Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

KONSUMSI OKSIGEN PADA IKAN NILA (Oreochromis


niloticus)
Diajukan untuk memenuhi tugas praktikum Fisiologi Hewan Air

Disusun oleh:
Kelompok 18 Perikanan B

Mediana Rahma Putri

230110130145

Moch. Iqbal Fernanda

230110130147

Adhardiansyah

230110130148

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Karena atas
berkat rahmat taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan praktikum dan
LAPORAN PRAKTIKUM yang berjudul Konsumsi Oksigen pada Ikan Nila.
Kami juga tidak lupa untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada
Dosen mata kuliah Fisiologi Hewan Air, serta asisten laboratorium yang selalu
membimbing dan mengajari kami dalam melaksanakan praktikum dan dalam
menyusun laporan ini. Serta semua pihak yang membantu kami dalam hal
penyusunan laporan ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan laporan ini masih
jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat kami
harapkan untuk dapat memperbaikinya. Kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan pada penyusunan maupun kesalahan lainnya.
Atas perhatian dari semua pihak yang membantu penulisan ini kami
ucapkan terimakasih. Semoga Laporan ini dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Jatinangor, 29 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

BAB

Judul

Hal.

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah

1.2 Tujuan

1.3 Manfaat

2.1 Ikan Nila

2.1.1 Klasifikasi Ikan Nila

2.1.2 Morfologi Ikan Nila

2.2 Termoregulasi

2.3 Sistem Pernafasan

2.4 DO (Dissolved Oxygen)

11

2.5 Suhu

13

2.8 Konsumsi Oksigen

13

3.1 Waktu dan Tempat

15

3.2 Alat dan Bahan Praktikum

15

3.3 Prosedur Praktikum

15

4.1 Hasil Pengamatan

17

II.TINJAUAN PUSTAKA

III.

METODOLOGI

PENELITIAN

1V.

HASIL

DAN

PEMBAHASAN

ii

4.1.1 Hasil Pengamatan Kelompok

17

4.1.2 Hasil Pengamatan Kelas

17

4.2 Pembahasan

18

5.1Kesimpulan

21

5.2 Saran

21

V. KESIMPULAN

22

DAFTAR PUSTAKA

iii

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Hal.

Hasil Pengamtan Kelompok

17

Hasil Pengamatan Kelas

17

iv

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Hal.

Ikan Nila

Sistem Sirkulasi Pernafasan Ikan Nila

Struktur Insang Ikan

Mekanisme Permafasan Pada Ikan Bertulang Sejati

10

DO Meter

12

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Ikan membutuhkan oksigen untuk proses penguraian makanan dalam

tubuhnya dan semua komponen proses metabolisme membutuhkan oksigen.


Proses masuknya oksigen dengan cara difusi kedalam tubuh ikan melewati organ
insang dan keluarnya CO2 ke lingkungan

perairan bebas di luar tubuh ikan

disebut dengan pernapasan. Oleh karena itu kebutuhan oksigen dalam air harus
tetap terjaga karena kekurangan oksigen akan mengakibatkan biota yang kita
pelihara bersaing satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan oksigennya yang
mengakibatkan stres sampai dengan kematian total.
Menurut Julian (2003), konsumsi oksigen merupakan pengkuantitatifan
banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh suatu orgnisme (ikan). Konsumsi
oksigen pada ikan digunakan sebagai parameter laju metabolisme pada ikan dalam
satuan mg/g/jam. Menurut Lagler (1997), semakin besar kadar oksigen terlarut
semakin besar pula konsumsi oksigennya.
Lingkungan juga mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan. Konsumsi
oksigen dapat dipengaruhi oleh temperatur yang tinggi, proses respirasi,
dekomposisi materil organic yangdapat menyebabkan konsumsi oksigen lebih
besar (Welch, 1992). Menurut Suhaili (1983) suhu dan arus air juga
mempengaruhi konsumsi oksigen. Semakin tinggi suhu perairansemakin besar
konsumsi oksigennya, begitu pula dengan arus yang deras dapat menyebabkan
besarnya konsumsi oksigen.
Konsumsi oksigen menurut Affandi sebagai indikator respirasi juga
menunjukkan metabolisme energetik. Pengertian dari metabolisme dasar itu
sendiri adalah kuantitas oksigen yang dikonsumsi ketika ikan berada pada kondisi
istirahat, tidak makan, dan dalam lingkungan yang netral. Metabolisme dasar pada
ikan lebih rendah dibandingkan dengan binatang lainnya karena ikan adalah
hewan poikilotermal dan energi untuk menopang tubuhnya sangat sedikit
sedangkan energi yang dibuang lewat ekskresi sangat rendah.

