Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus Diabetes Mellitus Dengan Pendekatan

Kedokteran Keluarga
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAMILY FOLDER

Nama
NIM

: Zolrina
:

DAFTAR ISI
JUDUL LAPORAN
DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Permasalahan
1.3. Tujuan
2. METODOLOGI PENELITIAN
3. MATERI PASIEN
4. PEMBAHASAN
5. KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit non infeksi yang masih banyak diderita
oleh masyarakat luas. Baik dari social ekonomi tinggi maupun yang rendah. Diabetes juga
merupakan penyakit keturunan sehingga sulit pula membasminya walaupun telah diketemukan
berbagai obat untuk mengontrol kadar gula darah penderita. Selain itu, banyak komplikasi yang
dihasilkan dari suatu keadaan diabetes mellitus, antara lain nefropati diabetikum, retinopati dan
lainnya. Sehingga diabetes masih memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi.
Berangkat dari latar belakang berbahaya dan banyaknya angka kejadian diabetes mellitus
di Indonesia ini,maka diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai diabetes mellitus dilihat dari
sisi kesehatan masyarakat.
1.2 Permasalahan
Diabetes mellitus memiliki banyak komplikasi apabila tidak tertangani dengan baik.
Komplikasinya antara lain, neuropati, nefropati, dan bahkan bisa jatuh ke dalam status koma
seperti diabetic ketoasidosis. Yang menjadi permasalahan ialah adakah hubungan dari pola hidup
keluarga dengan kesehatan pasien diabetes mellitus dipantau dari sisi kedokteran keluarga.
1.3 Tujuan
Dengan melakukan kegiatan kunjungan langsung kepada pasien puskesmas, diharapkan
dapat menambah wawasan mengenai diabetes yang ada pada kasus di lapangan. Kasus di
lapangan dapat saja memiliki variasi dan sedikit berbeda dengan teori yang ada, namun dengan
sedikit dasar, penanganan terhadap diabetes ini tidak lagi asing dan diharapkan dapat
menurunkan prevalensi hipertensi yang semakin meningkat. Dengan mengetahui kejadian
diabetes di lapangan, diharapkan menambah pengetahuan yang lebih baik mengenai diabetes
ditinjau dari sisi kemasyarakatannya.

BAB 2
METODOLOGI PENELITIAN
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengambil data dari pasien yang biasa berkunjung ke
Puskesmas Grogol III. Dengan data rekam medis yang ada di Puskesmas tersebut, dilakukan
kunjungan langsung kepada pasien untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan secukupnya.
Di samping itu, juga dilakukan penilaian atau survey terhadap kebersihan dan sanitasi
lingkungan pasien yang dikunjungi. Keadaan keluarga seperti anggota keluarga lain, pola
kehidupan juga menjadi hal yang diperhatikan karena turut mempengaruhi terhadap keadaan
pasien. Berikut ini hal-hal yang dicatat pada saat kunjungan.
I. Identitas Pasien
a. Nama
b. Umur
c. Jenis Kelamin
d. Pekerjaan
e. Pendidikan
f. Alamat
II. Riwayat Biologis Keluarga
a. Keadaan Kesehatan Sekarang
b. Penyakit yang Sering Diderita
c. Penyakit Keturunan
d. Penyakit Kronis/menular
e. Kecacatan Anggota Keluarga
f. Pola Makan
g. Pola Istirahat
h. Jumlah Anggota Keluarga
III. Psikologis Keluarga
a. Kebiasaan Buruk
b. Pengambilan Keputusan

c. Ketergantungan Obat
d. Tempat Mencari Pelayanan Kesehatan
e. Pola Rekreasi
IV. Keadaan Rumah/Lingkungan
a. Jenis Bangunan
b. Lantai Rumah
c. Luas Rumah
d. Penerangan
e. Kebersihan
f. Ventilasi
g. Dapur
h. Jamban Keluarga
i. Sumber Air Minum
j. Sumber Pencemaran Air
k. Pemanfaatan Pekarangan
l. Sistem Pembuangan Air Limbah
m. Tempat Pembuangan Sampah
n. Sanitasi Lingkungan
V. Spiritual Keluarga
a. Ketaatan Beribadah
b. Keyakinan Tentang Kesehatan
VI. Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat Pendidikan
b. Hubungan Antar Anggota Keluarga
c. Hubungan dengan Orang Lain
d. Kegiatan Organisasi Sosial
e. Keadaan Ekonomi
VII.

