Anda di halaman 1dari 5

Hubungan Tektonisme, Magmatisme, & Vulkanisme dengan

Prospek Geothermal
Tektonisme adalah proses pematahan, perlipatan, perubahan perubahan bentuk dari lapisan
batuan planet / bumi, disebabkan oleh gerakan gerakan skala besar di bawah lapisan batuan.
Prosesnya terjadi dalam waktu yang sangat perlahan, yakni hanya beberapa cm dan dalam kurun
jutaan tahun.
Tektonik atau tektonisme dipicu oleh magmatisme,yakni pada zona rifting dimana magma basal
menyebabkan pergerakkan antar antar lempeng, yang kemudian akan menyebabkan zona-zona
konvergen, yang akan memicu aktivitas magmatisme selanjutnya akibat peleburan dan pelelehan
lempeng samudera.
Magma yang naik ke atas akibat gaya tektonik yang bekerja mengakibatkan peristiwa
vulkanisme yang menghasilkan terbentuknya gunung gunung api.

Aktivitas Gunung Api di Indonesia banyak menyebabkan terbentuknya sistem panas bumi atau
geotermal yang dapat dimanfaatkan sebagai energi pembangkit tenaga listrik.
1|Tugas Geothermal
Mia Fitriyanti / 072.11.073

Dalam sistem panas bumi . Intrusi magma akan menjadi sumber panas yang dapat mendidihkan
air yang kemudian uap panas (steam) akan tersimpan pada batuan yang poros sebagai reservoir
dan ditutup oleh batuan tudung yang impermeabel atau dapat menahan uap sehingga tidak keluar
ke permukaan

Eksplorasi panas bumi dibutuhkan kegiatan vulkanisme yang sudah stabil dan cukup panas
secara temperatur. Temperatur ini dapat diuji dengan cara geotermometer. Geothermometer
Kimia dan Isotop mungkin merupakan alat geokimia yang paling penting untuk ekslorasi dan
pengembangan sumber daya panas bumi. Geothermometer digunakan dalam berbagai pekerjaan,
sebagai berikut,Estimasi T bawah permukaan reservoir panas bumi, Monitor perubahan T
reservoir selama produksinya.
Geothermometer diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu Geothermometer air atau
larutan, Geothermometer uap atau gas, dan Geothermometer isotop Geothermometer air dan uap
umumnya

disebut

geotermometer

yang

sebagai
paling

Geothermometer
terpenting.

Kimia.

Dengan

Geotermometer

kadar-kadar

kimia

diinterpretasikan suhu di bawah permukaan seperti pada gambar di bawah ini.


2|Tugas Geothermal
Mia Fitriyanti / 072.11.073

ini

merupakan

tertentu

dapat

Dari pertimbangan-pertimbangan ini dapat dinilai apakah suatu sistim geothermal ekonomis atau
tidak. Kemudian disamping itu harus juga diperhatikan adanya zona mixing antara air magmatic
dengan air permukaan yang dapat mempengaruhi temperatur. Dengan hasil plot antara kimia
chloride sebagai sumbu horizontal dengan entalpi pada sumbu vertical.

Dari hasil analisis seperti di atas, maka kita dapat merekonstruksi zona mixingnya. Dimana
dalam zona ini terjadi percampuran berbagai macam fluida seperti fluida sisa magmatisme, air
laut, air hujan, dan air karbonat yang dapat menyebabkan perubahan temperatur yang kompleks.

3|Tugas Geothermal
Mia Fitriyanti / 072.11.073

Setelah itu harus diperhatikan bahwa geotermometer sejumlah gas dapat menghasilkan energienergi yang harus diperhitungkan dalam eksploitasi dalam kepentingan ekonomi.

Arnorrson (2000)

Arnorsson (1985)
Setelah perhitungan temperatur dan menginterpretasi semua zona mixing, maka kita harus
menentukan zona upflow dan outflow. Selain ditunjang dengan adanya mineral-mineral alterasi
yang menunjukkan suhu di bawah permukaan.

4|Tugas Geothermal
Mia Fitriyanti / 072.11.073

Henley dan Ellis (2000)


Disamping observasi berbagai macam manifestasi juga penting, seperti hot spring, geyser,
travertine, dan lain-lain. Pertimbangan selanjutnya adalah konversi dari Q dari geotermometer
gas yang dikonversi menjadi P atau daya dalam MW yang akan menentukan kelayakan untuk
dijadikan energy geothermal.

5|Tugas Geothermal
Mia Fitriyanti / 072.11.073