Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PATOLOGI

AGING

Anggota:
Dimas Fajar
Dyaksa Rosdesiana
Meindya Agung
Bilqisti Ari Putra
Alfian Bagus Yudhiano
Nuril Fadhillah
Bimo Ario
Diga Anggana
Ardi Budi Prakoso
Muhammad Rofi Prsetya
Rusyida Rizki N
Dhesy Kartikasari
Novian Hartannto
Rifqi Najwan
Phanjat Mukti Utomo

061111164
061111165
061111166
061111167
061111168
061111169
061111170
061111172
061111173
061111174
061111175
061111176
061111177
061111178
061111179

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

1. Definisi
Pengertian Penuaan (Aging)
Penuaan (aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya
sehingga tridak dapat memperbaiki kekurangan yang didierita.
Tidak seorangpun yang dapat menghentikan proses penuaan. Siklus ini ditandai dengan
tahap-tahap mulai menurunnya berbagai fungsi organ tubuh karena setelah mencapai dewasa,
secara alamiah seluruh komponen tubuh tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya justru
terjadi penurunan karena proses penuaan. Penuaan merupakan suatu proses multidimensional,
yang tidak hanya terkait dengan faktor jasmani, tapi juga psikologis dan sosial. Penuaan itu
sendiri adalah suatu proses alamiah kompleks yang melibatkan setiap molekul, sel dan organ
dalam tubuh.
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita.
(Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup
manusia yaitu: bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena
lanjut usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan. Akan tetapi proses menua
dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari
dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai
penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya
dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga
tubuh mati sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa
penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya
sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian puncak maupun menurunnya.
Proses Tahapan Penuaan
Penuaan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui beberapa tahapan atau fase,
sehingga kita memiliki kesempatan untuk menghambatnya, salah satunya dengan menjaga
pola makan dan pemakaian krim atau pelembab untuk melindungi kulit dari sengatan
matahari agar kulit tidak cepat kering atau keriput. Menurut Dr. Maria Sulindro, direktur
medis Pasadena anti-aging, AS, Proses penuaan terjadi secara bertahap dan secara garis besar
dapat dibagi menjadi 3 fase:

Fase 1 Subklinik

Pada saat mencapai usia 25-35 tahun. Pada masa ini produksi hormon mulai berkurang (mulai
mengalami penurunan produksi). Pada tahap ini, sebagian besar hormon di dalam tubuh
mulai menurun, yaitu hormon testosteron, growth hormon, dan hormon estrogen.
Pembentukan radikal bebas, yang dapat merusak sel dan DNA, mulai memengaruhi tubuh.

Polusi udara, diet yang tak sehat dan stres merupakan serangan radikal bebas yang dapat
merusak sel-sel tubuh. Kerusakan ini biasanya tak tampak dari luar. Karena itu, pada tahap
ini orang merasa dan tampak normal, tidak mengalami gejala dan tanda penuaan. Di fase ini
mulai terjadi kerusakan sel tapi tidak memberi pengaruh pada kesehatan. Tubuh pun masih
bugar terus. Penurunan ini mencapai 14 % ketika seseorang berusia 35 tahun.

Fase 2 Transisi

Kedua transisi, yakni pada usia 35-45 tahun. Produksi hormon sudah menurun sebanyak
25%, sehingga tubuh pun mulai mengalami penuaan. Biasanya pada masa ini, ditandai
dengan lemahnya penglihatan (mata mulai mengalami rabun dekat) sehingga perlu
menggunakan kacamata berlensa plus, rambut mulai beruban, stamina dan energi tubuh pun
berkurang. Bila pada masa ini dan sebelumnya atau bila pada usia muda, kita melakukan gaya
hidup yang tidak sehat bisa berisiko terkena kanker.