Kultural Keluarga

a. Adat yang Berpengaruh


b. Lain-lain

Pada saat kunjungan tidak menutup kemungkinan untuk menambahkan pertanyaan atau
melakukan pemeriksaan langsung terhadap keadaan lingkungan untuk mendapatkan data
tambahan sebagai masukan untuk pembahasan kasus. Dilampirkan pula beberapa hasil foto
mengenai keadaan tempat tinggal pasien yang dipandang cukup berpengaruh terhadap kesehatan
pasien.

BAB 3
MATERI PASIEN
3.1 Identitas Pasien
Nama

: Tn. Ibrahim

Jenis Kelamin : Pria

Usia

: 72 tahun

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Menikah

Pekerjaan

: Pensiunan

Pendidikan

: SHD ( tamat)

Alamat

: Jl. Kramat rt 10/ rw 09 no 14

3.2 Diagnosis
3.2.1 Diagnosis Kerja : diabetes mellitus tipe 2, disertai penyakit jantung dan hipertensi
3.3 Anamnesis
Diambil dari autoanamnesis tanggal 20 juli 2010 pada pukul 09.00. Dilakukan pada
kediaman pasien. Pasien memberikan respon dan penerimaan yang baik terhadap pertanyaan
yang diberikan.
Keluhan Utama:
Pasien merasa lemas, pusing dan sesak. Pasien merasakan sesuai dengan peningkatan
usia yang terjadi.
Keluhan Tambahan:
Kaki terasa lemas dan sakit, visus mata berkurang.
Riwayat Penyakit Sekarang:
OS sekarang berada di rumah karena telah tidak bekerja. OS merasakan lemas dan sering
pusing. Sudah tidak dapat berjalan terlalu jauh karena mudah sekali merasa lelah. Kadar gula
darah mencapai 295 mmol/L. Selain itu juga tekanan darah 150/100. Terakadang pasien merasa

sesak. Obat-obatan yang dikonsumsi sekarang ialah metformin, nifedipin, isosorbid dinitrat dan
captopril.
Riwayat Penyakit Dahulu
Dikatakan OS bahwa kesehatan beliau relative sehat, tetapi seiiring dengan pertambahan usia,
maka mulai timbul beberapa kelainan dari tubuh. Pada tahun 1994 ( sejak pensiun dari kegiatan
pegawai negeri sipil), timbul keluhan sesak di dada dan dilarikan ke rumah sakit, didiagnosa oleh
dokter adanya penyempitan arteri jantung sehingga harus dilakukan operasi. Akan tetapi OS
tidak mau untuk dioperasi, maka diberikan tata laksana berupa obat-obatan yang masih
dikonsumsi sampai sekarang yaitu isosorbid dinitrat. Diberikan dalam 2 bentuk yaitu oral dan
sublingual. Oral merupakan obat rutin yang dikonsumsi setiap hari dan sublingual apabila terjadi
serangan.
Penyakit umum lain yang pernah diderita ialah diare, influenza. Hipertensi meningkat sesuai
pertambahan usia dan masih terjadi hingga kini.
Riwayat Keluarga
Nama

Bp. Ibrahim
Ny. Ramilah
Ny. Fitriani
Tn. Budiman
Moh. Hamdani
Fenny
Fauzan
Andika
Nabila

Hubungan

Jenis

Keadaan

Keadaan

Penyebab

dengan

Kelamin

Kesehatan

Gizi

Kematian

KK
KK
Istri
Anak
Anak
Anak
Cucu
Cucu
Cucu
Cucu

Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan

DM, HT,PJK
Baik
Baik
Baik
DM
Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

3.4 Pemeriksaan fisik


3.4.1. Status kesehatan umum
Meliputi tinggi badan, berat badan, kesadaran, suara bicara dan tanda-tanda vital.
Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi :
-

Suhu

Nadi

Pernapasan

Tekanan darah

Status kesehatan umum

3.4.2. Kepala dan leher


Kepala : bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher
Telinga : berdenging, gangguan pendengaran, keluar cairan
Mulut : lidah kebal, komposisi ludah, gigi goyah, gusi bengkak dan berdarah
Mata : diplopia, penglihatan kabur, lensa keruh
3.4.3. System integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka
Kelembaban dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren,
Kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
3.4.4. System pernapasan
Adakah sesak napas, batuk, sputum, nyeri dada
3.4.5. System kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer
Takikardi / bradikardi, hipotensi/ hipertensi, aritmia
3.4.6. System gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrasi, perubahan berat
badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
3.4.7. System urinarius
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
3.4.8. System musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan
nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
3.4.9. System neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat,
kacau mental, disorientasi.

