Anda di halaman 1dari 69

Oleh :

Ir. Hj. Zaenab Muslimin, MT

1. Daya Sesaat
Daya adalah energi persatuan waktu.

Jika satuan energi adalah joule dan satuan


waktu adalah detik, maka satuan daya adalah
joule per detik yang disebut Watt; yaitu 1 Watt =
1 joule per detik.
Daya sesaat dapat dinyatakan sebagai berikut :

p(t) = v(t) . i(t)

.(1)

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

1. Daya Sesaat
jika v(t) = Vm cos (t +) dan i(t) = Im cos t

maka daya sesaat menjadi :


p(t) = Vm cos(t +).Im cost = Vm. Im cos(t +).cos t
.(2)

trigonometri : cos cos = cos ( ) + cos ( + )


persamaan (2) menjadi :
p(t) = Vm . Im cos (t + t) - Vm . Im cos (t + +t)
= Vm . Im cos + Vm . Im cos (2t + )

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

...(3)

1. Daya Sesaat
Pada umumnya daya dinyatakan sebagai

daya rata-rata per satuan waktu, atau daya


rata-rata per gelombang. Bila T adalah
periode gelombang arus dan gelombang
tegangan maka daya rata-rata per
gelombang adalah :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

2. Daya Rata-Rata atau Daya Real


Misalkan arus mengalir pada beban Z, maka

daya rata-rata per gelombang pada beban Z


tersebut adalah :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

2. Daya Rata-Rata atau Daya Real


Karena suku kedua dari persamaan (5) adalah

gelombang cosinus (bolak-balik) yang


berfrekuensi sudut 2, rata-rata per gelombang
atau per dua gelombang adalah nol maka
persamaan (5) menjadi :
P = Vm . Im cos

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

2. Daya Rata-Rata atau Daya Real


Dari penjelasan sebelumnya diketahui hubungan

antara nilai efektif dan nilai maksimum diperoleh :


P = V I cos = V I pf
(6)

dimana :
P
= daya rata-rata = daya real = daya aktif (Watt)
Vm, Im = tegangan, arus maksimum
V, I
= tegangan, arus efektif
cos = pf = faktor daya

= sudut impedansi
= sudut beda fasa antara tegangan dan arus
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

3. Daya Reaktif
Selain daya aktif pada beban Z yang dinyatakan pada

persamaan (6), didefinisikan pula daya reaktif seperti pada


persamaan (7).
Q = V I sin

.(7)

Daya aktif selalu bernilai positif sedangkan daya reaktif dapat

bernilai positif maupun negatif.


Untuk beban Z yang bersifat induktif, sudut adalah positif

sehingga daya reaktif Q positif.


Untuk beban Z yang bersifat kapasitif, sudut adalah negatif

sehingga daya reaktif juga Q negatif.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

3. Daya Reaktif
Daya reaktif yang positif dianggap sebagai daya
reaktif yang dikonsumsi oleh Z
Daya reaktif negatif dianggap sebagai daya
reaktif yang dibangkitkan oleh Z.
Jadi induktor L (dengan sudut = 900) dianggap
sebagai konsumen daya reaktif.

Kapasitor C (dengan sudut = -900) sebagai


pemasok atau pembangkit daya reaktif.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

4. Daya Kompleks dan Segitiga Daya


Ada tiga jenis daya yaitu daya rata-rata (average

power), daya reaktif (reactive power) dan daya semu


(apparent power) yang disimbolkan dengan huruf S.
Daya semu atau daya kompleks didefinisikan sebagai

besaran daya yang bagian realnya daya rata-rata dan


bagian imajiner daya reaktif yang dapat dituliskan
sebagai berikut :
S = P + jQ

.....(8)

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

4. Daya Kompleks dan Segitiga Daya


Untuk beban induktif, daya semu adalah S = P + jQL seperti pada Gambar
1. dan untuk beban kapastif S = P - j QC, seperti pada Gambar 2.

