Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Islam dan Sekularisme


diajukan sebagai tugas mata kuliah Studi Islam

Maulana Wahid Abdurrahman


Azka Faridi
Vina Ayumi
Waznah Karamina
Hani Putra Kaduwa

Teknik Informatika A 2008


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2009 M/1430 H

1
ISLAM DAN SEKULARISME

A. Pengertian Sekularisme
Secara etimologi sekularisme berasal dari kata saeculum (bahasa
latin), mempunai arti dengan dua konotasi waktu dan lokasi: waktu
menunjukan kepada pengertian ‘sekarang’ atau ‘kini’, dan waktu
menunjuk kepada pengertian ‘dunia’ atau ‘duniawi’.1

Sekularisme juga memiliki arti fashluddin anil haya, yaitu


memisahkan peran agama dari kehidupan yang berarti agama hanya
mengurusi hubungan antara individu dan penciptanya saja.2 Maka
sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya
melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini. Tanpa ada
perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti
adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari
ajaran agama.

sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah


konsep yang memisahkan antara negara (politik) dan agama (state and
religion).3 Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi
tatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan
yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya
mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan
bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka,
menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing
mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing
haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri.

Paham sekuler ini pertama mulai mendunia ketika Harvey Cox, menulis
sebuah buku berjudul “The Secular City”, kemudian menurut Cox,
sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap
sejarah. Selanjutnya, ada tiga komponen penting dalam Bible yang
1 Syed Naquib Al Attas. Islam dan Sekularisme. (Bandung:Pustaka, 1981). Hal.18-19
2 Taqiyuddin An-Nabhani. Peraturan Hidup dalam Islam, (Bogor: Pustaka Tariqul Izzah, 2001), hal.41
3 Microsoft Encarta Dictionary 2009

2
menjadi kerangka asas menuju sekularisasi, yaitu “disentchantmen of
nature” yang dikaitkan dengan penciptaan (Creation), “desacralization of
politics” dengan migrasi besar-besaran (Exodus) kaum yahudi dari Mesir,
dan “deconsecration of values” dengan perjanjian sinai (Sinai Covenant).4
Jadi menurut Cox, sekularisasi adalah pembebasan manusia dari
asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari dunia lain
menuju dunia kini. Karena sudah menjadi satu keharusan, kata Cox, maka
kaum kristen tidak seyogyanya menolak sekularisasi. Sebab sekularisasi
merupakan konsekuensi otentik dari kepercayaan bible. Maka, tugas kaum
kristiani adalah menyokong dan memelihara sekularisasi.5
Yang perlu diperhatikan adalah adanya perbedaan antara
sekularisasi dan sekularisme. Menurut Syed naquib Al Attas, Sekularisasi
adalah

Suatu proses yang berkelanjutan dan berakhir terbuka dimana nilai-


nilai dan pandangan-pandangan dunia secara terus menerus diperbarui
sesuai dengan perubahan evolusioner sejarah.6

Jadi, sekularisasi merupakan proses keterbukaan pandangan pada nilai-


nilai yang berlangsung tiada ujung –yang selalu berevolusi- sesuai dengan
zaman dan keadaan manusia.

Ada tiga komponen integral yang ada dalam sekularisasi, yaitu :

1. Disentchantmen of nature

2. Desacralization of politics

3. Deconsecration of values

4 Adian Husaini. Wajah Peradaban Barat:Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta
:GIP,2005), hal.257
5

6 S.N. Al-Attas. Op. Cit. hal.23

3
Disentchantmen of nature atau pentidakeramatan alam, sebuah istilah
yang dipinjam dari ahli sosiologi jerman, Max Weber ; yang memiliki
maksud pembebasan alam dari nada-nada keagamaan, memisahkannya
dari Tuhan dan membedakan manusia dari padanya, yang dengan
demikian membolehkannya untuk berbuat bebas terhadap alam.7

Alam menurut paham ini sama sekali tidak mempunyai nilai-nilai sakral
bahwa alam sebenarnya adalah ciptaan Tuhan yang selanjutnya manusia
ditugaskan sebagai penjaga untuk melestarikannya.