3.5.

Terapi
a. Metformin
Indikasi:
- Pengobatan penderita diabetes yang baru terdiagnosis setelah dewasa, dengan atau
tanpa kelebihan berat badan dan bila diet tidak berhasil.
- Sebagai kombinasi terapi pada penderita yang tidak responsif terhadap terapi
tunggal sulfonilurea baik primer ataupun sekunder.
- Sebagai obat pembantu untuk mengurangi dosis insulin apabila dibutuhkan.
Farmakologi:
Metformin adalah zat antihiperglikemik oral golongan biguanid untuk penderita
diabetes militus tanpa ketergantungan terhadap insulin. Mekanisme kerja metformin
yang tepat tidak jelas, walaupun demikian metformin dapat memperbaiki sensitivitas
hepatik dan periferal terhadap insulin tanpa menstimulasi sekresi insulin serta
menurunkan absorpsi glukosa dari saluran lambung-usus. Metformin hanya
mengurangi kadar glukosa darah dalam keadaan hiperglikemia serta tidak
menyebabkan hipoglikemia bila diberikan sebagai obat tunggal. Metformin tidak
menyebabkan pertambahan berat badan bahkan cendrung dapat menyebabkan
kehilangan berat badan.
Dosis:
Metformin harus diberikan bersama dengan makanan atau sesudah makan dalam
dosis yang terbagi.
Tablet 500 mg :
Dosis: 3 x sehari 1 tablet
Tablet 850 mg :
Dosis awal: 1 x sehari 1 tablet (pagi)
Dosis pemeliharaan: 2 x sehari 1 tablet (pagi dan malam)

b. Adalat ( Nifedipin )
Indikasi:
Dipergunakan untuk pengobatan dan prophylaxis dari kelainan jantung koroner
(dalam kondisi angina pektoris tertentu setelah infark jantung) dan sebagai tambahan
antihypertensive.
Dosis:
Pada umumnya terapi dimulai dengan 5-10 mg tiga kali sehari. Tablet biasanya
diminum sebelum makan. Ditelan utuh dengan bantuan air/cairan lain.
Peringatan Khusus dan Perhatian:
Akibat sampingan yang terjadi sebagian besar ada di awal pengobatan dan umumnya
bersifat sementara.
Sakit kepala, kemerahan dan sensasi panas mungkin terjadi. Mual, pening, kelelahan,
reaksi kulit, paraesthesia, turunnya tekanan darah ke di bawah normal (hypotensive
reaksi), palpitations dan percepatan laju detak jantung sudah dipatuhi, khususnya
setelah dosis tinggi.

c. Captopril
Indikasi:
Untuk hipertensi berat hingga sedang, kombinasi dengan tiazida memberikan efek
aditif, sedangkan kombinasi dengan beta bloker memberikan efek yang kurang aditif.
Untuk gagal jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan
diuretik dan digitalis, dalam hal ini pemberian kaptopril diberikan bersama diuretik
dan digitalis.

Dosis:
Kaptopril harus diberikan 1 jam sebelum makan, dosisnya sangat tergantung dari
kebutuhan penderita (individual).
Dewasa:
Hipertensi, dosis awal: 12,5 mg tiga kali sehari.
Bila setelah 2 minggu, penurunan tekanan darah masih belum memuaskan maka dosis
dapat ditingkatkan menjadi 25 mg tiga kali sehari. Bila setelah 2 minggu lagi, tekanan
darah masih belum terkontrol sebaiknya ditambahkan obat diuretik golongan tiazida
misal hidroklorotiazida 25 mg setiap hari.
d. Isosorbid dinitrat
Indikasi :
Profilaksis dan pengobatan angina; gagal jantung kiri
Dosis :

Sublingual : 5-10 mg

Oral : sehari dalam dosis terbagi, angina 30-120 mg

Infus Intravena : 2-10 mg/jam; dosis lebih tinggi sampai 20 mg/jam mungkin
diperlukan.

