Anda di halaman 1dari 57

LOKASI :

DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

CV.CIPTANUSAENDAH

KONSULTAN TEKNIK, PERENCANAAN DAN MANAJEMEN


Jl. Raya Panembahan No.24 Plered Cirebon Telp.(0231) 320366

INKINDO.8827 / P / 57 9.J B

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

KATA PENGANTAR
Laporan Akhir Penyusunan Community Action Plan, kami sajikan dalam rangka
memenuhi kewajian yang harus dilaporkan dari kegiatan pelaksanaan Program
Penyusunan Rencana Tindak Komunitas Dalam Rangka Peningkatan Kualitas
Perumahan dan Permukiman Oleh Masyarakat Secara Mandiri (Community Action
Plan) Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut.
Mengingat jenis pekerjaan yang sedang ditangani mempunyai keistimewaan
khususnya dalam keterlibatan masyarakat bawah (bottom up), maka diperlukan
kesiapan para tenaga yang terlibat baik siang maupun malam untuk siap setiap
saat.
Hal ini jelas sangat jauh berbeda dengan model-model pendekatan yang
selama ini bejalan yang cenderung bersifat top down dan kurang mengenai sasaran.
Sasaran utama yang hendak dicapai dalam program ini tidak lain adalah mencoba
untuk merubah perilaku dan pandangan masyarakat yang selama ini ada dalam
pikirannya bahwa sarana dan prasarana lingkungan merupakan kewajiban
pemerintah dicoba untuk dirubah bahwa menjaga dan memelihara bahkan
membangun sarana dan prasarana lingkungan merupakan kewajiban masyarakat itu
sendiri.
Mengingat bahwa penyertaan masyarakat dalam mengelola lingkungannya bukanlah
hal yang sederhana, maka jadual kegiatan yang sudah terjadwalkan memungkinkan
sekali berubah sehingga akan mengakibatkan penyimpangan waktu pelaksanaan.
Oleh karena itu perlu adanya batas-batas toleransi yang disepakati oleh pihak proyek
agar usaha maksimal yang akan dicapai dari program ini dapat dipenuhi.

PT. TRICON INTER MULTIJASA

Ir. DIEDI A HANAN


Direktur

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Halaman
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

I1

1.2

Tujuan dan Sasaran Penerapan CAP

I- 2

1.3

Metodelogi Pendekatan dan Prinsip Pengelolaan

I- 2

1.4

Ruang Lingkup

I- 4

1.4.1

Lingkup Kawasan

I- 4

1.4.2

Lingkup Materi

I- 4

PROFIL DESA BAGENDIT


2.1

Kebijaksanaan Regional

II 1

2.2

Kebijaksanaan Sektoral

II - 1

2.3

Karakteristik Fisik Kawasan

II - 2

2.4

Karakteristik Sosial dan Kependudukan

II - 2

2.5

Karakteristik Ekonomi

II - 5

2.6

Kondisi Prasarana dan Sarana

II - 5

2.7

Kondisi Sosial Budaya

II - 6

2.8

Persepsi Aspirasi dan Peran Serta Masyarakat Terhadap


Pembangunan

BAB III

II - 7

METODE PENDEKATAN DAN PROGRAM PENANGANAN


3.1

3.2

Metode Pendekatan

III 1

3.1.1

Pendekatan Substansi

III- 1

3.1.2

Pendekatan Penanganan Permukiman Kumuh

III- 3

3.1.3

Pendekatan Program Pelaksanaan Pekerjaan

III- 5

3.1.4

Rencana Tindak Komunitas (Community Action Plan)

III- 6

Program Penanganan Pekerjaan

III- 7

3.2.1

Persiapan

III- 7

3.2.2

Identifikasi Lingkungan Permukiman Kumuh

III- 7

3.2.3

Identifikasi Faktor Lingkungan Permukiman Kumuh

III- 8

3.2.4

Kapasitas Penanganan

III- 9

ii

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

BAB IV

BAB IV

ANALISIS RENCANA TINDAK MASYARAKAT SECARA MANDIRI


4.1

Analisis Masalah

IV 1

4.2

Konsep Penanganan

IV - 5

4.3

Rancangan Program

IV - 7

LINGKUP DAN HASIL PELAKSANAAN PENYUSUNAN CAP


5.1

Lingkup Pelaksanaan

V 1

5.2

Urutan Materi Pelaksanaan Kegiatan

V - 4

5.3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

V - 4

5.4

Proposal Kegiatan

V - 9

5.4.1

Kegiatan Penanganan Rumah Kumuh yang Telah Berjalan

V 17

5.4.2

Usulan Kegiatan

V - 19

iii

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

TABEL V.1 Laporan Kegiatan Bulanan Program CAP Desa Bagendit Kec. Banyuresmi
Kabupaten Garut Periode 8 Nopember-8 Desember 2003

V - 7

TABEL V.2 Matrik Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) Desa Bagendit
Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut Tahun 2004 2008

V 11

TABEL V.3 Matrik Rencana Program Jangka Menengah Sektor Prasarana Jalan Lingkungan Dan Gang Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut V 13
TABEL V.4 Matrik Rencana Program Jangka Menengah Sektor Prasarana Saluran
Drainase/ Limbah rumah Tangga Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi
Kabupaten Garut
Tabel V.5

V -16

Daftar Nama Anggota Masyarakat Penanganan Rumah Kumuh Kp.


Cibinuang Rw 09 Dan Kp. Bantarjati Rw. 08 Hasil Swadaya
Masyarakat Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut

Tabel V.6

V -17

Daftar Nama Anggota Masyarakat Program Ajuan Penanganan Rumah


Kumuh Kp. Cibinuang Rw 09 Dan Kp. Bantarjati Rw 09 Desa Bagendit
Kecamatan Banyuresmi

V - 19

iv

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Gambar 2.1 Peta Orientasi Kegiatan CAP Desa Bagendit

II - 7

Gambar 2.2 Rencana Program Pembangunan Jalan Penghubung

IV - 6

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

1.1. Latar Belakang


Secara garis besar upaya penanganan masalah lingkungan permukiman
ataupun perkotaan dapat didekati dengan 2 (dua) kegiatan bertingkat. Kedua
kegiatan tersebut satu sama lain mempunyai keterkaitan yang saling mengikat untuk
mendapatkan hasil masksimal, yaitu :
Pertama, menyangkut upaya pemahaman permasalahan dan pengenalan pendekatan
pemecahannya. Hal ini jelas dibutuhakan penelitian yang mendalam,
pengembangan dan penyebar luasan upaya-upaya yang berguna untuk
menemukenali pendekatan yang paling efektif dalam memecahkan
masalah di atas, dan kemudian ditindaklanjuti dengan menyakinkan pada
pengelola kota untuk memanfaatkannya.
Kedua,

dibutuhkan semacam reformasi kebijakan dalam mengisi rumusan


strategi manajemen lingkungan permukiman ataupun perkotaan dan
program tindaknya dengan mempertimbangkan dan melibatkan
semaksimal mungkin keberadaan masyarakatnya.

Dari berbagai pengalaman khususnya pada negara-negara berkembang


menunjukkan bahwa pendekatan efektif untuk menghadapi isyu-isyu lingkungan
perkukiman atau perkotaan adalah dengan memformulasikan strategi menajemen
lingkungan permukiman atau perkotaan dan program tindaknya dengan
menitikberatkan kepada komponen sosial ekonomi budaya setempat.
Pendekatan strategik perencanaan dan manajemen lingkungan permukiman
atau perkotaan yang dianjurkan dari berbagai hasil kajian serta berbagai pengalaman
dan penelitian berbasis pada partisipasi aktif masyarakat, komitmen dan prioritas
pilihan kebijaksanaan intervensi yang efektif (fasilitatif).
Berkaitan dengan itu ada 6 (enam) kebijaksanaan dalam pendekatan yang
perlu ditindaklanjuti :
a. Dukungan dan partisifasi aktif masyarakat;
b. Kebijaksanaan intevensi;
c. Pemberian pelayanan/fasilitasi;
d. Kemampuan institusional;
e. Pengenalan mengenai lingkungan permukiman/perkotaan; dan
f. Perencanaan strategik.
Salah satu yang perlu kita kaji dalam kaitan diatas adalah keberadaan
lingkungan permukiman kumuh yang jelas mencerminkan ketidaksejahteraan
masyarakat. Padahal, hakekat pembangunan daerah, adalah mensejahterakan

I- 1

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

masyarakat. Oleh karena itu, penangangan masalah lingkungan permukiman kumuh


mestinya diprioritaskan.
Kawasan Situ Bagendit, khususnya Desa Bagendit merupakan salah satu
kawasan yang mempunyai beberapa lokasi permukiman kumuh. Persoalan
permukiman kumuh ini bersifat kompleks, karena tidak hanya sebatas segi fisik
lingkungan, tetapi terkait juga dengan dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi
para penghuninya. Disamping itu, persoalan lingkungan permukiman kumuh juga
bersifat dilematis, Di satu sisi lingkungan permukiman kumuh yang ada saat ini
relatif luas, sementara itu di sisi lain kecenderungan tumbuhnya lingkungan
permukiman kumuh teramati pula menggejala berkembang di berbagai pelosok.
Artinya tantangan yang dihadapi Kabaupaten Garut tidak hanya sebatas menata
llingkungan permukiman kumuh yang ada agar layak huni, tetapi juga mencegah
kecenderungan perluasan permukiman kumuh. Dengan demikian, permasalahan
lingkungan permukiman kumuh dapat diminimalisir.
1.2

Tujuan dan Sasaran Penerapan CAP

Penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh bertujuan menata


permukiman kumuh menjadi lingkungan yang layak huni, sekaligus mencegah
tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh baru. Dengan demikian, diharapkan
Kabupaten Garut dapat terbebas dari keberadaan lingkungan permukiman kumuh.
Sasarannya, adalah memberdayakan masyarakat agar mampu berperan aktif
serta sebagai pelaku utama dalam penataan lingkungan permukiman. Namun
mengingat beratnya tantangan yang dihadapi, padahal kemampuan pemerintah
daerah dan masyarakat terbatas, kiranya perlu penggalangan kemitraan dengan
berbagai pihak khususnya masyarakat Desa Bagendit itu sendiri.

1.3 Metodologi Pendekatan dan Prinsip Pengelolaan


Suatu lingkungan permukiman menjadi kumuh setelah melalui proses pertumbuhan dalam kurun waktu tertentu. Hampir mustahil lingkungan permukiman sekonyong-konyong menjadi kumuh. Hampir mustahil pula lingkungan permukiman menjadi kumuh, jika sejak awal telah diarahkan dan dikendalikan pertumbuhannya.
Dalam kaitan itu, penataan ruang lazim digunakan sebagai instrumen untuk
mengarahkan dan mengendalikan perkembangan wilayah, termasuk pertumbuhan
perumahan dan permukiman. Keberadaan lingkungan permukiman kumuh yang
cenderung meluas, jelas mengindikasikan ketidakefektifan penataan ruang. Artinya,
penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh selayaknya didekati melalui
penataan ruang yang dilandasi oleh partisipasi aktif masyarakat setempat.
Adapun lingkup penanganannya meliputi:

I- 2

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Pendekatan Program
Dalam rangka mewujudkan suatu lingkungan permukiman yang layak huni
maka pendekatan yang digunakan akan didasarkan kepada ;
Partisipasi
aktif
masyarakat
dalam
pengendalian dan pelestarian program;

perencanaan,

pelaksanaan,

Penggalangan keswadayaan masyarakat.


Pemberdayaan terhadap masyarakat pemakai (sosial-ekonomi-budaya).

Prinsip Pengelolaan
Prinsip-prinsip pengelolaan harus didasarkan kepada ;
Pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan
masyarakat (acceptable);
Pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh
masyarakat (transparant);
Pengelolaan kegiatan harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat
(accountable);
Pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat
secara berkelanjutan, baik dalam lingkungan internal maupun eksternal
(sustainable).

Pengefektifan Penataan Ruang


Penataan ruang diefektifkan untuk mencegah tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh. Keefektifan penataan ruang berpangkal pada rencana tata ruang
sebagai acuan pemanfaatan ruang maupun pengendaliannya. Oleh karenanya,
rencana tata ruang perlu disiapkan secara menyeluruh, operasional dan
legitimate.
Dalam kaitan itu, rencana tata ruang sepatutnya disusun secara partisipatif,
yaitu melibatkan masyarakat secara proporsional. Metode ini, selain
menghasilkan rencana tata ruang yang lebih legitimate, juga menghemat biaya
konsultan sehingga rencana dapat disiapkan secara menyeluruh dalam waktu
relatif singkat.
Di samping itu, perencanaan tata ruang partisipatif dapat dijadikan sarana
pemberdayaan masyarakat. Masyarakat dapat lebih memahami mekanisme
dan seluruh aspek pembangunan daerah. Tentunya, dalam hal ini, termasuk
pemahaman pentingnya partisipasi mewujudkan lingkungan permukiman yang
layak huni;

I- 3

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh


Penanganan lingkungan permukiman kumuh diawali peninjauan kesesuaian peruntukan tata ruang. Dalam hal ini, ada tiga kemungkinan, yaitu telah sesuai

dengan rencana tata ruang, tidak sesuai dengan rencana tata ruang atau
rencana tata ruang belum tersedia sebagaimana mestinya (operasional dan
legitimate).
Dari tiga kemungkinan di atas, barulah dirancang bentuk penanganan suatu
lingkungan permukiman kumuh. Jika memang telah sesuai dengan rencana
tata ruang, misalnya, lingkungan permukiman dapat ditata dengan
memperbaiki struktur maupun kondisi (sediaan dan mutu) unsur-unsur
lingkungan bersangkutan.
Namun, jika keberadaan suatu lingkungan permukiman kumuh tidak sesuai dengan rencana tata ruang, maka setidaknya terdapat dua pilihan. Pertama,
lingkungan permukiman tersebut direlokasi. Kedua, rencana tata ruang yang
direvisi jika memang sudah tidak sesuai lagi dengan dinamika perkembangan
wilayah.
Kemungkinan terakhir, di lokasi suatu lingkungan permukiman kumuh berada,
belum tersedia rencana tata ruang. Dalam hal ini, penataan lingkungan
permukiman kumuh itu dapat saja ditunda. Namun, dapat juga dilakukan
secara simultan, dalam arti dijadikan bagian dari proses penyusunan rencana
tata ruang.
1.4
Ruang Lingkup
1.4.1 Lingkup Kawasan
Ruang lingkup kawasan yang akan dijadikan sebagai lokasi kegiatan RPJM
CAP yaitu kawasan yang berada di Kawasan Situ Bagendit terutama Desa Bagendit.
Hal ini dimaksudkan supaya program ini tepat sasaran dan lebih aplikatif serta dalam
perumusan kegiatan programnya lebih terakomodir dan terorganisir dengan baik.

