2 dsb.nya.

Senyawa-senyawa organik yang menghubungkan bagian biotik dan


nonbiotik dari ekosistem, misalnya protein, karbohidrat, lipid, bahan humus
dsb.nya

Udara,air, dan lingkungan substrat termasuk keadaan iklim dan faktor-faktor


fisik lainnya

Produser, yaitu semua organisme autotrofik yang sebagian besar terdiri dari
tumbuhan berhijau daun. Kelompok ini dapat membuat bahan-bahan
makanan dari zat-zat anorganik yang sederhana.

Makrokonsumer, saprotrof, dekomposer, atau osmotrof. Kelompok ini


adalah organisme heterotrofik yang sebagian besar adalah berupa
mikroorganisme (jazad renik) seperti jamur, bakteri, dsb.nya. mereka ini
memperoleh makanan atau energinya baik dengan merombak jarungan
tubuh yang telah mati maupun dengan mengabsorbsi bahan organik yang
terlarut yang dikeluarkan atau diserap dari tumbuh-tumbuhan atau
organisme yang lain. Proses dekomposisi (perombakan) yang dilakukan
oleh kelompok saprotrof membebaskan unsur-unsur hara yang terikat
dalam bentuk bahan organik sehingga dapat dipakai kembali oleh produser.
Kelompok ini juga memberikan makan pada makrokonsumer dan
mengeluarkan zat-zat seperti hormon yang dapat menghambat atau
menstimulir komponen-komponen biotik lainnya dalam ekosistem .ebagian
besar dari unsur unsur hara yang penting (karbon,nitrogen,fosfor,dsb.nya)
dan senyawa-senyawa organik (karbohidrat, protein, lemak (lipid),dsb.nya)
tidak hanya terdapat di dalam dan di luar komponen organisme yang hidup
tetapi juga terdapat dalam keadaan aliran di antara komponen-komponen
hidup dan tak hidup. Tetapi beberapa zat bersifat khas pada salah satu
keadaan itu.misalnya, ATP (adenosintriphosphate) yang merupakan bentuk
penyimpanan energi yang tinggi hanya didapatkan dalam sel-sel hidup,

sedangkan zat-zat humik yang merupakan zat yang resisten sebagai hasil
akhir dari dekomposisi tidak pernah ditemukan dalam sel walaupun
merupakan komponen yang penting dalam semua ekosistem. Senyawasenyawa biotik lain. Seperti DNA yang merupakan bahan pembawa sifat
genteik demikian juga klorofil terdapat didalam maupun diluar sel, tetapi
tidak berfungsi bila berada diluar sel.
Ketiga komponen-komponen hidup yaitu produser, fagotrof, saprotrof, dapat
dianggap sebagai tiga kerajaan fungsional di dalam alam, karena ketiga
komponen itu dapat digolongkan menurut tipe pengharaan (nutrisi) dan
sumber energi yang digunakannya. Kategori ekologis ini jangan dikacaukan
dengan klasifikasi dalam taksonomi tumbuhan atau biologi meskipun ada
beberapa persamaannya seperti yang dinyatakan oleh Whittaker (1969).
Penggolongan menurut whittaker ke dalam 5 kerajaan (phyla) dapat
dinyatakan dalam suatu pohon keluarga. Ketiga tipe pengharaan
ditemukan pada monera dan protista sedangkan ketiga cabang-cabang
diatasnya yaitu tumbuh-tumbuhan jamur dan hewan yang besar berturut
turut merupakan produser, absorber (saprotrof) dan ingestor (fotograf).
Kalsifikasi ekologis ini lebih didasarkan atas fungsinya daripada menurut
jenis (spesies). Dalam penggolongan ini ada beberapa jenis yang
menduduki tempat peralihan (intermediate) sedangkan beberapa jenis
lainnya dapat mengalihkan pola makanannya sesuai dengan suasana
lingkungan. Pemisahan heterotrof kedalam konsumer besar dan konsumer
kecil dapat dibenarkan, karena dalam mempelajarinya diperlukan metode
yang berbeda. Mikroorganisme heterotrofik (bakteri, jamur,dsb.nya) relatif
tidak bergerak (biasanya terdapat di dalam medium yang dirombaknya),
sangat kecil dan mempunyai tingkat metabolisme yang tinggi dan
pengembalian (turn over) unsur hara yang tinggi. Spesialisasi scara
biokimia lebih menonjol daripada spesialisasi morfologis (bentuk), sehingga
sukar ditentukan perannya dalam ekosistem, jika hanya dilihat atau dihitung
banyaknya.
3. Studi tentang ekosistem
Para ekolog mempunyai dua macam pendekatan dalam mempelajari
ekosistem yaitu (1) secara hologis (holos = menyeluruh) dimana masukanmasukan dan keluaran-keluaran dari suatu ekosistem diukur, sifat-sifat kolektif dan
emergen ditentukan dan bagian-bagian komponen diteliti sesuai dengan tujuan
study. (2) Pendekatan secara merologis (meros = bagian), disini bagian-bagian
utama dari ekosistem dipelajari dulu kemudian digabungkan ke dalam sistem secara
keseluruhan. Metode lain yang dipakai akhir-akhir ini dalam mempelajari ekosistem
adalah metode eksperimen dan pembuatan model.

Didalam prakteknya metode studi yang dipakai tergantung pada tujuan


studi. Yang perlu diperhatikan adalah sifat-sifat dari suatu organisme mungkin
mempunyai perilaku yang berbeda. Hal ini ada hubungannya dengan interaksi
antara organisme dengan komponen-komponen lain. Beberapa jenis serangga
misalnya merupakan hama yang sifatnya merusak apabila berada dalam habitat
pertanian, namun didalam habitat alami dimana terdapat parasit, predator dan
persaingan, maka populasi dan aktivitasnya dapat dikendalikan. Dengan cara
eksperimentasi para ekologiwan dapat mempelajari tanggap yang timbul dari suatu
perlakuan untuk menjawab hipotesis-hipotesis yang dibuat sebagai hasil
pengamatan.
4. Pengendalian Biologis dari lingkungan Geokimia
Setiap organisme tidak hanya dapat beradaptasi dengan lingkungan
fisiknya, tetapi juga melakukan aktivitas-aktivitas terhadap ekosistem yang dapat
menyesuaikan lingkungan geokimia terhadap kebutuhan-kebutuhan biologisnya.
Jadi komonitas organisme dengan lingkungan masukan dan keluarannya
berkembang bersama sebagai ekosistem. Sehubungan dengan ini dikemukakan
Hipotesis Gaia (Lovelock, 1979) yang menyatakan bahwa organisme terutama
mikroorganisme telah berevolusi bersama dengan lingkungan fisik untuk
membentuk sistem pengendalian yang pelik, yang mempertahankan keadaan bumi
agar tetap sesuai (favorable)unuk keidupan. Walaupun setiap orang mengetahui
bahwa lingkungan abiotik(faktor-faktor fisik lingkungan) mengetahui bahwa organise
atau makhluk hidup dalam banyak hal juga mempengaruhi dan mengendalikan
faktor- faktor fisik lingkungan. Secara tetap sifat fisik dan kimiawi dari benda-benda
mati diubah oleh aktivitas biologis dari organisme, sehingga menghasilkan senyawa
senyawa dan sumber energi baru bagi lingkungan dan organisme lainnya. Kegiatan
organisme laut, misalnya, sangat menentukan kadar zat-zat kimia dan lumpur
didasar laut. Tumbuh-tumbuhan di bukit pasir di tepi pantai akan membentuk tanah
yang sangat berbeda sifat-sifatnya dengan sunsrat asalnya. Contoh lainnya adalah
pembentukan pulau-pulau karang yang dibangun dari bahan-bahan sederhana oleh
kegiatan binatang-binatang dari tumbuhan karang. Organisme pn mempegaruhi
keadaan atmosfer.
Tabel II-1 memperlihatkan perbedaan antara atmosfer bumi dengan atmosfer yang
seandainya tidak mengandung kehiduan dan dengan atmosfer dari Mars. Manusia
dengan segala kelebihan yang dimilikinya dibandingkan dengan semua makhluk
hidup lainnya, bertujuan untuk mengubah lingkungan fisik untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya yang mendesak, tanpa melihat jauh kedepan. Komponenkomponen biotik dalam ekosistem yang dibutuhkannya berangsur-angsur
didancurkan dan perimbangan ekosistem dunia mulai dirusak. Karena manusia
adalah heterotroph dan fagotrof yang berkembang dengan baikdekat pada ujung
akhir rantai makanan maka ia sangat bergantung pada lingkungan alamnya