Namun, ternyata hewan air membutuhkan oksigen dengan jumlah yang


berbeda-beda tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel
lingkungan seperti suhu, kadar oksigen terlarut, kadar karbondiksida, salinitas,
dan lain-lain. Oleh karena itu, dengan adanya perbedaan jumlah konsumsi oksigen
dan batas minimal oksigen terlarut yang dapat ditolerir oleh hewan akuatik dari
jenis ikan yang berbeda maka perlu dilakukan uji respirasi dari ikan-ikan tersebut
untuk mengetahui tingkat konsumsi oksigennya
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem
respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem
saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).
Insang dimiliki oleh jenis ikan (pisces). Insang berbentuk lembaranlembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari
insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat
dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen,
dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler sehingga memungkinkan O2
berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang pada ikan bertulang sejati
ditutupi oleh tutup insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan
bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula
berfungsi sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran
ion, dan osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan
perluasan ke atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan
rongga-rongga tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan O2
sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekurangan O2. Contoh ikan yang
mempunyai labirin adalah ikan gabus dan ikan lele.
Untuk menyimpan cadangan O2, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung.
Stickney (1979) menyatakan salah satu penyesuaian ikan terhadap
lingkungan ialah pengaturan keseimbangan air dan garam dalam jaringan
tubuhnya, karena sebagian hewan vertebrata air mengandung garam dengan

konsentrasi yang berbeda dari media lingkungannya. Ikan harus mengatur tekanan
osmotiknya untuk memelihara keseimbangan cairan tubuhnya setiap waktu.
Mekanisme pernapasan pada ikan melalui 2 tahap, yakni inspirasi dan
ekspirasi. Pada fase inspirasi, O2 dari air masuk ke dalam insang kemudian O2
diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan.
Sebaliknya pada fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan
bermuara ke insang dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.

1.2

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui tingkat

konsumsi oksigen dan produksi CO2 pada ikan nila.

1.3

Manfaat
Manfaat dari praktikum ini kita bisa mengetahui berapa banyak oksigen

yang dikonsumsi oleh ikan nila sesuai dengan berat badannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 1. Ikan Nila


(http://seputarduniaair.blogspot.com/2012/04/ikan-air-tawar-ikan-nila.html)

Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh
memanjang dan pipih ke samping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal
dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke
negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di
wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik. Ikan nila disukai
oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan kakap
merah.
Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian
Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan
adaptasi, barulah ikan ini disebar luaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila
adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur
Jenderal Perikanan.
Ikan Nila atau Oreochromis niloticus termasuk jenis hewan vertebrata
yang seluruh badannya bersisik dan mempunyai gurat sisi. Ikan Nila termasuk
dalam filum Chordata yang berarti bertulang belakang atau kerangka tubuh
(Dwisang, 2008).
Ikan Nila merupakan salah satu jenis ikan yang dapat dibudidayakan di
kolam dan memiliki nilai ekonomis yang cukup penting. Potensi ikan Nila sebagai
ikan budidaya cukup besar, karena memiliki kelebihan, yaitu :

Mudah berkembang biak di lingkungan budidaya

Dapat menerima makanan yang beragam

Toleransi terhadap kadar garam/salinitas tinggi

Pertumbuhannya cepat

Habitat ikan Nila, yaitu : danau, sungai, waduk, rawa, sawah, dan perairan
lainnya. Selain itu ikan nila mampu hidup pada perairan payau, misalnya tambak
dengan salinitas maksimal 29% oleh karena itu masyarakat yang berada di daerah
sekitar pantai dapat membudidayakannya khusus kegiatan pembesaran ikan Nila
(Santoso,1996).