1.4.2 Lingkup Materi


Lingkup materi kegiatan Penyusunan Rencana Tindak Komunitas dalam
rangka Peningkatan Kualitas Kawasan Perumahan dan Permukiman oleh Masyarakat
Secara Mandiri (Community Action Plan), secara garis besar akan terdiri dari :
a. Persiapan
b. Sosialisasi I
c. Rembug Warga I
d. Sosialisasi II
e. Inventarisasi
f. Rembug Warga II
g. Koordinasi

I- 4

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

h. Rembug Warga III


i. Pelaksanaan
j. Pengelolaan dan Pemeliharaan
Sedangkan lingkup materi yang berbentuk laporan Penyusunan Rencana
Tindak Komunitas dalam rangka Peningkatan Kualitas Kawasan Perumahan dan
Permukiman oleh Masyarakat Secara Mandiri (Community Action Plan) akan teridiri
dari :
a. Laporan Pendahuluan
b. Konsep Laporan Akhir
c. Laporan Akhir, terdiri dari :
Laporan Progres kegiatan
Laporan Penyusunan CAP.
d. Laporan Profil Kegiatan
e. Laporan Pra Detail Engineering Design
Gambar Teknis
Engineering Estimate, RKS dan Spec Teknis
f. Laporan Pelaksanaan SKS dan Rembug Warga
g. Laporan Penyiapan Masyarakat dan TPM
h. Leaflet Hasil Pelaksanaan.

I- 5

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

2.1

Kebijaksanaan Regional
Sesuai dengan salah satu visi Kabupaten Garut Yaitu Pangirutan dengan
maksud utama yaitu sebagai daya tarik yang positif, terutama disektor wisata.
Demikian pula dengan salah satu misi yakni mewujudkan Garut sebagai daerah
wisata yang disertai pelestarian dan pengembangan seni budaya lokal.
Keberadaan Situ Bagendit dalam konteks regional merupakan salah satu
kawasan yang dapat memacu berkembangnya pertumbuhan sosial ekonomi dalam
konstelasi sebagai arahan kawasan wisata alam melalui penataan yang terencana
serta pengembangan yang disesuaikan dengan skala prioritas pada kawasan
tersebut.
Berdasarkan kebijaksanaan pengembangan wilayah Kabupaten Garut, wilayah
perencanaan merupakan wilayah administratif Kecamatan Banyuresmi yang
termasuk Wilayah Pengembangan (WP) Utara, meliputi 19 (sembilan belas)
Kecamatan, yaitu : Karut Kota, Tarogong, Karangpawitan, Wanaraja, Banyuresmi,
Bayongbong, Cilawu, Cibiuk, Leuwigoong, Balubur, Limbangan, Selaawi, Kadungora,
Leles, Karang Tengah, Malangbong, Sukawening, Sibatu, Samarang dan
Kersamanah. Dengan pusat pertumbuhan pada Kecamatan Garut Kota.
Berdasarkan hirarki pusat pemukiman di Kabupaten Garut, Kecamatan
Banyuresmi termasuk pada orde kota III sebagai pelayanan terbatas di tingkat
Kecamatan, dan berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintah serta pusat
perhubungan dan komunikasi, serta berfungsi pula sebagai penggerak pertumbuhan
dari daerah hinterland (belakang) yang memiliki akses terbatas pada pelayanan sub
pusat regional.

2.2

Kebijaksanaan Sektoral
Wilayah perencanaan merupakan salah satu yang memperoleh kebijaksanaan
pengembangan di beberapa sektor yaitu :
-

Sektor Pendidikan
Kecamatan Banyuresmi merupakan salah satu Kecamatan yang difungsikan bagi
pengembangan sektor pendidikan dan keagamaan

Sektor Perekonomian
Untuk sektor perekonomian, difungsikan pula sebagai pengembangan sektor
perdagangan dan jasa (home industri).

II - 1

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Sektor Pariwisata
Kawasan Situ Bagendit dalam Kecamatan Banyuresmi memperoleh arahan dari
kebijaksanaan Pengembangan Wilayah Kabupaten Garut dalam sektor pariwisata
yaitu sebagai pengembangan kawasan pariwisata dan konservasi alam serta
pengembangan seni budaya lokal yang terdapat di Kabupaten Garut.

Sektor Pertanian dan Perkebunan


Kecamatan Banyuresmi diarahkan sebagai kawasan pengembangan dan
penelitian serta pengolahan hasil pertanian maupun perkebunan, dengan sistem
uji coba, maka Kecamatan Banyuresmi merupakan salah satu kantong
swasembada pangan khususnya untuk Kabupaten Garut.

2.3

Karakteristik Fisik Kawasan

Desa Bagendit berada di bagian barat Situ Bagendit dengan keadaan


morfologinya dari dataran datar sampai bergelombang dengan kemiringan 0 8 %,
lahan tersebut pada umumnya terletak pada kawasan pesawahan, sedangkan untuk
ladang umumnya menempati lahan-lahan perbukitan dengan kemiringan antara 9
25 %.
Desa tersebut berada pada lingkup Kecamatan Banyuresmi termasuk
kawasan daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk dengan lebar sungai + 40 meter,
selain sungai besar terdapat sungai-sungai kecil yaitu Sungai Cibuyutan lebar sungai
+ 4 meter dan Sungai Ciojar dengan lebar sungai + 4 meter. Air tanah dangkal yang
ada pada umumnya dimanfaatkan sebagai sumber air bersih dengan cara
pembuatan sumur gali mempunyai kedalaman yang bervariasi antara 5 sampai 15
meter. Untuk kondisi air tanah dalam pada umunya mempunyai kuallitas baik serta
kuantitas baik yaitu dengan debit air yang cukup besar.
Komposisi penggunaan lahan sampai tahun 2000 masih didominasi oleh lahan
pertanian sawah 60,98 % (133 Ha), diikuti oleh lahan pemukiman 14,28 % (31,152
Ha). Seiring dengan perkembangan penduduk serta kegiatannya lahan pemukiman
akan mengalami perkembangan juga terutama area yang dekat dan mudah
pencapaian terhadap lokasi kegiatan (lihat tabel II.1).

2.4

Karakteristik Sosial dan Kependudukan

Jumlah penduduk Desa Bagendit pada tahun 2000 mencapai 3.995 jiwa
dengan tingkat kepadatan 19 jiwa/Ha. Dari jumlah tersebut 44,11 % nya mempunyai
mata pencahariran dan proporsi yang terbesar penduduk yang bermata pencaharian
sebagai petani dan buruh tani 73.7 % sedangkan sisanya termasuk kedalam mata
pencaharian formal maupun non formal (lihat tabel II.2).

II - 2

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

TABEL II.1
JENIS PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN DESA BAGENDIT

JENIS
PENGGUNAAN LAHAN

NO

LUAS LAHAN (HA)

1.

Pemukiman

31,152

14,284

2.

Perkantoran

3,445

1,580

3.

Pendidikan

0,507

0,232

4.

Peribadatan

1,500

0,688

5.
6.

Kesehatan
Pasar/Perdagangan

0,010
0,290

0,005
0,133

7.

Terminal

8.

Perindustrian

9.

0,200

0,092

Pertanian (Sawah)

133,000

60,983

10.

Pertanian (Ladang)

20,822

9,547

11.
12.

Perikanan
Tanah Kas Desa

0,050
1,418

0,023
0,650

13.

Tegalan Lahan Kosong

13,900

6,373

14.

Jaringan jalan

6,500

2,980

15.

Lapangan Olah raga

1,800

0,825

16.

Kuburan

3,500

17.

Lain-lain

1,605

JUMLAH

218,094

100,000

Sumber : Potensi dan Profile Desa Tahun 2000

TABEL II.2
JUMLAH PENDUDUK MENURUT MATA PENCAHARIAN
DI KAWASAN DESA BAGENDIT

NO

JENIS MATA PENCAHARIAN

JUMLAH
(JIWA)

1.

PNS/ABRI

27

1,532

2.

Peg. Swasta (BUMN)

0,397

3.

Pensiunan

0,000

4.

Guru

24

1,362

5.

Dokter

0,057

6.
7.

Bidan
Mantri/Perawat

1
1

0,057
0,057

8.

Paraji

0,227

9.

Pedagang

10.

Petani

43

2,440

600

34,052

11.

Peternak

12.
13.

Pengrajin
Buruh tani

0,454

9
700

0,511
39,728

14.
15.

Buruh tambang

0,341

Sopir/ojeg/sais

16

0,908

16.

Tukang cukur

300

17,026

17.

Tukang kayu/batu

12

0,681

18.
19.

Tukang jahit
Lain-lain

3
0

0,170
0,000

JUMLAH

1.762

100,00

Sumber : Potensi dan Profile Desa Tahun 2000

II - 3

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Menurut struktur tingkat pendidikan jumlahnya mencapai 1441 jiwa dari


total jumlah penduduk. Untuk tamatan SD mencapai 40,9 %, SLTP 30,39 %, SLTA
25,12 % dan sisanya berada pada kelompok tidak tamat SD dan tamat
akademi/perguruan tinggi (lihat tabel II.3).

TABEL II.3
JUMLAH PENDUDUK MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN
DI KAWASAN KAJIAN DESA BAGENDIT
NO

TINGKAT PENDIDIKAN

1.

Tidak Tamat SD

2.
3.

JUMLAH (JIWA)

49

3,400

Tamat SD
Tamat SLTP

590
438

40,944
30,396

4.

Tamat SLTA

362

25,121

5.

Tamat Akademi/PT

0,139

6.

Kejar Paket

0,000

JUMLAH

1.441

100,00

Sumber : Potensi dan Profile Desa Tahun 2000

Menurut kelompok usia produktif jumlahnya mencapai 1.819 jiwa dengan


kompoisisi yang paling dominan yaitu usia produktif rentang 26 35 tahun 26,83 %
dan yang paling kecil proporsinya yaitu kelompok usia produktif rentang 46 50
tahun 10,34 % (lihat tabel II.4).

TABEL II. 4
JUMLAH PENDUDUK MENURUT USIA PRODUKTIF
DI KAWASAN KAJIAN DESA BAGENDIT

NO

USIA PRODUKTIF

1.

15 -18

443

24,354

2.

19 - 25

326

17,922

3.

26 - 35

488

26,828

4.

36 - 45

374

20,561

5.

46 - 50

188

10,335

1.819

100,00

JUMLAH

JUMLAH (JIWA)

Sumber : Potensi dan Profile Desa Tahun 2000

II - 4

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

2.5

Karakateristik Ekonomi

Kegiatan ekonomi masyarakat kawasan kajian CAP identik dengan dengan


kegiatan ekonomi Kecamatan Banyuresmi. Kegiatan tersebut terdiri sektor pertanian,
pertambangan, industri, bangunan, perdagangan, angkutan dan jasa lainnya.
Beberapa aktifitas ekonomi yang cukup menonjol seperti yang digambarkan
pada penduduk yang mempunyai mata pencaharian yaitu lebih didominasi oleh
kegiatan pertanian kemudian disamping itu kegiatan non formal yang mendukung
aktifitas perekonomian lainnya yaitu kegiatan tukang, pedagang serta angkutan.
Untuk kegiatan pertanian selain hasil dari sawah, sebagain penduduk juga menanam
jagung Hibrida, bahkan untuk wilayah Kabupaten Garut, Kecamatan Banyuresmi
merupakan sentra penghasil jangung Hibrida terbesar termasuk didalamnya Desa
Bagendit.
Sedangkan untuk potensi ekonomi Non pertanian salah satunya yang tersebar
dibeberapa Dusun yaitu adanya usaha pembuatan Bata Merah, pembuatan makanan
(kue-kue) dengan pemasaran selain lokal (setempat) sampai keluar daerah (Kota
Bandung).
Adapun potensi sumber daya alam yang belum termanfaatkan secara optimal
namun bila dioleh dan dikelola secara profesional akan mempunyai nilai ekonomi
yang tinggi seperti potensi : Ponstok (wawalinian) yang biasa dijadikan sebagai
bahan kerajinan tikar, topi dan lainnya, potensi bambu yang tersebar di hampir
setiap kampung, eceng gondok, bunga teratai dan serat pisang.

2.6

Kondisi Prasarana dan Sarana

Uraian mengenai kondisi sarana dan prasarana yang dimaksud adalah seperti
perumahan, fasilitas pelayanan, prasarana transportasi, dan utilitas.
a.

b.

Perumahan
Permanen

156 unit

Semi Permanen

412 unit

Temporer

255 unit

Rumah Sehat

623 unit

Rumah Tidak Sehat

123 unit

Fasilitas Sosial

Pendidikan
- TK

unit

- SD

unit

- SLTP

unit

II - 5

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

- SLTA

- Pos KB

unit

- Sub Pos KB

unit

- Pos Yandu

unit

- Mesjid

unit

- Musholla

unit

- Langgar/Surau

11 unit

Peribadatan

Perdagangan
unit

Aspal6

Km

Utilitas

2.7

Jaringan jalan desa

d.

unit

Kesehatan

- Kios
c.

Air bersih
- PDAM

36

KK

- Sungai

105 KK

- Sumur gali

493 KK

- Lainnya

160 KK

Air Limbah
- Jamban Umum

183 KK

- Jamban Keluarga

192 KK

Kondisi Sosial Budaya

Budaya yang sudah terbiasa pada masyarakat yang terdapat di Kawasan


Kajian pada umumnya sama dengan kawasan yang yang berada diseputaran Situ
Bagendit yaitu pemanfaatan kekayaan alamnya terutama yang berkaitan dengan
olah raga air antara lain lomba renang alam bebas, lomba dayung beregu,
ketangkasan balok kayu dan lain-lain yang kesemuanya dilakukan pada setiap harihari besar ataupun bersejarah seperti hari jadi Kota Garut, hari kemerdekaan dan
atau event-event lainnya.
Dalam bidang seni untuk masyarakat disekitar kawasan kajian tidaklah
mempunyai yang khas, masih sama seperti daerah-daerah lain di luar kawasan,

II - 6

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

kesenian khas Jawa Barat masih mendominasi walaupun seni budaya luar sudah
mempengaruhi kehidupan masyarakat.

2.8

Persepsi Aspirasi
Pembangunan

serta

Peran

Serta

Masyarakat

Terhadap

Secara umum masyarakat menginginkan adanya pembangunan dalam rangka


perbaikan lingkungan permukiman. Sebagai timbal balik dari kegiatan tersebut maka
sebagai cikal bakal partisipasi yang telah dilakukan oleh masyarakat yaitu berupa :
-

Swadaya bagi perbaikan terhadap sarana pendidikan yang ada, namun masih
belum mencukupi.

Partisipasi dalam bentuk materi yaitu berupa sumbangan sukarela.

Partisipasi masyarakat dalam bentuk material yang dapat di peroleh secara


mudah disekitar lokasi kegiatan pembangunan.

Peran serta masyarakat dalam bentuk tenaga berupa gotong-royong.

