Anda di halaman 1dari 12

TUGAS JURNAL 2 BLOK MUSKULOSKELETAL & INTEGUMEN

PHYSICAL OVERLOAD

OLEH :

HUSNUL HIDAYATI (H1A007023)


ICA JUSTITIA (H1A 007027)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkah rahmat dan karunia-Nya,
penyusun, dapat menyelesaikan makalah mengenai physical overload pada blok 18,
Muskuloskeletal dan Integumen, ini.
Terkait salah satu komponen penilaian dalam blok 18 dan sesuai penugasan pada
pembagian kelompok yang telah ditetapkan sebelumnya, maka kami berusaha mengangkat
segala hal yang berhubungan dengan physical overload.
Kami menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna, terutama dalam menggali
semua aspek. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung
untuk laporan ini demi perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata, semoga Allah swt selalu melimpahkan berkah rahmat-Nya kepada kita
semua dalam belajar, menuntut ilmu, dan dalam setiap kegiatan yang kita jalani, Amin.

Mataram, 9 Juli 2010

Penyusun

AKTIVITAS FISIK BERLEBIHAN


(PHYSICAL OVERLOAD)
Stres paling ekstrem pada tubuh manusia merupakan stres yang diakibatkan oleh kerja
fisik yang berat dan berlebihan. Tidak ada stres normal pada tubuh yang dapat mendekati
stres yang disebabkan oleh aktivitas fisik yang berat dan berlebihan, keadaan ini bahkan
dapat mematikan apabila terus dilanjutkan (Guyton and Hall, 1997).
Kerja fisik yang berat dan berlebihan (penggunaan yang berlebihan pada sistem
muskuloskletal) dapat menyebabkan cedera. Cedera ini terutama terjadi pada atlet (maka
dikenal sebagai cedera olahraga), namun pada dasarnya cedera ini dapat terjadi pada
siapapun. Cedera terjadi setelah overaktivitas tanpa latihan yang memadai. Daerah yang biasa
terkena adalah bahu, siku, lutut, traktus posterior fascia lata, tendon achilles, dan
kompartemen tibia (Apley dan Solomon, 1995).
Pemahanan mengenai fisiologi aktivitas fisik atau fisiologi olahraga diperlukan untuk
pemahaman yang baik mengenai cedera akibat aktivitas fisik yang berat dan berlebihan
(physical overload). Oleh karena itu, sebelum membahas cedera akibat physical overload,
makalah ini akan mengulas mengenai fisiologi aktivitas fisik atau fisiologi olahraga.

FISIOLOGI AKTIVITAS FISIK


Pada umunya, sebagian besar nilai kuantitatif untuk wanita, seperti kekuatan otot,
ventilasi paru, dan curah jantung semua yang berhubungan dengan massa otot akan
bervariasi 2/3 sampai dari nilai yang didapat pada pria. Perbedaan ini terutama karena
pengaruh hormonal. Testosteron memiliki efek anabolik yang kuat terhadap penyimpanan
protein tubuh, terutama di otot. Estrogen berperan dalam penimbunan lemak pada wanita,
terutama di payudara, paha, dan jaringan subkutan (Guyton and Hall, 1997).

A. Kekuatan Otot
Sebuah otot ditentukan kekuatannya oleh ukurannya, dengan suatu daya
kontraktilitas maksimum antara 3 dan 4 kg/cm 2 dari satu daerah potongan melintang otot.
Jadi, individu dengan pembesaran otot yang sesuai karena efek testosteron maupun latihan
fisik yang sesuai akan memiliki kekuatan otot yang lebih besar. Gaya akibat kekuatan otot
dapat menjangkau sendi. Gaya yang besar berperan pada terjadinya dislokasi kartilago,
fraktur kompresi sekitar persendian, dan ruptur ligamen (Guyton and Hall, 1997).
Sedangkan kekuatan yang mempertahankan suatu otot lebih besar sekitar 40% dari
kekuatan kontraktilitas otot. Maksudnya yaitu bila otot sudah berkontraksi, lalu
dikeluarkan gaya untuk meregangkan otot tersebut, dibutuhkan kira-kira 40% lagi dari
yang dapat dicapai oleh suatu pemendekan otot. Jadi terjadi peningkatan gaya otot selama
perubahan kontraksi otot. Hal ini selanjutnya menjadi gabungan masalah pada sendi
bahkan dapat merobek itu sendiri (Guyton and Hall, 1997).

