Anda di halaman 1dari 18

PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN PAJAK

A. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUM PEMERIKSAAN PAJAK


Pemeriksaan menurut UU KUP Pasal 1 angka 24 adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,
mengumpulkan, dan mengolah data dan atau keterangan lainnya untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.
Karena sistem perpajakan Indonesia adalah self assessment, maka penting untuk menguji kepatuhan WP
apakah dia sudah mengikuti batas-batas yang ditentukan oleh UU atau tidak. Menurut Kepmen No.
544/KMK.04/2000 tanggal 22 Desember 2000 disebutkan bahwa kriteria wajib pajak patuh adalah:
1. Tepat waktu dalam menyampaikan surat pemberitahuan untuk semua jenis pajak dalam 2 (dua) tahun
terakhir.
2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk
mengangsur atau menunda membayar pajak.
3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka
waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir.
4. Dalam 2 (dua) tahun pajak terakhir :
a. Menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 UU KUP
b. Dalam hal terhadap WP pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi pada pemeriksaan yang terakhir
untuk masing-masing jenis pajak yang terhutang paling banyak 5%
5. WP yang laporan keuangannya untuk 2 tahun terakhir diaudit oleh akuntan publik dengan pendapat
wajar tanpa pengecualian, atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi labarugi fiskal.
Laporan auditnya harus disusun dalam bentuk long form report yang menyajikan rekonsiliasi
laba rugi komersial dan fiskal.
Dalam hal WP yang laporan keuangannya tidak diaudit oleh akuntan publik, dipersyaratkan untuk
memenuhi ketentuan tersebut huruf d diatas.
Oleh karena tidak semua wajib pajak itu patuh, maka dilakukanlah pemeriksaan pajak. Kewenangan
untuk melakukan pemeriksaan pajak ada pada Direktur Jenderal Pajak yang diatur dalam Pasal 29 ayat (1)
Undang-undang KUP. Dengan demikian, Pemeriksa Pajak adalah PNS di lingkungan DJP atau tenaga
ahli yang ditunjuk oleh DJP yang diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan
pemeriksaan pajak. Ada 4 dasar hukum mengenai pemeriksaan pajak, yaitu:
1. PP No. 31 Tahun 1986 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak yang tujuannya adalah menetapkan
jumlah pajak terutang.
2. PP di atas dicabut dengan PP No.43 Tahun 1994 dimana tata cara pemeriksaan cukup diatur melalui
Keputusan Menteri Keuangan
3. Kepmen No. 625/KMK 04/1994 tertanggal 27 Desember 1994 yang berlaku 1 Januari 1995 bahwa
tujuan pemeriksaan adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
4. Selanjutnya kepmen di atas dinyatakan tidak berlaku lagi digantikan dengan Kepmen No.
545/KMK/2000 tanggal 22 Desember 2000 dengan tujuan hampir sama.

Sesuai dengan Kepmen No. 545/KMK.04/2000 tertanggal 22 Desember 2000 disebutkan bahwa tujuan
pemeriksaan adalah untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dalam rangka
memberikan kepastian hukum, keadilan dan pembinaan kepada WP dan tujuan lain dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pemeriksaan untuk menguji
kepatuhan Wajib Pajak dilakukan dalam beberapa hal, yaitu:
1. SPT menunjukkan kelebihan pembayaran pajak, termasuk yang telah diberikan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak.
2. SPT Tahunan Pajak Penghasilan menunjukkan rugi fiskal.
3. SPT tidak disampaikan atau disampaikan tidak pada waktu yang telah ditetapkan.
4. SPT yang memenuhi kriteria seleksi yang ditentukan oleh Dirjen Pajak.
5. Ada indikasi kewajiban perpajakan selain kewajiban tersebut pada angka 3 tidak dipenuhi.
Sedangkan pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan dalam hal:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) secara jabatan.


Penghapusan NPWP.
Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak.
Wajib Pajak mengajukan keberatan.
Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan penghasilan neto
Pencocokan data dan atau alat keterangan.
Penentuan WP berlokasi di daerah terpencil.
Penentuan satu atau lebih tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai.
Pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Dalam pemeriksaan pajak, ada 9 kebijakan secara umum, yaitu:


1. Setiap Wajib Pajak mempunyai peluang yang sama untuk diperiksa.
2. Setiap pemeriksaan yang dilaksanakan harus dilengkapi dengan surat perintah pemeriksaan pajak
yang mencantumkan tahun pajak yang diperiksa.
3. Pemeriksaan dapat dilaksanakan oleh kantor pusat Ditjen Pajak, Kanwil, Kantor Pemeriksaan dan
Penyidikan Pajak atau Kantor Pelayanan Pajak.
4. Pemeriksaan ulang terhadap jenis dan tahun pajak yang sama, tidak diperkenankan, kecuali dalam hal
sbb:
a. WP diduga telah atau sedang melakukan tindak pidana perpajakan.
b. Terdapat data baru dan atau data semula yang belum terungkap.
5. Buku-buku, catatan-catatan dan dokumen lain yang akan dipinjam dari wajib pajak dalam
pelaksanaan pemeriksaan tidak harus yang asli, dapat juga misalnya berupa fotocopy yang sesuai
dengan aslinya.
6. Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor pemeriksa atau di tempat WP
7. Jangka waktu pemeriksaan terbatas:
c. Pemeriksaan Lengkap harus diselesaikan dalam 2 bulan sejak tanggal surat pemberitahuan
diterima oleh WP.
d. Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL) selesai dalam waktu 1 bulan, sejak surat pemberitahuan
diterima oleh WP.
8. Dapat dilakukan perluasan pemeriksaan, baik untuk tahun-tahun sebelumnya maupun tahun
sesudahnya yaitu dalam hal:
e. SPT Tahunan, WP Orang Pribadi Badan menyatakan adanya kompensasi kerugian dari tahuntahun sebelumnya yang belum dilakukan pemeriksaan.

f. Sebab lain berdasarkan instruksi pemeriksaa, penyidikan, dan penagihan pajak.