Dari penidak-keramatan alam ini sebenarnya mendorong terlahirnya


faham atheisme atau yang sedikit lebih halus dari atheisme, yaitu
agonitisisme. Bagaimana tidak, ketika alam dilepaskan dari sifatnya yang
supernatural, metafisis secara halus itu berarti menolak kepercayaan
bahwa alam ini diciptakan oleh Tuhan yang akhirnya mendorong kepada
keyakinan bahwa Tuhan tidak ada. Karena secara agonitisisme, ketika
Tuhan sebagai esensi dan eksistensi yang tidak mungkin dibuktikan
keberadaannya baik secara akal maupun secara empiris, maka tidak ada
bedanya meyakini apakah Tuhan itu ada atau tidak. Itulah istilah halus
dari atheisme, agnotisisme.8

Desacralization of politics,yaitu penghapusan legitimasi sakral


kekuasaan politik9, seperti yang dipraktekan oleh kristen barat di masa
lalu yang menganggap kekuasaan politik sebagai warisan Tuhan sehingga
ada dogma yang menyatakan bahwa menghianati penguasa berarti
menghianati Tuhan. Hal itulah yang mendorong lahirnya sekularisme
dengan desakralisasi politik sebagai salah satu komponennya.

Sekularisme memerlukan komponen ini untuk menghapus legitimasi


sakral politik sebagai prasyarat untuk terjadinya perubahan politik yang
selanjutnya akan mendorong terjadinya perubahan sosial lalu kemudian
diakhiri dengan perubahan sejarah. Karena sejarh menurut sekularisme
adalah rekayasa dan perencanaan manusia tanpa adanya campur tangan

7 Ibid. hal.21
8 http://pwkpersis.wordpress.com/2008/03/28/sekilas-tentang-sekularisme/
9 S.N. Al-Attas. Op. Cit. hal.21

4
Tuhan di dalamnya. Maka tentu yang namnya rekayasa perlu kepada
skenario yang matang, dan desakralisasi politik ini adalah salah satu dari
skenario pembentukan sejarah versi manusia.

Deconsecration of values,yaitu pemberian makna sementara dan


relatif kepada semua karya-karya budaya dan setiap sistem nilai,
termasuk agama serta pandangan-pandangan hidup yang bermakna
mutlak dan final.10

Dengan demikian sikap manusia terhadap semua nilai-nilai menjadi


relatif dan beranggapan bahwa manusia bebas untuk menciptakan
perubahan-perubahan nilai itu dan menghilangkan nilai-nilai pandangan
yang bersifat mutlak. Yang berarti semua nilai-nilai itu bersifat nisbi.

Perbedaan antara Sekularisasi dan Sekularisme terletak pada


komponen yang ketiga, yakni Deconsecration of values. Jika dalam
sekularisasi, semua nilai-nilai bersifat nisbi, selalu berubah-ubah, dan
tidak pernah mutlak. Maka, sekularisme tidak pernah
mendekonsekrasikan nilai-nilai (Deconsecration of values) karena ia
membentuk sebagai sistem nilai sendiri dengan maksud agar dipandang
sebagai mutlak dan final.11

Jadi, Sekularisme tidak seperti sekularisasi yang menisbikan semua


nilai dan memberikan keterbukaan bagi perubahan. Dari alasan inilah
mereka (barat) menanggap sekularisme sebagai ancaman yang harus
diwaspadai dan diawasi oleh negara agar tidak menjadi ideologi negara.12

A. Sejarah Sekularisme

Peradaban barat pernah mengalami masa pahit, yang mereka sebut


“the dark ages” atau zaman kegelapan. Zaman itu dimulai ketika
Imperium Romawi barat runtuh pada tahun 476 dan digantikan mulai
munculnya gereja segamai institusi yang menguasai eropa hingga abad
14. Pada selang waktu itu terjadi perubahan besar dalam peradaban

10 Ibid. hal. 22
11 Ibid. hal. 23
12 Ibid. hal.23

5
barat, dimana gereja mendominasi segala aspek kehidupan, terutama
dalam politik dengan pemerintahan teokrasinya.

Syamsudin Arif menjelaskan bahwa :

Sejarah sekularisasi dimulai dari kekecewaan barat terhadap


dominasi gereja dalam segi kehidupan masyarakat yang bermula sekitar
250 tahun yang lalu. Proses sekularisasi bermula dari pergolakan
pemikiran dan pertarungan gagasan, seperti dalam kasus Copernicus,
Galileo, Darwin dan para saintis lain yang menentang gereja. Begitu juga
dibidang teologi muncul tokoh-tokoh seperti Eichhorn dan Strauss yang
menerapkan beberapa metode historis kritis dalam kajian bibel. Jawaban
lainnya berusaha memperjelas sekularisasi dalam rangka modernisasi,
seperti perubahan masyarakat dari agraris ke industri, dari kehidupan
pedesaan ke perkotaan, dari kebiadaban menjadi peradaban, dan
seterusnya.

