Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut The Center For Deseases Control and Prevention (CDC) di Atlanta
mengatakan Chlamyda adalah infeksual sexual yang paling sering terjadi di Amerika
(diperkirakan 3 juta orang Amerka mengidap penyakit ini setiap tahun dan sebagian
besar berumur 15 dan 24 tahun). Chlamydia disebabkan melalui hubungan seksual,
tetapi bukan sebagai virus, seperti kebanyakan penyakit akibat hubungan seksual lain.
Ini disebabkan oleh suatu bakteri yang disebut Chlamydia. ( http://wowomm.blogspot.com/2009/02/uretritis-non-gonokokal.html)
Di Indonesia Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai
untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy,
Ardaya, Suwanto, 2001).Infeksi saluran kemih dapat mengenai baik laki-laki maupun
perempuan dari semua umur baik pada anak-anak remaja, dewasa maupun pada umur
lanjut. Akan tetapi, dari dua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering dari pria
dengan

angka

populasi

umu,

kurang

lebih

15

%.

Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan
oleh bakteri terutama scherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi
seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemiha,
pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998)
Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat dari menyebarnya infeksi yang

berasal dari uretra seperti juga pada wanita. Namun demikian, panjang uretra dan
jauhnya jarak antara uretra dari rektum pada pria dan adanya bakterisidal dalam
cairan prostatik melindungi pria dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI paa pria
jarang terjadi, namun ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya
abnormalitas

fungsi

dan

struktur

dari

traktus

urinarius

(http://www.dakdem.com/berita/berita)

1.2 Rumusan masalah


1.2.1

Apakah yang dimaksud dengan Uretritis ?

1.2.2

Bagaimana etiologi dari penyakit Uretritis ?

1.2.3

Apa saja manisfestasi klinis Uretritis ?

1.2.4

Bagaimana patofisiologi dari penyakit Uretritis ?

1.2.5

Bagaimana Pathway Uretritis ?

1.2.6

Bagaimana pemeriksaan diagnostic Uretritis ?

1.2.7

Bagaimana penatalaksanaan Uretritis?

1.2.8

Apa saja komplikasi dari penyakit Uretritis ?

1.2.9

Seperti apa asuhan keperawatan dari penyakit Uretritis ?

1.3 Tujuan
1.3.1

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Uretritis

1.3.2

Untuk mengetahui Bagaimana etiologi dari penyakit Uretritis

1.3.3

Apa saja manisfestasi klinis Uretritis

1.3.4

Mengetahui bagaimana patofisiologi dari penyakit Uretritis

1.3.5

Untuk mengetahui Pathway Uretritis

1.3.6

Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik Uretritis

1.3.7

Untuk mengetahui penatalaksanaan Uretritis

1.3.8

Untuk mengetahui komplikasi dari penyakit Uretritis.

1.3.9

Untuk mengetahui Asuhan keperawatan dari penyakit Uretritis.

1.4 Manfaat
1.4.1

Kita dapat mengetahui pengertian Uretritis.

1.4.2

Kita dapat mengetahui etiologi dari penyakit Uretritis.

1.4.3

Kita dapat mengetahui manisfestasi klinis dari penyakit Uretritis.

1.4.4

Kita dapat mengetahui patofisiologi dari penyakit Uretritis.

1.4.5

Kita dapat mengetahui pathway dari penyakit Uretritis.

1.4.6

Dapat mengetahui pemeriksaan diagnostik Uretritis

1.4.7

Dapat mengetahui penatalaksanaan dari penyakit Uretritis

1.4.8

Dapat mengetahui komplikasi Uretritis

1.4.9

Dapat mengetahui Asuhan keperawatan dari penyakit Uretritis.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Uretritis


Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang menyebar
naik yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan nongonoreal. Namun demikian
keduakondisi tersebut dapat terjadi pada satu pasien. (Nursalam, 2008).
Uretritis yaitu inflamasi pada uretra, keadaan ini kerap kali merupakan
gejala penyakit gonore, dapat pula disebabkan oleh mikroorganisme. (Barbara. 2005)
Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra (Anonym 1997).
Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks(PMS)
urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan nongonococal
urethritis.
Urethritis merupakan peradangan pada saluran kencing atau urethra,
yangterjadi pada lapisan kulit urethra, disebabkan oleh bakteri-bakteri yang
menyerangsaluran kemih seperti Chlamydia trachomatis, neisseria gonorrhoae,
tricomonal vaginalis dan lain-lain. peradangan ini biasanya terjadi pada ujung urethra
atau urethra bagian posterior, urethritis juga merupakan salah satu dari infeksi dari
saluran kemih yaitu urethra, prostate, vas deferens, testis atau ovarium, buli-buli,
ureter sampai ginjal. dan dapat dikatakan sebagai bagian dari infeksi saluran kemih
superficial atau mukosa yang tidak menandakan invasi pada jaringan.

2.1.1Klasifikasi Uretritis
1. Uretritis Akut
a.

Penyebab
Asending infeksi atau sebaliknya oleh karena prostate mengalami infeksi.
Keadaan ini lebih sering diderita kaum pria.

b.

Tanda dan Gejala


4

Mukosa merah udematus

Terdapat cairan eksudat yang purulent

Ada ulserasi pada uretra

Mikroskopis : terlihat infiltrasi leukosit sel sel plasma dan sel sel
limfosit

Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu
morning sickness

Pada oria : pembuluh darah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh


kelompok pus

Pada wanita : jarang diketemukan uretritis akut, kecuali bila pasien


menderita.

c.

d.

Diagnosa Diferential

Uretritis GO

Amicrobic pyuhria

Uretritis karena trichomonas

Prostatitis non spesifik

Pemeriksaan Diagnostik
Dilakukan pemeriksaan terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman
penyebab.

e.

Tindakan Pengobatan

Pemberian antibiotika

Bila terjadi striktuka, lakukan dilatasi uretra dengan menggunakan


bougil

f.

Komplikasi

Mungkin prostatitis

Periuretral abses yang dapat sembuh, kemudian meninbulkan


striktura atau urine fistula

2. Uretritis Kronis
a.

Penyebab

Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut

Prostatitis kronis

Striktura uretra

b.

Tanda dan Gejala

Mukosa terlihat granuler dan merah

Mikroskopis : infiltrasi dari leukosit, sel plasma, sedikit sel leukosit,


fibroblast bertambah

Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum bak pertama

Uretra iritasi, vesikal iritasi, prostatitis, cystitis.

c.

Prognosa
Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih,
ureter, ginjal.

d.

Tindakan Pengobatan

e.

Chemoterapi dan antibiotika

Cari penyebabnya

Berikanlah banyak minum


Komplikasi

Radang dapat menjalar ke prostate.

3. Uretritis Gonokokus
a.

Penyebab
Neisseria Gonorhoeoe (gonokokus)

b.

Tanda dan Gejala


Sama dengan tanda dan gejala pada uretritis akut, karena uretritis ini adalah
bagian dari uretritis akut

c.

Prognosa

Infeksi dapat menyebar ke proksimal uretra.


d.

Komplikasi

Infeksi yang menyebar ke proksimal uretra menyebabkan peningkatan


frekuensi kencing

Gonokokus dapat menebus mukosa uretra yang utuh, mengakibatkan


terjadi infeksi submukosa yang meluas ke korpus spongiosum

Infeksi yang menyebabkan kerusakan kelenjar peri uretra akan


menyebabkan terjadinya fibrosis yang dalam beberapa tahun kemudian
mengakibatkan striktura uretra. (underwood,1999)

4. Uretritis Non Gonokokus (Non Spesifik)


Uretritis non gonokokus (sinonim dengan uretritis non spesifik) merupakan
penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang paling sering diketemukan.
Pada pria, lender uretra yang mukopurulen dan disuria terjadi dalam beberapa hari
sampai beberapa minggu setelah melakukan hubungan kelamin dengan wanita yang
terinfeksi. Lendir mengandung sel nanah tetapi gonokokus tidak dapat di deteksi
secara mikroskopis atau kultur. (Underwood,1999)
a.

Insiden
Masih merupakan penyakit yang sering terjadi pada banyak bagian dunia,
insiden berhubungan langsung dengan promiskuitas dari populasi

b.

