Anda di halaman 1dari 20

2014

MATERI SEJARAH UMUM KELAS X


MASA PRA AKSARA

Copyright : SS Collection
Edited by : HQ Sensei
SMAN 1 TEGAL
Th. Pelajaran 2014/2015

KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA


Standar Kompetensi
Menganalisis peradaban Indonesia dan dunia
Kompetensi Dasar
Menganalisis kehidupan awal masyarakat Indonesia
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi tentang kehidupan awal masyarakat Indonesia, siswa dapat:
- Menganalisis proses terbentuknya bumi dan awal kehidupan manusia
- Mendeskripsikan berbagai fosil manusia purba di Indonesia
- Merekonstruksi penemuan manusia purba Indonesia diatas peta
- Mendeskripsikan zaman prasejarah berdasarkan alat-alat kehidupan/benda-benda
peninggalan
- Mengidentifikasi ciri-ciri sosial, budaya, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat awal
Indonesia
- Membuat bagan perkembangan budaya di Indonesia secara kronologis
A. Proses Muncul dan Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia dan Masyarakat
di Kepulauan Indonesia
Teori Kelahiran Bumi
Ilmu pengetahuan dengan penyelidikannya menghasilkan gambaran yang dalam
pokoknya tidak berbeda dengan ajaran agama, yaitu bahwa manusia pertama lahir di atas
dunia setelah mahluk-mahluk lainnya ada. Hal ini dapat diketahui dari bekas-bekas dan
sisa-sisa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang kesemuanya telah membatu dan
terdapatkan dalam lapisan-lapisan bumi. Bekas-bekas serta sisa-sisa demikian disebut
fosil, dan fosil-fosil yang menjadi ciri khusus dari sesuatu lapisan bumi dinamakan
leitfosil atau fosil pandu.
Guna mengikuti perkembangan segala sesuatu yang hidup di muka bumi ini, perlulah
meninjau tarikh bumi terlebih dahulu. Menurut ilmu falaq, yaitu ilmu yang mempelajari
bintang-bintang, maka dunia ini (yang pada hakekatnya bintang juga) mula-mula sekali
berupa bola gas yang panas luar biasa dan berputar pada porosnya sendiri. Karena
perputaran terus menerus itu, maka gas tersebut menjadi semakin padat, terjadilah kulit
bumi. Kulit itu makin lama makin tebal, di samping itu makin menurun ukuran panasnya.
Adapun bagian terdalamnya, (dari bumi itu) sampai sekarangpun masih belum padat pula,
masih seperti lumpur yang sangat panas (magma, yang keluar kalau gunung api meletus).
Demikianlah terjadinya dunia ini, kira-kira 250 ribu juta tahun yang lalu. Menurut
geologi, yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi (lapisan-lapisan kulit bumi), maka waktu
sejak terjadinya dunia sampai kini dapat dibagi atas zaman-zaman sebagai berikut:
1. Arkaikum / Azoikum
Zaman tertua
Berumur kira-kira 2500 juta tahun
Kulit bumi masih panas masih dalam proses pembentukan
Belum ada tanda-tanda kehidupan
2. Paleozoikum
Zaman hidup tua/primer
Berumur kira-kira 340 juta tahun
Mulai ada tanda-tanda kehidupan seperti binatang-binatang terkecil
(mikroorganisme), binatang tidak bertulang belakang, beberapa jenis ikan,
amphibi dan reptil
Keadaan bumi masih berubah-ubah/belum stabil
SS Collection

3. Mesozoikum
Zaman hidup pertengahan/zaman sekunder/zaman reptil
Berumur kira-kira 140 juta tahun
Jenis-jenis binatang seperti ikan, amphibi, reptil semakin banyak
Reptil mencapai bentuk dan ukuran yang besar antara lain dinosaurus,
atlantosaurus
Mulai ada jenis burung, mamalia
4. Neozoikum
Zaman hidup baru
Berumur kira-kira 60 juta tahun
Kehidupan berkembang pesat
Dibagi menjadi 2 zaman yaitu :
a. Tertier
- binatang-binatang raksasa mulai berkurang
- binatang menyusui berkembang pesat
- mulai ada beberapa jenis monyet dan kera
b. kuarter
- berlangsung kira-kira 600.000 juta tahun yang lalu
- dibagi menjadi 2 zaman/kala yaitu :
1) Pletocen /diluvium
- berumur 3 juta 10.000 tahun
- jenis manusia mulai muncul (manusia purba)
- terjadi masa glasial dan interglasial
Pada masa ini es dari kutub berkali-kali meluas sehingga menutupi
sebagian besar dari Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara, maka
zaman ini dinamakan zaman es atau zaman glasial. Kejadian ini
disebabkan karena ukuran panas di dunia tidak tetap, ada kalanya naik
banyak dan ada kalanya turun mendadak. Jika ukuran panas itu turun
sampai banyak maka es itu mencapai luas yang sebesar-besarnya.
Akibatnya ialah bahwa air laut menjadi turun (zaman glasial). Sebaliknya
jika ukuran panas itu naik. Maka es banyak yang mencair. Daerah yang
diliputi es menjadi berkurang dan permukaan air laut naik (zaman
interglasial). Zaman glasial dan interglasial itu terus silih berganti selama
zaman diluvium. Hal ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di
seluruh dunia, yang kemudian mempengaruhi keadaan tanah serta yang
hidup di atasnya.
Perkembangan zaman-zaman tersebut tidak dapat dipisahkan dengan
perkembangan keadaan Indonesia. Sebelum zaman es atau glasial, wilayah
Indonesia bagian barat menjadi satu dengan daratan Asia dan wilayah
Indonesia bagian timur menjadi satu dengan daratan Australia. Keadaan
ini sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan flora dan faunanya.
Namun naiknya air laut karena mencairnya es di kutub, mengakibatkan
wilayah Indonesia dipisahkan oleh lautan dengan Asia maupun Australia.
Bekas daratan Asia yang sekarang menjadi dasar lautan disebut Paparan
Sunda. Sedangkan bekas daratan yang menghubungkan Indonesia bagian
Timur dengan Australia disebut Paparan Sahul. Daerah lautan yang
memisahkan kedua paparan tersebut zona Wallace.
2) Holocen/alluvium
- berumur 20.000 tahun sekarang
- hidup manusia cerdas/homo sapiens yaitu jenis manusia seperti
manusia sekarang