Efek samping
Sakit kepala berdenyut, muka merah, pusing, hipotensi postural, takikardi (dapat
terjadi bradikardi paradoksikal). Efek samping yang khas setelah injeksi meliputi
hipotensi berat, mual dan muntah, diaforesis, kuatir, gelisah, kedutan otot, palpitasi,
nyeri perut, sinkop, pemberian jangka panjang disertai dengan methemoglobinemia
3. 6. Prognosis
Prognosis yang diharapkan terjadi pada pasien ini tergantung dari dukungan keluarga dan
keadaan sekitar. Kesembuhan dari penyakit tidak hanya dilihat dari penyakit sebagai hal yang
biologis, tetapi menempatkan manusia juga ke dalam aspek psikologis dan social. Oleh karena
itu, pola kehidupan biologis, psikologis dan social yang seimbang akan sangat membantu
menentukan prognosis yang baik pada pasien ini.

3.7 Keadaan Biologis Keluarga


Yang dinilai ialah :
a. Keadaan Kesehatan Sekarang : baik
Keadaan kesehatan keluarga saat ini dinilai cukup baik. Selain Tn Ibrahim yang menderita
beberapa penyakit dikarenakan usia dan faktor keturunan, hanya anak bungsunya yang
mewarisi diabetes dari pasien. Istri pasien juga memiliki kesehatan yang cukup baik. Secara
keseluruhan keadaan kesehetan keluarga dinilai baik.
b. Kebersihan perorangan
Kebersihan merupakan faktor penting dalam kesehatan seseorang. Kebersihan perorangan
akan membawa kepada kebersihan satu anggota keluarga. Kebersihan perorangan dinilai
baik. Dlihat dari cara berpakaian, kebersihan yang tampak dari penampilan keluarga.
c. Penyakit yang Sering Diderita
Penyakit yang sering diderita hanyalah penyakit ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya
(self limited). Biasanya gejala dapat hilang dengan beristirahat ataupun obat yang dibeli di
warung setempat. Penyakit yang biasa diderita ialah pusing dan diare.
d. Penyakit Keturunan
Tidak ada penyakit lain yang diturunkan hanya diabetes mellitus.
e. Penyakit Kronis/menular
Tidak didapatkan riwayat adanya penyakit menular ataupun kronis yang didapatkan pada
anamnesis yang dilakukan.
f. Kecacatan Anggota Keluarga
Tidak terdapat adanya kecacatan pada setiap anggota keluarga.
g. Pola Makan
Pola makan pada keluarga sedang. Terdapat pengaturan pola makan yang diberikan oleh
dokter kepada pasien. Akan tetapi hal ini tidak dapat dituruti oleh pasien. Hal ini tentu kurang
baik untuk kondisi kesehatan pasien. Hal ini dikarenakan kurangnya dukungan keluarga
karena merasa repot dengan pengaturan pola makan.
h. Pola Istirahat

Pola istirahat dirasakan cukup baik. Terutama bagi pasien, karena sudah pension dan tidak
bekerja maka banyak waktu luang bagi pasien untuk beristirahat. Anggota keluarga lainnya
juga memiliki pola istirahat yang cukup.
i. Jumlah Anggota Keluarga
Terdapat sebelas orang yang tinggal pada rumah itu. Apabila perkiraan ruang gerak seseorang
yang ideal minimal 3x3, maka dengan luas rumah 110 m2, dikatakan layak huni.
3.8 Psikologis keluarga
a. Kebiasaan Buruk
Kebiasaan buruk pernah dilakukan oleh pasien semasa mudanya yaitu merokok dan
konsumsi alcohol. Akan tetapi tidak menurun atau menjangkit pada anggota keluarga lainnya.
Dan kebiasaan tersebut telah ditinggalkan pasien sejak mengidap penyakit.
b. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan dilakukan dengann diskusi atau demokratis. Tidak adanya
pemaksaan kehendak dari orang tua kepada anak dan sebaliknya.
c. Ketergantungan Obat
Tidak terdapat ketergantungan obat baik yang terlarang maupun obat yang dijual bebas di
pasaran.
d. Tempat Mencari Pelayanan Kesehatan
Sebagai pensiunan pegawai negri sipil, pasien memiliki askes untuk berobat di rumah sakit.
Akan tetapi bila sakit ringan, pasien mencari pertolongna pertama pada puskesmas ataupun
klinik 24 jam dekat dengan hunian pasien.
e. Pola Rekreasi
Pola rekreasi keluarga baik. Akan tetapi dengan mengingat usia pasien yang telah senja,
maka hal tersebut mengakibatkan pasien tidak dapat turut serta.
3.9. Keadaan rumah
a. Jenis Bangunan : permanen
b. Lantai Rumah : keramik
c. Luas Rumah : 110 m2
d. Penerangan : sedang.

