Anda di halaman 1dari 21

PRAKATA

Pertama-tama puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang


Maha Esa karena Berkat dan RahmatNyalah Laporan IDENTIFIKASI
MEGASKOPIS MINERAL

ini dapat terselesaikan. Terima kasih juga saya

ucapkan kepada :
1. Ibu Rinita Fatmarani S.T
2. Sodara Dewangga Nuzulumay
3. Teman teman saya ( Elsa,Rani,Sarah,Eby,Fathur )
yang selalu menyuport saya dan membantu saya
Dengan laporan ini mudah-mudahan dapat memudahkan saya dalam
memahami sifat-sifat fisik mineral dan dapat membedakan antara mineral yang
satu dengan yang lain .
Demikian laporan ini saya buat. Apabila ada kesalahan dalam
penyusunan laporan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata saya
ucapkan trimakasih.

Balikpapan,

November 2011

Penyusun

MINERAL

1.

Tujuan Praktikum
1.1. Mengidentifikasi mineral sesuai dengan sifat fisiknya

2.
2.1

1.2.

Mengetahui perbedaan antar struktur mineral secara langsung

1.3.

Bisa membedakan antara mineral yang satu dengan yang lain

Teori Dasar
Pengertian Mineral
Mineral adalah materi penyusun bumi, yang merupakan unsur atau

senyawa anorganik yang bersifat solid, terbentuk secara alami, mempunyai unsur
kimia tertentu, sudah memiliki struktur kristal yang jelas, dan terkadang dapat
menjelma dalam bentuk geometris tertentu.
Istilah mineral dapat mempunyai bermacam-macam makna; sukar untuk
mendefinisikan mineral dan oleh karena itu kebanyakan orang mengatakan,
bahwa mineral ialah satu frase yang terdapat dalam alam. Sebagaimana kita
ketahui ada mineral yang berbentuk lempeng, tiang, limas, dan kubus.

Ada

mineral dalam keadaan Amorf, yang artinya tak mempunyai bangunan dan
susunan kristal sendiri (missal, kaca & opal). Tiap-tiap pengkristalan akan makin
bagus hasilnya jika berlangsungnya proses itu makin tenang dan lambat. Ada pula
mineral yang berbentuk kristal, yakni suatu bangun bidang banyak yang teratur
dan dibatasi oleh bidang-bidang rata yang tertentu jumlahnya dan mempunyai
sumbu-sumbu simetri tertentu.
Mineral yang terdapat di alam ada yang merupakan unsur bebas seperti
Cuprum (tembaga), Aurum (emas), Platinum (platina), Sulfur (belerang), Carbon
(intan), dan Carbon (grafit). Serta mineral ada pula yang merupakan senyawa
seperti pirit, kalkoirit, halit, fluorit, kuarsa, kalsit, barit, gipsum, dll.
2.2

Pengenalan Sifat Fisik Mineral


2

Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan sifatsifat fisik mineral antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya. Sifatsifat fisik mineral tersebut meliputi: warna (colour), cerat (streak), kilap (luster),
bentuk (shape), belahan (cleavage), pecahan (fracture), kekerasan (hardness),
berat jenis (specific gravity), tenacity, diaphanity, lain-lain.
2.3

