Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam

beberapa

dasawarsa

terakhir

pembangunan

nasional

mengalami

perkembangan yang sangat pesat. Sentra-sentra industri tumbuh dimana-mana. Dari


perspektif bisnis, program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan bagian
integral dari strategi bisnis. Asumsinya siapa yang memiliki kemampuan mengelola
perusahaan secara efisien dan efektif, termasuk di dalamnya aspek K3, maka ia lebih
berpeluang untuk meraih keberhasilan dalam kompetisi global. Kaum industrialis, pengusaha
dan penguasa sebaiknya jangan meremehkan K3, sebab pemenuhan K3 pada kaum
buruh/pekerja, tidak hanya menentukan tingkat produktivitas usaha, namun lebih jauh lagi
dapat menentukan tingkat kesejahteraan dan stabilitas sosial-politik sebuah negara.
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja
dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja,
lingkungan kerja dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Unit keselamatan kerja
merupakan suatu unit yang bertanggung jawab atas tempat, alat, mesin, pesawat yang aman
bagi tenaga kerja, dan sesuai dengan kondisi kerja, juga bertanggung jawab dalam
penyediaan alat dan keselamatan kerja/pengaman/pelindung yang cocok bagi tenaga kerja.
Dalam kegiatannya di perusahaan, unit kesehatan kerja bertanggung jawab terhadap
pengadaan serta pemeliharaan kesehatan tenaga kerja yang sesuai dengan bidang pekerjaan
menurut keahliannya. Untuk itu unit kesehatan kerja wajib mempersiapkan program
pengamatan serta pengawasan kesehatan tenaga kerja, yaitu program supervisi langsung
dalam perusahaan, mengamati segala faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja.
Higiene perusahaan adalah upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia, radiasi
dan sebagainya) dan lingkungan perusahaan. Kegiatannya berupa melakukan pengumpulan
data, merencanakan dan melaksanakan pengawasan terhadap segala kemungkinan gangguan
kesehatan tenaga kerja dan masyarakat di sekitar perusahaan. Dengan demikian sasaran
kegiatan perusahaan adalah lingkungan kerja serta lingkungan perusahaan. Penyehatan
lingkungan kerja dan perusahaan, merupakan upaya pencegahan timbulnya penyakit akibat
kerja dan pencemaran lingkungan proses produksi perusahaan.
1

Penilaian lingkungan kerja merupakan penilaian terhadap semua segi (tenaga kerja, alat
produksi bahan baku, bahan jadi serta bahan sisa, dan proses produksi sendiri) dalam
merencanakan tindakan pencegahan penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.
Pada 22 Agustus 2014, kami telah melakukan kunjungan ke pabrik PT. Bridgestone
Indonesia yang berada di Bekasi (Bekasi Plant), yang bergerak di bidang produksi karet dan
ban untuk mobil, truk, bus, kendaraan industri, dan pertanian lainnya. Dalam kunjungan
tersebut, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian kami berkaitan dengan higiene
perusahaan yang kemudian menjadi bahan diskusi kami untuk pembelajaran menuju arah
yang lebih baik. Bersama ini kami mengucapkan terima kasih atas perkenan dan arahan yang
telah diberikan oleh PT. Bridgestone Indonesia.
1.2 Dasar Hukum
1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.
2. UU RI No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
3. UU No. 3 Tahun 1969 Tentang Persetujuan Konvensi ILO No. 120 Mengetahui Higiene
dalam Perniagaan dan Kantor-kantor.
4. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan Kebersihan
Serta Penerangan dalam Tempat Kerja.
5. Permennakertrans No. 13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Kimia di Tempat Kerja.
6. Kepmen RI No. 187/MEN/1999 Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya.
7. Permen Perburuhan No. 7 Tahun 1964 Tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta
Penerangan dalam Tempat Kerja.
1.3 Profil Perusahaan
PT. Bridgestone Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak dalam produksi ban
untuk mobil, truk, bus, kendaraan industri, dan pertanian lainnya. Hasil produksi perusahaan
berupa ban dalam mobil, ban luar mobil, serta lidah ban mobil. Perusahaan ini didirikan
pada 8 September 1973, bertahan sampai saat ini dengan misi Menyumbang Masyarakat
dengan Mutu Tertinggi". Kantor pusat beralamat di The Plaza Office Tower lantai 11, Jl.
M.H. Thamrin Kav. 28-30, Jakarta 10350. Proses produksi perusahaan berlangsung di dua
2