SS Collection

kebudayaan sebagai hasil cipta manusia mengalami perkembangan dan


kemajuan luar biasa
Bagan lapisan kulit bumi berdasarkan ilmu geologi
Alluvium (Holocene)
Quarter

4. Neozoic
Tertiary
Diluvium (Pleistocene)
3. Mesozoic

Secondary epoch

2. Paleozoic

Primary epoch

1. Archaic

B. Perkembangan Manusia Purba Indonesia


No
1
2
3
4

Jenis manusia
purba Indonesia
Meganthropus
Palaeojavanicus
Pithecanthropus
Robustus
Pihecanthropus
Mojokertensis
Pihecanthropus
Erectus

Homo Soloensis

Homo Wajakensis

Waktu hidup

Lapisan tempat hidup

Kira-kira 2 juta-1 juta tahun


lalu
Kira-kira 2 juta-1 juta tahun
lalu
Kira-kira 2 juta-1 juta tahun
lalu
Kira-kira 1 juta-6000.000
tahun silam
Kira-kira 60.000-25.000 tahun
silam
Kira-kira 60.000-25.000 tahun
silam

Plestocen Bawah
(Jetis)
Plestocen Bawah
(Jetis)
Plestocen Bawah
(Jetis)
Plestocen Tengah
(Trinil)
Plestocen Atas
(Ngandong)
Plestocen Atas
(Ngandong)

Kehidupan manusia pada zaman prasejarah bisa diketahui melalui peninggalan


fosil tulang belulang mereka. Fosil-fosil tersebut meliputi tengkorak, badan, kaki dan
tulang-tulang lainnya. Fosil tengkorak dengan ukuran kapasitas tempurung kepalanya
dapat mengungkapkan sejauh mana kemampuan berpikir mereka dibandingkan dengan
kapasitas manusia modern sekarang. Demikian juga dengan bentuk tulang rahang, lengan,
dan kaki dapat dibandingkan dengan bentuk tulang yang sama dengan tulang manusia
modern atau dengan jenis kera (pithe).
Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa mereka berbeda dengan manusia
modern sekarang namun memiliki tingkat kecerdasan tertentu yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan jenis kera. Mereka telah memiliki tingkat kemampuan untuk
mengembangkan kehidupan, seperti halnya manusia sekarang walaupun dengan tingkat
yang sangat terbatas. Mereka lazim disebut manusia purba atau manusia yang hidup pada
zaman prasejarah.
Penjelasan Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia Berdasarkan Bukti Arkeologis,
sebagai berikut :
1. Meganthropus Palaeojavanicus
Jenis ini diperkirakan hidup pada masa sekitar 1 sampai 2 juta tahun yang lalu
SS Collection

Artinya
: manusia raksasa tertua dari pulau Jawa
Penemu
: Von Koenigswald
Tahun penemuan
: 1941
Lokasi
: Desa Sangiran, lembah Bengawan Solo
Ciri-ciri
:
Berbadan besar
Perawakan tegap
Tulang pipi yang tebal
Otot kunyah yang kuat
Kening menonjol
Tidak memiliki dagu
Memakan jenis tumbuh-tumbuhan
2. Pithecanthropus Mojokertenis
Fosil ini hidup sekitar 2.000.000 juta tahun yang lalu.
Artinya
: manusia kera dari Mojokerto
Penemu
: Von Koenigswald
Tahun penemuan
: 1936
Lokasi
: Mojokerto
Fosil tengkorak anak-anak diperkirakan berusia 5 tahun
3. Pithecanthropus Robustus
Artinya
: manusia kera yang perkasa
Penemu
: Von Koenigswald
Tahun penemuan
: 1936
Lokasi
: Desa Sangiran, lembah Bengawan Solo
4. Pithecanthropus Erectus
Artinya
: manusia kera yang berjalan tegak
Penemu
: E. Dubois
Tahun penemuan
:1890
Lokasi
: Trinil, Bengawan Solo, Ngawi
Ciri-ciri
:
Tinggi besar sekitar 165 cm 180 cm
Volume otak berkisar 900 cc
Bentuk tubuh dan anggota badan tegap
Bentuk geraham besar dengan rahang yang sangat kuat
Bentuk tonjolan kening tebal
Bentuk hidung tebal
Dapat dikatakan tidak memiliki dahi
Tidak memiliki dagu
Bagian belakang kepala tampak menonjol
5. Homo Soloensis
Artinya
: manusia dari Solo
Penemu
: Von Koenigswald dan Weidenreich
Tahun penemuan
: 1931 1934
Ciri-ciri
:
Bentuk tubuh tegak
Kening sudah tidak menonjol
6. Homo Wajakensis
Jenis ini diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lalu
Artinya
: manusia dari Wajak
Penemu
: Van Rietschoten (1888) dan Eugene Dubois (1889)
SS Collection

Tahun penemuan
: 1888 dan 1889
Lokasi
: Wajak, Tulungagung, Kediri (lembah sungai Brantas)
Ciri-ciri
:
Baik Homo Wajakensis maupun Homo Soloensis disebut homo karena mirip manusia
modern. Volume otaknya sudah mencapai 1000 cc hampir menyamai manusia
modern sekarang. Jenis manusia Wajak diperkirakan merupakan nenek moyang
bangsa asli Australia.