B. Daya Otot
Daya merupakan suatu pengukuran jumlah total kerja sebuah otot dalam satu
satuan waktu. Daya ini ditentukan oleh tiga hal yaitu kekuatan kontraksi otot, jarak
kontraksi otot, dan jumlah otot yang berkontraksi setiap menit. Daya otot diukur dalam
kilorgram meter (kg-m) per menit (1 kg-m/meter = satu otot dapat mengangkat berat 1 kg
setinggi 1m/menggeser sejauh 1 m dalam 1 menit) (Guyton and Hall, 1997).

C. Ketahanan Otot
Faktor yang paling berpengaruh terhadap ketahanan otot adalah nutrisi terhadap
otot khususnya glikogen yang tersimpan dalam otot sebelum periode latihan. Pada
seseorang yang memiliki pola diet yang tinggi karbohidrat ketahanan ototnya lebih tinggi
dibandingkan dengan orang yang memiliki pola diet tinggi lemak karena karbohirat akan
banyak disimpan dalam bentuk glikogen didalam otot (Guyton and Hall, 1997).

D. Sistem Metabolik Otot dalam Aktivitas Fisik


SISTEM FOSFAGEN
Sumber energi dasar yang dibutuhkan untuk kontraksi otot adalah ATP/adenosin
trifosfat. Jumlah ATP yang terdapat di dalam otot, bahkan otot seorang atlet, biasanya
hanya cukup mempertahankan daya otot maksimal selama 3 detik, sehingga pembentukan
ATP harus dibentuk secara terus menerus Untuk merekonstruksi suplai ATP dibutuhkan
fosfokreatinin (kreatinin fosfat). Senyawa ini dapat dipecah menjadi kreatinin dan ion
fosfat dengan melepas energi yang cukup untuk membentuk kembali ikatan fosfat
berenergi tinggi ATP. Gabungan sel ATP dan sel fosfokreatinin disebut sistem energi
fosfagen. Energi sistem fosfagen digunakan untuk ledakan singkat tenaga otot maksimal.
Sistem ini menyediakan daya otot maksimal selama 8-10 detik (Guyton and Hall, 1997).

SISTEM GLIKOGEN ASAM LAKTAT


Sumber energi ini berasal dari cadangan glikogen yang disimpan di dalam otot. Glikogen
akan dipecah menjadi glukosa, glukosa inilah yang dipergunakan sebagai energi.
Pemecahan awal disebut glikolisis tanpa menggunakan oksigen (metabolisme anaerobik)
dimana glukosa dipecah menjadi 2 molekul asam piruvat. Apabila terdapat cukup oksigen
akan berlangsung tahap kedua yaitu tahap oksidatif. Pada tahap ini asam piruvat diubah
menjadi asam laktat. Kecepatan sistem ini setengah kecepatan sistem fosfagen. Sistem ini
digunakan dalam kontraksi otot dalam waktu singkat. Sistem ini menyediakan aktivitas
otot maksimal selama 1,3-1,6 menit (Guyton and Hall, 1997).

SISTEM AEROBIK
Sistem ini merupakan sistem oksidasi bahan makanan (glukosa, asam lemak, dan asam
amino) menjadi energi yang berlangsung dalam mitokondria. Energi yang disediakan
sistem aerobik tidak terbatas (selama zat nutrisi tersedia) (Guyton and Hall, 1997).

Perbandingan jumlah energi yang dihasilkan


Sistem Metabolisme

M ATP/menit

Sistem fosfagen

Sistem glikogen-asam laktat

2,5

Sistem aerobik

(Guyton and Hall, 1997)