2.1.1 Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


Filum : Chordata
Kelas : Osteichtyes
Ordo : Perciformes
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies: Oreochromis niloticus

2.1.2 Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


Ikan nila termasuk ikan omnivor yaitu pemakan segala. Ikan nila memiliki
beberapa varietas, yang banyak di kembangbiakkan adalah Nila lokal, Nila gift,
Nila nifi atau nila merah. Pada saat di budidayakan, nila dapat diberi makanan
pengganti seperti pelet. Nila yang dipelihara di kolam biasanya ditujukan untuk
konsumsi.
Ikan peliharaan yang berukuran sedang, panjang total (moncong hingga
ujung ekor) mencapai sekitar 30 cm. Sirip punggung (dorsal) dengan 16-17 duri
(tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (anal) dengan 3 duri dan
8-11 jari-jari. Tubuh berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita
gelap melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergarisgaris tegak, 7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung
sirip punggung dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika
musim berbiak.

Menurut Pratama (2009), ikan nila mempunyai nilai bentuk tubuh yang
pipih kearah vertikal (kompres) dengan profil empat persegi panjang kearah
anteroposterior, posisi mulut terletak di ujung/termal.
Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis yang vertikal dan pada sirip
punggungnya garis terlihat condong lekuknya. Ciri ikan nila adalah garis-garis
vertikal berwarna hitam pada sirip, ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip
caudal/ ekor yang berbentuk membulat warna merah dan biasa digunakan sebagai
indikasi kematangan gonad (Pratama, 2009).
Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah tipe stenoid.
Ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitupun bagian
awalnya. Dengan posisi siap awal dibagian belakang sirip dada (abdormal)
(Pratama, 2009).
2.2

Termoregulasi
Termoregulasi merupakan proses yang terjadi dalam tubuh hewan untuk

mengatur suhu tubuhnya supaya tetap konstan, supaya suhu tubuhnya tidak
mengalami perubahan yang drastis. Mekanisme termoregulasi yaitu mengatur
keseimbangan antara perolehan panas dengan pelepasan panas. Keseimbangan
suhu tubuh hewan dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan luar, hewan dapat
bertahan hidup diantara -2oCsampai 50oCatau pada suhu yang lebih ekstrim.
Namun, hidup secara normal hewan memilih kisaran suhu yang lebih sempit dari
kisaran suhu tersebut yang ideal yang dikuasai agar proses fisiologis optimal.
Suhu tubuh ideal yang palig disukai yaitu suhu ekritik berkisar antara 35oC-40oC.
Kisaran toleransi termal yaitu kisaran suhu yang lebih luas dan dapat diterima
hewan. Suhu optimal sesuai keadaan tubuh suhu tubuh yaitu inti konstan dan suhu
permukaan berubah ubah.
Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood
animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli
Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang
berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan
yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu
tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan.

Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia,


dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari
hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum
dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia. Pengaruh suhu pada
lingkungan, hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan
homoiterm. Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh
bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini
juga disebut hewan berdarah dingin, dan hewan homoiterm sering disebut hewan
berdarah panas.
2.3

Sistem Pernafasan
Hewan Vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara

lain untuk mengangkut gas pernapasan (O2) dari tempat penangkapan gas menuju
sel-sel jaringan. Begitu pula sebaliknya, untuk mengangkut gas buangan (CO2)
dari sel sel jaringan ke tempat pengeluarannya. Ikan bernapas menggunakan
insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan
selalu lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan dengan air, sedang bagian
dalam berhubungan erat dengan kapiler-kapiler darah. Tiap lembaran insang
terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis
(lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler,
sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Pada ikan
bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup insang
(operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) insangnya
tidak mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada pula kelompok
ikan yang bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu ikan paru-paru
(Dipnoi).
Salah satu contoh ikan bertulang sejati yaitu ikan nila. Ikan nila bernapas
dengan insang yang terdapat pada sisi kiri dan kanan kepala. Masing-masing
mempunyai empat buah insang yang ditutup oleh tutup insang (operkulum).
Proses pernapasan pada ikan adalah dengan cara membuka dan menutup mulut
secara bergantian dengan membuka dan menutup tutup insang. Pada waktu mulut
membuka, air masuk ke dalam rongga mulut sedangkan tutup insang menutup.