Etiologi
Infeksi hamper selalu didapat selama hubungan seksual. Gonokokus
membelah diri pada mukosa yang utuh dari uretra anterior dan setelah itu
menginvasi kelenjar peri uretral, dengan akibat terjadinya bakteremia dan
keterlibatan limfatik.

c.

Makroskopik
Peradangan akut dari mukosa uretra, dengan eksudat yang purulenta pada
permukaan; dapat terjadi ulserasi dari mukosa.

d.

Rabas

Timbul 3-8 hari setelah infeksi dan kental, kuning serta banyak. Apusan
memperlihatkan sejumlah besar sel sel pus (100%), banyak mengandung
diplokokus gram negative intraseluler yang difagositosis.
e.

Perjalanan Penyakit
1.

Dapat mengalami resolusi dalam 2-4 minggu, sebagai akibat pengobatan


atau kadang kadang spontan.

2.
f.

Menjadi kronik.

Penyulit
1.

Uretritis p osterior, prostatitis, vesikulitis, epididimitis dan sistitis.

2.

Abses peri uretral.

3.

Penyebaran sistemik arthritis supuratif atau teno sinovitis tidak


jarang ditemukan pada kasus yang terabaikan sementara endokarditis
jarang sekali terjadi. (A.D Thomson,1997)

2.2 Etiologi Uretritis


Pada orang dewasa khususnya wanita muda dan aktif dapat ditularkan
organism penyebab urethritis melalui hubungan seksual seperti Chlamydia
trachomatis, niesseria gonorrhoaeae, dan virus herpes simpleks merupakan kumankuman penyebab utama urethritis. Pada wanita dapat juga terjadi karena perubahan
PH dan flora vulva dalam siklus menstruasi Ada juga organisme lain seperti
ureaplasmaurealyticum, mycoplasma hominis, tricomonal vaginalis, neisseria
meningitides, danandrovirus yang juga merupakan organisme penyebab peradangan
urethra. Tidak hanya pada perempuan tapi pada laki-laki dan anak bayi dan remaja
bias terjangkit olehkuman-kuman ini.Kuman gonore atau kuman lain, kadang
kadang uretritis terjadi tanpa adanya bakteri. Penyebab klasik dari uretritis adalah
infeksi yang dikarenakan oleh NeisseriaGonorhoed. Akan tetapi saat ini uretritis
disebabkan oleh infeksi dari spesiesChlamydia, E.Coli atau Mycoplasma

Penyebab dari urethritis adalah :


1. Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe)
2. Kuman Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum)
3. Tindakan invasif
4. Iritasi batu ginjal
5. Trihomonas vaginalis
6. Organisme gram negatif :
a. Escherichia coli
b. Entero bakteri
c. Pseudomonas
d. Klebsiella dan Proteus
Pada pria, uretritis biasanya dimulai dengan keluarnya cairan dari uretra.
Jika penyebabnya adalah gonokokus maka cairan ini akan mengandung nanah. Jika
penyebabnya adalah jasad renik yang lainnya, maka cairan ini mengandung lendir.
Gejala lainnya adalah nyeri pada saat berkemih dan penderita sering mengalami
desakan untuk berkemih. Jika uretritis karena gonokokus tidak diobati secara adekuat,
maka

pada

akhirnya

akan

terbentuk

penyempitan

uretra

(striktur).

Striktur ini akan meningkatkan resiko terjadinya uretritis pada uretra yang lebih tinggi
dan

kadang

menyebabkan

terbentuknya

abses

di

sekitar

uretra.

Abses bisa membentuk kantong pada dinding uretra (divertikulum uretra), yang juga
bisa mengalami infeksi. Jika abses menyebabkan terjadinya perforasi kulit, maka air
kemih bisa mengalir melalui saluran baru (fistula uretra).

2.3 Manifestasi Klinis Uretritis


a. Mukosa memerah dan edema
b. Terdapat cairan exudat yang purulent
c. Ada ulserasi pada uretra
d. Adanya rasa gatal yang menggelitik
e.

Adanya pus pada awal miksi

f. Nyeri pada saat miksi


g. Kesulitan untuk memulai miksi
h. Nyeri pada abdomen bagian bawah

2.4 Patofisiologi
-

Invasi kuman (gonorrhoe, trihomonas vaginalis gram negatif) uretritis

Iritasi (iritasi batu ginjal, iritasi karena tindakan invasif menyebabkan retak
dan permukaan mukosa pintu masuknya kuman proses peradangan uretritis).

