Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR


Mata Acara Praktikum :
Konsumsi Oksigen Pada Ikan Mas
Disusun oleh:
Andri Nur Azizah
230210120006
Fauziyyah Rahmawati 230210120038
Isnan Fazri Pangestu 230210120044
Kelompok 10

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JATINANGOR
2013

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
Laporan Akhir Praktikum Fisiologi Hewan Air ini.
Penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen,
koordinator asisten, asisten pembimbing yang telah banyak membimbing dalam
pelaksanaan praktikum ini.
Penulis menyadari sepenuhnya akan kekurangan dalam pembuatan laporan
ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi isi, penulisan dan lain-lain
untuk itu kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun sangat
penulis harapakan guna penyempurnaan laporan-laporan selanjutnya.
Demikian laporan ini penulis buat, semoga Laporan Akhir Praktikum
Fisiologi Hewan Air ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca
umumnya untuk membaca laporan ini.

Jatinangor, Oktober 2013

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
BAB

Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................... v
I.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2.Tujuan Praktikum ........................................................................ 2
1.3.Prinsip Praktikum ........................................................................ 2
II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Termoregulasi..............................................................................
2.2.Tinjauan Umum Sampel .............................................................
2.3.Alat Pernapasan ...........................................................................
2.4.DO meter.....................................................................................
2.5.Suhu ............................................................................................

3
4
6
9
10

III.METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum.................................. 12
3.2.Alat dan Bahan ............................................................................ 12
3.3.Prosedur Praktikum ..................................................................... 13
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil ............................................................................................ 14
4.2.Pembahasan ................................................................................ 15
V.KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan ................................................................................. 18
5.2.Saran ........................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 19
LAMPIRAN .................................................................................... 21

iii

DAFTAR TABEL
No

Judul

Halaman

1. Alat yang Digunakan ....................................................................... 12


2. Bahan yang Digunakan .................................................................... 13
3. Hasil ............................................................................................... 14

iv

DAFTAR GAMBAR
No

Judul

Halaman

1. Ikan Mas ..........................................................................................


2. Sistem Sirkulasi Pernafasan Ikan Mas ..............................................
3. Struktur Insang Ikan. ................................................................
4. Mekanisme Pernapasan Pada Ikan Bertulang Sejati ..........................
5. DO meter .........................................................................................

5
7
7
8
10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup didunia ini memerlukan bernafas, secara tidak

langsung memerlukan oksigen untuk system respirasinya. Respirasi sendiri adalah


roses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa
berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam
pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan
pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga
tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua tingkatan
organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila
pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa
pemecah, semua respirasi tidak melibatkan oksigen.
Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik
yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan
kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya
(utamanya menjadi oksida).Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia
paling melimpah di biosfer, udara, laut, dan tanah bumi. Oksigen merupakan
unsur kimia paling melimpah ketiga di alam semesta, setelah hidrogen dan
helium. Sekitar 0,9% massa Matahari adalah oksigen. Oksigen mengisi sekitar
49,2% massa kerak bumi dan merupakan komponen utama dalam samudera
(88,8% berdasarkan massa).
Ikan merupakan hewan poikiloterm, suhu tubuhnya akan menyesuaikan
diridengan suhu lingkungannya. Suhu media air akan mempengaruhi kandungan
oksigenterlarut yang akan berakibat terhadap proses respirasi ikan.Ikan mas
merupakan salah satu jenis ikan yang sensitif terhadap kandunganoksigen terlarut
dalam media air tempat hidupnya.

1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui, memahami, dan

menghitung konsumsi oksigen ikan masyang sensitive terhadap kadar oksigen


terlarut di media hidupnya.

1.3

ManfaatPraktikum
Manfaat dari praktikum ini kita dapat menghitung jumlah kadar oksigen

yang dikonsumsi ikan mas dalam selang waktu tertentu, dengan alat bantu DO
meter sebagai pengukur kandungan oksigen terlarutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Termoregulasi
Termoregulasi merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk

mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan, supaya suhu tubuhnya tidak
mengalami perubahan yang drastis. Mekanisme termoregulasi yaitu mengatur
keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Keseimbangan
suhu tubuh hewan dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan luar, hewan dapat
bertahan hidup diantara -2oCsampai 50oCatau pada suhu yang lebih ekstrim.
Namun, hidup secara normal hewan memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari
kisaran suhu tersebut yang ideal yang dikuasai agar proses fisiologis optimal.
Suhu tubuh ideal yang palig disukai yaitu suhu ekritik berkisar antara 35 oC-40oC.
Kisaran toleransi termal yaitu kisaran suhu yang lebih luas dan dapat diterima
hewan. Suhu optimal sesuai keadaan tubuh suhu tubuh yaitu inti konstan dan suhu
permukaan berubah ubah.
Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood
animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli
Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang
berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan
yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu
tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan.
Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan
reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari
hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum
dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada
lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan
homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh
bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini
juga disebut hewan berdarah dingin, dan hewan homoiterm sering disebut hewan
berdarah panas.

2.2

Ikan Mas
Ikan Mas (karper, Common Carp) yang di kenal di Indonesia memiliki

nama latin Cyprinus Carpio dari keluarga Cyprinid. Bentuk badan Ikan Mas pada
umumnya adalah agak gemuk dengan tubuh panjang membulat pada bagian perut
dan pipih di bagian ekor. Perbandingan panjang total dengan tinggi tubuhnya
berkisar 2,3:1 hingga 3,5:1. Warna dominan pada tubuhnya coklat keemasan,
varian warna lain pada ikan mas adalah kuning, merah, hitam, putih dan corak
kombinasi dari warna-warna tersebut. Mulutnya dapat dilebarkan dengan struktur
bibir lunak dan mempunyai dua pasang sungut. Bagian kepala tanpa sisik,
sedangkan seluruh tubuh dipenuhi sisik agak besar. Fernandez (1985) menyatakan
bahwa ikan mas mempunyai satu sirip punggung, dengan sebuah jari-jari keras
yang tak sejajar dengan sirip perut memanjang kebelakang dan berakhir sejajar
dengan bagian sirip anus.Tubuh berbentuk pipih memanjang, lipatan mulut dan
bibir tipis, memiliki satu atau dua pasang kumis. Warna tubuh bervariasi dari
kecoklatan sampai keemasan.
Djuhanda (1981) menjelaskan bahwa ikan mas memiliki mulut diujung
kepala dan pada sudut-sudut mulut terdapat dua pasang sungut peraba. Sirip
punggung mempunyai 4 jari-jari keras dan 16-18 jari-jari lunak, sirip anus
mempunyai 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak. Sirip perut mempunyai 2 jari-jari
keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada mempunyai 1 jari-jari keras dan 13 - 16 jarijari lunak, jumlah sisik pada gurat sisi antara 33-37 buah.

Gambar 1. Ikan Mas


(Sumber : http://www.mancing.info/index.php/mengenal-ikan-mas/2-spesis)

Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : (Cyprinus carpio L )

Ikan Mas hidup di alam bebas pada sungai berarus tenang sampai sedang
dan area perairan air tawar lainnya seperti danau, waduk dan situ. Ikan ini
menempati perairan dengan kedalaman yang dangkal sampai sedang, dapat hidup
dan berkembang biak dengan baik di wilayah perairan dengan ketinggian 150-600
meter dpl dengan suhu kisaran 25-30 C. Ikan Mas adalah ikan air tawar yang
mampu hidup di air payau seperti tambak atau rawa-rawa di pesisir maupun
muara sungai dengan kadar garam 25-30%. Ikan Mas menyukai suatu tempat
tertentu bukan hanya karena tersedianya banyak pakan alami tetapi juga adanya
tumbuhan air yang berguna sebagai tempat memijah dan berlindung. Ikan Mas
dapat beradaptasi dengan baik sehingga mampu hidup menyebar di perairan air
tawar di seluruh pelosok Indonesia.
Seperti ikan-ikan lainnya, cara berkembang biak Ikan Mas adalah bertelur.
Masa pijahnya (breeding season) bisa terjadi sepanjang tahun. Sang Betina akan
bertelur pada perairan dangkal dekat tumbuhan air yang tembus sinar matahari,
telur-telurnya menempel pada dedaunan. Pada kondisi yang ideal dan bersuhu
hangat, telur-telur tersebut akan menetas dalam 5 hingga 8 hari.
Setiap hewan memiliki tingkah laku (behavior) yang berbeda-beda, Ikan
Mas masuk golongan omnivora dan sangat rakus. Ia gemar mengaduk-aduk dasar

