Anda di halaman 1dari 15

Penyakit/

penyebab

Trikomoniasis
Trichomonas
vaginalis, sejenis
protozoa

Penularan
melalui
hubungan
seksual
Ya

Vaginosis Bakterial
Tidak selalu
(BV) campuran
Gardnerella
vaginalis dan bakteri
anaerob

Kandidiasis
Vulvovaginitis
Candida albicans,
sejenis jamur

Gonore (Kencing
nanah) Neisseria
gonorrhoeae, bakteri

Klamidia Chlamydia
trachomatis, bakteri

Gejala dan
tanda-tanda

cairan vagina (keputihan)


encer, berwarna kuningkehijauan, berbusa dan
berbau busuk vulva agak
bengkak, kemerahan, gatal,
berbusa, dan terasa tidak
nyaman

Pemeriksaan
Laboratorium

Komplikasi yang
mungkin terjadi

tampak: gerakan
Kulit sekitar vulva
motile trichomonads lecet pada kehamilan
pada preparat
mungkin berhubungan
basah garam faal dengan kelahiran bayi
(wet mount)
prematur
Memudahkan
penularan infeksi HIV

cairan vagina (keputihan) Clue cells pada


berwarna keabu-abuan dan pewarnaan Gram
berbau amis kadang-kadang
vulva gatal

Pada kehamilan
mungkin berhubungan
dengan kelahiran bayi
prematur
Meningkatkan
kemungkinan infeksi
pada tuba

Tidak selalu cairan vagina kental


Miselium/pseudohifa Kulit sekitar vulva
berwarna putih tampak
pada pewarnaan
lecet Memudahkan
seperti susu basi kemaluan Gram
penularan infeksi HIV
gatal, vulva merah dan
bengkak

Ya

Ya

dapat tanpa gejala atau


terdapat:

cairan vagina
(keputihan) kental,
berwarna
kekuningan

rasa nyeri di
rongga panggul

kebanyakan tanpa gejala


atau gejala berikut:

cairan vagina
(keputihan) encer
dan berwarna
putih-kekuningan
rasa nyeri di
rongga panggul
perdarahan setelah
hubungan seksual

harus tampak:
Diplokokus Gram
Negatif Intrasel dan
kultur gonore (+)

Tes enzim
klamidia(ELISA)

Penyakit Radang
Panggul (PRP)
Kemungkinan mandul
Infeksi mata pada
bayi baru lahir yang
dapat menyebabkan
kebutaan
Memudahkan
penularan infeksi HIV

PRP

Kemungkina
n mandul

Kehamilan
ektopik

Rasa sakit
kronis di
rongga
panggul

Infeksi mata
berat &/
radang paruparu
(pneumonia)
pada bayi

Menurut dr Suyanto,SpOG, dokter spesialis kandungan, keputihan merupakan cairan bukan darah yang keluar dari vagina.
Normalnya, keputihan ini keluar bening tidak berbau dan tidak gatal-gatal, yang muncul pada kondisi tertentu. Keputihan jenis
ini disebut keputihan fisiologis.

Keputihan jenis ini biasa dialami wanita menjelang haid dan setelah haid. Selain itu keputihan juga keluar saat wanita mendapat
rangsangan seksual. ni gejala yang normal, yang dipengaruhi oleh hormon yang diproduksi tubuh pada kondisi
tertentu,tuturnya. Tambahnya lagi, keputihan juga bisa dialami bagi wanita yang stres dan terlalu letih. Keputihan dapat
meningkat disaat wanita sedang hamil.

Keputihan jenis ini menurut Suyanto tidak perlu dikawatirkan. Tapi jika keputihan yang dialami menimbulkan ketidaknyamanan
serta ada indikasi seperti berwarna keruh, kekuningan atau kehijauan dan ada rasa gatal, kemungkinan keputihan yang dialami
jenis patologis. Ini perlu diwaspadai, karena keputihan jenis ini umumnya disebabkan oleh infeksi pada alat genital yang
disebabkan oleh bakteri jamur.

Menurut Suyanto, wanita yang pernah berhubungan seks dan yang belum pernah berhubungan seks, sama-sama berisiko
mengalami keputihan. Tapi biasanya bagi mereka yang telah menikah atau pernah berhubu ngan seks, masalah keputihan jauh
lebih besar dari pada mereka yang belum menikah atau berhubungan seks, ujar Suyanto. Wanita yang pernah berhubungan seks,
diakui Suyanto lebih rentan mengalami masalah keputihan.

Kondisi ini dipengaruhi aktivitas hubungan seksual itu sendiri. Selain itu, berbagai benda asing lainnya juga ikut mempengaruhi
masalah keputihan. Penggunaan kondom, hubungan yang dilakukan dalam keadaan kurang bersih serta penggunaan bendabenda asing lainnya juga mempengaruhi keputihan menjadi parah,papar Suyanto.

Sementara wanita yang belum menikah, biasanya keputihan jenis patologis disebabkan karena faktor kebersihan tubuh dan juga
pakaian yang digunakan. Menggunakan celana yang terlalu ketat dan berlapis menyebabkan kelembaban di alat genital, kondisi
ini menjadi tempat sumbur jamur untuk berkembang, tukasnya.

Sekilas keputihan yang dialami, baik keputihan fisiologis dan patologis tidak begitu jauh berbeda. Karena pada dasarnya
keputihan fisiologis dan patologis, memberikan keluhan yang sama, karena menimbulkan rasa yang tidak nyaman. Untuk
menghindari berbagai kemungkinan kalau keputihan yang dialami jenis patologis, kondisi tersebut hanya bisa diketahui dengan
memperhatikan karakter keputihan yang dialami.

Pada keputihan yang normal cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau. Berbeda dengan keputihan patologis, selain
memberikan rasa tidak nyaman, timbul pula keluhan-keluhan lain seperti rasa gatal. Warna cairan yang keluar tidak lagi jernih
dan cairan yang keluar berbau.

Berbagai jenis kuman atau mikroba penyebab keputihan patologis sangat beragam. Perbedaan ini bisa dilihat dari warna, ada

yang putih, kuning, kuning bernanah dan kehijauan. Tiap sebab bisa memberikan rupa yang berbeda-beda. Demikian juga bau
yang ditimbulkan, bisa bermacam-macam atau malah tidak berbau.

Jika sudah timbul keluhan-keluhan tersebut, maka keputihan yang dialami dapat dikatakan patologis. Untuk memastikan apakah
keputihan yang dialami patologis atau fisiologis, sebaiknya dilakukan pemeriksaan oleh dokter, saran Suyanto.
Dian, menikah
Setelah Menikah Lebih Parah
Sebelum menikah, diakui Dian keputihan sudah biasa ia alami. Terutama saat akan datang menstruasi. Tapi setelah menikah dan
memiliki anak, keputihan yang dialaminya berbeda dari sebelumnya, sering membuatnya tidak nyaman.