Gambar 1. Diagram daya untuk


beban induktif

Gambar 2. Diagram daya untuk beban


kapasitif

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

4. Daya Kompleks dan Segitiga Daya


Selain rumusan seperti pada persamaan (8), daya

kompleks juga didefinisikan perkalian antara tegangan


dan arus konyugat, yaitu :

S = V I* (9)
dimana S = daya kompleks , daya semu (VA)
P = daya real, daya rata-rata, daya aktif (Watt)
Q = daya reaktif (VAR)

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

5. Faktor Daya
Selisih sudut antara tegangan dan arus yaitu v i

memegang peranan penting pada perhitungan daya


real/aktif yang dikenal sebagai sudut faktor daya.
Kosinus dari sudut ini disebut power factor atau faktor
daya yang biasa disingkat dengan pf.
Faktor daya dituliskan sebagai :

pf = cos (10)

dalam penggambaran sudut , digunakan istilah


faktor daya lagging dan faktor daya leading.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

5. Faktor Daya
Disebut lagging apabila arus lag terhadap
tegangan yang berarti adalah beban induktif

Dan disebut leading apabila arus lead terhadap


tegangan berarti beban kapasitif.
Apabila faktor daya menurun, mengindikasikan

bahwa rangkaian reaktif bertambah.


Faktor daya yang kecil menyebabkan daya real
yang diserap juga kecil.
Faktor daya nilainya bervariasi dari 0 hingga 1.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

5. Faktor Daya
Jika sudut mendekati 00 atau pf mendekati 1,
rangkaian adalah resistif murni dengan demikian

daya yang terkirim sebagian besar terdisipasi.


Jika sudut mendekati 900 atau pf mendekati 0,
rangkaian adalah rangkain reaktif sehingga daya
yang terkirim sebagian kecil terdisipasi dan
sebagian besar akan tersimpan dalam bentuk
medan magnet atau medan listrik yang akan
dikeluarkan ke rangkaian bila diperlukan.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

5. Faktor Daya
Dari persamaan (6) :

P = V I cos
Sehingga dapat dituliskan :

pf = cos = R/Z

.(11)

dimana sudut berhubungan dengan sudut


impedansi.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

5. Faktor Daya
Hubungan sudut dengan S dan seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 1 dan 2 sudut faktor

daya adalah :

P = S cos = V I cos
Q = S sin = V I sin

.(12)

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6. Daya Pada Elemen-Elemen Dasar


Semua energi yang dikirim ke resistor terdisipasi.
Untuk kapasitor dan induktor ideal, energi yang

dikirim tidak terdisipasi melainkan tersimpan


dalam bentuk medan listrik dan medan magnet,
ketika diperlukan siap mensuplai ke sistem.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.1 Daya Pada Elemen R


Persamaan daya untuk resistor adalah :

p R = v R . iR
Jika vR dan iR digambar sebagai fungsi waktu
akan diperoleh bentuk gelombang daya seperti

pada Gambar 3.
Puncak positif pertama dari kurva daya diperoleh
ketika vR dan iR pada nilai puncak positif.
Puncak kedua dari kurva daya terjadi ketika vR
dan iR pada puncak negatif.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.1 Daya Pada Elemen R

Gambar 3. Daya fungsi waktu untuk beban resistif murni

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.1 Daya Pada Elemen R


Pada Gambar 3 tampak pula bahwa, kurva daya
di atas sumbu horisontal menunjukkan bahwa

semua daya yang dikirim terdisipasi oleh elemen


resistor.
Nilai rata-rata dari kurva daya adalah perkalian
nilai efektif dari tegangan dan arus.
Perkalian ini dinamakan pula daya real atau
daya rata-rata yang dikirim ke resistor yang
dapat dituliskan sebagai berikut :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.1 Daya Pada Elemen R


Atau dapat pula diturunkan dari persamaan
berikut :
Untuk rangkaian resistif murni, tegangan dan
arus sefasa sehingga selisih sudut tegangan dan
arus =00.
Daya real :
P = V I cos = V I cos 00 = V I (Watt)
Daya reaktif
Q = V I sin = V I sin 00 = 0 (VAR)
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.2 Daya Pada Elemen L


Proses yang sama berlaku pula untuk induktor, yaitu

akan diperoleh kurva seperti pada Gambar 4.