perairan untuk mencari makan. Makanan alaminya meliputi tumbuhan air, lumut,
cacing, keong, udang, kerang, larva serangga dan organisma lainnya yang ada di
perairan baik yang terdapat pada dasar perairan, pertengahan maupun permukaan
air.
Cara makan ikan ini cukup unik yakni dengan membuka mulutnya lebarlebar dan kemudian menyedot makanannya seperti alat penghisap. Dalam kondisi
nafsu makan yang tinggi, apapun yang dianggapnya makanan akan dihisap
kemudian dicicipi dan yang bukan makanan akan dibuang dengan cara
disemburkan.

2.2

Sistem Pernafasan
Hewan Vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara

lain untuk mengangkut gas pernapasan (O2) dari tempat penangkapan gas menuju
sel-sel jaringan. Begitu pula sebaliknya, untuk mengangkut gas buangan (CO2)
dari sel sel jaringan ke tempat pengeluarannya.
Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan
kapilerkapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga memungkinkan O 2
berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan
tutup insang (operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes)
insangnya tidak mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada
pula kelompok ikan yang bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu
ikan paru-paru (Dipnoi).
Salah satu contoh ikan bertulang sejati yaitu ikan mas. Ikan mas bernapas
dengan insang yang terdapat pada sisi kiri dan kanan kepala. Masing-masing
mempunyai empat buah insang yang ditutup oleh tutup insang (operkulum).
Proses pernapasan pada ikan adalah dengan cara membuka dan menutup mulut

secara bergantian dengan membuka dan menutup tutup insang. Pada waktu mulut
membuka, air masuk ke dalam rongga mulut sedangkan tutup insang menutup.
Oksigen yang terlarut dalam air masuk berdifusi ke dalam pembuluh kapiler darah
yang terdapat dalam insang. Dan pada waktu menutup, tutup insang membuka dan
air dari rongga mulut keluar melalui insang. Bersamaan dengan keluarnya air
melalui

insang,

karbondioksida

dikeluarkan.

Pertukaran

oksigen

dan

karbondioksida terjadi pada lembaran insang.

Gambar 2. SistemSirkulasiPernafasanIkan Mas


(Sumber : http://gurungeblog.com/2008/11/01/sistem-pernapasan-hewan/)

Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh


jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung. Dari
jantung menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi secara
terus-menerus dan berulang-ulang.

Gambar 3. StrukturInsangIkan
(Sumber : http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html)

Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme


inspirasi dan ekspirasi.

Gambar 4. MekanismePernapasanPadaIkanBertulangSejati
(Sumber :http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html)

a)

Fase inspirasi ikan, gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup

insang tetap menempel pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar,
sebaliknya celah belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam
rongga mulut lebih kecil daripada tekanan udara luar. Celah mulut membuka
sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga mulut.
b)

Fase ekspirasi ikan, setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut

menutup. Insang kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang.


Air dalam mulut mengalir melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaranlembaran insang. Pada tempat ini terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah
melepaskan CO2 ke dalam air dan mengikat O2 dari air.
Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2 diikat
oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.

Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan
bermuara ke insang, dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.

2.3

DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen terlarut adalah tingkat saturasi udara di air yang dinyatakan dalam

kadar mg per liter air atau part per million (ppm).Oksigen terlarut (Dissolved
Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses
metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk
pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk
oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama
oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan
hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000).
Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen
dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan
berkurangdengan semakin tingginya salinitas.
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan
nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen
terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle,
1968).
Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm
selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet,
1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk
kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonimous, 2004).
DO merupakan perubahan mutu air paling penting bagi organisme air, pada
konsentrasi lebih rendah dari 50% konsentrasi jenuh, tekanan parsial oksigen
dalam air kurang kuat untuk mempenetrasi lamela, akibatnya ikan akan mati
lemas (Ahmad dkk, 1998). Kandungan DO di kolam tergantung pada suhu,
banyaknya bahan organik, dan banyaknya vegetasi akuatik (Lelono, 1986 dalam
Anonim, 2008).

10

DO: Kelarutan suatu gas pada cairan. Penurunan kadar oksigen terlarut dapat
disebabkan oleh tiga hal:
1.

Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.

2.

Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dari dasar

perairan.
3.