9. Setiap hasil pemeriksaan harus diberitahukan kepada WP secara tertulis yaitu mengenai hal-hal yang
berbeda antara SPT WP dengan hasil pemeriksaan, dan selanjutnya untuk ditanggapi oleh WP.

B. RUANG LINGKUP PEMERIKSAAN


Ruang lingkup atau cakupan pemeriksaan terdiri dari pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan kantor.
Pemeriksaan Lapangan yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat WP yang dapat mencakup kantor,
pabrik, tempat usaha, tempat tinggal, dan tempat lain yang ada kaitannya dengan kegiatan usaha.
Pemeriksaan lapangan dapat dibedakan:
1. Pemeriksaan Lengkap (PL)
a. Dilakukan terhadap WP, termasuk kerjasama operasi (KSO) dan konsorsium atas seluruh jenis
pajak untuk tahun berjalan atau tahun-tahun sebelumnya untuk mencapai tujuan pemeriksaan
b. Dilakukan dalam jangka waktu 2 bulan dan dapat diperpanjang paling lama 6 bulan.
2. Pemeriksaan Sederhana Lapangan (PSL)
a. Pemeriksaan dilakukan terhadap WP untuk satu, beberapa atau seluruh jenis pajak secara
terkoordinasi antarseksi oleh Kepala Kantor dalam tahun berjalan
b. atau tahun-tahun sebelumnya.
c. Dilakukan dalam 1 bulan dan dapat diperpanjang paling lama 2 bulan
Sedangkan pemeriksaan kantor yaitu pemeriksaan yang dilakukan di kantor unit pelaksana pemeriksaan
pajak, dapat meliputi suatu jenis pajak tertentu, baik untuk tahun berjalan maupun tahun-tahun
sebelumnya.
1. Pemeriksaan hanya dapat dilakukan dengan Pemeriksaan Sederhana Kantor (PSK)
2. Jangka waktu penyelesaian 4 bulan dan dapat diperpanjang paling lama 6 bulan.

Sedangkan ruang lingkup Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban


perpajakan dapat meliputi:
1. satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak,
2. baik untuk satu atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak,
3. dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan.
C. JENIS-JENIS PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Rutin, yaitu pemeriksaan yang bersifat rutin yang dilakukan terhadap WP yang
berhubungan dengan pemenuhan hak dan kewajiban perpajakannya, yaitu antara lain dilakukan dalam
hal berikut:
a. SPT Tahunan PPh WP Badan atau Orang Pribadi Lebih Bayar (LB).
b. SPT Tahunan PPh WP Badan yang menyatakan rugi tetapi tidak LB.
c. WP mengajukan pencabutan NPWP atau PKP.
d. WP tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh walaupun sudah dikirimi surat teguran dan tidak
mengajukan permohonan perpanjangan
e. WP melakukan kegiatan membangun sendiri.
f. WP mengajukan permohonan untuk pemusatan PPN.

2. Pemeriksaan Kriteria Seleksi, adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap WP Badan atau Orang
Pribadi yang terpilih berdasarkan skor risiko tingkat kepatuhan secara komputerisasi.
3. Pemeriksaan Khusus yaitu pemeriksaan dilakukan terhadap WP sehubungan dengan adanya data,
informasi, laporan atau pengduan yang berkaitan dengan WP tersebut.
4. Pemeriksaan WP Lokasi yaitu pemeriksaan dilakukan terhadap cabang, perwakilan, pabrik dan atau
tempat usaha yang pada umumnya berbeda lokasinya dengan WP domisili. Pemeriksaan ini dilakukan
dalam hal :
a. SPT Tahunan PPh 21 atau SPT Masa PPN Lebih Bayar
b. SPT poin 1 tidak dimasukkan 2 tahun berturut-turut atau 3 bulan berturut-turut.
c. Adanya permintaan dari unit pelaksana pemeriksa.
5. Pemeriksaan Tahun Berjalan yaitu pemeriksaan untuk jenis-jenis pajak tertentu atau seluruh jenis
pajak terhadap WP domisili atau WP lokasi yang umumnya masa pajak sampai dengan Oktober.
6. Pemeriksaan Bukti Permulaan yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti
permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan. Bukti Permulaan
adalah keadaan dan atau bukti-bukti, baik berupa keterangan, tulisan, perbuatan atau benda-benda
yang dapat memberikan petunjuk bahwa suatu tindak pidana sedang atau telah terjadi, dilakukan oleh
Wajib Pajak yang dapat menimbulkan kerugian pada negara
7. Pemeriksaan Terintegrasi yaitu pemeriksaan dilakukan secara terkoordinasi dari dua atau lebih unit
pelaksana peme-riksaan pajak terhadap beberapa WP yang memiliki hubungan kepemilikan,
pengusaan, pengelolaan usaha, dan atau hubungan finansial.
8. Pemeriksaan Tujuan Penagihan Pajak yaitu pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan data
mengenai harta WP atau penanggung pajak yang dapat merupakan objek sita sehubungan dengan
adanya tunggakan pajak
9. Pemeriksaan terhadap WP Pindah Lokasi. Pemeriksaan dilakukan antara lain untuk melihat
kepatuhan WP pada KPP lama atau adanya perubahan status.
10. Pemeriksaan Ulang. Pemeriksaan ini antara lain disebabkan terdapatnya data baru yang semula belum
terungkap yang dapat mengakibatkan penambahan jumlah pajak terhutang.
11. Pemeriksaan Pajak dan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak. Pemeriksaan
dilakukan terhadap WP dengan kriteria tertentu.
12. Pemeriksaan WP pada KPP WP Besar. Pemeriksaan dapat dilakukan setiap tahun dengan ruang
lingkup pemeriksaan PL, PSL, dan PSK.