buah pabrik di Bekasi dan Karawang dengan masing-masing luas area pabrik seluas 27,6 Ha
dan 37,0 Ha.
PT Bridgestone sangat mementingkan kualitasnya terbukti pada tahun 1994, PT
Bridgestone memperoleh sertifikat Kecelakaan Nihil atau Zero Accident Certificate dari
Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia. Tahun 1997 PT Bridgestone memperoleh ISO
90001 dan QS 9000. Pada tahun 2000 memperoleh akreditasi mutu ISO 14001. Lalu tahun
2012 PT Bridgestone mendapatkan sertifikasi dan adopsi Occupational Health & Safety
Management System 2007 (OHSAS :2007).
Tenaga kerja berjumlah 3.324 orang pekerja lokal dan 13 orang pekerja asing. Pabrik di
Bekasi menampung sebanyak 1.982 pekerja, terdiri dari pekerja tetap sebanyak 1.832 orang
pekerja dan pekerja tidak tetap sebanyak 150 orang pekerja, dimana karyawan outsourching
sebanyak 91 orang. Jumlah hari kerja perusahaan berlangsung sebanyak 5 hari dalam
seminggu, dimulai dari hari Senin hingga Jumat, dengan jam kerja 7 jam 10 menit diluar
waktu istirahat selama 1 jam. Asuransi bagi pekerja berupa BPJS Ketenagakerjaan dan
asuransi kesehatan yang dikelola oleh pihak PT. Bridgestone sendiri.
Kelembagaan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) di perusahaan
PT. Bridgestone Indonesia merupakan suatu upaya yang diwujudkan berdasarkan Undangundang No. 1 Tahun 1970 yang betujuan menciptakan lingkungan kerja yang aman bagi
keselamatan dan kesehatan pekerja selama menjalankan pekerjaanya.
Keselamatan kerja di PT. Bridgestone Indonesia telah diupayakan semaksimal mungkin,
perusahaan memberikan perhatian penuh, dimana telah terdapat Ahli K3 Listrik di
perusahaan, Ahli K3 Kebakaran, dan Ahli K3 Kimia, dengan timnya masing-masing. Salah
satu upaya penciptaan ergonomi yang baik bagi pekerja juga telah turut dilakukan oleh PT.
Bridgestone Indonesia, dimana tata letak ruang kerja telah diubah menyesuaikan dengan
pekerja.
Kesehatan

pekerja

tidak

ketinggalan

menjadi

perhatian

perusahaan,

dimana

penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Kerja telah tersedia berada di dalam lokasi pabrik
berupa klinik yang bisa didatangi pekerja setiap saat selama jam kerja selama dibutuhkan.
Diselenggarakan juga Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja yang diselenggarakan dengan
bekerja sama dengan pihak ketiga.
3

Higiene Perusahaan merupakan suatu faktor yang sangat berpengaruh bagi terciptanya
lingkungan kerja yang aman, sehat, dan bebas dari Penyakit Akibat Kerja (PAK). Higiene
perusahaan ini berperan dengan menilai berbagai faktor yang berada di sekitar lingkungan
kerja melalui upaya-upaya pengukuran yang dapat dilakukan secara objektif. Hasil dari
pengamatan dan penilaian higiene perusahaan dapat dipergunakan sebagai acuan melakukan
tindakan korektif apabila diperlukan. Lebih jauh, dengan memperhatikan higiene perusahaan
ini, berbagai tindakan preventif pun dapat segera dilakukan.
1.4 Alur Produksi

Gambar 1. Alur produksi di PT Bridgestone

1. Mixing / Banbury
Dalam pembuatan produk ban unggulan, baik untuk kendaraan mobil maupun motor, Tire
Manufacturing menggunakan beberapa material sebagai bahan baku utama dan beberapa
bahan kimia sebagai bahan pelengkap produksi. Material yang digunakan antara lain Natural
dan Synthetic Rubber, Carbon Black, Silica, Zinc Oxide, Sulfur, Oli, dan beberapa material
4