Kalau dulu keputihan hanya pada saat tertentu saja, meskipun kadang suka gatal, paling juga hilang dengan antiseptik. Tapi
sekarang lebih sering, bahkan sering membuatnya perasaan tidak nyaman, ujar ibu satu anak ini.

Tadinya Dian mengaku tidak merisaukan keputihan yang dialaminya, tapi karena keadaannya tidak berkurang juga setelah ia
melahirkan, ia jadi kawatir.

Waktu hamil, saya sempat konsultasi dengan dokter kandungan saya, katanya wajar saat hamil, tapi kok ketika usia anak saya
udah hampir satu tahun masalah keputihan yang saya alami tidak berkurang, bahkan saya sudah pernah berobat kedokter, tapi
kondisinya sama aja, tidak ada perubahan, ungkap dengan nada kecewa.
Cara Menghindari

Bagaimana mencegah keputihan? Perawatan diri menjadi kunci utama. Berikut tips yang bisa
Anda lakukan.
.Jaga kebersihan alat kelamin.
.Bagi yang telah menikah, kebersihan lingkungan dan kebersihan diri dan pasangan sangat
penting saat berhubungan.
.Penggunaan benda-benda asing, saat berhubungan harus lebih diperhatikan kebersihannya.
.Jangan terlalu sering menggunakan sabun pembersih genital, gunakan pada kondisi tertentu saja,
seperti ada rasa gatal.
.Jangan menggunakan celana berlapis, celana yang terlalu ketat atau sering menggunakan
pantyliner atau pembalut tipis
.Saat menggunakan pantyliner, jika keputihan tidak keluar, bukan berarti keputihan tidak ada,
kondisi tersebut justru karena cairan keputihan tersumbat.
.Makanan, tidak ada hubungannya dengan keputihan, terutama sayuran yang dianggap penyebab
keputihan.
DEFINISI
Keputihan, atau dalam istilah medisnya disebut Fluor albus (fluor=cairan kental, albus=putih)
atau Leukorhoea, secara umum adalah:
keluarnya cairan kental dari vagina yang bisa saja terasa gatal, rasa panas atau perih, kadang
berbau, atau malah tidak merasa apa-apa.
Kondisi ini terjadi karena tergangggunya keseimbangan flora normal dalam vagina, dengan
berbagai penyebab.
GEJALA KEPUTIHAN

Lazimnya pembahasan penyakit diawali dengan gambaran umum, definisi, perjalanan penyakit
(patofisiologi), penyebab, gejala dan seterusnya.
Kali ini penulis tidak mengikuti kelaziman di atas supaya pokok bahasan lebih mudah
dimengerti.
Gejala keputihan dibagi 2 kelompok, yakni: gejala Keputihan yang bukan penyakit (non
patologis), dan gejala keputihan yang disebabkan penyakit (patologis)
Gejala keputihan bukan karena penyakit:

Cairan dari vagina berwarna bening

Tidak berwarna, Tidak berbau, Tidak gatal

Jumlah cairan bisa sedikit, bisa cukup banyak

Gejala keputihan karena penyakit:

Cairan dari vagina keruh dan kental

Warna kekuningan, keabu-abuan, atau kehijauan

Berbau busuk, anyir, amis, terasa gatal

Jumlah cairan banyak

Inga, inga keputihan tidak menyebabkan Kanker lho.


Keputihan yang disebabkan penyakit dan dibiarkan tidak diobati sampai lama, adakalanya
menyebabkan kemandulan karena penyebaran infeksi.
Sedangkan keputihan yang bukan karena penyakit, tidak menyebabkan kemandulan.
Apapun gejalanya, bila kita mengalaminya, kewaspadaan dini dengan cara bertanya kepada
dokter, adalah tindakan yang bijaksana.
PENYEBAB KEPUTIHAN
Seperti halnya gejala keputihan, penyebab terjadinya Keputihan dapat disebabkan kondisi non
patologis (bukan penyakit), dan kondisi patologis (karena penyakit)
Penyebab Non Patologis (bukan penyakit):

Saat menjelang Menstruasi, atau setelah Menstruasi

Rangsangan Seksual, saat wanita hamil

Stress, baik fisik maupun psikologis

Penyebab Patologis (karena penyakit):

Infeksi Jamur (kebanyakan jamur Candida albicans )

Infeksi bakteri (kuman E. coli, Sthaphilococcos )

Infeksi Parasit jenis Protozoa (umumnya Trichomonas vaginalis )

Penyebab lain bisa karena infeksi Gonorhoe (GO / Kencing nanah ), dan lain-lain, banyak
deh. Bisa pula karena sakit yang lama, kurang gizi, anemia, dan faktor hyegiene
(kebersihan).

Hal lain yang juga dapat menyebabkan keputihan antara lain:


pemakaian tampon vagina, celana dalam terlalu ketat, alat kontrasepsi, rambut yang tak sengaja
masuk ke vagina, pemakaian antibiotika yang terlalu lama dan lain-lain.
Kanker leher rahim juga dapat menyebabkan keputihan, tetapi bukan berarti keputihan
menyebabkan kanker. Jangan dibalik ya
Perlu diingat lagi, bertanya kepada ahlinya adalah tindakan yang bijaksana.
PENGOBATAN
Pengobatan keputihan sudah barang tentu bergantung kepada penyebabnya.
Untuk keputihan ringan, cukup dengan membersihkan dengan antiseptik vagina sesuai anjuran
dokter anda.
Sedangkan keputihan akibat infeksi, mutlak diperlukan anti infeksi. Pemilihan anti infeksi
disesuaikan dengan jenis mikro-organismenya.
Jika penyebabnya jamur, maka diberikan pengobatan anti jamur, jika karena bakteri diberikan
antibiotik (sesuai jenis kuman), jika penyebabnya protozoa (Trichomonas vaginalis) diberikan
obat anti parasit dan seterusnya.
Perlu diingat, pemilihan obat-obat di atas seyogyanya berdasarkan jenis mikro-organisme
penyebab keputihan. Caranya dengan memeriksa cairan vagina untuk mengetahui jenis mikroorganisme. Biayanya murah koq, sekitar 20 ribu doang. Murah kan, murah kan.
Sedangkan pemeriksaan lebih spesifik dan akurat untuk keputihan karena kuman adalah test
kepekaan kuman. Nah, dengan test kepekaan ini dapat ditentukan jenis antibiotikanya.
Contoh:
Test kepekaan antibiotika terhadap penyebab keputihan menunjukkan hasil sebagai berikut:

