Anda di halaman 1dari 4

Dalam aspek-aspek penentu kepuasan kerja karyawan, jam kerja merupakan bagian dari kondisi kerja

yang menjadi salah satu indikator dalam mempengaruhi kepuasan kerja karyawan (Munandar, 2001).
Jam kerja terbagi menjadi jam kerja normal dan sistem shift. Menurut Sumamur (1994), shift kerja
merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk mengerjakan sesuatu oleh
perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi, sore dan malam.
Monk dan Folkard (dalam Kyla, 2008) mengkategorikan tiga jenis sistem shift kerja, yaitu shift
permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat. Dalam hal sistem shift rotasi,
pengertian shift kerja adalah kerja yang dibagi secara bergilir dalam waktu 24 jam. Pekerja yang
terlibat dalam sistem shift rotasi akan berubah-ubah waktu kerjanya, pagi, sore dan malam hari,
sesuai dengan sistem kerja shift rotasi yang ditentukan. Di Indonesia, sistem shift yang banyak
digunakan adalah sistem shift dengan pengaturan jam kerja secara bergilir mengikuti pola 5-5-5 yaitu
lima hari shift pagi (08.00-16.00), lima hari shift sore (16.00-24.00) dan lima hari shift malam (24.0008.00) diikuti dengan dua hari libur pada setiap akhir shift (Kyla, 2008).
Sistem kerja shift rotasi ada yang bersifat lambat, ada yang bersifat cepat. Dalam sistem kerja shift
rotasi yang bersifat lambat, pertukaran shift berlangsung setiap bulan atau setiap minggu, misalnya
seminggu kerja malam, seminggu kerja sore dan seminggu kerja pagi. Sedangkan dalam sistem kerja
shift rotasi yang cepat, pertukaran shift terjadi setiap satu, dua, atau tiga hari (Scott&LaDou, dalam
Adnan; 2002).
Adnan (2002) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa pada sistem shift rotasi terdapat aspek
positif dan aspek negatif. Aspek positifnya adalah memberikan lingkungan kerja yang sepi khusunya
shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Sedangkan aspek negatifnya adalah
penurunan kinerja, keselamatan kerja dan masalah kesehatan. Kinerja menurun selama kerja shift
malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat
mengakibatkan kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku kewaspadaan
pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan. Survei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan
dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et. al, melaporkan bahwa frekuensi kecelakaan paling
tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja (malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69% per
tenaga kerja (Adiwardana dalam Yasir, 2008).
Tidak semua orang dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift. Kerja shift membutuhkan
banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul bersama
keluarga. Secara umum, semua fungsi tubuh berada dalam keadaan siap digunakan pada siang hari.
Sedangkan pada malam hari adalah waktu untuk istirahat dan pemulihan sumber daya (energi). Monk
(dalam Adnan, 2002) mengatakan, individu yang tergolong tipe siang mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri dengan kerja shift malam. Individu dengan tipe siang adalah individu yang bangun
tidur lebih pagi dan tidur malam lebih awal dari rata-rata populasi.
Jika seorang karyawan tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem kerja shift ini, dapat
menimbulkan ketidakefektifan dalam bekerja yang akan mempengaruhi sikapnya terhadap pekerjaan