kimia lain. Pada tahap awal, proses yang dilakukan adalah pencampuran Natural &Synthetic
Rubber dengan Ingredient yang sebelumnya sudah ditimbang sesuai dengan berat yang
ditentukan pada spesikasi produk yang ingin dibentuk. Kemudian diberikan tambahan Carbon
dan Oli pada saat material tersebut masuk kedalam mesin Banburry. Dalam mesin tersebut
terdapat alat yang berfungsi untuk menggiling campuran menjadi lapisan yang disebut
compound. Sebelum compound tersebut disusun pada rak, terlebih dahulu melewati proses
pendinginan dan diberi cairan adhesive agar compound tersebut tidak lengket setelah tersusun.
2. Extruding
Adonan hasil mixing tadi dibuat menjadi tread dan sidewall. Prosesnya adalah injeksi
dan extruding hingga terbentuk profil. Hasil akhir dari tahapan ini adalah side wall, tread dan
filler. Side wall merupakan salah satu bagian ban yang berfungsi sebagai pelindung terhadap
benturan dari arah samping atau serempetan, bahan untuk menambah fleksibilitas ban,
lapisan karet pembungkus carcass dari shoulder area ke rim cushion dan bead area,
berfungsi untuk fashion jika dihias dengan white ribbon atau white letter, penahan tekukan
untuk beban berat, daya tahan lama dan tahan retakan dan juga berfungsi untuk kekerasan
dan keempukan radial.
3. Calender
Proses aplikasi lain adalah untuk pembuatan material ply & steel belt, JLB & cap ply.
Aplikasi tersebut dibentuk oleh mesin Calender dengan bahan dasar benang (polyester dan
nylon) juga steel cord. Polyester maupun nylon yang akan diproses, sebelumnya harus
melalui proses pelebaran terlebih dahulu agar material tersebut terbuka untuk kemudian di
masukan ke dalam oven dengan suhu 160C agar pada saat diberikan compound dan bahanbahan seperti polyester, nylon, dan steel cord dapat merekat dengan sempurna.
4. Bead
Sementara proses calender berjalan, di bagian lain ada pembuatan bead wire yaitu
melapisi kawat baja dengan karet. Proses ini berjalan otomatis dan begitu keluar dari mesin,
bead wire sudah berbentuk lingkaran sesuai dengan ukuran rim.
5. Cutting
Proses cutting ini merupakan proses lanjutan dari mesin Callender, hasill akhir dari
proses ini biasa disebut dengan Ply dan Cap Ply. Ply merupakan lembaran material yang
5

terdiri dari Polyester, Nylon, dan compound yang telah diproses sebelumnya dalam bentuk
gulungan panjang di mesin Calender yang kemudian di potong potong untuk merubah arah
atau sudut benang dari 0 menjadi 90. Ply berfungsi sebagai carcass atau kerangka untuk
menahan, membentuk sistem suspensi dan beban ban.Sedangkan Cap Ply merupakan
lembaran material yang terdiri dari nylon dan compound yang dipotong potong menjadi
beberapa bagian di mesin TTO. Cap Ply berfungsi sebagai bahan untuk mempertahankan
bundar ban waktu berjalan, meredam suara bising dari steel belt, membuat nyaman, dan
untuk memperkecil rolling resistance.
6. Building

Kemudian sampailah pada tahap perakitan semua komponen-komponen aplikasi yang


telah dibuat pada proses semi manufaktur. Semua komponen seperti rakitan bead, lembaran
ply yang telah di potong dengan sudut 90, steel belts, innerliner, tread dan side wall semua
di rakit menjadi satu kesatuan utuh sebagai bagian dari ban setengah jadi atau biasa disebut
dengan Green Tire (GT). Proses perakitan (Tire Building) terdiri dari 2 tahap, tahap pertama
sering disebut dengan istilah 1st stage yang kemudian menghasil produk berupa carcass,
kemudian carcass diproses kembali di tahap kedua atau 2nd stage dengan menambahkan
steel belt, cap ply dan tread menjadi GT. Tahap ini dilakukan dengan menggunakan mesin
yang dioperasikan oleh satu operator di masing masing tahap.

7. Curing
Proses selanjutnya adalah tahap akhir dari proses pembentukan ban. GT yang
dihasilkan dari proses perakitan kemudian di kirim ke area Curing untuk dimasak. Proses
Curing sendiri terdiri dari beberapa tahap. Pertama GT datang dari bagian Perakitan,
sebelum masuk ke proses curing, GT harus diperiksa terlebih dahulu untuk menghindari
adanya cacat pada GT. Setelah GT selesai diperiksa diambil 4 ban setiap 1 rak GT untuk
dilakukan proses painting Chem Trend yaitu pengolesan cairan tire-lubricant pada bagian
dalam GT yang bertujuan agar GT tidak menempel di bagian karet bladder pada saat proses
6

curing berlangsung. Kemudian GT dikirim ke masing-masing operator untuk di proses di


mesin press curing. Proses curing sendiri merupakan pemasakan atau vulkanisasi yaitu
penyatuan polimer (rubber) dengan carbon black dan sulphur dengan dibantu oleh
persenyawaan bahan kimia untuk mendapatkan beberapa karakteristik compound yang
diperlukan dari bagian-bagian ban. Proses curing (pemasakan) ini membutuhkan suhu panas
dan sejumlah tekanan steam yang sangat tinggi, GT akan ditempatkan pada cetakan (mold)
dengan temperatur sesuai dengan yang diinginkan untuk produksi. Setelah cetakan tertutup,
GT akan melebur ke dalam cetakan tread dan side wall. Cetakan tersebut tidak dapat dibuka
sampai proses curing selesai secara keseluruhan. Setelah proses pemasakan selesai, mold
akan terbuka secara otomatis. Ban yang sudah jadi akan jatuh dan masuk ke dalam conveyor
untuk kemudian sampai di bagian Pemeriksaan (Finishing).
8. Finishing / quality control
Setelah selesai, ban diperiksa secara visual apakah ada cacat atau tidak. Proses ini tentu
saja tidak menggunakan mesin, jadi ketelitian pekerja sangat dibutuhkan. Selain visual,
kontrol juga dilakukan dengan pemeriksaan balance dan menggunakan sinar X.
Ban tidak mungkin bisa 100% balance seperti pelek, namun ada batasannya. Jika melebihi
batas, berarti ada kesalahan pada proses produksi. Selain itu, kami juga memiliki
laboratorium untuk memeriksa sampel ban yang diambil secara acak demi menjaga kualitas.
9. Wrapping/Packaging
Proses Wrapping / Packaging Merupakan proses terakhir. Setelah dinyatakan OK, setiap
ban dibungkus seluruh permukaannya dengan lilitan plastik secara mekanis,