bagaimanapun majunya teknologi yang dimilikinya. Kota-kota besar dapat dianggap


sebagai parasit belaka didalam biosfer karena selalu memerlukan kebutuhankebutuhan penunjang hidup, seperti udara, air, bahan bakar, dan makanan.
Semakin besar dan semakin maju teknologi yang dimiliki suatu kota semakin besar
pula kebutuhannya yang harus diperoleh dari pedesaan disekelilingnya dan
semakin besar pula bahaya kerusakan alanya.
5. Produksi dan Dekomposisi
Setiap tahun ditaksir 1017 gram atau dan kurang lebih 100 milyar ton bahan
ortganik diproduksi di seluruh dunia melalui proses fotosintesis. Kira-kira sejumlah
yang sama dioksidasi kembali menjadi Co2 dan H2O selama periode yang sana
melalui proses pernafasan (respirasi) yang dilakukan oleh organisme hidup. Namun
perimngan yang tepat tidak dapat dipastikan (Valentyne, 1962)
Selama masa geologi (paling sedikit sejak permulaan zaman Cambrium, 600 ribu
sampai satu juta tahun yang lalu, terjadi penimbunan dari sebagian bahan
organikyang dihasilkan. Tumbuhan ini berada dalam sedimen (endapan) anaerobik
atau terpendam,dan selanjutnya menjadi fosil tanpa mengalami respirasi atau
dekomposisi.
Produksi bahan organik yang mengalami respirasi merupaakan sebab mengapa
kadar CO2 menurun dan kadar O2 meningkat didalam atmosfer sampai setinggi
sekarang. Ini memungkinkan terjadinya evolusi dan bertahannya bentuk-bentuk
kehidupan yang lebih tinggi di muka bumi. Revolusi industri juga dapat berlangsung
karena adanya kelebihan produksi bahan organik yang membentuk bahan fosil
minyak yang berlangsung sejak kurang lebih 300 jta tahun yang lalu. Selama masa
60 juta tahun yang lalu pergeseran dalam keseimbangan biologis diiringi dengan
berbagai variasi dari kegiatan vulkanik, pelapukan batuan, sedimentasi, dan
masukan sinar matahari telah mengakibatkan suatu oskilasi keseimbangan tunak
sejak kurang lebihdengan sejak kurang lebih perbandingan CO2/O2 didalam
atmosfer. Oskilasi kandungan CO2 didalam atmosfer diperkirakan menjadi
penyebab dari perubahan-perubahan temperatur di bumi.
Selama setengah abad terakhir ini kegiatan industri pertanian telah menyebabkan
meningkatnya kadar CO2 didalam atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya
perubahan-perubahan iklim yang akan merupakan masaalah yang gawat.
6. Sibernetik & stabilitas ekositem
Di samping adanya aliran energi dan siklus materi, ekosistem juga kaya akan
jaringan informasi yang terdiri dari arus komunikasi fisis dan kimia yang
menghubungkan semua bagian-bagian serta mengendalikan dan mengatur sistem
sebagai suatu keseluruhan. Karena itu ekosistem dapat dilatakan memiliki sifat
sibernetik (dari kata kybernetes = pengemudi, penguasa) akan tetapi fungsi
pengendalian disini bersifat didalam (internal) dan menyebar, bukannya diluar
(eksternal) dan spesifik seperti pada peralatan sibernetik yang dimiliki manusia. Di

dalam alam terdapat beberapa spesies atrau komponen yang dapat melaksanakan
fungsi tertentu (redundancy); hal ini pun memungkinkan terciptanya stabilitas.
Derajat stabilitas yang dapat dicapai sangat bervariasi, tergantung pada kerasnya
tantangan lingkungan dan efisiensi dari pengendalian di dalam. Ada dua jenis
stabilitas : stabilitas resistensi (kemampuan untuk bertahan menghadapi tekanan)
dan stabilitas resiliensi (kemampuan untuk cepat pulih) kedua jenis stabilitas ini
mungkin mempunyai hubungan kebalikan.

Prinsip yang paling dasar dari sibernetik ditunjukkan dengan model pada gambar II11 yang memperbandingkan sistem pengendalian otomatik dengan pengendalian
luar tertentu seperti pada alat mekanis (A), dan sistem non-feologik dengan peturan
subsistem yan menyebar seperti dengan ekosistem (B), pada keadaan manapun,
pengendalian tergantung pada umpan balik. Yang dapat terjadi bilamana bagian
dari keluaran dikembalikan sebagai masukan. Apabila masukan umpan balik ini
positif (seperti halnya bunga berganda yang dibiarkan menjadibagian dari modal),
maka kuantitasnya akan bertambah. Umpan balik positif mempercepat deviasi yang
jelas diperlukan untuk pertumbuhan dan ketahanan organisme. Akan tetapi untuk
pengendalian yang efektif, misalnya untuk menghindarkan pemanasan yang
berlebihan dari populasi, harus ada umpan balik negatif atau masukan yang
menentang deviasi. Energi yang terlibat dalam proses umpan-balik negatif, sangat
kecil dibandingkan dengan arus energi yang masuk ke dalam sistem, apakah
berupa sistem pengaturan temperatur di rumah, suatu organisme, atau suatu
ekosistem. Komponen-komponen energi rendah yang telah sangat memperbesar
pengaruh umpan-balik energi yang tinggi, adalah ciri utama yang menggambarkan
sistem sibernetik.
Salah satu kesulitan dalam pemahaman perilaku sibernetik pada tingkat ekosistem
adalah bahwa komponen-komponen e sistem dihubungkan satu sama lain dalam
suatun jaringan oleh berbagai faktor penghubung fisis dan kimiawi yang serupa tapi
rang nyata dibandingkan dengan sistem saraf atau hormon pada organisme. Simon
(1978) menyatakan bahwa ikatan energi yang menghubungkan komponenkomponen, menjadi makin terse dan makin lemah dengan meningkatnya skala
waktu dan ruang. Namun pada skala ekosistem energi penghubung yang banyak d
lemah itu dan iformasi ekosistem merupakan satu jaring kawat penghubung alami