Selain partisipasi tersebut yang menjadi ciri khas lainnya yaitu partisipasi
dalam hal penanganan rumah kumuh terutama bagi masyarakat yang kurang
mampu (kaum duafa) dan masyarakat yang mendiami 1 unit rumah yang ditempati
oleh beberapa anggota keluarga. Penanganan tersebut dikelola oleh Baitul Mal hasil
bentukan beberapa anggota masyarakat yang telah dilaksanakan sejak tahun 1997.
Badan pengelola tersebut secara fakta telah ada dan berjalan namun secara hukum
dalam proses.

II - 7

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

3.1

Metode Pendekatan

3.1.1 Pendekatan Substansi


A.

Permasalahan Pengembangan Wilayah

Masalah lingkungan permukiman kumuh tidak terlepas dari kondisi perumahan


dan permukiman secara keseluruhan, sedangkan kondisi perumahan dan permukiman
terkait dengan perkembangan wilayah. Oleh karena itu, tinjauan permasalahan diawali dari perkembangan wilayah.
Kebijakan serta arah pengembangan wilayah dirumuskan melalui perencanaan
tata ruang. Rencana tata ruang umumnya mencakup kawasan budidaya dan non budidaya. Permukiman merupakan kawasan budidaya yang dikembangkan dalam bentuk
perkotaan maupun perdesaan.
Dalam perencanaan tata ruang dikaji seluruh aspek yang berkaitan dengan
ruang (wilayah beserta sumber daya yang tersedia), dinamika masyarakat (sosial,
budaya dan ekonomi) maupun pemerintahan daerah. Dengan demikian, perencanaan
tata ruang menerapkan pendekatan holistik.
Rencana tata ruang merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah
untuk jangka menengah dan panjang. Fungsi rencana tata ruang adalah melandasi
segenap kegiatan pemerintah daerah maupun masyarakat, termasuk swasta. Artinya,
rencana tata ruang mempunyai kedudukan strategis dalam proses pembangunan.
Permasalahannya, perencanaan tata ruang masih mempunyai berbagai kendala
dan keberbatasan. Akibatnya, daerah belum mampu menyiapkan rencana tata ruang
secara menyeluruh dan operasional. Rencana tata ruang yang telah disusun pun sulit
diterapkan optimal.
Mekanisme perencanaan tata ruang selama ini mengharuskan pemerintah daerah
menganggarkan biaya relatif besar. Dalam kondisi keuangan daerah yang terbatas, hal
ini tentunya menjadi kendala tersendiri. Penyiapan rencana tata ruang, akhirnya,
berjalan lamban tertinggal arus perkembangan.
Di samping itu, mekanisme perencanaan tata ruang selama ini, juga belum
melibatkan masyarakat secara proporsional. Hal ini yang menyebabkan rencana tata
ruang dalam penerapannya kurang optimal. Kenyataan menunjukkan, rencana tata
ruang yang telah disusun sulit dilaksanakan secara operasional.

III - 1

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Kelemahan perencanaan tata ruang itu, pada gilirannya, berdampak luas dalam
pemanfaatan ruang maupun pengendaliannya. Lebih jauh, penataan ruang yang
diharapkan mampu mensinergikan pertumbuhan sektoral, terbukti mengalami
kesulitan dalam menggalang keterpaduan lintas sektor.
Akibat lebih lanjut, arah perkembangan wilayah teramati lebih menonjolkan kekuatan sektoral. Pola penanganan berbagai masalah pembangunan daerah lebih bersifat pragmatis dan parsial. Fenomena ini terbukti kurang menguntungkan, karena hasil
yang dapat dicapai senantiasa tidak optimal.

B.

Masalah Perumahan dan Permukiman

Penataan ruang yang tidak efektif akibat kelemahan mulai dari tahap
perencanaan tata ruang, berdampak terhadap perkembangan perumahan dan
permukiman. Dampak paling menonjol yang teramati adalah kecenderungan
perkembangan perumahan dan permukiman yang bersifat sporadis (tidak beraturan).
Secara umum, pertumbuhan sporadis itu dicirikan intensitas pemanfaatan
lahan yang tidak merata. Perumahan memadat hanya di beberapa lokasi tertentu.
Kecenderungan perkembangan yang bersifat sporadis itu sangat berpotensi
menumbuhkan lingkungan permukiman kumuh yang meluas di berbagai pelosok.
Selaras dengan sasaran dalam kegiatan ini yaitu kawasan permukiman kumuh, maka
perlu adanya pendekatan terhadap kegiatan di lokasi Lingkungan permukiman kumuh.

C.

Masalah Lingkungan Permukiman Kumuh

Lingkungan permukiman di wilayah Kajian relatif luas, tersebar di perkotaan


maupun perdesaan. Namun, persoalannya bukan hanya itu, melainkan juga
kecenderungan tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh yang meluas di berbagai
pelosok.
Lingkungan
permukiman
kumuh
mencerminkan
ketidaksejahteraan
masyarakat. Oleh karenanya, keberadaan lingkungan permukiman kumuh perlu
dihilangkan secara berangsur, sekaligus dicegah agar tidak tumbuh meluas. Daerah
yang terbebas dari lingkungan permukiman kumuh menandakan masyarakatnya
semakin sejahtera.
Kekumuhan suatu permukiman dapat diamati dari segi fisik lingkungan secara
kasat mata. Kondisi unsur-unsur lingkungan yang ada umumnya tidak memenuhi kelayakan sebagai hunian. Dalam hal ini, serangkaian kriteria dapat diterapkan untuk
menilai tingkat kekumuhan suatu lingkungan permukiman.
Secara umum, lingkungan permukiman kumuh di wilayah Kabupaten Garut,
ditandai bangunan rumah yang padat dan tidak beraturan. Dari segi konstruksi, masih
terdapat banyak bangunan temporer yang tidak memenuhi kaidah rumah sehat. Prasarana lingkungan, sarana lingkungan dan utilitas umum sangat terbatas.
III - 2

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Di samping itu, kekumuhan suatu lingkungan permukiman juga terkait dengan


aspek sosial, budaya dan ekonomi. Para penghuni lingkungan permukiman kumuh
kerap dikatakan sebagai kelompok masyarakat marjinal. Kelompok masyarakat ini dicirikan keterpurukan ekonomi serta rendahnya mutu SDM
Di satu sisi, kemampuan ekonomi penghuni permukiman kumuh yang rendah
melemahkan swadaya dalam menata lingkungan hunian. Terlebih lagi, rendahnya
mutu SDM yang mengakibatkan sikap ketidakpedulian terhadap kondisi lingkungan
hunian. Persoalan penghuni ini bersifat kompleks dan dilematis.
Namun, di sisi lain, pemerintah daerah pun terkendala berbagai keterbatasan
dalam menata lingkungan permukiman kumuh. Kendala itu, terutama berkaitan
dengan kapasitas aparat dan keuangan daerah. Pada gilirannya, penanganan
lingkungan permukiman kumuh terkesan kurang diprioritaskan.

3.1.2 Pendekatan Penanganan Permukiman Kumuh


Dari paparan tentang permasalahan lingkungan permukiman kumuh, ada dua
hal yang patut dicermati. Pertama, berkaitan dengan kecenderungan pertumbuhan
permukiman kumuh. Kedua, berkaitan dengan keterbatasan kapasitas penanganan
lingkungan permukiman kumuh.

A.

Pendekatan Elemen Permukiman Kumuh

Lingkungan kumuh yang ada relatif luas dan cenderung memburuk kondisinya.
Sementara itu, potensi tumbuhnya lingkungan kumuh baru cukup luas, di kawasan
perkotaan maupun perdesaan. Hal ini tentu harus ditangani simultan agar daerah
berangsur terbebas dari keberadaan permukiman kumuh.
Jika diamati dari unsur-unsur lingkungan permukiman, maka prasarana
lingkungan memiliki kedudukan strategis. Selain menentukan kualitas lingkungan, juga
potensial membentuk struktur lingkungan. Dengan demikian, prasarana lingkungan
patut mendapat perhatian khusus.
Dengan pernyataan lain, penataan prasarana lingkungan dapat dijadikan
langkah awal untuk memperbaiki mutu lingkungan kumuh. Di samping itu, juga dapat
dijadikan langkah awal untuk mencegah tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh
baru yang meluas.
Untuk permukiman kumuh, kondisi prasarana lingkungan yang membaik diharapkan dapat merangsang perbaikan kondisi unsur permukiman lainnya secara
bertahap. Di kawasan yang potensial menjadi kumuh, prasarana lingkungan diharapkan mengarahkan petumbuhan perumahan.
Dengan demikian, perbaikan mutu lingkungan permukiman kumuh maupun
mencegah pertumbuhan lingkungan kumuh baru dapat dilakukan simultan. Ada pun

III - 3

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

kangkah yang ditempuh bertahap, diawali dengan penataan prasarana lingkungan


yang diharapkan diikuti perbaikan unsur permukiman lainnya.
Jika dikaitkan dengan persoalan dan tantangan yang dihadapi, maka
penanganan dituntut berkelanjutan. Dalam hal ini, masyarakat harus ditempatkan
sebagai pelaku utama. Dengan demikian, masyarakat perlu diberdayakan terlebih dulu,
guna meningkatkan kapasitasnya.
Pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara terpadu, dalam arti
mencakup aspek sosial, budaya maupun ekonomi. Persepsi masyarakat terhadap
perbaikan mutu lingkungan hunian perlu diluruskan, sekaligus diyakinkan bahwa
semua itu menjadi tanggung jawab bersama.
Selanjutnya, wawasan masyarakat tentang pentingnya lingkungan yang layak
huni serta kemampuan teknis memperbaiki kondisi permukiman, perlu ditingkatkan.
Kemampuan teknis mencakup perencanaan lingkungan, rancang bangun hingga
pembiayaan serta pengelolaan.
Sejalan dengan upaya tersebut, kemampuan perekonomian masyarakat pun
perlu ditingkatkan. Peningkatan kemampuan itu dapat ditempuh melalui perbaikan
kinerja ekonomi. Namun, selain itu, juga kiranya diperlukan pemahaman terhadap
potensi dan peluang ekonomi lainnya.
Peningkatan mutu SDM dan perekonomian masyarakat itu dituntut efisien, efektif dan berkelanjutan. Dalam hal ini, pelibatan masyarakat dalam perencanaan tata
ruang dapat menjawab tuntutan tersebut. Artinya, perencanaan tata ruang partisipatif
perlu diterapkan secara optimal.
Lebih lanjut, kiranya stimulasi masih diperlukan untuk menata kondisi fisik
maupun perbaikan ekonomi. Selain itu, juga fasilitasi manajemen dan teknik perlu
diberikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, perbaikan kondisi lingkungan
hunian bertumpu pada kapasitas masyarakat.

B.

Pendekatan Perencanaan

Perumahan dan permukiman merupakan bentuk pemanfaatan ruang. Dengan


demikian, perkembangan serta kondisi perumahan dan permukiman ditentukan
keefektifan penataan ruang. Adanya lingkungan permukiman kumuh yang relatif luas
menandakan ketidakefektifan penataan ruang.
Artinya, penanggulangan masalah lingkungan permukiman kumuh harus
dilakukan melalui pendekatan penataan ruang yang efektif. Dalam hal ini, penataan
ruang dapat diefektifkan melalui mekanisme partisipatif yang menempatkan
masyarakat sebagai pelaku utama dalam penataan ruang.
Pelibatan masyarakat dalam penataan ruang partisipatif akan meluaskan
wawasan tentang mekanisme pembangunan serta pemahaman terhadap norma

III - 4

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

lingkungan permukiman layak huni. Selain itu, masyarakat pun dapat mengetahui
potensi ekonomi serta memanfaatkan peluang yang ada.
Dengan demikian, penataan ruang partisipatif berfungsi pula sebagai instrumen
yang efektif untuk merangsang partisipasi dan memberdayakan masyarakat. Hal ini
sangat dibutuhkan untuk mengefektifkan pembangunan daerah, termasuk menangani
masalah lingkungan permukiman kumuh.
Dalam kaitan pengembangan diatas, secara garis besar metode pendekatan
Penyusunan Rencana Tindak Komunitas Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Kawasan
Peumahan dan Permukiman Oleh Masyarakat secara Mandiri (Community Action
Plan/CAP) dapat dilihat pada Gambar berikut.

3.1.3 Pendekatan Program Pelaksanaan Pekerjaan


Untuk menujang dan mengoptimalkan tercapainya sasaran perencanaan yang
akan dilakukan melalui metode pendekatan diatas, tentunya perlu ditunjang oleh
adanya langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan yang perlu dilakukan. Adpun
langkah-langkah atau lingkup kegiatan yang perlu dilaksanakan adalah sebagai berikut
:
A.

Program Pengenalan Kondisi dan Situasi

Hal-hal yang perlu di lakukan untuk dapat mengenali kondisi dan situasi adalah
dengan cara;
1.

Melakukan inventarisasi dan pengkajian terhadap kebijaksanaan pembangunan


bidang perumahan dan permukiman yang ada di daerah di selaraskan dengan
kebijakan nasional.

2.

Pengkajian terhadap isue dan permasalahan permukiman kumuh di lokasi objek


kegiatan perlu di pahami secara detail menyangkut potensi dan permasalahannya

3.

identifikasi dan kajian terhadap kebutuhan penataan setiap kawasan kumuh yang
akan
dilaksanakan
pembangunannya,
selanjutnya
perlu
perumusan
penanganannya, sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

4.

Melakukan identifikasi dan kajian terhadap jenis usaha produktif yang dapat
dikembangkan di kawasan kumuh, yang dirumuskan langkah-langkah
pengembangannya.

5.

Melakukan fasilitasi dan pendampingan masyarakat dalam Penyusunan Rencana


Tindak Komomunitas Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Kawasan Perumahan
dan Permukiman Oleh Masyarakat Secara Mandiri (Community Action Plan/CAP).

B.

Penyiapan Masyarakat

III - 5

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Penyiapan masyarakat sebagai perwujudan dari kegiatan pemberdayaan sosial


kemasyarakatan terdiri dari :
a)

Fasilitasi pelaksanaan rembug warga di tingkat kelurahan, penyelenggaraannya


diprakarsai oleh proyek, dipimpin pemerintah setempat (lurah/camat), diikuti oleh
tokoh-tokoh masyarakat dari setiapdusun/RT/RW yang ada. Forum ini untuk
mengkomunikasikan rencana peremajaan kawasan yang bersangkutan.

b) Pelatihan dalam rangka penyiapan TPM (Tenaga Penggerak Masyarakat)yang


akan menjadi inti penggerak pelaksanaan pembangunan di daerahnya.
c)

Pelaksanaan Survey Kampung Sendiri (SKS), yang dilaksanakan oleh masyarakat


menghasilkan permasalahan mendesak menurut versi masyarakat dan usulan
program serta kegiatan pemecahannya.

d) Fasilitasi Penyiapan kelembagaan


pembangunan berkelanjutan.

