Anda di halaman 1dari 3

THE PROBLEM OF PLANNING THEORY

Secara teoritik masih terdapat perdebatan tentang teori perencanaan, terutama


dalam hal subjek maupun sasaran potensial dari teori tersebut. Umumnya dapat
diidentifikasi dua tipe teori perencanaan yaitu prosedural teori dan substantif teori.
Pemisahan kedua tipe ini membantu perencana untuk memahami pada area mana
sebenarnya konsentrasi mereka. Faludi (1973), berpendapat bahwa planning theory
seharusnya lebih berkonsentrasi pada procedural theory (theory of planning) dari pada
sunstantive theory (theory in Planning). Beberapa aspek yang oleh Faludi disebut
sebagai the problem of planning theory yaitu pemahaman tentang perencanaan (problem
of understanding planning), perbandingan dan transfer pengalaman (comparisons and
transferring experiences) serta desain sistem dan prosedur bagi agen perencana (metaplanning). Dengan dasar ketiga permasalahan ini, dimana konsentrasinya tertuju pada
pengorganisasian, maka teori perencanaan merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial.
Perdebatan tentang teori perencanaan tidak berakhir pada kesepakatan untuk
membedakan secara terpisah antara theory of planning dengan theory in Planning
melainkan lebih jauh pada seberapa besar kedua teori tersebut dibutuhkan untuk
menghasilkan perencanaan yang efektif. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa
kedua teori ini sebenarnya memiliki keterkaitan yang sangat erat, yang memungkinkan
adanya dua pandangan yang berbeda tentang ruang lingkup masing-masing teori
sebagaimana digambarkan di bawah ini.
Gambar 1 : Procedural dan Substantive Theory

J. Shall berpendapat bahwa perencana harus melihat Procedural Theory sebagai bingkai
dari Substantive Theory dari pada sebaliknya, sebagaimana terlihat pada gambar
sebelah kiri. Sementara itu, Isard bersama asosiasinya di bidang perencanaan kota dan

wilayah berpendapat lain yaitu bahwa Procedural Theory dilihat sebagai bagian dari
Substantive Theory sebagaimana gambar sebelah kanan. Terhadap perbedaan
pandangan ini, Faludi lebih memilih melihat procedural theory sebagai bingkai bagi
substantive theory, dengan lebih lanjut menjelaskan argumentasinya berdasarkan pada
tiga persoalan planning theory sebagaimana disebutkan sebelumnya yakni soal
pemahaman tentang perencanaan, agen perencana serta prosedur perencanaan;
kemudian soal perbandingan antar model perencanaan yang berbeda dan transfer
pengalaman dari satu terhadap yang lain; serta soal desain agen perencana dan
prosedurnya.
1. Memahami Perencanaan
Pemahaman tentang perencanaan sebagai sebuah problem of planning dapat
berarti bahwa perencana akan melihat konstruksi gambaran tentang dirinya
dalam perannya sebagai seorang perencana, dalam lembaga dimana dia bekerja,
dalam prosedur yang mereka jalani, dalam lingkungan yang menjiwai dan
dijiwainya serta dalam operasi kelembagaannya.
2. Perbandingan dan Transfer Pengalaman
Seorang perencana akan selalu memperbandingkan pengalamannya dengan
perencana yang lain dengan harapan ia dapat belajar dari perencana yang lain
tersebut. Akibatnya adalah ketika di dalam praktek perencanaan, seorang
perencana selalu akan memiliki rujukannya sendiri dan sangat dipengaruhi oleh
lingkungan perencanaan. Perbandingan dan transfer pengalaman ini bukan
hanya ada pada praktisi perencanaan tetapi juga pada teoritikus yang selalu
menguji kemanfaatan dari kerangka teori perencanaan yang ia bangun dalam
interaksi keilmuan dengan para praktisi yang saling melengkapi.
3. Meta-Planning
Masalah ketiga yang dihadapi perencana yang dapat dicarikan solusinya oleh
teori perencanaan adalah tentang sistematika untuk meningkatkan kemampuan
perencana serta perbaikan terhadap prosedur perencanaan itu sendiri.
Secara keseluruhan, dikatakan bahwa the problem of planning theory pada dasarnya
terletak pada situasi yang terjadi dimana ada pilihan terhadap model agen perencanaan
serta prosedur perencanaan yang harus dilalui untuk menghasilkan suatu rencana yang
terbaik.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial, kontribusi ilmu-ilmu sosial lain
terhadap perencanaan merupakan salah satu bagian yang penting dalam teori
perencanaan, dimana ada kolaborasi antara dua disiplin ilmu yang berbeda yang
menghasilkan satu bidang keilmuan yang disebut sebagai sociology of planning. Agen
perencana dalam membuat perencanaan membutuhkan jaringan kerja antar lembaga
dimana interaksi antar lembaga tersebut akan membentuk suatu relasi sosial. Tidak
dapat dipungkiri juga bahwa agen perencana akan selalu bekerja dalam suatu realisme
politik yang dengan sendirinya memberikan justifikasi bahwa teori perencanaan akan
membutuhkan cara pandang ilmu-ilmu sosial dalam operasionalnya.
Dalam hal hubungan antara teori perencanaan dengan profesi perencanaan,
Milierson (1964) mengatakan bahwa salah satu elemen dalam mendefinisikan
komponen dari sebuah profesi adalah bahwa skil yang dimiliki oleh seorang profesional
dilandasi oleh teori. Aplikasi dan pengembangan sebuah teori oleh seseorang, akan
memberikan

status profesional kepada orang tersebut sepanjang hidupnya.

Perencanaan sebagai sebuah teori dapat diaplikasikan oleh profesional perencana tidak
hanya dengan analisis tetapi dengan sintesis pada wilayah konsentrasi perencanaan
dengan melakukan manipulasi berbagai hal dan tidak sekedar terbatas pada
pemahaman terhadap hal-hal yang menyangkut perencanaan tersebut. Oleh sebab itu
kebutuhan untuk membangun teori perencanaan, menjadi urgen dilakukan saat ini
melalui pendidikan profesional perencana oleh para pendidik perencanaan, terutama
pada level sarjana. (***)