1.5

Landasan Teori

1.5.1 Definisi
Higiene Perusahaan sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya
yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif &
kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya
dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta lebih lanjut
pencegahan agar pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat
bahaya kerja serta dimungkinkan mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
(Soeripto, Ir., DIH., 1992).

Berdasarkan peraturan Menteri perburuhan No.7 Tahun 1964 tentang syarat kesehatan,
kebersihan serta penerangan di tempat kerja ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkup
hygiene industry diantaranya adalah:
1. Penyediaan air
2. Tempat kerja
3. Dapur,kamar makan dan alat keperluan makan
4. Perlengkapan fasilitas sanitasi
5. Pembuangan dan pengendalian limbah
1.5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja
a. Faktor Fisik
1. Suara Bising
Bising adalah bunyi yang tidak disukai, mengganggu dan menjengkelakan maupun
merusak pendengaran dan terkadang hal ini sangat individual (Eyaanoer, 1997) menurut
Kepmenaker No.Kep-51/MEN/1999, untuk kebisingan dengan intensitas 85dB., maka
pekerja terpajan selama 8 jam sehari, kebisingan dengan intensitas 88 dB maka pekerja
dapat terpajan selama 4 jam sehari dengan demikian setiap kenaikan 3 dB maka waktu
pemajanannya berkurang setengahnya. Telingan manusia hanya mampu mendengar
frekuensi antara 16-20.000 Hz.
1) Jenis-jenis kebisingan :
a. Kebisingan kontinyu dengan frekuensi yang luas (steady state, wide
b.

band noise). Misalnya suara kipas angin, dapur pijar dll.


Kebisingan kontinyu dengan spektrum kebisingan sempit (steadt state,

c.

narrow band noise). Misalnya gergaji sekuler, katup gas, dll.


Kebisingan terputus-putus (intermitten). Misalnya: lalu lintas pesawat

d.

terbang.
Kebisingan impulsif/impact (impulsive noise), misalnya: pukulan,

tembakan bedil atau meriam dan ledakan.


e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di perushaan.
2) Akibat paparan kebisingan.
Terpapar kebisingan terdiri dari 85dB selama 8 jam dan 40 jam seminggu
maka menimbulkan penurunan atau kehilangan fungsi pendengaran yang
dapat terjadi secara sementara atau permanen.
3) Pengukuran kebisingan

Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat sound level


meter. Alat ini mengukur kebisingan antara 30-130dB dan frekuensi dari 2020.000Hz.
2. Pencahayaan
Pencahayaan yang baik memungkinkan pekerja bisa melihat objek yang
dikerjakan dengan jelas, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu. Intensitas cahaya dapat
diukur dengan Luxmeter.
Sifat-sifat pencahayaan:
1. Pembagian iluminasi pada lapangan penglihatan sesuai jenis pekerjaan.
2. Pencegahan kesilauan.
3. Arah sinar.
4. Warna
5. Panas cahaya.
Pengaruh pencahayaan yang kurang terhadap kesehatan:
1. Iritasi, mata berair dan mata merah.
2. Penglihatan ganda
3. Sakit kepala.
4. Ketajaman mata menurun.
5. Akomodasi dan konvergensi menurun.
3. Getaran
Ada dua macam getaran yaitu: getaran seluruh badan dan getaran lengan/tangan
( handaram). Getaran seluruh tubuh adalah getaran yang bisa melalui kaki ( tempat
berdiri) atau melalui tempat duduk. Getaran ini terjadi biasa pada alat pengangkut seperti
truk dan traktor. Sedangkan getaran lengan-tangan adalah getaran yang terjadi melalui
lengan dan tangan, misalnya pada gerinda, bor tangan, dan gergaji listrik.
Tiga aspek penting pada getaran :
- Level(m/dr2)
- Frekuensi (Hz)
- Lama pemarapan (jam)
Efek getaran
- Hand and arm vibration pada frekuensi 8-1000Hz dapat menyebabkan white finger serta
kelainan otot rangka.
- Whole body vibration menyebabkan getaran pada ala-alat dalam sehingga dapat
menyebabkan gejala sakit dada, LBP, dan gangguan penglihatan
- Pada frekuensi rendah dapat menyebabkan sea sickness.
Pengukuran getaran
9

Pengukuran getaran dilakukan dengan menggunakan vibration acceleration meter.