Kaitan antara kriteria dan jenis pemeriksaan


1. Yang Harus Dilakukan Pemeriksaan
Kriteria
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan harus
dilakukan terhadap Wajib Pajak yang
mengajukan permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang
KUP.

Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan
dengan jenis Pemeriksaan Lapangan atau
Pemeriksaan Kantor.
o

Dilakukan dengan Pemeriksaan Kantor,


dalam hal permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran tersebut diajukan

oleh WP yang memenuhi persyaratan:


i.

ii.

laporan keuangan WP untuk Tahun Pajak


yang diperiksa diaudit oleh akuntan
publik atau laporan keuangan salah satu
Tahun Pajak dari 2 (dua) Tahun Pajak
sebelum Tahun Pajak yang diperiksa
telah diaudit oleh akuntan publik, dengan
pendapat wajar tanpa pengecualian; dan
WP tidak sedang dilakukan Pemeriksaan
Bukti Permulaan, penyidikan, atau
penuntutan tindak pidana perpajakan,
dan/atau Wajib Pajak dalam 5 (lima)
tahun terakhir tidak pernah dipidana
karena melakukan tindak pidana di
bidang perpajakan.

2. Yang Dapat Dilakukan Pemeriksaan


Kriteria
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan dapat
dilakukan dalam hal Wajib Pajak:

menyampaikan Surat Pemberitahuan yang


menyatakan lebih bayar, selain yang
a. mengajukan permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1);
telah diberikan pengembalian pendahuluan
b.
kelebihan pembayaran pajak;
menyampaikan Surat Pemberitahuan yang
c.
menyatakan rugi;
melakukan penggabungan, peleburan,
pemekaran, likuidasi, pembubaran, atau akan
d.
meninggalkan Indonesia untuk selamalamanya;
melakukan perubahan tahun buku atau
e. metode pembukuan atau karena dilakukannya
penilaian kembali aktiva tetap;
tidak menyampaikan atau menyampaikan
f.
Surat Pemberitahuan tetapi melampaui

Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban
perpajakan dilakukan dengan jenis
Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan
Kantor.

Penentuan jenis pemeriksaannya diatur


oleh Direktur Jenderal Pajak.

Dilakukan dengan jenis Pemeriksaan


Lapangan.

jangka waktu yang telah ditetapkan dalam


surat teguran yang terpilih untuk dilakukan
Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko; atau
menyampaikan Surat Pemberitahuan yang
g. terpilih untuk dilakukan Pemeriksaan
berdasarkan analisis risiko.
D. STANDAR PEMERIKSAAN

Standar Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan meliputi:


1. standar umum Pemeriksaan,
Pemeriksaan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak yang memenuhi syarat:
a. telah mendapat pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup serta memiliki keterampilan
sebagai Pemeriksa Pajak;
Syarat kompetensi Pemeriksa Pajak, baik sebagai individu, maupun sebagai tim
Pemeriksa Pajak:
1) pengetahuan dan keahlian yang memadai di bidang perpajakan, akuntansi, dan
Pemeriksaan;
2) pengetahuan umum tentang lingkungan dan proses bisnis WP;
3) keterampilan berkomunikasi secara jelas dan efektif, baik secara lisan maupun
tulisan.
b. menggunakan keterampilannya secara cermat dan seksama;
Pemeriksa Pajak dianggap telah menggunakan keterampilannya secara cermat dan
seksama apabila dalam melaksanakan Pemeriksaan didasarkan pada iktikad baik dan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
c. jujur dan bersih dari tindakan-tindakan tercela serta senantiasa mengutamakan
kepentingan Negara. Hal tersebut dilakukan dengan cara:
1) tunduk pada kode etik DJP;
2) bersikap independen, yaitu tidak mudah dipengaruhi oleh keadaan, kondisi, perbuatan
dan/atau WP yang diperiksanya.
a)

Gangguan independensi meliputi:


i.

memiliki hubungan pertalian darah ke atas, ke bawah, atau semenda s.d.


derajat kedua dengan WP;

ii.
iii.

iv.
v.

b)

memiliki kepentingan keuangan, baik secara langsung maupun tidak


langsung dengan WP;
pernah bekerja atau memberikan jasa di bidang yang berhubungan dengan
masalah perpajakan, akuntansi, ataupun keuangan kepada WP dalam
kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir;
memiliki teman dekat/keluarga yang dapat berposisi sebagai wakil WP
yang diperiksa; atau
keadaan, kondisi, dan perbuatan tertentu lainnya yang menurut
pertimbangan Pemeriksa Pajak dapat mengganggu independensi.

Yang dilakukan Pemeriksa Pajak jika mengalami gangguan independensi:


Harus memberitahukan kepada Kepala UP2 tentang adanya gangguan
independensi tersebut. Selanjutnya, Kepala UP2 harus segera mengambil tindakan
yang dianggap perlu untuk mengatasinya.

d. taat terhadap berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.