PEMULIHAN SISTEM METABOLISME OTOT SETELAH AKTIVITAS FISIK


Energi dari sistem fosfokreainin dan sistem asam laktat dapat digunakan untuk
membentuk ATP, kemudian energi dari sistem aerobik dapat digunakan untuk membentuk
kembali semua sistem lainnya (Guyton and Hall, 1997).
Sistem asam laktat dibentuk kembali untuk memindahkan kelebihan asam laktat dari
cairan tubuh. Kelebihan asam laktat dapat menyebabkan kelemahan hebat pada otot
sehingga hal ini sangat penting. Asam laktat akan diubah kembali menjadi asam piruvat
dan glukosa. Asam piruvat akan dimetabolisme oksidatif, sedangkan glukosa akan di ubah
menjadi glikogen (Guyton and Hall, 1997).
Pemulihan sistem aerobik dilakukan dengan dua cara:
Hutang oksigen
Pada saat aktivitas fisik yang berat, cadangan oksigen sebagian besar digunakan untuk
metabolisme aerobik. Cadangan oksigen terdiri dari 0,5L udara dalam paru-paru,
0,25L yang larut dalam cairan tubuh, 1L bergabung dengan oksigen, dan 0,3L
bergabung dengan mioglobin dalam serat otot. Setelah aktivitas selesai, cadangan
oksigen akan diganti dengan hiperventilasi untuk menghirup oksigen diatas kebutuhan
normal. Pada tahap awal digunakan untuk bayar hutang oksigen dan membentuk
sistem fosfagen, selanjutnya dengan kecepatan ambilan oksigen yang lebih rendah
digunakan untuk memindahkan asam laktat (Guyton and Hall, 1997).
Pemulihan glikogen otot
Pemulihan glikogen otot membutuhkan waktu berhari-hari. Seseorang dengan diet
tinggi karbohidrat membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk pemulihannya, sedangkan
orang dengan diet tinggi lemak atau protein membutuhkan waktu sekitar 5 hari untuk
pemulihannya (Guyton and Hall, 1997).

Menurut Physical Activity Guidelines for Americans aktivitas fisik memiliki beberapa
manfaat, antara lain:

Aktivitas fisik yang teratur menurunkan risiko beberapa efek samping penyakit

Membantu mengurangi disabilitas pasien

Pada anak: memperbaiki atau meningkatkan kardiorespirasi, kesehatan tulang, dan


sistem kardiovaskular

Pada dewasa:
Mengurangi risiko kematian dini
Mengurangi risiko penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, dislipidemia,
diabetes, kanker kolon
Mengurangi depresi

Manfaat aktivitas fisik dapat dirasakan pada semua usia. Kebanyakan keuntungan diperoleh
dengan aktivitas fisik dengan intensitas sedang seperti berjalan cepat minimal 150 menit
perminggu. Beberapa aktivits fisik lebih baik dibanding aktivitas fisik lainnya (U.S.
Department of Health and Human Services, 2008).
Jika stress fisik yang terjadi saat aktivitas fisik lebih besar dalam hal jumlah dan
intensitas dibandingkan biasanya akan menimbulkan kondisi yang disebut overload
(berlebihan). Dalam batas tertentu tubuh akan beradaptasi dengan kondisi ini. Sebagai contoh
adalah stress karena aktivitas fisik aerobik. Hal ini akan dikompensasi dengan peningkatan
kerja paru untuk menyediakan lebih banyak oksigen dan peningkatan kerja jantung untuk
memompa darah lebih banyak ke otot yang sedang bekerja (U.S. Department of Health and
Human Services, 2008). Namun, pada ada kalanya physical overload dapat menyebabkan
cedera (Apley dan Solomon, 1995).

PHYSICAL OVERLOAD
A. Definisi
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, physical overload adalah kerja fisik yang
berat dan berlebihan (penggunaan yang berlebihan pada sistem muskuloskletal). Hal ini dapat
menyebabkan cedera. Cedera ini terutama terjadi pada atlet (maka dikenal sebagai cedera
olahraga), namun pada dasarnya cedera ini dapat terjadi pada siapapun (Apley dan Solomon,
1995).