Eritromisin: 22 mm

Doksisiklin: 22 mm

Tiamfenikol: 20 mm

Siprofloksasin: 18 mm

Metronidazol: 18 mm

Berdasarkan hasil test kepekaan tersebut maka obat pilihan yang diberikan adalah Eritromisin
atau Doksisikllin.
Jadi tidak lantas hantam kromo, misalnya semua penderita keputihan disikat pakai cyprofloxacin.
Itu mah seperti nembak burung emprit pakai senapan otomatis, tret tret tet tet tet dor dor dor
jelegur. Hah, koq kayak Rambo ya. Bayangkan, burung empritnya bisa diberangus, tetapi dahan,
rating dan dedaunan di tempat si burung emprit hinggap tersebut juga rontok berguguran. Koq
kasih contoh seekstrim gitu sih? Iya dong, namanya juga perumpamaan. Artinya kita harus
paham bahwa memberikan obat itu perlu dipertimbangkan manfaat dan mudharatnya. Selain itu
si dokter juga menjaga pasiennya agar tidak resisten di kemudian hari, tidak semata-mata mak
nyus agar nampak ampuh dan sakti mandraguna. Supaya laris ? Ya kali, eh enggak ding
Gimana dengan air rebusan daun sirih ?
Waduh, yang ini penulis tidak tahu apakah sudah ada penelitian yang akurat apa belum. Banyak
tuh buku-buku tanaman obat dan tabloit wanita yang menyebutkan seperti itu. Kembali ke
penyebab !!!

Ada juga pasien yang ke praktek sudah diobati dengan beragam ramuan daun dan lain-lain,
hasilnya beberapa minggu tetap keputihan. Setelah diperiksa cairan vagina ternyata penyebabnya
kuman E. coli (kuman yang biasanya nongkrong di usus). Nah obatnya bukan rebusan kan.
Ketika Keputihan, apa tindakan Anda ?

Berupaya mencari pengobatan yang tepat dan benar

Hindari memakai pakaian ketat dan jaga kebersihan

Untuk sementara menghindari hubungan badan dan ajak pasangan anda menjalani
pemeriksaan bersama

Tidak mengobati diri sendiri karena kesalahan obat dapat memperberat infeksi

Pemakaian obat antibiotika, hanya atas anjuran dokter.

Hindari gonta ganti pasangan

PENCEGAHAN
Bagaimana mencegah Keputihan ?
Di atas sudah disinggung, silahkan simak lagi yang berikut ini:

Jaga Kebersihan Vagina (bersihkan dengan air bersih, sedangkan pemakaian cairan
antiseptik hanya atas saran dokter)

Hindari celana dalam ketat apalagi yang berbahan nylon, sebaiknya pakai bahan katun
dan jangan lupa ganti setiap hari (hihihi apa ada yang ganti seminggu dua kali ya)

Membasuh atau membilas vagina dari depan ke belakang

Menghindari duduk di toilet umum (kecuali terpaksa, setelahnya bilas dengan air bersih
.sampai bersih sih sih)

Ganti pembalut (di kala menstruasi) tepat waktu, dll.

KEPUTIHAN, meskipun penyakit yang sederhana dan dapat menyerang sekitar 50% populasi
wanita pada semua umur, kenyataannya bukan hal yang mudah disembuhkan. Keputihan juga
bisa normal meskipun jumlahnya agak banyak, seperti saat ovulasi pada setiap periode (kira-kira
2 minggu sebelum diperkirakan akan haid), pada saat seorang wanita terangsang seksual, dsb.
Pada umumnya keputihan digolongkan pada 3 golongan besar yakni Jamur/Vulvovaginal
kandidosis (tersering); Trikomoniasis (sering berhubungan dengan aktivitas seksual) dan
Bakterial vaginosis yang disebabkan karena keseimbangan keasaman vagina berubah, bisa
terjadi pada semua umur. Di samping itu masih ada lagi keputihan lain yang disebabkan oleh
penyakit hubungan seksual seperi gonore (sekretnya seperti nanah, kehijauan) atau Klamidia
(bisa tidak bergejala).
Pap's smear (apusan menurut Papaniculao) saja sulit mendiagnosis jenis keputihan mana yang
menyerang seorang wanita. Meskipun terlihat benang miselium jamur, penyakitnya secara klinis
belum tentu menggambarkan infeksi oleh jamur dan sebaliknya. Apusan ini lebih sering dipakai
untuk mendeteksi adanya lesi prakanker.
Pemeriksaan yang sederhana untuk menentukan jenis keputihan dapat dilakukan di
praktik/poliklinik dengan "triple test" yakni uji KOH, uji busa(H2O2) dan pemeriksaan
keasaman dengan lakmus. Bila keputihan gatal, mungkin jamur atau trikomoniasis; Bakterial

vaginosis biasanya berbau amis, cairannya encer, keabu-abuan atau homogen dan bertambah
banyak/bau pada saat hubungan seks. Sayangnya sering juga didapatkan keputihan yang berasal
dari campuran dua atau tiga penyakit; sehingga diagnosis tidak selalu mudah.
Keputihan juga dipengaruhi oleh kegiatan fisik, cara berpakaian, kebersihan, keringat atau pola
makan; sehingga menyembuhkan saja tanpa mengubah pola lain yang berpengaruh, belum tentu
efektif.
KEPUTIHAN merupakan istilah umum bagi keluarnya cairan yang berlebihan dari jalan
lahir/vagina. Keputihan pada umumnya berasal dari mulut rahim (serviks-servisitis, radang mulut
rahim), sebagian kecil/sangat jarang dapat juga berasal dari dinding rahim, vagina atau alat
kelamin bagian luar. Servisitis yang tersering menyerang wanita usia reproduksi adalah akibat
jamur (kandidosis), bakterial (vaginosis), parasit (trikomoniasis) atau bakteri lain seperti
berbagai kokus (coccen) dan yang lebih jarang akibat virus.
Keputihan akibat jamur seringnya menyebabkan rasa gatal, cairannya berwarna putih
kekuningan seperti susu basi atau selai keju (spread cheese) atau kehijauan apabila telah
mengalami infeksi sekunder. Keputihan karena trikomonas seringnya menampakkan cairan yang
berbuih, terasa gatal; sedangkan vaginosis sering menyebabkan cairan keabuan yang lebih encer
namun berbau amis, terlebih sesudah hubungan suami istri, cairan menjadi bertambah banyak
dan bau amis bertambah menyengat. Sayangnya tidak mudah menentukan penyebab keputihan
tanpa dokter memeriksa sendiri jenis cairannya dengan melihat atau memakai alat bantu
sederhana (lakmus, KOH, H2O2), juga karena pada satu wanita sering terjadi infeksi campuran.
Apabila keputihan berwarna kecokelatan, mungkin bercampur dengan darah yang dapat berasal
dari dinding rahim, erosi/lecet/pengelupasan pada leher rahim, polip atau yang jauh lebih jarang
adanya keganasan pada leher rahim.
Keputihan yang sering menyebabkan kemandulan tidak sering terjadi, biasanya karena
penjalaran radang dari mulut rahim ke atas, ke dalam rongga rahim dan ke dinding saluran telur
yang dapat menyebabkan perlekatan saluran telur sehingga tidak dapat dilalui oleh sperma/telur.
Keputihan seperti ini seringnya akibat penyakit menular seksual seperti gonore atau klamidia;
kedua penyakit pada wanita ini sering tidak bergejala.
Periksakan dengan saksama apa penyebab keputihan pada Ibu dan apakah benar berhubungan
dengan kesuburan sehingga dapat diberi pengobatan yang tepat.
Primolut adalah obat yang sering dipakai untuk penyakit yang berhubungan dengan gangguan
siklus haid.
Keputihan (leukorrhea, vaginal discharge) adalah keluarnya sekret / cairan dari vagina. Sekret
tersebut dapat bervariasi dalam konsistensi, warna dan bau. Keputihan dapat merupakan suatu keadaan
yang normal (fisiologis) atau sebagai tanda dari adanya suatu penyakit (patologis). Keputihan yang
normal biasanya tidak berwarna / bening, tidak berbau, tidak berlebihan dan tidak menimbulkan keluhan.
Sedangkan keputihan yang tidak normal biasanya berwarna kuning/hijau/keabu-abuan, berbau
amis/busuk, jumlah banyak dan menimbulkan keluhan seperti gatal dan rasa terbakar pada daerah intim.
Vagina memiliki mekanisme perlindungan terhadap infeksi. Kelenjar pada vagina dan serviks /
leher rahim menghasilkan sekret yang berfungsi sebagai sistem perlindungan alami dan sebagai lubrikan
mengurangi gesekan dinding vagina saat berjalan & saat berhubungan seksual. Jumlah sekret yang
dihasilkan tergantung dari masing-masing wanita. Dalam keadaan normal, kadang jumlah sekret dapat
meningkat seperti saat menjelang ovulasi, stres emosional dan saat terangsang secara seksual. Selain
itu, terdapat flora normal basil doderlein yang berfungsi dalam keseimbangan ekosistem pada vagina