Sekularisasi dai Barat, seperti diakui oleh para ahli, sebenarnya


bertolak dai ajaran kristen sendiri. Dalam injil Matius XXII:21 tercatat
ucapan Yesus :”Urusan kaisar serahkan saja pada kaisar, urusan Tuhan
serahkan kepada Tuhan.” Implikasinya, agama tidak perlu campur tangan
dalam masalah politik. Dari sinilah kemudian muncul dikotomi antara
regnum dan sacerdotium, pemisahan antara kekuasaan raja dan otoritas
gereja, antara agama dan negara. Doktrin ini dikembangkan oleh St.
Agustin yang membedakan kota bumi (civitas terrena) dan kota Tuhan
(civitas dei). Faktor lain yang mendorong sekularisasi di barat ialah
gerakan reformasi Protestan sejak awal abad ke-16, sebuah reaksi
terhadap maraknya korupsi di kalangan Gereja yang mengatakan telah
memanipulasi dan memolitisasi agama untuk kepentingan pribadi. Maka
tidaklah berlebihan bahwa sekularisasi dibarat adalah proses wajar dan
niscaya bagi masyarakatnya.13

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab lahirnya sekularisme dari


rahim kristen barat. Diantaranya ialah:

13 Syamsudin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta:Gema Insani Press,2008), hal 86 -87

6
Pertama, kristen barat berdasarkan kacamata Islam, sebenarnya
adalah bukan lagi murni agama samawi. Dan penamaan kristen sendiri
justru bukan lahir saat agama itu diturunkan kepada Nabi Isa (Yesus).
Sejarah pun membuktikan, bahwa sepeninggal Nabi Isa as. ajaran yang
beliau bawa sedikit demi sedikit mengalami perubahan (baik yang bersifat
reduksi, adopsi, maupun asimilasi). Dan perubahan yang sangat
mendasar terjadi ketika Paus pertama ada. Atas nama sebagai rasul yang
diutus Yesus guna menyebarkan ajaran kristen ke seluruh dunia, dia
merubah tatanan nilai dalam kristen itu sendiri, seperti adanya trinitas.

Kedua, ketika kristen bergeesekan dengan budaya Romawi dan


filsafatnya yang notabene berbaukan ajaran paganisme, secara lambat
laun namun pasti kristen terpengaruh oleh ajaran paganisme tersebut.
Filsafa-filsafat Yunani (ketika itu Yunani sudah dikuasai Romawi) pun ikut
mempengaruhi pokok-pokok ajaran kristen. Hal tersebut bisa dilihat dari
simbol-simbol yang digunakan. Dan sebenarnya filsafat Yunani itulah yang
mengandung benih-benih sekuler di dalamnya. Sebagaimana yang kita
ketahui setelah filsafat naturalisme menggeser mitologi di Yunani, saat itu
Yunani sudah beroirentasikan kepada meterialisme. Dalam artian, sudah
tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang bersifat supranatural dan
metafisis. Maka, ketika kristen mengadopsi filsafat yunani, alih-alih ingin
menguatkan dogma kristen dengan filsafat yang terjadi malah berujung
dengan sekularisasi dalam ajaran kristen tersebut.

Ketiga, karena dalam kristen ada teori two swords yang menyatakan
bahwa adanya dua kekuasaan yaitu kekuasaan Tuhan yang diwakili oleh
Gereja dan kekuasaan dunia yang diwakili oleh raja atau penguasa, dan
hal ini adalah apa yang disabdakan sendiri oleh Yesus sebagaimana yang
dikisahkan injil, ’’Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar
dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuhan”. Pada
teori two swords inilah sebenarnya sudah mengandung benih-benih
sekularisme.

7
Keempat, Kristen tidak mempunyai ajaran yang berbentuk
syari’at. Karena Nabi Isa diutus oleh Allah untuk meluruskan syari’at
Taurat yang telah diselewengkan dan bukan untuk membawa syari’at
yang baru. Oleh sebab itu, di dalam injil lebih banyak berisikan ajaran
akhlak dari pada ajaran aqidah atau syari’ah. Seingga ketika kristen
(gereja) mendominasi barat dalam segala aspek kehidupan, maka hal
tersebut sulit untuk dijalankan dan bahkan banyak mendapat
pertentangan-pertentangan.

Dari empat sebab itulah (diantaranya) kristen mempunyai potensi


besar untuk melahirkan sekularisme.