Karena pada induktor terjadi pergeseran fasa 900 maka
ada daerah dimana arus atau tegangan akan negatif,
sehingga akan menghasilkan daya negatif.
Kurva daya yang dihasilkan mempunyai pola sinusoidal
tetapi frekuensinya dua kali dari frekuensi tegangan atau
arus yang diterapkan. Yaitu untuk setiap siklus dari
tegangan atau arus, maka akan terjadi dua siklus dari
kurva daya.
Pada Gambar 4. tampak bahwa kurva daya mempunyai
luas yang sama antara di atas dan di bawah sumbu
horisontal untuk satu periode penuh.
Atau dengan kata lain bahwa untuk satu siklus penuh
energi yang diserap sama dengan energi yang
dikembalikan sehingga tidak ada daya terdisipasi.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.2 Daya Pada Elemen L

Gambar 4. Kurva daya untuk beban induktif murni

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.2 Daya Pada Elemen L


Meskipun nilai rata-rata dari bentuk gelombang
adalah nol watt dan tidak ada daya terdisipasi,

akan tetapi daya sesaat tetap ada yang dikirim


ke induktor.
Untuk induktor, kuantitasnya dinamakan daya
reaktif yang dapat dituliskan sebagai :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.2 Daya Pada Elemen L


Atau dapat pula diturunkan dari persamaan
berikut :
Untuk rangkaian induktif murni, tegangan dan
arus berbeda fasa 900 sehingga selisih sudut
tegangan dan arus =900.
Daya real :
P = V I cos = V I cos 900 = 0 (Watt)
Daya reaktif
Q = V I sin = V I sin 900 = V I (VAR)
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.3 Daya Pada Elemen C


Karena kapasitor dan induktor adalah elemen reaktif

murni, maka kurva dan persamaan untuk kapasitor


kurang lebih sama dengan yang diperoleh pada
induktor.
Kurva daya untuk kapasitor tampak pada Gambar 5.
Perbedaan utama antara kurva daya pada kapasitor
dan induktor adalah berbeda 1800 antara keduanya.
Kurva daya pada induktor adalah positif pada
seperempat siklus sedangkan kurva daya kapasitor
adalah negatif (tapi bentuknya adalah sama).

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.3 Daya Pada Elemen C

Gambar 5. Kurva daya untuk beban kapasitif murni

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.3 Daya Pada Elemen C


Nilai rata-rata dari kurva daya sekali lagi
adalah nol watt dan tidak ada daya

terdisipasi, akan tetapi daya sesaat tetap


ada yang dikirim ke kapasitor. Daya reaktif
untuk kapasitor adalah :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

6.3 Daya Pada Elemen C


Atau dapat pula diturunkan dari persamaan
berikut :
Untuk rangkaian induktif murni, tegangan dan
arus berbeda fasa 900 sehingga selisih sudut
tegangan dan arus = -900.
Daya real :
P = V I cos = V I cos (-900) = 0 (Watt)
Daya reaktif
Q = V I sin = V I sin (-900) = -V I (Var)
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Setiap perencanaan sistem transmisi daya
adalah sangat berpengaruh terhadap besar arus

dalam saluran yang ditentukan oleh beban.


Bertambahnya arus akan meningkatkan rugi
daya (P=I2R) pada saluran transmisi karena
resistansi saluran.
Arus yang besar juga membutuhkan konduktor
yang besar dengan demikian menambah jumlah
tembaga yang diperlukan oleh sistem.
Oleh karena itu diusahakan untuk menjaga level
arus pada nilai minimum.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Karena tegangan saluran pada sistem transmisi

adalah tetap dan daya semu berhubungan langsung


dengan level arus.
Semakin kecil daya semu semakin kecil pula arus
yang ditarik dari sumber.
Daya reaktif kapasitor adalah negatif sedangkan
daya reaktif induktor adalah positif.
Karena karakteristik tersebut, maka apabila beban
mengandung induktor seperti motor, transformator
dll adalah memiliki daya reaktif positif sehingga bila
dipasang paralel dengan kapasitor maka kombinasi
keduanya akan membutuhkan daya reaktif yang
lebih kecil.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Demikian pula sebaliknya bila beban bersifat
kapasitif, maka penambahan induktor yang

paralel dengan beban kapasitif akan mengurangi


daya reaktif yang dialirkan dari luar gabungan
keduanya.
Proses seperti ini dinyatakan sebagai koreksi
faktor daya sistem.
Pada umumnya beban bersifat induktif, sehingga
perbaikan/koreksi faktor daya sistem dilakukan
dengan menambahkan kapasitor di dekat beban.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Umumnya kapasitor dipasang paralel dengan
beban Z agar beban tidak terganggu.