B. Etiologi
Cedera akibat overaktivitas dapat disebabkan oleh:
Pergesekan
Selama melakukan pergerakan sendi, tendon atau bursa dapat mengalami pergesekan
yang hebat menembus lapisan fibrosa atau menembus tonjolan tulang. Akibatnya
dapat terjadi reaksi inflamasi seperti peritendinitis atau bursitis. Reaksi inflamasi akan
menyebabkan edema dan keterbatasan gerak. Semakin lama dapat menyebabkan
tenovaginitis (penebalan dan fibrosis) (Apley dan Solomon, 1995).
Tekanan
Tekanan berulang atau tekanan saat lengah dapat mengakibatkan otot robek, ruptur
tendon, fraktur tulang, atau lesi kartilago (biasanya pada patela) (Apley dan Solomon,
1995).
Iskemia
Otot yang dibungkus rapat dalam fasia, biasanya lebih rentan mengalami iskemia.
Iskemia dapat bersifat relatif maupun mutlak. Iskemia relatif terjadi akibat
peningkatan kebutuhan suplai darah karena aktivitas berlebih tidak dapat terpenuhi
sedangkan, iskemia mutlak terjadi akibat edema intramuskular menyebabkan
pembengkakan dalam kompatemen yang sempit (Apley dan Solomon, 1995).

Etiologi cedera ini dapat dibedakan menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Cedera
intrinsik yaitu akibat dari aktivitas fisik individu itu sendiri seperti penggunaan otot yang
berlebihan atau gerakan yang kaku. Cedera ekstrinsik disebabkan karena terjatuh atau ada
gaya dari luar tubuh (Salter, 1999).
Daerah yang biasa terkena adalah bahu, siku, lutut, traktus posterior fascia lata,
tendon achilles, dan kompartemen tibia (Apley dan Solomon, 1995).

C. Jenis-jenis cedera
Jenis-jenis dari trauma akibat aktivitas berlebihan dan cedera olahraga
Cedera rotator cuff
Aktivitas yang melibatkan pelemparan dan pencepitan dapat menyebabkan nyeri bahu
yang kronis dan berulang. Lengan bergerak dari ekstensi, abduksi dan rotasi eksterna,
sampai fleksi, adduksi dan rotasi interna sewaktu melempar. Gerakan melempar yang
kuat pada posisi terjepit dan berulang dapat menimbulkan sindrom rotator cuff.
Selain itu, gerakan percepatan dan perlambatan yang mendadak daapt menyebabkan
robeknya kapsula anterior, kapsula posterior, atau labrum glenoid (Apley dan
Solomon, 1995).
Tennis elbow dan golfers elbow
Tennis elbow merupakan nyeri dan nyeri tekan pada epikondilus lateral humerii,
sedangkan golfers elbow merupakan nyeri dan nyeri tekan pada epikondilus medialis
humerii. Hal ini terjadi diduga karena regangan yang berulang pada tendon origo otot
ekstensor atau fleksor pergelangan tangan (Apley dan Solomon, 1995).
Bursitis trochanter
Keadaan sering dikeluhkan oleh pelari atau penari balet, berupa nyeri disekitar
trockanter mayor femur (Apley dan Solomon, 1995).
Pergeseran traktus iliotibialis
Pelari jarak jauh yang meningkatkan jarak larinya terlalu biasanya mengeluhkan hal
ini. Geseran antara bagian posterior traktus iliotibialis terhadap kondilus femur lateral
diduga sebagai penyebab. Gambaran klinis pasien berupa nyeri saat lutut difleksikan
hingga 200, gaya jalan lutut-kaku, dan nyeri tekan pada suatu titik di belakang
kondilus lateralis (Apley dan Solomon, 1995).
Tendinitis patela