C.

masyarakat

yang

akan

melaksanakan

Fasilitasi Pengembangan Kegiatan Usaha Ekonomi

Pendampingan dan Penyiapan Masyarakat dalam Rangka Penyusunan CAP


pada pokoknya adalah upaya pemberdayaan sosial kemasyarakatan, pemberdayaan
usaha ekonomi lokal dan Pendaya gunaan Prasarana dan sarana Lingkungan.
Berkaitan dengan Pemberdayaan usaha ekonomi lokal maka langkah yang harus
ditumpuh adalah;
a)

Identifikasi kegiatan usaha potensial yang ada di kawasan perencanaan.

b) Bersama instansi terkait memilih dan menetapkan jenis kegiatan usaha potensial
yang akan dikembangkan.
c)

Memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan keterampilan pengembangan usaha dan


produksi, yang dilakukan bersama-sama dengan instansi teknis di tingkat
kabupaten/kota.

3.1.4 Rencana Tindak Komunitas (Community Action Plan)


Upaya penyusunan rencana tindak Komunitas adalah pendekatan yang
dilakukakn dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai produk
dari kegiatan Rembug Warga I. Kelompok ini merupakan elit grup dalam masyarakat
yang akan menentukan arahan dan keluaran CAP, menentukan dan memilih TPM. KSM
ini tidak harus membentuk baru, melainkan dapat menggunakan kelompok-kelompok
sosial kemsyarakatan yang ada/pernah ada. Kepada kelompok tersebut kemudian
diberikan muatan dibidang perumahan dan permukiman, juga dalam hal
memilih/menetapkan kegiatan usahaekonomi lokal yang akan dikembangkan. Kegiatan
ini memerlukan dukungan seluruh masyarakat yang ada di wilayah kajian. Untuk itu

III - 6

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

perlu adanya Tenaga Pendamping/Penggerak Masyarakat (TPM), juga sebagai produk


dari kegiatan Rembug Warga I. Para TPM ini :
1.

Dipilih dan ditetapkan oleh KSM sesuai kriteria yang disepakati.

2.

Akan dilatih ditingkat propinsi/kota/kabupaten, tergantung mekanisme


pendanaannya. Jumlah TPM untuk setiap lokasi kawasan tergantun urgrnsi
masalah dan luasnya daerah binaan. Idealnya setiap RW mempunyai (3-5) TPM.

3.

Kemampuan TPM minimal menyangkut 2 (dua) bidang yaitu pendampingan/


penggerakan masyarakat serta kemampuan untuk menyusun proposal
(menjembatani masyarakat dalam mengakses sumberdaya pembangunan).

4.

Kelompok usaha bersama pada tingkat akar rumput yang akan berperan sebagai
inti kegiatan usaha di kawasan tersebut. Mereka ini akan dilatih keterampilan
kewira-usahaan selain keterampilan produksi. Penyelenggaraan pelatiahan dan
penyiapan kelompok usaha bersama ini difasilitasi proyek, dilaksanakan bersama
instansi teknis yang berwenang lainnya.

5.

Matrik program lima tahunan dan DED (Rencana Detail) untuk program tahun
pertama (prioritas I).

3.2

Program Penanganan Pekerjaan

3.2.1 Persiapan
Kegiatan persiapan yang dimaksud disini adalah merupakan langkah awal yang
harus ditempuh oleh konsultan dalam upaya memenuhi kriteria penanganan
pelaksanaan pekerjaan sehingga dapat tercapai suatu sinergi yang dapat menjamin
tercapainya tujuan yang dimaksud. Kegiatan persiapan ini akan meliputi;

Mobilisasi Tenaga baik tenaga akhli maupun tenaga pendukung. Pada bagian lain,
mengingat kegiatan ini akan dilaksanakan di daerah yang bersangkutan, maka
konsultan memerlukan mobilisasi terhadap sarana yang diperlukan untuk
lkelancaran aktifitas seperti kantor perwakilan didaerah, peralatan maupun
kendaraan

Klarifikasi dan penyamaan persepsi antara konsultan dengan pihak pemberi kerja.
Tentang pekerjaan yang akan ditangani. Klarifikasi ini akan dilaksanakan dengan
melibatkan seluruh personil tenaga akhli melalui diskusi dengan tim teknis.

Penyusunan Rencana Kerja dan program kegiatan yang akan dilaksanakan di


daerah dan diaistensikan dengan pihak pemberi kerja.

Penyusunan Laporan Pendahuluan dan Diskusi

3.2.2 Identifikasi Lingkungan Permukiman Kumuh

III - 7

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Lingkungan permukiman kumuh di wilayah Garut relatif luas, tersebar di


perkotaan maupun perdesaan. Namun, persoalannya bukan hanya itu, melainkan juga
kecenderungan tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh yang meluas di berbagai
pelosok.
Lingkungan
permukiman
kumuh
mencerminkan
ketidaksejahteraan
masyarakat. Oleh karenanya, keberadaan lingkungan permukiman kumuh perlu
dihilangkan secara berangsur, sekaligus dicegah agar tidak tumbuh meluas. Daerah
yang terbebas dari lingkungan permukiman kumuh menandakan masyarakatnya
semakin sejahtera.
Kekumuhan suatu permukiman dapat diamati dari segi fisik lingkungan secara
kasat mata. Kondisi unsur-unsur lingkungan yang ada umumnya tidak memenuhi kelayakan sebagai hunian. Dalam hal ini, serangkaian kriteria dapat diterapkan untuk
menilai tingkat kekumuhan suatu lingkungan permukiman.

3.2.3 Identifikasi Faktor Lingkungan Permukiman Kumuh


Secara umum, lingkungan permukiman kumuh di wilayah kajian , ditandai
bangunan rumah yang padat dan tidak beraturan. Dari segi konstruksi, masih terdapat
banyak bangunan temporer yang tidak memenuhi kaidah rumah sehat. Prasarana
lingkungan, sarana lingkungan dan utilitas umum sangat terbatas.
Di samping itu, kekumuhan suatu lingkungan permukiman juga terkait dengan
aspek sosial, budaya dan ekonomi. Para penghuni lingkungan permukiman kumuh
kerap dikatakan sebagai kelompok masyarakat marjinal. Kelompok masyarakat ini dicirikan keterpurukan ekonomi serta rendahnya mutu SDM
Di satu sisi, kemampuan ekonomi penghuni permukiman kumuh yang rendah
melemahkan swadaya dalam menata lingkungan hunian. Terlebih lagi, rendahnya
mutu SDM yang mengakibatkan sikap ketidakpedulian terhadap kondisi lingkungan
hunian. Persoalan penghuni ini bersifat kompleks dan dilematis, di sisi lain pemerintah
daerah pun terkendala berbagai keterbatasan dalam menata lingkungan permukiman
kumuh. Kendala itu, terutama berkaitan dengan kapasitas aparat dan keuangan
daerah. Pada gilirannya, penanganan lingkungan permukiman kumuh terkesan kurang
diprioritaskan.
Lingkungan kumuh yang ada relatif luas dan cenderung memburuk kondisinya.
Sementara itu, potensi tumbuhnya lingkungan kumuh baru cukup luas, di kawasan
perkotaan maupun perdesaan. Hal ini tentu harus ditangani simultan agar daerah
berangsur terbebas dari keberadaan permukiman kumuh.
Jika diamati dari unsur-unsur lingkungan permukiman, maka prasarana
lingkungan memiliki kedudukan strategis. Selain menentukan kualitas lingkungan, juga
potensial membentuk struktur lingkungan. Dengan demikian, prasarana lingkungan
patut mendapat perhatian khusus.

III - 8

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Dengan pernyataan lain, penataan prasarana lingkungan dapat dijadikan


langkah awal untuk memperbaiki mutu lingkungan kumuh. Di samping itu, juga dapat
dijadikan langkah awal untuk mencegah tumbuhnya lingkungan permukiman kumuh
baru yang meluas.
Untuk permukiman kumuh, kondisi prasarana lingkungan yang membaik diharapkan dapat merangsang perbaikan kondisi unsur permukiman lainnya secara
bertahap. Di kawasan yang potensial menjadi kumuh, prasarana lingkungan diharapkan mengarahkan petumbuhan perumahan.
Dengan demikian, perbaikan mutu lingkungan permukiman kumuh maupun
mencegah pertumbuhan lingkungan kumuh baru dapat dilakukan simultan. Ada pun
kangkah yang ditempuh bertahap, diawali dengan penataan prasarana lingkungan
yang diharapkan diikuti perbaikan unsur permukiman lainnya. Selanjutnya hal-hal yang
perlu di identifikasi meliputi;

Melakukan identifikasi dan kajian terhadap isue dan permasalahan permukiman


kumuh di setiap kota/kabupaten objek kegiatan.

Melakukan identifikasi dan kajian terhadap kebutuhan penataan setiap kawasan


kumuh yang akan dilaksanakan pembangunannya, yang selanjutnya dirumuskan
penanganannya, sehingga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Melakukan identifikasi dan kajian terhadap jenis usaha produktif yang dapat
dikembangkan di kawasan kumuh, yang dirumuskan langkah-langkah
pengembangannya.

Menginventarisasi dan mengkaji kebijaksanaan pembangunan bidang perumahan


dan permukiman di tingkat nasional dan daerah.

3.2.4 Kapasitas Penanganan


Kapasitas penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh terkait dengan
kemampuan masyarakat, peranan pemerintah daerah serta berbagai pihak terkait lain.
Namun, semua itu, juga tidak terlepas dari kebijakan yang diterapkan untuk
meningkatkan kapasitas itu.
Jika dikaitkan dengan persoalan dan tantangan yang dihadapi, maka
penanganan dituntut berkelanjutan. Dalam hal ini, masyarakat harus ditempatkan
sebagai pelaku utama. Dengan demikian, masyarakat perlu diberdayakan terlebih dulu,
guna meningkatkan kapasitasnya.
Pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara terpadu, dalam arti
mencakup aspek sosial, budaya maupun ekonomi. Persepsi masyarakat terhadap
perbaikan mutu lingkungan hunian perlu diluruskan, sekaligus diyakinkan bahwa
semua itu menjadi tanggung jawab bersama.

III - 9

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Selanjutnya, wawasan masyarakat tentang pentingnya lingkungan yang layak


huni serta kemampuan teknis memperbaiki kondisi permukiman, perlu ditingkatkan.
Kemampuan teknis mencakup perencanaan lingkungan, rancang bangun hingga
pembiayaan serta pengelolaan.
Sejalan dengan upaya tersebut, kemampuan perekonomian masyarakat pun
perlu ditingkatkan. Peningkatan kemampuan itu dapat ditempuh melalui perbaikan
kinerja ekonomi. Namun, selain itu, juga kiranya diperlukan pemahaman terhadap
potensi dan peluang ekonomi lainnya.
Peningkatan mutu SDM dan perekonomian masyarakat itu dituntut efisien, efektif dan berkelanjutan. Dalam hal ini, pelibatan masyarakat dalam perencanaan tata
ruang dapat menjawab tuntutan tersebut. Artinya, perencanaan tata ruang partisipatif
perlu diterapkan secara optimal.
Lebih lanjut, kiranya stimulasi masih diperlukan untuk menata kondisi fisik
maupun perbaikan ekonomi. Selain itu, juga fasilitasi manajemen dan teknik perlu
diberikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, perbaikan kondisi lingkungan
hunian bertumpu pada kapasitas masyarakat.

III - 10

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

4.1 Analisis Masalah


Masalah lingkungan permukiman kumuh terkait dengan faktor ketataruangan,
faktor internal lingkungan serta faktor kebijakan dan pola penanganan. Secara
terinci, analisis ketiga faktor tersebut diuraikan berikut ini:

Faktor Ketataruangan
Masalah lingkungan permukiman kumuh yang makin kompleks dan cenderung
meluas, antara lain akibat ketidakefektifan penataan ruang. Dengan pernyataan
lain, jika penataan ruang berjalan efektif dapat dipastikan masalah lingkungan
permukiman kumuh berangsur hilang.
Keefektifan penataan ruang bergantung pada proses yang meliputi tahap perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang serta pengendalian dalam pemanfaatan
ruang. Jika semua tahapan itu berjalan efektif, maka semestinya penataan ruang
pun dapat dipastikan akan berjalan efektif pula.
Implikasinya antara lain, permukiman akan berkembang secara terarah sehingga
lingkungan kumuh dapat dieliminasi. Hal ini mengingat permukiman merupakan
bentuk pemanfaatan ruang yang bersifat dinamis. Oleh karenanya, penataan
permukiman tentu diatur dalam rencana tata ruang.
Dari beberapa pengalaman yang ada, kenyataannya menunjukkan perencanaan
tata ruang masih memiliki kendala dengan berbagai keterbatasan. Pada tingkat
kabupaten, kecamatan bahkan desa belum mampu menyiapkan rencana tata
ruang secara menyeluruh, operasional dan legitimate khususnya terhadap apa
yang diharapkan masyarakat setempat. Akibatnya, dinamika pemanfaatan ruang
yang terjadi tidak dapat diarahkan sesuai dengan rencana tata ruang yang
mengacu kepada rambu-rambu perencanaan.
Di samping itu, mekanisme pengendalian dalam pemanfaatan ruang sangatlah
lemah. Perijinan sebagai alat kendali dalam mengarahkan bentuk-bentuk ruang
yang diharapkan sulit diterapkan secara efektif. Hal ini diantaranya karena dukungan aparat yang sangat terbatas dibanding luas wilayah. Disamping itu juga
disebabkan rencana tata ruang yang dibuat pada umumnya belum menyeluruh,
operasional bahkan belum sepenuhnya melibatkan masyarakat bersangkutan
sebagai subjek maupun obyek pembangunan.
IV - 1

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Dengan demikian, penataan ruang pada tingkat yang lebih rendah hendaknya
perlu diperkenalkan yang kemudian diefektifkan terlebih dulu. Disamping itu,
dimana tahap perencanaan tata ruang berkedudukan cukup strategis. Oleh
karena itu mekanisme perencanaan yang berlangsung di dalam penyusunan
rencana tata ruang perlu disiasati sehingga penyiapan rencana tata ruang lebih
efisien dan hasilnya diketahui masyarakat serta mendapat dukungan masyarakat
setempat.
Untuk itu model perencanaan tata ruang partisipatif patut dipertimbangkan untuk
diterapkan pada masa-masa yang akan datang. Dalam metode ini, seluruh
kelompok dan komponen masyarakat dilibatkan secara proporsional kemudian
pemerintah setempat dalam hal ini intansi terkait, dituntut mampu berperan
sebagai fasilitator yang memahami terhadap kaidah dan rambu-rambu
perencanaan.
Ada beberapa kelebihan dan keuntungan perencanaan tata ruang partisipatif ini
jika dikaitkan dengan penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh, antara lain:

Rencana tata ruang yang dihasilkan lebih legitimate, karena melibatkan


masyarakat sejak awal dalam penyusunannya. Masyarakat tentu ikut
merasa memiliki, sehingga termotivasi untuk melaksanakannya. Pada
gilirannya, juga dapat dilibatkan secara aktif dalam pengendaliannya;

Pembiayaan akan relatif lebih murah, karena menghemat biaya konsultan


dan dana sosialisasi. Dengan demikian, penyiapan rencana tata ruang
secara menyeluruh dan lengkap lebih dimungkinkan dari segi anggaran.