Pada kebanyakan kasus organisme penyebab dapat mencapai kandung kemih melalui
uretra. Infeksi ini sebagai sistitis, dapat terbatas di kandung kemih saja / dapat
merambat ke atas melalui uretra ke ginjal. Organisme juga dapat sampai ke ginjal
atau melalui darah / getah bening, tetapi ini jarang terjadi. Tekanan dari kandung
kemih menyebabkan saluran kemih normal dapat mengeluarkan bakteri yang ada
sebelum bakteri tersebut sampai menyerang mukosa.
Obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih mengakibakan
penimbunan cairan, bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini dapat
menyebabkan atrofi hebat pada parenkim ginjal / hidronefrosis. Disamping itu
obstruksi yang terjadi di bawah kandung kemih sering disertai refluk vesiko ureter
dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringa parut ginjal dan
uretra, batu saluran kemih, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada
leher kandung kemih dan uretra serta penyempitan uretra.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


a. Kultur urine : Mengidentifikasi organisme penyebab
b. Urine analisis/urinalisa : Memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan
endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal
c. Darah lengkap
d. Sinar-X ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur
nyata.

10

e. Pielogram intravena (IVP) : Mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas


struktur.

2.6 Penatalaksanaan
Pengobatan
Jika

penyebabnya

tergantung
adalah

kepada

mikroorganisme

bakteri,

maka

diberikan

penyebabnya.
antibiotik.

Jika penyebabnya adalah virus herpes simpleks, maka diberikan obat anti-virus
(misalnya asiklovir).
Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas
microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari
depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.
Antibiotika yang direkomendasikan untuk N. gonnorrheae
a. Cefixime 400 mg oral
b. Ceftriaxone 250 mg IM
c. Ciprofloxacine 500 mg oral
d. Ofloxacin 400 mg oral
Keempat antibiotika diatas diberikan dalam dosis tunggal. Infeksi gonorrheae
sering diikuti dengan infeksi chlamydia. Oleh karena itu perlu ditambahkan
antibiotika anti-chlamydial seperti :
a. Azithromycin, 1 gr oral (dosis tunggal)
b. Doxycycline 100 mg oral 2 kali sehari selama 7 hari
c. Erythromycine 500 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari Ofloxacin 200 mg
oral 2 kali sehati slama 7 hari

11

2.7 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pria berupa prostatitis, vesikulitis,
epididimitis, dan striktur urethra. Sedangkan pada wanita komplikasi dapat berupa
Borthlinitis, praktitis, salpingitis, dan sistitits. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah
dilaporkan.
2.8 Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian.
1. Identitas
- Usia

: Semua usia bisa terkena penyakit ini, biasanya lebih sering pada

umur >45 thun.


- Jenis kelamin : Perempuan lebih rentan terkena uretritis dibanding laki-laki.
- Alamat/tempat tinggal :

Tempat/daerah yeng sering terjadi/sebagai faktor

resiko peyebaran, seperti daerah lokalisasi, daerah perairan, dsb.


2. Riwayat Penyakit
- Riwayat penyakit sekarang : Masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri dan
panas pada daerah kelamin terutama pada saat berkemih, kadang juga disertai
darah dan nanah.
-

Riwayat penyakit dahulu : Penyebab penyakit biasanya akibat dari penyakit


DM,

3. Observasi & Pemeriksaan Fisik


1. Observasi Tanda-tanda Vital
-

S : Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)

N : Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)

RR : Pernafasan normal (18-20 x/mnt)

TD : Tekanan darah normal (110/70-130/90 mmHg)

2. Pemeriksaan Fisik
a). Pemeriksaan S.Pernafasan
- Pernafasan pendek, karena menahan nyeri (nyeri daerah simpisis pubis)