Sering ditemukan pada penari, atlet lompat jauh, dan lompat tinggi. Kontraksi
kuadrisep yang mendadak dan berulang dapat menyebabkan ruptur kecil pada ligamen
atau serat dekat ligamen pada kutub patela bagian bawah (Apley dan Solomon, 1995).
Nyeri tendon achilles
Penyebabnya adalah peritendinitis (radang disekitar tendon, nyeri tekan pada satu
tempat pada posisi kaki apapun); tendinitis achillis (nyeri tekan lebih jelas pada
tendon, berubah saat sendi pergelangan kaki digerakkan); dan atau bursitis kalkaneus
(nyeri tekan pada bagian anterior tendon anchlles. Hal ini terjadi akibat pemberiaan
beban yang terlalu besar pada tendon (Apley dan Solomon, 1995).
Robekan otot
Gejalanya sama untuk semua otot yaitu nyeri tajam saat otot digunakan (Apley dan
Solomon, 1995).
Metatarsalgia
Nyeri timbul pada bagian depan kaki. Dapat disebabkan oleh semua hal yang
menyebabkan perubahan mekanika kaki atau penggunaan yang berlebihan seperti
berjalan jauh pada permukaan yang keras atau berdiri lama dengan keseimbangan
yang buruk (Apley dan Solomon, 1995).
Trauma kepala pada atlet
Terjadi sekitar 5 % dari semua trauma olahraga. Cedera dapat difus maupun lokal.ada
gambaran gangguan kesadaran. Diagnosa banding pada keadaan ini yaitu cedera otak
fokal (hematoma subdural, perdarahan intraserebral, hematoma epidural,), cedra spina
servikal, dan fraktur kranium (Skinner and Fitzpatrick, 2008).
Injury pada sendi stenoclavikular (Skinner and Fitzpatrick, 2008).
Bicipital tendonitis. Mekanisme etiologi mirip dengan sindrom rotator cuff (Skinner
and Fitzpatrick, 2008).
Ruptur pada tendon biceps. Disebabkan oleh fleksi yang kuat pada lengan.
Menyebabkan kelainan deformitas dan nyeri pada bahu (Skinner and Fitzpatrick,
2008).
Frozen shoulder
Dapat terjadi pada trauma, tetapi bisa juga idiopatik. Perjalanan penyakit terdiri dari 3
fase, yaitu fase nyeri beku (2-9 bulan), fase kekakuan progresif; (nyeri berkurang,

terjadi kekakuan gerak pada semua bidang); dan fase resolusi (1 bulan-beberapa
tahun; interval gerakan meningkat) (Skinner and Fitzpatrick, 2008).
Pes Anserinus Bursitis
Bursa pes anserinus terletak di antara tendon sartorius, gracillis, dan semitendinosus
dan ligamen kollateral medial. Fleksi dan ekstensi yang berulang dapat memicu
inflamasi pada daerah ini. Nyeri pada plateu tibial medial (area pas anserinus) tidak
didiagnosa sebagai pes anserinus bursitis kecuali dibuktikan dengan USG (Skinner
and Fitzpatrick, 2008).
Cedera strain yang berulang (repetitive strain injury = SRI)
SRI mengacu pada keadaan tungkai atas karena gerakan mengulang yang khusus
seperti mengetik atau bermain musik. Nyeri timbul bila aktivitas penyebab dilakukan
dan berkurang bila aktivitas dihentikan. Dorsum lengan bawah pada garis ekstensor
radial pada pergelangan tangan merupakan daerah yang paling sering terkena. Terapi
berupa penghentian aktivitas penyebab selama 3-4 minggu (Apley dan Solomon,
1995).

D. Penanganan physical overload


Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, hal ini dapat dicapai melalui peningkatan
aktivitas yang bertahap, latihan sebelum pertandingan harus memadai, perubahan aktivitas
harus berangsur-angsur, dan isyarat adanya sedikit nyeri pada lokasi yang khas harus
diperhatikan (Apley dan Solomon, 1995).
Terapi terdiri atas penurunan aktivitas, mengurangi tekanan, dan mengobati radang.
Operasi mungkin dibutuhkan pada kasus yang resisten. Fisioterapi dibutuhkan pada semua
kasus dengan tujuan merentangkan otot secara bertahap dan digabung dengan latihan
penguatan (Apley dan Solomon, 1995; Salter, 1999). Terapi harus segera dimulai setelah
cedera (Salter, 1999).

Daftar Pustaka
Apley, A. Graham dan Louis Solomon. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley.
Edisi 7. Widya Medika: Jakarta. Bab 16
Guyton C. Arthur and John E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. EGC:
Jakarta. hal.1339-1346
Salter, Robert Bruce. 1999. Textbook of Disorder and Injuries of The Musculoskletal System,
3rd edition. Williams and Wilkins: Baltimore. p.647-652
Skinner, Harry B. And Michael Fitzpatrick. 2008. Current Essensial Orthopedics. McGrawHill: New York. Chapter 2
U.S. Department of Health and Human Services. 2008. 2008 Physical Activity Guidelines for
Americans. Accessed from http://www.health.gov/paguidelines/pdf/paguide.pdf at
5th July 2010. Chapter 2