4. Iklim dan suhu.
Respon fisiologis akan tampak jelas pada pekerja dengan iklim panas.
menyatakan bahwa perbedaan peningkatan tekanan darah yang signifikan pada tenaga
kerja sebelum atau sesudah terpapar panas yang memperburuk kondisi tenaga kerja.
Sistem termoregulasi pada hipotalamus akan merespon dengan beberapa mekanisme
kontrol seperti konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi dengan tujuan untuk
mempertahankan suhu tubuh sekitar 36-37 derajat celcius. Namun apabila paparan
dibiarkan terus menrus akan menyebabkan kelelahan dan akan menyebabkan timbulnya
efek heat stress (ErwinD 2004)
Menteri Tenaga Kerja RI mengeluarkan standar NAB untuk ling.fisik tertentu di
lingkungan kerja yang salah satunya adalah NAB iklim kerja dengan menggunakan
indeks suhu bola basah (ISBB) diadopsi dari Wet Bulb Globe Temperature Index
(WBGTI) dikeluarkan oleh ACGIH.
NAB menurut pasal 2 KEP-51/MEN/1999 untuk suhu di tempat kerja adalah sbb:
1. Jika perbandingan kerja 75% dan istirahat 25% untuk pekerja ringan dalam 8 jam
sehari adalah 30 derajat celcius., sedang 26,7 derajat celsius dan berat 25 derajat
celsius.
2.Jika perbandingan kerja 50% dan istirahat 50% untuk pekerja ringan dalam 8 jam sehari
adalah 31,4 derajat celcius., sedang 29,4 derajat celsius dan berat 27,9 derajat celsius.
3.Jika perbandingan kerja 25% dan istirahat 75% untuk pekerja ringan dalam 8 jam sehari
adalah 32,2 derajat celcius., sedang 31,1 derajat celsius dan berat 30 derajat celsius.
Jenis radiasi dapat dibedakan menjadi
1. Radiasi pengion: alpha, beta, gamma, sinar X dan neutron.
2. Radiasi non pengion: UV, IR, ultrasound dan mikorowave.
Pengaruh radiasi terhadap kesehatan:
1.Efek stokastik: tergantung frekuensi tingkat keparahan tidak tergantung dosis.
Contoh: karsinogen, teratogen, mutagen.
2.Efek nonstokastik: tegrantung frekuensi dan dosis.
Contoh: katarak, kerusakan nonmalignan kulit.
Alat untuk mengukur tingkat radiasi adalah survei meter dan dosimeter personal.
b. Faktor Biologis
Potensi bahaya yang mungkin terjadi di ling.kerja yang disebabkan oleh adanya
mikroorganisme sebagai penyebab dari proses produksi.
10

Bahaya biologi meliputi:


- Infeksi akut dan kronis
- Parasit
- Produk toksik.
- Reaksi alergi terhadap tanaman dan hewan.
- Irritan.
Klasifikasi faktor biologis meliputi:
1. Mikroorganisme dan toksinnya. Contoh: virus, bakteri dan produknya.
2. Arthropoda. Cth: crustacea
3. Alergen dan toksik tanaman.
4. Reaksi yang ditimbulkan: dermatitis alergi, asma.
5. Protein alergen dari hewan vertebrata.
6. Reaksi alergi yang ditimbulkan melaui urin, feses, rambut dan saliva.
Cara masuk biological agents ke dalam tubuh melalui:
1. Inhalasi
2. Ingesti.
3. Kontak kulit.
4. Kontak dengan mata, hidung, dan mulut.
c. Faktor Kimia
Bahan Kimia
- Fume (asap):
Partikel-partikel zat padat yang terjadi oleh karena dari bentuk gas yang biasanya sesudah
penguapan benda padat yang dipijarkan.
- Gas:
Bentuk wujud yang tidak mempunyai bentuk bangunan sendiri, melainkan mengisi ruang
tertutup pada keadaan suhu dan tekanan normal.
- Uap:
Bentuk gas dari zat-zat yang dalan keadaan biasa dberbentuk zat padat atau zat lain yang dapat
dikembalikan pada tingkat wujud semula.
- Kabut
- Debu
Efek-efek bahan kimia
- Iritasi
- Reaksi alergi: flour, garlic powder.
- Asfiksia
- Cancer
- Efek sistemik: otak ,peripheral nervous sytem, pembentukan sel darah, ginjal, paru