Besar kapasitor harus diperhitungkan agar


diperoleh sistem yang paling ekonomis.
Misalkan suatu tegangan V diterapkan pada

suatu beban induktif, kemudian dipasang


kapasitor paralel dengan beban seperti pada
Gambar 6.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya

Gambar 6. Beban induktif paralel dengan kapasitor

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Berdasarkan pada Gambar 6, dapat digambar diagram fasornya seperti pada
Gambar 7. dan segitiga daya dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 7. Diagram fasor gambar 6

Gambar 8. Pengaruh faktor daya pada


segitiga daya

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

7. Koreksi Faktor Daya


Setelah pemasangan kapasitor, pada Gambar 8.
terlihat bahwa QT dan S mengalami penurunan

untuk daya aktif yang sama.


Sudut faktor daya menjadi lebih kecil sehingga
diperoleh faktor daya yang lebih besar dari
sebelumnya dan arus yang diperlukan oleh
beban semakin kecil pula.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8. Topik Khusus
8.1 Rangkaian RL

Untuk melihat pengaruh dari faktor daya pada


sistem, dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9.(a) menunjukkan beban dengan faktor
relatif daya rendah dan
Gambar 9.(b) menunjukkan beban dengan faktor
daya relatif tinggi.
Kedua beban menggunakan daya aktif yang sama
sebagaimana ditunjukkan oleh Wattmeter, dengan
demikian kerja yang dilakukan oleh kedua beban
adalah sama.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8. Rangkaian RL
8.1.1 Pengaruh Faktor Daya

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8. Rangkaian RL
8.1.1 Pengaruh Faktor Daya

Meskipun kedua beban menggunakan daya aktif


yang sama, akan tetapi beban pada faktor daya
yang rendah akan menarik arus yang lebih besar
dari sumber bila dibandingkan dengan beban pada
faktor daya yang tinggi seperti yang ditunjukkan
oleh ammeter.
Oleh sebab itu, Gambar 9.(a) harus mempunyai
rating VA yang lebih tinggi daripada Gambar 9.(b).
Selain itu kawat saluran yang menghubungkan
sumber dan beban lebih besar dan kondisi ini
sangat signifikan bila saluran sangat panjang.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.1.2 Aplikasi Rangkaian RL


Rangkaian Lead RL

Rangkaian lead RL adalah rangkaian penggeser fasa,

dimana tegangan output leading terhadap tegangan


input.
Gambar 10 menunjukkan rangkaian seri RL dengan
tegangan output pada L.
Jika bentuk gelombang tegangan input dan output
dari rangkaian lead ditampilkan pada osiloskop maka
akan tampak seperti pada Gambar 11.
Perbedaan fasa antara output dan input dituliskan
sebagai yang besarnya tergantung pada nilai
resistansi dan reaktansi induktif
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.1.2 Aplikasi Rangkaian RL


Rangkaian Lead RL

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.1.2 Aplikasi Rangkaian RL


Rangkaian Lead RL

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.1.2 Aplikasi Rangkaian RL


Rangkaian Lag RL

Rangkaian lag RL adalah rangkaian penggeser fasa,

dimana tegangan output lag terhadap tegangan


input.
Rangkaian seri RL dengan output pada R dan
bentuk gelombang output dan input diperlihatkan
pada Gambar 12.
Rumus untuk sudut antara tegangan input dan
tegangan output adalah

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.1.2 Aplikasi Rangkaian RL


Rangkaian Lag RL

Gambar 12. Rangkaian Lag RL ( Vout = VR)

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Rangkaian RL Sebagai Filter


Low-Pass Filter

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Low-Pass Filter
Pada Gambar 13. menunjukkan rangkaian seri RL
yang bertindak sebagai filter .
Gambar 13(a) frekuensi input adalah nol (dc),
untuk sumber dc maka induktor berlaku sebagai
short circuit karena arus konstan akibatnya
tegangan output sama dengan tegangan input.
Gambar 13(b) frekuensi dari tegangan input
dinaikkan menjadi 1 kHz, menyebabkan reaktansi
induktif juga naik menjadi 62.83 .
Untuk tegangan input 10 V, tegangan output
mendekati 8.47 V, dimana dapat pula dihitung
dengan menggunakan pembagi tegangan.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Low-Pass Filter
Gambar 13(c) frekuensi input dinaikkan menjadi
10 kHz, menyebabkan reaktansi induktif

selanjutnya ikut naik menjadi 628.3 .


Untuk tegangan input 10 V, tegangan output
sekarang menjadi 1.57 V.
Selanjutnya frekuensi dinaikkan, tegangan output
semakin menurun dan mendekati nol bila
frekuensi menjadi sangat tinggi sebagaimana
diperlihatkan pada Gambar 13(d) untuk frekuensi
20kHz.