C. Peta Penemuan Manusia Purba di Indonesia

Lokasi-lokasi dimana ditemukan fosil-fosil manusia purba di Jawa

SS Collection

Keterangan tambahan manusia purba Indonesia


Meganthrupus Palaeojavanicus

Pithecanthropus Mojokertensis

(a)

(b)

Homo Erectus

Homo Soloensis

(c)

(d)
Homo Wajakensis

(e)

SS Collection

D. Periodisasi Perkembangan Budaya pada Masyarakat Awal Indonesia


Pembabakan zaman prasejarah berdasarkan alat-alat kehidupan/benda-benda
peninggalan / arkeologi.
Dibedakan 2 yaitu Zaman Batu dan Zaman Logam
1. Zaman Batu
Suatu masa di mana perkembangan teknologi manusia diwarnai dengan penggunaan
batu sebagai bahan dasar untuk pembuatan alat-alat.
1. Paleolithikum (Zaman Batu Tua)
Ciri ciri
Terjadi pada zaman geologi plestocen
Tempat tinggal berpindah-pindah (nomaden) dan berkelompok sekitar 10-15
orang
Cara mendapatkan makanan: berburu, mengumpulkan makanan yang
diperoleh dari alam(food gathering)
Alat-alat terbuat dari batu, belum diasah halus/masih kasar
Belum berpikir tentang hari esok
Contoh alat-alat budaya :
- kapak genggam/kapak perimbas/chopper
- alat-alat serpih/flakes
- alat-alat tulang dan tanduk
Jenis manusia purba yaitu :
- Pithecanthropus Erectus
- Homo Wajakensis
- Homo Soloensis
2. Mesolithikum (Zaman Batu Madya)
Terjadi pada zaman geologi holocen
Tempat tinggal sebagian menetap, sebagian masih berpindah-pindah (semi
sedenter)
Cara mendapatkan kebutuhan hidup dengan :
- bercocok tanam kecil-kecilan dan sangat sederhana (huma)
- masih berburu dan mengumpulkan makanan
Alat-alat terbuat dari batu, sudah diasah agak halus
Contoh alat-alat budaya :
- pebble (kapak genggam Sumatra)
- kapak pendek (hatche Courte)
- flakes (alat-alat serpih)
Jenis manusia : Homo Sapiens
Bekas-bekas peninggalan dapat ditemukan di daerah pantai (terdapat pada
tempat yang disebut Kjokkenmoddinger) dan juga ditemukan di daerah
pegunungan (terdapat pada tempat yang disebut Abris Sous Roche)
3. Neolithikum (Zaman Batu Muda)
Ciri-ciri :
Tempat tinggal menetap (sedenter)
Cara mendapatkan kebutuhan hidup : mampu menghasilkan kebutuhan hidup
sendiri (food producing), seperti :
- bercocok tanam tingkat lanjut
- beternak
- membuat kerajinan gerabah, menenun, membuat rumah
- membuat aturan hidup bersama dalam satu kelompok masyarakat
- melakukan pembagian kerja

SS Collection

(Menurut Dr. R. Soekmono, perubahan dari food gathering ke food producing


merupakan suatu revolusi dalam perkembangan zaman prasejarah Indonesia.
Disebut revolusi karena terjadi perubahan yang cukup mendasar dari tradisi
pengumpul makanan menjadi pembuat makanan).
Alat-alat terbuat dari batu sudah diasah halus
Mengenal kepercayaan terhadap arwah nenek moyang
Contoh alat-alat budaya :
- kapak persegi dan kapak lonjong
4. Megalithikum (Zaman Batu Besar)
Yaitu kebudayaan batu besar dimana bangunan dibuat dari batu-batu besar dan
digunakan dalam hubungan dengan kepercayaan zaman prasejarah. Jadi bangunan
tersebut dibangun untuk kepentingan pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Kebudayaan megalithikum sebenarnya sudah ada sejak zaman neolithikum, tetapi
baru berkembang setelah aman logam. Pembuatannya tidak halus, asal dapat
berbentuk.
Contoh :
1) Menhir
Adalah tugu batu atau tiang dari batu, berfungsi sebagai tanda permintaan
suatu peristiwa atau sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang. Menhir
ditemukan di beberapa tempat di Indonesia seperti di Sumatera Selatan,
Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
2) Dolmen
Adalah bangunan megalith berupa peti mati mayat selain itu juga digunakan
sebagai meja tempat meletakkan sesaji. Banyak ditemukan di Besuki, Jawa
Timur, biasa disebut pandhusa.
3) Sarkofagus/keranda
Adalah bangunan megalith berupa peti mati. Batu besar dibuat seperti lesung
dan diberi tutup dari batu juga. Banyak ditemukan di Bali.
4) Punden berundak
Adalah bangunan megalith berupa susunan batu bertingkat-tingkat sebagai
tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Bangunan ini pada masa
berikutnya menjadi dasar pembuatan candi. Banyak ditemukan di Lebak,
Ciledug, Banten Selatan.
5) Kubur peti batu
Merupakan kuburan dalam tanah yang sisi samping, alas dan tutupnya diberi
semacam papan-papan dari batu. Banyak ditemukan di Pasemah (Sumatra
Selatan), Wonosari (Yogyakarta), Cepu (Jawa Tengah) dan Cirebon (Jawa
Barat)
6) Waruga
Adalah kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat yang terbuat dari batu
utuh. Banyak ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Utara.
7) Arca
Adalah bangunan dari batu yang berbentuk manusia dan binatang seperti
gajah, banteng, macan, dan monyet. Terdapat di Sulawesi Selatan, Jawa
Tengah dan Jawa Timur.

