Anda di halaman 1dari 6

Asam Asetil Salisilat, asetosal, aspirin, aspilet.

Disamping khasiat analgetis dan anti-radangnya (pada dosis tinggi), obat antinyeri
tertua ini (Gerhardt, 1853 Hoffman, 1897) pada dosis rendah berkhasiat
merintangi penggumpalan trombosit. Dewasa ini, asetosal adalah obat yang paling
banyak digunakan dengan efek terbukti pada prevensi trombosit arteriil. Sejak akhir
tahun 1980-an, asam ini mulai banyak digunakan untuk prevensi sekunder dari
infark otak dan jantung. Risikonya diturunkan dan jumlah kematian karena infark
kedua dikurangi sampai 25%. Keuntungannya banyak dibandingkan antikoagulansia
untuk indikasi ini, antara lain kerjanya cepat sekali dan dosisnya lebih mudah
diregulasi. Lagi pula pasien tidak perlu dimonitor waktu protombin dalam darahnya
dan tidak perlu mentaati skema pentakaran yang rumit. Terdapat pula beberapa
indikasi bahwa asetosal, seperti NSAID lainnya, bersifat melindungi terhadap kanker
usus besar.1

ASPIRIN
MEKANISME KERJA

Mengasetilasi enzim siklooksigenase dan menghambat pembentukan enzim cyclic


endoperoxides.

Menghambat sintesa tromboksan A-2 (TXA-2) di dalarn trombosit, sehingga akhirnya


menghambat agregasi trombosit.
Menginaktivasi enzim-enzim pada trombosit tersebut secara permanen. Penghambatan inilah
yang mempakan cara kerja aspirin dalam pencegahan stroke dan TIA (Transient Ischemic
Attack).
Pada endotel pembuluh darah, menghambat pembentukan prostasiklin. Hal ini membantu
mengurangi agregasi trombosit pada pembuluh darah yang rusak.
FARMAKOKINETIKA
Mula kerja : 20 menit -2 jam.

Kadar puncak dalam plasma: kadar salisilat dalam plasma tidak berbanding lurus dengan
besamya dosis.
Waktu paruh : asam asetil salisilat 15-20 rnenit ; asarn salisilat 2-20 jam tergantung besar dosis
yang diberikan.
Bioavailabilitas : tergantung pada dosis, bentuk, waktu pengosongan lambung, pH lambung,
obat antasida dan ukuran partikelnya.
Metabolisme : sebagian dihidrolisa rnenjadi asarn salisilat selarna absorbsi dan didistribusikan
ke seluruh jaringan dan cairan tubuh dengan kadar tertinggi pada plasma, hati, korteks ginjal ,
jantung dan paru-paru.
Ekskresi : dieliminasi oleh ginjal dalam bentuk asam salisilat dan oksidasi serta konyugasi
metabolitnya.
FARMAKODINAMIK
Adanya makanan dalam lambung memperlambat absorbsinya ; pemberian bersama antasida
dapat mengurangi iritasi lambung tetapi meningkatkan kelarutan dan absorbsinya. Sekitar 70-90
% asam salisilat bentuk aktif terikat pada protein plasma.
EFEK TERAPEUTIK
Menurunkan resiko TIA atau stroke berulang pada penderita yang pernah menderita iskemi otak
yang diakibatkan embolus. Menurunkan resiko menderita stroke pada penderita resiko tinggi
seperti pada penderita tibrilasi atrium non valvular yang tidak bisa diberikan anti koagulan.
KONTRAINDIKASI
Hipersensitif terhadap salisilat, asma bronkial, hay fever, polip hidung, anemi berat, riwayat
gangguan pembekuan darah.
INTERAKSI OBAT

Obat anti koagulan, heparin, insulin, natrium bikarbonat, alkohol clan, angiotensin converting
enzymes.
EFEK SAMPING
Nyeri epigastrium, mual, muntah , perdarahan lambung.
EFEK TOKSIK
Tidak dianjurkan dipakai untuk pengobatan stroke pada anak di bawah usia 12 tahun karena
resiko terjadinya sindrom Reye. Pada orang tua harus hati- hati karena lebih sering menimbulkan
efek samping kardiovaskular. Obat ini tidak dianjurkan pada trimester terakhir kehamilan karena
dapat menyebabkan gangguan pada janin atau menimbulkan komplikasi pada saat partus. Tidak
dianjurkan pula pada wanita menyusui karena disekresi melalui air susu.
DOSIS
FDA merekomendasikan dosis: oral 1300 mg/hari dibagi 2 atau 4 kali pemberian. Sebagai anti
trombosit dosis 325 mg/hari cukup efektif dan efek sampingnya lebih sedikit.