Pelibatan masyarakat dalam perencanaan tata ruang dapat menjadi sarana


pembinaan wawasan tentang mekanisme pembangunan daerah serta aspek
pengembangan wilayah yang efektif. Hal ini mengingat perencanaan tata
ruang mencakup semua aspek pengembangan wilayah;

Jika dikaitkan dengan penataan lingkungan permukiman kumuh, perencanaan tata ruang partisipatif dapat dijadikan sarana pembinaan aspek sosial
budaya. Masyarakat diajak memahami kaidah lingkungan permukiman yang
layak huni sebagai bagian penting dari kehidupan.

Perencanaan tata ruang partisipatif menentukan keefektifan penataan


ruang. Lebih lanjut, penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh
pun menjadi lebih efektif. Paling tidak dalam hal ini, meluasnya lingkungan
permukiman kumuh dapat dicegah. Di samping itu, juga rencana tata ruang
yang dihasilkan oleh, dari, dan untuk masyarakat dapat dijadikan rujukan
dalam menentukan langkah penataan permukiman kumuh secara bersamasama.

IV - 2

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Faktor Internal Lingkungan


Kekumuhan suatu lingkungan permukiman dapat dikenali dari kondisi unsurunsurnya, antara lain rumah, sarana dan prasarana lingkungan, utilitas umum
dan ruang terbuka hijau. Untuk itu kualitas lingkungan permukiman dapat dinilai
dengan menerapkan serangkaian kriteria yang menyangkut persyaratan dasar
yang harus dipenuhi atas unsure-unsur di atas.
Namun, apapun kondisi suatu lingkungan permukiman, tentu tidak terlepas dari
karakteristik sosial, budaya dan ekonomi para penghuninya. Dengan demikian,
karakteristik para penghuni merupakan faktor yang menentukan pula tingkat kualitas suatu lingkungan permukiman.
Dengan demikian, pemahaman masalah lingkungan permukiman kumuh harus
dilakukan dari segi fisik maupun non fisik. Segi fisik mencakup seluruh unsur
lingkungan permukiman, sedangkan segi non fisik meliputi karakteristik sosial,
budaya serta ekonomi masyarakat bersangkutan.
Dari hasil pengamatan, ternyata pada lingkungan kumuh ketersediaan prasarana
lingkungan merupakan unsur lingkungan permukiman yang memiliki kondisi
(sediaan dan mutu) buruk. Prasarana lingkungan tersebut meliputi air bersih,
jalan setapak, saluran air hujan, saluran limbah rumah tangga dan persampahan.
Kondisi prasarana lingkungan yang buruk bukan hanya ada di lingkungan
permukiman kumuh saja, tetapi hampir menyeluruh. Keadaan ini jika tidak
segera ditangani, tentu semakin memperburuk kondisi lingkungan permukiman,
sekaligus menguatkan kecenderungan perluasan kekumuhannya.
Sejauh ini penataan prasarana lingkungan seolah-olah tidak bertuan, dalam arti
tidak memperoleh perhatian dari pemerintah daerah maupun masyarakat.
Masyarakat sampai saat ini umumnya masih beranggapan, bahwa penataan
prasarana lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah maupun
pemerintah pusat sepenuhnya.
Terlepas dari semua itu, prasarana lingkungan sebenarnya berkedudukan strategis. Selain berfungsi meningkatkan sanitasi lingkungan dan mobilitas penduduk,
prasarana lingkungan juga merupakan pembentuk struktur lingkungan, jadi sepatutnya diprioritaskan.
Sementara itu, unsur-unsur permukiman lainnya relatif telah memadai dari segi
kuantitas. Hanya saja, dari segi kualitas masih relatif buruk, terlebih di lingkungan permukiman kumuh. Misalnya saja untuk fasilitas ruang terbuka hijau,
teramati masih tergolong langka, padahal ketersediaan lahan masih cukup luas.
Adapun dari segi non fisik, meliputi karakteristik sosial, budaya dan ekonomi
penghuni lingkungan permukiman kumuh, dapat dijelaskan berikut:

IV - 3

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Dari segi sosial, penghuni lingkungan permukiman kumuh dicirikan rendahnya


tingkat pendidikan dan derajat kesehatan. Selain itu, wawasan tentang
kaidah lingkungan yang layak huni, juga teramati sangat rendah;
Dari segi budaya, penghuni lingkungan permukiman kumuh dicirikan oleh
perilaku yang kurang peduli, terutama terhadap kebersihan dan ketertiban
lingkungan. Hal ini tentu terkait dengan kelemahan aspek sosial;
Dari segi ekonomi, penghuni lingkungan permukiman kumuh sebagian besar
umumnya keluarga miskin. Hal ini, mempengaruhi kemampuan menata
lingkungan, terlebih dikaitkan dengan kelemahan sosial budaya.
Dengan demikian, faktor internal lingkungan permukiman kumuh yang perlu
ditangani mencakup segi fisik lingkungan maupun non fisik (aspek sosial,
budaya dan ekonomi penghuni). Dari segi fisik, penataan prasarana
lingkungan perlu dipioritaskan, diikuti perbaikan kondisi unsur lainnya.
Sementara itu, dari segi non fisik diperlukan pembinaan sosial, budaya dan
ekonomi. Pembinaan sosial budaya ditujukan untuk merangsang kepedulian,
sedangkan pembinaan ekonomi ditujukan untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat dalam memperbaiki lingkungan permukiman.

Faktor Kebijakan Penanganan


Kebijakan yang berkenaan dengan masalah lingkungan permukiman kumuh tidak
dapat berdiri sendiri artinya satu sama lain saling terkait antar satu pihak dengan
pihak lain atau satu dinas dengan dinas lain. Begitu pula halnya bahwa diantara
Kebijakan tersebut terkait dengan penataan ruang serta pembinaan SDM dan
perekonomian. Dengan demikian, diperlukan penajaman kebijakan-kebijakan
tersebut, sehingga keberpihakannya pada penanganan masalah lingkungan
permukiman kumuh lebih jelas.
Dalam kaitan dengan penataan ruang, diperlukan kebijakan untuk mendorong
penerapan metode perencanaan tata ruang partisipatif di seluruh wilayah
desa/kecamatan. Dengan demikian, kecenderungan tumbuhnya lingkungan
permukiman kumuh dapat dicegah sejak dini. Untuk lingkungan permukiman
kumuh yang ada pun memiliki rujukan dalam menentukan langkah penataannya.
Dalam kaitan dengan pembinaan SDM, diperlukan kebijakan untuk membangkitkan partisipasi masyarakat. Masyarakat perlu memahami pentingnya bermukim di lingkungan yang layak huni. Masyarakat juga perlu dirangsang agar berperan sebagai pelaku utama dalam menata lingkungan permukimannya. Dalam
hal ini, perencanaan tata ruang partisipatif merupakan sarana efektif.
Dalam kaitan dengan pembinaan ekonomi, diperlukan kebijakan untuk meningkatkan kemampuan swadaya masyarakat. Peningkatan kinerja ekonomi keluarga
penghuni lingkungan permukiman kumuh perlu diprioritaskan, karena mereka
IV - 4

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

tergolong kelompok miskin. Dalam hal ini, perencanaan tata ruang partisipatif
dapat berperan membukakan peluang pengembangan usaha masyarakat.
Dengan demikian, penataan ruang merupakan faktor kunci dalam menangani
masalah lingkungan permukiman kumuh, diikuti pembinaan SDM dan basis perekonomian masyarakat setempat. Untuk itu, kewenangan penataan ruang perlu
didukung institusi yang memiliki kemampuan koordinatif dengan tetap melibatkan
masyarakat setempat secara proposional.

4.2

Konsep Penanganan

Penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh meliputi penataan


lingkungan permukiman kumuh yang ada, sekaligus mencegah tumbuhnya
lingkungan permukiman kumuh baru. Dengan demikian, desa, kecamatan yang ada
di wilayah Kabupaten Cirebon akan terbebas dari keberadaan lingkungan
permukiman kumuh.
Penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh sangat bertumpu pada
pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama. Pendekatan yang diterapkan
dalam menangani masalah lingkungan permukiman kumuh adalah penataan ruang
dengan melibatkan masyarakat secara penuh. Adapun langkah-langkah yang harus
ditempuh adalah:

Identifikasi
Identifikasi ditujukan untuk memetakan lokasi lingkungan permukiman kumuh
maupun lingkungan permukiman yang potensial menjadi kumuh. Selain itu, juga
ditujukan untuk memahami karakteristik fisik lingkungan maupun sosial budaya
dan ekonomi para penghuninya.
Identifikasi mencakup seluruh wilayah desa, artinya lokasi lingkungan
permukiman kumuh maupun lingkungan permukiman berpotensi kumuh,
digambarkan dalam suatu peta untuk tiap-tiap kondisi lingkungannya. Hasilnya,
berupa peta tematis persebaran lokasi permukiman kumuh dan berpotensi
kumuh beserta karakteristik penghuninya.
Peta tematik hasil identifikasi tersebut, selanjutnya, perlu diperbaharui secara
rutin (periodik) setiap tahun dengan melibatkan masyarakat dan lembagalembaga desa yang ada guna mengevaluasi setiap perkembangan yang terjadi.
Dengan demikian, penanganan masalah lingkungan permukiman kumuh lebih
terarah dan terukur.
Dalam kaitan itu, identifikasi tidak perlu dilakukan secara khusus, melainkan dikerjakan sebagai bagian proses perencanaan tata ruang desa. Dengan demikian,
tidak diperlukan anggaran khusus dan pembiayaan perencanaan tata ruang pun
menjadi lebih efisien.
IV - 5

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Pemberdayaan Masyarakat (Community Action Plan)


Pemberdayaan masyarakat ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dalam penataan lingkungan permukiman. Dalam hal ini, sasaran pemberdayaan bersifat umum untuk seluruh kelompok masyarakat serta khusus bagi penghuni lingkungan
permukiman kumuh.
Pemberdayaan yang bersifat umum untuk seluruh kelompok masyarakat, berorientasi pada upaya :
pengembangan wawasan tentang pembangunan daerah, khususnya berkaitan dengan masalah perkotaan, perdesaan dan permukiman;
penguatan terhadap persepsi bahwa penanganan masalah permukiman
merupakan tanggung jawab bersama, dengan demikian masyarakatlah
pelaku utamanya;
pemahaman unsur-unsur lingkungan permukiman, kaidah normatif lingkungan permukiman yang layak huni serta mekanisme dasar penataannya.
Adapun pemberdayaan khusus bagi penghuni lingkungan permukiman
kumuh, ditambah dengan peningkatan kemampuan ekonomi keluarga. Selain
itu, juga peningkatan kemampuan teknis penataan lingkungan permukiman
(perencanaan, pelaksanaan serta pengelolaan dan pengembangan).
Pemberdayaan yang bersifat umum maupun khusus tidak perlu dilakukan
secara tersendiri, tetapi dapat dikerjakan sebagai bagian dari perencanaan
tata ruang desanya. Dengan demikian, tidak diperlukan anggaran khusus dan
pembiayaan perencanaan tata ruang pun menjadi lebih efisien;

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh


Penataan permukiman kumuh ditujukan untuk memperbaiki struktur dan kondisi
lingkungan sehingga layak huni. Namun, sebelumnya perlu ditinjau kesesuaian
peruntukannya dengan rencana tata ruang yang lebih luas.
Ada beberapa
kemungkinan :
Jika sesuai dengan rencana tata ruang, penataan (perbaikan struktur dan
kondisi unsur-unsur lingkungan) dapat dilakukan secara bertahap. Penataan
harus dilakukan oleh para penghuni, mulai dari perencanaan, pelaksanaan
hingga pengelolaan dan pengembangan, kemudian difasilitasi pemerintah
daerah.
Selain itu, pemerintah daerah perlu menstimulasi peningkatan ekonomi
maupun stimulasi berupa pembangunan fisik sebagian unsur lingkungan
tertentu sebagai perangsang. Selanjutnya, penghuni akan berswadaya menata lingkungannya sesuai peningkatan kemampuan ekonominya.

IV - 6

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Jika tidak sesuai dengan rencana tata ruang, perlu dilakukan relokasi. Jika
lokasi semula memiliki fungsi komersial, maka pengembangannya dapat
melibatkan pihak lain (swasta). Dalam hal ini, kewajiban pihak lain termasuk
menyiapkan lingkungan permukiman baru bagi para penghuni. Namun, jika
lokasi semula berfungsi lindung, maka pemerintah daerah yang dituntut
berperan dalam merelokasi penghuni. Disamping itu, jika dimungkinkan
rencana tata ruangnya dapat disesuaikan, maka penataan dapat saja segera
dilakukan secara bertahap seperti langkah di atas;
Jika belum tersedia rencana tata ruang, penanganan lingkungan permukiman
kumuh perlu ditunda. Namun dapat pula ditangani seecara simultan dengan
penyusunan rencana tata ruang, setelah diperoleh kepastian tentang kesesuaian peruntukannya. Untuk memfasilitasi serta menstimulasi penataan
lingkungan permukiman kumuh yang bertumpu pada swadaya masyarakat,
perlu dibentuk tim khusus yang beranggotakan aparat instansi tata ruang,
ekonomi, permukiman dan lainnya.

4.3

Rancangan Program

Program penanganan lingkungan permukiman kumuh tidak berdiri sendiri,


tetapi tetap terkait dengan program penataan ruang, pengembangan ekonomi serta
permukiman dan prasarana wilayah. Untuk merancang program penanganan
lingkungan permukiman kumuh lima tahun mendatang, terlebih dulu perlu
dipaparkan program-program yang terkait, yaitu:

Penataan Ruang
Lingkup program penataan ruang lima tahun mendatang meliputi:

Menyiapkan rencana tata ruang secara menyeluruh, operasional dan legitimate (menerapkan metode partisipatif), dengan prioritas RUTR/RDTR;

Dinamisasi pemanfaatan ruang melalui penawaran peluang pengembangan


kawasan tertentu serta intensifikasi pemanfaatan lahan pekarangan (mencegah alih fungsi lahan);

Mengefektifkan mekanisme pengendalian dalam pemanfaatan ruang melalui


perbaikan landasan hukum, prosedur, struktur organisasi pelaksana dan
pelibatan peran masyarakat secara proporsional.