Fase 3 Klinik

Puncaknya pada tahap fase klinikal, yakni pada usia 45 tahun ke atas. Pada masa ini produksi
hormon sudah berkurang hingga akhirnya berhenti sama sekali. Kaum perempuan mengalami
masa yang disebut menopause sedangkan kaum pria mengalami masa andropause. Pada masa
ini kulit pun menjadi kering karena mengalami dehidrasi/kulit menjadi keriput, terutama di
bagian samping dan di bawah mata kita, juga kulit tangan kita yang tidak sekencang dulu,
tubuh juga menjadi cepat lelah. Berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, osteoporosis,
hipertensi dan penyakit jantung koroner mulai menyerang dan menjadi sesuatu yang sangat
mengerikan.
Karena proses penuaan ini terjadi melalui beberapa tahapan, sebenarnya ada banyak waktu
untuk menghambatnya. Cepat lambatnya proses penuaan, 30% dipengaruhi oleh faktor
genetika/keturunan dan 70 % lebih dipengaruhi oleh gaya hidup. Kalau anggota keluarga
cenderung awet muda. Kita pun besar kemungkinan akan berpenampilan awet muda. Gaya
hidup yang penuh stres, kurang istirahat, banyak makan makanan berlemak dan berkalori
tinggi, kurang gerak serta hidup di lingkungan yang penuh polusi akan merusak sel sehingga
menjadi lebih tua. Akibatnya, kita pun mengalami penuaan usia biologik. Namun, kondisi ini
dapat dihindari dengan program anti aging baik yang dilakukan sendiri maupun dengan
bantuan medis. Misalnya: Seseorang yang rajin berolahraga, terbukti bisa menangkal
sejumlah penyakit kardiovaskuler. Olah raga ringan di sela aktivitas seperti senam, lari atau
jalan cepat sebaiknya sering dilakukan.
emakin jauh seseorang dari derita penyakit jantung, stroke dan sejenisnya, Semakin
berbahagia hidupnya. Dan kebahagiaan itu merupakan salah satu peran terbesar penunda
penuaan. Tidak mungkin rasanya orang bisa terlihat sehat dan awet muda kalau tubuhnya
dihinggapi berbagai jenis penyakit berbahaya. Penunda penuaan lainnya adalah faktor diet
dan nutrisi. Apa yang kita makan menentukan tubuh kita. Diet dan nutrisi sangat berperan
dalam menentukan proses penuaan dan kesehatan seseorang.
REFERENSI:
Anonim, 2012. Penuaan: http://toorestpoenya.blogspot.com, diakses tanggal 12 Juni 2012,
jam 15.12 WIB

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Fakultas UI


Nugroho, Wahyudi. 2000. Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC
Putra, 2012. Proses Penuaan: http://semaraputraadjoezt.blogspot.com, diakses tanggal 12
Juni 2012, jam 15.16 WIB
Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistemik. Volume 1. Edisi 2. Jakarta : EGC
Thanks for poc: http://restylane.landson.co.id
Diposting lagi: http://thefuturisticlovers.wordpress.com

2. Etiologi

3. Patogenesis
4. Aspek Patologi (Makroskopis + Mikroskopis)

Patogenesis Proses Penuaan


Proses penuaan kulit berlangsung secara perlahan-lahan (Leijden, 1990;
Yaar & Gilchrest, 2007). Batas waktu yang tepat antara terhentinya
pertumbuhan fisik dan dimulainya proses penuaan tidak jelas, tetapi
umumnya sekitar usia pertengahan dekade kedua mulai terlihat tanda
penuaan kulit (Cunnningham, 2003). Berbagai teori tentang proses
penuaan telah dikemukakan, antara lain:
a. Teori Replikasi DNA
Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan merupakan akibat
akumulasi bertahap kesalahan dalam masa replikasi DNA, sehingga
terjadi kematian sel. Kerusakan DNA akan menyebabkan
pengurangan kemampuan replikasi ribosomal DNA (rDNA) dan
mempengaruhi masa hidup sel. Sekitar 50% rDNA akan menghilang
dari sel jaringan pada usia kira-kira 70 tahun (Cunnningham, 2003;

Yaar & Gilchrest, 2007).


b. Teori Kelainan Alat
Terjadinya proses penuaan adalah karena kerusakan sel DNA yang
mempengaruhi pembentukan RNA sehingga terbentuk molekulmolekul
RNA yang tidak sempurna. Ini dapat menyebabkan terjadinya
kelainan enzim-enzim intraselular yang mengganggu fungsi sel dan
menyebabkan kerusakan atau kematian sel/organ yang bersangkutan.
Pada jaringan yang tua terdapat peningkatan enzim yang tidak aktif
sebanyak 30% - 70%. Bila jumlah enzim menurun sampai titik
minimum, sel tidak dapat mempertahankan kehidupan dan akan mati
(Cunnningham, 2003).
c. Teori Ikatan Silang
Proses penuaan merupakan akibat dari terjadinya ikatan silang yang
progresif antara protein-protein intraselular dan interselular serabutserabut
kolagen. Ikatan silang meningkat sejalan dengan
bertambahnya umur. Hal ini mengakibatkan penurunan elastisitas dan
kelenturan kolagen di membran basalis atau di substansi dasar
jaringan penyambung. Keadaan ini akan mengakibatkan kerusakan
fungsi organ (Cunnningham, 2003; Yaar & Gilchrest, 2007).
d. Teori Pace Maker/Endokrin
Teori ini mengatakan bahwa proses menjadi tua diatur oleh pace
maker, seperti kelenjar timus, hipotalamus, hipofise, dan tiroid yang
menghasilkan hormon-hormon, dan secara berkaitan mengatur
keseimbangan hormonal dan regenerasi sel-sel tubuh manusia.
Proses penuaan terjadi akibat perubahan keseimbangan sistem
hormonal atau penurunan produksi hormon-hormon tertentu
(Cunnningham, 2003).
e. Teori Radikal Bebas
Teori radikal bebas dewasa ini lebih banyak dianut dan dipercaya
sebagai mekanisme proses penuaan. Radikal bebas adalah