sekaligus membuat lingkungan bersifat asam (pH 3.8-4.5) sehingga memiliki daya proteksi yang kuat
terhadap infeksi.
Pada beberapa keadaan tertentu seperti perubahan hormonal pada kehamilan dan penggunaan
pil KB, obat-obatan seperti steroid dan antibiotik, hubungan seksual dsb dapat meningkatkan resiko
seorang wanita mengalami keputihan yang tidak normal.
Ada banyak penyebab dari keputihan namun paling sering disebabkan oleh infeksi jamur candida,
bakteri dan parasit seperti Trikomonas yang menyebabkan peradangan pada vagina dan sekitarnya.
Keputihan yang harus diwaspadai adalah jika didapatkan keputihan yang berwarna kuning/hijau/keabuabuan/coklat, berbau tidak enak, jumlah banyak dan menimbulkan keluhan seperti gatal dan rasa
terbakar pada daerah intim.
Jamur
Keputihan yang disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans umumnya dipicu oleh faktor dari dalam
maupun luar tubuh seperti :

Kehamilan
Obesitas / kegemukan
Pemakaian pil KB
Obat-obatan tertentu seperti steroid, antibiotik
Riwayat diabetes / penyakit kencing manis
Daya tahan tubuh rendah
Iklim, panas, kelembaban

Sekret yang keluar biasanya berwarna putih kekuningan, seperti kepala susu (cottage cheese),
berbau khas dan menyebabkan rasa gatal yang hebat pada daerah intim-vulva dan sekitarnya
sehingga disebut vulvovaginitis. Rasa gatal sering merupakan keluhan yang dominan dirasakan.
Bakteri
Pada vagina terdapat flora normal yang terdiri dari bakteri baik yang berfungsi dalam keseimbangan
ekosistem sekaligus menjaga keasaman / pH yang normal serta beberapa bakteri lain dalam jumlah kecil
seperti Gardnerella vaginalis , mobiluncus, bacteroides dan Mycoplasma hominis.
Beberapa keadaan seperti kehamilan, penggunaan spiral / IUD (intra uterine device), hubungan seksual,
promiskuitas dapat memicu ketidakseimbangan flora normal vagina dimana pertumbuhan bakteri jahat
menjadi berlebihan. Keputihan yang disebabkan oleh bakteri Gardnerella dsb disebut sebagai bacterial
vaginosis / BV. Sebanyak 50% dari wanita dengan bacterial vaginosis bersifat asimtomatik yaitu tidak
memberikan gejala yang berarti
Keputihan biasanya encer, berwarna putih keabu-abuan dan berbau amis (fishy odor). Bau tercium
lebih menusuk setelah melakukan hubungan seksual dan menyebabkan darah menstruasi berbau tidak
enak. Jika ditemukan iritasi daerah vagina seperti gatal biasanya bersifat lebih ringan daripada keputihan
yang disebabkan oleh Candida albicans atau Trichomonas vaginalis.
Parasit
Infeksi parasit Trichomonas vaginalis termasuk dalam golongan penyakit menular seksual (PMS) karena
penularan terutama terjadi melalui hubungan seksual namun juga dapat melalui kontak dengan
perlengkapan mandi, bibir kloset yang telah terkontaminasi.
Keputihan berupa sekret berwarna kuning-hijau, kental, berbusa dan berbau tidak enak
(malodorous). Kadang keputihan yang terjadi menimbulkan rasa gatal dan iritasi pada daerah intim.

Komplikasi
Keputihan bila tidak diatasi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius seperti infertilitas /
masalah kesuburan, penyakit radang panggul (Pelvic Inflammatory Disease). Pada wanita hamil, infeksi

trikomonas dan bacterial vaginosis diduga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir
rendah (BBLR).
Penatalaksanaan
Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan, sebaiknya penatalaksanaan dilakukan
sedini mungkin sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab lain seperti kanker leher
rahim yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret encer, berwarna merah muda, coklat
mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit.
Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai
dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari
golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candida dan golongan metronidazol untuk mengatasi infeksi
bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat berupa sediaan oral (tablet, kapsul), topikal seperti krem yang
dioleskan dan uvula yang dimasukkan langsung ke dalam liang vagina. Untuk keputihan yang ditularkan
melalui hubungan seksual, terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan untuk tidak
berhubungan seksual selama masih dalam pengobatan. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga
kebersihan daerah intim sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan yaitu
dengan:

1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.

Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup,
hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan.
Setia kepada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk
mencegah penularan penyakit menular seksual.
Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap
kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan
yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasakan untuk
mengganti pembalut, pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri
berkembang biak.
Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah
depan ke belakang.
Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat
mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu
sebelum menggunakan cairan pembersih vagina.
Hindari penggunaan bedak talkum, tissue atau sabun dengan pewangi pada
daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.
Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti
meminjam perlengkapan mandi dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset
di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum
menggunakannya.