Proses pernapasan orgaisme yang hidup di dalam air, terutama pada

malam hari. Semakin tercemar, kadar oksigen terlerut semakin mengecil


(Abdilanov, 2011).
Perhitungan nilai DO dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Rachmadiarti,
2008):
Keterangan:
DO = Dissolved Oxigen (mg/L)
a = volume titrasi yang dipakai
N = normalitas Na2S2O3 (0,025 N)
DO dapat di ukur dengan alat bantu DO meter.

Gambar 5. DO meter
(Sumber: https://www.electronichealing.co.uk/resources/Image/do_meter.jpg)

2.4

Suhu
Suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan dari oksigen. Apabila

suhu meningkat maka kelarutan oksigen berkurang. Oksigen terlarut yang


biasanya dihasilkan oleh fitoplankton dan tanaman laut, keberadaannya sangat
penting bagi organisme yang memanfaatkannya untuk kehidupan, antara lain pada
proses respirasi dimana oksigen dibutuhkan untuk pembakaran bahan organik

11

sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan CO2 dan H2O.
Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi
metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan ditentukan oleh
kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya.
Ikan adalah hewan berdarah dingin (poikilothermal) yang metabolisme
tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan (Neuman et al. 1997). Engelsma et
al. (2003) menyatakan bahwa suhu juga berpengaruh terhadap parameter
hematological dan daya tahan terhadap penyakit. Pemberian suhu tinggiataupun
suhu rendah yang mendadak dapat meningkatkan jumlah sel darah putih pada ikan
mas. Proses fisiologis dalam ikan yaitu tingkat respirasi, makan, metabolisme,
pertumbuhan, perilaku, reproduksi dan tingkat detoksifikasi dan bioakumulasi
dipengaruhi oleh suhu (Fadhil et al. 2011).
Jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk pernafasan biota budidaya
tergantung ukuran, suhu dan tingkat aktivitasnya dengan batas minimum adalah 3
ppm. Kandungan oksigen di dalam air dianggap optimum bagi budidaya biota air
adalah 4-10 ppm, tergantung jenisnya. Laju respirasi terlihat tetap pada batas
kelarutan oksigen antara 3-4 ppm pada suhu 20-30 oC (Ghufran & Kordi 2007).
Ernest (2000) ikan mas dapat bertahan hidup pada konsentrasi DO minimum
sebesar 2 mg/L. Doudoroff dan Shumway (1970) menyatakan bahwa kebutuhan
minimum oksigen untuk ikan mas (C. carpio) adalah 0,2-2,8 mg/L. Boyd
(1990)menjelaskan juga bahwa kandungan DO kurang dari 1 mg/L dapat
menyebabkan lethal atau menyebabkan kematian dalam beberapa jam.

12

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum Konsumsi Oksigen pada Ikan Mas ini dilaksanakan pada hari

Kamis, tanggal 10Oktober 2013, pukul 13.15-15.30 WIB. Bertempat di


Laboratorium Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran.

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum Fisiologi Hewan Air disajikaan
dalam Tabel 1
Tabel 1. Alat yang Digunakan
No.

Nama Alat

Fungsi

Wadah Plastik

Sebagai wadah percobaan

DO meter

Alat ukur kelarutan oksigen

Jam Tangan

Sebagai alat penunjuk waktu

Timbangan

Sebagai alat pengukur bobot ikan

Cling Wrap

Bahan pelapis

3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikumKonsumsi Oksigen Pada Ikan
Mas disajikaan dalam Tabel 2
Tabel 2. Bahan yang Digunakan

No.

Nama Bahan

Ikan mas

Reagen

3.1.

Prosedur Praktikum
Dalam percobaan ini langkah-langkah yang harus diperhatikan antara lain:

1.

Siapkan wadah plastic yang telah diisi air penuh.

2.

Ukur oksigen terlarutnya dengan menggunakan DO meter atau titrasi


metode Winkler, catat hasilnya.

3.

Timbang ikan, lalu catat bobotnya.

4.

Masukkan ikan dengan hati-hati tanpa ada air yang memercik.

5.

Tutup wadah percobaan dengan cling wrap, agar tidak ada kontak dngan
udara luar.

6.

Wadah percobaan dibiarkan selama 60 menit

7.