2. Standar pelaksanaan Pemeriksaan
Ketentuan-ketentuan dalam standar pelaksanaan adalah:
a. Pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik sesuai dengan
tujuan Pemeriksaan, yang paling sedikit meliputi:
1) kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data WP, meliputi:
a) Mempelajari profil WP,
b) Menganalisis data keuangan WP,
c) Mempelajari data lain yang relevan, baik dari DJP maupun dari pihak lain.
2) menyusun
rencana
Pemeriksaan (audit
plan), dan
menyusun
Pemeriksaan (audit program), serta mendapat pengawasan yang seksama;

program

Rencana Pemeriksaan (Audit Plan)


Definisi

Program Pemeriksaan (Audit Program)


Definisi

Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) adalah


rencana kerja Pemeriksaan yang disusun
oleh Supervisor dan harus ditelaah serta
mendapat persetujuan dari Kepala UP2
yang berisi identitas WP, identitas tim
Pemeriksa Pajak, dan uraian rencana.
(Pasal 1 angka 7 PER-23/PJ/2013)

Program Pemeriksaan (Audit Program)


adalah pernyataan pilihan Metode
Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan, dan
Prosedur Pemeriksaan yang
akan dilaksanakan oleh Pemeriksa Pajak
dalam melakukan Pemeriksaan sesuai
dengan Rencana Pemeriksaan. (Pasal 1
angka 8 PER-23/PJ/2013)

Rincian Kegiatan
i.

Rincian Kegiatan

Rencana Pemeriksaan disusun oleh


i.
Supervisor,
ii.
Rencana Pemeriksaan disusun
berdasarkan identifikasi masalah
yang dilakukan Supervisor atas
ii.
data WP yang telah dikumpulkan
dan dipelajari,
iii. Rencana Pemeriksaan harus
ditelaah dan mendapat persetujuan
dari Kepala UP2 sebelum SP2
diterbitkan,
iv.
Rencana Pemeriksaan antara lain
iii.
berisi:
o Identitas WP yang memberikan
gambaran umum mengenai WP;
o Identitas tim Pemeriksa Pajak yang
berisi susunan tim dan jumlah SP2
iv.
yang sedang dikerjakan tim
Pemeriksa Pajak yang bersangkutan;
dan
o Uraian Rencana Pemeriksaan yang
berisi informasi mengenai
idehtifikasi masalah, perkiraan
tanggal selesai Pemeriksaan, serta
pos-pos yang akan diperiksa.
v.
v.

vi.

vii.

Program Pemeriksaan disusun oleh


Supervisor dan dibantu oleh Ketua
Tim berdasarkan Rencana
Pemeriksaan,
Program Pemeriksaan sekurangkurangnya menyatakan Metode
Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan,
dan Prosedur Pemeriksaan yang
dilakukan oleh Pemeriksa Pajak,
dan buku, catatan, dan dokumen
yang diperlukan,
Dalam hal terdapat perubahan
Rencana Pemeriksaan berupa
penambahan pos-pos yang akan
diperiksa maka harus dibuat
Perubahan Program Pemeriksaan,
Kepala UP2 menandatangani
Program Pemeriksaan untuk
mengetahui apakah Program
Pemeriksaan yang dibuat sesuai
dengan pos-pos yang akan
diperiksa sebagaimana tercantum
dalam Rencana Pemeriksaan dan
perubahannya,
Program Pemeriksaan harus
memuat Rencana Program
Pemeriksaan dan Realisasi
Program Pemeriksaan.

Rencana Pemeriksaan dapat


dilakukan perubahan jika
Pemeriksa Pajak menemukan
kondisi yang berbeda saat
(Pasal 4 huruf a angka 3 PERmelakukan Pemeriksaan terhadap 23/PJ/2013)
WP dengan kondisi awal yang
dijadikan pertimbangan saat
membuat Rencana Pemeriksaan,
Perubahan Rencana Pemeriksaan
dapat disetujui atau ditolak
berdasarkan pertimbangan Kepala
UP2,
Perubahan Rencana Pemeriksaan
harus memperhatikan jangka waktu
Pemeriksaan,

(Pasal 4 huruf a angka 2 PER-23/PJ/2013)

b. Pemeriksaan dilaksanakan dengan melakukan pengujian berdasarkan metode dan teknik


Pemeriksaan sesuai dengan program Pemeriksaan (audit program) yang telah disusun;
c. temuan hasil Pemeriksaan harus didasarkan pada bukti kompeten yang cukup dan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;
1) Bukti kompeten adalah bukti yang valid dan relevan dengan tetap mempertimbangkan
prinsip kewajaran dan kelaziman usaha atas transaksi WP yang memiliki hubungan
istimewa.
2) Valid berarti bukti dapat diandalkan untuk menyimpulkan suatu fakta.
3) Relevan berarti bukti harus berkaitan dengan pos-pos yang akan diperiksa
sebagaimana tercantum dalam Program Pemeriksaan.
4) Bukti yang cukup adalah bukti yang memadai untuk mendukung temuan hasil
Pemeriksaan. Kecukupan terkait dengan pertimbangan profesional (professional
judgement) Pemeriksa Pajak.
d. Pemeriksaan dilakukan oleh suatu tim Pemeriksa Pajak yang terdiri dari seorang
supervisor, seorang ketua tim, dan seorang atau lebih anggota tim, dan dalam keadaan
tertentu ketua tim dapat merangkap sebagai anggota tim;
e. tim Pemeriksa Pajak dapat dibantu oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian
tertentu, baik yang berasal dari DJP, maupun dari instansi di luar DJP yang telah ditunjuk
oleh Direktur Jenderal Pajak, sebagai tenaga ahli seperti penerjemah bahasa, ahli di
bidang teknologi informasi, dan pengacara;
f. apabila diperlukan, Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan tim pemeriksa dari instansi lain;
g. Pemeriksaan dapat dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak, tempat tinggal atau
tempat kedudukan WP, tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas WP, dan/atau atau
tempat lain yang dianggap perlu oleh Pemeriksa Pajak;
h. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila diperlukan dapat dilanjutkan di
luar jam kerja; dan
i. pelaksanaan Pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk Kertas Kerja
Pemeriksaan (KKP).
3. Standar pelaporan hasil Pemeriksaan.
LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat:
a. ruang lingkup dan pos-pos yang diperiksa sesuai dengan tujuan Pemeriksaan,
b. simpulan Pemeriksa Pajak yang didukung temuan yang kuat tentang ada atau tidak
adanya penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan, dan
c. pengungkapan informasi lain yang terkait dengan Pemeriksaan.
LHP untuk menguji
kurangnya memuat:

kepatuhan

pemenuhan

kewajiban

perpajakan sekurang-

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

penugasan Pemeriksaan;
identitas WP;
pembukuan atau pencatatan WP;
pemenuhan kewajiban perpajakan;
data/informasi yang tersedia;
buku dan dokumen yang dipinjam;
materi yang diperiksa;
uraian hasil Pemeriksaan;
ikhtisar hasil Pemeriksaan;
penghitungan pajak terutang; dan
simpulan dan usul Pemeriksa Pajak.