Warna
Warna adalah kesan mineral jika terkena cahaya dan kemampuan suatu

mineral untuk menyerap cahaya. Warna mineral dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu idiokromatik, bila warna mineral selalu tetap, umumnya dijumpai pada
mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opaque), seperti galena, magnetit,
pirit; dan alokromatik, bila warna mineral tidak tetap, tergantung dari material
pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya,
seperti kuarsa, kalsit.
Warna dapat dilihat ketika terjadi beberapa proses pemindahan panjang
gelombang, beberapa menyerap panjang gelombang spesifik dari spektrum yang
dapat dilihat. Spektrum yang dapat dilihat terdiri dari warna merah, oranye,
kuning, hijau, biru, nila dan violet.
Ketika terjadi pemindahan panjang gelombang akan mempengaruhi energi
dan akan terjadi perubahan warna dan jika permata itu mengandung besi biasanya
akan terlihat berwarna kelam, sedangkan yang mengandung alumunium biasanya
terlihat berwarna cerah, tetapi juga ada mineral yang berwarna tetap seperti air
(berkristal) dan dinamakan Idhiochromatic
Disini warna merupakan sifat pembawaan disebabkan karena ada sesuatu
zat dalam permata sebagai biang warna (pigment agent) yang merupakan mineralmineral yaitu : belerang warnanya kuning; malakit warnanya hijau; azurite
warnanya biru; pirit warnanya kuning; magatit warnanya hitam; augit warnanya
hijau; gutit warnanya kuning hingga coklat; hematite warnanya merah dsbnya.
Ada juga mineral yang mempunyai warna bermacam-macam dan
diistilahkan allokhromatik, hal ini disebabkan kehadiran zat warna (pigmen),
3

terkurungnya sesuatu benda (inclusion) atau kehadiran zat campuran (Impurities).


Impurities adalah unsur-unsur yang antara lain terdiri dari Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co,
Ni, Cu, dan biasanya tidak hadir dalam campuran murni, unsur-unsur yang
terkonsentrasi dalam batu permata rendah.
Aneka warna batu permata ini sangat mempersona manusia sehingga
manusia memberi gelar mulia pada batu-batu itu, contoh intan yang hanya
terdiri dari satu unsur mineral yakni zat arang merupakan benda yang padat yang
bersisi delapan karena adanya zat campuran yang berbeda akan menyebabkan
warna yang berbeda : tidak berwarna, kuning, kuning muda, agak kebiru-biruan,
merah, biru agak hijau, merah jambu, merah muda, agak kuning coklat, hitam
yang dinamakan carbonado, hijau daun. Banyak mineral hanya memperlihatkam
warna yang terang pada bagian-bagian yang tipis sekali. Mineral yang lebih besar
dan tebal selalu memberi kesan yang hitam, tanda demikian antara lain
diperlihatkan oleh banyak mineral.
Warna hijau muda; jika warna tersebut makin tua berarti makin bertambah Kadar
Fe didalam molekulnya.

Gambar 2.3. warna pada olivin

2.4

Cerat
Cerat adalah warna mineral dalam bentuk serbuk. Cerat diperoleh dengan

menggoreskan mineral pada permukaan porselen kasar atau menumbuknya


sampai menjadi serbuk. Jika mineral dengan kekerasan <7, maka akan

meninggalkan suatu garis pada permukaan porselen kasar. Warna mineral tidak
selalu sama dengan warna ceratnya.

Pirit yang warnanya kuning emas meninggalkan garis hitam.

Hematit (Fe2O3) yang berkilap kelogam logaman meninggalkan garis


merah darah

Fluisvat memberikan garis putih

Augit meninggalkan cerat abu kehijau-hijauan

dll

Gambar 2.4 cerat kuarsa

2.5

Kilap
Kilap adalah kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan

padanya. Kilap dibedakan menjadi dua, yaitu kilap logam dan kilap nonlogam.
Kilap logam memberikan kesan seperti logam bila terkena cahaya. Kilap ini
biasanya dijumpai pada mineral-mineral yang mengandung logam atau mineral
bijih, seperti emas, galena, pirit, kalkopirit. Kilap nonlogam tidak memberikan
kesan seperti logam jika terkena cahaya. Kilap jenis ini dapat dibedakan menjadi:
a.

Kilap kaca (vitreous luster) : memberikan kesan seperti kaca bila terkena

cahaya
Contoh : kalsit, kuarsa, halit.
b.

Kilap intan (adamantine luster) : memberikan kesan cemerlang seperti

intan

Contoh : intan
c.