Pengembangan Ekonomi
Lingkup program pengembangan ekonomi lima tahun mendatang meliputi:

IV - 7

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Menata sistem produksi melalui peningkatan efisiensi,


produktivitas serta peragaman jenis kegiatan ekonomi
penghuninya;

Menata sistem distribusi melalui revitalisasi


pengembangan lembaga-lembaga ekonomi desa;

Menguatkan kelembagaan perekonomian masyarakat dan kelompok serta


membina sektor ekonomi informal.

pasar

optimalisasi
masyarakat

tradisional

serta

Permukiman dan Prasarana Wilayah


Lingkup program penataan permukiman dan prasarana wilayah lima tahun mendatang meliputi:

Memfasilitasi pengelolaan dan pengembangan permukiman;

Mengelola dan mengembangkan prasarana wilayah secara optimal;

Memfasilitasi dan menstimulasi penanganan fisik lingkungan permukiman


kumuh.

Adapun program penanganan lingkungan permukiman kumuh lima tahun mendatang merujuk pada program-program di atas, adalah:
TABEL IV.1
PROGRAM PENANGANAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
DESA BAGENDIT TAHUN 2004-2008
TAHUN

2004

2005

2006

2007

2008

JENIS PROGRAM
-

Penyusunan RUTR/RDTR Desa Bagendit


Pemilihan agen-agen pembangunan pada masing blok permukiman (RT)
Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat
Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman
Stimulasi bantuan pembangunan rumah layak huni
Stimulasi pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif

Stimulasi pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif


Stimulasi bantuan pembangunan rumah layak huni
Stimulasi penataan fisik lingkungan permukiman
Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat
Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman

Evaluasi/revisi RUTR/RDTR Desa


Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat
Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman
Stimulasi pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif
Stimulasi penataan fisik lingkungan permukiman

Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat


Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman
Stimulasi pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif
Stimulasi penataan fisik lingkungan permukiman

Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat


Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman
Stimulasi pengembangan kelompok usaha ekonomi produktif
Stimulasi penataan fisik lingkungan permukiman

IV - 8

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Penjelasan:
-

Penyusunan/revisi RUTR/RDTR Desa menerapkan metode partisipatif dan


dilaksanakan secara bersama-sama dengan melibatkan semaksimal mungkin
potensi masyarakat setempat yang difasilitasi oleh tenaga ahli dan dinas terkait ;

Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dilakukan oleh berbagai nara


sumber dan instansi terkait melalui kegiatan penyuluhan, pembinaan dan
pelatihan;

Perencanaan teknis penataan lingkungan permukiman dilaksanakan pemerintah


desa bersama kelompok masyarakat sasaran, difasilitasi tenaga ahli dan instansi
terkait;

Stimulasi pengembangan ekonomi masyarakat dan stimulasi penataan fisik


lingkungan permukiman kumuh dilaksanakan dinas/instansi terkait bersamasama kelompok masyarakat sasaran;

Seluruh kegiatan di atas dilaksanakan secara terpadu.

IV - 9

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

5.1 Lingkup Pelaksanaan


Dalam rangka penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah CAP Desa
Bagendit (RPJM CAP), berbagai kegiatan dari awal hingga akhir yang merupakan
suatu bagian proses penyusunan rencana telah dilakukan sesuai dengan jadwal
agenda kegiatan. Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan meliputi ;
persiapan, pendampingan masyarakat, penggalian potensi dan aspirasi masyarakat,
penyusunan daftar usulan, peluncuran bantuan ekonomi produktif dan rumah layak
huni, penyusunan pra disain dan usulan rencana prioritas.
a. Tahap persiapan
Dalam persiapan kegiatan sosialisasi dan pelaksanaan survai kampung sendiri
Program Penyusunan Rencana Tindak Komunitas Dalam Rangka Peningkatan
Kualitas Kawasan Perumahan dan Permukiman Oleh Masyarakat Secara Mandiri,
ada beberapa yang perlu disiapkan oleh pihak konsultan diantaranya meliputi ;
Pembekalan materi kepada anggota TPM inti ; materi pembekalan yang
diberikan kepada anggota TPM inti menyangkut materi khusus terhadap inti
sosialisasi dan survei kampung sendiri diantaranya ; pemahaman terhadap
blangko isian (cheklist maupun kuesioner), Pengkajian terhadap modul-modul
bacaan tentang peran dan lingkup tugas TPM, mengenal TPM, posisi dan
peran fasilitator, bagaimana bekerjasama dengan fasilitator dan TPM, apa
yang dimaksud perencanaan partisipatif, pengembangan kelembagaan warga,
membangun komitmen bersama, dan ditambah lagi dengan modul yang
didapat dari sumber lain (literatur).
Pemilihan TPM yang akan mewakili warga masing-masing blok permukiman
yang akan diberikan pelatihan materi RPJM CAP di Bandung.
Penyiapan materi khusus menyangkut pengaturan bantuan stimulan ekonomi
produktif
dan bantuan perbaikan rumah agar layak huni yang akan
disampaikan pada acara kegiatan-kegiatan tertentu (rapat warga, pengajian,
arisan, keluarga berencana, dan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya)

V- 1

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Penyusunan materi penyuluhan terhadap warga maupun kelompok


menyangkut aspek ekonomi produktif dan masalah lingkungan perumahan
permukiman.
Koordinasi dengan tokoh-tokoh keagamaan khususnya dalam mendampingi
dalam sosialisasi dan pengalian aspirasi warga pada setiap kegiatan pengajian
disetiap blok permukiman.
b. Penyiapan bahan pembekalan materi sosialisasi dan pendataan
Penyiapan bahan pembekalan materi sosialisasi yang perlu disiapkan oleh tim
diantaranya meliputi ;
Koordinasi intern tim bersama TPM dengan mengadakan pertemuan untuk
langkah-langkah yang perlu disepakati dalam melakukan sosialisasi dan
pendataan kondisi dan potensi Desa Bagendit (sosial, ekonomi, budaya dan
fisik lingkungan).
Penyeleksian dan penyusunan kuestioner maupun ceklist yang telah
disepakati sesuai dengan kerangka acuan yang dikeluarkan oleh pihak
proyek.
Penyempurnaan leaflet ; Penyempurnaan terhadap bentuk dan jenis leaflet
yang telah dibagikan pada awal kegiatan/bulan pertama untuk dipahami oleh
masyarakat dengan penekanan bahwa lingkungan permukiman perlu dijaga
dan merupakan kewajiban bersama. Khusus untuk salah satu bentuk leaflet
lebih banyak menjelaskan tentang maksud, tujuan, sasaran dari pada
Program Rencana Tindak Komunitas Dalam Rangka Peningkatan Kualitas
Kawasan Perumahan dan Permukiman Oleh Masyarakat Secara Mandiri.
Pembuatan model dan bentuk laporan setiap kegiatan baik berupa absensi,
daftar hadir, serta kesepakatan yang membuat (notulen) laporan berita
acara.
Penyusunan kriteia dan acuan yang akan dipakai/diterapkan dalam
penyaluran bantuan stimulan bahan baku kegiatan ekonomi produktif dan
bahan bangunan rumah layak huni.
Penyusunan kriteria yang harus dipenuhi oleh calon TPM pada masing-masing
blok permukiman termasuk kesepakatan jumlah TPM yang akan direkrut.
Penyusunan bahan atau materi yang akan disampaikan dalam sosialisasi
dengan memanfaatkan media pengajian/keagamaan melalui para
penceramah agama di setiap blok permukiman.

V- 2

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

c. Koordinasi dengan pemda kabupaten


Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Rencana Tindak Komunitas Dalam Rangka
Peningkatan Kualitas Kawasan Perumahan dan Permukiman Oleh Masyarakat
Secara Mandiri, tim konsultan sering melakukan koordinasi sesuai dengan
kesepakan awal dan keinginan pihak pemda dalam rangka menggalih dan
mencari bentuk-bentuk pembangunan yang sesuai dengan karakteristik wilayah
termasuk masyarakatnya.
Untuk itu tim konsultan sangat dituntut untuk
melakukan koordinasi baik bersifat formal kedinasan maupun non formal tanpa
mengenal waktu dan tempat.
Perhatian pemda yang sedemikian baik tentunya banyak membantu kelancaran
kegiatan pelaksanaan program, disamping berbagai macam masukan demi
mencapai hasil maksimal dan khususnya bermanfaat bagi masyarakat Desa
Bagendit, kecamatan, maupun Kabupaten Garut.
d. Pertemuan warga
Kegiatan pertemuan warga masih sangat dominan dan sering dilakukan selama
periode ini, dan kegiatan ini merupakan kegiatan yang utama dan memiliki bobot
paling besar dibandingkan dengan materi kegiatan lainnya
Adapun yang termasuk ke dalam kegiatan pertemuan warga tidak mengikat
dengan aturan-aturan formal tertentu bahkan lebih manfaat bila pertemuan
warga ini bersifat informal tanpa batasan waktu dan tempat. Jenis pertemuan
warga yang sering dilakukan dan sesuai kesepakatan tim diantaranya kegiatan
pengajian rutin, arisan, karang taruna, posyandu, rapat warga tingkat RT, RW,
dan desa, dan lain sebagainya.
e. Pembentukan kelompok kerja usaha produktif
Dalam rangka pelaksanaan peluncuran bantuan kegiatan ekonomi produktif dan
bantuan bahan bangunan rumah layak huni, maka tim konsultan melaksanakan
pembentukan kelompok kerja di seluruh blok permukiman. Selain itu juga dengan
mengoptimalkan lembaga yang sudah ada dan berpengalaman di dalam
penanganan perbaikan rumah tidak layak huni serta lembaga ekonomi desa yaitu
Koperasi yang sudah terbiasa dengan pengelolaan dana masyarakat.
f. Pelatihan TPM
Dalam kegiatan pelatihan TPM yang diselenggarakan pihak proyek di Bandung
tim konsultan turut mengirimkan tenaga TPM terpilih hasil musyawarah warga
selama 3 (tiga) hari bertempat di Gedung P3G Jalan Dipenogoro No. 12 Bandung.
V- 3

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Adapun nama-nama peserta kegiatan pelatihan TPM dari pihak konsultan adalah ;
1.

Nama
Alamat
Nama
Alamat
Nama
Alamat

2.
3.

5.2

:
:
:
:
:
:

KHOLID
RW 10 Kp. Ciseupan
KAMAL MAJID
RW 09 Kp. Bantarjati
AGUS SAPUTRA
RW 01 Kp. Parigi

Urutan Materi Pelaksanaan Kegiatan

Dalam pelaksanaan program ini materi kegiatan yang dilaksanakan selama


kurun waktu 5 bulan, berjalan sebagaimana yang dijadwalkan walaupun disana sini
masih memerlukan penyempurnakan. Adapun agenda pelaksanaan kegiatan dapat
dilihat pada table berikut ;

5.3.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah CAP

Rencana Pembangunan Jangka Menengah CAP Desa Bagendit yang diusulkan


sebagian besar masyarakat, lebih menekankan kepada pemberdayaan masyarakat.
Secara garis besar rencana kegiatan pembangunan yang diusulkan oleh masyarakat
diantaranya meliputi ;
a. Jangka Pendek
Program rencana jangka pendek yang umumnya diusulkan oleh masyarakat dan
langsung dinikmati dalam waktu yang relatif singkat pada umumnya ditujukan
kepada program peningkatan jalan/gang lingkungan, pembangunan MCK yang
dilaksanakan oleh program Raksa Desa, Padat karya.
Program jangka pendek ini (terutama pemenuhan kebutuhan air rumah tangga
dari sumur pompa umum), diusulkan oleh sebagian besar masyarakat dengan
dukungan dana, material, dan tenaga masyarakat setempat melalui kerja bakti
(swadaya murni) atau dikenal dengan pipanisasi.
Disamping program peningkatan tersebut, juga masyarakat menghendaki
program sehat dan bersih tempat-tempat ibadah (masjid dan musholah) pada
setiap menghadapi bulan puasa. Untuk program ini masyarakat sepakat secara
gotongroyong melakukan pembersihan kotoran dan pengecatan tempat-tempat
ibadah dan ditetapkan sebagai koordinator adalah ketua RT masing-masing blok
permukiman.

V- 4

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Disamping itu penanganan perbaikan rumah tidak layak huni telah berjalan dari
tahun 1997 yang dikelola oleh Lembaga baitul Mal. Pihak yang mendapat
bantuan terutama bagi kaum Dhuafa dan dana yang mengalir berupa urunan dari
beberapa anggota masyarakat yang peduli terhadap lingkungannya baik itu yang
tergabung dalam wadah Baitul Mal ataupun warga lainnya.
b. Jangka Menengah.
Program jangka menengah yang dijadwalkan pada tahun awal 2004 - 2008,
usulan yang diajukan sebagian besar masyarakat lebih kepada peningkatan
kualitas lingkungan yang bersifat menyeluruh dan terpadu.
Titik berat usulan umumnya mengarah kepada peningkatan atau pembangunan
senderan Sungai Ciwatu dan Cipager yang mana fungsi sungai tersebut bersifat
kewilayahan yaitu program pembangunan jalan penghubung antar Desa (Desa
Bagendit Kp. Cangkuang menuju Desa Bina Karya sepanjang 583 M dan Lebar 4
M.
Selain program yang diusulkan di atas, ada program lain yang diusulkan oleh
masyarakat seperti peningkatan kualitas prasarana sarana lingkungan yaitu MCK,
saluran Drainase sepanjang jalan utma desa pembangunan tempat pembuangan
sampah desa yang saat sekarang ini masih belum teralokasi benar/legal.
Program pembangunan tempat sampah ini khakekatnya memerlukan dana
pembiayaan yang cukup besar disamping sistem dan pola pengelolaannya. Untuk
itu perlunya dibentuk lembaga-lembaga pengelola agar kwalitas lingkungan
disekitar tempat pembuangan sampah masih tetap terjaga atau teratasi dari
bahaya pencemaran lingkungan.
Disamping program fisik prasarana lingkungan program jangka menengah untuk
menunjang kegiatan ekonomi lokal yaitu dengan digulirkannya ekonomi produktif
yang diharapkan berjalan terus dan menjadi dana abadi desa (jangka menengah
dan panjang), selain itu pelaksanaan pelatihan untuk potensi kerajinan dalam
mendukung kegiatan pariwisata daerah pada umumnya (Kawasan Situ Bagendit),
sehingga dalam jangka panjang Kawasan tersebut mempunyai ciri potensi hasil
kerajinan tersendiri berupa cendera mata.
Untuk lebih jelasnya kegiatan jangka pendek dan jangka menengah yang
sementara ini diusulkan oleh sebagian besar masyarakat dapat dilihat pada tabel
berikut.

V- 5

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

TABEL V.1
LAPORAN KEGIATAN BULANAN
PROGRAM COMMUNITY ACTION PLAN
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

PERIODE 8 NOPEMBER S/D 8 DESEMBER 2003

NO

TANGGAL

HARI

1.

8 Nop
2003

Sabtu

2.
3.
4.
5.
6.
7.

9 Nop 2003
10 Nop
2003
11 Nop
2003
12 Nop
2003
13 Nop
2003
14 Nop
2002

Minggu

TPM dan Konsultan mengkaji RPJM CAP dalam merumuskan


prioritas program yang baik untuk dijadikan sebagai Daftar
kebutuhan.
Libur

Terpilih beberapa prioritas program


utama yang perlu segera diusulkan
pada program jangka pendek.