12

b). Pemeriksaan S.Kardiovaskuler


- Tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler
c). Pemeriksaan S.Persepsi-sensori
- Tidak ada gangguan pada sistem persersi-sensori
d). Pemeriksaan S.Muskulus
- Tidak ada gangguan pada sisitem muskulus
e). Pemeriksaan S.Pencernaan
- Abdomen tegang dan nyeri tekan pada daerah simpisis pubis/perut bagian
bawah.
f). Pemeriksaan S.Perkemihan
- Nyeri dan panas saat berkemih
- Terjadi disuria, hematuria, & piuria
- Mukosa memerah dan edema
- Terdapat cairan eksudat yang purulent
- Ada ulserasi pada uretra
- Adanya rasa gatal yang menggelitik
- Adanya pus pada awal miksi
- Kesulitan untuk memulai miksi
- Nyeri pada abdomen bagian bawah

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada uretra
2. Gangguan

perubahan

eliminasi

urine

berhubungan

denganobstruksi/edema/proses peradangan pada saluran kemih.


3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada saluran kemih.
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap penyakit
5. Resiko infeksi berhubungan dengan penyebaran patogen secara sistemik

c. Intervensi
1.

Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada uretra

13

Tujuan : rasa nyeri bisa berkurang / hilang.


Kriteria Hasi l:
- Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
- Tidak ada nyeri abdomen bawah / daerah simpisis pubis
- Mukosa uretra tidak memerah / edema
- Tidak ada nyeri saat berkemih
- Ekspresi wajah tenang
DS : Px biasanya mengeluh nyeri dan panas pada daerah kelamin terutama
pada saat berkemih.
DO : - Ekspresi wajah meringis, menahan nyeri
- Px sering memegang kelamin, sering memegang perut bagian bawah
& sering menggaruk-2 daerah kelamin

Intervensi :
a). Mandiri :
1. Kaji tingkat nyeri, lokasi & intensitas
R/ : Untuk membantu mengevaluasi tempat obstruksi & penyebab nyeri
2. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan
R/ : Meningkatkan relaksasi & menurunkan tegangan otot
3. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
R/ : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri
4. Pantau pola berkemih secara berkala
R/ : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan / pengunduran gejala /
penyakit.
b). Kolaborasi :
1. Berikan analgetik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri

2. Gangguan perubahan eliminasi urine berhubungan denganobstruksi/edema/proses


peradangan pada saluran kemih.

14

Tujuan : Px dapat mempertahankan pola eliminasi urine / BAK secara adekuat


Kriteria Hasil :
1.

Klien dapat berkemih / BAK secara lancar

2.

Klien tidak kesulitan saat berkemih

3.

Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih


(seperti : disuria, piuria, & hematuria)

DS : Px biasanya mengeluh kesulitan untuk memulai miksi / berkemih


DO : - Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
Intervensi :
a). Mandiri :
1. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine
R/ : Memberikan dan mengetahui informasi tentang fungsi ginjal dan
adanya komplikasi
2. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
b). Kolaburasi :
1. Awasi pemeriksaan laboratorium (elektrolit, BUN, keratinin)
R/ : Pengawasan terhadap disfungsi ginjal

3. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada saluran kemih.


Tujuan : Suhu tubuh normal (36,5-37,2 C)
Kriteria Hasil :
1.

Pasien bebas dari demam

2.

Pasien mengatakan tubuh tidak terasa panas

3.

Mukosa uretra tidak memerah / edema

4.

Suhu tubuh dan nadi normal

5.

Ekspresi wajah tenang/tidak menyeringai

DS : Px biasanya mengeluh tubuh terasa panas


DO : - Ekspresi wajah meringis/menyeringai

15

- Suhu meningkat (biasanya antara 37,5-38,5 C)


- Nadi meningkat (biasanya >100 x/mnt)
Intervensi :
1.

Kaji timbulnya demam


R/ : Untuk mengidentifikasi pola demam pasien

2.

Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, & pernafasan)


R/ : Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum
pasien

3.

Anjurkan pasien untuk banyak minum


R/ : Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang
banyak

4.

Berikan kompres hangat


R/ : Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang dapat
mempercepat penurunan suhu tubuh.

4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap penyakit


Tujuan : Pasien dapat merasa nyaman dan tidak takut
Kriteria Hasil :
1.
2.

Klien merasa nyaman


Klien megetahui tentang penyakitnya

Intervensi :
1.

2.