Kesimpulan
Keputihan merupakan masalah kesehatan reproduksi wanita yang sering dialami. Keputihan
yang normal adalah keputihan yang tidak berwarna/ bening, tidak berbau, tidak berlebihan dan tidak
menimbulkan keluhan. Biasanya sekret meningkat pada masa menjelang ovulasi, stres emosional dan
saat terangsang secara seksual. Keputihan yang harus diwaspadai adalah jika sekret berwarna
kuning/hijau/keabu-abuan, berbau tidak enak, jumlah banyak dan menimbulkan keluhan seperti gatal dan
rasa terbakar pada daerah intim. Beberapa keadaan seperti perubahan hormonal pada kehamilan dan
penggunaan pil KB, obat-obatan tertentu, hubungan seksual dsb dapat meningkatkan resiko seorang
wanita mengalami keputihan yang tidak normal. Keputihan yang tidak normal paling sering diakibatkan
oleh infeksi jamur Candida albicans, bakteri atau parasit Trichomonas vaginalis. Gejala keputihan
bervariasi dan tergantung dari penyebab dan jika dibiarkan berlanjut, keputihan dapat menyebabkan
komplikasi yang serius seperti infertilitas, penyakit radang panggul, kelahiran prematur dan berat badan
lahir rendah. Umumnya terapi obat-obatan diberikan sesuai dengan organisme yang menyebabkan

keputihan. Selain menggunakan obat-obatan, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim
sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan.

Keputihan, yang dalam bahasa medis disebut fluoralbus, adalah keluhan khas kaum wanita. Hampir
setiap wanita pernah merasakan kehadiran 'si putih' ini.
Ada wanita yang merasa biasa-biasa saja, namun tak sedikit yang merasa sangat terganggu. Ada yang
mengeluh gatal, lembab, bahkan muncul aroma tak sedap di sekitar organ intim. Selain aneka keluhan
yang sangat mengganggu ini, keputihan ternyata bisa menjadi pertanda awal dari penyakit atau
gangguan kesehatan yang serius. Sebut saja misalnya, vaginal candidiasis, gonorrhea, kemandulan,
bahkan kanker.
Keputihan adalah istilah awam untuk cairan yang keluar dari vagina. Sekitar 75 persen dari seluruh
wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan, paling tidak sekali seumur hidup. Dan sebanyak 45
persen wanita akan mengalami dua kali atau lebih kasus keputihan.
Mengapa terjadi keputihan? Keputihan terjadi karena di dalam vagina terdapat berbagai bakteri, 95
persen adalah bakteri lactobacillus dan selebihnya bakteri patogen (bakteri yang menyebabkan penyakit).
Dalam keadaan ekosistem vagina yang seimbang, bakteri patogen tidak akan mengganggu. Peran
penting dari bakteri dalam flora vaginal adalah untuk menjaga derajat keasaman (pH) agar tetap pada
level normal (3,6 - 4,2).
Dengan tingkat keasaman tersebut, lactobacillus akan tumbuh subur dan bakteri patogen akan mati.
Pada kondisi tertentu, kadar pH bisa berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah dari normal. Jika pH
vagina naik menjadi lebih tinggi dari 4,2 (kurang asam), maka jamur akan tumbuh dan berkembang.
Akibatnya, lactobacillus akan kalah dari bakteri patogen. Gejala keputihan pun muncul. Jika terdapat
gejala seperti perubahan warna, kuantitas, timbul bau yang lain dari biasanya, atau terasa gatal pada
vagina, disarankan segeralah konsultasikan ke dokter.
Normal dan tidak normal
Ada keputihan yang normal (fisiologis), ada pula yang tidak normal (patologis). Lalu, bagaimana
membedakannya? Seperti dijelaskan Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG, cairan vagina yang normal berwarna
putih jernih, bila menempel pada pakaian dalam berwarna kuning terang, tidak berbau, dan tidak
menimbulkan keluhan. Secara fisiologis, peningkatan jumlah cairan vagina bisa disebabkan oleh
sejumlah hal, seperti peningkatan jumlah hormon pada sekitar masa haid atau saat hamil, rangsangan
seksual, stres atau kelelahan, dan penggunaan obat-obatan atau alat kontrasepsi.
Sementara cairan vagina yang tidak normal, jumlahnya lebih banyak dari biasa dan terus-menerus
muncul hingga terasa mengganggu, berbau (amis, apek, busuk), berwarna (putih susu, kuning tua,
coklat, kehijauan, bercampur darah), konsistensi (encer, berbuih hingga kental menggumpal seperti susu
basi), disertai timbulnya kelainan pada daerah kelamin luar seperti benjolan, luka-luka semacam
sariawan, menimbulkan rasa gatal (panas atau disertai dengan nyeri saat buang air kecil atau
berhubungan seksual).
Keputihan yang tidak normal bisa disebabkan oleh banyak hal, antara lain: infeksi bakteri (chlamydia,
n.gonorrhoeae, atau bacterial vaginalis), jamur (candida sp), parasit (trichomonas vaginalis), kanker
serviks, polip serviks, gangguan keseimbangan flora vagina akibat pemakaian antiseptik secara terusmenerus, alergi, dan iritasi.
Pada dasarnya, keputihan bukanlah penyakit menular seksual. Wanita yang tidak aktif secara seksual
pun bisa mengalaminya. ''Semua wanita yang pernah melakukan hubungan seksual sebaiknya
memeriksakan diri ke ginekolog sedikitnya tiga tahun setelah hubungan seks pertama. Tapi kalau ada
keluhan, tidak usah tunggu sampai tiga tahun,'' tutur dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan
dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) ini.
Pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keputihan, antara lain dilakukan dengan wawancara untuk
mengetahui riwayat perjalanan penyakit dan kemungkinan faktor penyebabnya. Bagi yang sudah pernah
melakukan hubungan seksual, dilakukan pemeriksaan ginekologi rutin termasuk pemeriksaan daerah
vagina dan mulut rahim dengan alat khusus yang disebut spekulum. ''Pemeriksaan rutin ini sangat
penting karena setelah sekitar empat tahun bisa berubah menjadi prakanker,'' katanya.