Oksigen yang terlarut dalam air masuk berdifusi ke dalam pembuluh kapiler darah
yang terdapat dalam insang. Dan pada waktu menutup, tutup insang membuka dan
air dari rongga mulut keluar melalui insang. Bersamaan dengan keluarnya air
melalui

insang,

karbondioksida

dikeluarkan.

Pertukaran

oksigen

dan

karbondioksida terjadi pada lembaran insang.

Gambar 2. SistemSirkulasiPernafasanIkan nila


(Sumber : http://gurungeblog.com/2008/11/01/sistem-pernapasan-hewan/)

Dari insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh


jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung.
Dari jantung menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi
secara terus-menerus dan berulang-ulang.

Gambar 3. StrukturInsangIkan
(Sumber : http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikanpisces.html)

Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme


inspirasi dan ekspirasi.

Gambar 4. MekanismePernapasanPadaIkanBertulangSejati
(Sumber :http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikanpisces.html)

a) Fase inspirasi ikan, gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang
tetap menempel pada tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar,
sebaliknya celah belakang insang tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam
rongga mulut lebih kecil daripada tekanan udara luar. Celah mulut membuka
sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga mulut.
b) Fase ekspirasi ikan, setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut
menutup. Insang kembali ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang.
Air dalam mulut mengalir melalui celah-celah insang dan menyentuh
lembaranlembaran insang. Pada tempat ini terjadi pertukaran udara pernapasan.
Darah melepaskan CO2 ke dalam air dan mengikat O2 dari air. Pada fase
inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2 diikat oleh kapiler
darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya pada

10

fase ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke
insang, dan dari insang diekskresikan keluar tubuh.
2.4

DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen terlarut adalah tingkat saturasi udara di air yang dinyatakan

dalam kadar mg per liter air atau part per million (ppm).Oksigen terlarut
(Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan,
proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi
untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan
untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber
utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara
bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut
(Salmin, 2000). Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa
faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara
seperti arus, gelombang dan pasang surut. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar
oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan
berkurangdengan semakin tingginya salinitas.
Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan
nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen
terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle,
1968). Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm
selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70% (Huet,
1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk
kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonimous, 2004). DO merupakan
perubahan mutu air paling penting bagi organisme air, pada konsentrasi lebih
rendah dari 50% konsentrasi jenuh, tekanan parsial oksigen dalam air kurang kuat
untuk mempenetrasi lamela, akibatnya ikan akan mati lemas (Ahmad dkk, 1998).
Kandungan DO di kolam tergantung pada suhu, banyaknya bahan organik, dan
banyaknya vegetasi akuatik (Lelono, 1986 dalam Anonim, 2008).
DO: Kelarutan suatu gas pada cairan. Penurunan kadar oksigen terlarut
dapat disebabkan oleh tiga hal:
1. Proses oksidasi (pembongkaran) bahan-bahan organik.

11

2. Proses reduksi oleh zat-zat yang dihasilkan baktri anaerob dari dasar perairan.
3. Proses pernapasan orgaisme yang hidup di dalam air, terutama pada malam
hari. Semakin tercemar, kadar oksigen terlerut semakin mengecil (Abdilanov,
2011).
Perhitungan nilai DO dapat dihitung dengan menggunakan rumus
(Rachmadiarti, 2008):
Keterangan:
DO = Dissolved Oxigen (mg/L)
a = volume titrasi yang dipakai
N = normalitas Na2S2O3 (0,025 N)
DO dapat diukur dengan bantuan alat yaitu DO meter.