sekelompok elemen dalam tubuh yang mempunyai elektron yang tidak


berpasangan sehingga tidak stabil dan reaktif hebat. Sebelum
memiliki pasangan, radikal bebas akan terus menerus menghantam
sel-sel tubuh guna mendapatkan pasangannya termasuk menyerang
sel-sel tubuh yang normal. Teori ini mengemukakan bahwa
terbentuknya gugus radikal bebas (hydroxyl, superoxide, hydrogen
peroxide, dan sebagainya) adalah akibat terjadinya otooksidasi dari
molekul intraselular karena pengaruh sinar UV. Radikal bebas ini akan
merusak enzim superoksida-dismutase (SOD) yang berfungsi
mempertahankan fungsi sel sehingga fungsi sel menurun dan menjadi
rusak. Proses penuaan pada kulit yang dipicu oleh sinar UV
(photoaging) merupakan salah satu bentuk implementasi dari teori ini
(Cunnningham, 2003; Yaar & Gilchrest, 2007).
Penuaan Primer :

Perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti DNA/RNA pada
proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak lagi mampu
mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang
mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan imunologi dan mudah
terjadi

infeksi.

Penuaan Skunder :

Proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis dan sosial Secara umum
perubahan proses fisiologis proses menua adalah terjadi dalam sel seperti:
Perubahan Mikro

Berkurangnya cairan dalam sel

Berkurangnya besarnya sel

Bekurangnya jumlah sel

Perubahan Makro adalah perubahan yang jelas terlihat seperti :

Menipisnya discus intervertebralis

Erosi permukaan sendi-sendi

Osteoporosis
Osteoporosis adalah sebuah penyakit di mana tulang menjadi kehilangan kepadatan,
sangat berpori, mudah patah, dan pulih dengan lambat yang terjadi terutama pada
wanita menopause. Pada sekitar usia 40, tingkat resorpsi tulang pada manusia mulai
melebihi tingkat pembentukan tulang. Wanita mengalami pengeroposan tulang yang
lebih cepat setelah menopause, ketika tingkat estrogen menurun. Ketika massa
tulang turun di bawah ambang batas tertentu, patah tulang terjadi dengan sedikit atau
tanpa trauma. Pencegahan dimulai dengan asupan kalsium yang cukup di masa muda,
ketika massa tulang dibangun dan kemudian sepanjang hidup. Latihan beban
dan vitamin D juga penting di segala usia. Obat-obatan dapat
menghambat resorpsitulang atau mencegah kehilangan massa tulang pada pasien yang
berisiko untuk mengembangkan osteoporosis.

Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak tetapi
kemampuannya menurun)

Emphysema Pulmonum

Emphysema adalah penyakit paru yang berjangka panjang dan progresif dan terjadi ketika
dinding-dinding alveoli rusak/hancur bersama dengan pembuluh-pembuluh darah kapiler
yang mengalir didalamnya. Ini mengurangi total area didalam paru dimana darah dan udara
dapat bersentuhan, membatasi potensi untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Pada emphysema yang dini, ada peradangan dari saluran-saluran udara kecil atau bronchioles
yang berhubungan yang membatasi jumlah udara yang dapat mengalir ke alveoli. Pada
emphysema yang lebih parah, ada juga kehilangan elastisitas pada dinding-dinding aveoli
yang masih belum hancur. Ketika pasien menghembuskan napas, alveoli dan saluran-saluran
udara kecil mengempis (collapse). Ini membuat udara lebih sulit untuk keluar dari paru-paru
dan membuat udara baru bahkan lebih sulit untuk masuk.
Ketika lebih banyak paru yang rusak dan paru tidak dapat memelihara konsentrasi-konsentrasi
oksigen dalam aliran darah, tubuh mengkompensasinya dengan secara berangsur-angsur
meningkatkan kecepatan bernapas. Setelah sesaat, bahkan hyperventilation (hyper=lebih
banyak + ventilation=bernapas) tidak dapat memelihara tingkat-tingkat oksigen yang
memadai, dan arteri-arteri dalam paru mulai mengerut atau menyempit. Jantung harus bekerja
lebih keras untuk mendorong darah kedalam pembuluh-pembuluh darah yang menyempit ini,
menyebabkan tekanan darah dalam arteri-arteri paru meningkat (pulmonary hypertension).
Dari waktu ke waktu, kebutuhan kerja ekstra menyebabkan otot jantung membesar
(hypertrophy) dan dapat menyebabkan gagal jantung.