Setelah selesai, pentup plastik dibuka, ikan dipindahkan secara hati-hati


jangan sampai terjadi percikan air, lalu ukur oksigen terlarut pada media
air wadah percobaan tersebut dengan menggunakan DO meter atau titrasi
metode Winkler, catat hasilnya.

8.

DO awal - DO akhir adalah konsumsi oksigen ikan tersebut

13

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil
Hasil praktikum Konsumsi Oksigen Ikan Mas disajikan dalam Tabel 3

Tabel 3 Hasil Pengamatan


Bobotikan

DO awal

DO akhir

Konsumsi

Kebutuhan O2

(g)

(g/l)

(g/l)

O2 (g/l)

ikan (O2/g/l)

90

6.9

3.6

3.3

0.0733

103

6.9

2.2

4.7

0.0913

77

6.9

4.7

2.2

0.0571

89

6.9

4.3

2.6

0.0584

99

6.9

5.9

0.1192

86

6.9

2.3

4.6

0.1070

65

6.9

1.5

5.4

0.1662

78

6.9

1.3

5.6

0.1436

90.88

5.4

1.4

0.0880

10

72.54

5.4

3.2

2.2

0.0607

11

82.01

5.4

1.3

4.1

0.1000

12

92.7

5.4

1.5

3.9

0.0841

13

70.63

5.4

1.6

3.8

0.1076

14

83.09

5.4

1.3

4.1

0.0987

15

94.16

5.4

1.5

3.9

0.0828

16

85.63

3.4

1.4

0.0467

17

95.14

3.4

0.8

2.6

0.0547

18

93.7

3.4

1.5

1.9

0.0406

19

70

3.4

1.8

1.6

0.0457

20

49.9

3.4

2.3

1.1

0.0441

21

76.96

3.4

0.5

2.9

0.0754

Kelompok

15

4.2.

Pembahasan
Dari kegiatan praktikum mengenai Konsumsi Oksigen Ikan Mas yang

telah dilakukan pada hari Kamis 10 Oktober 2013 diperoleh sejumlah data seperti
yang dicantumkan pada Tabel 3 hasil pengamatan di atas.
Praktikum ini dilakukan dengan cara menghitung konsumsi oksigen pada
ikan mas dengan menggunakan metode alat pengukur DO meter atau titrasi.
Namun, pada praktikum kali ini dijelaskan mengenai konsumsi oksigen dengan
menggunakan alat ukur DO meter.Perlakuan yang dilakukan pada praktikum kali
ini, yaitu dengan menghitung DO awal yang dilakukan tanpa memasukkan
organisme pada wadah tersebut. Selanjutnya, melakukan penimbangan berat pada
ikan mas. Ikan mas tersebut kemudian dimasukkan dalam wadah dan ditutup rapat
dengan plastic warp dan karet. Ditunggu hingga, 30 menit dan akhirnya diukur
DO akhir sehingga dapat diperoleh konsumsi oksigen pada ikan mas dengan cara
melakukan penghitungan pengurangan pada DO awal dan DO akhir yang telah
dicatat oleh praktikan. Kemudian, data tersebut di masukkan dalam tabel
pengamatan.
Pada praktikum ini oksigen sangat diperhatikan dalam konsumsinya pada
ikan mas.Berdasarkan tabel pengamatan, kelompok praktikan, yaitu kelompok 10
diperoleh data berat bobot ikan sebesar 72,54 g. Dengan DO awal sebesar 5,4 g/l
DO akhir 3.2 g/l konsumsi oksigen sebesar 2.2 g/l serta kebutuhan oksigen
sebesar 0.0607O2/g/l. Bila dibandingkan dengan kelompok lain, tentunya
perbedaan terdapat pada bobot ikan sehingga mempengaruhi perbedaan pada DO
awal, DO akhir, konsumsi oksigen, serta kebutuhan oksigen. Namun, perbedaan
tersebut tidak terlalu signifikan bila dilihat dari bobot ikan lain yang tak jauh
berbeda dengan kelompok praktikan.
Pada praktikum ini kita dapat mengetahui konsumsi oksigen yang
dibutuhkan oleh ikan. Pada dasarnya praktikum ini untuk mengetahui laju
pernafasana atu respirasi ikan, kita ketahui bahwa pernafasan adalah suatu proses
pengikatan oksigen dan pengeluaran karbondioksida oleh darah melalui
permukaan alat pernafasan, atau pengangkutan oksigen dari lingkungan eksternal