Saat keputihan datang, banyak wanita yang berusaha mengobati sendiri dengan obat-obatan yang dijual
bebas di pasaran. Langkah ini sebenarnya kurang tepat. Sebab, orang awam umumnya tidak mengetahui
secara pasti efek samping yang mungkin timbul dari obat yang dibeli. Indikasinya pun belum diketahui
secara pasti karena tidak mudah mengenali penyebab keputihan. Jadi, untuk amannya, segera
periksakan diri ke dokter jika 'si putih' datang mengganggu.
Jaga Kebersihan Organ Intim
Hal terpenting untuk mencegah keputihan adalah menjaga kebersihan organ intim. Bagaimana cara
menjaga kebersihan 'daerah penting' itu, Dr dr Dwiana Ocviyanti SpOG memberikan sejumlah jurus,
yaitu:
* Gunakan pakaian dalam yang bersih dan kering. Beberapa organisme penyebab infeksi dapat tumbuh
subur dalam suasana yang hangat dan lembab, khususnya yang ditimbulkan oleh pakaian dalam
berbahan nilon, celana jeans ketat, pakaian dalam, dan pakaian renang yang basah.
* Bersihkan dan keringkan vagina setiap usai buang air kecil.
* Ganti pakaian dalam 2 - 3 kali sehari.
* Jangan terlalu sering atau berlebihan menggunakan cairan pembersih vagina. Jika tidak sedang
menderita keputihan, sebaiknya bersihkan daerah vagina dan sekitarnya dengan air bersih saja, jangan
dengan sabun.
* Hindari duduk pada toilet umum jika tidak sangat terpaksa.
* Biasakan membasuh vagina dengan cara yang baik dan benar, yaitu dengan gerakan dari depan ke
belakang, bukan sebaliknya. Ini untuk menghindari kotoran dari anus terbawa ke vagina.
* Jika keputihan sudah berat dan tidak kunjung sembuh, sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Dokter
mungkin akan memeriksa kuman apa yang menginfeksi vagina dan meresepkan antibiotik atau antijamur
yang sesuai. * Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
* Lakukan pemeriksaan ginekologi secara teratur, termasuk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks satu
tahun sekali bagi yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Orang bilang, keputihan adalah hal lumrah pada wanita. Tapi tak urung, ketika 'si putih' ini benar-benar
datang, perasaan menjadi cemas. Para wanita umumnya khawatir, cairan yang keluar dari organ intimnya
itu merupakan pertanda penyakit serius, atau hal-hal yang tidak normal lainnya. Menurut dokter Marly
Susanti SpOG, spesialis kandungan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Jaya, Jakarta Selatan,
keputihan adalah cairan yang keluar dari liang kemaluan wanita. Hal ini biasa dialami oleh wanita.
''Keputihan bisa terjadi pada anak-anak, wanita usia reproduksi ataupun wanita yang sudah tua,'' jelas
alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.
Penelitian oleh Prof JD Sobel dari Wayne State University juga menunjukkan betapa keputihan sangat
sering dikeluhkan oleh wanita. Dari penelitian ini diperoleh data, sekitar 75 persen perempuan dewasa
sedikitnya pernah mengalami satu kali vaginitis candida (keputihan yang disebabkan jamur candida)
sepanjang hidupnya, dan sebagian dari mereka akan mengalami kekambuhan. Lebih jauh, dokter yang
akrab disapa Santi ini menjelaskan, pada masa menjelang menstruasi atau bila mendapat rangsangan
seksual, perempuan akan mengeluarkan cairan dari vaginanya. Normalnya, cairan itu tidak berbau,
bening, bening, dan tidak menimbulkan gatal. Namun, jika yang keluar berlebihan disertai bau tidak
sedap (busuk dan amis), berwarna kekuningan atau keabu-abuan, maka inilah yang disebut keputihan.
Cairan keputihan ini memiliki konsistensi encer sampai kental, bukan berupa darah, walaupun kadang
disertai darah. Faktor kekentalan ini berhubungan erat dengan faktor hormonal. Pada masa ovulasi,
cairan yang keluar biasanya lebih kental dan bisa ditarik panjang. Lain lagi pada saat menjelang
menstruasi, cairan yang keluar dari vagina agak kental, sedangkan pada masa setelah menstruasi cairan
ini akan lebih encer. Sering didapati pula keluhan lain yang sangat mengganggu, seperti: rasa gatal,
kemerahan, lecet, dan pembengkakan di daerah sekitar kemaluan. ''Gangguan ini menyebabkan rasa
sangat tidak nyaman bagi perempuan yang menderitanya, apalagi bila disertai rasa perih bila terkena air,''
kata Santi.
Penyebab
Banyak faktor yang bisa menyebabkan timbulnya keputihan. Pertama adalah faktor fisiologis, yaitu pada
masa subur, setelah menstrusi, dan setelah berhubungan intim. Kedua adalah faktor penunjang, yaitu

saat wanita sedang hamil, mengalami anemia, kekurangan gizi, atau wanita usia lanjut. Faktor ketiga
disebut faktor pantologis atau kelainan. Di sini, keputihan disebabkan oleh masuknya benda asing,
misalnya karena pemakaian tampon atau alat pencegah kehamilan seperti spiral. Penyebab lain yang
dapat juga ditemukan adalah kanker atau keganasan pada daerah alat kelamin, misalnya kanker leher
rahim. Karena itu, wanita utamanya di atas 35 tahun dianjurkan untuk melakukan papsmear untuk
mendeteksi sedini mungkin ada tidaknya sel-sel ganas di mulut rahim.
Keputihan juga bisa disebabkan oleh infeksi mikroorganisma tertentu, misalnya jamur, bakteri, virus, dan
parasit. Jamur candida, terutama spesies candida albicans merupakan salah satu penyebab tersering
terjadinya keputihan. Bila jamur candida yang menjadi penyebab, gejala klinis yang biasanya muncul
adalah: keluar cairan kental seperti susu yang pecah berwarna putih kekuningan, timbul rasa gatal yang
sangat hebat, dan kulit di sekitar kemaluan menjadi kemerah-merahan. Dalam hal ini, ada beberapa
kelompok wanita yang rentan mengalami infeksi jamur yaitu: wanita hamil, penderita diabetes mellitus
(kencing manis), menopause, kegemukan, dan pengguna pil KB.
Santi juga menerangkan, ada beberapa kebiasaan atau aktivitas kaum wanita yang mendorong
munculnya infeksi jamur, bakteri, dan mikroorganisma lainnya. Salah satunya adalah kegiatan olah raga
yang berpotensi menimbulkan banyak keringat. Begitu pun penggunaan pakaian dalam yang terbuat dari
bahan sintetis. Pakaian dalam seperti ini bisa menghambat sirkulasi udara dan tidak menyerap keringat
sehingga menjadi tempat yang sangat baik untuk berkembangnya jamur atau kuman. Ada pula sebagian
wanita yang selalu membersihkan vaginanya dengan cara yang salah, yaitu dari arah belakang ke depan.
Pemakaian pantyliner juga tak selalu menguntungkan karena bisa menimbulkan alergi pada kulit.
Pemakaian tisu basah atau cairan pembersih alat kelamin juga merupakan salah satu penyebab
timbulnya keputihan.
Marly mengatakan, cairan pembersih memang bagus untuk menjaga kebersihan alat kelamin, tapi cukup
digunakan seminggu sekali atau dua kali seminggu. ''Sebaiknya, pilih cairan pembersih yang bersifat
hypo allergenic''. Pengobatan keputihan tentu sangat bergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya
bakteri pun, tak bisa sembarang antibiotik diberikan. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan
laboratorium untuk mendeteksi jenis bakteri yang menjadi penyebab keputihan tersebut. Jika diobati,
penderita keputihan akan sembuh dengan rawat jalan selama lima sampai delapan hari. ''Kecuali kalau
penyakitnya sudah berat, pengobatannya bisa berminggu-minggu''.