LHP disusun dan ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak. LHP ditandatangani oleh Kepala
UP2 untuk mengetahui apakah Pos-pos yang diperiksa telah sesuai dengan Rencana Pemeriksaan
dan perubahannya, serta dasar hukum koreksi telah sesuai dengan ketentuan perundangundangan perpajakan.

E. NORMA PEMERIKSAAN
Ada empat (4) norma yang berkaitan di dalam pemeriksaan pajak, yaitu:
1. Norma Pemeriksaan yang berkaitan dengan Pemeriksa Pajak dalam Pelaksanaan Pemeriksaan
Lapangan, antara lain :
a. Pemeriksa pajak harus memiliki tanda pengenal dan dilengkapi dengan surat perintah
pemeriksaan.
b. Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis tentang akan dilakukannya pemeriksaan.
c. Pemeriksa wajib memperlihatkan tanda pengenal dan surat perintah tersebut di atas. Pemeriksa
wajib menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan.
d. Hasil pemeriksaan dituangkan ke dalam kertas kerja pemeriksaan (KKP).
e. Pemeriksa pajak wajib membuat Laporan Pemeriksaan Pajak (LPP) berdasarkan KKP. Laporan
Pemeriksaan Pajak (LPP) adalah laporan tentang hasil pemeriksaan yang disusun oleh pemeriksa
pajak secara ringkas dan jelas serta sesuai dengan ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan.
2. Norma Pemeriksaan yang berkaitan dengan Pemeriksa Pajak dalam Rangka Pemeriksaan Kantor,
antara lain :
a. Pemeriksa pajak dengan menggunakan surat panggilan yang ditanda-tangani oleh pejabat yang
berwenang.
b. Pemeriksa wajib memberitahukan maksud dan tujuan pemeriksaan.
c. Hasil pemeriksaan dituangkan ke dalam KKP.
d. Pemeriksa wajib membuat LPP berdasarkan KKP.
e. Pemeriksa wajib memberitahukan secara tertulis mengenai hasil pemeriksaan.
f. Pemeriksa wajib memberi petunjuk mengenai penyelenggaraan pembukuan atau pencatatan.
3. Norma Pemeriksaan yang berkaitan dengan Wajib Pajak, antara lain :
a. WP berhak meminta kepada pemeriksa untuk memperlihatkan tanda pengenal dan surat perintah
pemeriksaan.
b. Berhak meminta penjelasan tentang maksud dan tujuan pemeriksaan.
c. WP wajib memenuhi panggilan untuk datang menghadiri pemeriksaan.
d. WP wajib memenuhi permintaan peminjaman buku-buku, catatan dsb.

e. WP berhak meminta rincian yang berkenaan dengan hal-hal yang berbeda antara hasil
pemeriksaan dengan SPT.
f. WP atau kuasanya wajib menandatangani surat pernyataan persetujuan apabila WP menyetujui
seluruh hasil pemeriksaan.
4. Norma Pemeriksaan yang berkaitan dengan Pelaksanaan Pemeriksaan, antara lain :
a. Pemeriksaan dapat dilakukan oleh seorang atau lebih pemeriksa pajak.
b. Pemeriksaan dilaksanakan di Kantor Ditjen Pajak, di kantor WP, di kantor lainnya dsb atau di
tempat lain yang ditentukan oleh Ditjen Pajak.
c. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja, apabila dipandang perlu dapat dilanjutkan di luar jam
kerja.
d. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam KKP.
e. Laporan pemeriksaan pajak disusun berdasarkan KKP.
f. Hasil pemeriksaan lapangan yang seluruhnya disetujui WP atau kuasanya, dibuatkan surat
pernyataan tentang persetujuan dan ditanda-tangani oleh WP.
g. Berdasarkan laporan pemeriksaan pajak, diterbitkan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak,
kecuali pemeriksaan dilanjutkan dengan tindakan penyidikan.

F. TEKNIK PEMERIKSAAN PAJAK


Penting bagi si pemeriksa pajak untuk memahami teknik-teknik dalam pemeriksaan. Hal ini bertujuan
agar hasil pemeriksaan dapat terbukti dengan baik dan benar. Ada beberapa teknik dalam melakukan
pemeriksaan pajak, yaitu:
1. Melakukan Evaluasi khususnya terhadap kebenaran formal SPT mengenai informasi umum kegiatan
usaha, kelengkapan SPT beserta lampiran-lampirannya dan juga Sistem pengendalian intern untuk
pemisahan fungsi rangkap (penentuan apakah terdapat duplikasi/multi fungsi pada satu/beberapa
orang)
2. Analisis Angka-angka
a. SPT vs Laporan keuangan
b. Perbandingan beberapa tahun terakhir (komparasi antarwaktu)
c. Perbandingan dengan standar yang berlaku (komparasi di dalam perusahaan sendiri atau dengan
perusahaan lain yang sejenis)
d. Rasio (nisbah) biaya terhadap penjualan, produksi, dll
3. Melacak dan Memeriksa Dokumen
a. Dokumen intern & ekstern (bila pengendalian intern sudah baik, tidak perlu dilakukan pelacakan
& pemeriksaan atas dokumen intern)
b. Pihak yang menerbitkan dokumen
c. Keabsahan dokumen (vouching)
d. Proses dokumen
4. Pengujian Kaitan (Re-test atas proses dokumen)
a.
merupakan bukti pengiriman barang.
b. Arus barang. Rumusnya adalah persediaan awal ditambah pembelian dikurangi persediaan akhir
lalu dicocokkan dengan buku penjualan.
c. Arus uang. Rumusnya adalah saldo awal kas/bank + penerimaan pengeluaran = saldo akhir atau
saldo akhir + pengeluaran saldo awal = penerimaan. Lalu dicocokkan antara cash opname
dengan buku kas.