Hal ini kemungkinan dikarenakan adanya upaya penghematan listrik yang dilakukan.
Kurangnya jendela yang membiarkan cahaya matahari masuk secara langsung ke dalam
rumah.
e. Kebersihan : sedang
Kebersihan rumah dinilai sedang, dipandang pula dari sisi kerapihan rumah tersebut. Banyak
barang yang tidak terpakai terdapat dan dibiarkan dalam rumah tersebut. Barang terseut dapat
menjadi sarang bagi vector nyamuk untuk menyebarkan penyakit sepreti demam berdarah.
f. Ventilasi
Ventilasi cukup baik
g. Dapur : ada
Namun yang dipandang kurang baik ialah peralatan yang digunakan saat memasak.
Kebersihan kurang terjaga. Tempat mencuci dan memasak juga kurang dijaga kebersihannya.
Hal ini yang harus ditingkatkan.
h. Jamban Keluarga : ada dan baik
i. Sumber Air Minum : air ledeng
j. Sumber Pencemaran Air : tidak ada
k. Pemanfaatan Pekarangan : ada
Di depan rumah dengan lahan yang sempit, namun terdapat penanaman pohon yang
membuat suasana rumah menjadi lebih asri dan hijau.
l. Sistem Pembuangan Air Limbah : ada
m. Tempat Pembuangan Sampah : ada
n. Sanitasi Lingkungan : sedang
Kebersihan lingkungan sekitar dirasa kurang baik.
3.10. Spiritual Keluarga
a. Ketaatan Beribadah : baik
b. Keyakinan Tentang Kesehatan : baik
3.11.Keadaan Sosial Keluarga
a. Tingkat Pendidikan : sedang
Anak dari pasien memiliki pendidikan rata-rata SMA dan ada pula yang sarjana.

b. Hubungan Antar Anggota Keluarga : baik


c. Hubungan dengan Orang Lain : baik
Pasien cukup dikenal di masyarakat dan disegani oleh penduduk sekitar. Membuktikan
bahwa hubungan pasien dengan orang lain baik dann terjalin ramah.
d. Kegiatan Organisasi Sosial : baik
Pasien merupakan ketua RT periode 1973-1983. Hal ini membuat pasien mengenal banyak
orang.
e. Keadaan Ekonomi : sedang

BAB 4
PEMBAHASAN
Strategi penyelesaian masalah pasien ini
4.1. Peranan keluarga dalam mengobati penyakit pasien:
Peran keluarga sudah cukup baik terutama pasien yang sering diingatkan agar tidak
mengkonsumsi obat seperti paramex, oskadon berlebih, istirahat teratur, makan
dikontrol, dan tidak lupa untuk minum obat.
Peran lainnya ialah dengan mengontrol pola makan pasien yang terkadang sulit
mengikuti anjuran diet dari dokter. Akan tetapi terkadang sulit untuk menyesuaikan
jenis makanan pasien dengan keluarga lainnya. Hal inilah yang menjadi kendala.
Kondisi lingkungan perumahan: menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Terdapat semua syarat rumah sehat seperti jamban keluarga, pembuangan limbah,
sarana air minum yang bersih dan baik, system pembuangan air yang baik, ventilasi
yang cukup. Persyaratan minimal seorang tinggal dalam rumah juga terpenuhi yaitu
dalam luas 110 m2 tinggal 11 orang, dengan estimasi seorang layak menghuni
bangunan 3 x 3 m. rumah tempat tinggal pasien memiliki dapur, akan tetapi kurang
terjaga kebersihan tempat dan alat-alat memasak yang digunakan. Hal inilah yang
dapat menjadi salah satu indicator penyebaran penyakit dalam keluarga. Sumber air
minum telah baik berasal dari air ledeng. Akan tetapi ditinjau dari lingkungan sekitar
hunian pasien, masyarakat kurang menjaga sanitasi lingkungan.