Masalah keputihan adalah masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita
yang tahu apa itu keputihan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan ini. Padahal keputihan tidak
bisa dianggap enteng, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa
mengakibatkan kemandulan dan hamil diluar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker
leher rahim, yang bisa berujung pada kematian. Apa sebenarnya keputihan itu? Seperti apa ciri-cirinya? Dan
bagaimana pencegahannya?
Menurut dr. Sugi Suhandi, spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan RS Mitra Kemayoran Jakarta, keputihan
(flour albus) adalah cairan yang berlebihan yang keluar dari vagina. Keputihan bisa bersifat fisiologis (dalam
keadaan normal) namun bisa juga bersifat patologis (karena penyakit). Dan keputihan tidak mengenal batasan usia.
Berapa pun usia seorang wanita, bisa terkena keputihan.
Keputihan fisiologis biasanya terjadi pada masa subur, juga sebelum dan sesudah menstruasi. Kadang saat itu ada
lendir yang berlebihan, itu normal. Dan biasanya tidak gatal dan tidak berbau, jelas dr. Sugi. Sedangkan kalau
keputihan patologis , adalah keputihan yang terjadi karena infeksi pada vagina, adanya benda asing dalam vagina
atau karena keganasan. Infeksi bisa sebagai akibat dari bakteri, jamur atau protozoa. Ciri-ciri keputihan patologis ,

warnanya tidak seperti lendir. Keputihan patologis biasanya, warnanya seperti kepala susu, atau hijau kekuningkuningan, atau bahkan bercampur darah, kalau keputihannya sudah menjadi penyakit, ujar dr. Sugi. Ketika
keputihan sudah menjadi penyakit, wanita yang menderita keputihan patologis ini akan merasa gatal pada daerah
vagina, dan lendir yang keluar berbau, sehingga menimbulkan rasa yang tidak nyaman.
Banyak hal sebenarnya yang membuat wanita rawan terkena keputihan patologis . Biasanya penyebab keputihan
patologis ini karena kuman. Di dalam vagina sebenarnya bukan tempat yang steril. Berbagai macam kuman ada di
situ. Flora normal di dalam vagina membantu menjaga keasaman pH vagina, pada keadaan yang optimal. pH
vagina seharusnya antara 3,5-5,5. flora normal ini bisa terganggu. Misalnya karena pemakaian antiseptik untuk
daerah vagina bagian dalam. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan tumbuhnya jamur dan kuman-kuman yang
lain. Padahal adanya flora normal dibutuhkan untuk menekan tumbuhan yang lain itu untuk tidak tumbuh subur.
Kalau keasaman dalam vagina berubah maka kuman-kuman lain dengan mudah akan tumbuh sehingga akibatnya
bisa terjadi infeksi yang akhirnya menyebabkan keputihan, yang berbau, gatal, dan menimbulkan
ketidaknyamanan, papar dr. Sugi yang sore itu ditemui di RS Mitra Kemayoran.
Begitu seorang wanita melakukan hubungan seks, maka wanita tersebut terbuka sekali terhadap kuman-kuman
yang berasal dari luar. Karena itu keputihan pun bisa didapat dari kuman penyebab penyakit kelamin yang mungkin
dibawa oleh pasangan seks wanita tersebut. Jadi sebaiknya jangan gonta ganti pasangan. Atau lebih baik tidak
melakukan seks sampai menikah. Karena biasanya pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seks, dan
hygienenya baik, jarang sekali kena keputihan patologis . Dan hati-hati, keputihan patologis juga bisa karena proses
keganasan. Salah satu Tanda dari kanker leher rahim adalah, adanya keputihan yang berbau busuk bahkan
berdarah, papar dr. Sugi. Pada wanita yang belum melakukan hubungan seksual, bisa juga terjadi keputihan.
Namun penyebab keputihan bisa terjadi karena menggunakan celana dalam bersama, memakai handuk bersama,
kurangnya menjaga kebersihan daerah vagina, lalu juga cara cebok yang salah, tutur dr. Sugi.
Pemakaian sabun antiseptik yang sekarang banyak diiklankan, untuk daerah vagina, sebenarnya tidak masalah bila
dipakai sebagai obat luar. Pembilasan vagina ( douchi ) dengan anti septik sebaiknya atas dasar indikasi bila
terkena keputihan, sebaiknya ke dokter, daripada mengatasinya sendiri dengan obat-obatan antiseptik yang
dimasukkan ke dalam vagina keputihan patologi harus diobati sesuai dengan penyebabnya, ujar dr. Sugi.
Keputihan sebaiknya diobati sejak dini, begitu timbul gejala. Karena keputihan kalau sudah kronis dan berlangsung
lama akan lebih susah diobati. Selain itu kalau keputihan yang dibiarkan bisa merembet ke rongga rahim kemudian
kesaluran indung telur dan sampai ke indung telur dan akhirnya ke dalam rongga panggul. Tidak jarang wanita
yang menderita keputihan yang kronis (bertahun-tahun) bisa menjadi mandul bahkan bisa berakibat kematian.
Berakibat kematian karena bisa mengakibatkan terjadinya kehamilan di luar kandungan. Kehamilan di luar
kandungan, terjadi pendarahan, mengakibatkan kematian pada ibu-ibu, tegas dr. Sugi. Selain itu yang harus
diwaspadai, keputihan adalah gejala awal dari kanker mulut rahim. Jadi jangan sampai terlambat untuk tahu apa
yang menjadi penyebab keputihan. Yang pasti jangan anggap remeh keputihan. Supaya kamu tidak menyesal di
belakang hari nanti, karena akibat yang ditimbulkan oleh penyakit keputihan ini.
Yang Perlu di perhatikan

Cara membilas vagina yang benar, setelah habis buang air besar atau sehabis buang air kecil, sebaiknya
membilas vagina dari arah depan ke belakang ke arah anus.
Keputihan fisiologis (normal), ciri-cirinya, lendirnya seperti lendir bening, Tidak gatal dan tidak berbau.
Keputihan patologis (karena penyakit), ciri-cirinya, warna lendirnya tidak bening lagi tetapi putih seperti
kepala susu, bisa kuning kehijauan atau kecoklatan, bahkan bisa kemerahan karena adanya darah.
Biasanya disertai rasa gatal, dan ada bau yang menyertainya.