Survey Detail Prioritas Program

Selasa

Survey Detail Prioritas Program

Rabu

Survey Detail Prioritas Program

Kamis

Survey Detail Prioritas Program

Jumat

Survey Detail Prioritas Program


Survey Detail Prioritas Program

15 Nop
2003

Sabtu

9.

16 Nop
2003

Minggu

17 Nop
2003

HASIL

Senin

8.

10.

KEGIATAN

Senin

Pengukuran Jalan Penghubung P =


583 meter, L = 4 meter
Pengukuran jalan utama Desa dan
saluran air hujan
Pengukuran saran MCK di beberapa
Lokasi Kampung
Pengukuran perpipaan lanjutan untuk
lokasi sumber air di Kp. Sargenteng
Observasi pelaku ekonomi lokal yang
produktif (batu bata)
Observasi Baitul Mal serta Lokasi
calon
kaum Dhuafa yang perlu
ditangani segera .

Libur

Konsultasi dengan pihak Pemda tentang pengelolaan bantuan


ekonomi produktif yang dilakukan oleh Koperasi.

Terlembaganya suatu wadah kegiatan


untuk
mendukung
program
pembangunan baik datanganya dari
masyarakat atau pemerintah dan
mempermudah sistem pengelolaan.

V- 7

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

11.

18 Nop
2003

Selasa

Konsultasi dengan Tim Konsultan tentang mekanisme pemberian


bantuan dan sistem pengelolaan pasca program

12.

19 Nop
2003

Rabu

Persiapan TPM dalam membuat konsep Nota Kesepakatan tentang


perguliran Dana Stimulan.

Sabtu

Libur Panjang Hari Raya Iedul Fitri 1424 H

Senin

Silaturahmi dengan warga Desa


Rapat informal mengenai kesepakatan perguliran Dana Stimulan
untuk Perbaikan Rumah tidak layak huni dan Ekonomi Produktif.

15.
24.

22 - 30
Nop -2003
1 Des 2003

25.

2 Des 2003

Selasa

26.

3 Des 2003

Rabu

27.

4 Des 2003

Kamis

28.

5 Des 2003

Jumat

Pengesahan RPJM CAP di Bappeda Kabupaten Garut di Lantai II


mulai Pukul 08.30 11.00

29.

6 Des 2003

Sabtu

Peluncuran Dana Bergulir Ekonomi Produktif dan Bantuan perbaikan


rumah tidak layak huni

30.

7 Des 2003

Minggu

Pemberitahuan ke Pemda (Bappeda) mengenai kesiapan


Pengesahan RPJM CAP Desa Bagendit
Konsultan dan TPM mempersiapkan bahan untuk acara taggal 5
Des03

Pemilihan Kepala Desa

Adanya kesepakatan antara tim


konsultan dengan masyarakat melalui
TPM terhadap pelaksanaan bantuan
yang akan direalisasikan.
Mengahasilkan beberapa poin utama
dalam kesepakatan tersebut seperti
calon penerima, cara perguliran,
pihak pengelola dll.

Disepakatinya beberapa poin dalam


pengelolaan Dana Stimulan tersebut,
secara umum mengenai tata cara
pengelolaannya.
Sepakat hari Jumat jam 9.00 tepat
jadwal pengesahan RPJM CAP tsb.
Tersusunnya
bahan
berupa
rangkuman RPJM CAP, Profil Desa.
Program yang telah dirancang pada
umumnya disepakati oleh berbagai
Dinas Lintas Sektoral yang dihadiri
pula oleh perwakilan dari warga desa
yaitu pemuka masyarakat, BPD, KUD,
Kep. Desa, LPMD, TPM, TPL.
Terbagi untuk ekonomi Produktif
kepada 3 kelompok batu bata merah,
dan untuk bantuan rumah kepada 3
KK.
Terpilihnya Drs. Y. Sopian Arief
sebagai
Kepala
Desa
periode
berikutnya.

V- 8

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

5.4
Proposal Kegiatan
Dasar Pemikiran
Bahwa persoalan lingkungan permukiman kumuh tidak hanya menjadi tugas
pemerintah daerah, akan tetapi menjadi tanggung jawab masyarakat secara
umum, oleh karenanya pelurusan pandangan pemerintah dan masyarakat
terhadap persoalan prasarana permukiman harus terus diberdayakan.
Persoalan kekumuhan suatu llingkungan permukiman juga terkait dengan aspek
sosial, budaya dan ekonomi. Para penghuni lingkungan kumuh kerap dikatakan
sebagai kelompok masyarakat marjinal, sering sekali tidak mendapatkan tempat
dalam komunitas di lingkungannya, sehingga mereka tidak memiliki ruang gerak
yang cukup untuk berperan serta dalam aktifitas sosial masyarakat.
Bahwa Pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara terpadu, dalam arti
mencakup
aspek sosial, budaya, maupun ekonomi. Persepsi masyarakat
terhadap perbaikan mutu lingkungan hunian perlu diluruskan, sekaligus
diyakinkan bahwa semua itu menjadi tanggungjawab bersama. Oleh karena itu
perlu diterapkan satu model pengembangan ekonomi yang berbasis peningkatan
prasarana permukiman, hal ini paling tidak dapat dijadikan salah satu alternatif
untuk sebuah proses pemberdayaan prasarana permukiman dan meningkatkan
kemandirian masyarakat dalam persoalan peningkatan permukiman.
Nama Kegiatan
Penataan dan Peningkatan Permukiman dan Prasarana Lingkungan Berbasis
Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi
Kabupaten Garut.
Bentuk dan Jenis Intervensi
a. Pemberian bantuan modal.
b. Pemberian pelatihan
c. Peningkatan pendapatan masyarakat
d. Peningkatan Prasarana Lingkungan.
Lokasi Kegiatan
Desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut..
Dana Yang Dibutuhkan
Total bantuan dana yang dibutuhkan Rp. 62.850.000,- (enam puluh dua juta
delapan ratus lima puluh ribu rupiah). Terdiri dari Usaha Ekonomi Produktif Rp.
V- 9

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

18.350.000 untuk 3 (tiga) Kelompok, Rp. 37.500.000,00 untuk bantuan Rumah


Kumuh 15 unit (2,5 juta/unit) dan dana untuk pelatihan kerajinan untuk 2 Pokja
terdiri dari 14 orang sebesar Rp. 7.000.000,-.

Tujuan Kegiatan
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Meningkatkan kemampuan pengeloaan usaha kecil.


Meningkatkan pendapatan masyarakat desa.
Memotivasi perkonomian masyarakat desa
Menggerakkan usaha-usaha yang memiliki modal relatif kecil.
Penguatan lembaga keuangan desa.
Meningkatkan prasarana lingkungan desa.

Uraian Kegiatan Secara Umum


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Melaksanakan survei untuk kelompok sasaran.


Mengindentifikasi kelompok-kelompok sasaran.
Membuat kriteria kelompok penerima
Menentukan kelompok calon penerima Bantuan
Melaksanakan pembinaan.
Melaksanakan pencairan dana kepada kelompok penerima
Melaksanakan monitoring terhadap kemajuan usaha.
Mengadakan evaluasi akhir kegiatan.

Kelompok Sasaran.
a.
b.

Masyarakat yang memiliki usaha produktif skala modal kecil.


Pedagang dengan modal skala kecil.

Sistem pengelolaan Dana.


Bantuan modal yang diberikan kepada kelompok sasaran kemudian Kelompok
diwajibkan memberikan bantuan berupa infaq yang disalurkan untuk
membangun sarana lingkungan yang ditetapkan, kecuali untuk bantuan rumah
kumuh pengelolaanya oleh Baitul Mal secara tersendiri. Hal-hal yang belum
tercantum akan disusulkan kemudian.

V - 10

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

MATRIKS RENCANA PROGRAM JANGKA MENENGAH (RPJM)


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT
PROGRAM COMMUNTY ACTION PLAN

NO
1.

IDENTIFIKASI MASALAH

USULAN PROGRAM

MANFAAT PROGRAM

Sulit mendapatkan air bersih

Pembangunan saluran
pemipahan dan bak
penampungan
(pipanisasi)

Meningkatkan kebersihan
dan kesehatan lingkungan

WC Umum

Pembangunan MCK

Membiasakan masyarakat
untuk hidup bersih dan
sehat

2.

Jalan antar Desa Bagendit ke


Desa Bina Karya perlu segera
segera dibebaskan dan
dilegalkan sebagai jalan umum

Pembebasan lahan
yang kemudian ditindak
lanjuti dengan pengerasan
jalan (Aspalisasi)

3.

Saluran Drainase/ Limbah


Rumah Tangga pada semua
RW rusak bahkan tidak ada
sama sekali

Normalisasi saluran dan


pembangunan saluran
drainase

Dapat meningkatkan aktifitas


masyarakat baik pergerakan
manusia maupun barang
sehingga meningkatkan
perekonomian lokal
Memperlancar aliran air
pembuangan limbah rumah
tangga maupun air hujan
sehingga tidak menimbulkan
genangan yang dapat merusak
badan jalan/ gang maupun
bahaya kesehatan masyarakat

LOKASI
PROGRAM
RW 05
RW 06
RW 07
RW 08
RW 09
RW 10
RW 01
RW 02
RW 03
RW 04
RW 05
RW 06
RW 07
RW 08
RW 09
RW 10
RW 09

RW 01
RW 02
RW 03
RW 04
RW 05
RW 06
RW 07
RW 08
RW 09
RW 10

VOLUME
145 m
93 m
87 m
350 m
267 m
321 m
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
1 unit
P=583 m
L=4m

165 m
102,5 m
447 m
112 m
327 m
278,7 m
100 m
807 m
200 m
200 m

BIAYA
Rp
1.135.000,00
745.000,00
715.000,00
2.520.000,00
1.925.000,00
2.325.000,00
8.220.000,00
7.510.000,00
7.510.000,00
7.710.000,00
7.710.000,00
7.910.000,00
7.910.000,00
7.910.000,00
7.410.000,00
7.410.000,00
188.305.285,00

SUMBER DANA
SWADAYA
PEMERINTAH

PENGELOLA

260.000,00
130.000,00
130.000,00
520.000,00
390.000,00
520.000,00
2.220.000,00
1.510.000,00
1.510.000,00
1.710.000,00
1.710.000,00
1.910.000,00
1.910.000,00
1.910.000,00
1.410.000,00
1.410.000,00
54.184.285,00

875.000,00
615.000,00
585.000,00
2.000.000,00
1.535.000,00
1.805.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
6.000.000,00
134.121.000,00

Ketua RW 05
Ketua RW 06
Ketua RW 07
Ketua RW 08
Ketua RW 09
Ketua RW 10
Ketua RW 01
Ketua RW 02
Ketua RW 03
Ketua RW 04
Ketua RW 05
Ketua RW 06
Ketua RW 07
Ketua RW 08
Ketua RW 09
Ketua RW 10
Kep Desa

3.401.000,00
2.470.000,00
8.874.000,00
2.360.000,00
5.901.800,00
4.861.000,00
2.185.000,00
14.094.000,00
3.875.000,00
3.875.000,00

260.000,00
130.000,00
520.000,00
130.000,00
390.000,00
390.000,00
130.000,00
1.040.000,00
260.000,00
260.000,00

3.141.000,00
2.340.000,00
8.354.000,00
2.230.000,00
5.511.800,00
4.471.000,00
2.055.000,00
13.054.000,00
3.615.000,00
3.615.000,00

Ketua RW 01
Ketua RW 02
Ketua RW 03
Ketua RW 04
Ketua RW 05
Ketua RW 06
Ketua RW 07
Ketua RW 08
Ketua RW 09
Ketua RW 10

V - 11

2004

TAHUN ANGGARAN
2005 2006 2007

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

4.

Tempat pembuangan sampah

Pembangunan bak sampah Meningkatkan kebersihan dan


(TPA dan TPS)
kesehatan lingkungan

5.

Bangunan perumahan
banyak yang rusak dan tidak
layak huni

Renovasi bangunan
rumah-rumah kumuh

Meningkatkan kualitas lingkungan


perumahan dan dapat membiasakan
masyarakat hidup bersih dan sehat

6.

Potensi
Wawalinian/ ponstok
Bayondah
Teratai
Eceng gondok
Bambu

Diadakan pelatihan
keterampilan

Dapat meningkatkan perekonomian


masyarakat lokal dan juga dapat
meningkatkan kualitas sumber daya
manusia

7.

Banyaknya Orang-orang yang


cacat mental

Pembangunan pusat
rehabilitasi mental

8.

Ekonomi Lokal
Bata
Kompor
Jagung
Kue
Meubel

Prasarana produksi & GudangMeningkatkan kualitas dan kwantitas


Prasarana produksi
Meningkatkan kualitas dan kwantitas
Mesin Pemocel jagung
Meningkatkan kualitas dan kwantitas
Modal Usaha
Meningkatkan kwantitas
Modal Usaha
Meningkatkan kualitas dan kwantitas

Tertampungnya orang-orang
yang cacat mental sehingga
keberadaannya terorganisir

RW 01
RW 02
RW 03
RW 04
RW 05
RW 06
RW 07
RW 08
RW 09
RW 10
RW 02
RW 08
RW 09
RW 10
Semua
Warga
yang
Berminat

9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
9 m2
4 unit
5 unit
10 unit
5 unit

RW 08

1 unit

RW 1 -10
RW 05
RW 07
RW 08
RW 10

1.410.000,00
1.060.000,00
1.060.000,00
1.160.000,00
1.160.000,00
1.260.000,00
1.260.000,00
1.260.000,00
1.010.000,00
1.010.000,00
20.000.000,00
25.000.000,00
50.000.000,00
25.000.000,00
7.000.000,00

780.000,00
430.000,00
430.000,00
530.000,00
530.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
380.000,00
380.000,00
10.000.000,00
12.500.000,00
25.000.000,00
12.500.000,00

630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
630.000,00
10.000.000,00
12.500.000,00
25.000.000,00
12.500.000,00
7.000.000,00

Ketua RW 01
Ketua RW 02
Ketua RW 03
Ketua RW 04
Ketua RW 05
Ketua RW 06
Ketua RW 07
Ketua RW 08
Ketua RW 09
Ketua RW 10
Baitul Mal
Baitul Mal
Baitul Mal
Baitul Mal

Deperindag/
Dinas Pariwisata

3 klpk
1 klpk
2 unit
1 klpk
1 klpk

25.900.000,00

18.350.000,00
5.000.000,00
100.000.000,00
15.000.000,00
5.000.000,00

5.400.000,00

20.500.000,00

18.350.000,00
5.000.000,00
100.000.000,00
15.000.000,00
5.000.000,00

V - 12

Kep Desa

Koperasi

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

MATRIK RENCANA PROGRAM JANGKA MENENGAH


SEKTOR PRASARANA JALAN LINGKUNGAN DAN GANG
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT
NO

LOKASI

DUSUN RT/RW

PANJANG
(M)