Kaji ulang proses penyakit dan harapan masa dating


R/ : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat
membuat pilihan berdasarkan informasi.
Mendengar dengan aktif tentang program terapi perubahan pola
hidup
R/ : Membantu pasien bekerja melalui perasaan dan meningkatkan
rasa control terhadap apa yang terjadi.

5. Resiko infeksi berhubungan dengan penyebaran patogen secara sistemik


Tujuan : Tidak ada tanda tanda infeksi
16

Kriteria Hasil :
1.

Urine berwarna orange jernih / normal

2.

Urine tidak mengandung / bercampur darah dan nanah

DS : Px biasanya mengeluh waktu berkemih disertai darah dan nanah


DO : - Adanya sekret / lendir / pus pada awal miksi
- Mukosa merah dan edema pada uretra / saluran kemih
- Urine berwarna merah
Intervensi :
a). Mandiri :
1. Tingkatkan kebersihan yang baik pada pasien, keluarga dan tenaga
kesehatan
R/ : Menurunkan resiko kontaminasi silang
2. Awasi / pantau tanda-tanda vital
R/ : Demam dengan peningkatan nadi dan pernafasan & tanda vital
merupakan acuan untuk mengetahui kaeadaan umum pasien
3. Dorong peningkatan pemasukan cairan
R/ : Meningkatkan hidrasi untuk membilas bakteri
4. Berikan perawatan parineal
R/ : Dapat mencegah kontaminasi uretra
b). Kolaborasi :
1. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine (Tingkatkan masukan
sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan asam urine)
R/ : Asam urine menghalangi, membunuh / mengurangi tumbuhnya
kuman, peningkatan masukan sari buah dapat berpegaruh dalam
pengobatan infeksi.
2. Berikan antibiotik sesuai kebutuhan & evaluasi keberhasilannya
R/ : Dapat mencegah/mengurangi kolonisasi periuretra agar tidak
terjadi kekambuhan infeksi.

17

2.9 Pathway

Invasi kuman bakteri


(Gonorrhoe, Trihomonas Vaginalis,
Orgnisme gram Negatif)

Iritasi
(Iritasi Batu Ginjal, Iritasi Karena
Tindakan Invasif

Respon traumatic pada Uretra

Ketidak mampuan pertahanan


local terhadap infeksi

Penempelan bakteri pada


Uretra

HIPERTERMI

Ketidkmampuan dalam proses


transmisi penyakit

Resiko tinggi penularan


penyakit

URETRITIS

Reaksi infeksi inflamasi local


nyeri iritasi saluran kemih

NYERI

Pisuria,
Disuria

Kurang pengetahuan
RESIKO
INFEKSI

GANGGUAN
ELIMINASI URIN

ANSIETAS

18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Uretritis yaitu inflamasi pada uretra, keadaan ini kerap kali merupakan
gejala penyakit gonore, dapat pula disebabkan oleh mikroorganisme. (Barbara. 2005)
Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra (Anonym 1997).
Urethritis juga merupakan salah satu sindroma dari penyakit menular seks(PMS)
urethritis secara spesifik dapat terbagi 2 yaitu gonococal urethritis dan nongonococal
urethritis.
Penyebab dari urethritis adalah : Kuman Gonorrhoe (N.Gonorhoe), Kuman
Non-Gonorrhoe (Klamidia Trakomatik / Urea Plasma Urelytikum) Tindakan invasif,
Iritasi batu ginjal, Trihomonas vaginalis, Organisme gram negative

3.2 Saran
Penyakit uretritis adalah suatu penyakit yang berbahaya diharapkan kepada:
1. Mahasiswa
Diharapkan kepada rekan-rekan untuk lebih giat membaca literature yang
berhubungan dengan penyakit Uretritis
2. Institusi
Diharapkan kepada Pihak Institusi untuk dapat menambah literature yang
berhubungan dengan penyakit Uretritis.

19

DAFTAR PUSTAKA
Anonym

: 2009. Uretritis Non-Gonokokal. Diakses dari (http://wowomm.blogspot.com/2009/02/uretritis-non-gonokokal.html. pada tanggal 26


Oktober 2014.
Siswantoro, Agus: 2012. Sistem Perkemihan Askep Uretritis. Diakses dari
http://sehat-sakit-stikes.blogspot.com/2012/07/askep-uretritis.html.
pada
tanggal 26 Oktober 2014.

20