UPAYA MENGHINDARI DAMPAK NEGATIF


1. Hindari pemakaian obat gabungan (polifarmasi), kecuali jika memang kondisi penyakit yang
diobati memerlukan gabungan obat dan pengobatan gabungan tersebut sudah diterima dan
terbukti secara ilmiah manfaatnya.
2. Kenali sebanyak mungkin kemungkinan interaksi yang timbul pada obat-obat yang sering
diberikan bersamaan dalam praktek polifarmasi.
3. Jika ada interaksi, perlu dilakukan tindakan-tindakan, misal pengurangan dosis atau mengganti
obat lain yang memiliki efek terapetik yang sama tapi tidak menimbulkan interaksi yang
merugikan.

4. Evaluasi efek sesudah pemberian obat-obat secara bersamaan untuk menilai ada tidaknya efek
samping/toksik dari salah satu atau kedua obat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2008, http://209.85.175.104/search?q=cache:aH4ba3H8RPIJ:library.usu.ac.id, Diakses
tanggal 24 Oktober 2014
Lu, Frank C,1995, Toksikologi Dasar, ed 2, 25-27, UI Press, Jakarta
Raharja, Kirana, Drs, 1997, Obat-Obat Penting, ed 5, 35, 39, Penerbit Elex Media Computindo,
Jakarta

Penggunaan Asam Asetil Salisilat/ Aspirin/ Asetosal Pada Orang Tua (Geriatri)
1. Orang tua dengan diabetes tipe 2 tidak boleh mengambil aspirin untuk menghindari
penyakit kardiovaskular.
2. Peneliti Australia dari universitas Tasmania menggunakan model untuk mensimulasikan
implikasi penggunaan rutin aspirin dalam populasi 20.000 pria dan wanita berusia 70-74
tahun tanpa penyakit kardiovaskular. Para model menyarankan bahwa banyak manfaat
yang mereka peroleh dari menggunakan dosis rendah aspirin untuk mengatasi serangan
jantung dapat dibatalkan dengan peningkatan kasus pendarahan serius, namun tim
mengatakan temuan mereka menegaskan perlunya ujian klinis untuk menetapkan manfaat
benar atau salahnya aspirin pada orang tua.
Professor Peter Weissberg, direktur medis dari British Heart Foundation mengatakan
bagi sebagian besar pasien beresiko serangan jantung atau struk, potensi manfaat
mengkonsumsi aspirin jelas melebihi resiko.
Penelitian hipotesis
Aspirin dapat menyebabkan pendarahan yang, jika terjadi pada usus atau otak, dapat
mengancam nyawa. Orang-orang tanpa penyakit jantung dan peredaran darah, risiko
mengambil aspirin mungkin lebih besar daripada manfaatnya.
Professor Weissberg mengatakan isu penting pada orang tua dengan pembuluh darah
yang rapuh dan mungkin mengambil pengobatan yang lain. Dia menambahkan kami
mendukung kesimpulan penelitian bahwa percobaan klinis terkontrol dengan baik
dirancang khusus untuk pasien yang lebih tua harus dilakukan sebelum aspirin
dianjurkan untuk pencegahan primer penyakit jantung pada orang berusia lanjut.

Daftar Pustaka
1.

http://www.mcknights.com/american-geriatrics-society-reverses-recommendationon-elderly-diabetics-aspirin-use/article/288489/

2. http://www.dailymail.co.uk/health/article-349367/Aspirin-riskelderly.html#ixzz3HHDrfLzc