SS Collection

10

2. Zaman Logam
Ciri-ciri :
Peningakatan kemampuan dari masa sebelumnya yaitu kemampuan mengolah
logam khususnya logam perunggu dan besi.
Bentuk mata pencaharian : pertanian dengan bersawah, perikanan, perdagangan.
Contohnya : kepandaian membuat rumah, barang-barang gerabah, barang-barang
dari logam dan lain-lain.
Adanya hubungan dagang yang mengakibatkan pula hubungan budaya
Masa ini menjadi dasar tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan
Mataram.
Contoh alat-alat budaya :
- nekara perunggu
- kapak corong
- moko
Penjelasan Hasil Budaya di Indonesia pada masa Paleolithikum, Mesolithikum,
Neolithikum dan masa Logam dan Manusia Purba Sebagai Pendukungnya
Kebudayaan Paleolithikum
Hasil budaya yang utama adalah kapak perimbas, flakes/alat-alat serpih, alat-alat tulang
dan tanduk.
Berdasarkan daerah penemuannya dibedakan atas 2 yaitu :
1. Kebudayaan Pacitan
Adalah kebudayaan yang ditemukan di daerah Pacitan di Penungan Sewu pantai
Selatan Jawa oleh Von Keoningswald pada tahun 1935. Alat yang ditemukan adalah
kapak genggam.
Fungsinya sebagai kapak tetapi belum bertangkai. Cara menggunakannya dengan
menggenggam, karena itu disebut kapak genggam. Di Indonesia ditemukan juga di
Progo, Gombong, Sukabumi dan Lahat. Di luar Indonesia ditemukan di Birma,
Vietnam, Thailand, Cina, Malaysia, Philipina, Pakistan, Formosa. Pendukung
kebudayaan ini adalah Pithecanthropus Erectus, berdasarkan petunjuk penemuan fosil
manusia purba di Peking yaitu (Sinanthropus Pekinensis (yang setingkat dengan
Pithecanthropus Erectus) bersama dengan alat-alatnya yang juga masih kasar
buatannya.
2. Kebudayaan Ngandong
Di sekitar daerah Ngandong dan Sidoarjo (dekat Ngawi, Madiun) ditemukan banyak
alat dari tulang dan tanduk di samping kapak-kapak genggam dari batu. Fungsinya
sebagai penusuk, pisau, tombak, mata panah. Termasuk kebudayaan Ngandong
adalah flakes/alat serpih. Alat-alat serpih ini ditemukan oleh Von Koeningswald
tahun 1934 di Sangiran, Kab. Surakarta.
Manusia purba pendukung kebudayaan ini adalah Homo Soloensis dan Homo
Wajakensis.
Kebudayaan Mesolithikum
Hasil budaya utama mesolithikum adalah pebble/kapak genggam Sumatera, kapak
pendek, flakes, alat-alat tulang. Bekas peninggalan dapat ditemukan di daerah pantai dan
pegunungan.
1. Kjokkenmoddinger
Peninggalan zaman mesolithikum di daerah pantai dalam bahasa Denmark disebut
Kjokkenmoddinger yang berarti sampah dapur. Peninggalan tersebut berupa bukit
kerang yang tinggi dan panjang, terdapat di pantai Timur Sumatera antara Langsa dan
Medan. Penyelidikan atas tempat ini dilakukan oleh Dr. P.V. Van Stein Callenfels,

SS Collection

11

tahun 1925. Karena peranannya sebagai pelopor dan pembuka jalan dalam ilmu
prasejarah Indonesia, maka ia disebut sebagai Bapak Prasejarah Indonesia.
Sampah dapur ini terjadi karena penduduk tinggal di rumah-rumah panggung ditepi
pantai. Makanan mereka berupa kerang atau siput laut yang direbus. Dengan merusak
bagian atas pada siput atau membuka kulit kerang itu, isinya dimakan, kulitnya
dibuang sampai menjadi semacam bukit kerang. Rumah siput atau kulit bukit kerang
yang di beberapa tempat tingginya mencapai 7 meter, ditemukan
a. Pebble/kapak genggam Sumatera
b. Hache Courte/kapak pendek
c. Bentuknya setengah lingkaran
d. Pipisan, merupakan alat penggiling
e. Benda-benda protoneolith (benda-benda yang menunjukkan
pengaruh
neolithikum) yaitu kapak yang masih bersifat mesolithikum (masih kasar) tetapi
pada bagian yang tajam sudah diasah halus
f. Ditemukan juga tulang-tulang manusia Papua Melanesoide
2. Abris Sous Roche
Peninggalan zaman mesolithikum di daerah pegunungan berujud abris sous roche
yaitu gua yang digunakan sebagai tempat tinggal. Diselidiki pertama kali oleh Van
Stein Callenfels pada tahun 1928-1913, di Gua Lawa, Sampung, Ponorogo.
Gua-gua ini merupakan ceruk-ceruk pada batu karang yang dapat digunakan untuk
memberikan perlindungan penghuninya terhadap panas, hujan gangguan binatang
maupun musuh. Ditemukan alat-alat batu mulai dari zaman paleolithikum sampai
zaman besi. Seperti : ujung panah, flakes, batu-batu penggilingan, kapak-kapak yang
sudah diasah, alat-alat dari perunggu dan besi juga ditemukan tulang-tulang manusia
Papua Melanesoide (nenek moyang suku bangsa Irian dan Melanesia sekarang).
Yang terbanyak ditemukan adalah alat-alat dari zaman mesolithikum yang terbuat dari
tulang, sehingga muncul istilah Sampung Bone Culture. Selain di Sampung, daerah
lain yang terdapat abris sous roche antara lain di daerah Besuki, Jawa Timur (oleh
Van Heekeren) yang berhasil menemukan kapak Sumatera dan kapak pendek, di
daearah Bojonegoro (Jawa Timur), di daerah Lamoncong, Sulawesi Selatan yang
berhasil menemukan flakes dan alat-alat tulang (kebudayaan Toala) dan didaerah
Timor dan Pulau Roi (oleh Alfred Buhler) yang berhasil menemukan flakes.
Penyelidikan selanjutnya oleh Van Stein Callenfels dan Van Heekern, diketahui
bahwa hasil kebudayaan mesolithikum yang lain adalah flakes.
Dapat disimpulkan kebudayaan mesolithikum mempunyai 3 hasil budaya penting
yaitu:
1. Pebble
ditemukan pada kjokkenmoddinger
2. Alat-alat tulang
3. Flakes
ditemukan pada abris sous roche
Manusia pendukungnya adalah Papua Melanesoide.
Kebudayaan Neolithikum
Hasil budaya yang utama adalah kapak persegi, kapak lonjong, kapak bahu.
1. Kapak persegi/beliung persegi
Ditemukan dan diselidiki oleh Von Heine Geldern. Nama kapak persegi itu berasal
dari Von Heine Geldern. Berdasarkan persegi berfungsi tidak sebagai kapak saja,
namun juga untuk keperluan yang lain. Kapak persegi mempunyai macam ukuran dan
fungsi. Yang besar disebut juga beliung persegi, digunakan untuk mencangkul. Yang
kecil disebut tarah, sebagai alat pahat. Selain berfungsi untuk bercocok tanam,
mengerjakan kayu, kapak persegi juga dibuat dari batu indah yang digunakan untuk
alat upacara. Bahan untuk membuat kapak persegi kebanyakan memgunakan batu api,
sebagian ada yang dibuat dari chalcedon.
SS Collection