11

Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, juga dapat menyebabkan resiko keselamatan kerja
berupa kebakaran dan peledakan, akibat dari bahan kimia yang mudah tebakar dan meledak
seerti pelaruh organik atau gas-gas yang kontak dengan sumber api.
Pengukuran
Pengukuran faktor kimia di urara mengunakan media yaitu: gas detektor yang prinsip
kerjanya adalah detektor tersebut akan menghisap baha-bahan kimia di udara, dan kemudian
bereraksi dengan reagen yang sudah tesedria di dalam tabung detektor sehingga dapat diketahui
nilai kualitas dan kuantitas.
Pengambilan sampel debu dilakukan secara impingmen, yaitu: filtrasi, presipitasi,
sedimentasi, dan segala kombinasinya, alatnya disebut imprengen, prinsipa kerjanya adalah debu
dihisap dan mengalami imprengemen dan sejumlah debu dihitung di bawah mikroskop.

d. Nilai Ambang Batas


NAB faktor kimia diatur berdasarkan surat edaran No.SE 01/MEN/1997 tentang NAB
faktor kimia di udara lingkungan kerja.
Kategori nilai ambang batas:
1. NAB rata-rata selama jam kerja.
2. NAB pemaparan singkat.
3. NAB tertinggi
e. Pengendalian
1. Pemberian label dan simbol pada wadah untuk bahan yang berisikan tentang: nama bahan
kimia, resiko yang ditimbulkan, jalan masuknya ke tubuh, efek paparan, cara penggunaan
yang aman dan pertolongan pertama keracunan.
2. Memiliki MSDS, yaitu semua informasi mengenai suatu bahan kimia yang dibuat oleh
sesuatu perusahaan, berisikan antara lain.: kandungan/komposisi, sifat fisik dan kmia,
cara pengankutan dan penyimpanan, informasi APD sesuai NAB, efek terhadap
kesehatan, gejala keracunan, pertolongan pertama keracunana, alamat dan nomer telepon
pabrik pembuat atau distributor.
3. Memiliki petugas K3 kimia dan ahli K3 kimia yang mempunyai kewajiban melakukan
identifikasi bahaya melaksanakan prosedur kerja aman, penganggulangan keadaan
darurat dan mengembankan pengetahuan K3 di bidang kimia. Dasar hukum yang
mengatur pengendalian bahan kimia berbahaya adalah keputusan menteri tenaga kerja RI,
No.KEP 187/Men/1999.
12

BAB II
PELAKSANAAN
2.1 Tanggal dan Waktu Pengamatan
Walk trough survey dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 2014. Dilaksanakan mulai
pukul 15.00 sampai dengan pukul 17.00.
2.2 Lokasi Pengamatan
PT Bridgestone Tire Indonesia, Jl Raya Bekasi Km 27, Harapan Jaya, Bekasi Utara
2.3 Dokumen Pengamatan
(tidak diperkenankan memfoto lokasi pengamatan)

13

BAB III
HASIL PENGAMATAN
3.1 Faktor Bahaya Fisika
Kebisingan

Sumber : mesin- mesin pengolahan raw material untuk menghasilkan hasil produksi
Pengamatan langsung tanpa alat standar noise dosimeter, tidak ditemukan adanya sumber
kebisingan yang berbahaya yang mengganggu aktivitas dan komunikasi pekerja. Menurut
survey yang dilakukan oleh pusat K3 (6 bulan sekali), mesin yang digunakan tidak
melampaui NAB kebisingan (85dB).

Pencahayaan

Sistem penerangan sudah baik


Pada ruangan yang dibutuhkan ketelitian intensitas cahaya 300lux, sedangkan pada
ruangan yang tidak dibutuhkan ketelitian intensitas cahaya 100 lux

Suhu/ iklim kerja

Lokasi kerja merupakan lahan terbuka yang terpapar langsung dengan cahaya matahari
Suhu lingkungan kerja tergantung pada kondisi cuaca.
Untuk di dalam ruangan, ada beberapa ruangan yang disediakan pendingin ruangan.

Getaran
Beberapa alat yang beroperasi untuk alur produksi mengakibatkan whole body vibration
Radiasi
Ditemukan radiasi sinar UV dari alat untuk mengamati apakah ada kecacatan atau foreign

material pada ban.


Karena alat diperlukan dan tidak dapat dihilangkan atau digati. Pekerja yang terpapar
diberikan alat perlindungan diri dari perusahaan.

3.2 Faktor biologi


14

Potensi bahaya yang mungkin terjadi di lingkungan kerja yang di sebakan oleh adanya
mikroorganisme sebagai penyebab dari proses produksi.

Klasifikasi faktor biologis meliputi :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mikroorganisme dan toksinnya. Contoh : virus, bakteri, dan produknya


Arthropoda. Contoh : crustacea
Allergen dan toksik tanaman
Reaksi yang di timbulkan : dermatitis alergi,asma
Protein allergen dari hewan vertebrata
Reaksi alergi yang di timbulkan melalui urin, feses, rambut dan saliva

Cara masuk biological agents ke dalam tubuh melalui :


1.
2.
3.
4.