mereka. Namun, tidak semua karyawan yang mendapatkan jadwal sistem shift dalam bekerja
merasakan hal tersebut.
Keadaan pada setiap jadwal shift berbeda-beda, tidak semua individu merasakan kepuasan kerja
pada shift yang dijalani. Individu merasakan kepuasan terhadap pekerjaannya apabila dirinya
melakukan pekerjaan dengan baik dengan tingkat kesalahan yang kecil, selain itu kerjasama
kelompok dalam menyelesaikan pekerjaannya dapat mempengaruhi individu dalam merasakan
kepuasan terhadap pekerjaannya. Kelompok yang dapat bekerjasama dengan baik dan memiliki
hubungan yang harmonis antar karyawan lainnya cenderung dapat melakukan pekerjaan dengan baik
sehingga hasil dari pekerjaannya tersebut dapat memberikan kepuasan terhadap diri karyawan.
Biasanya kepuasan kerja yang dialami karyawan, apabila mereka mendapatkan jadwal dengan shift
pagi atau siang. Ketika menjalani shift pagi atau siang, individu dan kelompoknya masih memiliki
konsentrasi dan tingkat kefokusan yang baik sehingga ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaannya
dapat mengurangi kesalahan atau kelalaian.
Sebaliknya, seorang karyawan yang merasakan ketidakpuasan terhadap pekerjaanya sebagian besar
ketika dihadapkan pada jadwal shift malam. Rasa kantuk yang sering dialami dirinya dan rekan
kelompoknya dapat membuat tingkat konsentrasi menurun dan kurang fokus dalam melakukan
pekerjaannya. Menurunnya konsentrasi dan kurang fokusnya pada diri individu seringkali membuat
individu tidak teliti dalam melakukan pekerjaanya yang mengakibatkan tingkat kesalahan atau
kelalaian semakin besar. Sehingga hasil dari pekerjaan yang mereka lakukan tidak memberikan
kepuasan pada diri mereka terhadap pekerjaannya.
Individu yang merasakan kepuasan kerja akan memberikan berbagai respon, antara lain dengan
jumlah kehadiran yang baik, merasa senang dalam merasakan pekerjaan, serta menerima pekerjaan
dengan penuh tanggung jawab. Begitupun sebaliknya, individu yang merasakan ketidakpuasan dalam
pekerjaannya akan memberikan respon yang negatif, seperti kemangkiran dalam bekerja, jumlah
kehadiran yang kurang, dan biasanya memiliki motivasi yang rendah terhadap pekerjaan yang
dijalaninya
Berikut adalah aspek aspek yang dipengaruhi adanya shift kerja
1. Aspek Fisiologis
Masalah utama dari sisi faal tubuh terhadap penggunaan shift kerja adalah circardian rhythm individu
yang sulit dirubah. Circadian rhythm, yaitu proses-proses yang saling berhubungan yang dialami
tubuh untuk menyesuaikan dengan perubahan waktu selama 24 jam (Tayyari dan Smith, 1997).
Temperatur tubuh mempunyai pola normal seperti pola sinusoidal, maksimum sekitar pukul 4 sore
dan minimun pada sekitar pukul 4 pagi. Pola yang sama juga diikuti oleh mekanisme internal tubuh
yang lain, seperti jantung, pernapasan, hormon, pencernaan, dsb. Seseorang yang berganti shift
membutuhkan waktu penyesuaian agar pola sinusoidal berubah mengikuti irama kerja yang
bersangkutan. Hal ini bisa jadi membutuhkan waktu tidak cukup seminggu. Namun pola tersebut
tidak berubah total, sehingga tetap tidak mungkin melakukan adaptasi 100%.

Circadian rhythms menjadi dasar fisiologis dan psikologis pada siklus tidur dan bangun harian. Fungsi
dan tahapan fisiologis dan psikologis memiliki suatu circadian rhythms yang tertentu selama 24 jam
sehari, sehingga circadian rhythms seseorang akan terganggu jika terjadi perubahan jadwal kegiatan
seperti perubahan shift kerja. Dengan terganggunya circadian rhythms pada tubuh pekerja akan
terjadi dampak fisiologis pada pekerja seperti gangguan gastrointestinal, gangguan pola tidur dan
gangguan kesehatan lain.Circadian rhythms berhubungan dengan suhu tubuh, tingkat metabolisme,
detak jantung, tekanan darah, dan komposisi kimia tertentu pada tubuh. Circadian
rhythms dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti terang, gelap, dan suhu lingkungan.
2. Aspek Psikologis
Stress akibat shift kerja akan menyebabkan kelelahan (fatique) yang dapat menyebabkan gangguan
psikis pada pekerja, seperti ketidakpuasan dan iritasi. Tingkat kecelakaan dapat meningkat dengan
meningkatnya stres, fatique, dan ketidakpuasan akibat shift kerja ini.
3. Aspek Kinerja
Dari beberapa penelitian baik di Amerika maupun Eropa, shift kerja memiliki pengaruh pada kinerja
pekerja (Tayyari &Smith, 1997). Kinerja pekerja, termasuk tingkat kesalahan, ketelitian dan tingkat
kecelakaan, lebih baik pada waktu siang hari dari pada malam hari, sehingga dalam menentukan shift
kerja harus diperhatikan kombinasi dari tipe pekerjaan, sistem shift dan tipe pekerja.
4. Domestik dan sosial
Shift kerja akan berpengaruh negative terhadap hubungan keluarga seperti tingkat berkumpulnya
anggota keluarga dan sering berakibat pada konflik keluarga. Secara sosial, shift kerja juga akan
mempengaruhi sosialisasi pekerja karena interaksinya terhadap lingkungan menjadi terganggu. Karna
Aktivitas keluarga dan sosial biasanya dilakukan pada sore hari atau pada akhir pecan, karyawan yang
bekerja shift malam biasanya akan kehilangan waktu-waktu ini.
Kesimpulan:
Masalah yang umum berkaitan dengan shift malam:
1. Kelelahan (fatigue). Rata-rata pekerja shift malam mempunyai durasi tidur 1.5 jam lebih pendek
2. Gangguan kesehatan. Gangguan perut dan pencernaan, resiko penyakit jantung.
3. Masalah Keluarga dan Sosial. Gangguan pada hubungan interaksi sosial dengan keluarga dan
lingkungan sekitar
4. Penurunan Produktivitas. Lebih besar pada pekerjaan yang sifatnya knowledge-based
5. Keselamatan Kerja. Resiko meningkatnya kecelakaan kerja

http://dedylondong.blogspot.com/2012/03/penjadwalan-shift-kerja.html
repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf
http://wendikurniadirjas.blogspot.com/2010/04/shift-kerja-yang-baik-di-sesuaikan.html

Beri Nilai