12

Terdapat di Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,


Malaka dan Hindia Belakang Dari penyelidikan tentang penyebaran kapak persegi
oleh Von Heine Gelder, dapat diketahui bahwa pangkal kebudayaan tersebut adalah
Yunan di Tiongkok Selatan ialah di daerah hulu-hulu sungai terbesar di Asia
Tenggara seperti sungai Yang Tze Kiang, Mekhong, Menam, Salwen. Dengan melalui
lembah-lembah sungai tersebut persebarannya menuju hilir. Kemudian kebudayaan
kapak persegi mempunyai pusat di daerah Tonkin dimana para pendukungnya adalah
bangsa pelaut dengan perahu bercadiknya yaitu bangsa Austronesia. Bangsa ini
merupakan bangsa pendatang yang datang ke Indonesia 2000 SM.
2. Kapak bahu
Semacam kapak persegi tetapi ada lehernya.
Daerah kebudayaan kapak bahu meluas dari Daratan Asia, Jepang, Formosa,
Philipina, ke barat sampai dengan Sungai Gangga. Pendukungnya adalah bangsa
Austro-Asia.
3. Kapak lonjong
Bentuk kapak bulat telur, namanya berdasarkan pada penampangnya yang lonjong.
Kebudayaan kapak lonjong sering dinamakan Neolithikum Papua, karena banyak
ditemukan di daerah Irian. Mempunyai berbagai macam ukuran yang besar disebut
WALZENBEIL, yang kecil disebut KLEINBEL. Kleinbel ditemukan di daerah antara
daerah kapak persegi dan daerah walzenbeil adalah di Kepulauan Tanimbar, Seram,
dan sekelilingnya, juga di Assam dan Birma Utara. Jalan penyebarannya melalui jalan
Timur yaitu dari Daratan Asia, Jepang, Formosa, Philipina, Minahasa dan seterusnya
sampai ke Timur. Kemudian dari Irian ke Kepulauan Melanesia. Pembawanya adalah
Papua Melanesoide.
4. Perhiasan
Masyarakat mengenakan perhiasan seperti gelang, kalung yang terbuat dari batu dan
kerang. Sebagian terbuat dari batu indah seperti kalsedon
5. Keramik
Tanah liat yang ditelah dibentuk, dibakar pada alat pembakar.
6. Pakaian
Masyarakat menggunakan kulit untuk membuat pakaian, dengan memukul kulit untuk
mendapatkan kain yang lunak dan lentur.
Kebudayaan Zaman Logam
Zaman logam dibedakan 3 yaitu zaman Tembaga, Perunggu dan Besi. Tetapi Zaman
Tembaga ini tidak pernah berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Zaman
ini berkembang di Sern, Malaya, Kamboja, Muangthai dan Vietnam. Zaman logam
dibedakan 3 yaitu Zaman Tembaga, Perunggu dan Besi. Tetapi Zaman Tembaga ini tidak
pernah berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Zaman ini berkembang di
Sern, Malaya, Kamboja, Mungthai dan Vietnam. Yang berkembang di Indonesia adalah
Zaman Perunggu. Perunggu adalah campuran timah putih dan tembaga.
Hasil budaya yang utama adalah kapak corong/kapak sepatu, nekara perunggu, moko,
candrasa.
Keterangan :
1. Kapak corong/kapak sepatu
Kapak yang bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya dibelah. Sedangkan ke
dalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya yang menyiku kepada bidang
kapak. Berfungsi sebagai kapak dan alat upacara. Terdapat di Sumatera Selatan, Jawa,
Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, P. Selayar dan Irian.
Ada pula kapak yang panjang pada satu sisinya yang disebut candrasa, berfungsi
hanya sebagai alat untuk upacara.
SS Collection

13

2. Nekara perunggu
Bentuknya seperti dandang yang ditelungkupkan. Banyak terdapat di wilayah
Indonesia bagian timur. Fungsinya sebagai alat upacara, pusaka, mas kawin.
3. Moko
Bentuk seperti nekara, hanya lebih kecil dan langsing, terdapat di Alor, NTT
4. Bejana perunggu
5. Perhiasan perunggu
Keterangan gambar-gambar peralatan budaya masa prasejarah
a. Peralatan budaya paleolithikum