Presbyopi

adalah cacat mata yang menyebabkan seseorang tidak dapat melihat benda baik pada jarak jauh
maupun jarak dekat. Titik dekat penderita akan bertambah dan titik jauhnya berkurang.
Presbiopi disebabkan karena keadan fisik lensa mata sudah tidak dapat memipih dan mencembung
atau tidak dapat berakomodasi seoptimal mungkin, sehingga
a. Bila melihat benda pada jarak jauh, bayangan yang dibentuk lensa mata jatuh di depan retina.
b. Bila melihat benda pada jarak dekat, bayangan yang dibentuk lensa mata jatuh di belakang retina.
Mata presbiopi dapat ditolong dengan kacamata berlensa rangkap yaitu lensa negatif berada di atas
dan lensa positifnya di bagian bawah.

Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2125790-pengertian-mata-tuapresbiopi/#ixzz2UCHSF7g7

Arterosklerosis

Aterosklerosis adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah. Aterosklerosis yang terjadi
di pembuluh darah jantung disebut sebagai penyakit jantung koroner. Penyumbatan pembuluh
darah dapat berakibat fatal. Darah yang menggumpal bercampur dengan lemak yang menempel
di pembuluh darah. Akibatnya serangan jantung, stroke, dan kematian mendadak.

Manopause pada wanita


Menopause (Klimakterium) adalah suatu masa peralihan dalam kehidupan wanita,
dimana:
- ovarium (indung telur) berhenti menghasilkan sel telur
- aktivitas menstruasi berkurang dan akhirnya berhenti
- pembentukan hormon wanita (estrogen dan progesteron) berkurang.
Menopause sebenarnya terjadi pada akhir siklus menstruasi yang terakhir. Tetapi
kepastiannya baru diperoleh jika seorang wanita sudah tidak mengalami
siklusnya selama minimal 12 bulan.
Menopause rata-rata terjadi pada usia 50 tahun, tetapi bisa terjadi secara normal
pada wanita yang berusia 40 tahun.
Biasanya ketika mendekati masa menopause, lama dan banyaknya darah yang
keluar pada siklus menstruasi cenderung bervariasi, tidak seperti biasanya.
Pada beberapa wanita, aktivitas menstruasi berhenti secara tiba-tiba, tetapi
biasanya terjadi secara bertahap (baik jumlah maupun lamanya) dan jarak antara

2 siklus menjadi lebih dekat atau lebih jarang.


Ketidakteraturan ini bisa berlangsung selama 2-3 tahun sebelum akhirnya siklus
berhenti.

Demintia senilis

Dementia adalah kehilangan kemampuan kognitif yang serius pada seseorang yang asalnya tidak
mengalami gangguan dan bisa bersifat statis maupun progresif. Dementia ini sering terjadi pada usia
lanjut namun demikian dapat terjadi pula pada orang dengan usia <65 tahun. Gejala yang dapat terjadi
menurut Gelder pd thn 2005, dementia tidak hanya merupakan masalah memori tapi juga terjadi
penurunan kemampuan untuk belajar, mengingat kembali, mengerti. Dapat juga berupa kehilangan
pola berpikir, perasaan dan aktivitas. Oleh karena spectrum gejala yang demikian luas maka
penatalaksanaanya pun kompleks oleh karena tidak hanya obat tetapi perawatan terhadap penderita
dementia tersebut

Kulit tidak elastic

Rambut memutih

Daftar Pustaka

1. Kumar V, Cotran R.S, Robbin S.L, Basic Pathology, 84. Kumar V, Cotran R.S,
Robbin S.L, Basic Pathology, 8th ed, Saunders, Philadelphia, 2007 ; 28-30
2. Mengenal dan Menangkal Radikal Bebas
Available at: http:// Berita Iptek online/2006/mengenal dan menangkal radikal
bebas.htm.
3. Rubin E., Pathology : Clinicopathologic Foundations of Medicine, 4th edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia; 34-9
4. Underwood J.C.E, Patologi:Umum dan Sistemik, Edisi 2, EGC, Indonesia,
1999, 307-14

5. Konsekuensi Biologis (Prognosa)