Anda di halaman 1dari 3

SEJARAH KERIPIK SINGKONG KREASI LUTVI

Muhdi saat ini menjadi pengusaha sukses kripik singkong. Sebulan sekali dia
mengekspor dua kontainer keripik singkong ke Korea Selatan, untuk memenuhi pesanan
pelanggannya dari negeri ginseng tersebut.
Satu kontainer berisi 2.566 kotak keripik dengan aneka rasa dan setiap kotak berisi 2,6 kg
keripik. Rutinitas itu setidaknya sudah ia jalani dalam dua tahun belakangan ini. Selain ke Korea
Selatan produk keripik singkongnya juga sudah merambah pasar Malaysia dan Singapura.
Padahal usahanya itu terhitung belum terlalu lama dibuka yakni sekitar awal tahun 1999.
Keberhasilan melebarkan pemasaran hingga ke beberapa negara tentunya tidak didapat
dengan serta merta. Berbagai jalan berliku harus dijalani Muhdi, agar "Kreasi Lutfi" demikian ia
menamakan produk keripik singkong olahannya, bisa menembus pasar internasional. Meski
sudah tergolong orang yang berhasil dalam berbisnis, hingga mampu memasarkan produknya ke
beberapa negara, namun pria asal Magelang ini masih terlihat sederhana.
Pria ini tinggal di Desa Tuntungan II, Kecamatan Pancurbatu, Deli Serdang, Sumatera
Utara. Tempat tinggalnnya itu, sekaligus menjadi tempat usahanya mengolah singkong menjadi
keripik berkualitas ekspor. Ketika bertemu, dia ramah dan bersahabat. Begitu kesan pertama
ketika bertemu dengan pengusaha kripik singkong ini. Selama lebih kurang tiga jam berbincangbincang dengan Muhdi, tidak terasa berlalu begitu saja. Sesekali terdengar guyonan dari bibir
nya yang dihiasai kumis tebal, saat menceritakan pengalamannya dari awal hingga menjadi
seorang eksportis. Ia mengatakan, semua usahanya itu berawal ari "kepepet". Usaha itu dimulai
akibat krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998. Ia yang saat itu berprofesi sebagai pemasok
berbagai keperluan sehari-hari ke sebuah pesantren harus banting stir. Toko tempatnya biasa
mengambil barang bangkrut.
Sempat beberapa lama bergelut dengan usaha yang tidak menunjukkan peningkatan.
Kemudian ia mencoba membuat keripik singkong, dengan dibantu istri dan anaknya. Itupun
tidak langsung berhasil, karena beberapa kali keripik olahannya tidak memuaskan. "Beberapa
kali percobaan baru menghasilkan kualitas seperti yang diinginkan. Pertama kali keripik itu saya
titipkan ke beberapa kios yang ada di Medan dengan empat tingkatan harga yakni harga Rp500,
Rp1.000, Rp1.500 dan Rp2.000. Rupanya yang laris itu harga yang paling murah," katanya
sambil

tertawa.

Secara perlahan bisnisnya terus menunjukkan perkembangan. Produksinya pun terus


meningkat, proses produksi pun terus ditambah , bahkan hingga malam hari. Demikian juga
tenaga terus ditambah demi memenuhi pesanan pelanggan. "Untuk berhasil, ilmunya sederhana
saja, yakni tiga O dan tiga M. Selaraskan otak, otot, dan omong, membuat produknya mutu,
mudah, dan murah, serta bekerja dengan senang, santai, tetapi selesai. Tiga O dan tiga M itulah
yang terus menjadi pijakan saya," katanya.
Masalah mulai muncul ketika rumah tempat produksi yang disewanya hendak dijual
pemilik. Apa boleh buat, ia berinisiatif membeli rumah itu. Meski tanpa memiliki uang yang
cukup. Beberapa bank sempat ia masuki untuk mencari pinjaman. Namun apa daya harapan
belum sesuai dengan keinginan.
Beberapa menolak proposal yang ia tawarkan. Meski demikian ia tidak kenal putus asa,
berbagai upaya ia lakukan agar dapat pinjaman. Karena keras itu pulalah akhirnya, membuat
salah satu bank akhirnya melunak.
Dengan uang pinjaman itu, akhirnya ia berhasil mendapatkan rumah itu, dan selesailah
masalah. Produki demi produksi pun akhirnya terus berjalan, seiring permintaan yang terus
meningkat. Tentunya itu ia imbangi dengan kecakapan diri, dengan mengikuti berbagai seminar
dan pelatihan, baik yang digelar swasta dan pemerintah.
Nah, bagaimana ia bisa melebarkan sayap hingga ke Korea Selatan. Ia bercerita awalnya
terjadi karena kebetulan. Berawal ketika seorang warga Korea selatan yang sedang bermain golf
di salah satu lapangan golf di Medan mencicipi keripik singkongnya.
Rupanya ia suka dengan rasa keripik itu, dan saat akan pulang kenegrinya, ia memesan
lagi sekitar lima kilo untuk diberikan kekeluarganya sebagai oleh-oleh dari Indonesia. Bak
gayung bersambut, ternyata keluarganya juga menyukai keripik singkong itu.
Entah siapa yang memulai, akhirnya warga Korea itu meneleponnya meminta kiriman
keripik singkong dengan jumlah besar, untuk dipasarkan di negeri ginseng itu. Tenaga kerja terus
ditambah dan hingga saat ini sedikitnya ia sudah mempekerjakan 50 orang yang sebagian besar
merupakan tetangganya sendiri. "Dari sinilah, akhirnya permintaan dari hari kehari terus terus
meningkat. Sedikitnya dalam 15 hari sekali kami harus mengirim satu kontainer keripik
singkong kesana. Di Korea Selatan memang tidak ada ubi, jadi ini memang kesempatan besar
bagi kami," katanya.

Selain karena usaha dan kerja kerasnya, keberhasilan itu menurut dia juga tidak terlepas
dari peran Pemprov Sumut melalui Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Melalui kedua institusi itu ia banyak mendapat kesempatan untuk mempromosikan keripik
singkong "Kreasi Lutvi"nya ke berbagai lapisan masyarakat melalui pameran maupun berbagai
kesempatan lainnya.
Selain itu ia juga banyak mendapat kesempatan untuk memperdalam ilmunya dalam
bidang pemasaran maupun mengolah bahan olahannya dengan berbagai aneka rasa. Berbagai
kreasi sudah ia ciptakan untuk keripik singkongnya, seperti rasa original, rasa chitato, dan rasa
balado serta keripik singkong mini stik.
Muhdi menilai keberhasilannya saat ini tidak terlepas juga dari bantuan pemerintah yang
terus secara intensif memperhatikan perkembangan pelaku-pelaku usaha kecil menengah (UKM)
seperti dirinya.
Bahkan dalam dua tahun belakangan ini, Pemerintah Provinsi Sumut di bawah kendali
Gatot Pujio Nugroho banyak memberikan bantuan kepada mereka. Selain bantuan promosi juga
ada bantuan lainnya seperti peralatan untuk pengembangan produk olahan. "Pemerintah provinsi
sudah banyak membantu pelaku-pelaku UKM. Kami juga sudah dibantu misalnya dalam hal
Gugus Kendali Mutu. Kami juga banyak dibantu bagimana menghasilkan produk yang higienis
dan bagaimana menghasilkan produk lokal yang bisa masuki pasar global," katanya penuh
syukur.