b. Peralatan budaya mesolithikum

SS Collection

14

c. Peralatan budaya neolithikum

d. Peralatan megalithikum

e. Peralatan budaya perundagian

SS Collection

15

E. Ciri-ciri sosial, budaya, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat pada masa


berburu (food gathering) dan masyarakat pertanian (food producing.)
Selain dibahas pembabakan masa prasejarah Indonesia berdasarkan perkembangan hasil budaya pada masyarakat awal, juga dapat dilakukan pembabakan masa
prasejarah Indonesia berdasarkan tingkat kehidupan masyarakat. Berdasarkan tingkat
kehidupan masyarakat awal di Indonesia, dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan
Kehidupan manusia
Lingkungan hidup manusia pada masa berburu dan mengumpulkan makanan
adalah keadaan alam yang masih liar dan bahkan keadaan bumi masih belum mantap.
Bentuk kepulauan Indonesia masih berbeda dengan bentuk yang sekarang. Lautan antara
pulau Jawa dan Kalimantan dan antara Sumatera dan Kalimantan sebagian besar masih
berupa daratan yang dialiri sungai-sungai besar, yaitu kelanjutan sungai-sungai yang
sekarang bermuara di laut Jawa dan selat Malaka. Daratan ini adalah bagian lautan di
Indonesia bagian barat yang sekarang disebut paparan Sunda. Paparan Sunda kemudian
digenangi air laut dan menjadi laut dangkal setelah es di sekitar kutub utara yang meluas
pada zaman glasial, mencair. Keadaan daratan juga masih sangat labil. Banyak terjadi
letusan gunung api. Sungai-sungai berpindah alirannya karena perubahan bentuk
permukaan bumi. Ada danau-danau yang terbentuk karena aliran sungai terbendung oleh
longsoran-longsoran tanah yang disebabkan oleh letusan gunung api atau gerakan kulit
bumi. Sebaliknya ada pula danau-danau yang menjadi kering.
Manusia Indonesia dari masa berburu dan mengumpulkan makanan sesungguhnya
hidup dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan, jika dibandingkan dengan
keadaan sekarang. Dengan perlengkapan fisik yang yang kurang sempurna untuk
menghadapi alam, jika dibandingkan binatang ia berusaha mempertahankan hidupnya. Ia
berusaha menciptakan berbagai alat untuk menutupi kekurangannya. Karena tidak sekuat
binatang maka ia hidup berkelompok dan mengatur diri dalam kelompok tersebut.
Pada mulanya kelompok manusia hidup berpindah-pindah. Mereka selalu mencari
daerah yang dapat memberikan makanan yang cukup. Hal ini tidak berarti bahwa mereka
dapat pergi kemana saja yang mereka inginkan untuk mencari makan itu. Hutan lebat dan
sungai-sungai membatasi bidang gerak mereka. Pada umumnya kelompok manusia
tersebut memilih daerah-daerah tertentu yang dianggap menguntungkan, seperti sungai,
danau atau sumber air yang lain. Karena mereka mengetahui bahwa binatang buruan akan
selalu berkumpul di dekat air. Selain itu sungai dan danau juga merupakan sumber
makanan karena banyak ikan di dalamnya. Tambahan pula di sekitar atau di dekat air
biasanya juga subur dan banyak terdapat tanaman yang buahnya atau umbinya dapat
dimakan. Suatu hal yang sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah
api, yang dapat digunakan untuk pengaman dari binatang buas pada saat-saat tertentu dan
juga untuk membakar daging hewan buruan mereka supaya lebih lunak dan lebih mudah
dikunyah.
Walaupun manusia masa berburu dan mengumpulkan makanan hidup berpindahpindah, tepai mereka berusaha menemukan tempat tinggal yang dapat melindungi mereka
dari alam dan bahaya binatang buas. Mereka memilih gua-gua sebagai tempat tinggal.
Letaknya cukup tinggi yaitu di lereng-lereng bukit.
Walaupun sangat lambat, budaya masa berburu dan mengumpulkan makanan
mengalami pertumbuhan juga, mereka telah mulai lebih lama tinggal di suatu tempat. Ada
kelompok-kelompok yang memilih pantai sebagai hidupnya yang utama, ada pula yang
memilih daerah pedalaman. Keadaan ini menumbuhkan budaya yang berbeda pula.
Mereka yang memilih daerah pantai lebih bertumpu pada makanan yang dihasilkan di laut
dan daerah pantai. Mereka berusaha mengembangkan peralatan dan cara-cara hidup yang
SS Collection

16

sesuai. Biasanya makanan mereka adalah kerang dan ikan laut. Bekas tempat tinggal
mereka dapat ditemukan kembali karena dijumpainya kulit kerang dalam jumlah besar di
tempat-tempat tersebut. Termasuk juga alat-alat yang pernah mereka gunakan.
Kelompok yang memilih bertempat tinggal di pedalaman pada umumnya tinggal
di tepian sungai. Selain dari binatang buruan, mereka juga hidup dari hasil sungai. Sisasisa budaya mereka sering ditemukan di dalam gua-gua yang mereka tinggali.
Alat-Alat Budaya
Pada tingkat permulaan, manusia membuat alat-alatnya dengan sangat sederhana.
Mereka membuat alat, asal bisa membantu pekerjaan mereka. Alat-alat itu kebanyakan
terbuat dari batu, tulang dan kayu. Benda-benda yang terbuat dari kayu, sukar dicari
buktinya karena kayu tidak dapat bertahan lama.
Contoh alat budaya manusia berburu dan mengumpulkan makanan:
a. Kapak perimbas
Kapak perimbas tidak bertangkai dan digunakan dengan menggenggam dalam tangan.
Kapak ini pada umumnya tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia. Tokoh peneliti
adalah Von Koenigswald pada tahun 1935, di daerah Punung, kabupaten Pacitan. Para
ahli yang lain juga melakukan penyelidikan.dari hasil penelitian dapatlah diketahui
bahwa tidak hanya di pacitan saja alat alat-alat ini ditemukan. Juga ditemukan di
Sukabumi, Ciamis, Gombong, Bengkulu, Lahat, Awangbangkal (Kalimantan
Selatan), Cabbange (Sulawesi Selatan), Bali, Flores dan Timor. Diperkirakan
Pithecanthropus lah yang membuat dan menggunakannya.
Kapak perimbas juga ditemukan di daerah di luar Indonesia seperti Pakistan, Birma,
Malaysia, Cina, Thaoland, Filipina dan Vietnam. Pada umumnya kapak perimbas
yang ditemukan di benua Asia mempunyai persamaan, baik bentuk maupun
bahannya. Bahannya kebanyakan adalah batu lempung.
b. Alat serpih
Alat-alat serpih sering ditemukan bersama-sama dengan kapak perimbas. Alat-alat
serpih berbentuk sederhana. Dibuat kecil-kecil sekali, berfungsi sebagai pisau, gurdi
atau penusuk. Dengan alat ini manusia purba dapat mengupas, memotong dan
menggali makanan mereka. Alat-alat serpih ditemukan oleh Von Koenigswald pada
tahun 1934 di Sangiran, kab. Surakarta. Alat-alat ini juga ditemukan di daerah-daerah
lain seperti Cabbenge (Sulawesi Selatan), Maumere (Flores), dan Timor.
c. Alat tulang
Tulang-tulang yang diambil dari tulang binatang. Digunakan sebagai pisau atau belati,
juga mata tombak yang digunakan untuk berburu. Selain alat tulang juga digunakan
tanduk yang berfungsi dalam kegiatan berburu.
Alat tulang banyak ditemukan di Ngandong, Kab. Madiun.
2. Masa Bercocok Tanam
Kehidupan Manusia
Pada tahap terakhir masa berburu dan mengumpulkan makanan, mulai ada
kelompok-kelompok manusia yang tidak sepenuhnya mengembara lagi. Mereka
bertempat tinggal untuk waktu yang cukup lama di suatu tempat. Kemampuan mereka
untuk menyelenggarakan hidup sudah mencapai suatu yang memungkinkan tumbuhnya
pola baru. Pola itu berpokok pada kemampuan mengadakan persediaan makanan yang
cukup hingga mereka tidak perlu selalu mengembara untuk memperoleh makanan.
Bersama dengan kemampuan mengadakan persediaan makanan, berkembang pula
kemahiran untuk membuat wadah. Pada masa ini orang mulai membuat wadah dari tanah
liat yang dibakar. Kemampuan membuat wadah berupa gerabah menyebabkan mereka
mempunyai berbagai alat untuk menyimpan bahan makanan dan mempengaruhi cara
mereka memasaknya. Selain itu gerabahpun dihias berbagai pola hias dan warna.
SS Collection