yang tak tampak (Odum, 1971), dan nomena organisme yang bereaksi secara
dramatis terhadap konsentrasi zat-zat yang rendah, adalah lebih dari sekedar anak
yang lemah dengan pengendalian hormon. Penyebab-penyebab berenergi rendah
yang menghasilkan pengaruh-pengaruh bern gi tinggi merupakan hal yang umum
dalam jaringan ekosistem satu contoh akan dikemukakan sebagai ilustrasi.
Serangga-serangga keacil yang dikenal sebagai Himenoptera parasitpada
ekosiostem padang rumput hanya sedikit peranannya dalam metabolisme
komunitas total (kurang dari 1 persen), namun serangga serangga ini mempunyai
daya pengendalian yang sangat besar terhadap aliran energi primer total (produksi),
karena serangga merupakan parasit pada serangga-serangga herbivora.
Di muka telah disebutkan ada dua macam stabilitas, yaitu stabilitas resistensi dan
stabilitas resiliensi.
Stabilitas resistensi menunjukan kemampuan dari satu ekosistem untuk bertahan
terhadap kerusakan dan menjaga struktur dan fungsinya secara utuh.
Stabilitas resiliensi menunjukan kemampuan untuk pulih apabila sistem mengalami
suatu gangguan. Kedua macam stabilitas ini sulit dikembangkan pada waktu yang
bersamaan. Sebagai contoh di hutan Redwood di California, pohon-pohonnya tahan
terhadap api, karena mempunyai kulit yang tebal namun apabila hutan tersebut
terbakar sulit untuk pulih kembali. Sebaliknya vegetasi chaparral di daerah kering
mudah terbakar (stabilitas resistensi rendah) tetapi dapat pulih kembali
dalambeberapa tahun (berarti mempunyai stablitas resiliensi yang baik). Pada
umumnya dapat dikatakan bahwa ekosistem yang berada pada lingkungan fisik
yang lebih baik dapat diharapkan lebih memiliki kestabilan resistensi tapi kurang
memiliki stabilitas resiliensi. Sedangkan pada kondisi fisik yang tidak menentu akan
didapat keadaan yang sebaliknya.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa ekosistem tidaklah sama dengan suatu
organisme karena masing-masing memiliki sifat-sifat emergen sendiri-sendiri.
Dengan kata lain suatu ekosistem adalah organisasi tingkat supra-organismik tetapi
bukan suatu super-organisme. Namun demikian kedua sistem tersebut mempunyai
satu kesamaan yaitu memiliki perilaku sibernetik
DAFTAR PUSTAKA
Bertalanffly, Ludwig von. 1950. An outline of general systems theory. Brit. J. Philos
sci 1 : 39 :139- 164
Cannon, W. 1932. The wisdom of the body. New York, Norton.
Cairus,et.al. 1977. Charlottersville. Universtity of Virginia Press.
Cairus, John. 1980. The recovery process in damaged ecosystems. Ann.
Arbon,Mich., Ann Arbor Service
Crossley, D. A., and Martin Witkamp. 1964, Forest soil mites and mineral cycling.
Acarologia 137 145

Dokuchaev. V. V. 1889. The zone of nature. (in Russian). Akad. Nauk Moscow, Vol.
6.
Friedrichs, K. 1930. die grundfagen und gesetzmassigkelten de lanlund
foreswirtschaften zoologie. Two fols, Berlin, Paul Parey.
Gibson, David T. 1968. Microbial degradation of aromatic compounds. Science 161 :
1093 1097
Haines, E. B. Dan R. B. Hanson. 1979. Experimental degradation of detrius made
from salt marsh plants Spartina alternifora, Salicornius virginia and Juncus
roemeriaunus. J. Exp. Marine biol. Ecol.
Holdgate, M. W. Dan M. J. Woodman (eds). 1978. The breakdown and restoration of
ecosystem. New York, Plenum.
Holling. 1973. Resilience and stability of ecological systems. Ann. Rev. Ecol. Syst. 4
:1 -23
Hutchinson, 1948. On living in the biosphere. Sci Monthy 67 :393-398
Ichimura , 1968. General Systems Theory : Foundations, Development, Application.
New York, George Braziller, 295 pp. (revised edition, 1975)
Johannes, 1968. Nutrient regeneration in Lakes and Oceans. In Advances in
Microbiology of the sea, M. Droup and E. J. Ferguson Wood. Eds. Vol. I, New York
Academic
Koestler, A. 1869. Beyond and holism . the concept of holon. In : beyond
reductionism. The alpbach Symposium 1968. London.
Margalef, Ramon. 1968. Perspective in Ecological theory. Chicago , Universuty of
Chicago Press.
Meenterneyer, Vernon. 1978. Macrolomate and lignin control of litter decomposition
rates. Ecology 59 :465 472
Odum, H. T. 1967. Biological circuits and the marine system of Texas in : pullution
and Marine ecology, T. A. Olson and F. J. Burgess, eds. New York, Wiley
Interscience.
Odum, H. T. 1971. Environment, power and society. New York, John Wiley
Interscience.
Owen, D. F., and R. G. Wiegert. 1976. Do consumers maximize plant fitness? Oikos
27 : 489 492.
Patten, B. C. 1966. System ecology; a course sequence in mathematical ecology.
BioScience.
Patten, B. C. (ed). 1971. Systems analysis and Simulation in Ecology. Vol. I. New
York, Academic Press.
Patten, B. C. And E. P. Odum. 1969. The Cybernatic nature of ecosystems. Am.
Nat.
Pirt, S. J. 1957. The Oxygenrequirement of growing culture of an aerobacter species
determined by means of the contonous culture technique. J. Gen. Microbiol.

Redfied, A. C. 1958. the biological control of chemical factors in the invironment.


Ann. Sci.
Rodhe, W. 1955. Can plankton production proced during winter darkness in subartic
lakes? Proc. Int. Assoc. Theoret. Appl. Limnol.
Rich, peter H. 1978. Reviewing bioenergetics. Bioscience.
Simon, H. A. 1978. The organization of complex systems. Dalam heirarchy Theory :
The Callenge of ComplexSystems., H. H. Pattee, ed. New York, George Braziller.
Sukachev. V. N. On principlesof genetic classification in biocenology. (in Russian).
Zur obschei biol.
Thienemann, A. 1939. Grundzuge einer algemienen Oekologie. Arch. Hydrobiol.
Valentine, James. W. 1968. Climatic regulation of species diversification and
extinction. Bull geol. Soc. Ann. 79 : 273 276
Van Dyne. G. M. (ed). 1969. The ecosystem concept in natural resource
management. New York, Academic Press.
Vernadsky, V. I. 1945. The biospere and the noosphere, Am. Sci.
Watt, Kenneth E. F. 1968. Ecology and Resource Management : A quantitative
approach. New York, McGraw-Hill.
Whittaker, R. H. 1969. New concepts of kingdoms of organism. Science.
Wienner, N. 1948. Cybernatics. (2nd ed., 1961) Combridge, Mass, MIT Press.

III. ENERGI DALAM SISTEM EKOLOGI


1. Pengertian Dasar prihal energi
Energi didefinisikan sebagai suatu kesanggupan untuk melaksanakan kerja. Untuk
mengetahui perilaku energi perlu diketahui hukum-hukum termodinamika yaitu :
(1). Hukum Termodinamika perrtama atau hukum kekekalan energi yang berbunyi :
Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tapi tak pernah diciptakan
atau dihancurkan. Misalnya cahaya adalah salah satu bentuk energi karena cahaya
dapat diubah menjadi kerja, panas atau energi potensial dari makanan, tergantung
pada keadaan, tetapi tak ada yang hancur.
(2). Hukum Termodinamika kedua atau hukum entropi, yang berbunyi
Tak ada suatu proses pun yang menyangkut suatu transformasi energi akan terjadi
secara spontan, kecuali jika ada degradasi energi dari bentuk yang terkonsentrasi
(pekat) ke bentuk yang terpencar (tipis). Misalnya, panas pada benda yang panas
akan segera memencar kedalam lingkungan yan g dingin. Hukum ini dapat pula
berbunyi : Karena selalu ada energi yang terpencar sebagai energi panas yang tak
dapat digunakan maka tidk ada perubahan energi spontan menjadi energi potensial
yang 100% efisien (misalnya perubahan cahaya matahari menjadi protoplasma.
Jadi apabila energi matahari sampai kepermukaan bumi, energi ini sebahagian
besar didegradasikan menjadi energi panas. Hanya sebahagian kecil dari energi

cahaya yang diabsorbsi oleh tumbuhan hijau diubah menjadi energi potensial atau
energi makanan. Sedangkan sebagian besar menjadi panas yang keluar dari
tumbuhan, ekosistem, biosfer
Perilaku energi dalam ekosistem itu dapat disebut aliran energi karena perubahan
energi itu berjalan satu arah, berlaianan dengan siklus energi.