Gambar 5. DO meter
(Sumber: https://www.electronichealing.co.uk/resources/Image/do_meter.jpg)
12

2.5

Suhu
Suhu di perairan dapat mempengaruhi kelarutan dari oksigen. Apabila

suhu meningkat maka kelarutan oksigen berkurang. Oksigen terlarut yang


biasanya dihasilkan oleh fitoplankton dan tanaman laut, keberadaannya sangat
penting bagi organisme yang memanfaatkannya untuk kehidupan, antara lain pada
proses respirasi dimana oksigen dibutuhkan untuk pembakaran bahan organik
sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan CO2 dan H2O.
Oksigen sebagai bahan pernafasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi
metabolisme. Oleh sebab itu kelangsungan hidup ikan ditentukan oleh
kemampuannya memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Ikan adalah
hewan berdarah dingin (poikilothermal) yang metabolisme tubuhnya dipengaruhi
oleh suhu lingkungan (Neuman et al. 1997). Engelsma etal. (2003) menyatakan
bahwa suhu juga berpengaruh terhadap parameter hematological dan daya tahan
terhadap penyakit. Pemberian suhu tinggiataupun suhu rendah yang mendadak
dapat meningkatkan jumlah sel darah putih pada ikan nila. Proses fisiologis dalam
ikan yaitu tingkat respirasi, makan, metabolisme, pertumbuhan, perilaku,
reproduksi dan tingkat detoksifikasi dan bioakumulasi dipengaruhi oleh suhu
(Fadhil et al. 2011). Jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk pernafasan biota
budidaya tergantung ukuran, suhu dan tingkat aktivitasnya dengan batas minimum
adalah 3 ppm. Kandungan oksigen di dalam air dianggap optimum bagi budidaya
biota air adalah 4-10 ppm, tergantung jenisnya. Laju respirasi terlihat tetap pada
batas kelarutan oksigen antara 3-4 ppm pada suhu 20-30 Oc (Ghufran & Kordi
2007). Ernest (2000) ikan nila dapat bertahan hidup pada konsentrasi DO
minimum sebesar 2 mg/L. Doudoroff dan Shumway (1970) menyatakan bahwa
kebutuhan minimum oksigen untuk ikan nila (C. Carpio) adalah 0,2-2,8 mg/L.
Boyd (1990)menjelaskan juga bahwa kandungan DO kurang dari 1 mg/L dapat
menyebabkan lethal atau menyebabkan kematian dalam beberapa jam.
2.6

Konsumsi Oksigen
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai

oleh tubuh per satuan waktu. Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi

13

karena respirasi merupakan proses ekstrasi energi dari molekul makanan yang
bergantung pada adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi
dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut :
C6H12O6 +6O2----- > 6CO2 + 6H2O +ATP
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya
oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini
memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam
jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui
jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan
dalam bentuk laju konsum sioksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju
konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan
aktivitas.
Konsumsi oksigen dapat diukur menggunakan DO meter. DO meter
(dissolved oxygen meters) adalah instrumen analitis yang digunakan untuk
mengukur jumlah oksigen terlarut dalam satuan volume air. Ini merupakan
indikator penting dari kegunaan sampel air untuk aplikasi tertentu. Udara terdiri
dari 21 % oksigen dan nitrogen sekitar 78% volumenya.
Oksigen kurang larut dan hanya bisa ada dalam air yang konsentrasinya
rendah. Namun, oksigen terlarut (DO) sangat penting untuk respirasi

dari

berbagai hewan dan bakteri dalam lingkungan perairan. Pengukuran akurat dari
oksigen terlarut sangat penting untuk aplikasi lainnya termasuk pengolahan air,
pengolahan limbah, limbah proses lumpur aktif, pemantauan sungai, peternakan
ikan, dan setiap daerah lain dimana kualitas air adalah penting. Oksigen terlarut
juga merupakan salah satu pengukuran kunci dalam proses biotecnical, dan sangat
penting untuk menjaga kualitas produk jadi.

14

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1

WAKTU DAN TEMPAT


Praktikum Konsumsi Oksigen pada ikan Nila ini dilaksanakan pada hari

Kamis, 23 Oktober 2014, pukul 13.00-15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium


Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Padjadjaran.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
a. DO Meter
b. Gunting
c. Plastik Wrap
d. Stopwatch
e. Timbangan Analitik
f. Tisu/lap
g. Toples