LEBAR
(M)

KONDISI TAHUN 2003

JENIS
PROGRAM

Jl. Desa
Gg. Al Hajizah
Gg. Al Hajizah
Gg. 1
Gg. 2
Gg. 3

001/001
001/001
001/001
002/001
002/001
002/001

300
99
66
180
50
152

4
0,8
0,8
0,9
0,9
1

Sedang
Sedang
Buruk
Buruk
Buruk
Baik

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Pemeliharaan

7
8
9
10
11
12
13

Jl. Desa
Gg. 1
Gg. 2
Gg. 3
Gg. Nurkiyam
Gg. 4
Gg. 5

001/002
001/002
001/002
002/002
002/002
002/002
002/002

700
28
79
109,5
43,2
28
22,5

4
0,8
1
0,8
0,8
0,8
0,8

Sedang
Sedang
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk

14
15
16
17
18
19
20

Jl. Desa
Gg. Mesjid 1
Gg. Mesjid 1
Gg. Mesjid 2
Gg. Mesjid 3
Gg. Mesjid 4
Gg. Mesjid 5

001/003
001/003
001/003
001/003
002/003
002/003
002/003

700
50
86
197
110
196
33

3,5
0,9
0,9
0,9
0,9
0,9
0,9

Sedang
Sedang
Buruk
Buruk
Sedang
Buruk
Buruk

DUSUN I

1
2
3
4
5
6

BIAYA
Rp

SUMBER DANA
SWADAYA

PEMERINTAH

PENGELOLA

11.152.000,00 4.460.800,00 6.691.200,00


792.000,00
792.000,00
528.000,00
528.000,00
1.620.000,00 1.620.000,00
450.000,00
450.000,00
1.520.000,00 1.520.000,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

26.020.000,00 10.408.000,00
224.000,00
224.000,00
790.000,00
790.000,00
876.000,00
876.000,00
345.600,00
345.600,00
224.000,00
224.000,00
180.000,00
180.000,00

15.612.000,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

26.020.000,00 10.408.000,00
450.000,00
450.000,00
774.000,00
774.000,00
1.773.000,00 1.773.000,00
990.000,00
990.000,00
1.764.000,00 1.764.000,00
297.000,00
297.000,00

15.612.000,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

V - 13

TAHUN ANGGARAN
2004 2005

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

001/004
001/004
001/004
001/004
001/004
001/004
001/004
002/004
002/004
002/004
002/004
002/004

500
71
50
133,5
149
32,4
36
61
47
71
25
101

4
1,2
1,2
1,2
1
0,9
1
1
1,2
1
2,2
1

Sedang
Buruk
Buruk
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Buruk
Sedang
Buruk
Buruk

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

18.586.000,00
852.000,00
600.000,00
1.602.000,00
1.490.000,00
291.600,00
360.000,00
610.000,00
564.000,00
710.000,00
550.000,00
1.010.000,00

7.434.400,00
852.000,00
600.000,00
1.602.000,00
1.490.000,00
291.600,00
360.000,00
610.000,00
564.000,00
710.000,00
550.000,00
1.010.000,00

11.151.600,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

001/005
002/005
002/005
002/005
001/005
001/005
001/005

300
202
82
70,5
235
177
7,6

4
1,4
0,8
0,5
0,5
2,6
0,5

Sedang
Sedang
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

11.152.000,00
2.828.000,00
652.000,00
352.500,00
1.175.000,00
4.602.000,00
380.000,00

4.460.800,00
2.828.000,00
652.000,00
352.500,00
1.175.000,00
4.602.000,00
380.000,00

6.691.200,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

40 Jl. Desa
41 Gg. 1
42 Gg. 2
43 Gg. 3
44 Gg. 4
45 Gg. Utama

001/006
001/006
001/006
001/006
001/006
001/006

150
128,5
76,4
133,5
23,3
158,3

4
1,2
0,8
1
1
1,5

Sedang
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

5.576.000,00
1.542.000,00
611.200,00
1.335.000,00
233.000,00
2.374.500,00

2.230.400,00
1.542.000,00
611.200,00
1.335.000,00
233.000,00
2.374.500,00

3.345.600,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

46 Jl. Desa
47 Gg. Utama
48 Gg. 1
49 Gg. 2

001/007
001/007
001/007
001/007

550
221
58,4
30

4
1,2
1,2
1,2

Sedang
Sedang
Buruk
Baik

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Pemeliharaan

20.445.000,00
2.652.000,00
700.800,00
360.000,00

8.178.000,00
2.652.000,00
700.800,00
360.000,00

12.267.000,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

33 Jl. Desa
34 Jl. Sargenteng
35 Gg. 1
36 Gg. 2
37 Gg. 3
38 Gg. 4
39 Gg. 5

DUSUN II

21 Jl. Desa
22 Jl. Tengah
23 Gg. 1
24 Gg. 2
25 Gg. 3
26 Gg. 4
27 Gg. 5
28 Gg. 6
29 Gg. 7
30 Gg. 8
31 Gg. 9
32 Gg. 10

V - 14

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

Jl. Desa
Gg. 1
Gg. 2
Gg. 3
Gg. 4
Gg. 5
Gg. 6
Gg. 7
Gg. 8
Gg. 9
Gg. 10
Gg. 11
Gg. 12
Gg. 13
Gg. 14
Gg. 15

66
67
68
69
70
71
72
73

Jl. Desa
Gg. 1
Gg. 1
Gg. 2
Gg. 3
Gg. 4
Gg. 5
Jl. Tembus

74
75
76
77
78
79
80
81

Jl. Desa
Gg. 1
Gg. 2
Gg. 3
Gg. 4
Gg. 5
Gg. 6
Gg. 7

DUSUN III

50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65

001/008
001/008
001/008
001/008
001/008
001/008
001/008
001/008
002/008
002/008
002/008
002/008
002/008
002/008
002/008
002/008

700
417
92,4
35,5
30
205
104
143
36
88
85
82
76
100
150
334

4
0,9
0,9
0,9
0,9
0,9
3,5
0,8
1
0,9
0,9
1
1
1
1
1

Sedang
Buruk
Buruk
Sedang
Buruk
Buruk
Buruk
Buruk
Sedang
Baik
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Pemeliharaan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

26.020.000,00 10.408.000,00
3.753.000,00 3.753.000,00
831.600,00
831.600,00
319.500,00
319.500,00
270.000,00
270.000,00
1.845.000,00 1.845.000,00
3.640.000,00 3.640.000,00
1.144.000,00 1.144.000,00
360.000,00
360.000,00
792.000,00
792.000,00
765.000,00
765.000,00
820.000,00
820.000,00
760.000,00
760.000,00
1.000.000,00 1.000.000,00
1.500.000,00 1.500.000,00
3.370.000,00 3.370.000,00

15.612.000,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

001/009
001/009
001/009
001/009
001/009
001/009
001/009
001/009

261
179,3
74,6
112
161
75
67
583

4
1,2
1,2
0,9
0,8
0,9
1,4
4

Buruk
Baik
Buruk
Baik
Sedang
Buruk
Buruk
Buruk

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Baru

9.702.000,00 3.880.800,00
2.151.600,00 2.151.600,00
895.200,00
895.200,00
1.008.000,00 1.008.000,00
1.288.000,00 1.288.000,00
675.000,00
675.000,00
938.000,00
938.000,00
216.712.000,00 82.600.000,00

5.821.200,00

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Kep. Desa

001/010
001/010
001/010
001/010
001/010
001/010
001/010
001/010

430
150
150
14,5
150
80
38
51

4,3
0,8
0,5
0,8
0,95
0,95
0,95
0,95

Buruk
Buruk
Buruk
Buruk
Baik
Buruk
Buruk
Buruk

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Pemeliharaan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

15.984.000,00
1.200.000,00
750.000,00
116.000,00
1.425.000,00
760.000,00
361.000,00
484.500,00

6.393.600,00
1.200.000,00
750.000,00
116.000,00
1.425.000,00
760.000,00
361.000,00
484.500,00

134.121.000,00
9.590.400,00

V - 15

Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

MATRIK RENCANA PROGRAM JANGKA MENENGAH


SEKTOR PRASARANA SALURAN DRAINASE/LIMBAH RUMAH TANGGA
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT
NO

LOKASI

1 Gg. Hajizah
2 Gg. Nurkiyam
3 Gg. 4
4 Gg. Mesjid 2
5 Jl. Desa
6 Gg. Mesjid 3
7 Gg. 6
8 Gg. 7
9 Gg. 9
10 Gg. 1
11 Gg. 4
12 Gg. 1
13 Gg. Utama
14 Gg. Utama
15 Gg. 2
16 Gg. 1
17 Gg. 5
18 Gg. 10
19 Gg. 13
20 Jl. Desa
21 Jl. Desa

RT/RW
001/001
002/002
002/002
001/003
001/003
002/003
002/004
002/004
002/004
001/005
002/005
001/006
001/006
001/007
001/007
001/008
001/008
002/008
003/008
001/009
001/010

PANJANG
(M)
165
87
15,5
37
300
110
61
44
7
150
177
120,5
158,3
50
50
417
205
85
100
200
200

LEBAR
(M)
0,25
0,5
1
0,2
0,4
0,2
1,3
1,2
0,6
0,3
0,25
0,3
0,3
0,5
0,15
0,2
0,2
0,3
0,2
0,3
0,3

DALAM
(M)
0,2
0,6
0,6
0,2
0,4
0,2
0,2
0,2
0,25
0,15
0,3
0,2
0,2
0,3
0,2
0,2
0,2
0,25
0,2
0,2
0,4

KONDISI
TAHUN 2003

JENIS
PROGRAM

Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Sedang
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak
Rusak

Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan
Peningkatan

BIAYA
Rp

1.072.500,00
1.392.000,00
703.000,00
222.000,00
3.600.000,00
660.000,00
1.708.000,00
1.177.000,00
101.500,00
112.500,00
1.416.000,00
964.000,00
1.266.400,00
650.000,00
250.000,00
2.502.000,00
1.230.000,00
722.500,00
600.000,00
1.600.000,00
2.000.000,00

SUMBER DANA
SWADAYA

PEMERINTAH

429.000,00
556.800,00
281.200,00
88.800,00
1.440.000,00
264.000,00
683.200,00
470.800,00
40.600,00
45.000,00
566.400,00
385.600,00
506.560,00
260.000,00
100.000,00
1.000.800,00
492.000,00
289.000,00
240.000,00
640.000,00
800.000,00

643.500,00
835.200,00
421.800,00
133.200,00
2.160.000,00
396.000,00
1.024.800,00
706.200,00
60.900,00
67.500,00
849.600,00
578.400,00
759.840,00
390.000,00
150.000,00
1.501.200,00
738.000,00
433.500,00
360.000,00
960.000,00
1.200.000,00

V - 16

PENGELOLA

Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Kep. Desa
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Ketua RW
Kep. Desa
Kep. Desa

TAHUN ANGGARAN
2004 2005

2006

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

5.4.1 Kegiatan Penanganan Rumah Kumuh yang Telah Berjalan


TABEL V.5
DAFTAR NAMA ANGGOTA MASYARAKAT
PENANGANAN RUMAH KUMUH KP. CIBINUANG RW 09 DAN KP. BANTARJATI RW. 08
HASIL SWADAYA MASYARAKAT
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

I. KP. CIBINUANG RW 09
LUAS BANGUNAN

USIA
NO

NAMA

JENIS
KELAMIN

PEKERJAAN
(M2)

(TAHUN)
1

HENDAR

2
3

SUMBER PENDANAAN

Pria

42

Petani

3,5 X 5

YATI

Perempuan

35

Ibu Rumah Tangga

EMES

Perempuan

65

Ibu Rumah Tangga

EDOH

Perempuan

65

SYARIF

Pria

28

ENOH

Perempuan

BANGUNAN BAITUL MAL

PRIBADI

SWADAYA

TOTAL

400.000

4.400.000

4.800.000

4X6

1.200.000

3.500.000

4.700.000

3X4

1.500.000

2.000.000

3.500.000

Ibu Rumah Tangga

6X7

3.500.000

2.500.000

6.000.000

Petani

7X5

550.000

4.000.000

4.550.000

75

Ibu Rumah Tangga

3,5 X 4

3.500.000

3.500.000

5X7

6.700.000

6.700.000

II. KP. BANTARJATI RW 08


NO

NAMA

USIA

JENIS
KELAMIN

(TAHUN)

LUAS BANGUNAN
PEKERJAAN

(M2)

AYI

Perempuan

45

Ibu Rumah Tangga

4x6

ICAH

Perempuan

45

Ibu Rumah Tangga

3x4

PENDANAAN
PRIBADI
1.200.000
-

V - 17

SWADAYA

TOTAL

3.800.000

5.000.000

3.400.000

3.400.000

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

KONDISI PERUMAHAN KUMUH


KP. CIBINUANG RW 09 DAN KP. BANTARJATI RW 08
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI

KONDISI PERUMAHAN HASIL SWADAYA MASYARAKAT


KP. CIBINUANG RW 09 DAN KP. BANTARJATI RW 08
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI

V - 18

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

5.4.2 Usulan Kegiatan


TABEL V.6
DAFTAR NAMA ANGGOTA MASYARAKAT
PROGRAM AJUAN PENANGANAN RUMAH KUMUH KP. CIBINUANG RW 09 DAN KP. BANTARJATI RW 09
DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI

I.

KP. CIBINUANG RW 09
NO

NAMA

ASEP DURAHMAN

AID

MIMI

AMUN

INING

JENIS KELAMIN

USIA
(TAHUN)

Pria

38

Pria
Perempuan

LUAS BANGUNAN

PEKERJAAN

(M2)

Petani

5x7

58

Petani

4x7

60

Ibu Rumah Tangga

2x3

Perempuan

55

Ibu Rumah Tangga

5x6

Perempuan

40

Ibu Rumah Tangga

4x5

ENAH

Perempuan

50

Ibu Rumah Tangga

4x5

ONIH

Perempuan

52

Ibu Rumah Tangga

3x5

DIDI

Pria

52

Petani

5x7

ENJANG

Pria

42

Petani

2x3

10

AJO

Pria

27

Petani

1,5 x 2

JENIS KELAMIN

USIA
(TAHUN)

PEKERJAAN

LUAS BANGUNAN
(M2)

II. BANTARJATI RW 08
NO

NAMA

IMUN

Perempuan

52

Ibu Rumah Tangga

5,5 x 8

ITOH

Perempuan

72

Ibu Rumah Tangga

5x6

3
4

OTIH
ITA

Perempuan
Pria

51
60

Ibu Rumah Tangga


Petani

5 x 7,5
5x6

ENING

Perempuan

65

Ibu Rumah Tangga

6x6

V - 19

LAPORAN PENYUSUNAN COMMUNITY ACTION PLAN


DESA BAGENDIT KECAMATAN BANYURESMI KABUPATEN GARUT

V - 20