2. Lingkungan Energi
Organisme yang berada di atau didekat permukaan bumi secara terus menerus
disinari oleh radiasi matahari dan radiasi panas bergelombang panjang dari
permukaan-permukaan di sekitarnya. Kedua-duanyamempengaruhi lingkungan/iklim
(temperatur, penguapan air, gerakan udara dan air), akan tetapi hanya sebagian

kecil dari radiasi matahari yang dapat diubah oleh proses fotosintesa
kedalam energi berguna untuk komponen biotik dar ekosistem. Cahaya
matahari dari angkasa yang mencapai biosfer dengan laju 2 g cal/cm2/detik,
disebut konstanta matahari. Tetapi jumlah ini akan berkurang apabila
melewati atmosfer, sehingga paling banyak hanya 67% ( 1,34 g
cal/cm2/detik) yang dapat mencapai permukaan bumi pada tengah hari yang
cerah di musim panas (Gates, 1965). Radiasi matahari ini akan semakin
berkurang dan mengalami perubahan spektrum energi bilamana melewati
awan, air dan vegetasi. Dalam sehari, masukan cahaya matahari ke lapisan
autotrofik suatu ekosistembervariasi antara 100 dan 800 g cal/cm2/detik.
Dalam 24 jam, radiasi panas yang diteima oleh suatu ekosistem (atau yang
diterima oleh organisme) banyaknya sangat bervariasi, mungkin beberapa
kali lebih besar atau amat kurang dibanding dengan radiasi matahari yang
masuk. Variasi dalam jumlah radiasi total yang diterima oleh berbagai strata
dari ekosistem, demikian pula variasinya dari satu musim ke musim lain atau
satu tempat ke tempat lain pada permukaan bumi, adalah sangat besar dan
penyebaran dari masing-masing organisme menyesuaikan diri dengan
keadaan tersebut.
Radiasi yang menembus atmosfer akan berkurang intensitasnya karena
tersaring oleh gas atmosfer dan debu akan tetapi berapa berkurangnya
bervariasi tergantung pada frekuansi atau panjang gelombang. Radiasi
ultraviolet yang bergelombang pendek kurang dari 0.3 mikron diserap habis
oleh lapisan ozon di bagian luar atmosfer (kira-kira pada ketinggian 25 km).
Hal ini menguntungkan bagi kehidupan, sebab radiasi semacam ini dapat
mematikan protoplasma. Penyerapan cahaya oleh atmosfir secara luas
mengurangi cahaya nampak dan secara tidak beraturan mengurangi radiasi

infra merah. Energi radiasi yang mencapai permukaan bumi pada hari yang
cerah adalah kira-kira 10% ultraviolet, 45% cahaya nampak dan 45% infra
merah. Cahaya nampak tersebut sedikit sekali berkurangnya ketika
melewati awan yang tebal dan air, yang berarti bahwa proses fotosintetis
(yang hanya memerlukan cahaya nampak) dapat terus berlangsung pada
hari yang berawan dan pada beberapa kedalaman air yang jernih. Vegetasi
menyerap gelombang cahaya nampakyang berwarna biru dan merah serta
cahaya infra merah panjang secara kuat, cahaya hijau diserap kurang kuat
dan cahaya infra merah pendek dengan lemah. Karena cahaya hijau dan
infra merah pendek dipantulkan oleh tumbuh-tumbuhan, berkas spectrai
cahaya ini dipergunakan di dalam penginderaan jauh, baik dengan foto
udara maupun citra satelit, untuk menentukan pola vegetasi alam, keadaan
tanaman, terdapatnya penyakit tanaman dan sebagainya.
Naungan yang sejuk dan teduh di dalam hutan disebabkan oleh absorbsi
dari cahaya nampak dan infra merah panjang oleh daun-daun di atas.
Khususnya klorofil menyerap cahaya biru dan merah (berkas cahaya hanya
0,4 0,5 dan 0,6 -0,7 ); air di dalam daun dan uap air disekelilingnya
menyerap energi panas infra merah panjang. Tumbuhan hijau secara efisien
menyerap cahaya biru dan merah yang sangat berguna di dalam
fotosintetis.
Dengan menolak berkas cahaya infra merah pendek, dimana terdapat
sebagian besar energi panas matahari, daun-daun dari tumbuhan darat
menghindar dari temperatur yang mematikan. Tambahan pula daun-daun
didinginkan oleh penguapan (evaporasi). Dan tanam-tanaman air tentu saja
didinginkan oleh air. Cahaya sebagai faktor pembatas dan pengendali bagi
organisme. Dibahas dalam bab V.
Kendatipun perubahan radiasi total menentukan kondisi keberadaan
organisme, namun keterpaduan radiasi matahari langsung yang memasuki
stratum autotrofik, yaitu energi sinar matahari yang diterima oleh tumbuhtumbuhan hijau setiap hari, bulan dan tahun, adalah amat penting bagi
produktivitas dan pertukaran hara mineral dalam ekosistem. Masukan energi
primer itu menggerakkan semua sistem biologis. Di samping garis lintang
dan musim, penutupan awan adalah suatu faktor pokok dalam penerimaan
radiasi matahari.
Radiasi sebanyak 100 800 g cal/cm2/hari mungkin diterima di sebagian
besar dunia pada hampir setiap saat, terkecuali di daerah kutub atau di

daerah tropis yang beriklim kering. Di sana keadaannya begitu ekstrem,


sehingga hanya sedikit keluaran biologis yang dapat dihasilkan. Oleh sebab
itu untuk sebagian besar biosfer, masukan energi radiasi adalah kira-kira
3000 4000 kcal/m2/hari dan 1,1 1,5 juta kcal/m2/tahun. Penggunaan
energi radiasi matahari dalam setahun diringkaskan dalam tabel III-1
sebagai persen penggunaan dalam beberapa proses pokok.
Komponen matahari biasanya diukur dengan pyrheliometer atau solarimeter,
yang menggunakan sebuah termopil, suatu sambungan dari dua potong
logam yang membangkitkan suatu arus yang proporsional terhadap
masukan energi cahaya. Alat yang mengukur perubahan total dari energi
pada semua panjang gelombang disebut radiometer. Radiometer neto
memiliki dua permukaan, keatas dan kebawah, dan mencatat perbedaan
perubahan energi. Pesawat udara dan satelit yang diperalati dengan alat
perangkap termal (thermal scanners) secara kuantitatif dapat mendeteksi
naiknya panas dari permukaan bumi.

Dari tabel III-1 terlihat hanya lebih kurang 1% saja energi matahari yang
diubah menjadi makanan dan biomas lain dan lebih kurang 70% digunakan
untuk panas, evaporasi, hujan, angin, dsb.nya. tetapi jumlah energi yang
70% ini tidak hilang percuma, karena energi ini menyebabkan adanya
temperatur yang sesuai untuk hidup dan menggerakkan sistem cuaca dan
siklus air, yang kesemuanya diperlukan untuk kehidupan di bumi

3. Konsep Produktifitas

Peroduktivitas ialah laju produksi zat-zat organik dalam suatu ekosistem,


yang dimulai dengan konversi energi cahaya matahari menjadi zat-zat
organik melalui fotosintetis pada tumbuhan hijau. Di bawah ini diberikan
beberapa batasan (definisi) yang penting.

Produktivitas primer dari suatu ekosistem ialah laju konversi energi


cahaya menjadi zat anorganik melalui fotosintetis dan khemosintesis
oleh organisme produser (terutama tumbuhan hijau).

Produktivitas primer bruto ialah laju dari fotosintetis total, termasuk


zat-zat organik yang dipakai untuk pernafasan, selama masa
pengukuran; dikenal pula dengan istilah asimilasi total.

Produktivitas primer neto ialah laju dari penyimpanan zat-zat organik


di dalam jaringan tumbuh-tumbuhan setelah dikurangi pemakaian
untuk pernafasan selama masa pengukuran; disebut juga fotosintetis
nyata atau asimilasi neto. Biasanya jumlah energi/zat organik yang
digunakan untuk pernafasan ditambahkan kepada jumlah
fotosintesis nyata, sebagai koreksi untuk menaksir jumlah
produktivitas bruto.

Produktivitas komunitas neto, yaitu laju dari penyimpanan zat-zat


organik yang tidak digunakan heterotrof (jadi, produktivitas primer
neto dikurangi konsumsi oleh heterotrof) selama waktu pengukuran,
biasanya selama musim tumbuh atau setahun.

Produktivitas sekunder adalah laju dari penyimpanan energi pada


tingkat konsumer atau dekomposer.