3.2.2 Bahan
a. Air
b. Ikan Nila

3.3

Prosedur Kerja

a. Pertama persiapkan alat dan bahan pada praktikum konsumsi oksigen pada
ikan nila seperti toples, 15lastic wrap, ikan dan air.
b. Timbang terlebih dahulu ikan nila dengan timbangan analitik.
c. Sebelum menimbang ikan, timbangan analitik harus dikalibrasi terlebih dahulu.
d. Masukan ikan ke dalam toples yang berisi air, kemudian tambahkan air pada
toples sampai dengan meluap dan tempatkan di permukaan yang rata untuk
memudahkan praktikan menutup toples dengan 15lastic wrap.
e. Lap bagian luar toples sampai kering dengan tisu agar 15lastic wrapnya
menempel.
f. Tutup toples tersebut dengan 15lastic wrap sampai tidak ada gelembung air.
15

g. Pada saat sudah ditutup, langsung hitung waktuny adengan stopwatch selama
30 menit.
h. Setelah 30 menit, buka 16lastic wrap tersebut dengan mengguntingnya
dibagian tengah.
i. Kemudian ukur DO yang dikonsumsi ikan setelah ditutup dengan rapat selama
30 menit tersebut. Dan untuk mensterilkan DO Meter gunakan akuades pada
ujung DO Meternya.

16

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Pengamatan

4.1.1

Data kelompok

Tabel 1. Hasil Pengamatan


No.

Berat Ikan

Doawal

DOakhir

Konsumsi Oksigen

1.

15.96gram

4.6 mg/l

4.0 mg/l

0.075 mg/l

4.1.2

Data Kelas

Tabel 2. Hasil Pengamatan Kelas


Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Berat Ikan
(gram)
16
3.1
10
16
33
18
29
23
23.3
41.03
24.32
19.73
43.16
31.57
32.65
22.26
34.51
15.96
39.10
24.57
15.85
15.95
27.82
36.3

Do Awal
(g/l)
4.3
4.3
4.3
4.3
4.3
4.3
4.3
4.3
4
4
4
4
4
4
4
4
4.6
4.6
4.6
4.6
4.6
4.6
4.6
4.6

17

Do Akhir
(g/l)
2.2
2.7
2.3
2.8
2.3
3.1
2.4
2.8
3.7
3.5
3.4
3.2
3.7
3.4
3.6
3.7
3.9
4.0
3.4
3,6
3.6
3.9
3.9
4.2

Konsumsi
Oksigen (g/l)
0.26
1.03
0.4
0.1875
0.12
0.13
0.131
0.13
0.04
0.024
0.05
0.081
0.0138
0.04
0.0245
0.0269
0.04
0.075
0.061
0,065
0.13
0.078
0.05
0.02

4.2

Pembahasan
Dari kegiatan praktikum mengenai Konsumsi Oksigen Ikan nila yang telah

dilakukan pada hari Kamis 23 Oktober 2014 diperoleh data seperti yang
dicantumkan pada Tabel 1 hasil pengamatan di atas.
Praktikum ini dilakukan dengan cara menghitung konsumsi oksigen pada
ikan nila dengan menggunakan metode alat pengukur DO meter atau titrasi.
Namun, pada praktikum kali ini dijelaskan mengenai konsumsi oksigen dengan
menggunakan alat ukur DO meter. Perlakuan yang dilakukan pada praktikum kali
ini, yaitu dengan menghitung DO awal yang dilakukan tanpa memasukkan
organisme pada wadah tersebut. Selanjutnya, melakukan penimbangan berat pada
ikan nila. Ikan nila tersebut kemudian dimasukkan dalam wadah dan ditutup rapat
dengan plastic warp dan. Ditunggu hingga 30 menit dan akhirnya diukur DO akhir
sehingga dapat diperoleh konsumsi oksigen pada ikan nila dengan cara melakukan
penghitungan pengurangan pada DO awal dan DO akhir yang telah dicatat oleh
praktikan. Kemudian, data tersebut di masukkan dalam tabel pengamatan.
Pada praktikum ini oksigen sangat diperhatikan dalam konsumsinya pada
ikan nila. Berdasarkan tabel pengamatan, kelompok praktikan, yaitu kelompok 18
diperoleh data berat bobot ikan sebesar 15.96 g. Dengan DO awal sebesar 4.6 g/l
DO akhir 4.0 g/l konsumsi oksigen sebesar 0.6 g/l serta kebutuhan oksigen
sebesar 0.075O2/g/l. Bila dibandingkan dengan kelompok lain, tentunya
perbedaan terdapat pada bobot ikan sehingga mempengaruhi perbedaan pada DO
awal, DO akhir, konsumsi oksigen, serta kebutuhan oksigen. Namun, perbedaan
tersebut tidak terlalu signifikan bila dilihat dari bobot ikan lain yang tak jauh
berbeda dengan kelompok praktikan.
Pada praktikum ini kita dapat mengetahui konsumsi oksigen yang
dibutuhkan oleh ikan. Pada dasarnya praktikum ini untuk mengetahui laju
pernafasana atu respirasi ikan, kita ketahui bahwa pernafasan adalah suatu proses
pengikatan oksigen dan pengeluaran karbondioksida oleh darah melalui
permukaan alat pernafasan, atau pengangkutan oksigen dari lingkungan eksternal
tubuh ke dalam lingkungan intrasel ataupun sebaliknya pengangkutan
karbondioksida dari lingkungan intrasel ke dalam lingkungan eksternal tubuh.