Kilap sutera (silky luster) : memberikan kesan seperti sutera, umumnya

terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat


Contoh : asbes, aktinolit, gipsum
d.

Kilap damar (resinous luster) : memberikan kesan seperti damar


Contoh : sfalerit dan resin

e.

Kilap mutiara (pearly luster) : memberikan kesan seperti mutiara atau

seperti bagian dalam dari kulit kerang


Contoh : talk, dolomit, muskovit, dan tremolit.
f.

Kilap lemak (greasy luster) : menyerupai lemak atau sabun


Contoh : talk, serpentin

g.

Kilap tanah (earthy) atau kilap guram (dull) : kenampakannya buram

seperti tanah
Contoh : kaolin, limonit, bentonit.

Gambar 2.5.1 kilap logam

2.6

Gambar 2.5.2 kilap non logam

Bentuk (Shape)
Bentuk mineral ada yang tidak berbentuk kristal (amorf) dan ada yang

berbentuk kristal. Kristal artinya mempunyai bentuk yang agak setangkup


(symetris) dan yang pada banyak sisinya terbatas oleh bidang datar, sehingga
memberi bangun yang tersendiri sifatnya kepada mineral yang bersangkutan.

Benda padat yang terdiri dari atom-atom yang tersusun rapi dikatakan
mempunyai struktur kristalen. Dalam suasana yang baik benda kristalen dapat
mempunyai batas bidang rata-rata & benda itu dinamakan kristal (HABLUR) &
bidang rata itu disebut muka kristal.
Ada 32 macam gelas kristal yang dipersatukan dalam 7 sistem kristal, yaitu:
a. Reguler/ Kubus / Isometrik
Ketiga poros sama panjang dan berpotongan tegak lurus satu sama lain
(contoh : intan, pirit, garam batu)
b. Tetragonal (berbintang empat)
Ketiga poros tegak lurus satu sama lain, dua poros sama panjang sedangkan
poros ketiga berbeda (contoh : chalkopirit, rutil, zircon).
c. Heksagonal (berbintang enam)
Hablur ini mempunyai empat poros, tiga poros sama panjang dan terletak
dalam satu bidang, bersilangdengan sudut 120 derajat (60 derajat), tetapi
poros ke-empat tegak lurus atas bidang itu dan panjangnya berbeda (contoh :
apalit, beryl, korundum).
d. Trigonal
Beberapa ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem heksagonal.
Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya bila pada
trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang berbentuk segienam kemudian
dibuat segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu
titik sudutnya.
e. Ortorombis (irisan wajik)
Ketiga poros tidak sama panjang dua poros berpotongan siku-siku dan poros
ketiga memotong miring bidang kedua poros tadi (contoh : berit, belerang,
topaz)
f. Monoklin (miring sebelah)
Ketiga poros tidak sama panjang, dua dari porosnya berpotongan sorong &
poros ketiga tegak lurus atas kedua poros tadi (contoh : gips, muskovit,
augit)

g. Triklin (miring, ketiga arah)


Ketiga poros tidak sama panjang dan berpotongan serong satu sama
lain(contoh : albit, anortit, distin).
Bentuk kristal dalam 7 tata hablur didasarkan pada perbandingan panjang poros
dan besarnya sudut persilangan poros.

Gambar 2.6.1 sistem kristal heksagonal

2.7

Gambar 2.6.2 sumbu heksagonal

Belahan (Cleavage)
Belahan adalah kecenderungan mineral untuk membelah ke arah tertentu

menyusuri permukaan bidang rata, lebih spesifik lagi ia menunjukkan kearah


mana ikatan-ikatan diantara atom relatif lemah. Biasanya bagian yang retak-retak
menunjukan arah belah.
Belahan terdiri dari :