d. Arus utang-piutang. Untuk utang akan diuji kaitannya dengan pembelian kredit. Rumusnya
adalah saldo akhir utang + pelunasan utang saldo awal utang = pembelian kredit. Sedangkan
untuk piutang akan diuji kaitannya dengan penjualan kredit. Rumusnya adalah saldo akhir
piutang + penerimaan piutang saldo awal piutang = penjualan kredit
5. Pengujian atas Mutasi Setelah Tanggal Neraca
Penekanan terhadap posutang-piutang
6. Pemanfaatan Informasi dari Pihak Ketiga
a. Hasil pemeriksaan pajak WP lain
b. Data dari berbagai instansi pemerintah, BUMN/BUMD
c. Pihak ketiga lainnya : WP lain dan pengaduan masyarakat
7. Pengujian Fisik
a. Barang dagang (stock opname)
b. Kas (cash opname)
c. Inventaris/aktiva tetap (untuk mendeteksi apakah ada pencatatan fiktif/ganda, terutama untuk
perusahaan group)
8. Peninjauan ke Tempat-tempat Produksi, Penyimpanan, dan Penjualan
Untuk mengetahui proses produksi, uji atas metode penilaian persediaan barang dagang, dan
mengetahui arus barang
9. Rekonsiliasi
Adalah upaya mencocokkan angka-angka dari 2 (dua) atau lebih sumber yang terpisah mengenai hal
yang sama. Contoh :
a. Penjualan (antara pencatatan pembukuan penjualan dengan SPT Masa PPN)
b. Biaya karyawan (antara pencatatan pembukuan (audit report) dengan SPT Tahunan PPh Pasal 21)
c. Rekonsiliasi bank (antara saldo rekening koran dengan buku kas/bank perusahaan)
10. Konfirmasi
a. Upaya mendapatkan keterangan dari pihak ketiga untuk meyakinkan kebenaran atau keabsahan
data atau informasi dari WP yang diperiksa melalui korespondensi (surat, facsimile atau bukti
tertulis lain).
b. Melakukan pemeriksaan keterkaitan terhadap pihak ketiga yang berhubungan dengan WP yang
sedang
11. Sampling
a. Pengujian sebagian bukti-bukti yang dipilih berdasarkan metode tertentu (statistical & non
statitistical sampling) dan representative (mewakili)
b. Perencanaan. Dalam penentuan sampel harus dilihat hubungan antar sampel yang akan dipilih
dengan tujuan pemeriksaan
c. Seleksi. Sampel yang dipilih harus dapat mewakili populasi
d. Tujuan. Untuk menghemat waktu & tenaga dalam menentukan sampai sejauh mana
penyimpangan/deviasi dapat ditolerir
e. Pemakaian teknik sampling, dapat ditentukan oleh pemeriksa
12. Pemeriksaan WP yang pembukuannya menggunakan sistem komputer
a. Tanpa menggunakan computer (audit around the computer)
Contoh : pemeriksaan dokumen konvensional untuk faktur pajak dibandingkan dengan output
komputer

b. Menggunakan computer (audit through the computer)

G. METODE PEMERIKSAAN PAJAK


Ada 2 metode dalam pemeriksaan pajak yaitu metode langsung dan tidak langsung.
1. Metode langsung
Pengujian kebenaran/validitas angka-angka SPT secara langsung terhadap :
a. Laporan keuangan
b. Sistem akuntansi/pembukuan (catatan, jurnal, buku besar/ledger/trial balance, dsb)
c. Dokumen-dokumen pendukung pencatatan
2. Metode tidak langsung
Pengujian kebenaran/validitas angka-angka SPT secara tidak langsung melalui perhitungan tertentu,
antara lain:
a. Digunakan untuk melengkapi metode metode langsung, apabila metode langsung tidak
sepenuhnya dapat dilaksanakan. Indikatornya antara lain :
1) Pembukuan/catatan WP tidak lengkap/tidak dipercaya kebenarannya
2) Buku/catatan/dokumen pendukung tidak ada/hilang
3) Diketemukan ketidakberesan dalam pembukuan/catatan WP (pengendalian intern lemah)
4) Antara penghasilan dengan pengeluaran pribadi tidak serasi
5) WP memilih untuk menggunakan norma penghitungan
b. Hasil perhitungan metode tidak langsung merupakan petunjuk awal (sehingga masih perlu
dilakukan pembuktian secukupnya untuk dapat mengambil kesimpulan) ketidakbenaran angkaangka dalam SPT
H. HAK DAN KEWAJIBAN WAJIB PAJAK
Hak Wajib Pajak sesuai Pasal 79 PMK-17/PMK.03/2013 antara lain:
1. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan SP2
kepada WP pada waktu Pemeriksaan;
2. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan,
dalam hal Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan;
3. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan tujuan
Pemeriksaan;
4. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan surat yang berisi perubahan tim Pemeriksa
Pajak apabila terdapat perubahan susunan Tim Pemeriksa Pajak; dan/atau
5. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa Pajak melalui
pengisian Kuesioner Pemeriksaan.
Sedangkan Kewajiban Wajib Pajak antara lain:
Pemeriksaan Lapangan
Wajib Pajak wajib:
1.

memperlihatkan dan meminjamkan buku, catatan,

Pemeriksaan Kantor
Wajib Pajak wajib:
5.

memperlihatkan dan meminjamkan buku,

2.
3.