B. Pengaruh Sekularisme Terhadap Dunia Islam

Dalam dunia Islam pengaruh dari paham sekularisme dimulai ketika


pada zaman imperialisme barat terhadap dunia Islam. Umat Islam dan
Khilafah yang pada waktu itu sedang dalam kondisi lemah sedangkan
barat sedang dalam proses kemajuan teknologi yang begitu pesat,
mendorong sebagian umat Islam untuk mencontoh apa yang dipahami
dan dikerjakan barat, salah satunya mengadopsi ide sekularisme.
Di dunia Islam sekularisasi bukan hanya sebuah proses, tetapi juga
menjadi paradigma, ideologi, dan dogma yang diyakini kebenarannya
dan digarap secara sistematis lagi terencana. Sekularisasi dianggap
sebagai prasarat perubahan masyarakat dari tradisional menjadi
modern. Akan tetapi, untuk mengurangi perlawanan digunakanlah
istilah lain yang lebih halus dan mengelabuhi seperti modernisasi,
pembangunan, demokratisasi, liberalisasi, dan lain sebagainya.
Sekularisasi di duia Islam terjadi setelah kolonialisasi negeri-negeri
muslim oleh bangsa-bangsa eropa, contohnya India. Pemerintah
kolonial inggris di India secara bertahap mencabut undang-
undang(syariat) Islam dan menggantikannya dengan hukum mereka
sehingga mulai tahun 1870 M, penerapan hukum Islam di India hanya
terbatas pada urusan-urusan pribadi, seperti perkawinan dan warisan.

8
Hal yang sama juga terjadi di negara-negara muslim lainnya, proses
westernisasi disokong oleh sejumlah pemikir liberal pada masa itu,
seperti Sir Sayyid Akhmad Khan, Nawwab abd al-latif, Mustafa khan,
dan Khuda Bakhsh. Isu yang digarap termasuk masalah akidah, Sayyid
Ahmad Khan misalnya, menganggap bibel masih murni dan utuh, jihad
tidak relevan, hadis tidak perlu, ayat-ayat alquran yang diturunkan di
mekkah lebih penting daripada ayat-ayat madaniyah, tafsir alQuran
harus rasional, Mi’raj Nabi hanya vision, dan agama harus ditarik dari
ruang publik.14
Di Turki, Pengaruh sekularisme terlihat jelas ketika runtuhnya
kekhilafahan usmani yang berada di turki dan digantikan oleh rezim
Mustafa kemal pasha .Mustafa attaturk merubah total sistem
pemerintahan dan kehidupan di turki, yakni menggantikan kesatuan
politik lama yang berlandaskan pada agama dengan landasan
nasionalisme sekular.
Turki kemudian menjiplak barat dengan segala aspek kehidupan,
mereka berpikir dengan menjiplak barat dan meninggalkan islam, UUD
turki pasal 1 menegaskan, turki adalah negara (1)Nasionalis, (2)
Kerayatan, (3) Kenegaraan, (4) Kenegaraan, (5) Sekularis, (6)
Revolusioneris.15
Sekularisme merupakan yang paling berpengaruh pada negara
turki baru. Turki mengalami perubahan total menjadi negara sekular
dari sebelumnya merupakan pusat pemerintahan Islam.Perubahan
total tersebut terlihat dari digantukannya azan dengan bahasa turki,
jilbab dilarang, biro syaikh al-Islam dihapuskan, kementerian syariah
dihapuskan, hukum waris dan pernikahan tidak lagi menggunakan
syariah, bahasa dan tulisan arab digantikan dengan bahasa turki dan
tulisan latin dan perubahan-perubahan lain yang menolak eksistensi
agama dalam kehidupan.16
Selain itu, untuk menjamin kelanggengan ideologi ini, rezim
kemalis menciptakan apa yang mereka sebut sebagai ‘Islam yang