1 arah : muskovit, biotit

2 arah : pyroxine, feldspar, hornblende, kwarsa

3 arah : halit, pirit, kalsit

4 arah : fluorit

2.7

Pecahan (Fracture)
Pecahan adalah cara suatu mineral untuk pecah atau hancur dengan tidak

mengikuti bidang belahannya. Pecahan dikelompokkan menjadi 4, diantaranya :

a. Konkoidal
Gelombang melengkung pada permukaan pecahan, seperti pada pecahan
botol,
contoh : kuarsa, kalkosit, malakit
b. Splintery / Fibrous
Berserat seperti abon, contoh : augit, hipersten, asbes
c. Uneven / Irregular
Permukaan kasar dan tidak teratur, contoh : pirit, kalkopirit, hematit,
garnet
d. Hackly
Permukaan kasar, tidak teratur dan runcing-runcing, contoh : perak,
tembaga.

Gambar 2.7.1 pecahan kuarsa

2.8

Kekerasan
Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Secara

relatif sifat fisik ini ditentukan dengan menggunakan skala Mohs (1773 1839),
Skala Kekerasan

Nama Mineral

Talk

Gipsum

Kalsit

Flourit

Apatit

Ortoklas

Kuarsa

Topaz

Korundum

Intan

10
Gambar 2.8.1 skala MOHS

kekerasan ini, dapat digunakan alat sederhana seperti kuku jari, pisau baja dan
lain-lain.
2.9

Berat Jenis
Mineral logam cenderung akan mempunyai berat jenis yag lebih besar

daripada mineral nonlogam.


2.10

Tenacity
Tenacity

mineral

ialah

ketahanan

mineral

terhadap

pematahan,

pembongkaran atau pengirisan. Tenacity terbagi menjadi :


a. Brittle

: suatu mineral yang mudah pecah menjadi bubuk,

contohnya kuarsa.
b. Malleable

: mineral yang dapat ditempa atau dipukul,

contohnya tembaga murni.


c. Sectile

: mineral yang dapat diiris, contohnya talk.

d. Dectile

: mineral yang dapat dibentuk seperti kawat yang

apabila

dipukul tidak dapat kembali ke bentuk semula,

contohnya lempung.
e.

Flexible

: mineral yang dapat dibengkokan tetapi tidak dapat

kembali kebentuk semula, contohnya selenit dan gipsum.


f. Elastic

: mineral yang dapat dibengkokkan dan

dapat kembali kebentuk semula, contohnya muskovit.


2.11

Diaphenity
Diaphenity adalah cara mineral untuk meneruskan cahaya. Diaphenity

terbagi menjadi 3, diantaranya :

10

a) Transparent : benda dapat tampak jika dipandang melalui suatu


mineral, contohnya

kuarsa dan kalsit.

b) Translucent : cahaya dapat diteruskan oleh mineral, tetapi benda


dibalik mineral ini

tidak

tampang

jelas,

contohnya

gipsum.
c) Opaque

: tidak ada cahaya yang diteruskan walaupun pada

keping yang tertipis,


III.

Alat Dan Bahan

3.1

Alat

Paku

Amplas

Lup

Gambar 3.1.1 paku

3.2

contohnya magnetit dan pirit.

Gambar 3.1.2 amplas

Bahan :

Plagioklas

Kuarsa

Piroxene

Olivine

Biotite

Hornblende

11

Gambar 3.1.3 lup

Gambar 3.2.1 plagioklas

Gambar 3.2.4 olivine

Gambar 3.2.2 kuarsa

Gambar 3.2.5 biotite

Gambar 3.2.3 piroxene

Gambar 3.2.6 hornblende

IV.

Waktu Praktikum

4.1

Sabtu, 19 November 2011 pukul 12.30-14.00

4.2

Minggu, 20 November 2011 pukul 13.00-14.30

V.