Penyebab Keputihan Patologis (Karena Penyakit):

Infeksi yang di akibatkan oleh bakteri, jamur, atau protozoa

Keganasan kanker leher rahim

Benda asing didalam vagina ( misalnya : kondom yang tertinggal )

Cara mencegah keputihan:

Menjaga kebersihan daerah vagina

Membilas vagina dengan cara yang benar

Jangan suka tukar-tukaran celana dalam menggunakan celana dalam bersama dengan teman wanita
lainnya

Jangan menggunakan handuk bersamaan ( suka tukar-tukaran handuk )

Lebih berhati hati dalam menggunakan sarana toilet umum

Jalani Pola hidup sehat, cukup tidur, olah raga teratur, makan makanan dengan gizi yang seimbang

Hindari gonta ganti pasangan seksual (seks bebas)

Bagi wanita yang sudah melakukan hubungan seksual, setiap tahun harus melakukan papsmear untuk
mendeteksi perangai sel-sel yang ada di mulut dan leher rahim.

Keputihan adalah penyakit yang umum dialami oleh hamper semua perempuan. Meski
umum, bukan berarti penyakit ini boleh dianggap remeh. Apa saja penyebab keputihan?
Kita akan membahasnya dalam SPDS kali ini.
Normalnya, seorang perempuan memang mengeluarkan lender pada organ reproduksinya
sebagai pembersih bagian tersebut. Seperti halnya lender pada bagian organ lain seperti
mulut, hidung dan lainnya, lender pada organ reproduksi juga menjadi penyeimbang suhu
tubuh. Namun, apabila lender di vagina jumlahnya banyak, berwarna putih seperti susu basi
atau kuning kehijauan, bahkan berbau, baik disertai gatal atau tidak, maka keadaan ini
disebut vaginistis (keputihan). Penyakit keputihan sangat sering dijumpai dan menjadi
problem pada wanita. Sekitar 75 persen wanita di dunia pernah mengalaminya.
Banyak orang menyangka bahwa keputihan yang punya istilah medis leukorea atau fluor
albus ini hanya kondisi yang normal saja. Padahal sewaktu-waktu lender itu dapat jadi
pertanda adanya penyakit yang perlu diwaspadai. Lendir dalam vagina sangat dipengaruhi
dengan kondisi hormone. Soalnya, lender ini terdiri dari epitel dan leukosit. Leukosit penting
untuk membunuh kuman. Bila kandungan leukositnya meningkat pada lender tersebut dan
warnanya berubah, patu dicurigai.
Ada beberapa penyebab keputihan, diantaranya infeksi oleh kuman (bakteri), jamur, parasit,
dan virus. Keputihan juga bisa disebabkan oleh gangguan hormonal akibat mati haid
(menopause), adanya keganasan atau kanker pada alat kelamin terutama leher rahim.
Jenis jamur yang biasa menyerang adalah Candida Sp yang menimbulkan rasa gatal.
Beberapa keadaan yang menjadikan vagina menjadi tempat subur bagi pertumbuhan ini
adalah ketidakseimbangan hormone reproduksi wanita yang terjadi pada kehamilan,
penyakit kencing manis, dan pada pemakai pil KB. Bila dibiarkan, jamur dapat menginfeksi
dan melemahkan tubuh terhadap penyakit.
Pada beberapa penyakit kelamin seperti Gonorrhoea atau sifilis dan lainnya, lender itu
mengandung bakteri. Seringkali lender itu mengandung darah, nanah, dan berbau amis. Tak
hanya itu saja, bagian vagina pun terasa nyeri, perih dan gatal. Bakteri yang menginfeksi
adalah Gonococcus, trichomonas vaginalis, Enterobiasis, Chlamydia trachomatis,
Gardnerella, Treponema pallidum. Biasanya, pengobatan yang diberikan adalah dengan
antibiotik.
Virus pun bisa saja menyerang organ ini, Bila parah, akan terdapat luka. Contoh penyakit
yang disebabkan virus adalah virus Human papilloma Virus dan Herpes Simplex. Serangan
virus itu jadi pertanda gejala awal kanker leher rahim. Sementara, parasit penyebab
keputihan adalah Trichomonas vaginalis, ditularkan dari senggama dan perlengkapan mandi,
handuk atau bibir kloset.

Keputihan seringkali pula dikaitkan dengan kadar keasaman daerah sekitar vagina. Karena
keputihan bisa terjadi pH vagina tidak seimbang. Sementara kadar keasaman vagina
disebabkan oleh dua hal, factor intern dan ekstern. Faktor intern antara lain dipicu oleh pil
kontrasepsi yang mengandung estrogen, IUD yang bisa menyebabkan bakteri, trauma
akibat pembedahan, kelamaan menggunakan antibiotic, kortikosteroid dan immunosupresan
pada penderita asma, kanker atau HIV positif. Sedangkan factor eksternal antara lain arah
mencebok yang salah (seharusnya dari depan ke belakang), sering memakai tissue saat
mencebok, kehamilan dan diabetes mellitus, pakaian dalam yang ketat, hubungan seks
dengan pria yang membawa virus Gonorrhoea, menggunakan WC umum yang tercemar
bakteri Chlamydia.
Menurut sebagian pakar penyakit kulit dan kelamin. Keputihan lebih banyak keluar ketika
perempuan ada pada siklus ovulasi menjelang menstruasi. Pada masa itu, hormone
estrogen meningkat. Itulah yang menyebabkan lender vagina pun meningkat jumlahnya.
Disamping itu, jumlah lendirnya semakin banyak dimasa kehamilan seiring dengan
meningkatnya hormone estrogen. Lendir tersebut bermanfaat menjaga kelembaban vagina
dan elastisitas otot-otot sekitarnya. Hal ini bermanfaat untuk mempersiapkan jaringan
tersebut untuk menjalani proses partus.
Untuk mengobati keputihan, harus diketahui sejauh mana tingkat keputihannya. Bila sudah
tahu penyebabnya apa dan separah apa, tindakan pengobatan pun dapat dilakukan tepat
sasaran. Saat ini banyak beredar berapa produk yang diperuntukkan bagi kenyamanan
organ genital dan diiklankan bisa menyeimbangkan kadar keasamannya, mencegah dan
mengatasi keputihan. Baik dalam bentuk cairan pembasuh, cairan untuk disemprotkan ke
dalam maupun tissue basah. Namun produk itu tidak terlalu bermanfaat bagi para wanita
yang organ genitalnya ber pH normal. Pasalnya di dalam organ genital itu sudah ada bakteri
yang selalu siaga menstabilkan tetap di pH 3,5 hingga 4,5.
Bagi wanita yang mengalami keputihan, lebih bijaksana untuk mengkonsultasikan
penggunaan produk itu kepada dokter ahli. Namun, secara umum untuk bentuk cairan
masih relative aman, meskipun ciran ini tidak menjawab permasalahan keputihan itu
sesungguhnya.