16

tubuh ke dalam lingkungan intrasel ataupun sebaliknya pengangkutan


karbondioksida dari lingkungan intrasel ke dalam lingkungan eksternal tubuh.
Alat pernafasan ikan diantaranya adalah insanga adapula yang menggunakan paru
paru, tetapi pada praktikum ini kita mengambil hewan uji yaitu ikan mas yang
tidak lain bernafas dengan insang, insang adalah komponen penting dalam
pertukaran gas, insang terdiri atas lengkungan tulang rawan yang mengeras
dengan beberapa filament insang didalamnya, setiap filament terdiri banyak
lamella.
Proses pernafasan ada 3 tahap yaitu yang pertama adalan ventilasi insang,
yaitu pengaliran air ke permukaan lamella insang melalui rongga mulut dan
dikeluarkan melalui operculum, kedua difusi O2 dan CO2

dan yang ketiga

pengangkutan O2.
Ketersediaan oksigen dalam air sangat sedikit oleh karena itu oksigen
sering disebut sebagai factor pembatas, karena daya larut oksigen dalam air kecil.
Apabila kandungan oksigen dalam air rendah makaikan dan organism akuatik lain
harus memompa air dalam jumlah tertentu kepermukassn insang untuk
mendapatkan oksigen yang cukup agar kecepatan metabolismenya stabil.
Oksigen sebagai bahan pernafasan di butuhkan oleh sel untuk berbagai
reaksi metabolisme. Oleh sebab itu, kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan
oleh kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya.
Berkurangnya oksigen terlarut dalam perairan, tentu saja akan mempengaruhi
fisiologi respirasi ikan, dan hanya ikan yang memiliki sistem respirasi yang sesuai
dapat bertahan hidup (Fujaya, 2004).
Sebagai mana menurut Zonneveld, 1991 (dalam Aristiawan, 2012)
bahwafaktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan, yaitu (1) aktifitas,
ikan dengan aktifitas tinggi misalnya ikan yang aktif berenang akan
mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari pada ikan yang tidak aktif;
(2)ukuran, ikan yang ukurannya lebih kecil, kecepatan metabolismenya lebih
tinggi daripada ikan yang ukurannya lebih besar sehingga konsumsi oksigennya
lebih banyak;(3) umur, ikan yang masih berumur masih muda akan
mengkonsumsi oksigen lebih banyak daripada ikan yang lebih tua; (4) temperatur,

17

ikan yang berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya tinggi sehingga
konsumsi oksigennya lebih banyak.
Perbandingan antara jumlah konsumsi oksigen pada ikan besar dan ikan
kecil dimana jumlah konsumsi ikan ikan kecil lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah konsumsi oksigen ikan besar. Ini dikarenakan ikan kecil lebih banyak
membutuhkan oksigen lebih banyak untuk digunakan dalam pembentukan sel-sel
yang ada dalam tubuhnya dan juga untuk pertumbuhan, sedangkan ikan besar
hanya membutuhkan oksigen untuk mempertahankan hidup. Tetapi dari hasil
praktikum jumlah konsumsi ikan besar lebih banyak dari pada jumlah oksigen
yang digunakan oleh ikan kecil. Ini dikarenakan karena perbandingan bentuk
tubuh antara ikan besar dan ikan kecil tidak terlalu berbeda. Kebutuhan oksigen
untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari jenisnya dan kemampuan
untuk beradaptasi dengan naik turunnya kandungan oksigen.Menurut Djawad dkk
(2003), bahwa semakin besar suatu organisme maka mengkonsumsi oksigen
semakin besar pula karena semua anggota tubuhnya bergerak memerlukan energi
yang berasal dari oksigen dan makanan (terjadi metabolisme dalam tubuh).
Ikan merupakan hewan poikiloterm, suhu tubuhnya akan menyesuaikan
diri dengan suhu

lingkungannya. Suhu media air akan

mempengaruhi

kandungan oksigen terlarut yang akan berakibat terhadap proses respirasi ikan
(Debora, 2011).