Inhalasi
Ingesti
Kontak kulit
Kontak dengan mata, hidung, dan mulut

Faktor bahaya biologi


Pada saat di lakukan pengamatan, di temukan adanya faktor biologi berupa virus dan
bakteri yang bebas berada di lingkungan kerja karena tempat kerja berada di lingkungan yang
kurang dalam pengaturan ventilasi, serta penggantian tempat sampah yang beberapa tidak ada
penutupnya dapat menjadi tempat bakteri hidup.

3.3 Kimia
Perusahaan PT. Bridgestone Tire Indonesia-Bekasi Plant menggunakan sebanyak 240
bahan kimia untuk proses produksinya, dengan bahan utama yang digunakan adalah karbon
hitam, sulfur dan gasoline. Ketiga bahan utama tersebut memiliki gudang penyimpanan
tersendiri yang tertutup, sedangkan sisanya disimpan dalam satu ruang yang sama dengan tempat
proses produksi. Setiap bahan kimia yang disimpan dilengkapi dengan MSDS nya masingmasing dan masih dalam kemasan. Karbon hitam digunakan sebagai pigmen pada ban. Bahaya
utama terhadap kesehatan adalah batuk, iritasi mata dengan adanya senyawa PAH (polycyclic
15

aromatic hydrocarbon) berpotensi sebagai karsinogen. Sulfur digunakan untuk vulkanisasi karet
alam. Sulfur dapat mengiritasi system pernapasan dan pada paparan yang tinggi dapat
mempengaruhi fungsi paru-paru. Gasoline atau bensin merupakan bahan yang mudah terbakar.
bensin dapat menimbulkan iritasi ringan pada kulit, mata dan saluran pernapasan. Efek sistemik
akibat paparan akut bensin yang utama adalah depresi sistem saraf pusat
3.4

Kebersihan
Daerah lingkungan kerja tampak bersih dikarenakan terdapatnya petugas keberihan yang

berjumlah 91 orang serta para tenaga kerja yang bertugas untuk membersihkan daerah kerja
mereka setiap 10 menit setelah shift mereka berakhir. Terdapatnya toilet yang bersih dan tersedia
cukup banyak untuk seluruh tenaga kerja, namun jangkauan toilet cukup jauh dari tempat tenaga
kerja yang bekerja di bagian produksi ban. Air bersih yang digunakan para pekerja untuk minum
dibeli langsung oleh pihak perusahaan dan terdapat sertifikat layak minum, namun air yang
digunakan untuk produksi perusahaan berasal dari air tanah. Untuk makanan yang diberikan
kepada para pekerja, perusahaan menggunakan jasa catering namun tidak diketahui ada atau
tidaknya standar pengecekan kualitas makanan tersebut. Di lingkungan perusahaan terdapat satu
kantin yang cukup bersih yang selalu digunakan para tenaga kerja untuk makan. Terdapat tempat
pembuangan sampah karet di belakang perusahaan yang tidak menggunakan penutup sehingga
terdapat lalat yang berterbangan di dekat tempat pembuangan sampah tersebut, namun sampah
tersebut diangkut setiap sehari sekurang-kurangnya dua kali sehari.
3.5

Petugas Hygiene Industri


Terdapat 91 orang petugas kebersihan, yang bekerja setiap hari selama 8 jam (dengan

hitungan kerja 1 shift perharinya). Petugas kebersihan in bertugas membersihkan area lokasi
pabrik seperti membersihkan lantai, membersihkan toilet, dan membuang sampah. Para pekerja
juga diwajibkan untuk membersihkan area lokasi tempat kerjanya pada saat 10 menit menjelang
akhir pergantian shift.

3.6

Pengolahan Limbah

16

Perusahaan ini dalam pengolahan limbah bekerja sama dengan perusahaan outsourcing
( PT. LJA). Perusahaan berperan mengumpulkan dan memisahkan segala jenis bentuk limbah
yang selanjutnya diambil dan diolah oleh PT. LJA. Limbah dari bahan dasar sampai menjadi
sebuah produk berupa limbah cair dan limbah padat. Pada setiap bagian produksi telah
disediakan tempat menampung limbah yang terpisah dan memiliki petunjuk yang jelas, seperti
tempat limbah organik, limbah karet, limbah plastik, limbah besi, limbah kertas dan limbah B3.
Limbah dari setiap bagian produksi akan dikumpulkan setiap pagi oleh 2 orang petugas
kebersihan dan akan disimpan di gudang penyimpanan limbah. PT. LJA akan mengambil limbah
tersebut setiap hari atau paling lambat satu bulan. PT. LJA hanya mengambil limbah non-organik
( limbah B3, limbah plastik, limbah besi, limbah karet ) dan limbah tersebut akan diolah dan
dikirimkan ke PT. Indocement. Limbah organik pada perusahaan akan diolah menjadi pupuk
kompos yang diolah sendiri oleh perusahaan. Pengolahan limbah ini mengurangi limbah yang
dibuang ke Bantar Gebang. Saat ini, pembuangan ke Bantar Gebang sekitar 4-7 ton sebulan yang
sebelumnya 40-60 ton.