Prosedur Praktikum

5.1

Melaksanakan pre-test

5.2

Mengisi absen

5.3

Mengisi data pada lembar kerja

5.4

Mengambil mineral dari tempat yang telah disediakan

5.5

Mengamati mineral menggunakan lup

5.6

Mengidentifikasi mineral sesuai sifat

5.7

Mengisi lembar kerja

5.8

Mengulang kegiatan 4-7 sebanyak 5 kali

5.9

Mengumpul lembar kerja

5.10

Melaksanakan post test

12

VI. Hasil Praktikum


LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL
JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN
IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 01

No. Peraga

: 06

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Putih Susu

2.

Cerat (Streak)

: Putih

3.

Kilap (Luster)

: Kilap non logam ( kilap kaca )

4.

Kekerasan (Hardness)

: 6-6,5 ( skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: Triklin

6.

Belahan

: 2 arah

7.

Pecahan

: Uneven

8.

Berat Jenis

: 2.68

9.

Tenacity

: Britel

10. Diaphoneity

: Transparan

11. Lain-lain

: Diamagnetik

12. Nilai Ekonomis

: Dijual untuk dikoleksi

13. Genesa

: Terjadi didalam prosesn anorganik

14. Nama Mineral

: Plagioklas

Sketsa Mineral
Gambar

Keterangan

13

Gambar kristal

LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN

IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 02

No. Peraga

: 06

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Putih bening

2.

Cerat (Streak)

: Putih

3.

Kilap (Luster)

: Kilap non logam ( kilap kaca )

4.

Kekerasan (Hardness)

: 7 ( skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: Heksagonal

6.

Belahan

: 2 arah

7.

Pecahan

: Konkoidal

8.

Berat Jenis

: 2.62

9.

Tenacity

: Britel

10. Diaphoneity

: Transparan

11. Lain-lain

: Diamagnetik

12. Nilai Ekonomis

: Bahan baku industry kaca

13. Genesa

: Terjadi didalam proses anorganik

14. Nama Mineral

: Kuarsa

Sketsa Mineral

GAMBAR

KETERANGAN

14

GAMBAR KRISTAL

LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN

IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 03

No. Peraga

: 22

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Putih Susu

2.

Cerat (Streak)

: Putih

3.

Kilap (Luster)

: Kilap non logam ( kilap kaca )

4.

Kekerasan (Hardness)

: 6.5 ( skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: Monoklin

6.

Belahan

: 2 arah

7.

Pecahan

: Splentary

8.

Berat Jenis

: 3.25

9.

Tenacity

: Britel

10. Diaphoneity

: Opaque

11. Lain-lain

: Diamagnetik

12. Nilai Ekonomis

: Dijual untuk dikoleksi

13. Genesa

: Terbentuk didalam proses anorganik

14. Nama Mineral

: Piroxene

Sketsa Mineral

Gambar

Keterangan

15

Bentuk kristal

LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN

IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 04

No. Peraga

: 15

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Hijau kekuning-kuningan

2.

Cerat (Streak)

: Putih

3.

Kilap (Luster)

: kilap non logam ( kilap kaca )

4.

Kekerasan (Hardness)

: 6.5-7 (skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: ortorombik

6.

Belahan

: 2 arah

7.

Pecahan

: Konkoidal

8.

Berat Jenis

: 2.68

9.

Tenacity

: Britel

10. Diaphoneity

: Translucent

11. Lain-lain

: Diamagnetik

12. Nilai Ekonomis

: Dijual untuk dikoleksi

13. Genesa

: Terbentuk didalam proses anorganik

14. Nama Mineral

: Olivine

Sketsa Mineral

Gambar

Keterangan

16

Bentuk kristal

LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN

IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 05

No. Peraga

: 21

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Hitam

2.

Cerat (Streak)

: Abu-abu

3.

Kilap (Luster)

: Kilap non logam ( kilap mutiara )

4.

Kekerasan (Hardness)

: 5-6 ( skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: Monoklin

6.

Belahan

: 1 arah

7.

Pecahan

: Uneven

8.

Berat Jenis

: 3.09

9.