Laju produksi yang tinggi, baik pada ekosistem alami maupun ekosistem
budidaya, terjadi apabila faktor fisik yang menunjangnya sesual, dan
khususnya jika subsidi energi daeri luar sistem dapat mengurangi
penggunaan energi untuk pemeliharaan. Subsidi energi yang dimaksud
dapat berbentuk hasil kerja dari angin dan hujan di hutan hujan, energi
pasang surut di daerah estuari, atau bahan bakar fosil, binatang, atau energi
kerja manusia yang digunakan di dalam budidaya tanaman. Dalam
mengevaluasi produktivitas suatu ekosistem, harus juga dipertimbangkan
selain sifat dan besarnya kehilangan energi yang diakibatkan oleh gangguan
iklim, panen, polusi dan tekanan-tekanan lainnya yang mengeluarkan energi
dari proses produksi, tetapi juga subsidi energi yang dapat menambah
produksi dengan mengurangi kehilangan panas untuk pernafasan.

Produktivitas biologis lain dari hasil suatu industri. Pada industri prosesnya
berhenti pada saat sesuatu barang telah dihasilkan, tetapi pada komunitas
biologis prosesnya berkelanjutan, sehingga perlu dinyatakan satuan
waktunya, misalnya produksi zat makanan per hari atau per tahun.
Produktivitas dapat dijadikan ukuran dari kekayaan kesuburan atau suatu
komunitas atau ekosistem.
Lain halnya dengan biomas, yaitu jumlah zat atau bahan organik yang ada
pada saat pengukuran. Suatu padang rumput yang subur tapi dirumputi oleh
ternak/hewan herbivora, akan mempunyai biomas yang lebih kecil daripada
padang rumput yang kurang subur (produktif) yang tak mengalami
perumputan.
Komunitas alami yang memperoleh subsidi energi alami ialah yang memiliki
produktivitas bruto yang tinggi. Peranan pasang surut di dalam estuari pantai
telah disebutkan di muka. Paya asin yang memperoleh energi pasang surut
optimal atau aliran tambahan lain mempunyai produktivitas bruto yang
setingkat dengan tanaman jagung yang dibudidayakan dengan intensif.
Interaksi yang kompleks antara angin, hujan danpenguapan di dalam hutan
tropis merupakan contoh lain daripada subsidi energi alami yang
memungkinkan daun-daun untuk menggunakan secara optimum masukan
sinar matahari yang tinggi pada siang hari di daerah tropika.
Diperairan dekat pantai yang subur, produksi primer paling banyak terdapat
pada kedalaman 30 m dari permukaan di laut terbuka, zone produksi primer
dapat mencapai kedalaman 100 m atau lebih dari permukaan.
Di semua perairan, puncak fotosintetis cenderung terjadi dekat dibawah
permukaan air, karena fitoplankton bersifat suka naungan dan dihambat oleh
cahaya matahari penuh. Di hutan, dimana unit-unit fotosintetis (daun-daun)
sudah ditentukan letaknya, yaitu daun-daun tajuk pohon adalah suka
cahaya, sedangkan daun-daun tumbuhan yang berada di lapisan bawah
adalah suka naungan.

4. Rantai Makanan, jaring makanan/tkt Trofik


Pemindahan energi dari sumbernya (tumbuh-tumbuhan) melalui
serangkaian organisme yanmg memakan dan dimakan, dinamakan rantai
makanan (food chain). Pada setiap pemindahan sebagian (seringkali
sebanyak 80 90 %) dari energi potensial hilang sebagai panas. Oleh
karena itu, makin pendek rantai makanan ini, atau makin dekat konsumer

dengan permulaan rantai makanan (tumbuhan), makin besar energi yang


tersedia bagi populasi itu, yang dapat diubah menjadi biomas, yaitu berat
hidup, termasuk persediaan makanan, dan untuk digunakan dalam bernafas
(respirasi).
Rantai makanan terdiri dari dua tipe dasar, yaitu rantai makanan
perumputan (grazing food chain), yang mulai dari tumbuhan sebagai dasar
lalu ke herbivora yang merumput (yakni organisme yang makan tumbuhan
hidup) dan terus ke karnivora dan rantai makanan perombakan (detritus
food chain), yang dimulai dari bahan-bahan mati lalu ke mikroorganisme dan
kemudian ke mikroorganisme pemakan detritus (bahan organik yang
hancur) dan predatornya. Rantai makanan tersebut tidaklah berjalan sendiri
dan terpisah, tetapi berhubungan satu sama lain membentuk jaring
makanan.
Tingkat trofik I adalah tumbuhan hijau, yaitu yang dapat menangkap sinar
matahari untuk proses fotosintetis dan disebut produser.
Tingkat trofik II ialah herbivora, yang bisa terdiri dari jamur yang menjadi
parasit pada tumbuhan hingga seekor gajah. Mereka mencernakan bahanbahan tumbuhan hidup sebagai makanannya untuk mendapatkan energi.
Tingkat trofik III dan IV terdiri dari karnivora, yaitu binatang yang
memperoleh energi dari makanan herbivora dan karnivora yang lebih kecil.
Karnivora bisa terdiri dari serangga, laba-laba sampai harimau dan singa.
Jadi energi dipindahkan selangkah demi selangkah lebih jauh dari sumber
semula, yaitu energi dari sinar matahari. Beberapa binatang, seperti
beruang dan juga manusia, adalah omnivora, kaang-kadang memakan
binatang lain.
Bakteri, protozoa, dan binatang-binatang kecil lainnya yang menggunakan
tumbuhan dan hewan mati sebagai makanannya disebut dekomposer atau
perombak. Dekomposer, yang menguraikan bahan dan zat organik menjadi
senyawa yang sederhana hingga unsur har, dan kembali ke lingkungan,
juga menggunakan energi dan membawanya ke langkah yang lebih jauh
dari sumbernya. Meskipun untuk mudahnya, kita memasukkan semua
dekomposer ke dalam satu tingkat trofik, keadaan sebenarnya adalah jauh
lebih kompleks. Terdapat jamur yang hidup dari jamur lain, bakteri yang
hidup dari fungi, virus yang hidup dari bakteri, dan seterusnya. Kesemuanya
dapat digolongkan sebagai dekomposer.

Pada ekosistem terstris, kebanyakan dekomposer hidup di permukaan atau


dilapisan tanah, mengubah bahan mati menjadi humus dan akhirnya
menjadi mineral, gas-gas dan air, untuk selanjutnya diisap lagi oleh akar
rambut tumbuhan melalui pembuluh kayu (xylem) ke daun (apa yang disebut
peredaran mineral tertutup).
Pentingnya peranan dekomposer tidaklah diragukan. Tanpa mereka, bahanbahan mati akan tertumpuk dan bahan mentah yang langkah seperti fosfor,
akan terikat dalam bangkai/sisa-sisa tanaman dan hewan. Dekomposer
memegang peranan dalam proses daur ulang dalam ekosistem. Dalam
ekosistem, energi mengalir masuk melalui fotosintesis dan mengalir ke luar
melalui respirasi di berbagai tingkat. Oleh kegiatan dekomposer, semua
unsur beredar setidak-tidaknya di dalam dan di antara komponen-komponen
sistem tersebut.
Disamping berlakunya hukum termodinamika kedua, ukuran makanan
adalah salah satu dari alasan-alasan utama adanya rantai makanan, sebab
biasanya ada batas-batas teratas dan terendah dari ukuran makanan yang
dapat menyokong secara efisien suatu tipe binatang. ukuran juga terlibat di
dalam perbedaan rantai makanan predator dan rantai makanan parasit,
organisme-organisme makin kecil ukurannya pada tahap-tahap yang
berturut-turut. Misalnya, akar tanaman sayuran ditumpangi parasit cacing
(nematoda) yang mungkin diserang oleh bakteri atau organisme kecil
lainnya. Mamalia dan burung biasanya ditumpangi parasit berupa kutu-kutu
yang memiliki parasit protozoa dari genus Leptomonas. Namun, dari segi
energi, rantai makanan predator dan parasit tidak berbeda secara
fundamental, karena baik parasit maupun predator adalah konsumer. Oleh
sebab itu, di dalam diagram aliran energi, parasit dari tumbuhan hijau
mempunyai kedudukan yang sama dengan herbivora, sementara parasit
binatang akan berbeda pada berbagai kategori karnivora.
Contoh yang baik dari suatu rantai makanan detritus ialah perombakan
daun-daun pohon mangrove (bakau-bakau) yang diuraikan oleh W. E. Odum
dan Heald (1972, 1975). Daun-daun pohon mangrove (Rhizophora mangle)
jatuh ke dalam air payau dengan kecepatan tahunan sebesar 9 ton per ha
(sekitar 2,5 gram atau 11 kcal/m2/hari) di areal yang ditumbuhi tegakan
pohon mangrove. Karena hanya 5% dari daun yang dimakan oleh serangga
sebelum daun gugur, sebagian besar dari produksi neto tahunan
disebabkan secara luas oleh arus pasang surut dan arus musiman ke teluk-