4.

dan/atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan


catatan, dan/atau dokumen yang menjadi dasar
atau pencatatan, dan dokumen lain, yang
pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lain,
berhubungan dengan tujuan Pemeriksaan;
yang berhubungan dengan tujuan Pemeriksaan;
memberi kesempatan untuk mengakses dan/atau
dan/atau
mengunduh data yang dikelola secara elektronik;
6. memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis
memberi kesempatan untuk memasuki tempat atau
serta memberikan data dan/atau keterangan lain
ruang penyimpanan buku, catatan, dan/atau
yang diperlukan.
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dokumen lain, dan/atau barang, yang
(Pasal 80 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
berkaitan dengan tujuan Pemeriksaan serta
meminjamkannya kepada Pemeriksa Pajak;
dan/atau
memberikan keterangan lisan dan/atau tertulis serta
memberikan data dan/atau keterangan lain yang
diperlukan.

(Pasal 80 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

I. KEWAJIBAN DAN KEWENANGAN PEMERIKSA PAJAK


Kewajiban pemeriksa pajak antara lain sebagai berikut:

1. menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan kepada WP dalam hal


Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan atau Surat Panggilan Dalam
Rangka Pemeriksaan Kantor dalam hal Pemeriksaan dilakukan dengan jenis Pemeriksaan
Kantor;
2. memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan (SP2)
kepada WP pada waktu melakukan Pemeriksaan;
3. memperlihatkan surat yang berisi perubahan tim Pemeriksa Pajak kepada WP apabila
susunan keanggotaan tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan;
4. melakukan pertemuan dengan WP;
Pertemuan dengan WP dilaksanakan untuk memberikan penjelasan mengenai:
a. alasan dan tujuan Pemeriksaan;
b. hak dan kewajiban WP selama dan setelah pelaksanaan Pemeriksaan;
c. hak WP mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan dengan Tim Quality
Assurance Pemeriksaan dalam hal terdapat hasil Pemeriksaan yang belum disepakati
antara Pemeriksa Pajak dengan WP pada saat Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan
(PAHP); dan
d. kewajiban dari WP untuk memenuhi permintaan buku, catatan, dan/atau dokumen yang
menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lainnya, yang dipinjam dari
WP;
5. menuangkan hasil pertemuan dengan WP dalam berita acara pertemuan dengan WP;
6. menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) kepada WP;
7. memberikan hak untuk hadir kepada WP dalam rangka PAHP pada waktu yang telah
ditentukan;
8. menyampaikan Kuesioner Pemeriksaan kepada WP;

9. melakukan pembinaan kepada WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan


ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dengan menyampaikan saran secara
tertulis;
10. mengembalikan buku, catatan, dan/atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
pencatatan, dan dokumen lainnya yang dipinjam dari WP; dan
11. merahasiakan kepada pihak lain yang tidak berhak atas segala sesuatu yang diketahui atau
diberitahukan kepadanya oleh WP dalam rangka Pemeriksaan.
Sedangkan kewenangannya adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksa Pajak berwenang:
a.

b.
c.

d.

e.
f.
g.

Pemeriksaan Kantor
Pemeriksa Pajak berwenang:

melihat dan/atau meminjam buku, catatan, dan/atau dokumen


a. memanggil WP untuk datang ke kantor DJP dengan
yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan dokumen
menggunakan Surat Panggilan Dalam Rangka
lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh,
Pemeriksaan Kantor;
kegiatan usaha, pekerjaan bebas WP, atau objek yang terutang
b. melihat dan/atau meminjam buku, catatan, dan/atau
pajak;
dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau
mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara
pencatatan, dan dokumen lain termasuk data yang
elektronik;
dikelola secara elektronik, yang berhubungan dengan
memasuki dan memeriksa tempat atau ruang, barang bergerak
penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan
dan/atau tidak bergerak yang diduga atau patut diduga
bebas WP, atau objek yang terutang pajak;
digunakan untuk menyimpan buku atau catatan, dokumen yang
c. meminta kepada WP untuk memberi bantuan guna
menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dokumen lain, uang
kelancaran Pemeriksaan;
dan/atau barang yang dapat memberi petunjuk tentang
d. meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari WP;
penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas
e. meminjam KKP yang dibuat oleh akuntan publik
WP, atau objek yang terutang pajak;
melalui WP; dan
meminta kepada WP untuk memberi bantuan guna kelancaran
f. meminta keterangan dan/atau bukti yang diperlukan
Pemeriksaan, antara lain berupa:
dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan
1. menyediakan tenaga dan/atau peralatan atas biaya
WP yang diperiksa melalui kepala unit pelaksana
Pemeriksaan.
WP apabila dalam mengakses data yang dikelola
secara elektronik memerlukan peralatan dan/atau
keahlian khusus;
(Pasal 12 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)
2. memberikan bantuan kepada Pemeriksa Pajak untuk
membuka barang bergerak dan/atau tidak bergerak;
dan/atau
3. menyediakan ruangan khusus tempat dilakukannya
Pemeriksaan Lapangan dalam hal Pemeriksaan
dilakukan di tempat WP;
melakukan Penyegelan tempat atau ruang tertentu serta barang
bergerak dan/atau tidak bergerak;
meminta keterangan lisan dan/atau tertulis dari WP; dan
meminta keterangan dan/atau bukti yang diperlukan dari pihak
ketiga yang mempunyai hubungan dengan WP yang diperiksa
melalui kepala unit pelaksana Pemeriksaan.