18

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan
Pada praktikum Konsumsi Oksigen Pada Ikan Mas dapat disimpulkan

bahwa, setiap organism membutuhkan proses respirasi. Pada praktikum ini


konsumsi oksigen pada ikan mas di pengaruhi beberapa factor yaitu dari bobot
ikan, umur ikan, ukuran ikan, gerakan aktifitas ikan serta tingkat stress ikan.
Faktor-faktor tersebut dikarenakan bila umur suatu organism terlalu tua,
maka laju metabolismenya juga semakin rendah. Umur ikan juga mempengaruhi
ikan, dan ukuran ikan yang berbeda membutuhkan O2 yang berbeda. Semakin
besar ukuran ikan, jumlah konsumsi O2/mg berat badan makin rendah. Ikan yang
aktif membutuhkan O2 lebih banyak dibandingkan ikan yang pasif.
5.2.

Saran
Pada praktikum kali ini diharapkan para praktikan, sangat memahami cara

mengambil oksigen terlarut di perairan dengan menggunakan reagen, serta dapat


mengetahui cara pakai alat DO meter, dan lebih teliti dalam melaksanakan
praktikum

DAFTAR PUSTAKA

Alfiansyah.Muhammad.2011.Sistem Pernapasan Ikan (Pisces). http://www.sentraedukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html. diaskes


pada hari Sabtu, 5 oktober 2013, pukul 11.00 wib.
Anonym.Mengenal Ikan Mas. http://www.mancing.info/index.php/mengenalikan-mas. diakses pada hari Sabtu,5 oktober 2013, pada pukul
10.45 wib.
Anwar, D, D. A. Setiawibowo dan Y. Triwijiwati. 2009. Respirasi (Tingkat
Konsumsi Oksigen) dan Ketahanan Ikan di luar Media Air.
Arrignon and Jacques. 1999. Management of Freshwater Fisheries Science.
Publishers, INC : USA.
Asmawati. 2004. Biologi Pendidikan IPA 1. Jakarta: Universitas Terbuka.
Fahriya.2012.Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutupnya pada
Operkulum Ikan.http://biofahriya.blogspot.com/2012/06/pengaruhsuhu-terhadap-membuka-dan.html. diakses pada hari Sabtu,5
oktober 2013, pada pukul 10.30 wib.
Faturrohman.Ihsan.2010.Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutupnya
padaOperkulumIkan.
http://ikhsanfaturohman.blogspot.com/2010/11/pengaruh-suhuterhadap-membuka-dan.html. diakses pada hari Sabtu,5 oktober
2013, pada pukul 10.00 wib
Firebiology07.

2009.
Termoregulasi
(Pengatuan
Suhu
Tubuh).
http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasipengaturan-suhu-tubuh/. Diakses pada tanggal 10 Oktober
2013,pada pukul 10.00 wib

Friliawindy.

2010. Hewan Poikiloterm Terhadap O2 Lingkungan.


http://friliawindy.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 11Oktober
2013, pada pukul 10.00 wib

I Ketut Diana Adhi.2008.Sistem Pernapasan Hewan.


http://gurungeblog.com/2008/11/01/sistem-pernapasan-hewan/.
Diakses pada Sabtu, 5 oktober 2013, pada pukul 11.07 wib.
Isnaeni, W. 2003. Fisiologi Hewan. Yogyakart:. Kanisius

19

20

Salmin. 2005. Oksigen Terlarut (DO) dan Kebutuhan Oksigen Biologi


(BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas
Perairan.http://images.atoxsmd.multiply.multiplycontent.com/attac
hment/0/RluywAoKCsYAAAHIw641/oksigen%20terlarut%20dan
%20kebutuhan%20oksigen%20biologi%20untuk%20penentuan%2
0kualitas%20perairan.pdf?nmid=44066689, di akses pada tanggal
11 Oktober 2013, pada pukul 10.10 wib.
Soewondo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Depdiknas
Tim Dosen. 2012. Bahan Kuliah Fisiologi Hewan. Medan: FMIPA Unimed

21

LAMPIRAN

Timbangan Untuk menimbang bobot


ikan
Mengukur DO air dengan DO meter

Ikan Mas yang diujikan

Proses menimbang bobot ikan mas

22

Ikan mas yang telah di timbang akan di


pindahkan ke wadah uji

Proses pemindahan ikan mas

Ikan yang telah di pindahkan di wadah


uji akan di bungkus dengan pelapis

Proses pelapisan

Proses pelapisan selesai dan di tunggu


selama 30 menit

Perhitungan DO akhir.

23

Anda mungkin juga menyukai