Keadaan sosial-ekonomi pasien dalam penyembuhan penyakit, sudah baik karena ada
usaha untuk kondisi pasien yang baik pernah berobat ke rumah sakit. Pasien memiliki
asuransi kesehatan dari pemerintah karena pernah bekerja sebagai pegawai negeri
sipil. Pasien dan keluarga memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri secara tepat
dan tidak menunda penyakit sampai parah. Keadaan sosialisasi pasien dengan kerabat
masyarakat sekitar cukup baik. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor positif bagi
kesehatan pasien. Pasien memiliki kegiatan organisasi sebagai ketua RT sehingga
membuatnya cukup dikenal di masyarakat.
4.2.

Penjelasan kepada pasien dan keluarga:


4.2.1. Tentang penyakitnya
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang dapat diturunkan. Oleh karena itu,
penting untuk mengetahui dan mencegahnya. Meski kadang dilihat sebelah mata oleh
pasien, diabetes memiliki berbagai komplikasi yang cukup mengganggu. Diabetes
meliputi multi system yaitu saraf, gastrointestinal dan lainnya. Maka dari itu, sedikit
keluhan yang dirasakan oleh pasien harus diwaspadai sedini mungkin dengan
memeriksakan diri ke puskesmas atau pelayanan kesehatan lainnya. Yang terpenting
dalam pengobatan diabetes adalah membuat kadar gula darah terkontrol, tidak melebihi
batas normal. Semakin tinggi angka, maka lebih banyak komplikasinya.
4.2.1.1.

Tentang upaya pengendaliannya


Yang terpenting dalam pengendalian yang dilakukan ialah mengkonsumsi oabt-

obatan yang diberi oleh dokter. Pengendalian terpenting dalam diabetes mellitus ialah
pengendalian pola makan. Mengurangi karbohidrat, makanan yang asin, berlemak dan
manis. Upaya pengendalian dari dalam diri pasien sendiri sudah cukup baik yaitu dengan
menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol sejak sakit. Diperlukan juga
olahraga ringan demi menjaga kebugaran. Tetapi perlu diperhatikan keamanannya karena
pernah mengalami riwayat jatuh.
4.2.1.2.

Peran keluarga
Peran keluarga sangat besar khususnya istri, karena setiap saat bersama

dibandingkan anak-anak yang telah bekerja. Peran keluarga sudah baik, terlihat saat

melakukan kunjungan sang anak memperhatikan pasien dengan mengunjungi dokter


untuk berkonsultasi. Selain itu, pengawasann terhadap konsumsi obat telah dilakukan
dengan baik.
4.2.1.3.

Cara Makan Obat


Dikarenakan banyaknya obat yang diberikan, maka perlu diatur jadwal konsumsi

oabt sehingga menjadi teratur. Obat yang diberikan ada 8 buah. Akan tetapi yang rutin
diminum hanya beberapa yaitu metformin, isosorbid dinitrat, nifedipin dan captopril.
Obat juga disarankan jangan sampai lupa dimakan. Terdapat obat yang dikonsumsi setiap
hari dan pada saat serangan. Oleh karena itu diperlukan pengawasan ekstra dari anggota
keluarga sehingga tidak terjadi kesalahan dalam konsumsi obat.
4.2.1.4.

Diet yang Harus Dilakukan


Diet merupakan hal penting dalam management diabetes mellitus tipe 2 yaitu

ABC ( A1c, blood pressure dan kolesterol). Yang harus dipantau ialah AiC karena untuk
mengetahui keseimbangan masukan makanan, aktivitas fisik dan obat yang diberikan.
Diet yang baik diperlukan agar diabetes menjadi terkontrol. Akan tetapi perlu didukung
oleh faktor lainnya seperti aktivitas fisik dan dosis obat yang tepat. Hal ini diperlukan
untuk mengontrol kadar gula darah dan mengurangi resiko komplikasi dari diabetes.
Selain itu diperlukan pula untuk memantau berat badan.
Diet yang tepat ialah makan dengan konsisten, sedikit namun sering. Pasien yang
mengkonsumsi obat diabetes oral lebih fleksibel dalam mengatur waktu makan. Banyak
pasien DM tipe 2 memiliki berat berlebih, sehingga mengurangi sebagian kecil dari ebrat
badan akan menyebabkan insulin lebih efektif. Dilakukan dengan makan rendah kalori.
Biasanya pengurangan berat yang aman dilakukan ialah setengah sampai 1 kg per miggu
yaitu dengan mengurangi 500-1000 kalori dari total kalori. Selain itu, makan buah dan
sayur sehingga banyak terkandung vitamin.
4.2.1.5.