17

Cara bercocok tanam pada masa itu adalah dengan huma, yaitu dengan
membersihkan hutan dan menanaminya. Setelah tanah itu sudah tidak subur lagi, mereka
pindah ke bagian hutan yang lain dan mengulangi pekerjaan membuka hutan demikian
seterusnya.
Alat-alat yang digunakan untuk pada masa bercocok tanam masih terbuat dari
bahan-bahan yang digunakan pada masa sebelumnya. Misalnya kayu, tanduk, tulang,
bambu, dan batu. Tetapi alat-alat pada masa ini lebih sempurna buatannya dan jenisnya
juga lebih banyak. Alat-alat batu pada masa bercocok tanam sangat bagus buatannya.
Alat-alat itu diupam hingga halus. Bahkan banyak yang terbuat dari batu indah, misalnya
kalsedon, batu api, dan batu-batuan lain.
Kemampuan menyelenggarakan hidup yang meningkat memungkinkan bertambah
besarnya jumlah anggota suatu kelompok. Kelompok-kelompok kecil pada masa berburu
dan mengumpulkan makanan telah tumbuh menjadi kelompok-kelompok yang lebih
besar dengan pengaturan yang lebih sempurna dan kemampuan yang lebih besar.
Kelompok-kelompok yang menetap, akhirnya tumbuh menjadi perkampunganperkampungan. Kelompok-kelompok perkampungan tumbuh menjadi kesatuan-kesatuan
yang lebih besar. Misalnya kelompok klan, marga, dan sebagainya yang menjadi dasar
masyarakat Indonesia saat ini. Dalam perkembangannya kemampuan masyarakat pada
masa bercocok tanam bertambah, seiring dengan pemikiran untuk hidup menetap. Mereka
mulai menerapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan.
Alat-Alat Budaya
a. Kapak persegi (beliung persegi)
b. Kapak lonjong
c. Mata panah
d. Gerabah
e. Perhiasan
f. Bangunan-bangunan megalith seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur peti batu,
punden berundak, waruga, arca.

3. Masa Perundagian/Pertukangan
Kehidupan manusia
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat perundagian adalah peningkatan bentuk
kehidupan masa sebelumnya. Kemampuan pengolahan logam, khususnya perunggu dan
besi dan dibutuhkan orang yang mempunyai keahlian khusus untuk membuatnya. Bahan
tersebut tidak tersedia dalam jumlah yang berlimpah, oleh karena itu alat-alat batu masih
memegang peranan penting.
Pada mayarakat perundagian telah terdapat pembagian kerja yang baik.
Pembagian kerja ini bukan hanya meliputi pembuatan alat dari logam, tetapi juga dalam
bidang-bidang yang lain. Pembagian kerja biasanya menumbuhkan keahlian dalam
bidang tertentu. Dengan demikian hasilnyapun akan lebih baik. Jadi dapat dikatakan
bahwa masyarakat perundagian menampakkan ciri-ciri suatu masyarakat yang teratur
karena adanya pembagian kerja dalam masyarakat.
Bahan untuk membuat perunggu (yaitu timah putih dan tembaga) dan bahan besi
tidak dapat ditemukan di semua tempat termasuk Indonesia, maka harus didatangkan dari
luar. Hal ini berarti perdagangan. Perdagangan tersebut meliputi berbagai daerah dan
antar pulau bahkan juga sampai ke daerah Asia Tenggara lainnya. Hal ini dapat dilihat
dari ragam hias pada benda-benda perunggu yang ditemukan di Indonesia, yang jelas
memperlihatkan pengaruh budaya yang juga berkembang di daratan Asia Tenggara. Jadi
hubungan dagang mengakibatkan pula hubungan budaya.
SS Collection

18

Tentang teknik pertanian, berdasarkan bentuk alat-alat pertanian yang telah


ditemukan, khususnya alat-alat dari besi seperti pisau, tajak, dapat disimpulkan bahwa
orang pada masa itu sudah dapat bersawah. Masyarakat persawahan ini pada umumnya
juga dapat mengembangkan masyarakat yang lebih mantap karena sifatnya yang menetap
dan adanya persediaan bahan pangan yang cukup untuk memberi makan kepada jumlah
manusia yang lebih banyak dari masyarakat huma atau ladang.
Alat-Alat Budaya
a. Benda-benda perunggu seperti kapak corong, nekara, arca-arca perunggu, perhiasan.
b. Benda-benda besi, gerabah dan manik-manik
- Benda-benda besi seperti mata kapak, mata sabit, mata pisau, mata pedang,
cangkul, tongkat.
- Gerabah seperti tempat air, tempat makanan, tempat memasak dan lain-lain
- Manik-manik dipergunakan sebagai perhiasan, untuk upacara, untuk bekal kubur
atau sebagai alat penukar. Bahannya terbuat dari kulit kerang, batu akik, kaca dan
tanah-tanah yang dibakar.
Sistem religi Masyarakat Awal Indonesia
Masyarakat awal Indonesia diperkirakan sudah memiliki religi atau agama.
Menurut mereka, agama merupakan keyakinan kepada sejumlah kekuatan yang ada di
luar atau lebih tinggi dari manusia sebagai tempat memohon dan meminta petunjuk
tentang jalan kehidupan. Kekuatan-kekuatan yang dimaksud bisa berupa roh nenek
moyang, makhluk halus yang menghuni gunung, batu besar, pohon, binatang, atau
makhluk yang tidak berwujud, tapi menguasai daerah tersebut.
Kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus tersebut dikenal dengar nama
animisme, yang berbeda dengan kepercayaan dinanaisme yaitu suatu kepercayaan bahwa
setiap benda memiliki kekuatan luar biasa dan keajaiban. Dua jenis kepercayaan tersebut
dianggap sebagai kepercayaan masyarakat yang masih terbelakang dan disebut tribal
religions, yaitu kepercayaan awal yang membentuk sistem kepercayaan di muka bumi.
Banyak masyarakat di bumi ini kadang memahami setiap fenomena dan kejadian
seperti gempa bumi, gerhana matahari, gerhana bulan, sebagai sebagai kekuatan gaib,
karena manusia tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menciptakan kejadiankejadian alam tersebut. Lahirnya agama dalam kehidupan manusia membuat kehidupan
masyarakat menjadi teratur, karena mereka terikat berbagai norma dan nilai yang telah
mereka sepakati sebagai aturan hidup. Kepercayaan bersama yang bersifat religi
menyebabkan adanya saling ketergantungan di antara individu dalam masyarakat primitif
dan membentuk solidaritas di antara anggota masyarakat.
Kegiatan religi dalam praktiknya memerlukan suatu alat yang dianggap suci
dalam bentuk simbol yang diyakini memiliki kekuatan gaib dan dapat mempersatukan
mereka yang disebut Totem. Nama Totem ini adalah nama atau lambang kelompok
tersebut dan mereka percaya bahwa totem tersebut, dan mewujud dalam suatu prinsip
Totem yang suci yang disebut Ma'na. Setiap kelompok masyarakat Indonesia memiliki
Totemnya masing-masing yang menjadi pengikat solidaritas masyarakatnya.
Keberadaan religi dalam masyarakat, jenis kepercayaan atau yang dipujanya akan
tergantung di mana masyarakat itu berada. Berbagai fenomena itu akan membentuk
mentalitas primitif yang berbeda-beda, meski semua kepercayaan awal bersifat mistis
atau percaya pada kekuatan supranatural terhadap semua kejadian yang muncul di alam.
Selain fenomena alam, religi dapat muncul dari adanya magic. Contohnya magic
yang muncul pada saat dukun melakukan pengobatan terhadap warganya yang sakit.
Kesembuhan dari adanya proses pengobatan tersebut menimbulkan kepercayaan bahwa
yang menyembuhkan dan menolong mereka adalah roh nenek moyang mereka melalui
perantara dukun yang bersangkutan. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang mereka
SS Collection