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

High-Pass Filter

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.1 Pengaruh Daya Kompleks

Daya kompleks terdiri dari dua komponen yaitu, daya

aktif/ real/ rata-rata dan reaktif.


Semua sistem elektronik dan elektrik membutuhkan
daya yang melakukan kerja.
Daya reaktif adalah daya yang dikirim dari sumber ke
beban dan dari beban ke sumber.
Daya yang dikirim ke beban seharusnya daya aktif dan
tidak ada daya reaktif.
Tetapi dalam praktek beban umumnya terdiri dari
reaktansi maka beban tersebut butuh dua komponen
tersebut yaitu daya aktif dan reaktif.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.1 Pengaruh Daya Kompleks

Sumber seperti generator ac dapat mensuplai arus ke

beban hingga nilai maksimum.


Jika beban menarik lebih dari nilai maksimumnya
maka sumber akan berbahaya.
Gambar 17(a) menunjukkan generator 120 V dapat
mengirim arus maksimum ke beban sebesar 5 A.
Asumsi bahwa rating generator adalah 600 W dan
dihubungkan ke beban resistif 24 (faktor daya 1).
Ammeter menunjukkan arus 5 A dan wattmeter
menunjukkan daya 600 W.
Pada kondisi ini generator tidak ada masalah
meskipun bekerja pada arus dan daya maksimum.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.1 Pengaruh Daya Kompleks

Sekarang apa yang terjadi jika beban diubah menjadi

impedansi yaitu 18 dan faktor daya 0.6, seperti


diperlihatkan pada Gambar 17(b).
Arus yang ditunjukkan oleh ammeter menjadi 6.67 A
dimana melebihi nilai maksimum, meskipun
pembacaan wattmeter 480 W lebih kecil daripada
rating daya generator tetapi arus lebih dapat
menyebabkan kerusakan.
Gambaran ini menunjukkan bahwa rating daya adalah
tidak tepat sebagai rating untuk generator ac.
Generator ac seharusnya mempunyai rating 600 VA,
dan umumnya pabrik menggunakan rating VA dan
bukan Watt.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.1 Pengaruh Daya Kompleks

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.2 Rangkaian RC sebagai Filter

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

8.2 Rangkaian RC
8.2.2 Rangkaian RC sebagai Filter

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal
1. Lihat Gambar 26, tentukanlah :
arus sesaat yang disuplai oleh sumber ?

tegangan sesaat pada masing-masing elemen ?


daya aktif, reaktif dan daya kompleks rangkaian ?
faktor daya rangkaian ?

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal
2. Sebuah beban listrik bekerja pada tegangan 240
V. Beban menyerap daya 8 kW pada faktor daya

0.8 lagging. Hitunglah :


Daya kompleks beban ?

Impedansi beban?

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal
3.a Sebuah industri kecil memiliki beban pemanas
dengan kapasitas 10 kW, pf = 1 dan beban induktif
berupa motor 20 kVA, pf = 0.7 lagging. Jika
diterapkan pada tegangan 1000 volt dan frekuensi
60Hz, tentukanlah elemen kapasitif yang diperlukan
untuk menaikkan pf =0.95.
3.b Bandingkan hasilnya arus yang ditarik dari
sumber sebelum dan sesudah pemasangan elemen
kapasitif.
Jawab :
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4
Dua beban yang diperlihatkan pada gambar 30
dengan perincian : beban 1 menyerap daya 8 kW

pada faktor daya 0.8 leading. Beban 2 menyerap 20


kVA pada faktor daya 0.6 lagging. Hitunglah :
Faktor daya pada beban yang terhubung paralel ?

Daya kompleks yang diperlukan untuk mensuplai

beban, tegangan dan rugi daya pada saluran ?


Bila frekuensi sumber adalah 50 Hz, berapa besar
kapasitor yang diperlukan bila dipasang paralel dengan
kedua beban sehingga faktor daya naik menjadi 0.95 ?

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Jawab :

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Gambar 31. (a) segitiga daya untuk beban 1 (b) segitiga daya
untuk beban 2 (c) penjumlahan dari kedua segitiga daya.
Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Contoh Soal 4

Rangkaian Listrik II/ Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT

Rangkaian Listrik/Ir.Hj. Zaenab Muslimin, MT