Gambar 2. Alur pengolahan limbah


BAB IV
PEMECAHAN MASALAH
17

No.

Unit Kerja

1.

Faktor Fisika

Permasalahan

Penanganan

Saran

Bising

Tidak ada permasalahan

Penerangan

Tidak ada permasalahan

Disarankan

Getaran

Ditemukan

body Pembagian shift


vibration pada operator alat kerja

pembatasan

produksi..

dengan pembagian

whole

paparan

vibrasi

shift kerja

Radiasi
Iklim Kerja

Tempat

Tidak ada permasalahan


Iklim kerja panas pada lokasi
pabrik

Pembagian

shift

kerja

berteduh

dan diberikan air


minum

serta

pendinginan agar
bisa

beristirahat

dan

menghindari

resiko heat stress

Bahan Kimia

Bahan kimia selain karbon


hitam, sulfur dan gasoline
diletakkan dalam satu ruang
yang sama dengan tempat
proses produksi dan mudah
diakses oleh banyak orang.

Memindahkan
bahan-bahan kimia
tersebut ke ruangan
penyimpanan yang
terpisah.

Bahan kimia juga


sebaiknya
diletakkan di
ruang
penyimpanan yang
tertutup dan hanya
dapat diakses oleh
pekerja tertentu
yang bertanggung
jawab terhadap
bahan tersebut.

Unit kerja

Permasalahan

Penanganan

Saran

No.

18

Biologi

bakteri, virus

Memasang exhause Dengan


pemasangan
exhause dapat
memperbaiki
sirkulasi di dalam
pabrik sehingga
udara menjadi
bersih

Menambah jumlah
tempat sampah

Kebersihan
(Higiene
Perusahaan)/ Faktor
Lingkungan

Higiene Industri

Pengolahan Limbah

Jangkauan toilet yang


cukup jauh untuk para
pekerja yang bekerja di
bagian produksi ban

Terdapat
tempat
pembuangan sampah yang
tidak berpenutup sehingga
mendatangkan lalat le
tempat tersebut.

Tidak ada apermasalahan


pengolahan limbah sudah baik

Dengan
penggantian
tempat sampah
dapat menekan
penyebaran bakteri

- Disediakannya
toilet
yang
cepat
terjangkau oleh
para pekerja di
bagian
produksi.

Lalat merupakan
salah satu hewan
yang membawa
kuman penyakit
sehingga
dibutuhkannya
tempat sampah
yang berpenutup
- Disediakannya sehingga lalat
tempat
tidak dapat
pembuangan
hinggap pada
sampah yang sampah tersebut
berpenutup
dan mencemari
sehingga tidak lingkungan sekitar.
dihinggapi
lalat.
-

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
19

5.1 Kesimpulan

Bahaya potensial fisik : iklim kerja panas dan vibrasi.

Bahaya potensial kimia : Terdapat 3 bahan utama yang digunakan untuk memproduksi
ban yaitu karbon hitam, sulfur dan bensin. Ketiga bahan utama tersebut disimpan dalam
ruang penyimpanan yang tersendiri, sedangkan sisanya disimpan di temoat yang sama
dengan proses produksi dan mudah diakses oleh banyak orang.

Bahaya potensial biologi: faktor biologi pada saat di lakukan pengamatan, di temukan
permasalahan adanya bakteri dan virus karena kurangnya ventilasi dan pencahayaan di
tempat kerja da nada sebagian tempat sampah yang tidak ada tutupnya.

Kebersihan : Jangkauan toilet yang cukup jauh untuk para pekerja yang bekerja di bagian
produksi ban. Terdapat tempat pembuangan sampah yang tidak berpenutup sehingga
mendatangkan lalat le tempat tersebut.

Higiene Industri : sudah baik regulasi dan pengawasannya

Pengolahan limbah : Pengolahan limbah diserahkan kepada pihak lain baik limbah
domestik maupun industri

5.2 Saran

Iklim kerja panas sebaiknya dibuatkan tempat berteduh dengan sarana air minum dan
kipas angin untuk beristirahat, dapat juga dilakukan modifikasi administratif dengan
membatasi jam kerja agar terhindar dari resiko heat stress.

Disediakannya toilet yang cepat terjangkau oleh para pekerja di bagian produksi.
Disediakannya tempat pembuangan sampah yang berpenutup sehingga tidak dihinggapi
lalat.

penambahan ventilasi udara agar udara di tempt kerja dapat bersih serta penggantian
tempat sampah yang tidak ada penutupnya agar tidak menjadi sumber infeksi

20