18

Alat pernafasan ikan diantaranya adalah insanga adapula yang menggunakan paru
paru, tetapi pada praktikum ini kita mengambil hewan uji yaitu ikan nila yang
tidak lain bernafas dengan insang, insang adalah komponen penting dalam
pertukaran gas, insang terdiri atas lengkungan tulang rawan yang mengeras
dengan beberapa filamen insang didalamnya, setiap filament terdiri banyak
lamella.
Proses pernafasan ada 3 tahap yaitu yang pertama adalan ventilasi insang,
yaitu pengaliran air ke permukaan lamella insang melalui rongga mulut dan
dikeluarkan melalui operculum, kedua difusi O2 dan CO2 dan yang ketiga
pengangkutan O2.
Ketersediaan oksigen dalam air sangat sedikit oleh karena itu oksigen
sering disebut sebagai factor pembatas, karena daya larut oksigen dalam air kecil.
Apabila kandungan oksigen dalam air rendah makaikan dan organism akuatik lain
harus memompa air dalam jumlah tertentu kepermukassn insang untuk
mendapatkan oksigen yang cukup agar kecepatan metabolismenya stabil. Oksigen
sebagai bahan pernafasan di butuhkan oleh sel untuk berbagai reaksi metabolisme.
Oleh sebab itu, kelangsungan hidup ikan sangat ditentukan oleh kemampuannya
memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Berkurangnya oksigen
terlarut dalam perairan, tentu saja akan mempengaruhi fisiologi respirasi ikan, dan
hanya ikan yang memiliki sistem respirasi yang sesuai dapat bertahan hidup
(Fujaya, 2004). Sebagai mana menurut Zonneveld, 1991 (dalam Aristiawan,
2012) bahwa faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen pada ikan, yaitu (1)
aktifitas, ikan dengan aktifitas tinggi misalnya ikan yang aktif berenang akan
mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari pada ikan yang tidak aktif; (2)
ukuran, ikan yang ukurannya lebih kecil, kecepatan metabolismenya lebih tinggi
daripada ikan yang ukurannya lebih besar sehingga konsumsi oksigennya lebih
banyak; (3) umur, ikan yang masih berumur masih muda akan mengkonsumsi
oksigen lebih banyak daripada ikan yang lebih tua; (4) temperatur, ikan yang
berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya tinggi sehingga konsumsi
oksigennya lebih banyak. Perbandingan antara jumlah konsumsi oksigen pada
ikan besar dan ikan kecil dimana jumlah konsumsi ikan ikan kecil lebih banyak