teluk dan estuari seluas beberapa mil persegi. Satu kelompok kunci dari
binatang-binatang kecil, disebut meiofauna yang hanya terdiri dari beberapa
spesies tetapi banyak jumlah individunya. Mereka ini memakan sejumlah
besar detritus tumbuhan berpembuluh bersama-sama dengan
mikroorganisme dan sejumlah kecil ganggang.
Melofauna di estuari itu umumnya terdiri dari kepiting kecil, udang, beberapa
jenis cacing, siput dan ditempat yang kurang asin juga larva serangga.
Partikel-partikel yang dicerna leh konsumer-konsumer ganggang detritus itu
berkisar antara fragmen-fragmen daun yang cukup besar hingga partikel liat
halus dimana bahan-bahan organik telah diserap partikel-partikel ini lewat
melalui usus dari berbagai jenis organisme dan species dari satu tahap lain,
yang menimbulkan pengulangan kehilangan dan pertumbuhan kembali
populasi mikroba (atau pengulagan ekstaraksi dan reabsorbsi bahan
organik) sampai bahan dasarnya (subsrat) habis dipakai.
Binatang-binatang dan konsumer lainnya bukan hanya pemakan yang pasif
sepanjang rantai makanan, untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri,
mereka sering memberikan umpan balik yang positif kepada tingkat trofik.
Melalui seleksi alam predator dan parasit telah beradaptasi tidak hanya
untuk menghindari perusakan sumber makanan mereka tetapi dalam
beberapa hal juga meningkatkan kesejahteraan yang lestari dari
mangsanya. Selain itu tercatat pula keadaan dimana konsumer
mempengaruhi produksi primer secara positif.
Suatu percobaan di green house (Dyer dan Bokhari, 1976) membandingkan
tumbuhan rumput yang daunnya telah dimakan belalang dengan tumbuhan
yang dipindah dengan pemotongan. Pertumbuhan kembali tumbuhan yang
dimakan belalang lebih cepat dari pada yang dipotong. Suatu bahan yang
terdapat dalam air liur serangga menstimulir pertumbuhan akar dan
meningkatkan kemampuan tumbuhan untuk menumbuhkan daun-daun baru.

Kualitas Energi
Energi memiliki kualitas maupun kuantitas. Tidak semua nilai kalori adalah
sama, sebab jumlah ang sama dari bentuk-bentuk energi yang berbeda
bervariasi banyak dalam potensi kerjanya. Bentu-bentuk yang sangat
terkonsentrasi seperti minyak bumi mempunyai potensi kerja yang lebih
tinggi dan oleh karena itu berkualitas yang lebih tinggi dari pada bentukbentuk yang lebih tinggi seperti sinar matahari: tapi sinar matahari

mempunyai kualitas yang lebih tinggi daripada bentuk panas yang lebih
rendah yang lebih tersebar. Kualitas energi diukur dengan energi yang
digunakan didalam transformasi atau lebih spesifik lagi dengan jumlah dari
satu tipe energi yang diperlukan untuk membangun energi yang lain didalam
rantai transformasi energi seperti rantai makanan atau rantai konversi energi
yang menghasilkan tenaga listrik. Kualitas energi dalam suatu rantai kualitas
dari bagian yang dikonversi kedalam bentuk baru meningkat secara
proporsinal pada tiap-tiap tingkat. Dengan perkataan lain apabila kuantitas
menurun, maka kualitas meningkat. Suatu faktor kualitas dapat didefinisikan
sbagai jumlah kalori sinar matahari yang perlu digunakan untuk
menghasilkan satu kalori dari bentuk yang berkualitas lebih tinggi (makanan
ataunkayu). Selain itu struktur kimia dari sumber energi menentukan
kualitasnya sebagai sumber makanan bagi konsumer. Dsidalam
membandingkan sumber-sumber energi untuk penggunaan langsung oleh
manusia, kita harus mempertimbangkan kualitas maupun kuantitas yang
tersedia. Dan dimana mungkin mencocokkan kualitas sumber dengan
kualitas penggunaannya.
Karena bahan bakar fosil sekarang merupakan basis primer bagi rantai
energi manusia, faktor kualitas seharusnnya dinyatakan dalam ekuivalen
kcal bahan bakar fosil dan ekuivalen energi matahari, seperti yang
ditunjukkan pada kolom kedua Tabel III-10

5. Metabolisme & ukuran individu


Biomas (dinyatakan sebagai jumlah berat kering atau jumlah nilai kalori
organisme yang terdapat pada suatu waktu tertentu) yang dapat ditopang
oleh arus tetap dari energi didalam rantai makanan amat tergantung pada
ukuran organisme masing-masing. Makin kecil organismenya, makin besar
metabolisme per gram (atau per kalori) biomasnya,. Akibatnya, makin kecil
biomasnya yang dapat ditopangnya pada satu tingkat trofik tertentu didalam
ekosistem. Sebaliknya, makin besar organismenya, makin besar pula
biomasnya. Jadi, jumlah bakteri yang terdapat pada suatu saat akan jauh
lebih kecil daripada biomas ikan atau mamalia sekalipun penggunaan energi
untuk kedua golongan itu sama.
Kuantitas energi menurun melalui rantai transfer, tetapi kualitas energi untuk
menjalankan pekerjaan meningkat dengan tiap-tiap konversi. Hubungan ini
diperlihatkan pada tabel III-10 (kolom pertama). Seperti terlihat pada tabel ini

bahan bakar fosil memiliki kualitas atau potensi kerja 2000 kali dari cahaya
matahari.

Metabolisme per gram biomas tumbuhan dan binatang kecil seperti


ganggang, bakteri, dan protozoa jauh lebih besar daripada laju metabolik
organisme-organisme besar seperti pohon atau bertebrata. Hal tersebut
berlaku untuk fotosintetis dan respirasinya. Di dalam banyak hal, dari segi
metabolisme, bagian-bagian yang penting dari satu komunitas bukan
organisme-organisme yang besar tapi sedikit, tetapi justru organismeorganisme kecil yang banyak yang seringkali tidak tampak oleh mata. Jadi,
ganggang kecil (fitoplankton) di dalam kolom, yang beratnya hanya
beberapa pound per acren pada setiap saat dapat memiliki metabolisme
yang sama besar dengan pohon-pohn bervolume lebih besar di dalam
hutan-hutan atau jerami di padang rumput. Demikian juga, beberapa pound
crustacea kecil (zooplankton) yang memakan ganggang dapat memiliki
respirasi total yang sama dengan apa yang dimiliki oleh sapi yang berlipat
ganda beratnya di padang pengembalaan.
Laju metabolisme organisme-organisme atau asosiasi organisme yang
sering diduga dengan mengukur kecepatan oksigen yang dipakai (atau
dihasilkan, dalam hal fotosintesa). Laju metabolisme dari binatang
cenderung naik sebesar pangkat 2/3 dari kenaikan volume atau beratnya.
Kecepatan metabolik per gram biomas juga menurun sebagai kebalikan dari
panjangnya (Zeuthen, 1963; Bertalanffy, 1957; Klebier, 1961) hubungannya
yang serupa nampak terdapat juga di dalam tumbuhan, meskipun