14 Syamsudin Arif. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Hal.91


15 Adian Husaini. Wajah Peradaban Barat. Hal.272
16 Ibid. hal.25

9
tercerahkan’ (cagdas Islam), mirip dengan gagasan Islam progessif di
amerika serikat, Islam modernis di pakistan, Islam liberal di Indonesia,
atau Islam Hadhari di Malaysia. Namun, sebagai ideologi negara,
sekularisme di Turki menurut banyak pengamat dinilai gagal mencapai
tujuan. Sebab, diam-diam namun pasti Islam sebagai kekuatan politik
tampak mulai bangkit melawan kekuatan sekular dan berusaha
merebut kembali tampuk kekuasaan dari tangan mereka.17
Proses sekularisasi di mesir juga berlangsung setelah masuknya
penjajah prancis pada tahun 1798 dan inggris pada tahun 1802.
Beberapa tahun kemudian lahirlah tokoh-tokoh yang melahirkan
pembaharuan ala barat. Diantara pionirnya adalah Rifa’ah al-Thahtawi
(1801-1873), dengan gagasannya yang dituangkan dalam buku-
bukunya mengenai semangat kebangsaan dan cinta tanah air sama
pentingnya bahkan lebih utama daripada persaudaraan atas dasar
agama. Kemudian Qasim Amin (1863-1908) mengecam praktek
despotisme penguasa dan masyarakat saat itu, tetapi juga
menganggap syariat Islam sebagai kendala kemajuan, bahkan diapun
menyerukan kesetaraan gender, kebebasan dalam berbusana, dan
pelarangan poligami.18 Kemudian Ada lagi Ali Abdur Raziq yang
mengarang kitab Islam wa Ushulul hukm yang menganggap Islam
hanya sebagai agama dan tidak mengatur negara.
Adapun di Indonesia, sekularisasi sebenarnya telah berjalan sejak
zaman belanda. Pemerintah kolonial melarang keras ekspresi
keagamaan, khususnya Islam yang bagi banyak rakyat nusantara
bukan semata-mata agama, melainkan ideologi gerakan. Snouk
Hurgronje yang menjadi ulama palsu ala belanda, mendukung
pengembangan Islam dibidang ritual keagamaan, tetapi mencegahnya
untuk berperan dalam bidang politik.19
Paska kemerdekaan, Indonesia terpecah menjadi dua kubu, yakni
kubu yang menginginkan Indonesia sebagai negara sekular dan kubu
yang menginginkan Indonesia yang berasaskan Islam. Akhirnya

17 Syamsudin Arif. Op. Cit. hal.93


18 Ibid. hal.94
19 IIbid, hal.96

10
terbentuklah pancasila, dimana pada sila pertama terdapat
kalimat,”Dengan Kewajiban menjalankan Syariah Islam bagi pemeluk-
pemeluknya”, namun beberapa hari kemudian kalimat itu dihapus.

C. Pandangan Islam Terhadap Sekularisme


Sekularisme di Dunia Islam bukanlah menjadi sesuatu yang asing
lagi. Dapat dikatakan bahwa sekularisme kini telah menjadi bagian dari
tubuhnya atau bahkan menjadi tubuhnya itu sendiri. Ibarat sebuah
virus yang menyerang tubuh manusia, dia sudah menyerang apa saja
dari bagian tubuhnya itu. Bahkan yang lebih hebat, virus itu telah
menghabisi seluruh tubuh inangnya dan menjelma menjadi wujud
sosok baru; bak sebuah monster yang besar dan mengerikan sehingga
sudah sulit sekali dikenali wujud aslinya.

Begitulah kondisi umat Islam saat ini dengan sekularismenya.


Perkembangan sekularisme sudah seperti gurita yang telah menyebar
dan membelit kemana-mana. Hampir tidak ada sisi kehidupan umat ini
yang terlepas dari cengkeramannya. Akibatnya, umat sudah tidak
menyadarinya lagi.

Menurut al-Attas, Islam menolak penerapan apapun mengenai


konsep-konsep sekular, sekularisasi maupun sekularisme, karena
semua itu bukan milik Islam dan berlawanan dengannya dalam segala
hal. Dengan kata lain, Islam menolak secara total manifestasi dan arti
sekularisasi baik eksplisit maupun implisit, sebab sekularisasi bagaikan
racun yang bersifat mematikan terhadap keyakinan yang benar (iman).

Hal senada dikemukakan almarhum Prof Dr H Mohammad


Rasjidi. Rasjidi beranggapan bahwa sekularisme dan sekularisasi
membawa pengaruh merugikan bagi Islam dan umatnya. Karena itu,
keduanya harus dihilangkan. Baginya, pemikiran baru itu memang
dapat menimbulkan dampak positif, seperti membebaskan umat dari
kebodohan.