19

dibandingkan dengan jumlah konsumsi oksigen ikan besar. Ini dikarenakan ikan
kecil lebish banyak membutuhkan oksigen lebih banyak untuk digunakan dalam
pembentukan sel-sel yang ada dalam tubuhnya dan juga untuk pertumbuhan,
sedangkan ikan besar hanya membutuhkan oksigen untuk mempertahankan hidup.
Tetapi dari hasil praktikum jumlah konsumsi ikan besar lebih banyak dari pada
jumlah oksigen yang digunakan oleh ikan kecil. Ini dikarenakan karena
perbandingan bentuk tubuh antara ikan besar dan ikan kecil tidak terlalu berbeda.
Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari
jenisnya dan kemampuan untuk beradaptasi dengan naik turunnya kandungan
oksigen. Menurut Djawad dkk (2003), bahwa semakin besar suatu organisme
maka mengkonsumsi oksigen semakin besar pula karena semua anggota tubuhnya
bergerak memerlukan energi yang berasal dari oksigen dan makanan (terjadi
metabolisme dalam tubuh).
Ikan merupakan hewan poikiloterm, suhu tubuhnya akan menyesuaikan
diri dengan suhu lingkungannya. Suhu media air akan mempengaruhi kandungan
oksigen terlarut yang akan berakibat terhadap proses respirasi ikan (Debora,
2011).

20

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Laju konsumsi oksigen setiap organisme sangat berbeda-beda, bergantung

pada kondisi dan situasi lingkungan. Konsumsi oksigen dapat dipengaruhi oleh
temperatur yang tinggi, proses respirasi, dekomposisi materil organik yang dapat
menyebabkan konsumsi oksigen lebih besar.
Selain itu ada 4 faktor yang dapat menyebabkan laju konsumsi pada ikan
berbeda-beda, diantaranya (1) aktivitas, dimana ikan yang bergerak aktif akan
membutuhkan oksign yang cukup banyak dibandingkan dengan ikan yang kurang
aktif bergrak; (2) ukuran, ikan yang ukurannya lebih kecil, kecepatan
metabolismenya lebih tinggi daripada ikan yang ukurannya lebih besar sehingga
konsumsi oksigennya lebih banyak; (3) umur, ikan yang masih berumur masih
muda akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak daripada ikan yang lebih tua; (4)
temperatur, ikan yang berada pada temperatur tinggi laju metabolismenya tinggi
sehingga konsumsi oksigennya lebih banyak. Perbandingan antara jumlah
konsumsi oksigen pada ikan besar dan ikan kecil dimana jumlah konsumsi ikan
ikan kecil lebih banyak dibandingkan dengan jumlah konsumsi oksigen ikan
besar. Ini dikarenakan ikan kecil lebish banyak membutuhkan oksigen lebih
banyak untuk digunakan dalam pembentukan sel-sel yang ada dalam tubuhnya
dan juga untuk pertumbuhan, sedangkan ikan besar hanya membutuhkan oksigen
untuk mempertahankan hidup. Tetapi dari hasil praktikum jumlah konsumsi ikan
besar lebih banyak dari pada jumlah oksigen yang digunakan oleh ikan kecil. Ini
dikarenakan karena perbandingan bentuk tubuh antara ikan besar dan ikan kecil
tidak terlalu berbeda. Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda,
tergantung dari jenisnya dan kemampuan untuk beradaptasi dengan naik turunnya
kandungan oksigen.
5.2

Saran
Dalam penyusunan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh

sebab itu kami mengaharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
kesempurnaan penyusunan laporan-laporan berikutnya.

21

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Morfologi Ikan Nila. Diambil dari http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliahpdf/POWER%20POINT%20METIL%20%5BCompatibility%20Mode%5
D.pdf.
Anonim. 2012. Respirasi (Tingkat Konsumsi Oksigen). Diambil dari
http://www.scribd.com/doc/89945686/FHA-Lap-4.
Anonim. Dimbil dari http://www.scribd.com/doc/98844508/Makalah-SeminarRevisi-3-5.
Alfiansyah, Muhammad. 2011. Sistem Pernapasan Ikan (Pisces).
http://www.sentra-edukasi.com/2011/08/sistem-pernapasan-ikan-pisces.html,
Anwar, D, D. A. Setiawibowo dan Y. Triwijiwati. 2009. Respirasi (Tingkat
Konsumsi Oksigen) dan Ketahanan Ikan di luar Media Air.
Isnaeni, W. 2003. Fisiologi Hewan. Yogyakart: Kanisius
Tobin, Muhammad. 1994. Fisiologi Hewan Mekanisme Fungsi Tubuh.
Yogyakarta: Angkasa.

22