perbedaan-perbedaan strukturil pada tumbuhan dan binatang menyulitkan


membuat perbandingan langsung volume dan panjangnya.
Perlu ditunjukkan disini bahwa apabila organisme yang mempunyai ukuran
besarnya sama itu dibandingkan maka hubungan-hubungan linear tidak
selalu berlaku. Hal ini memang dapat diduga karena banyak faktor selain
ukuran yang mempengaruhi laju metabolisme. Misalnya, vertebratavertebrata berdarah panas mempunyai laju respirasi yang lebih besar
daripada vertebrata-vertebrata berdarah dingin dari ukuran yang sama.
Walaupun demikian, perbedaannya itu sebenarnya relatif kecil dibandingkan
dengan perbedaan antara vertebrata dan bakteri. Jadi, apabila dibeerikan
jumlah energi makanan yang sama, biomas ikan herbivora berdarah dingin
di suatu kolam mungkin sama besarnya dengan mamalia herbivora
berdarah panas di darat. Meskipun begitu, seperti yang telah dibahas di Bab
II, oksigen kurang tersedia di dalam air daripada di udaranya karenanya
lebih membatasi di dalam air. Umumnya, biantang-binatang dalam air
mempunyai kecepatan weight-spesifik respiratory yang lebih rendah
daripada binatang darat dengan ukuran yang sama. Penyesuaian demikian
ini dapat mempengaruhi struktur trofik (lihat Misra dkk, 1968)
Dalam mempelajari hubungan metabolisme ukuran pada tumbuhan,
seringkali dijumpai kesukaran untuk menentukan apa yang merupakan
individu. Jadi kita biasanya menganggap suatu pohon besar sebagai suatu
individu, tetapi dipandang dari hubungan ukuran-luas permukaan
sebenarnya daun-daun dapat bertindak sebagai individu-individu fungsional
(ingat pengertian indeks luas daun). Dalam studi berbagai jenis rumput laut
(ganggan besar bersel banyak), kita jumpai bahwa pada jenis-jenis dengan
cabang-cabang yang tipis dan sempit (dan karenanya perbandingan
permukaan volumenya tinggi) mempunyai laju per gram biomas yang tinggi
untuk pembuatan makanan, respirasi, dan pengambilan fosfor (radioaktif)
daripada jenis-jenis dengan cabang-cabang yang lebih tebal (E. P. Odum,
kuenster, dan Blunt, 1958) jadi di dalam hal ini cabang-cabang atau
bahkan masing masing sel secara individuil merupakan individu-individu
fungsional dan bukan seluruh tumbuhan, yang mungkin meliputi banyak
cabang yang menempel kepada substarat dengan satu pegangan.
Hubungan sebaliknya antara ukuran dan metabolisme dapat juga diamati
pada ontogeni satu spesies. Telur-telur misalnya, biasanya menunjukkan
kecepatan metabolisme per gram yang lebih tinggi daripada organisme yang

dewasa dan lebih besar. Dalam data yang dilaporkan oleh Hunter dan B
Vernerg (1955) metabolisme per gram dari parasit trematoda adalah 10 kali
lebih kecil daripada yang ditunjukkan oleh larva cercariae kecil.
6. Struktur Trofik dan Piramid Ekologi
Interaksi fenomena rantai makanan (kehilangan energi pada tiap pemindahan) dan
hubungan-hubungan ukuran metabolisme menyebabkan komunitas memiliki
struktur trofik tertentu (danau, hutan, terumbu karang, lapangan pengembalaan
dsb.nya). struktur trofik dapat diukur dan dilukiskan baik sebagai biomas per satuan
areal atau sebagai energi yang diikat per satuan areal per satuan waktu pada
tingkat-tingkat trofik yang berurutan. Struktur trofik dan juga fungsi trofik dapat
diperlihatkan secara grafis dengan menggunakan piramida ekologi. Dimana tingkat
pertama atau tingkat produser merupakan dasar dari tingkat-tingkat berikutnya yang
membentuk puncaknya. Piramida-piramida ekologis terdiri dari tiga tipe, yaitu :

Piramida jumlah, di dalam mana jumlah individu organisme dapat


dilukiskan,

Piramida biomas yang didasarkan pada jumlah berat kering, nilai kalori atau
ukuran lain dari jumlah total bahan hidup, dan

Piramida energi dalam mana diperlihatkan kecepatan arus energi dan/atau


produktivitas pada tingkat-tingkat trofik yang berurutan.

Piramida jumlah tidak begitu penting, sebab pengaruh relatif dari tingkat-tingkat
pada rantai makanan serta faktor makanan tidak diperlihatkan. Bentuk piramida
jumlah akan sangat bervariasi pada komunitas-komunitas yang berlainan,
tergantung pada ukuran produser, apakah besar (pohon) atau kecil(fitoplankton,
rumput). Lagipula seringkali sukar untuk menggambarkan keseluruhan
komunitas/ekosistem dengan skala jumlah yang sama.
Pada umumnya, piramida biomas dapat memberikan gambaran yang lebih baik
tentang hubungan tingkat-tingkat pada rantai makanan. Apabila jumlah berat
individu-individu dari tiap tingkat pada dari tiap tingkat trofik dilukiskan, maka akan
diperoleh bentuk piramida yang sesungguhnya. Bentuk piramid akan terbalik jika
organisme-organisme dari tingkat yang lebih bawah sangat lebih kecil daripada
tingkat yang lebih atas.

Diantara ketiga bentuk piramid ekologis itu, piramida enrgi memberikan gambaran
terbaik tentang sifat fungsional dari komunitas, karena sesungguhnya jumlah dan
berat organisme yang dapat ditunjang pada setiap tingkat tergantung pada energi
yang digunakan dan dihasilkan. Dan sesuai dengan hukum termodinamika kedua,
bentuk piramida energi selalu piramida yang berdiri.
7. Teori kompleksitas
Apabila ukuran dan kompleksitas suatu sistem bertambah, biaya energi untuk
pemeliharaan cenderung akan naik, lebih cepat secara profesional. Jika ukurannya
menjadi dua kali lebih besar, energi yang diperlukan akan lebih dari dua kali
besarnya, karena kenaikan entropi sehubungan dengan kenaikan kompleksitas
struktur dan fungsionalnya.
Berhubungan dengan kenaikan skala ukuran dan kompleksitas itu, terdapat dua
keadaan yaitu :
Pertama, keuntungan yang meningkat dengan kenaikan skala atau ekonomi dari
skala, dan kedua, keuntungan yang menurun dengan kenaikan skala atau
disekonomi dari skala.
Misal dari keadaan pertama adalah kenaikan kualitas dan stabilitas dengan adanya
perubahan, sedangkan misal dari keadaan kedua adalah kenaikan biaya untuk

mengimbangi perubahan. Keuntungan yang menurun ini dapat dikurangi dengan


jalan meningkatkan efisiensi dari transformasi energi.
Hukum keuntungan yang menurun berlaku untuk semua sistem. Apabila suatu
ekosistem menjadi lebih besar dan lebih kompleks, maka bagian dari produksi bruto
yang harus digunakan untuk respirasi komunitas akan naik, sedangkan bagian yang
akan digunakan untuk pertumbuhan akan menurun.
Apabila dalam satu sistem masukan dan keluarannya seimbang (sama) maka
ukuran sistem tak akan bertambah lagi. Pada keadaan ini banyaknya biomas yang
dapat didukung pada keadaan tersebut dinamai daya dukung maksimum.
Menaksir daya dukung untuk suatu peradaban agraris yang disokong oleh pertanian
yang subsistem tidaklah terlalu sulit, karena masukan energi datang dari sumber
setempat dan tidak dari daerah jauh. Mitchell (1979) melaporkan bahwa di India
kepadatan penduduk di pedesaan mempunyai hubungan linler dengan curah hujan
yang menentukan hasil pertanian di daerah yang tak bermigas. Sepuluh cm curah
hujan mendukung 2 orang per ha tanah yang dipanen. 100 cm curah hujan
mendukung 3 orang, 200 cm curah hujan mendukung 4 5 orang, 300 cm curah
hujan mendukung 6 orang.
Menaksir daya dukung untuk masyarakat industri-perkotaan adalah lebih sulit,
karena masyarakat demikian disokong oleh subsidi dalam jumlah besar yang
diimpor dari jauh dan sering diambil dari simpanan yang ditimbun sejak sebelum
manusia ada, seperti bahan bakar fosil, air, bumi, hutan, dan tanah organik yang
dalam (gambut). Semua sumberdaya ini semakin berkurang dengan penggunaan
yang intensif satu hal yang pasti adalah bahwa manusia, seperti juga rusa,
venderung untuk mencapai tingkat maksimum atau tingkat daya dukung K.