Olahraga yang dilakukan dan caranya


Aktivitas fisik dapat membantu untuk menurunkan berat badan dan menjaganya.

Aktivitas yang dilakukan juga harus ringan sehingga mengurangi resiko hipoglikemia.

Apabila dirasakan mulai lemas sebagai tanda penurunan kadar gula darah, maka
konsumsi sedikit makanan untuk menjaga. Olahraga yang dapat dilakukan ialah senam
kesegaran, jalan pagi santai. Olahraga tidak harus berat dan lama tetapi rutin dilakukan.
Disamping itu juga diperlukan menjaga keamanan saat berolahraga.
o Berolahraga teratur dapat menyerap dan menghilangkan endapan kolesterol pada
pembuluh nadi. Olah raga yang dimaksud adalah gerak jalan, berenang, naik sepeda
dan tidak dianjurkan melakukan olah raga yang menegangkan seperti tinju, gulat atau
angkat besi (sesuai kemampuan dan ekonomi pasien) karena latihan yang berat dapat
menimbulkan hipertensi.
o Merangkai hidup yang positif. Hal ini dimaksudkan agar seseorang mengurangi
tekanan atau beban stres dengan cara mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah
yang mengganjal dalam hati. Komunikasi dengan orang dapat membuat hati menjadi
lega dan dari sini dapat timbul ide untuk menyelesaikan masalah.
o

Latihan relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau ketegangan jiwa.
Kendorkan

otot

tubuh

sambil

membayangkan

sesuatu

yang

damai

dan

menyenangkan, mendengarkan musik dan bernyanyi sehingga mengurangi respons


susunan saraf pusat melalui penurunan aktivitas simpatetik sehingga tekanan darah
dapat diturunkan.

4.3.

Menjelaskan keadaan pasien untuk dirujuk


Tanda keluhan-keluhan: dehidrasi ( penurunan turgor kulit, rasa haus yang nyata, dll),

kesadaran yang berkabut ( koma, bingung), luka yang tidak kunjung sembuh dan
memborok.
Tanda-tanda kelainan fisik: kelainan neurology (bibir bengkok), lumpuh sebagian/total

bagian tubuh, dll

4.4

Menjelaskan pada pasien dan atau keluarga tentang masalahnya

Menjelaskan bahwa penyakitnya dapat/tidak dapat dikendalikan terutama oleh


pasien sendiri: menjelaskan kepada pasien bahwa diabetes merupakan penyakit yang
dapat dikendalikan. Jika dilakukan pencegahan, penatalaksanaan, pengontrolan, pola

hidup sehat, dan managemen yang baik terhadap hipertensi ini maka segala resiko
komplikasi dapat dicegah dengan terkontrolnya tekanan darah.
Menjelaskan pada pasien upaya selain obat-obatan yang harus diminum, seperti
olahraga, PHBS: selain obat hipertensi juga diperlukan meminum air putih yang cukup,
minum susu, jus (utama buah), olahraga secara teratur; minimal gerak jalan, bersepeda,
PHBS.
Komplikasi yang dapat dialami meliputi :

Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah
menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini
maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf. Kadar gula
darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam
darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak
lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada
penderita diabetes.
Sirkulasi darah yang buruk ini melalui pembuluh darah besar (makro) bisa
melukai otak, jantung, dan pembuluh darah kaki (makroangiopati), sedangkan pembuluh
darah kecil (mikro) bisa melukai mata, ginjal, saraf dan kulit serta memperlambat
penyembuhan luka.
Penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika
diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan
mematikan adalah serangan jantung dan stroke. Kerusakan pada pembuluh darah mata
bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati
diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita
harus menjalani cuci darah (dialisa).
Gangguan

pada

saraf

dapat

bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu


saraf

mengalami

kelainan

fungsi

(mononeuropati), maka sebuah lengan atau


tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah.
Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan
kaki

mengalami

kerusakan

(polineuropati

diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti
terbakar dan kelemahan.
Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena
penderita tidak dapat meradakan perubahan tekanan maupun suhu. Berkurangnya aliran
darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka
berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa
penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi

4.5

Menjelaskan upaya pencegahan penyakit ini


4.5.1. Dari aspek Pribadi (pasien):

Pola hidup sehat


Memeriksa diri secara rutin, terutama tekanan darah, kadar gula darah
Mengkonsumsi obat secara rutin,
Berolah raga sesuai anjuran,
Melakukan diet sesuai anjuran,
Mengurangi dan menghindari hal yang dapat meningkatkan resiko seperti: merokok,
alkohol, kopi,obat-obatan dan menjaga kondisi tubuh.
4.5.2. Dari aspek keluarga:
Memantau pasien dalam meminum obat
Mengingatkan pasien atas resiko dan bahaya komplikasi yang dapat timbul
Mengawasi pasien atas gaya hidupnya
Selalu dengan sabar dan kontinu memantau kesehatan pasien
Menjadi tempat komunikasi jika pasien merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada
dirinya, sehingga hal yang tidak diinginkan dapat terhindar dan segera cepat mendapat
penanganan secara cepat
Mengingatkan agar selalu kontrol kesehatan ke tempat pelayanan kesehatan, dll
4.5.3. Dari aspek masyarakat:

Adanya sosialisasi/penyuluhan dari petugas kesehatan tentang hipertensi pada masyarakat


setempat.
Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, dengan lingkungan yang asri maka risiko
stress turun dan akan menurunkan terjadinya hipertensi karena stress.
Hubungan yang baik sesama masyarakat sehingga bila terjadi hal yang tidak diinginkan
masyarakat dapat membantu.

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
Kunjungan ke rumah penduduk yang dilakukan pada hari Selasa, 20 July 2010, dengan
pasien Tn. Ibrahim. Diagnosis kerja ialah diabetes mellitus yang berkomplikasi penyakit jantung
koroner dan disertai hipertensi. Pasien telah mendapatkan pengobatan yang teratur dari upaya
kesehatan Rumah Sakit maupun Puskesmas dengan memadai. Karena itu, perlu juga peninjauan
pasien dari sisi keluarga dan lingkungan sekitar dalam menentukan prognosis pasien ini.
Ditinjau dari sisi keluarga, keluarga sudah dipandang semaksimal mungkin menciptkan
suasana yang kondusif bagi kesehatan pasien. Hal tersebut tercermin dari kebersihan anggota
keluarga dan kondisi rumah. Yang dipandang kurang hanyalah dari pola makan keluarga. Pola
makan kurang dapat dijaga yaitu dengan menghindari karbohidrat dan makanan yang manis. Hal
inilah yang dapat disarankan untuk lebih ditingkatkan. Keadaan fisik rumah dipandang telah
memenuhi sebagian besar syarat rumah sehat. Pasien tinggal dalam suasana yang damai dan asri,
juga meningkatkan kesehatan pasien secara tidak langsung.
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang dapat diturunkan, oleh karena itu, diperlukan
upaya pencegahan sedina mungkin agar resiko dapat dieprkecil. Peran keluarga dirasakan sangat
bermanfaat, baik dalam upaya pengendalian yaitu pengawasan menelan obat, pemberian
dukungan moril dan pencegahan terhadap penyakit dan komplikasi.
Saran yang dapat diberikan ialah :

1. Meningkatkan kebersihan pribadi, rumah dan lingkungan sekitar


2. Mengatur pola makan dengan teratur
3. Berolahraga ringan
4. Menciptakan kehidupanbiologis, psikologis dan social yang seimbang

Lampiran

Gbr. 1

Gbr 2.

Gbr 3.

Gbr 4.

Gbr 5.

Gbr 7.
Keterangan :
1. Tuan Ibrahim

Gbr 6.

2. Keadaan dapur dan alat dapur


3. Tempat mencuci piring dan beberapa tumpukan piring
4. Keadaan kamar mandi. Tidak terdapat jentik nyamuk
5. Pemanfaatan pekarangan.
6. Saluran air dan tempat pembuangan sampah
7. Ruang makan yang memadai