(Pasal 12 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

J. JANGKA WAKTU PENGUJUAN

Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dilakukan dalam jangka waktu
Pemeriksaan yang meliputi:
1. jangka waktu pengujian; da
2. jangka waktu Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan pelaporan.
1. Jangka waktu pengujian
Pemeriksaan Lapangan
Jangka waktu pengujiannya paling lama 6 (enam) bulan,
yang dihitung sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, pegawai,
atau anggota keluarga yang telah dewasa dari WP, sampai
dengan tanggal SPHP disampaikan kepada WP, wakil,
kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah dewasa
dari WP.

Pemeriksaan Kantor
Jangka waktu pengujiannya paling lama 4 (empat)
bulan, yang dihitung sejak tanggal WP, wakil, kuasa
dari WP pegawai, atau anggota keluarga yang telah
dewasa dari WP datang memenuhi Surat Panggilan
Dalam Rangka Pemeriksaan Kantor sampai
dengan tanggal SPHP disampaikan kepada WP, wakil,
kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang telah
dewasa dari WP.

(Pasal 15 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)


(Pasal 15 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)
Perpanjangan Jangka Waktu

Perpanjangan Jangka Waktu

Jangka waktu pengujiannya dapat diperpanjang untuk


jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan. (Pasal 16 ayat
(1) PMK-17/PMK.03/2013)

Jangka waktu pengujiannya dapat diperpanjang untuk


jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan. (Pasal 17 ayat
(1) PMK-17/PMK.03/2013)

Perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan


Lapangan dilakukan dalam hal:

Perpanjangan jangka waktu pengujian Pemeriksaan


Kantor dilakukan dalam hal:

1.
2.
3.
4.

Pemeriksaan Lapangan diperluas ke Masa Pajak,


Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak lainnya;
terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau
keterangan kepada pihak ketiga;
ruang lingkup Pemeriksaan Lapangan meliputi
seluruh jenis pajak; dan/atau
berdasarkan pertimbangan kepala unit pelaksana
Pemeriksaan.

8.

Pemeriksaan Kantor diperluas ke Masa Pajak,


Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak
lainnya;
9. terdapat konfirmasi atau permintaan data
dan/atau keterangan kepada pihak ketiga;
10. ruang lingkup Pemeriksaan Kantor meliputi
seluruh jenis pajak; dan/atau
11. berdasarkan pertimbangan kepala unit
pelaksana Pemeriksaan.

(Pasal 16 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)


(Pasal 17 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Jangka waktu pengujian Pemeriksaan Lapangan dapat


diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 6 (enam)
bulan dan dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga)
kali sesuai dengan kebutuhan waktu untuk melakukan
pengujian apabila terkait dengan:
5.
6.

WP Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan


Gas Bumi;
WP dalam satu grup; atau

7.

WP yang terindikasi melakukan transaksi transfer


pricing dan/atau transaksi khusus lain yang
berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan.

(Pasal 16 ayat (3) PMK-17/PMK.03/2013)


Pemberitahuan Tertulis kepada Wajib Pajak
Dalam hal dilakukan perpanjangan jangka waktu pengujian, baik Pemeriksaan Lapangan ataupun Pemeriksaan
Kantor, kepala unit pelaksana Pemeriksaan harus menyampaikan pemberitahuan perpanjangan jangka waktu
pengujian secara tertulis kepada WP. (Pasal 18 PMK-17/PMK.03/2013)
Penyampaian SPHP kepada Wajib Pajak
Apabila jangka waktu perpanjangan pengujian, baik Pemeriksaan Lapangan ataupun Pemeriksaan Kantor, telah
berakhir, SPHP harus disampaikan kepada WP. (Pasal 19 ayat (1) PMK-17/PMK.03/2013)

Dalam hal Pemeriksaan dilakukan karena WP mengajukan permohonan pengembalian


kelebihan pembayaran pajak, jangka waktu pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan harus memperhatikan jangka waktu penyelesaian
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17B UU KUP. (Pasal 19 ayat (2) PMK-17/PMK.03/2013)

Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian


kelebihan pembayaran pajak, selain permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak dari WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C dan Wajib Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17D, harus menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama 12 (dua
belas) bulan sejak surat permohonan diterima secara lengkap. (Pasal 17B ayat (1) UU
KUP)

2. Jangka waktu Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan pelaporan.

Jangka waktu Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dan pelaporannya paling lama 2 (dua)
bulan, yang dihitung sejak tanggal SPHP disampaikan kepada WP, wakil, kuasa, pegawai,
atau anggota yang telah dewasa dari WP sampai dengan tanggal LHP. (Pasal 15 ayat
(4) PMK-17/PMK.03/2013)
K. PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) disusun berdasarkan KKP. (Pasal 58 ayat (1) PMK17/PMK.03/2013). Bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari LHP, antara lain:
1. Risalah pembahasan,
2. Risalah Tim QA Pemeriksaan, dan/atau
3. Berita acara PAHP.
LHP digunakan oleh Pemeriksa Pajak sebagai dasar untuk membuat nota penghitungan.

Nota penghitungan digunakan sebagai dasar penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat
Tagihan Pajak.
Pajak yang terutang dalam surat ketetapan pajak dihitung sesuai dengan PAHP, kecuali:
1. WP Tidak Hadir dalam PAHP tetapi Menyampaikan Lembar Pernyataan Persetujuan
Hasil Pemeriksaan
2. WP Tidak Hadir dalam PAHP tetapi Menyampaikan Surat Sanggahan
3. WP Tidak Hadir dalam PAHP dan Tidak Menyampaikan Tanggapan Tertulis atas SPHP,

Anda mungkin juga menyukai