8. Klassifikasi Ekosistem Berdasarkan Energi


Sumber dan kualitas energi yang tersedia menentukan jenis dan jumlah organisme,
pola fungsional dan proses pertumbuhan. Dan pola hidup manusia. Karena energi
adalah suatu penyebut umum dan faktor penentu terakhir di dalam semua
ekosistem, apakah yang dirancang oleh manusia atau oleh alam, maka energi
memberikan suatu dasar logis untuk suatu klasifikasi tingkat pertama.
Atas dasar ini, dibedakan 4 kelas dasar ekosistem yaitu :

Ekosistem alam, tanpa subsidi dan hanya ditunjang oleh tenaga matahari.

Ekosistem yang ditunjang oleh tenaga matahari dan dibantu oleh energi
alam lainnya.

Ekosistem yang ditunjang oleh tenaga matahari dan dibantu oleh manusia

Sistem-sistem industri-erkotaan yang ditunjang oleh tenaga bahan bakar


(sumber energi dari bahan bakar fosil atau bahan bakar organik lain atau
bahan bakar nuklir)

Klasifikasi ini didasarkan atas masukan lingkungan, dan ini berbeda dengan tipe
melengkapi biome yang didasarkan atas struktur (dalam) dari ekosistem.
Ekosistem-ekosistem itu bertumpu pada dua sumber energi yang berbeda, yaitu
matahari dan bahan bakar kimia (nuklir). Oleh karena itu kita dapat membedakan
antara sistem tenaga matahari dan sistem tenaga bahan bakar, walaupun kedua
sumber energi itu dapat digunakan dalam suatu waktu bersamaan.
Sistem-sistem alam yang sebagian besar atau seluruhnya tergantung pada sinar
matahari langsung dapat disebut sebagai ekosistem tenaga matahari tanpa subsidi.
Mereka tidak disubsidi dalam arti bahwa karena hanya sedikit sekali, jika ada,
sumber energi tambahan yang tersedia untuk menambah sinar matahari, laut
terbuka, hutan yang luas, dan padang rumput dan danau yang luas dan dalam
adalah contoh-contoh dari ekosistem tersebut.
Ekosistem pantai adalah contoh yang tepat untuk ekosistem tenaga matahari yang
disubsidi alam, berupa energi pasang surut, gelombang dan arus. Karena gerakan
air itu menyebabkan peredaran hara, mengngkut makanan dan limbah, maka
organisme estuaria dapat mengkonsentrasikan usahanya untuk mengkonversi
energi matahari secara lebih efisien menjadi bahan organik.
Manusia tentu saja sudah belajar sejak dahulu bagaimana memodifikasi dan
mensubsidi alam untuk keuntungan langsung mereka, dan mereka telah makin
terampil tidak hanya di dalam meningkatkan produktivitas tetapi terutama dalam
penyaluran produktivitas tersebut menjadi makanan dan bahan-bahan serat yang
mudah dipanen diproses dan digunakan. Pertanian dan perikanan adalah contohcontoh utama dari ekosistem tenaga matahari yang disubsidi oleh manusia
Ekosistem tenaga bahan bakar yang juga dikenal sebagai sistem industri-perkotaan.
Merupakan puncak upaya manusia, energi potensial bahan bakar yang
berkonsentrasi tinggi menganti energi matahari.
Dengan pengelolaan kota sekarang, energi matahari tidak saja tak dipakai bahkan
amat mengganggu karena memanaskan beton bangunan. Tetapi karena bahan
bakar makin mahal, daerah perkotaan akan tertarik untuk menggunakan energi
matahari.

Dalam

keadaan

ini

harus

diciptakan

teknologi

baru

untuk

mengkonsentrasikan energi matahari sampai ke tingkat yang sebagian dapat


menggantikan bahan bakar.

DAFTAR PUSTAKA
Argen, G. I. Dan B. Axelsson 1980. Population respiration : a. Theoretical approach.
Ecol. Modeling.
Bartalanffy, Ludwig von. 1957. Quantitative lawes in metabolism and growt. Quart.
Rev. Biol.
Chambers, R. S., et al 1979. Gasohol : does it or doesnt it produce positive net
energy? Science. 206.
Dyer, M. I. Dan U. D. Bokhari, 1976. Plant-animal interactions Ecology 57.
Elton,

Charles.

1927.

animal

ecology.

New

York,

Macmillan,

(2nd

ed.

1935;3rd,1947)
Gates, David M. 1962. Energy Exchange in the biosphere. New York, Harper &
Row. 151 pp
Gates, 1963. The energy environment in which we live. Am. Sci. 51 : 327 348
Gates, David M. 1965. Energy Exchange in the biosphere. New York, Harper &
Row.
Hopkinson, C. S. Dan J. W. Day. 1980. Net energy analysis of alcohol production
from sugarnance. Science 207.
Jenny, Hans. 1980. Alcohol or humus? Science 209.
Kleiber, Max. 1961. The fire of life. New york, John Wiley dan Sons.
Odum, Eugene P. 1968. Energy flow in ecosystems : A. Historical Review Am. Zool.
Ryther, J. H. 1969. Photosynthesis and fish production in the sea. Science 166.
Zeuthen, E. 1953. Oxygen upteke and body size in organisims. Quart. Rev. Biol.

IV. SIKLUS BIOGIOKIMIA


1. Pola dan Type Dasar dari Siklus Biodeokimia dari protoplasma,
Unsur-unsur kimia termasuk semua unsur yang penting
cenderung beredar didalam biosfer, baik dari lingkungan ke organisme maupun
sebaliknya dari organisme ke lingkungan nya. Peredaran ini merupakan suatu
lingkaran dan dikenal sebagai Siklus Biogeokimia. Peredaran unsur-unsur dan zatzat organik amat diperlukan bnyak kehidupan, dan hal ini dengan mudah dapat
ditunjukkan dalam siklus hara.
2. Pengkajian Kuantitatif Siklus Biogeokimia
3. Biogeokimia Dalam Daerah Al;iran Sungai
4. Siklus Karbon dan Air
5. Siklus Sedimen
6. Siklus Unsur-unsur Non Esensial
7. Siklus hara di daerah Tropis

V. FAKTOR PEMBATAS LINGKUNGAN FISIK


1. Konsep faktor Pembatas
2. Hukum Minimum Leibig
3. Faktor Kompetensi dan Ekotipe
4. Eksistensi Kondisi sebagai pengatur
5. Faktor-faktor fisik yang penting sebagai fator Pembatas
6. Stress Antropogenik dan Limbah Bercun sebagai fator Pembatas

VI. DINAMIKA POPULASI

1. Sifat-sifat Populasi
2. Bentuk-bentuk pertumbuhan Populasi
3. Pengaruh Densitas dalam pengendalian Populasi
4. Struktur Populasi/pola penyebaran Alami
5. Pembagian dan optimasi Energi
6. Integrasi : Siasat dan sifat sejarah hidup
.
VII. POPULASI DALAM KOMUNITAS
1.

Tipe-tipe interaksi antara dua jenis

2.

Kompetisi Intraspesifik dan Koeksistensi

3.

Predasi, Herbivory, Parasitisme dan Alelopati

4.

Interaksi=interaksi positif, Konensalisme, koperasi dan mutualisme

5.

Konsep Habitat, Niche, dan Gulid

6.

Keanekaragaman Spesies

VIII. PERKEMBANGAN DAN EVOLUSI EKOSISTEM


1.

Strategi Perkembangan ekosistem

2.

Konsep Klimaks

3.

Evolusi Biosfer

4.

Seleksi Alamiah

5.

Koevolusi

6.

Relevansi Perkembnagan ekosistem dan