19

mempunyai kemampuan untuk melindungi dan menolong desa mereka ditambah adanya
pernyataan dari dukun tersebut bahwa dia memiliki kekuatan yang dapat menolong
mereka dengan bantuan roh nenek moyang. Bentuk Totem dalam masyarakat ini berupa
mantra-mantra atau nyanyian yang dapat menyembuhkan mereka. Dalam hal ini
kesembuhan didapatkan karena adanya keselarasan antara dukun yang mengobati dengan
pasien melalui mitos dan aksi yang dilakukan oleh keduanya. Munculnya mitos dalam
kehidupan karena adanya peristiwa masa lalu yang bersifat kepahlawanan dan mitos ini
memberikan sugesti dan keyakinan untuk keluar dari krisis.
Ternyata setelah membahas mengenai timbulnya religi dalam kehidupan primitif,
dapat diketahui bahwa hal itu merupakan suatu penyelarasan hubungan antara manusia
dengan alam dan sebagai pengawas tingkah laku manusia dalam bentuk norma dan nilai,
karena setiap bentuk pelanggaran akan mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia.
Dengan demikian, manusia akan dan harus selalu menjaga keselarasan hidup dengan
alam.
Religi yang dilakukan manusia dalam hubungannya dengan alam selalu
menyangkut tiga faktor, yaitu:
a. alat-alat yang digunakan;
b. ritual keagamaan;
c. mantera-mantera.
Ketiga faktor tersebut merupakan norma dalam menjalankan religi dan
mempunyai kekuatan bagi yang menggunakannya.
F. Bagan perkembangan budaya di Indonesia secara kronologis
Age

Culture

Bronze

Mesolithic

Paleolithic

SS Collection

megalithic

Neolithic

Barang-barang
Perhiasan
Manik-manik
Menhir
Bejana
Dolmen
Candrasa
Keranda
Nekara
Kubur batu
Kapak corong
Punden
berundak
Barang-barang
Arca-arca
Perhiasan
Manik-manik
Tembikar
Kapak persegi
Kapak lonjong
Lukisan-lukisan pada dinding gua
Flakes
Alat-alat dari tulang
Kapak pendek
Kapak sumatera (pebble)
Alat-alat tulang dan tanduk rusa
Flakes
Choppers

Kind of human

Austronesia
(Indonesia)

Papua Melanesoide

Papua Melanesoide

Homo Wajakensis
Homo Soloensis
Pithecanthropus

20

Rangkuman
Menurut geologi, yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi (lapisan-lapisan kulit
bumi), maka waktu sejak terjadinya dunia sampai kini dapat dibagi atas arkaikum,
paleozoikum, mesozoikum dan neozoikum.
Kehidupan manusia pada zaman prasejarah bisa diketahui melalui peninggalan
fosil dan artefak. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa manusia purba
berbeda dengan manusia modern sekarang namun memiliki tingkat kecerdasan tertentu
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan jenis kera. Mereka telah memiliki tingkat
kemampuan untuk mengembangkan kehidupan, seperti halnya manusia sekarang
walaupun dengan tingkat yang sangat terbatas. Adapun manusia purba yang ditemukan di
Indonesia yaitu di pulau Jawa adalah Meganthropus Paleojavanicus, Pithecanthropus
Robustus, Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, dan
Homo Wajakensis.
Pembahasan zaman prasejarah diungkap berdasarkan alat-alat budaya/bendabenda peninggalan/arkeologi. Berdasarkan alat-alat budaya zaman pprasejarah dibedakan
2 yaitu zaman batu dan zaman logam. Pembabakan masa prasejarah Indonesia juga
diungkap berdasarkan tingkat kehidupan masyarakat, yaitu masa berburu dan
mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan masa perundagian.
Mengenai timbulnya religi dalam kehidupan masa prasejarah, dapat diketahui
bahwa hal itu merupakan suatu penyelarasan hubungan antara manusia dengan alam dan
sebagai pengawas tingkah laku manusia dalam bentuk norma dan nilai, karena setiap
bentuk pelanggaran akan mendatangkan bencana bagi kehidupan manusia. Dengan
demikian, manusia akan dan harus selalu menjaga keselarasan hidup dengan alam. Religi
yang dilakukan manusia dalam hubungannya dengan alam selalu menyangkut tiga faktor,
yaitu: alat-alat yang digunakan, ritual keagamaan, dan mantera-mantera.

SS Collection