11
D. Fatwa MUI mengenai Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme

KEPUTUSAN FATWA
MAJELIS ULAMA INDONEISA
Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005
Tentang
PLURALISME, LIBERALISME DAN SEKULARISME AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22
Jumadil Akhir 1246 H. / 26-29 Juli M.;

MENIMBANG :
a. Bahwa pada akhir-akhir ini berkembang paham pluralisme agama, liberalisme
dan sekularisme serta paham-paham sejenis lainnya di kalangan masyarakat;
b. Bahwa berkembangnya paham pluralisme agama, liberalisme dan sekularisme
serta dikalangan masyarakat telah menimbulkan keresahan sehingga sebagian
masyarakat meminta MUI untuk menetapkan Fatwa tentang masalah tersebut;
c. Bahwa karena itu , MUI memandang perlu menetapkan Fatwa tentang paham
pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama tersebut untuk di jadikan
pedoman oleh umat Islam.

MENGINGAT :
1. Firman Allah :
Barang siapa mencari agama selaian agama Islam, maka sekali-kali tidaklah
akan terima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang
yang rugi… (QS. Ali Imaran [3]: 85)
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam… (QS. Ali
Imran [3]: 19)

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. al-Kafirun [109] : 6).


Dan tidaklahpatut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang
siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat
yang nyata. (QS. al-Azhab [33:36).

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir
kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu
orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari
negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa
menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang
zalim. (QS. al-Mumtahinah [60]: 8-9).

12
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan. (QS. al-
Qashash [28]: 77).

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini,
niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain
hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta. (terhadap Allah). (QS. al-An’am [6]: 116).

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit
dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah
mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling
dari kebanggaan itu. (Q. al-Mu’minun [23]: 71).
2. Hadis Nabi saw :
a. Imam Muslim (w. 262 H) dalam Kitabnya Shahih Muslim, meriwayatkan
sabda Rasulullah saw :
“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorangpun
baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentang diriku dari Umat
Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku
bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni Neraka.” (HR Muslim).

b. Nabi mengirimkan surat-surat dakwah kepada orang-orang non-Muslim,


antara lain Kaisar Heraklius, Raja Romawi yang beragama Nasrani, al-
Najasyi Raja Abesenia yang beragama Nasrani dan Kisra Persia yang
beragama Majusi, dimana Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam.
(riwayat Ibn Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra dan Imam Al-Bukhari
dalam Shahih al-Bukhari).

c. Nabi saw melakukan pergaulan social secara baik dengan komunitas-


komunitas non-Muslim seperti Komunitas Yahudi yang tinggal di
Khaibar dan Nasrani yang tinggal di Najran; bahkan salah seorang
mertua Nabi yang bernama Huyay bin Aththab adalah tokoh Yahudi
Bani Quradzah (Sayyid Bani Quraizah). (Riwayat al-Bukhari dan
Muslim).

MEMPERHATIKAN : Pendapat Sidang Komisi C Bidang Fatwa pada Munas VII VII
MUI 2005.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT.

MEMUTUSKAN
MENETAPKAN : FATWA TENTANG PLURALISME AGAMA DALAM
PANDANGAN ISLAM
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan

13
1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama
adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab
itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanyasaja
yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan
bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di
surga.
2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah
tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
3. Liberalisme adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnaah)
dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-
doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
4. sekualisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama hanya digunakan
untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesame
manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan social.
Kedua : Ketentuan Hukum
1. pluralism, Sekualarisme dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada
bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama islam.
2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme Sekularisme dan Liberalisme
Agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat islam wajib bersikap ekseklusif, dalam
arti haram mencampur adukan aqidah dan ibadah umat islam dengan aqidah
dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas
agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah,
umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan social
denga pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

Ditetapkan di: Jakarta


Pada tanggal: 22 Jumadil Akhir 1426 H.
29 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII


MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa Ketua, Sekretaris,

K.H. MA’RUF AMIN HASANUDIN

KESIMPULAN

14
Islam dan sekularisme memiliki karakterisktik yang berbeda, sehingga
Islam yang memiliki pandangan alam (worldview) yang menyeluruh tidak
bisa dan tidak cocok dengan paham sekularisme.

DAFTAR PUSTAKA

Al Attas, Syed Naquib. Islam dan Sekularisme. Bandung: Pustaka, 1981.


An-Nabhani, Taqiyuddin. Peraturan Hidup dalam Islam. Bogor: Pustaka
Tariqul Izzah, 2001.

Arif , Syamsudin, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta: GIP, 2006

Husaini, Adian. Wajah Peradaban Barat:Dari Hegemoni Kristen Ke


Dominasi Sekular-Liberal. Jakarta :GIP,2005.

http://pwkpersis.wordpress.com/2008/03/28/sekilas-tentang-sekularisme/

htttp://www.mui.or.id

15

Anda mungkin juga menyukai