Tenacity

: Sectile

10. Diaphoneity

: Translucent

11. Lain-lain

: Diamagnetik

12. Nilai Ekonomis

: Dijual untuk dikolesi dan untuk petrologis

13. Genesa

: Terjadi didalam proses anorganik

14. Nama Mineral

: Biotite

Sketsa Mineral

Gambar

Keterangan

17

Bentuk Kristal

LEMBAR IDENTIFIKASI PERAGA MINERAL


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN STT MIGAS BALIKPAPAN

IDENTIFIKASI MEGASKOPIK MINERAL

Nama

: Bernando Cahya Krisanda

NIM

: 1101001

Kelompok

: I (A-Reguler)

No. Urut

: 06

No. Peraga

: 17

Identifikasi Mineral
1.

Warna

: Hitam kehijau - hijauan

2.

Cerat (Streak)

: Abu- abu

3.

Kilap (Luster)

: Kilap non logam ( kilap mutiara )

4.

Kekerasan (Hardness) : 5- 6 ( skala MOHS )

5.

Bentuk Kristal

: Monoklin6.

6.

Belahan

: 1 arah

7.

Pecahan

: Splintery

8.

Berat Jenis

: 3.23

9.

Tenacity

: Sectile

10.

Diaphoneity

: Translucent

11.

Lain-lain

: Diamagnetik

12.

Nilai Ekonomis

: Dijual untuk koleksi dan penelitian

13.

Genesa

: Terjadi didalam proses anorganik

14.

Nama Mineral

: Hornblende

Sketsa Mineral

Gambar

Keterangan

18

Bentuk kristal

VII.

Pembahasan
Mineral yang saya identifikasi seperti plagioklas memiliki warna putih

susu,cerat putih, kilap non logam (kilap mutiara), kekerasan 6 - 6.5, bentuk kristal
monoklin, belahan 2 arah, pecahan uneven, berat jenisnya 2.68, tenacitynya britel,
diaphoneitynya translucent, kuarsa memiliki warna putih ,cerat putih, kilap non
logam (kilap kaca), kekerasanya 7, bentuk kristal heksagonal, belahannya 2 arah,
pecahanya konkoidal, berat jenisnya 2.62, tenacitynya britel, diaphoneitynya
transparent, pyroxene memiliki warna hitam kehijauan, cerat abu-abu, kilap kilap
logam, kekerasan 5,5 - 6, bentuk kristalnya monoklin, belahannya 2 arah,
pecahannya splintery, berat jenisnya 3.25, tenacitynya britel, diapponeitynya
opaque, olivine memiliki warna hijau keputih-putihan, cerat abu-abu, kilapnya
kilap non logam (kilap kaca), kekerasan 6,5 7, bentuk kristalnya ortorombik,
belahannya 2 arah, pecahannya konkoidal, berat jenisnya 2.68, tenacitynya britel,
diaphoneitynya

translucent, biotite memiliki warna hijau kehitam-hitaman,

ceratnya hijau tua, kilap kilap non logam (kilap mutiara), kekerasannya 5 - 6,
bentuk kristalnya monoklin, belahan 1 arah, pecahannya uneven, berat jenisnya
3.09, tenacitynya sectile, diaphoneitynya opaque, hornblende memiliki warna
hitam kehijau-hijauan, cerat abu-abu, kilapnya kilap non logam (kilap kaca),
kekerasan 5 6, bentuk kristalnya monoklin, belahannya 1 arah, pecahannya
splintery, berat jenisnya 3.23, tenacitynya sectile, diaphoneitynya translucent.
VII.

Kesimpulan

Setiap mineral memiliki karakteristik yang berbeda beda

Kita dapat membedakan antara mineral yang satu dengan yang


lain

Kita bisa mengetahui setiap mineral memiliki system kristal


yang berbeda-beda

19

Lampiran

20

DAFTAR PUSTAKA
Jeff Weissman / Photographic Guide to Mineral Species

www.galleries.com/Pyroxene_Group

21